[ATTENTION!] New Email Account for BFI FanFiction!

Dear Author/Freelance BFI FanFiction,

Dikarenakan adanya gangguan pada email kami yang lama, kalian bisa mengirim FF yang belum sempat kami Publish ke email kami yang baru projectbfi@gmail.com

Diharapkan kalian telah mereview terlebih dahulu sebelum dikirim agar hasilnya rapi dan bisa langsung kami Publish..

Mohon maaf atas keterlambatan dan ketidaknyamanan tersebut..

Regards,
~All Admin and Staff~


[FANFICT/FREELANCE] Flower Boy : Bookstore – Chapter 01

Tittle  : End of Story – Chapter 01
Author      : Z. Zee
Genre : Friendship, Mystery, dan Romance
Rating : PG-17
Type : Chapter
Casts  : ~ Kwangmin  ~ Minwoo

  ~ Jungkook (BTS)

  ~ Ahn Jae Hyun

  ~ Kim Jong Woon (Yesung Super Junior)

  ~ Park Tae Rin

  ~ Etc

 

Annyeong readers! Ini ff pertamaku yang dimuat di sini. Salam kenal!

Aku buat cerita ini terinspirasi dari drama flower boy yang dari flower boy ramyun shop sampai dating agency : cyrano itu loh?! Semuanya pasti udah tahu, kan? Nah, kalau yang ini cerita versiku sendiri.

HAPPY READING!

(more…)

[FANFICT/FREELANCE] End of Story – Chapter 01

Tittle  : End of Story – Chapter 01
Author : Song Rae Hwa [@deviwo01]
Genre : Family, Friendship, Romance dan Sad Romance
Rating : T
Type : Chapter
Main Casts  ~ Song KyungJae (OC)

  ~ Jo Kwangmin

  ~ No Minwoo

Support Casts  ~ Jo Youngmin

  ~ Song Chan Ho

Hai readers author balik lagi sambil bawa FF gaje author, yang mungkin masih layak untuk dibaca. Ahahaa … FF ini murni hasil karangan author, saat membuat FF ini author terinspirasi oleh Novel yang author baca. Tapi alur dan ceritanya 180 derajat berbeda ko asli, walaupun ada sedikit kesamaan mungkin.… dan maaf jika FF yang author buat tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahkan mungkin alur juga berantakan, butuh kritik dan saran untuk memperbaiki karya author. Truwingggg~ Selamat membaca ^^

(more…)

[FANFICT] Terjebak Dalam Kata ! – Chapter 07

Tittle 
Terjebak dalam Kata ! – Chapter 07
Author : Diah~
Genre : Friendship dan Romance
Rating : G
Type : Chapter
Main Casts 
: ~ Shim Hyunseong

  ~ Whee In (Mamamoo)

Support Casts 
: ~ Gong Miok

  ~ Yoon Saenghyon

  ~ Lee Jeongmin

  ~ Im Nera

Chapter 06

 

Hyunseong POV

Shim Hyunseong, kau hanya merasa dikecewakan oleh teman. Teman. Dia cuma teman ! Tidak lebih ! Jadi ….

Aish!

“Hyunseong-a ?!” Saenghyon memanggil dan sekarang pandangan yang lain menatapku dengan serius.

“Kau tidak perlu kesal seperti itu.” Lanjut Saenghyon yang aku tak mengerti.

“Kesal ?”

“Aku tahu rasanya bagaimana tidak bisa menyelesaikan soal dengan baik. Kesal dan sangat bodoh.” Dan juga Nera yang semakin membuatku tidak mengerti. Menyelesaikan soal ?

Aish! Aku baru ingat! Kami berempat sedang mengerjakan soal aljabar tapi konsentrasi ku buyar karena lain hal.

“Haa~ Whee In. Cuma dia yang mengerti aljabar di antara kita. Kenapa dia harus tidak datang lagi.” Jeongmin melempar asal kertas soalnya dan bertelentang.

Nama itu yang membuat konsentrasi ku kacau. Whee In. Sudah dua hari ini dia tidak ikut kelompok belajar dengan alasan yang tidak bisa ku terima.

“Apa dia sakit ?”

Ani.” Nera menjawab pertanyaan Saenghyon dengan terus mencari-cari jawaban dari soal yang sedang dikerjakannya.

“Pasti sedang berkencan.” Jeongmin bangun dari tidur-an nya.

Ani. Masih dengan tangan yang sibuk bergerak di atas kertas, Nera menjawab pertanyaan Jeongmin.

Keunde wae ?

“Dia hanya alergi ada di dekatmu.”

Kenapa Nera berbohong ? Tidak mungkin Nera tidak tahu kenapa Whee In berhalangan hadir selama dua hari ini. Kalau pun dia tidak tahu, seharusnya daritadi dia sudah menelpon Whee In menanyakan keberadaannya.

*Buuuk*

“Im Nera! YA!” Jeongmin tidak terima dengan jawaban tersebut sehingga sebuah pukulan yang lumayan keras pun jatuh dengan mulus di kepala Nera.

“Lee Jeongmin! Bisa kau diam dan hanya mengerjakan soal-soal ini !?”

Tentu saja aku tahu dimana Whee In sekarang dan apa yang dia lakukan. Di ruang klub majalah belajar bersama anak lelaki itu. Atau mungkin saja sedang bermain. Tertawa. Ah ! Aku hanya kecewa ternyata Whee In seperti ini. Kemarin juga begitu. Jadi ya anak laki tersebut si Sunbaenim lebih penting dari ujian kenaikan kelas yang sebentar lagi akan kami hadapi. Buktinya saja dia tidak belajar bersama kami.

Waktu belajar yang biasanya dua jam jadi berhenti lebih cepat karena menyerah dengan pelajaran aljabar.

“Hyunseong-a. Aku tak bisa menonton pertandingan besok. Jadi ku kembalikan saja tiketnya padamu.” Jeongmin mengembalikan tiket Champion Series yang seharusnya kami juga ikut pertandingan tersebut kalau saja Seongsaenim tidak meliburkan jadwal kegiatan klub.

“Hmm !? Kenapa kau tidak bisa datang ?”

“Bagaimana kalau kita menga-”

“Seongie!! Seongie!!” Suara dari kejauhan memotong kata-kata Saenghyon.

“Kalian mau pulang ?” Miok bertanya setelah dikira jantungnya sudah berdetak normal setelah berlari.

“Kalau kau bertanya karena hanya ingin minta pulang bersama, seharusnya kau bertanya dengan sepupu mu ini daripada orang lain.” Jeongmin menyela Miok. Aku heran dengan kedua sepupu-an ini yang tidak pernah akur sama sekali.

“Jeongmin-na kau ada disini ternyata? Eoh! Apa itu ?” Miok merebut tiket Jeongmin yang ku pegang tadi. “Basket Champion Series!? Kalian akan pergi bertiga ?”

“Awalnya …” Saenghyon menjawab.

“Tumben sekali cuma bertiga. Biasanya ada Im Nera. Juga siapa itu. Whee In!? Tapi aku tahu dia pasti tidak bisa ikut jika kalian ajak.”

“Aku baru saja tadi mau mengajak Whee In.”

Maaf aku tidak setuju Yoon Saenghyon. Kalau saja kalian tahu alasan dua hari ini dia tidak belajar bersama kita, pasti kau tidak mau mengajaknya menonton pertandingan basket bersama kita.

“Terus kenapa kau bisa tahu dia pasti tidak ikut besok ?”

Dating dengan seorang pria. Tadi aku mendengar mereka berdua mengobrol di ruang klubnya tentang rencana kencan jam 2 besok. “

Mereka pergi berkencan ?! Kencan kemana ? Buatku frustasi saja.

“Saenghyon-na. Mana tiketmu ?” Aku bertanya secara tiba-tiba.

“Di … dalam tas.” Saenghyon membuka tas dan memperlihatkan tiket miliknya.

“Kita tidak perlu pergi besok. Tiket-tiket ini biar ku jual kepada teman-teman yang ingin menonton.” Aku mengambil paksa tiket Saenghyon dan tiket yang dipegang Miok.

“Seongie kita pergi berdua saja.”

Ani. Aku pergi dulu ya!”

Sebenarnya bukanlah masalah kalau aku dan Saenghyon saja yang menonton pertandingan tanpa Jeongmin. Bahkan sendirian pun tidak apa-apa menurutku. Aku tidak mengerti kenapa sekarang aku berlari menuju kelas berpura-pura menjual kedua tiket ini kepada siswa yang masih tersisa di sekolah. Dari kejauhan Jeongmin, Saenghyon dan Miok sudah keluar dari gerbang dan aman.

Aman ? Sebenarnya apa yang kupikirkan ?

Whee In berkencan.. Kencan.. Sekarang sudah 10 menit aku berdiri di depan rumah Whee In menunggunya pulang. Aku tidak percaya kalau besok Whee In akan berkencan. Ku buat posisi berdiri senyaman mungkin ketika melihat sosoknya yang hampir mendekat menuju rumahnya.

“Ckckckck. Jadi karena alasan sedikit tidak waras makanya kau tidak datang dua hari ini ?” Dia menatapku terkejut dan berhenti.

“Shim Hyunseong-ssi !?”

Wae ?

“Apa… Apa yang kau lakukan disini ?” Eh!? Benar juga. Apa yang ku lakukan disini?

“Mau mengantarkan ini. Tiketnya berlebih karena Jeongmin dan Saenghyon tidak bisa ikut.” Tiba-tiba aku teringat tiket yang daritadi masih ku pegang.

“Pertandingannya besok jam 2 siang.” Dengan ini mungkin bisa membuktikan kalau besok dia pergi bersama anak lelaki itu atau tidak. Dilihatnya tiket itu sejenak lalu aku pergi.

“Besok aku tunggu di luar dekat pergantian tiket.” Kataku berteriak tanpa berbalik melihatnya.

Besok kita lihat saja, kau pergi berkencan seperti yang Miok katakan, atau kau akan pergi bersama ku menonton pertandingan basket. Cuma ingin memastikan. Itu saja.

02.10

Dia mungkin sedang di jalan.

02.58

Apa di jalan sedang macet ?

03.27

“Kau ternyata berkencan Whee In. Bodoh sekali aku!”

04.16

Penonton beramai-ramai keluar dari lapangan indoor tempat berlangsungnya pertandingan. Sudah selesai.

05.09

“Shim Hyunseong!” Ada yang menepuk pundak ku dari belakang.

Whee In. Dia datang. Meskipun telat dia tetap datang.

“Kau terlam-”

Aigoo Shim Hyunseong sudah lama tidak bertemu.”

Ternyata teman Sekolah Menengah Pertama ku dulu. Sepertinya dia staff dari pertandingan ini, terlihat dari badge yang digantungkan di leher nya.

Kenapa aku harus menunggu nya terlalu lama. Mungkin pun sekarang dia sedang di rumahnya. Atau tidak. Dia masih berkencan. Lebih baik aku menunggunya di rumah saja kah !? Tapi kalau aku di depan rumahnya lalu bertemu dengan Sunbaenim itu bagaimana ?

“Kenapa aku harus menunggunya lagi ?” Aku bertanya ke diri sendiri. Sudah gelap. Whee In sama sekali belum terlihat melintasi taman yang ada di dekat rumahnya ini. Ku putuskan untuk menunggu Whee In di taman daripada di rumahnya dan menjadi masalah. Kenapa harus bermasalah ? Betul-betul frustasi.

“Tolong!” Aku mendengarkan suara seorang yeoja dari kejauhan. Terdengar tidak jelas.

“KAU RAMPOK !” Suara itu semakin membesar dan aku mengenalinya.

WHEE IN !! Whee In mengejar seseorang yang disebutnya rampok. Dia melintasi taman dimana aku sedang menunggunya. Oh Tuhan. Yeoja itu nekat sekali.  Aku menyusul Whee In untuk mengejar rampok itu. Sial ! Ternyata dia niat sekali mencuri. Tidak henti-henti nya dia kabur.  Aku mencari benda apapun yang bisa menolong Whee In. Batu bata yang tergeletak asal di pinggi jalan ku ambil dan lemparkan ke arah perampok tersebut.

 

*Bruk*

 

Yak! Pas sasaran! Rampok terjatuh dan tas Whee In pun terlempar tak jauh.

Segera ku ambil handphone untuk menghubungi polisi. Berpura-pura tepatnya.

“Kantor polisi! Ada perampokan di perumahan chongdo dekat centre park.”  Suara sedikit ku keraskan agar si perampok itu mendengar dan takut. Tidak harus menunggu lama, dia pun langsung pergi.

 

Author POV

“Apa kau tersesat ?” Hyunseong memecah keheningan di antara mereka.

Setelah setengah jam bertaruh malam atas kenekatan Whee In mengejar rampok, Hyunseong mengantarkan Whee In pulang. Lebih dari untung ternyata si rampok langsung kabur karena mendengar Hyunseong menghubungi polisi terdekat. Sedikit menggertak padahal itu panggilan palsu.

“Eh !?” Whee In menghentikan langkahnya.

“Iya. Apa kau tersesat hingga tidak terlihat di tempat pertandingan ? Aku menunggumu.”

Whee In tidak percaya dengan apa yang dia dengar sekarang. Bagaimana mungkin Hyunseong menunggu dia. Whee In sangat malu. Dia melanjutkan lagi jalannya. Hyunseong tidak mengerti kenapa Whee In tidak menjawab dan hanya menunduk.

“Kau mempunyai masalah ?”

“Eh !?”

“Kau sakit ?”

Tangan Hyunseong diletakkan di jidat Whee In dan berhasil membuat Whee In berhenti bernapas sejenak.

“Apa yang dilakukan lelaki itu sampai kau seperti ini ?”

Pasti dia akan menegurku karena berkata tidak sopan untuk sunbaenim. Pikir Hyunseong.

“Kau…. Dari mana kau tahu aku bertemu dengannya ?”

Hyunseong mencari jawaban tapi tidak ketemu. Dia hanya diam.

“Shim Hyunseong! Jangan katakan kau sengaja memberikanku tiket itu. Iya kan ?!”

“Bu…bukan. Aku hanya menebaknya tadi.”

“Shim Hyunseong!”

Tidak pernah ada waktu yang tepat untuk mereka berdua berbicara. Ada saja yang akan membuat pertengkaran. Sekarang Whee In betul-betul seperti dipermainkan.

Iya, dia pasti sengaja mengajakku ke pertandingan karena tahu hari ini Sunbaenim pergi bersamaku. Kau mau melihat aku memilih siapa kan Shim Hyunseong. Pikir Whee In.

“Maaf kan aku.” Hyunseong mencegat jalan Whee In.

Whee In melewati Hyunseong.

“Aku tidak suka. Kan sudah pernah aku katakan kalau aku tidak suka kau dekat dengannya.”

“Dan juga itu. Aku sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan Miok.” Hal ini sudah lama Whee In ketahui sebenarnya. Mendengar langsung dari Hyunseong, ada kebahagian lain yang terasa. Seperti pengakuan yang ingin sekali Whee In dengarkan. Seperti air dingin yang menyejukkan amarah karena selalu dipermainkan.

“Aku juga tidak mempunyai hubungan apa pun dengan Sunbaenim.” Sama halnya Hyunseong. Dia merasakan kebahagiaan yang sama saat ini.

Dari kedua orang ini sebenarnya hanya diperlukan kejujuran dan saling membuka perasaan. Meskipun selalu saja ada yang bodoh atau tidak peka dengan perasaan masing-masing. Sederhana kan. Pengakuan sudah membuat malam ini berakhir dengan senyuman di tidur mereka.

Kalau dianggap sudah selesai, sebenarnya belum.

Hari-hari menjadi lebih bersahabat, tentu saja. Whee In sudah tidak merasa canggung lagi ada di dekat Hyunseong. Ini sangat menyenangkan untuk Whee In, dia dan Hyunseong memiliki rahasia berdua yang tiga teman mereka tidak tahu. Whee In yang pernah marah dengan Hyunseong. Whee In yang tangannya pernah digenggam oleh Hyunseong. Tidak ada yang tahu kecuali mereka.

 

Whee In POV

“Aku mencium hal mencurigakan.”

“Mencurigakan ?”

“Ya. Kau dan Hyunseong. Apa yang terjadi di antara kalian ?”

Im Nera. Kau pintar sekali dalam bertanya. Kau memang cepat merasa curiga.

“Tidak ada. Kita seperti biasa. Berteman.”

“Berteman ? Setelah dulu kau menjauhi dia !? Ckckckck”

“Whee In. Mau kau bertemu denganku ? Aku ingin memberikan sesuatu ^-^” Sunbaenim mengirimkanku pesan. Bukannya sekarang dia sedang ada acara kelulusan.

“Nera. Aku harus pergi sekarang.”

“YA! Kau berutang cerita kepada ku Whee In-na.” Kata-kata yang sempat ku dengar sebelum cepat-cepat pergi dari Nera.

Aku juga ingin bertemu dengan Sunbaenim, meminta maaf karena waktu itu meninggalkannya sendirian. Dulu aku tidak berani mendekati Sunbaenim karena aku tahu dia pasti marah karena kejadian itu. Tapi ini kesempatan meminta maaf sebelum akhirnya Sunbaenim lulus dan tidak bersekolah disini lagi.

“Whee In.” Hyunseong jalan dari arah tempat acara kelulusan berlangsung. “Kau terburu-buru sekali ?”

“Eh!? Hyunseong. Aku mau ke-”

“Kau datang ?” Sunbaenim muncul tepat di belakang Hyunseong dengan memegang piagam kelulusannya.

Sunbae. Aku minta maaf mengenai kejadian waktu itu.”

“Kejadian ? Aku sudah melupakannya.” Lihatkan. Dia memang begitu baik.

“Berikan tanganmu.” Dia mendekatiku. Ku berikan tangan sesuai permintaannya dan dia meletakkan sebuah kancing yang tadi dicopotkan dari jas sekolahnya. Seperti di komik-komik Jepang saja.

“Simpanlah. Terimakasih karena sudah menjadi yang terbaik untukku.” Sunbaenim mengacak rambut atas dan poniku. Tentu saja Hunseong masih ada disini.

“Jaga kekasihmu baik-baik oh!” Sunbaenim lalu berbisik sambil melirik Hyunseong. Kekasih ?

Apa dia kekasih ku ? Bukan. Dia hanya teman. Teman dekat mungkin ? Aku saja tidak tahu. Yang ku tahu aku menyukainya tapi dia ….. Hyunseong tidak pernah mengatakan seperti itu. Yasudahlah. Aku tidak mau berpikir rumit seperti dulu. Berada dekat dengannya setiap hari saja sudah cukup.

“Sedih ya ditinggalkan Sunbaenim yang sudah lulus sampai kepikiran begitu.”

Sudah seperti kebiasaan, kami pulang sekolah bersama. Mungkin karena ini juga Nera melihat kecurigaan di antara kami.

“Kepikiran !?”

Dia tidak menjawab tapi hanya menunjuk kancing yang ku pegang.

“Dia begitu baik.” Alasanku. Aku hanya terpikir tentang bisikan Sunbaenim sebelum dia pergi. Kekasih.

“Ya begitu baik. Sampai-sampai mengacak rambut seperti ini.” Hyunseong mencontohkan balik apa yang Sunbaenim lakukan tadi. “Lalu seperti ini.” kali ini poniku. “Dan seperti ini.”

“Owh! Dia tidak menjewer telinga ku.” Hyunseong menarik telingaku ke atas seperti mainan.

”Aku lupa. Hahahaha.”

Apa kutanyakan saja mengenai kekasih itu ?

“Hyunseong-a.”

Dia berhenti dari jalannya dan melihat ku terkejut.

“Kau tidak pernah memanggilku seperti itu.”

“Tapi Jeongmin dan Saenghyon memanggilmu begitu kan. Jadi kau tidak perlu terkejut. Bahkan Nera terkadang juga memanggil begitu.”

“Tapi kau beda.” Dia lalu berkata pelan tapi dapat ku dengar dengan jelas.

Aku hanya tersenyum. Sepertinya tidak ada yang perlu ditanyakan mengenai kekasih atau bukan. Aku memang sudah bahagia hanya dengan begini.

 

-END-

.

.

.

-TBC saja ya-

.

.

.

-Author terombang ambing-

 

Note : Terimakasih untuk readers BFI. Keep support this page by reading and also giving your comments. Komentar pembaca membangkitkan semangat menulis para Author. Seperti tulisan ini yang timbul karena semangat! ^o^)/

[FANFICT] Terjebak dalam Kata ! – Chapter 06

Untitled-1

Tittle 
Terjebak dalam Kata ! – Chapter 06
Author : Diah~
Genre : Friendship dan Romance
Rating : G
Type : Chapter
Main Casts 
: ~ Shim Hyunseong

  ~ Whee In (Mamamoo)

Support Casts 
: ~ Gong Miok

  ~ Yoon Saenghyon

  ~ Lee Jeongmin

  ~ Im Nera

 

Chapter 05

(more…)

[FANFICT/FREELANCE] Why Not Me

Title 
: Why Not Me
Author : Hyeri Charenrique
Genre : Angst & Sad Romance
Rating : T
Type : Drabble
Main Casts 
: ~ No Minwoo

~ Yoon Hyemi (OC)

 

A/N: Annyeong~^^ Ini entah FF keberapa. Mohon comment-nya, supaya Hyeri tau kekurangan Hyeri dimana. Gomawo udah menyempatkan membaca FF ini~^^

Disclaimer: Member BoyFriend milik StarshipEnt, keluarganya masing-masing, dan Tuhan. Yoon Hye Mi itu punya Hyeri.

Jalan cerita milik Hyeri juga. Kalo ada FF yang sama itu PLAGIAT atau KEBETULAN. DON’T BE SILENT READER AND DON’T BE PLAGIARISM ^^

Warning: Typo(s), Hiperbola dan cerita yang berantakan

Happy reading this fic~^^

~~~~~~~

(more…)

[FANFICT/FREELANCE] Math vs Physics – Chapter 01

Title 
: Math vs Physics – Chapter 01
Author : AKIKO
Genre : Comedy, Friendship, Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ Jo Youngmin  ~ Lisa

  ~ Lee Jeongmin (Lisa’s Brother)

  ~ Jo Kwangmin (Jo Youngmin’s sibling)

Author PoV

“APAA………………..!!!!! Hentikan omong kosongmu karena aku tak akan pernah setuju dengan apa yang kau ucapkan!, Lebih baik kau perhatikan mulutmu itu dengan baik, YoungMin!!!!” bentak Lisa dengan wajah merah padam karena menahan emosi yang meraung-raung di dadanya.

What happened, Dear? Aku pikir, aku memperhatikan ucapanku lebih baik daripada kamu, dan PERKATAANKU ADALAH FAKTA!! BUKAN OMONG KOSONG BELAKA!!” jawab YoungMin dingin lalu ia segera bergegas pergi dari gadis dengan emosi yang terpancar jelas dari wajahnya yang berubah merah serta nafasnya yang tak beraturan.

“Hei……..Aku tak akan pernah melupakan ucapanmu, EVIL!!!!!!”tambah Lisa pedas lalu bergegas pergi.

“Terserah, aku tak peduli……….”jawab YoungMin singkat dan terus berjalan tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun.

Kejadian tadi merupakan tambahan baru pertengkaran mereka dalam jadwal harian Lisa. Seperti biasanya dua bintang sekolah itu bertengkar seperti tokoh kartun Tom and Jerry. Tak ada satu orang pun yang berani melerai pertengkaran mereka, bagi siswa lain melihat mereka bertengkar tanpa henti telah menjadi sebuah rutinitas sehari- hari.

Meskipun hari ini cuaca sangat dingin, tidak ada pengecualian sedikitpun bagi Lisa untuk menolak celotehan YoungMin yang selalu membuat emosinya meledak, tentu saja hal tersebut membuat moodnya menjadi sangat buruk.

Menjadi partner YoungMin bulan lalu dalam  lomba debat Bhs.Inggris merupakan mimpi buruk baginya. Ia rasa YoungMin tak membutuhkannya dalam lomba tersebut atau lebih tepatnya YoungMin menganggap perlombaan tersebut, ia sendiri yang menjadi pesertanya karena setiap kali mereka mencoba untuk berdiskusi selalu saja tak membuahkan hasil yang baik dan lagi-lagi memicu pertengkaran. Sehingga selama masa karantina, Lisa merasa hari-harinya selalu membosankan dan tentu saja menguras emosinya.

********

“kalian bertengkar lagi?” tanya Sandra sambil berjalan tergopoh-gopoh mengikuti langkah Lisa yang semakin cepat.

Ne, dan aku tak akan pernah memaafkan EVIL satu itu. Tak akan pernah!!!” jawab Lisa yang terus mengelus dadanya di tengah nafasnya yang berantakan.

“Ok….Lis , Kau tau, sebagai sahabatmu aku sudah sangat sangat bosan. Setiap hari, setiap saat kau selalu bertengkar dengan YoungMin. Why?” tanya Sandra dengan nada putus asa. Sepertinya ketenangan jiwanya telah terganggu dengan pertengkaran sahabatnya itu.

“Sandra, Tolong kau mengerti aku. Jika kau berdiri di posisiku apa yang kau lakukan jika seseorang mengatakan padamu bahwa pelajaran favoritmu adalah pelajaran yang sangat mudah nan membosankan.” Jelas Lisa semakin jengkel.

OMO… kau dan YoungMin bertengkar hanya karena hal sepele seperti itu? Dan kau mengatakan jika fisika adalah pelajaran yang lebih buruk daripada matematika?” tanya Sandra yang berusaha menerka-nerka penyebab perkelahian mereka hari ini.

“Tentu saja!…Please jangan marah padaku ya.” Bujuk Lisa yang saat ini melihat sahabatnya tersebut cemberut karena sikapnya.

“Hahaha mengapa aku harus marah padamu Lisa, aku hanya berfikir kau ini konyol sekali, mengapa kalian berdua selalu saja bertengkar akan masalah yang menurutku itu tak terlalu penting untuk diperdebatkan”

“Entahlah, pada saat itu moodku sudah tak terlalu bagus dan Si Evil menyebalkan selalu saja memancing emosiku dengan mengatakan hal-hal yang membuatku geram.”

“Aku bingung dengan masalah kalian berdua. Alangkah baiknya jika kalian berdua berbaikan dan membangun kekuatan bersama untuk meningkatkan nama baik sekolah kita.” Respon Sandra bijak namun tak bisa dipungkiri jika kini ia berusaha untuk tidak tertawa.

“Aku harus membenturkan kepalaku sendiri jika hal itu harus terjadi, karena aku tak mungkin bisa sepaham dengannya.” Jawab Lisa tak mau kalah.

“Baiklah, kalian berdua saja yang menyelesaikan pertengkaran kalian.” Kata Sandra sembari menghembuskan nafas yang berat.

Bel sekolah berbunyi, menandakan jika semua pelajaran telah usai. Semua siswa perlahan-lahan pergi meninggalkan kelas mereka dan suasana kelas mulai sepi.

Lisa terlihat masih menyelesaikan tugas untuk perayaan ulang tahun sekolah mereka namun ekspresinya berubah menjadi merah padam saat memandangi YoungMin yang sedang menghapus papan tulis karena hari ini adalah jadwal piketnya.

Lisa tak habis pikir mengapa YoungMin begitu dingin dan terkesan cuek dapat melakukan segalanya seorang diri, jarang sekali Ia melihat YoungMin meminta bantuan kepada orang lain jika Ia mampu menyelesaikannya seorang diri, tak dapat dipungkiri semuanya berjalan mulus dan hasilnya pasti memuaskan.

Sembari membereskan bukunya, Lisa hanya dapat memberikan tatapan sadis ke arah YoungMin yang hendak pergi meninggalkan kelas, matanya tak menampakkan sinar perdamaian bagi makhluk yang kini berdiri di hadapannya.

Lalu YoungMin membalas tatapan Lisa sambil tersenyum simpul meninggalkan ruang kelas yang mulai sepi.

“Dasar yeoja aneh, memandangiku layaknya aku adalah seorang buronan kejahatan.” Kata YoungMin pelan sambil tersenyum geli dan untungnya Lisa tak mendengar perkataan yang baru saja YoungMin ucapkan karena jika Lisa tahu bisa-bisa kelanjutan perang pagi tadi dapat digelar kembali.

********

”Huh…..” Desah Lisa sambil melemparkan dirinya ke sofa, eomma-nya yang tak sengaja lewat bingung melihat kelakuan putrinya yang akhir-akhir ini setiap pulang sekolah selalu ngomel-ngomel seperti nenek-nenek kehilangan konde.

”Ada apa Lis? kamu bertengkar lagi dengan YoungMin?” Kata eomma-nya lembut sambil duduk di samping putri bungsunya itu.

Ne eomma……Lisa juga bingung mengapa ada orang yang dilahirkan dengan sikap menyebalkan yang bisa dibilang telah memasuki stadium kronis dan pastinya sikapnya yang selalu ingin menyelesaikan semuanya seorang diri itu bikin poin kelakuannya di mataku berubah jadi minus.” Kata Lisa dengan wajah cemberut.

”Sudahlah, Lis mungkin saja dia berbuat seperti itu karena dia ingin menunjukkan yang terbaik, kamu berfikir yang positif saja ya sayang.” Tambah eomma-nya yang berusaha meredam amarah putrinya.

”Sudahlah…. segera ganti seragammu, kita akan makan siang bersama kebetulan masakan eomma sudah matang” Tambah eomma-nya sambil mengelus rambut putrinya lalu bergegas pergi menyiapkan makan siang.

Setelah eomma-nya pergi meninggalkannya sendiri di ruang tamu, tanpa disengaja Lisa terdiam akibat nasehat ibunya dan berusaha memikirkan makna dibalik perkataan eomma-nya.

”Ehm………jika kupikir – pikir menggunakan logika, nasehat eomma memang ada benarnya, tapi tunggu mengapa aku jadi memikirkan urusan yang tidak seharusnya kupikirkan? Ckck buang-buang waktu saja memikirkan manusia menyebalkan itu.” Batinnya lalu ia segera pergi menuju kamarnya.

Setelah selesai mengganti seragamnya, Lisa segera turun menuju meja makan untuk makan siang bersama. Tak disangka-sangka kakak laki-lakinya telah berada di meja makan.

Oppa, kapan kau pulang dari sekolah? Bukankah kau ada rapat?” tanya Lisa sembari mengambil tempat duduknya.

JeongMin hanya dapat tersenyum melihat tingkah adik kecilnya tersebut.

Aniya, aku menyelesaikan rapat kelas lebih cepat dari rencanaku semula, karena aku penasaran ingin mendengar ceritamu.” Jawab sang kakak dengan nada jahil.

Wae oppa?”

“Kau pikir aku tak mendengar pertengkaranmu dengan YoungMin hari ini huh? Seisi sekolah membicarakannya karena kalian berdua bertengkar layaknya seorang pasangan suami istri yang salah satunya tertangkap melakukan perselingkuhan.” Jelas JeongMin geli.

oppa!! Perumpamaanmu begitu mengerikan. Bagaimana kau dapat mengatakan jika kami seperti pasangan, ckck membayangkannya pun aku tak berani.” Balas Lisa kesal.

“Siapa juga yang meminta kalian selalu bertengkar setiap saat, kau tahu setiap kali kalian bertengkar aku selalu menjadi pusat tanya jawab mengapa kalian selalu beradu pendapat.”

“Lalu? Bagaimana oppa menjawabnya?”

“Tentu saja kujawab dengan tambahan efek dramatisasi menurut versiku” Lagi-lagi JeongMin menggoda adik perempuannya.

“Apa?? Mengapa kau lakukan itu oppa. Mulai saat ini hentikan semuanya.” Balas Lisa cuek.

“Dan kau harus menghentikan pertengkaranmu dengan YoungMin”

“Yah…itu tergantung mulutnya. Jika ia tak mengganguku terlebih dahulu maka aku tidak akan bertengkar dengannya.”

“YoungMin itu anak yang baik, namun ketika ia bersamamu maka seluruh image baiknya hilang.” Sahut kakaknya lagi.

“Lalu?? Kau menyalahkanku? Menurutku ia hanya berpura-pura baik demi mendapat perhatian para guru, dan sifat aslinya adalah yang setiap hari kulihat. TIDAK ADA sedikitpun yang menarik darinya.” Ucap Lisa yang mengakhiri perdebatannya dengan JeongMin.

Keesokan harinya, saat jam istirahat tiba…

”Apa…..Bu!!!” jawab Lisa panik namun Ia berusaha untuk mengecilkan suaranya dan tetap menjaga cara bicaranya di depan guru Fisikanya.

Ne…Ibu sudah putuskan untuk olimpiade Sains 2 minggu lagi kamu akan mewakili sekolah kita untuk pelajaran matematika ya….dan untuk bagian Sains ibu percayakan pada YoungMin, ini akan menjadi perpaduan yang sangat bagus Lisa, kemampuan kalian saling melengkapi satu sama lain dan kalian memiliki peluang yang besar untuk memenangkan olimpiade tahun ini  jadi kamu tolong beritahu YoungMin agar menghadap saya sekarang ya”

”Ta…tapi,Bu”

”Kamu tenang saja, selama 2 minggu ini Ibu akan mengatur semua persiapan kalian jadi kalian tinggal fokus pada bidang masing-masing.”

”Ba..Baik Bu, saya mengerti, saya permisi dulu.” Kata Lisa sembari mengambil langkah lemas meninggalkan kantor guru.

Lisa seolah tak berani mempercayai pendengarannya seperti petir di siang hari yang sukses membuat Lisa terserang penyakit jantung mendadak, membayangkan 2 minggu yang akan dilewatinya bersama YoungMin.

Tiba-tiba setelah beberapa langkah meninggalkan kantor guru, Lisa berpapasan dengan YoungMin yang sedang berbincang-bincang dengan saudara kembarnya KwangMin yang  sedikit lebih muda darinya namun sifatnya jungkir balik jika dibandingkan dengan YoungMin di mata Lisa, KwangMin yang begitu ramah segera tersenyum mengetahui kedatangan Lisa.

”Hai….Lisa, ada apa dengan wajahmu?” Tanya KwangMin yang mengetahui jika raut wajah Lisa selalu berubah menjadi menyeramkan jika bertemu YoungMin.

Lisa hanya diam dan sedikit memaksakan senyumannya demi  menjaga kesopanan dengan KwangMin, namun sepertinya KwangMin mengerti jika Lisa ingin berbicara dengan kakaknya.

“Oh kalau kau ada perlu dengan kakakku silahkan, aku permisi dulu ya.” Kata KwangMin dengan sopan.

KwangMin memang lebih ramah daripada YoungMin kakaknya. YoungMin cenderung pendiam namun kalau urusan otak mereka berdua sama-sama jenius.

Lisa tampak ragu-ragu untuk memulai pembicaraan, karena ia sedang tak ada tenaga untuk berdebat dengan YoungMin.

”Ehm…..aku akan langsung pada pokok pembicaraan karena aku tak ingin berdebat denganmu kali ini, aku hanya ingin mengatakan jika kau ingin tahu bencana apa yang akan terjadi, maka segeralah kau pergi ke kantor guru dan menemui guru Fisika.” Jelas Lisa singkat, sebetulnya di dalam hatinya ia sudah ngomel-ngomel sedari tadi kenapa juga harus bersama YoungMin lagi.

”Ok…..Thanks.” Jawab YoungMin singkat yang sekarang sedang menuju kantor guru.

Setibanya di ruang guru.

“Kau rupanya YoungMin, silahkan duduk. Ibu tadi telah memanggil Lisa kemari.” Ucap Guru Fisika tersebut dengan ramah.

“Perihal apa yang ingin ibu bicarakan dengan saya?”

“Apakah Lisa tak memberitahumu?” Tanya gurunya bingung.

“Ia hanya mengatakan jika ibu ingin bertemu saya.” Jawab YoungMin sopan namun di dalam hatinya ia sedang mengutuk Lisa keras-keras karena ia dengan sengaja mempermalukan dirinya di depan guru favoritnya, sehingga ia tampak seperti tak mengetahui apapun.

“Sekolah kita akan mengikuti olimpiade Sains, dan ibu harap kau dapat berpartner dengan Lisa kembali tahun ini”

Mwo?“ Jawab YoungMin spontan dan sukses membuat gurunya kaget setengah mati.

“Maafkan saya, ….” tambah YoungMin malu.

“ YoungMin, ibu harap kau dapat memperbaiki hubunganmu dengan Lisa, jadi berusahalah yang  untuk mencapai hasil yang terbaik.” Saran gurunya dengan nada suara yang bijak.

YoungMin hanya menjawab perkataan gurunya tersebut dengan senyuman.

Dengan keluarnya YoungMin dari ruang guru maka akan menjadi pertanda jika akan terjadi pertengkaran lagi diantara YoungMin dan Lisa.

YoungMin yang merasa Lisa telah membuatnya tampak bodoh di hadapan guru fisikanya, segera mencari Lisa di kelasnya. Namun ia sama sekali tak menemukannya, YoungMin merasa curiga karena tak biasanya Lisa pergi keluar kelas tanpa teman sebangkunya, Sandra.

Tanpa banyak bicara YoungMin segera keluar dari kelasnya dan melupakan rencananya untuk beradu argumen dengan Lisa. Namun di tengah perjalanannya YoungMin melihat Lisa yang baru saja keluar dari kamar mandi dan ia terlihat merapikan rambutnya yang berantakan.

YoungMin segera mengeluarkan evil smile-nya karena ia akan segera meminta pertanggung jawaban Lisa atas tindakan yang telah diperbuatnya. Namun senyuman di wajah YoungMin menghilang seketika saat melihat Lisa yang secara tiba-tiba diseret paksa oleh sekawanan senior perempuan.

Melihat ada yang tak beres dengan gelagat para senior tersebut, YoungMin tak sengaja mengikuti kemana mereka pergi dan ia segera bersembunyi di balik dinding mengawasi apa yang akan mereka lakukan pada Lisa.

Plakkk….

Tiba-tiba sebuah tamparan melayang pada pipi Lisa yang tak tahu menahu tentang kesalahan yang telah ia lakukan sehingga menyebabkan para senior tersebut menampar pipinya.

“ Kau!! Tak usah bertindak layaknya seseorang yang selalu ingin jadi pusat perhatian.” Bentak salah satu dari senior tersebut. Tampaknya ia adalah ketua dari gerombolannya karena cara berpakaiannya terlihat sangat berbeda dengan yang lainnya.

“ Apa maksud Unnie? “ jawab Lisa dengan mata berkaca-kaca karena menahan rasa sakit dan kebingungan yang kini tengah menderanya.

“Kau memang terlalu naif, atau kau yang berpura-pura bodoh di depan kita?!” tambah senior yang lain.

“Sungguh Unnie, aku tak mengerti apa maksud kalian seperti ini. Aku tak pernah berurusan dengan kalian.” Jawab Lisa yang berusaha untuk tetap kuat.

“Memang kau tak pernah berurusan dengan kami, tapi sikapmu yang selalu menarik perhatian YoungMin. ITU MEMBUATKU MERASA KAU ADALAH RUBAH PENGGODA!!” bentak sang Ketua.

Ia hendak menampar Lisa kembali namun dengan kuat Lisa menahannya.

Unnie, aku tak akan mengulangi perkataanku untuk kedua kalinya. Jika kau cukup mampu untuk menarik perhatian YoungMin maka lakukanlah dengan cara yang benar, jika kau melakukannya dengan cara seperti ini maka kau akan terlihat seperti seseorang yang rendah. Jadi jangan pernah libatkan aku lagi mengenai urusanmu dengan YoungMin.” Jawab Lisa tegas dan ia segera pergi meninggalkan mereka yang masih tercengang dengan perkataan Lisa.

Emosi Lisa tak dapat terbendung lagi, setelah ia pergi meninggalkan para seniornya tanpa sengaja air matanya menetes dan wajahnya pun terlihat bengkak. Lisa tak ingin siapapun melihat dirinya sekarang. Namun malang nasibnya, karena saat ia akan pergi ia melihat YoungMin yang berdiri di balik tembok dan menatapnya lekat-lekat.

Dengan pandangan yang marah, Lisa segera mengabaikan YoungMin dan bergegas pergi. YoungMin yang baru pertama kali melihat Lisa menangis di depan matanya tak tahu apa yang harus dilakukannya, apalagi YoungMin mendengar seluruh percakapan yang baru saja terjadi.

Karena langkah kaki YoungMin yang lebih panjang daripada Lisa, maka akan dengan mudah YoungMin menyusul Lisa yang kini berada di atap sekolah mereka. Ia menangis sendirian dengan menenggelamkan wajahnya di kakinya.

YoungMin sendiri merasa kebingungan langkah apa yang harus ia ambil, ia sangat hafal sikap Lisa. Jika YoungMin mendekatinya sekarang maka Lisa hanya akan semakin memburuk, bahkan ia akan lebih mengamuk. Sehingga YoungMin hanya duduk diam dengan jarak 5 meter dari tempat Lisa duduk.

Lisa yang sibuk menangis sambil menutupi wajahnya tak menyadari kedatangan YoungMin. Setelah 20 menit berselang, akhirnya Lisa mengangkat wajahnya dan ia terkejut melihat YoungMin yang duduk di dekatnya.

Dengan wajah yang masih berantakan dan suara yang parau, Lisa memandangi YoungMin dengan pandangan yang mengerikan.

“Apa yang kau lakukan di sini? Jika kau ingin mempermalukanku, maka pergilah dari sini. Aku tak ingin mendengarnya.” Ujar lisa ketus.

YoungMin yang dapat menerka apa yang akan Lisa katakan, segera menggeser tempat duduknya menjadi lebih dekat dengannya. Sebuah ice-pad dengan lembut mendarat ke pipi dimana Lisa mendapat tamparan oleh kakak kelasnya.

Mianhe, ini salahku.” Ujar YoungMin lembut. Terdapat nada penyesalan dalam nada bicaranya. Untuk pertama kalinya Lisa mendengar YoungMin berkata dengan nada seperti itu.

“ Jangan pandangi aku dengan pandangan belas kasihan seperti itu.” Jawab Lisa singkat.

“Aku tak bermaksud seperti itu.” Jawab YoungMin yang salah tingkah karena ia sendiri tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan Lisa.

“Sudahlah, lupakan. Lagipula aku tak meminta penghiburan darimu.” Ujar Lisa dan bergegas pergi meninggalkan YoungMin yang kebingungan.

Namun sebelum Lisa sempat beranjak pergi dari tempatnya, YoungMin segera menahan pergelangan tangan kanan Lisa.

“Aku tak ingin berdebat denganmu” tambah Lisa dengan nada yang semakin dingin.

Dengan kekuatannya YoungMin segera menarik Lisa kedalam pelukannya. Lisa yang tercengang dengan hal yang dilakukan YoungMin hanya dapat diam dan membelalakkan matanya karena kaget.

“ Aku tahu jika aku tak seharusnya mendengarkan hal yang menjadi urusanmu, namun apa jadinya jika aku tak berada di sana dan kau harus menanggung segalanya sendirian? Padahal penyebab semua itu adalah aku.” Ujar YoungMin dengan nada yang kaku. Karena baru kali ini ia mengatakan perkataan seserius itu kepada seorang yeoja.

“Bodoh, bodoh… kau tau betapa kagetnya aku saat mereka menamparku? Dan semuanya hanya karenamu, aku merasa jika aku adalah orang paling bodoh karena harus mengalami lebam di wajahku dan itu semua berhubungan denganmu. Aku benar-benar membencimu.” Jawab Lisa di tengah isak tangisnya yang kembali memuncak.

YoungMin hanya diam mendengar perkataan Lisa, tanpa ia sadari bahwa ia masih memeluk Lisa.

Lisa yang telah kembali pada akal sehatnya segera mendorong badan YoungMin menjauh darinya.

“Mulai saat ini, aku tak ingin terlibat denganmu YoungMin.  Karena kau berjalan di area yang dapat membahayakanku.”  Lisa yang berkata dengan suara yang parau dan dengan segera pergi dari pandangan YoungMin.

YoungMin PoV

mulai saat ini, aku tak ingin terlibat denganmu YoungMin.  Karena kau berjalan di area yang dapat membahayakanku

Mwoo?? Apa yang ia katakan? Aku berjalan di area berbahaya? Apakah ia ingin memulai pertengkaran denganku lagi? Padahal aku telah berbaik hati untuk melupakan masalah yang terjadi di ruang guru dan berusaha memberinya ice pad pada pipinya yang bengkak lalu sebagai balasannya ia hanya dapat mengatakan hal tersebut? Ckck Lupakan Lisa,..aku pun juga tak ingin mencampuri urusanmu lagi ataupun berusaha berbaik hati padamu.” Batinku kesal sehingga tanpa sadar aku telah mencoret-coret kertas kosong yang ada di hadapanku dan aku tak menyadari jika pensil yang kugunakan menjadi patah akibat dari kekesalanku.

“ Apa yang kau pikirkan hyung ?” tanya KwangMin yang asik bermain PSP-nya dan kini aktifitasnya terhenti karena melihat tingkahku.

Aniya..” jawabku singkat namun ekspresiku masih saja menampakkan kekesalan.

“Apakah kau sedang memikirkan Lisa?”

Binggo…KwangMin sepertinya dapat membaca pikiranku dengan baik dan aku benci untuk mengakuinya.

“Mana mungkin aku memiliki waktu untuk memikirkannya?” sangkalku dan aku berusaha untuk mengambil kertas baru.

“Lihatlah kelakuanmu itu Hyung, aku tahu jika kau sedang berbohong. Masalah apa lagi yang terjadi antara kau dan Lisa? Sepertinya seluruh sekolah telah membicarakan kebiasaan buruk kalian, dan aku mengetahui apa yang kau lakukan pada Lisa di atap sekolah hari ini.” Ujar KwangMin enteng tapi sepertinya ia telah menyiapkan perangkap bagiku agar aku tak macam-macam dengannya karena ia mengetahui hal yang tak seharusnya ia lihat.

“Kau jangan berbicara sembarangan” ujarku kesal.

“Aa…atau kau sedang memikirkan bagaimana kau bisa dengan tiba-tiba memeluk Lisa yang sedang menangis di atap sekolah?” Jawab KwangMin yang terlihat semakin senang menjahiliku.

“ YA!!! Mengapa kau memata-mataiku??”

“Aku tak memata-mataimu, saat itu aku sedang mencarimu dan aku tak menemukanmu dimanapun lalu aku memutuskan untuk beristirahat di atap sekolah. Kalian berdua yang sama sekali tak menyadari jika aku berada tak jauh dari kalian.” Tambah KwangMin dengan nada tanpa dosa dan ia tetap santai memainkan PSP-nya.

“ Ja..jadi kau mendengar segalanya?” tanyaku gugup.

“Mulai saat ini, aku tak ingin terlibat denganmu YoungMin.  Karena kau berjalan di area yang dapat membahayakanku.“ Jawab KwangMin yang menirukan kembali perkataan Lisa pada YoungMin.

“ KAU!!! Berani-beraninya kau mengulangi kalimat itu di depanku”

“ Aku tahu jika aku tak seharusnya mendengarkan hal yang menjadi urusanmu, namun apa jadinya jika aku tak berada di sana dan kau harus menanggung segalanya sendirian? Padahal penyebab semua itu adalah aku.” Tambah KwangMin yang kembali me-replay perkataan YoungMin.

“Aku tak menyangka kau dapat mengatakan kalimat yang berat seperti itu Hyung, apalagi di depan Lisa, yang jelas-jelas kau selalu memusuhinya hahaa….ini benar-benar lucu.” KwangMin terus saja tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian yang menimpa Hyung-nya sebelum sebuah bantal melayang pada kepala KwangMin.

“Hentikan tawamu!!! Kau tau betapa menyebalkannya yeoja satu itu. Aku tak tahu sebenarnya ia yeoja atau bukan, sikap keras kepalanya sungguh membuatku kesal.”

“Hahaa…. hati-hati Hyung, jangan terlalu benci padanya bisa-bisa kelak kau jatuh hati padanya.” Canda KwangMin.

Mwo!! …….YA!! Ia bahkan terlalu kuat untuk seorang yeoja, ia adalah tipe yeoja yang tak membutuhkan pria ketika ia pergi seorang diri.”

“Bagaimana kau bisa menyimpulkannya seperti itu?”

“Mungkin kau tak tahu karena kau tak pernah berurusan dengannya atau karena ia selalu baik terhadapmu sehingga kau tak pernah merasakan pukulannya, sekali kau merasakannya kau akan merasa jika ia memang dilahirkan sebagai tukang pukul.” Jawabku yang semakin kesal.

“Namun pada kenyataannya semakin kau membencinya, kau adalah orang yang paling tahu bagaimana ia Hyung hahaa…” KwangMin semakin mengeraskan tawanya dan aku sama sekali tak tahan dengan gurauannya.

YoungMin PoV end

 

Author PoV

Keesokan harinya…

“Aish…mengapa masih membekas? “ ujar Lisa seorang diri di depan meja riasnya. Ia takut jika ibunya melihat lebam merah yang berada di pipinya dan membuatnya khawatir apalagi jika kakaknya mengetahuinya  bisa-bisa Lisa ditawan oleh setumpuk pertanyaan dan JeongMin tak akan melepaskan orang yang telah membuat adik semata wayangnya menderita.

“Sepertinya aku harus memakai bedak yang lebih tebal lagi agar bekasnya tak terlihat jelas.” Tambah Lisa yang segera menambahkan bedak lagi di bagian merah pada pipinya. Tak lupa ia menggerai rambutnya untuk menutupinya dan hasilnya pun sempurna. Tak akan ada seorang pun yang menyadarinya.

Lisa pun turun untuk sarapan, tanpa disangka semua mata tertuju padanya.

“Waah…..putri ayah sudah dewasa rupanya.” Ujar ayahnya begitu melihat Lisa.

“Mengapa appa tiba-tiba berkata seperti itu?” Tanya Lisa bingung.

“ kau tak biasanya menggerai rambutmu seperti sekarang, namun kuakui kau terlihat lebih cantik.” Potong JeongMin oppa sambil tersenyum.

“Apakah kau memilki kekasih?” Tanya ibunya geli.

A..aniya eomma. Aku tak menyukai siapapun.” Jawab Lisa kaget karena perubahannya justru membuat ia menjadi bahan tertawaan keluarganya. Namun ia sedikit lega karena mereka tak menangkap bekas merah di pipinya.

Semuanya hanya dapat tersenyum penuh arti melihat Lisa yang salah tingkah.

Oppa…jangan berbuat seperti itu! Jika tidak segera berangkat kita akan terlambat.”  Ujar Lisa sambil mengambil beberapa potong roti dan segera melahapnya.

Ne..ne arraso. ^^  aku berangkat dulu” ujar JeongMin sembari berpamitan dengan kedua orang tuanya. Begitu pula dengan Lisa yang mengikuti kakaknya dari belakang.

Setibanya di kelas….

“ Li..lisa, ada apa denganmu hari ini?” tanya Sandra yang kebingungan melihat perubahan drastis sahabatnya.

“Kemari…” ajak Lisa yang menarik Sandra untuk keluar dari kelas.

“Lihat ini..” tambah Lisa yang sekarang sedang menunjukkan lebam merah pada pipinya.

“Siapa yang berani melakukan hal ini padamu? “ ujar Sandra kaget.

“Ini semua gara-gara YoungMin sehingga para senior itu seenaknya melampiaskan kemarahannya padaku. Sst..mengenai hal ini tutup mulutmu rapat-rapat karena aku tak ingin oppaku mengetahuinya.”

Wae? Bukankah itu akan bagus jika kakakmu mengetahuinya. Ia akan membalaskan semuanya untukmu.”

Aniya, aku tak ingin melibatkan oppaku, sekarang bantu aku untuk membalas perbuatan para senior itu.” Ujar Lisa tegas.

“Ba..bagaimana caranya, kau tau kan para senior perempuan itu mengerikan, palagi jika ia mulai menjambak rambutmu.” Balas Sandra khawatir.

“Kita dapat menggunakan tangan orang lain untuk membalas perbuatan mereka, dan aku memiliki rencana yang sangat bagus.”

“Hari ini adalah jadwal para senior tersebut memakai laboratorium kimia, dan untungnya guru kimia sedang berhalangan hadir lalu beliau meminta guru kimia kelas kita untuk menggantikannya dan aku telah mengganti bahan praktikum milik para senior tersebut sehingga ketika mereka mereaksikannya saat praktikum nanti, bahan percobaan mereka akan mengeluarkan bau yang sangat menyengat dan kau dapat menebak apa yang akan terjadi selanjutnya kan?” Jelas Lisa sambil tersenyum usil.

“Tapi bagaimana kau dapat menukar bahan-bahan mereka? Sedangkan kita saja tak memiliki jadwal praktikum kimia minggu ini.”

“Bukan hal yang sulit untukku jika hanya sekedar masuk ke dalam laboratorium kimia, kemarin sebelum pulang sekolah aku melihat guru kimia kita sedang kesusahan membawa alat praktikum seorang diri sehingga aku menawarkan diri untuk membantunya.”

“Kau benar-benar menakutkan ketika kau telah mempunyai rencana seperti ini.” Ujar Sandra pasrah.

“Aku hanya ingin memberi pelajaran pada mereka bahwa ‘dihujat ketika kau tak mengerti akan kesalahan apa yang telah kau perbuat  itu adalah suatu hal yang menyakitkan’ biarkan mereka mempelajari hal ini baik-baik. Aku tak akan mengotori tanganku sendiri untuk membalas mereka dan aku tak akan bertindak seperti perempuan lemah di hadapan mereka. “ Kata Lisa tegas.

“ Aku mengerti, ayo segera kembali ke kelas ^^” ajak Sandra riang. Ia berusaha mengembalikan mood sahabatnya yang akhir-akhir ini menjadi kacau akibat YoungMin yang terus berkutat di kehidupannya.

Ketika mereka berdua hendak masuk kelas, tanpa sengaja mereka berdua berpapasan dengan YoungMin dan KwangMin. Sandra yang tadinya ingin menceritakan sebuah cerita lucu pada Lisa menjadi batal karena Lisa telah berjalan terlebih dahulu agar tak beradu pandang dengan YoungMin.

KwangMin dan Sandra hanya dapat bertukar pandangan pasrah melihat kelakuan mereka berdua yang tak pernah berubah sedikitpun.

Ketegangan di antara mereka pun berlanjut hingga pelajaran dimulai, Lisa yang mulai merasa risih karena tak biasa dengan rambut terurai terlihat gelisah membenarkan letak anak rambutnya yang sering menutupi pandangannya, sedangan YoungMin yang  duduk di belakang Lisa sedari tadi merasa terganggu karena Lisa yang terus saja bergerak-gerak membuat pandangannya menjadi tak fokus akan pelajaran yang sedang disampaikan.

Hingga akhirnya YoungMin melemparkan penghapusnya tepat di kepala Lisa. Lisa yang merasa kesakitan segera mengambil penghapus tersebut dan ternyata terdapat lipatan kertas di dalamnya.

“YA!! Apakah kau bisa sedikit tenang? Gerakanmu membuat penglihatanku sakit!!!”

Lisa yang jengkel dengan tulisan YoungMin segera membalasnya dengan jawaban yang lebih parah.

 “Ini semua gara-gara kamu, jika saja tak ada bekas menyebalkan di pipiku mungkin saja kau dapat belajar dengan tenang tanpa gangguan. Anggap itu adalah bayaran yang pas akibat ulahmu”

Lisa kembali melemparkan penghapusnya ke belakang dan beberapa saat kemudian penghapus tersebut kembali pada Lisa.

Jadi kau melakukannya dengan sengaja huh?”

“Aku tidak berfikir jika aku sengaja melakukannya namun jika kau berfikir demikian aku pun tak mempermasalahkannya”

Jadi kau memang sengaja dan kau tetap saja mengelak”

Kau saja yang berfikiran sempit, lebih baik gunakan otakmu untuk olimpiade yang akan segera kita ikuti. Aaa….bahkan aku tak dapat mengkategorikannya sebagai ajang kerja sama,walaupun kita berada di pihak yang sama”

Lupakan soal kerja sama, kita akan fokus di bidang masing-masing. Jadi kau tak usah merasa terbebani.”

Kau pikir aku akan merasa terbebani denganmu? Aku bahkan tak mengakui jika kau ada “

Baiklah, pikirkanlah hal yang membuatmu nyaman. Aku pun juga tak peduli padamu.”

“OK… anggap saja kita berjalan di jalan masing-masing walau berada di perahu yang sama. INGAT ITU baik-baik!!! “

Sebelum YoungMin sempat melempar kembali penghapusnya kepada Lisa, sebuah teguran datang dari arah depan kelas.

“YoungMin, Lisa!! Jika kalian hanya bermain-main selama pelajaran saya silahkan keluar, atau karena kalian merasa pintar jadi tak perlu mendengarkan penjelasan saya?” ujar Guru yang sedang mengajar dengan nada jengkel.

“Maafkan saya.” Jawab mereka berdua secara bersamaan.

“Karena kalian telah membuat ulah dalam pelajaran saya untuk ujian minggu depan, saya putuskan untuk membedakan soal kalian berdua dengan yang lain!!”

YoungMin dan Lisa hanya dapat diam namun sebenarnya mereka berdua dilanda ketakutan yang amat besar karena telah menjadi rahasia umum jika guru Sejarah selalu memberikan soal yang sangat sulit, ditambah lagi mereka telah membuatnya marah, entah apa yang akan terjadi dengan ujian mereka kelak.

Sedangkan KwangMin dan Sandra yang melihat mereka berdua hanya dapat menahan tawa mereka.

To Be continued…

Don’t forget to leave your comment…^^

[FANFICT/FREELANCE] Do You Really Love Me ? – Chapter 01

Title 
: Do You Really Love Me ? – Chapter 01
Author : Felicia Octine Dina Sayudi
Genre : Family, Sad Romance, & Romance
Rating : G
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ Yoo Hyejin [OC]

  ~ Jo Youngmin

  ~ Shin Mihyo [OC]

  ~ Jo Kwangmin

  ~ No Minwoo

######################################################################

Warning!
Typo(s) bertebaran, gaje, dll. No silent readers please! >,<
Ini ff aku buat pas lagi sibuk2nya ulangan setelah fakum buat nulis ff sekian lama, jadi, kalau banyak peminatnya yah aku sempetin buat lanjut. Kalo sedikit, buat apa? Sebelumnya gomawo buat reader’s di ff aku sebelumnya yang minat baca ff ini. Jadi ada semangat buat nulis deh :D
So, please no silent readers!

~Happy Reading~

(more…)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 20,221 other followers

%d bloggers like this: