[FREELANCE] Just Dreaming, Right?

Author : 이카 (ika) Youngminie
Cast: Kim DongHyun (Boyfriend), Han Hyun Min, dan lain-lain.
Genre: Romance, Tragedy
Lenght : One Shoot

Aku mencoba membuka mataku, sangat berat. Kepalaku pusing, badanku lemas. Aku melihat tembok serba putih, di mana aku?? Apa yang terjadi denganku??

“Donhyun-ah…kau sudah siuman??”

Hah?! Suara siapa itu??? Aku melihat seseorang datang ke ranjangku. Seorang perempuan dengan kemeja warna birunya, “Nuguseyo??”kataku kepada wanita itu. “Kau tidak ingat?? Aku Han Hyun Min, tunanganmu..”

Deg! Tunanganku??? Sejak kapan aku punya tunangan??

“2 minggu yang lalu, kau kecelakaan dan membuat kau lupa ingatan untuk beberapa waktu, mungkin beberapa bulan lagi kau akan ingat semuanya atau…tidak sama sekali” jelasnya.

“Ahh~aku benar-benar lupa semuanya…” kataku lirih lalu menidurkan kembali badanku dia atas kasur ini. “Oh iya, ngomong-ngomong, mana keluargaku? Apa mereka ke sini? Aku tidak bisa mengingat apapun sekarang, aku juga tidak yakin aku memiliki keluarga atau tidak” Hyun Min hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kau punya banyak keluarga, bahkan keluargamu juga sangat baik kepadaku” Hyun Min lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku, “Mereka setiap hari ke sini, tapi kau belum juga siuman, dan lagi…setelah kau siuaman kau malah tidak ingat siapa mereka” katanya pelan.

“Jinja??” kataku lalu menududukan kembali badanku, “Tapi, kapan kita bertunangan?? Sudah lama??”

“Sudah sekitar 3 bulan…”

Clekk…
Pintu kamarku terbuka, sepertinya ada yang ingin masuk.
“Donghyun-ah!! Kau sudah siuman??” kata seorang wanita yang sepertinya berusia sekitar 50 tahun.

“Nuguseyo??” kataku kepada wanita itu, ia datang bersama…mungkin suaminya.

“Donghyun-ah, ini eommamu, dan ini appamu” jelas Hyun Min kepadaku sambil menunjuk satu persatu kedua orang itu.

“Mwo?! Donghyun-ah, kau lupa dengan eommamu ini, huh?!” kata ‘eomma’ sedikit marah.

“Ahh~mianhae, ahjumma. Aku belum menceritakan tentang dampak dari kecelakaan yang dialami Donghyun karena aku juga diberitahu oleh dokternya kemarin, ia menderita amnesia, tapi bukan permanen, hanya beberapa bulan. Ia mengalami benturan keras pada kepala bagian kirinya, itulah sebabnya ia menjadi lupa ingatan. Tapi, aku juga tak yakin kalau hanya beberapa bulan saja ia bisa mengingat semuanya tapi dokter ahlinya bilang kalau ini hanya berlangsung beberapa bulan saja. Chussomnida baru menceritakannya sekarang ahjumma” jelas panjang lebar Hyun Min kepada eommaku, dia tampak seperti seorang dokter, apa dia memang seorang dokter??

“Ahh~jadi seperti itu…” kata appa.

“Baiklah ahjumma, ahjussi, aku harus kembali bekerja, annyeonghaseo” kata Hyun min sambil membungkukkan badannya, dia sangat sopan, mmm…wanita yang baik sepertinya.

Di kamar itu pun aku, eomma, dan appa berbincang bersama. Menceritakan tentang keluargaku, teman-temanku, dan kehidupanku dulu, bahkan tragedi kecelakaanku. Tapi, aku tetap tidak bisa mengingatnya, kepalaku malah sedikit pusing ketika mencoba mengingatnya.

Sudah sekitar 17 hari aku di rumah sakit, hari ini saatnya aku pulang ke rumah. Eomma yang menjemputku di rumah sakit. Eommalah yang membereskan barang-barangku, aku ingin sekali membantunya, tapi ia selalu menolak.

“Oh iya, Hyun Min tidak bisa ikut menjemputmu hari ini, dia ada pasien yang harus dioperasi”

“Apa…dia seorang dokter??” kataku sambil duduk di pinggiran ranjang. Aku masih tidak bisa berbicara banyak kepada orang-orang di sekelilingku, aku merasa masih sangat asing dengan duniaku yang sekarang.

“Ne…lebih tepatnya dokter bedah” kata eomma santai.

“Mwo?! Dokter bedah??” aku merinding sendiri mendengar perkataan eomma, dokter bedah??? Itu terdengar sangat mengerikan!!! “Dokter bedah?? Ishh~aku takut pada dokter bedah” kataku sambil berfikir keras atas perkataanku ini, aku tidak tau ini salah atau benar.

“Wahh~ternyata masih ada sedikit hal yang kau ingat, kau kan takut sekali dengan dokter bedah…haha~”

“Mwo?! Apa benar itu??”Aku lalu berdiri dan ingin serius mendengar cerita eomma.

“Ne~saat dia kuliah jurusan kedokteran, ia memilih menjadi dokter bedah, tapi kau malah tidak suka. Pernah suatu saat kau ke rumah sakit untuk menemui Hyun Min, tapi sewaktu kau bertemu dengannya, kau melihat tangan Hyun Min penuh dengan darah, kau kan tidak suka dengan darah yang seperti itu, makanya…sejak saat itu, kau benci dokter bedah” jelas eomma panjang lebar.

“Ooo..seperti itu” jawabku singkat.

“Ya sudah, ayo kita pergi! Kajja!” kata eomma lalu mengajakku keluar rumah sakit. Aku melihat kota seoul dengan gedung-gedung yang tinggi dan beberapa taman kota. Apa ini kotaku dulu???

@home

Sekarang aku sudah di rumahku, eomma mengantarku ke kamarku. Aku sungguh rindu dengan suasana hangat seperti ini, sayangnya aku tidak bisa mengingat apa-apa sekarang.

“Donghyun-ah!! Ayo cepat turun!! Kita akn makan malam bersama!!” teriak eomma dari lantai 1.

“Ne~eomma!!” Aku langsung saja turun ke bawah. Aku lihat makanan sudah siap di atas meja makan.

“Annyeonghaseo! Aku pulang!” kata seseorang yang tak lain adalah Hyun Min, kenapa dia ada di sini?? Harusnya kan dia pulang ke rumahnya.

Kami sekeluarga pun makan bersama di meja makan itu, sangat hangat, kenapa aku bisa lupa akn kehangatan ini, ya?? Bodoh…bodohh…


Setelah selesai makan, aku kembali berbincang dengan eomma, hanya berdua. Banyak yang ingin aku tanyakan kepadanya.

“Eomma, kenapa Hyun min tidak kembali ke rumahnya???” kataku mengawali percakapan.

“Hyun Min itu tinggal di sini, sudah sekitar 2 tahun. Ayah dan ibunya meninggal, karena orangtuanya sudah membantu eomma dan appa, kami bersedia untuk menjaga Hyun Min seperti anak kami sendiri, dan…di saat 2 tahun itulah kau mulai menyukainya”jelas eomma panjang lebar.

“Ohh~jadi begitu” jawabku singkat.

“Nanti, cobalah berbincang dengannya, arra??”

“Ne~eomma”

Aku memasuki kamar Hyun Min, aku takut ia sudah tertidur. Dan benar saja, ia sudah tidur lelap di atas kasur berwarna merahnya itu. Dia manis sekali saat tidur. Aku coba duduk di pinggir ranjangnnya. Aku belai pipinya sangat lembut.

“Emm..” kulihat dia sedikit membuka matanya.

“Hyun Min-ah…” aku memanggilnya pelan untuk memastikan dia benar-benar bangun atau tidak. “Hyun Min-ah…” Dia langsung duduk di atas kasurnya ketika aku memanggilnya untuk yang kedua kalinya.

“Wae Donghyun-ah??”

“Ani…aku hanya ingin berbincang denganmu, tapi…sepertinya kau sangat lelah”

“Ahh~ani…aku tidak akan lelah kalau berbincang denganmu, hihi~” katanya sambil tersenyum, senyum termanis yang pernah aku lihat. Deg! “Aku ingat senyuman ini!!! Aku ingat!!” pekikku dalam hati ketika memperhatikan senyuman Hyun Min lebih dalam sambil memegang kepalaku sendiri.

“Ya! Donghyun-ah…gwenchanayo??” katanya sambil mencoba menurunkan tanganku dari kepalaku.

“Gwenchana, Hyun Min-ah…” Sekarang, aku bisa memanggilnya dengan tulus, bukan seperti memanggil orang asing, kenapa ini?? Apa aku harus melakukan hal lain yang mampu membuatku ingat dengan semuanya??

“Jangan berfikir terlalu keras, itu malah mem…emph” aku memotong perkataannya dengan ciuman lembut dari bibirku, mungkin dengan cara ini aku bisa mengingat semuanya, paling tidak hubunganku dengan Hyun Min.

Aku mencoba berfikir keras sambil terus melumat bibirnya, aku hanya ingat satu kejadian, aku mencoba membayangkan kejadian itu dulu.

Flashback…
“Donghyun-ah!! Ayo tangkap aku!!” kata Hyun Min sambil berlarian di taman, kita sedang bermain kejar-kejaran sekarang, hihi~

“Awas kau ya!!” aku menguatkan larianku, dan…yapz!! Aku berhasil menangkapnya dan langsung memeluknya dari belakang.

“Haha~Donghyun-ah, lepaskan!!” Aku pun melepaskan pelukanku. “Donghyun-ah, sekarang kau yang menang, tapi lain kali tidak! Wekk~” katanya mengejek. Aku kembali melingkarkan tanganku ke pinggangnya, “Hyun Min-ah, saranghaeyo…” aku mendekatkan wajahku ke wajahnya, mencoba meraih bibirnya, tapi dia malah meletakkan jari telunjuknya dia antara bibir kami, aku pun menjauhkan wajahku dari wajahnya, mungkin ia sedang tidak ingin melakukannya.

Hyun Min melingkarkan tangannya ke leherku, perlahan ia yang menarik kepalaku agar lebih dekat dengan wajahnya, dengan agresifnya, dia yang mencium bibirku, “Sudah aku bilang, kan?! Aku yang selanjutnya akan menang! Haha~” dia pun langsung berlari menjauh dariku, “Hey! Awas kau, ya!!!” kita pun bermain kejar-kejaran lagi, seperti anak kecil memang.

End of flashback…

Aku melepas ciumanku, mukaku tiba-tiba memerah, yes…blushing.

“Jadi, apa yang kau ingat??” tanya Hyun Min memecah keheningan.

“Ah, aku hanya mengingat 1 kejadian saja, saat kita berdua di taman dan dengan agresifnya kau menciumku, hehe~” kataku terkekeh. “Tapi, hanya itu saja…” lanjutku lirih.

“Ne~aku rasa kau butuh waktu, Donghyun-ah..” Tiba-tiba mata Hyun Min berkaca-kaca, tak lama, air mata itu pun keluar, aku tak tega melihatnya. Kuusap air matanya, dia pun mulai berbicara lagi walaupun sendu, “Dan, saat aku sedih seperti ini, kau sering bernyanyi untukku, kau yang selalu mengusap air mataku”

“Hhmm…jinja?? Wahh~aku pria yang romantis, ya??” tanyaku bodoh. Aku melihat wajahnya sedikit berubah, kali ini dia tersenyum, tapi hanya beberapa detik saja, tak lama ia menangis lagi, kali ini dia menangis di pundakku, aku juga ingin menangis kalau aku dalam keadaan seperti ini terus. “Hyun Min-ah…gwenchana?? Kenapa kau menangis?? Aku tidak suka melihat wanita menangis…ayolahh…” bujukku sambil menepuk-nepukkan punggungnya halus.

“Sifatmu tak berubah, Donghyun-ah…kau selalu mengatakan hal itu ketika melihat aku menangis, kau pria yang sangat romantis, baik, dan juga…spesial bagiku” pujinya yang semakin memebuat pipiku memerah.

“Jinja?? Ahh~aku tidak berpikir sejauh itu” kataku lalu melingkarkan tangan kananku ke pinggang Hyun Min, aku memeluknya erat dan erat. “Gomawo Hyun Min-ah…kau yang selalu tegar saat menghadapi aku, mianhae telah membuatmu khawatir” kataku lirih sambil mengelus-elus punggungnya agar dia lebih tenang. Aku sudah tidak bisa menahan air mataku lagi, aku menjadi terbawa suasana.

“Donghyun-ah, seharusnya kau tidur…sekarang sudah malam” pinta Hyun Min kepadaku, tapi aku tidak menghiraukannya. Aku tetap memeluknya, hangat. “Ani~ Hyun Min-ah, aku ingin bersamamu” kataku. “Ne~Donghyun-ah…”


“Donghyun-ah! Bangun!” kata seorang perempuan yang suaranya sangat kukenal, sekarang aku sudah mulai melihatnya sebagai tunanganku, bukan orang asing.

“Ehmm…” aku melemaskan otot-ototku dan duduk di pinggir ranjang. Deg! Kenapa aku tidur di kamar ini?? Kenapa aku ada di sini sekarang??

“Hyun min-ah…apa yang terjadi??” kataku lemas sambil memegang kepalaku yang agak pusing.

“Tidak terjadi apa-apa, tadi malam kau tertidur di kamarku, akhirnya aku yang tidur di kamarmu, aku takut mengganggumu” jelasnya. Senyuman yang khas darinya pun menyambut pagiku, apa yang selama ini aku lihat di pagi hari adalah senyumnya???

“Sudahlah, ayo bangun! Kita akan ke dokter hari ini, aku ingin mengetahui perkembanganmu” katanya lalu menarik tanganku untuk keluar kamar.


“Dokter, bagaimana perkembangannya??” tanya Hyun Min setelah pemeriksaanku selesai.

“Amnesianya…sudah permanen, sudah tidak bisa diperkirakan lagi kapan ia bisa ingat lagi.”jelas dokter Lee kepada Hyun Min yang sepertinya sangat mengagetkan  hati dan pikirannya.

“Jinja?? Kenapa bisa begitu?? Sepertinya dia bisa sedikit mengingat kejadian-kejadian yang pernah ia alami”

“Itulah yang membuat amnesianya semakin parah, ia terlalu banyak berfikir keras”

“Ne~dokter, gamsahamnida”

Aku dan Hyun Min keluar dari rumah sakit, tapi sepertinya ia tidak membawaku kembali ke rumah, melainkan ke sebuah taman kecil di dekat situ. Aku tidak mengerti dengan sikapnya sekarang, dia hanya diam.

“Donghyun-ah…” kulihat matanya sudah mulai berkaca-kaca, “Kau tau sekarang bagaimana perasaanku??”

“Mwo?! Kenapa kau bertanya seperti itu??” aku kaget mendengar pertanyaannya.

“Tadi malam kau membuatku bahagia, tapi kenapa sekarang kau membuatku sedih, huh??”aku berjalan ke arahnya dan memeluknya, kulihat tangisannya semakin menjadi-jadi, “Wae Donghyun-ah? Wae?” katanya sambil memukul-mukul dadaku.

“Apa maksudmu?? Aku tidak mengerti” tanyaku lirih. Air mataku pun ikut terjatuh, aku juga mengerti apa yang ia rasakan.

“Harusnya kau tidak usah banyak berfikir, kenapa kau terus melakukannya?? Kau tau?! Itu semakin membuat hatiku sakit, sekarang kau tidak bisa mengingat semuanya lagi” jelasnya.

“Walaupun aku tidak bisa mengingat semuanya lagi, tapi aku akan tetap mengingatmu sebagai wanita yang aku sayangi, wanita yang mengisi hari-hariku setiap hari, wanita yang selalu khawatir dengan keadaanku, apa itu tidak cukup??”

“Ani~kenangan kita berdua akan terhapus jika kau tidak bisa mengingat apapun lagi..hiks…” katanya. Suara tangisannya semakin keras, aku mencoba menenangkannya, tapi tak bisa….aku juga menangis, kehilangan  ingatan seumur hidup juga membuatku sedih.

Deg! Tiba-tiba kepalaku pusing karena memikirkan semua ini. Aku terjatuh, hanya ada tangan lemah Hyun Min yang menopangku. “Ya! Donghyun-ah! Tolong! Tolong!” hanya itu yang bisa aku dengar. Untung saja daerah itu dekat dengan rumah sakit tadi, jadi aku bisa mendapat pertolongan dengan cepat. Aku dibawa ke rumah sakit itu dengan bantuan orang-orang di sekitar tempat itu.


“Chagi-ah…ayo bangun!!” Perlahan aku membuka mataku.

“Hmm..chagi-ah…sekarang jam berapa???”

“Jam 7, kenapa??”

“Ahh~”

Aku lalu duduk di samping ranjang, masih mengumpulkan seluruh nyawaku. Istriku, Hyun Min duduk di sebelahku. “Chagi-ah…sepertinya kau mimpi indah…coba ceritakan, kau bahkan sampai senyum-senyum sendiri saat tidur” godanya kepadaku.

“Mmm, iya…sangaaatttt indah”

“Apa?”

“Aku bermimpi…aku mengidap amnesia setelah kecelakaan, di mimpi itu aku mempunyai tunangan, yaitu kamu…habis itu gelap” kataku sedikit dingin.

“Kok gelap?? Mati lampu, yah??” katanya sedikit melawak.

“Hishh~ bukan karena itu, tapi kau membangunkanku…kalau kau tidak membangunkanku, pasti aku akan mengingat lagi kejadian-kejadian di hidupku sebelum aku amnesia dan hidup bahagia bersama tunanganku…”jelasku panjang lebar.

“Ohh~ begitu. Baiklah, aku akan menyiapkan sarapan untukmu” Hyun Min lalu meninggalkanku yang masih duduk di pinggir ranjang. Rasa tak ingin dia pergi pun datang, aku memeluknya dari belakang, sama persis seperti di mimpiku tadi malam.

“Ya! Chagi-ah! Lepaskan! Aku ingin membuatkan sarapan untukmu” Hyun Min mencoba melepaskan tanganku yang kulingkarkan di pinggangnya.

“Ani~aku mau bersamamu, chagi-ah…”kataku manja.

“Hish~ Donghyun-ah, aku harus membuatkan sarapan utnukmu, kau lapar, kan??” Hyun Min lalu membalikkan badannya dan menatap tajam mataku, “Kau ini, jangan terbawa mimpi, It’s just a dream, right???” Aku hanya mengangguk dan tersenyum kepadanya. Aku dan Hyun Min pun pergi bersama ke dapur, hihi~

The End….

This entry was posted by boyfriendindo.

3 thoughts on “[FREELANCE] Just Dreaming, Right?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: