[FREELANCE] Story About Pika-Chu Part 2

Author           : Nenni Iriani a. k. a Shin Neul Ni (@JTwiriani)

Title                 : Story About Pika-Chu #part2

Genre              : Romantic, Friendship, Comedy

Cast                 : Jo Twins, Shin Neul Ni, Hwan Ni Young

Support Cast  : Noh Min Woo and some support fiction character

Length                : Chapter

Rating : PG

Note                : Jangan jadi silent reader please :) dengan gitu, aku jadi semangat buat bikin FF lagi. Gomawo yang udah baca *bow*

 

“Yakin, kalian tidak ingin pulang bersamaku?” tawar Ni Young dengan sedikit memaksa. Sepanjang perjalanan ke lapangan parkir, Ni Young terus memaksa kami untuk ikut dengannya. Ia membawa mobil Porcshe Cayman hitam mengkilat yang sangat menggoda.

“Tidak usah Ni Young. Lagipula rumah kita, kan, beda arah,” tolakku sopan.

“Benar kalian tidak naik mobilku saja? Aku bersedia mengantarkan kalian. Kwangmin-ah apa kau tidak ingin naik mobilku saja? Kita bisa berjalan-jalan sebentar di taman. Bagaimana?“ Ni Young bertanya kepada Kwangmin. Hanya kepada Kwangmin. Mendadak perutku mulas.

“Gwaenchansseumnida, Ni Young, rumah kita dekat dari sini. Kita biasa berjalan jauh, kok,“ kata Kwangmin datar sambil mengedip padaku. Itu, kan kalimatku!

“Benarkah? Sayang sekali ya,” kata Ni Young kecewa.

“Bagaimana kalau Min Woo dan Youngmin saja yang ikut denganmu?” kata Kwangmin sambil merangkulku. Rangkulan yang hangat layaknya sahabat dekat yang tidak pernah berjumpa selama bertahun-tahun. Deg!

“MWO?” sahut Youngmin dan Min Woo berbarengan.

“Baiklah kalau begitu,” kata Ni Young sambil menarik ujung bibirnya.

“Kau tidak ikut pulang bersamaku Neul Ni?” kali ini pertanyaan itu ditujukan kepadaku.

“Aku…”

“Biar Neul Ni bersamaku. Kalian bersenang-senanglah!“ jawab Kwangmin. Apa maksudnya memotong pembicaraanku?! Dia tidak berhak menentukan dengan siapa aku pulang! Kenapa, sih orang ini! Menyebalkan sekali!

“Annyeong higyeseyo!” teriak mereka bertiga dari dalam mobil Porsche hitam Ni Young. Aku hanya melambai.

“Ayo kita pulang!” kata Kwangmin setelah mereka berlalu.

“Apa maksudmu melarangku untuk ikut bersama Ni Young?!” kataku ketus.

“Aku tidak melarangmu. Kau saja yang tidak menjawab pertanyaan Ni Yeong. Dasar tidak sopan!”

“Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaannya kalau omonganku selalu kau putus!? Kau yang tidak sopan!”

“Jinjjaa? Aku tidak merasa. Week!” Kwangmin menjulurkan lidahnya. Membuatku semakin kesal. Wajahku memerah.

“Ya sudah kalau begitu. Pulanglah! Aku bisa pulang sendiri!” kataku sambil berlalu meninggalkan dirinya.

“Kau marah lagi! Persis seperti Pichu ya! Sebentar lagi aku akan tersengat listrikmu! Bzzzzz!! Hahahah!”  ejeknya sambil menyusulku.

“Tidak lucu!” aku berkata pada diriku sendiri.

“Mianhae. Hmm… mau sekotak es krim?! Aku tahu dimana tempat yang memiliki es krim terlezat di kota ini. Bagaimana?”

Es krim? Yummy….

***

Sepanjang perjalanan pulang, Kwangmin bercerita tentang Pikachu. Ternyata dia maniak Pikachu. Semua barang-barang di rumahnya dipenuhi dengan Pikachu. Aku pun menceritakan tentang panggilan Pichu-nya untukku. Dia Aku mengatakan bahwa Pichu adalah karakter favoritku. Ia terkejut menyadari bahwa ‘tebakannya’ benar. Tapi aku tidak se-maniak Kwangmin untuk mengoleksi semua hal yang berbau Pichu.

Kwangmin orang yang menyenangkan, ia selalu bisa membuatku tertawa. Memang, dia tidak banyak bicara. Tapi, dengan hanya berdiri di sampingnya saja sudah membuatku senang. Ah, aku ini kenapa?!

***

Hari demi hari kami semakin dekat. Aku, Ni Young, Kwangmin, Youngmin, dan Min Woo sering bermain bersama. Terkadang, kami belajar bersama di salah satu rumah kami. Ni Young sering membawakan makanan yang enak, donkatsu, gimbap, pancake, dan banyak lagi! Kami saling membantu satu sama lain. Kami pun semakin memahami sifat dan perasaan masing-masing. Kwangmin masih memanggilku Pichu! Ini menyebalkan kau tahu! Dia bilang bahwa aku memang mirip Pichu! Kalau begitu, dia juga mirip Pikachu! Huh!

Tak terasa sudah 6 minggu berlalu. Aku semakin menyadari bahwa Youngmin memberi perhatian lebih kepada Ni Young. Begitupun sebaliknya. Sepertinya mereka saling jatuh cinta. Ini bagus, Ni Young dan Youngmin. Mereka cocok! Hahaha… Semoga saja mereka cepat jadian! Jadi aku tinggal menagih es krim kepada Youngmin dan meminta donkatsu kepada Ni Young.

Aku pun semakin menyadari bahwa perasaanku dengan Kwangmin sedikit berbeda. Entah apa yang ku rasakan, aku tidak mengerti. Rasanya aneh. Setiap ada yeoja lain yang sedang mendekati Kwangmin, perutku mendadak mulas dan aku ingin muntah. Aku selalu ingin bertemu dengannya. Aku haus akan keceriaannya. Aku tidak ingin mengatakan selamat tinggal padanya. Aku selalu ingin candaan darinya. Aku ingin selalu bersamanya. Tunggu! Apa yang sedang aku pikirkan! Kwangmin sahabatku! Oke?

***

Kami ada janji untuk menonton bersama di rumahku hari ini. Jadwal rutin kami setiap hari Sabtu. Kwangmin, Min Woo, aku dan Jin Wan – adikku memang selalu mengikuti kegiatan kami jika ada si kembar – sudah bersiap di depan televisi. 6 gelas berisi jus jeruk pun disiapkan sejak tadi. Tumpukan DVD film berserakan di karpet. Kami masih bingung memilih film yang akan ditonton. Youngmin dan Ni Young belum datang. Tumben? Biasanya hanya Youngmin yang terlambat. Youngmin, kan memang serba terlambat. Dia memang malas bergerak! Berbeda jika sedang tidur, dia malah brutal! Sampai-sampai Kwangmin harus membangunkannya karena tidurnya mengganggu. Hahahah.

“Chingu! Ada kejutan!” pekik Youngmin setelah membuka pintu depan.

“Bisakah kau mengucap salam? Aku hampir saja tersedak jus jeruk tahu!” kataku sambil mengusap mulutku yang penuh jus dengan punggung tanganku.

“Ah, kau ini. Memang selalu terkejut! Hahaha! Mianhae~ Annyeong Haseyo,“ kata Youngmin sambil membawa dua plastik besar di kedua tangannya. Seseorang mengikutinya dari belakang. Ni Young.

“Annyeong,” jawab kami serempak.

“Kau bersama Ni Young?” Min Woo yang sejak tadi asik bermain monopoli dengan Jin Wan pun terkejut.

“Ne,” jawab Youngmin penuh semangat.

“Kalian… berkencan?” kulirik Kwangmin. Ia hanya tersenyum padaku.

“Ne,” kali ini Ni Young yang menjawab dengan keanggunannya.

“Kyaaaaaa!! Selamat ya! Aku minta tagihan es krim-mu!” kataku sambil menengadahkan tangan.

“Ini! Kau kira aku membawa ini untuk apa?!” jawab Youngmin – kembali – dingin sambil mengangkat kedua kantung plastik besar yang ia bawa.

“Jadi, itu semua untuk kami?!” kali ini Jin Wan tertarik. Ia langsung berlari dan mengambil sekotak besar es krim dari sana. “Pesta es krim!” Jin Wan berlari kecil ke arah kami disusul oleh Youngmin dan Ni Young, pasangan baru saat ini.

“Waah, gomawo hyung, noona… ini sangat enak!” Jin Wan menyendok es krimnya.

“Ceritakan! Ceritakan! Bagaimana bisa? Kau tak pernah bercerita kepadaku?!” Min Woo menyuap es krim pertamanya.

“Ne. Kau juga tak pernah bercerita kepadaku!” kataku kepada Youngmin.

“Haruskah aku bercerita tentang ini kepada kalian?“ Youngmin duduk di sebelah Ni Young.

“Harus! Kita kan sahabat! Ya, kan Min Woo?!” jawabku asal diikuti dengan anggukan Min Woo yang mulutnya penuh dengan es krim. Uh! Ingin sekali aku mencubit pipinya yang menggemaskan itu! >,<

“Kwangmin juga sudah tahu!” Youngmin melirik kembarannya.

“Jinjja? Ah, iya! Kalian, kan, kembar! Tidak usah diberitahu pun Kwangmin pasti tahu! Ya ,kan?!“ aku menoleh ke arah Kwangmin. Yang dituju hanya tersenyum,“Jangan sok tahu!“ jawabnya setelah mulutnya kosong. Aku hanya bisa manyun,“Kau ini!“.

“Jangan marah Pichu! Aku hanya bercanda! Hahaha!“ tambahnya sambil mengacak rambutku. Deg!

***

Aku bergegas menuruni tangga. Kami berencana untuk pergi ke taman hari ini. Perayaan untuk libur musim panas dan perayaan hubungan Ni Young dan Youngmin yang baru saja menjadi sepasang kekasih. Semoga penampilanku hari ini tidak mengecewakan. Kaus biru langit kupadukan dengan cardigan putih. Celana jeans santaiku tidak terlalu mencolok. Sepatu kets biru-ku pun melengkapi penampilanku.  Setidaknya, aku terlihat rapi hari ini.

“Annyeong haseyo!” kata ku setelah menghampiri sahabat-sahabatku ini.

“Kyaa, bajunya sama!” pekik Min Woo sampai mulutnya membentuk huruf O sambil menunjuk aku dan Kwangmin.

Sepintas aku memerhatikan Kwangmin – yang juga memerhatikanku –. Memang benar, pakaian kami matching. Entah apa yang kurasa saat ini, aku merasa… bahagia sekaligus malu.

“Sudahlah, ayo kita berangkat!” kata Kwangmin tak sabar.

“Tunggu! Jadi, cuma aku yang tidak memiliki pasangan?!” seru Min Woo tiba-tiba. Wajahnya semakin menarik. Aku yakin, yeoja manapun pasti akan jatuh cinta begitu melihat wajah imutnya ini.

“Kau ini bicara apa?! Ayo jalan!” kataku kesal sambil menarik tangannya. Dia sudah ku anggap sebagai adikku sendiri. Dia memang paling muda diantara kami.

Sesampainya di taman, kami langsung menuju kedai es krim. Si kembar ini maniak sekali dengan es krim! Hahaha! Aku membeli es krim cokelat dengan choco chips dan oreo sebagai topping-nya. Sedangkan si kembar dan Min Woo membeli es krim yang sama, es krim vanilla dengan waffle cokelat sebagai topping-nya. Ni Young tidak membeli es krim, mungkin sedang diet. Kau kira, dari mana ia mendapatkan tubuh seindah itu?! Pasti sulit sekali, kan?

Kami memilih untuk duduk di pinggir kolam di tengah taman. Di bawah pepohonan rindang dan bunga-bunga yang berwarna-warni. Suasana yang sangat mendukung untuk bersantai dan melupakan sejenak tugas-tugas sekolah. Kwangmin duduk di sebelahku, Min Woo bermain dengan dua anak kecil yang sejak tadi mengikutinya, Youngmin dan Ni Young duduk tak jauh dari kami. Mereka terlihat sangat serasi, Youngmin yang tampan dan Ni Young yang anggun. Benar-benar pasangan idaman.

Es krim-ku sudah mulai meleleh. Aku segera menghabiskannya dalam satu gigitan. Tiba-tiba…

“HAHAHAHAHAHA!!“ Kwangmin terbahak-bahak. Matanya menyipit.

“Ada apa? Ada yang lucu?“ aku bingung.

“Lihat dirimu! Kau seperti monster es krim sekarang! Hahahah!“

“Hah? Maksudmu?”

“Itu,” jawabnya sambil menunjuk mulutku.

“Ah, mianhae~” jawabku sambil berusaha membersihkannya. Ini pasti gara-gara aku makan es krim dengan satu gigitan. “Sudah?”.

“Masih ada. Ini, pakai saputangan-ku saja,” jawab Kwangmin sambil mengeluarkan saputangan dari kantung celananya. Tangannya terulur kepadaku, tapi sesaat kemudian ia malah menariknya kembali.

“Hei, kau mau meminjamkannya tidak?!” kataku kesal. Bisa-bisanya dia membuatku kesal di saat seperti ini!

Ia tidak memerdulikanku. Ia tidak memberi jawaban apapun. Ia malah menatapku lama. Deg!

Ia mendekat… mendekat… dan mendekat. Wajahnya semakin lama semakin mendekati wajahku. Jantungku semakin cepat memompa. Kurasakan tanganku dingin dan darah sudah tidak mengalir lagi di tubuhku. Wangi parfum maskulinnya semakin tercium. Ia semakin mendekat. Apa yang mau dia lakukan? Di siang hari begini? Di taman? Apa dia mau…

“Parfum-mu ganti ya? Baunya, kok berbeda?“ katanya tiba-tiba saat wajahnya hanya berjarak 1 jengkal dari wajahku. Sesaat membuatku mengingat kejadian saat pertama kalinya aku bertemu dengannya. Dia menarik kembali wajahnya.

Darah kembali mengalir ke seluruh tubuhku, jantungku sudah normal kembali, aku pun sudah bisa merasakan otot-otot tanganku kembali. Sedikit kecewa. Ku pikir Kwangmin akan…

“Apa yang kau pikirkan? Ini, saputangannya,“

“Mmm… Ne. Gomawo,” jawabku singkat. Wajahku mulai memerah.

***

To Be Continue

This entry was posted by boyfriendindo.

3 thoughts on “[FREELANCE] Story About Pika-Chu Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: