[FREELANCE] Story About Pikka-Chu Part 3

Author            : Nenni Iriani a. k. a Shin Neul Ni (@JTwiriani)

Title                 : Story About Pika-Chu part3

Genre              : Romantic, Friendship, Comedy

Cast                 : Jo Twins, Shin Neul Ni, Hwan Ni Young

Support Cast  : Noh Min Woo and some support fiction character

Length                : Chapter

Rating : PG

 

“Neul Ni,” panggil Ni Young dengan mengecilkan suaranya.

“Ne. Ada apa?” aku yang sedang mengerjakan pr Matematika pun menghentikan kegiatanku.

“Apa kau suka pada Kwangmin?” katanya sambil memajukan tubuhnya agar mendekat kepadaku. Seharusnya ia tidak usah melakukannya. Para namja sedang asik bermain di PlayStation 3 miliknya di ruang televisi, sedangkan kami berdua jauh di belakang mereka.

“Mwo? Kenapa kau bertanya seperti itu?” aku gugup. Pertanyaan bodoh macam apa ini? Semua orang tahu, aku dan Kwangmin hanyalah teman dekat. Mereka juga, Youngmin, Min Woo dan Ni Young pun teman-teman dekatku.

“Aku hanya memastikan saja. Sangat terlihat dari kelakuanmu padanya,” jawabnya sambil tersenyum.

Kurasakan wajahku kembali memerah, “Benarkah? Apa terlalu terlihat?”.

“Benar, kan. Kau suka padanya?”

“Hmm… entahlah. Aku tidak tahu apa perasaanku yang sebenarnya,” kataku jujur.

“Kalau begitu jawabanmu, berarti kau suka padanya,” katanya lagi. Aku hanya tersenyum sambil menunduk menahan malu.

Apa benar aku suka pada Kwangmin? Tidak.. bukan suka sebagai sahabat biasa, tapi lebih ke… hmm… suka sebagai kekasih mungkin? Aah! Apa yang aku katakan! Tapi, semua perasaan ini memang ada. Semua berjalan begitu saja. Jika ini benar cinta, aku hanya bingung bagaimana mengungkapkannya. Aku suka Kwangmin? Apa aku suka Kwangmin? Lalu, kalau memang benar aku suka pada Kwangmin apa dia juga suka padaku? Apa dia mau menjadikanku kekasih? Aaah! Lupakan! Lupakan!

***

“Lempar bolanya ke sini, Kwangmin!” teriak Youngmin di tengah lapangan.

Hari ini pelajaran olahraga untuk kelasku. Kami mendapat ujian basket. Tim-ku melawan siswa putri dari kelas sebelah dan kami berhasil memenangkannya dengan skor telak 25 – 18. Aku pun berhasil menyumbang 2 bola. Kebanggaan untukku sendiri. Sekarang, siswa namja yang bermain, dan kami beristirahat di pinggir lapangan. Rambutku basah oleh keringat dan tubuhku bau. Week!

“Neul Ni, apa kau masih suka pada Kwangmin?” seru Ni Young tiba-tiba. Di sini memang hanya ada kami berdua. Aku tersedak.

“Kenapa kau bertanya hal itu?” jawabku sambil membersihkan mulut.

“Ah, tidak. Aku hanya bertanya saja. Kwangmin itu sosok yang sempurna, ya. Youngmin juga. Sayangnya sifat mereka berbeda jauh. Terkadang aku ingin menjadi kekasih Kwangmin, bukannya Youngmin. Hahahaha,”

Deg! Apa yang barusan ia katakan? Apa dia sengaja ingin membuatku cemburu? Apa maksud perkataannya?

“Kalau begitu, jadian saja dengan Kwangmin,” kataku bersikap acuh.

“Tidak mungkin. Kau, kan, suka padanya,”

“Apaan kau ini! Hahaha,”

“Aaah, aku haus!” seru Kwangmin dan Youngmin berbarengan.

“Biar aku ambilkan minum! Aku sudah menyiapkannya untuk kalian. Ayo bantu aku menurunkannya dari mobil!” kata Ni Young sambil berdiri. Min Woo dan Youngmin mengikutinya.

“Kau tidak ikut membantu?!” kataku pada Kwangmin yang sekarang duduk di sampingku. Rambut dan tubuhnya basah oleh keringat, mulutnya terbuka dan napasnya terengah-engah, membuatnya lebih berkarisma menurutku. Namja yang berkeringat itu keren! Ahahahaa!

“Aku lelah! Apa kau tidak melihatnya?!”

“Kau ini! Orang sepertimu bisa lelah? Aku tidak percaya! Kalau Youngmin yang bicara seperti itu, baru aku percaya!! Dasar!“

“Aku memang kelelahan! Mau bukti?!” katanya sambil mendekati wajahku. Apa lagi yang mau dia lakukan?! Tunggu… tubuhku memang bau, dan ia tahu itu, tidak mungkin dia menanyakan hal itu seperti di taman saat itu, kan? Apa yang mau ia lakukan?

Wajahnya semakin mendekati wajahku. Matanya yang hitam semakin membesar. Garis-garis wajahnya yang dipenuhi keringat semakin jelas terlihat. Mengapa dia begitu sempurna? Sedangkan aku? Tidak. Jantungku semakin kencang, aku berhenti bernapas, tanganku dingin, kepalaku pusing. Berhenti melakukan itu Kwangmin!!

Ssslluurrpppp! Slurp!

“Sudah ku bilang, kan, aku lelah? Mengapa kau tidak membawakanku minum yang lebih banyak?” katanya sambil bergerak menjauhiku. Hanya ada udara kosong dan satu sedotan kecil di botol minumku sekarang. Dia menghabiskannya. Ya, ya, sekarang aku percaya dia kelelahan. Tapi bisakah tidak usah melakukan hal seperti tadi? Membuatku kaget saja! Ku kira dia mau…

“Kwangmin-ah, tangkap!” pekik Min Woo tiba-tiba membuyarkan lamunanku.

***

Hari ini kami kembali berkumpul di rumahku untuk menonton film. ‘Suckseed’ adalah pilihan kami. Ni Young bilang, film Thailand ini sangatlah menarik, lucu, dan romantis. Aku jadi penasaran. Ni Young tidak datang hari ini karena ia sedang tak enak badan. Tapi, sejak 1 jam lalu Kwangmin belum juga datang. Perasaanku jadi tak enak.

“Hyung, apa hyung Kwangmin tidak datang kemari?” kata adikku ini. Youngmin yang sejak tadi bermalas-malasan di sofa akhirnya mengangkat wajah, “Entahlah, sedang berkencan mungkin,”

Deg! Berkencan? Dengan siapa? Kwangmin tidak pernah menceritakan apa-apa pada kami. Sejauh yang ku tahu, Kwangmin tidak dekat dengan yeoja manapun kecuali aku dan Ni Young.

“Annyeong Haseyo. Maaf aku terlambat,” kata Kwangmin langsung masuk. Disusul dengan… tunggu… Ni Young? Tadi dia bilang…

Apa maksud semua ini? Mengapa dia bersama Kwangmin? Apa dia membohongiku tentang ‘tidak-enak-badannya’ itu? Tapi… dia, Youngmin? Ah! Aku tidak mengerti!

“Kalian? Youngmin? Seseorang, tolong jelaskan padaku!” kataku pura-pura bersikap acuh. Perutku tiba-tiba saja mulas.

“Kalian berkencan, kan?” tanya Min Woo tiba-tiba. Kwangmin hanya melirikku dan tersenyum.

***

“Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi!” kataku di telepon.

“Sudahlah, aku tidak ingin membahas hal ini,” Youngmin berbicara dari seberang telepon.

“Kau putus? Kenapa kau tidak bilang padaku? Kenapa kau bisa putus? Kalian baru saja mulai! Ini baru 2 bulan!“ kataku marah. Aku tidak percaya Youngmin setega itu kepada Ni Young. Maksudku, lihat Ni Young. Dia cantik, anggun, baik, kaya, ramah, dia memiliki segalanya! Mengapa Youngmin begitu tega melepaskannya? Lalu Kwangmin….

“Ya karena baru 2 bulan ini, aku memilih untuk berhenti sampai di sini. Aku tidak ingin melanjutkannya lebih jauh. 2 bulan cukup untuk mengetahui sifatnya. Aku terlalu kasar padanya. Dia wanita yang sangat manja. Ku kira kami bakal cocok, tapi ternyata… Lihat saja dirinya. Seperti tidak ada masalah apa-apa, kan? Mungkin dia bahagia kalau kami putus. Lagipula dia wanita yang sangat agresif, aku tidak suka,“

“Tapi…” aku tidak sanggup berkata-kata,“kau tidak tahu perasaan Ni Young yang sebenarnya! Wanita itu mudah menutupi perasaan, kau tahu! Mungkin saja dia terlihat bahagia, tapi ternyata hatinya hancur! Kau ini!“

“Kau lihat sendiri, kan? Ni Young tidak menyukaiku! Dia hanya menyukai Kwangmin! Apa kau tidak sadar? Mereka berkencan, kan, tadi?” Youngmin mulai marah. Dia memang mudah sekali meledak.

Klik. Aku mematikan telepon. Aku sungguh tidak percaya. Rasanya aneh. Perutku mulas dan aku mual. Semua perasaanku menjadi satu. Marah, kecewa, sedih, tidak percaya, bingung, aaahhh!!! Kurasakan sesuatu yang hangat menyentuh pipiku. Aku menangis. Tidak! Tidak! Aku tidak apa-apa! Aku tidak ingin menangis! Aku bahagia melihat Kwangmin dengan Ni Young. Mereka, kan sahabatku.

Ku ambil cermin yang terletak di atas meja belajarku. “Neul Ni, lihat dirimu! Kau itu sudah jelek, jangan tambah memperburuk wajahmu dengan tangisan ini! Ayolah, mereka, kan sahabatmu, seharusnya kau juga ikut senang! Ayo, tersenyum! Jangan menangis! Sudah! Sudah! Tersenyumlah! Hapus air matamu!“ kataku pada seorang gadis yang ada di cermin. Gadis yang terlihat sangat rapuh malam itu menangis di hadapanku. Berulangkali dia mengusap air matanya, namun air matanya tak henti-hentinya keluar. Gadis itu tetap mencoba tersenyum padaku walaupun sepertinya sangat sulit, tapi dia sangat berusaha.

Ya, gadis itu adalah aku.

***

Tok! Tok! Tok!

            “Noona, ada tamu,” Jin Wan berteriak di depan pintu kamarku.

“Siapa?” kataku yang masih terbaring malas di tempat tidur. Mataku sembab setelah seharian menangis.

“Ini aku… Ni Young,”

Deg! Mau apa lagi dia kemari? “Pulanglah! Aku sibuk!” kataku mencoba tenang.

“Neul Ni… aku mohon…”

“Pulanglah! Aku ingin sendirian sekarang!” kurasakan air mataku mulai menetes lagi.

“Tapi kau marah padaku!”

“Tidak. Aku tidak marah padamu! Pulanglah! Aku tidak apa-apa!” suaraku bergetar.

“Aku tidak mau pulang sampai kau membukakan pintu untukku!“

Aku masih sesenggukan.

“Neul Ni… ku mohon!”

“Aku… tidak… membutuhkanmu lagi…”

“Dengar Neul Ni! Aku tidak pernah ingin merebut Kwangmin darimu!“

Aku membuka pintu, “Kalau begitu ambilah! Ambil saja Kwangmin Pikachu jelek itu! Aku tidak menyukainya kau tahu, kan? Aku hanya sebatas sahabatnya! Tidak lebih! Kalau kau suka padanya, ambilah! Aku rela untukmu! Untuk sahabatku…“ sesuatu yang hangat menyentuh pipiku.

“Tapi kau menangis. Matamu bengkak! Ini semua pasti gara-gara aku! Kau tidak mengerti Neul Ni… aku sungguh dilema!! Aku pusing!!“ Ni Young mulai menangis.

“Tidak. Aku mengerti. Abaikan saja air mata ini! Kau tahu? Aku tidak pernah bilang padamu kalau aku menyukai Kwangmin, kan? Tidak… tenang saja, aku tidak mencintai Kwangmin. Hei, ayolah. Aku senang kalian berpacaran. Kau yeoja yang baik untuknya. Kalian cocok! Lihat saja dirimu! Pasti Kwangmin juga mencintaimu! Aku yakin,“ dadaku semakin sakit.

“KAU TIDAK MENGERTI APA MASALAHKU!! AKU BUKANNYA INGIN MENGAMBIL KWANGMIN DARI KAU, MENGERTI??!“ Ni Young membentakku.

Aku tertegun. Tidak ada yang berani membentakku selama ini. “Pulanglah…”

“Neul Ni. Aku…”

“Pulanglah Ni Young. Aku tidak membutuhkanmu saat ini,”

“Neul Ni. Kau jangan marah padaku. Kau tidak mengerti,” ia memohon.

“Aku bilang pulanglah! Aku tidak apa-apa Ni Young. Aku masih bisa tertawa, kok,” aku mencoba tersenyum, namun air mataku semakin banyak. “Sekarang, urus saja pacar barumu itu. Berbahagialah dengannya,”. Rasa sakit itu semakin menyiksa.

“Aku tidak mengambil Kwangmin, aku tidak bermaksud…”

“PULANGLAH SEKARANG!! PULANGLAH!! AKU TIDAK APA-APA NI YOUNG!! Apa kau tidak mengerti maksudku?” air mataku menderas lagi. Aku tidak tahan. Aku membanting pintu di depannya dan segera berlari ke tempat tidur. Mulai membasahi bantalku lagi…

Langkahnya mulai menjauhi pintu kamarku.

***

To Be Continue

This entry was posted by boyfriendindo.

One thought on “[FREELANCE] Story About Pikka-Chu Part 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: