[FREELANCE] Love Story – Part 4

Author                  : Rifka Amalia / Min Rira

Cast                       : Song Miyoung (OCs), Kwangmin, Minwoo (Boyfriend), EunKyo (5dolls),

Namju (A  Pink)

Genre                   : Romance, Friendship, Comedy

Lenght                  : Chaptered

Rating                   : General

Annyeonghaseyo readers~~

Jeongmal mianhae baru bisa ngelanjut sekarang. Akhir-akhir ini banyak tugas dan ulangan, jadi FFnya ketunda ><

Sekali lagi maaf ya ><

Happy reading~~~

 

 

Preview

Suasana menjadi hening. Kali ini Kwangmin yang memulai percakapan.

“Miyoung-ah”

“Hm? Wae?”

“Hm…Apa…apakah…kau… mau…”

^^^^^^^^

 

Love Story : Please don’t go

Aku menunggu kalimat selanjutnya dari mulut Kwangmin. Tuhaaan~ apakah dia akan melamar eh menyatakan perasaannya padaku sekarang?

“Emm..apakah kau mau menemaniku ke taman bermain besok? Aku ingin refreshing”

Glodak!! Aigoo~ ternyata itu yang ingin dia katakan? -____-“

“He? Kau tidak mengajak Minwoo saja?”

“Sudah, tapi dia ada acara. Ya ya ya, temani aku. Jebal~ kalau sendiri ntar suwung jadinya” rengek Kwangmin. Kalau begini mana mau aku tolak. Kesempatan buatku untuk bisa dekat dengannya.

“OK! Kapan kita kesana?”

“Bagaimana kalau besok? Lusa aku akan berangkat ke Jepang”

“Lusa? Secepat itu kah?”

“Ne, maka dari itu besok aku ingin ke taman bermain. Ah aku sangat stres minggu ini”

Ya tuhan, itu berarti aku hanya punya 2 hari untuk melihatnya? Ini terlalu cepat! ><

“Kwangmin-ah” teriak seseorang di belakan Kwanmin. Kami berdua menengok ke asal suara tersebut. Ternyata eh ternyata yang memanggil Kwangmin adalah….N-A-M-J-U !!! Aish…anak ini kenapa sering muncul saat aku berdua dengan Kwangmin sih?

“Waeyo Namju-ya?”

“Kau ini kemana saja? Member yang lain mencarimu. Kita akan mengadakan pesta kecil-keccilan untuk merayakan kemenangan kita. Kajja!” Namju menarik tangan Kwangmin, namun buru-buru kwangmin melepasnya.

“Di mana? Aku akan menyusul. Em..aku akan mengantar Miyoung pulang”

Namju menarik tangan Kwangmin lagi, “Tidak bisa! Kau harus ikut dengan kami”

“Ya! Aku sudah bilang kan akan menyusul? Lagian ini sudah malam. Tak mungkin aku biar kan Miyoung sendiri. Kajja Miyoung-ah” Setelah itu Kwangmin menarik tanganku dan meninggalkan Namju.

“Kwangmin-ah! Ya  Jo Kwangmin!” teriak Namju. Tapi tetap saja Kwangmin menghiraukannya. Hahaha.

Kwangmin memberiku helm saat kami telah sampai di parkiran. Setelah itu aku menaiki motornya. Kwangmin menyalakan mesin, lalu melajukan motornya dengan cepat. Reflek aku berpegangan erat di pinggangnya. Cukup lama. Akhirnya aku sadar dan melepaskan peganganku. Tapi Kwangmin malah menahan tanganku. “Jangan di lepas. Biarkan saja seperti ini” ujarnya. Mau tak mau aku berpegangan padanya lagi. Aku merasa wajahku sudah seperti tomat saat ini. Huwaa~ jantungku juga berdetak kencang ><

Tak lama kemudian, kami sampai di rumahku. Aku turun dari motornya dan melepas helmku lalu memberikannya ke Kwangmin.

“Ya, miyoung-ah, kenapa wajahmu merah seperti itu?” tanyanya khawatir seraya memegang jidatku, “kau demam ya? Tapi tidak panas. Ya! Kau kenapa sih?”

“Gwenchana, aku tidak apa-apa kok. Sudahlah tak usah khawatir. Lebih baik kau menyusul Minwoo dan lainnya untuk merayakan kemenangan kalian” kataku.

“Ah iya! Kau benar! Hampir saja aku lupa” jawabnya sambil menepuk jidatnya. Ia mengambil ponsel di sakunya. “Miyoung-ah, aku pergi dulu ya. Minwoo sudah menyuruhku cepat datang. Annyeong~”

Aku menganggukan kepalaku dan melambaikan tanganku. Motornya melesat cepat hingga lama kelamaan menghilang dari pandanganku. Aku membuka pagar dan masuk ke rumahku.

^^^^^^^^^^

                Hari ini aku bangun pagi sekali. Aku sengaja bangun sepagi ini demi membuat bekal. Sepertinya menyenangkan jika nanti aku dan Kwangmin memakan bekal ini di bawah pohon yg rindang saat di taman bermain. Huwaa aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaanku jika itu terjadi.

Kini aku sudah di depan rumah menunggu Kwangmin. Tadi dia sms kalau dia sudah hampir dekat rumahku. Tak lama kemudian dia datang. Ia berada tepat di depanku sekarang. Ia melepas helmnya. Lalu menyapaku, “annyeong miyoung-ah. Kita berangkat sekarang?”

“Tahun depan” jawabku singkat. “Ooh gitu? Oke. Aku pulang dulu. Annyeong” tak ku sangka ia meresponnya dengan serius. Buru-buru aku berdiri di depan motornya. Mencegahnya pergi.

“Ya! Minggir! Aku mau pulang” katanya ketus

“Kau menganggapnya serius? Aku hanya bercanda tauk” balasku. Dia hanya diam sambil memperhatikanku dengan tatapan jahat. Astaga…apa dia benar-benar marah? Ahh eotteoke? ><

“Kwangmin-ah, mianhae. Aku hanya bercanda. Ayolah…jangan marah. Ya ya ya~” pintaku sambil menunjukan puppy eyesku.

“Hahaha. Arasho, arasho. Naik gih” kata Kwangmin seraya memberiku helmnya. Langsung saja aku mengambil helm itu dan memakainya. Setelah itu aku menaiki motornya.

“Sudah siap?”

“Ne”

“Oke, Let’s go!!~~”

Kwangmin menginjak gass motornya secepat kilat. Reflek akumemeluk pinggangnya. Saat aku akan melepasnya, lagi-lagi Kwangmin melarangku. Akhirnya aku tetap memeluk pinggangnya. Bahkan semakin erat ><

^^^^^^^

                Akhirnya sampai juga di taman bermain. Ramai sekali tempat ini. Mungkin karena ini hari Minggu. Banyak arena permainan yang penuh.

“Aish…Kenapa penuh semua sih? Ini sih bukannya ngilangin stres malah jadi tambah stres” keluh Kwangmin. Tapi benar sih katanya. Daritadi kami hanya jalan-jalan, mencari arena permainan yang sepi. Tapi tidak ada satupun yang sepi.  Aku mengedarkan pandanganku untuk mencari arena permainan yang sepi. Mataku tertuju pada satu arena bermain yang sepi.

“Kwangmin-ah, lihat itu! Sepertinya arena permainan itu sepi. Ayo kesana!”

“Yang mana?”

“Yang itu lho. Ayo kesana!”

“Yang mana sih?”

Aku memandang kesal. Langsung saja aku menarik tangannya menuju ke tempat yang aku maksud.

“Jadi ini yang kau maksud?” Kwangmin menatapku tak yakin.

“Ne! Ayo masuk!”

Aku jalan mendahuluinya. Sepertinya Kwangmin agak kurang setuju. Namun akhirnya dia mengikutiku. Apakah kau tau tempat apa ini? Istana Boneka! Untuk berkeliling melihat istana boneka, telah di sediakan perahu *bayangin aja Istana Boneka yang di dufan ya kkk*

Setelah memesan tiket dan mengantri beberapa saat, akhirnya kami pun menaiki perahu ini dan berkeliling. Banyak sekali boneka di sini. Mulai boneka tradisional. Dalam negeri sampai luar negeri pun ada. Bahkan boneka dari tokoh kartun pun ada. “Ah pikachu!” teriak Kwangmin girang saat ia melihat boneka Pikachu tersebut. Dia langsung mengeluarkan polaroidnya. Namun sayang, saat ia akan memotretnya, perahu telah jauh sehingga hasilnya tidak jelas alias blur. “Coba kalau aku lebih gesit pasti aku bisa memotretnya” gerutunya menyalahkan dirinya sendiri. “Kalau kau mau, kita ulangi  memasuki ini lagi saja” tawarku. Aku tidak tega melihat wajahn kecewanya. “Ani. Masak naik ini lagi sih? Gak seru ntar” ujarnya sambil tersenyum. Seolah melupakan rasa kecewanya.

“Kita kemana lagi ini?” tanya Kwangmin padaku saat kami keluar dari Istana Boneka. Aku hanya mengangkat bahuku tanda tak tau.

Kami terus berjalan tak tentu arah. Tak sengaja mataku menemukan seorang anak kecil yang sedang berdiri sendiri di dekat toko mainan. Aku putuskan untuk mendekatinya karena aku tidak tega. “Kau mau kemana?” tanya Kwangmin menahanku. Aku hanya diam dan menarik tangannya agar ikut denganku. Ia nurut dan mengikuti dari belakang.

“Adik kecil kenapa menangis?” tanyaku setelah aku berada di depannya.

“Eomma…ak hiks..aku hiks…ke hiks…hilang..an eomma~” jawab anak kecil itu sesenggukan.

“Namamu siapa adik kecil?”

“Kim Yoogeun”

“Bagaimana kalau hyung dan noona bantu yoogeun cari eomma?”kata Kwangmin yang sejak tadi diam. Aku mengangguk setuju. Yoogeun menatap kami berdua lalu mengangguk juga.

“Uljima yoogeun-ah. Kau mau apa? Permen? Atau balon?” tawar Kwangmin agar Yoogeun tidak menangis lagi.

“Begopayo hyung hiks hiks” jawab Yoogeun masih sesenggukan.

“Begopa? Noona punya makanan untukmu. Noona masak sendiri lho~ Ayo cari tempat buat makan”

“Hm bagaimana kalau di sana saja Miyoung-ah”

Aku tersenyum setuju. Kami pun berjalan menuju ke tempat yang Kwangmin maksud. Sebuah taman yang rindang.Banyak pohin dan bunga yang timbuh, membuat tempat ini sangat pas untuk istirahat. Kami memilih duduk di salah satu bangku yang terletak di bawah pohon. Aku mengambil bekalku dan mulai menyuapi Yoogeun. Sepertinya dia sangat kelaparan karena dia makan dengan lahap.

Entah kenapa aku merasa orang-orang di sekitar kami melihat kami dengan tatapan aneh. Samar-samar aku mendengar bisikan mencibir dari orang-orang yang melihat kami. Seorang ajumma yang berjalan melewati kami menyindir, “dasar remaja zaman sekarang! Masih muda tapi sudah punya anak ckckckck”. Aigoo~ jadi mereka berpikir yang tidak-tidak tentang kami. Hahaha rasanya aku ingin tertawa. Bagaimana bisa mereka menyimpulkannya seperti ini? Apa kami terlihat seperti keluarga muda yang bahagia? Hahaha lucu sekali.

Setelah selesai menyuapi Yoogeun, kami langsung ke bagian informasi. Tak lama kemudian mereka menginformasikan tentang Yoogeun yang kehilangan orang tuanya. Aku yakin pasti orang tuanya sudah sangat cemas. Tak perlu menunggu waktu lama, orang tua Yoogeun datang. Mereka langung memeluk Yoogeun.

“jeongmal gamsahamnida kalian telah menjaga anak kami” kata eommanya Yoogeun.

“ne,cheonmaneyo” jawabku dan Kwangmin bersamaan.

“bagaimana aku membalasnya”

“tidak perlu, kami ikhlas kok”

“sekali lagi terima kasih ya. Terima kasih sekali”

“kalau begitu kami pamit dulu ya. Yoogeun annyeong~”

Aku dan Kwangmin berpamitan untuk pulang. Namun sebelum pulang, Kwangmin mengajakku ke arena bianglala. Kebetulan permainan itu juga sepi. Jadi tak perlu menunggu untuk dapat menaikinya.

Sejak tadi Kwangmin hanya menatap jendela bianglala. Menikmati pemandangan kota Seoul. Di tambah langit senja yang indah, membuat pemandangan itu tampak sempurna. Wajahnya menyiratkan kesedihan. Ada apa ini?

“Kwangmin-ah, gwenchana?” tanyaku penasaran.

“hm? Nan gwenchana” jawab Kwangmin yang  tidak mengalihkan pandangannya

“Tapi, kenapa wajahmu murung begitu?” tanyaku lagi.

“Karena…haah…susah mengatakannya”

Dia mengalihkan pandangannya ke arahku. “aku sedih karena…ini hari terakhir kita bisa bersama seperti ini”

DEG! Pengakuannya membuatku sadar. Ternyata ini hari terakhir dia di Seoul sebelum dia ke Jepang.

“Tapi…kan…kita bisa bermain lagi setelah kau pulang dari Jepang” ujarku berusaha menghiburnya. “Selain itu kita juga masih bisa berkomunikasi kan? Teknologi sudah canggih sekarang jadi tak perlu khawatir” lanjutku.Dia menatapku tajam. Perlahan ia menarikku ke dalam pelukannya.

“Tapi aku takut kehilanganmu”

Aku hanya bisa diam mendengar kata-katanya. Apakah dia menganggapku spesial?

“Kau…adalah sahabat terbaikku. Aku tidak ingin kehilangan sahabat sepertimu”

Sudah kuduga. Selama ini dia hanya menganggapku sahabat. Wake up Miyoung! Kau seharusnya tidak berharap lebih!

Kwangmin melepas pelukannya karena ternyata bianglala yang kita naiki telah berhenti di bawah. Kwangmin menggandengku keluar dari bianglala. Kami memutuskan untuk langsung pulang.

^^^^^^^^

                Kini aku telah berada di bandara. Menemani Kwangmin dan Eunkyo yang akan pergi ke Jepang. Aku memeluk Eunkyo sebelum ia akan masuk ke ruang tunggu sebelum naik ke pesawat.

“Kau harus menjaga kesehatanmu di sana eunkyo-ya. Jangan melupakan aku juga. Kau harus sering-sering menghubungiku”

“Arasho arasho. Aku juga akan mengawasi kwangmin dan memberi kabar tentangnya untukmu hahaha”

Kami berpelukan lagi. Kami berdua tak dapat menahan air mata kami. Setelah itu kami melapas pelukan kami. Lalu dia pamit padaku untuk masuk ke ruang tunggu. Ia melambaikan tangannya padaku.

Tiba-tiba ada seseorang yang menutup mataku dari belakang. “Ini pasti Kwangmin” tebakku. “Ya! Kenapa kau tau? Menyebalkan !” ucapnya kesal. Aku hanya tertawa samar melihatnya.

“Uljima” Kwangmin menghapus air mataku. Lalu memegang pipiku. Matanya menatap mataku tajam.

“Miyoung-ah #%#@%$&*&%#@&^$!#”

Aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang Kwangmin katakan karena suara pesawat yang landing sangat keras.

“Kwangmin-ah, bisa kau ulangi sekali lagi? Aku tidak mendengar apa yang kau bicarakan tadi” pintaku pada Kwangmin. Tapi dia hanya tersenyum, enggan memberitahuku. Aku mencoba merayunya. Tapi ia tetap saja tidak ingin memberitahuku.

“Tunggu aku pulang dari jepang, baru aku akan memberitahumu. Arasho?”. Sekilas Kwangmin mencium pipi kananku. Lalu ia berlari menuju ruang tunggu.

Aku memegang pipi kananku. Tak terasa aku menangis lagi. Jujur aku tak rela membiarkannya pergi. Walau hanya beberapa bulan, tapi akku pasti akan merasa sangat kesepian. Dan tunggu dulu! Sebenarnya apa yang ia bicarakan tadi ya? Kenapa aku harus menunggunya saat ia pulang nanti? Aish..jinjja! membuatku penasaran saja!

To be Continue…

This entry was posted by r13eonnie 강 하이에나.

5 thoughts on “[FREELANCE] Love Story – Part 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: