[FREELANCE] Love Story – Part 7

Author : Rifka Amalia / Min Rira
Cast : Song Miyoung (OCs), Kwangmin, Youngmin, Minwoo (Boyfriend), Namju (A Pink), Eunkyo (5dolls)
Genre : Romance, Friendship, Comedy

Lenght : Chaptered
Rating : General

Preview

Kami berdua menyandarkan tubuh di pohon. Suasana menjadi hening. Kami tenggelam pada pemikiran masing-masing.
“Kwangmin-ah… bolehkan aku minta tolong?” ujarku memecah keheningan ini. Kwangmin menolehkan wajahnya, menatapku.
“Apa hyung?”
“Maukah kau membantuku…” Aku menghentikan perkataankku. Aku ragu untuk melanjutkannya. Haruskah aku melanjutkannya?

Love Story : Would You Be My Girlfriend?

Youngmin PoV

“Ya hyung! Sebenarnya kau ingin ku bantu apa sih?” tanya Kwangmin tak sabar. Aku menarik nafas panjang. Aku harus mengatakannya. Siapa tau dia bisa membantuku.
“Hmm…kau…mau membantuku agar aku bisa dekat dengan Miyoung tidak?” Akhirnya aku berhasil mengatakannya. Hening. Lalu aku menoleh ke arah Kwangmin. Dia seperti memikirkan sesuatu.
“Waeyo? Kau tidak mau membantuku?” tanyaku padannya, “jangan-jangan kau…juga menyukainya?” Kwangmin langsung menoleh ke arahku. Terkejut dengan pertanyaanku barusan.
“Aniyo. Cuma aku tidak ingin kau hanya mempermainkan Miyoung”
“Kenapa kau berpikir seperti itu?”
“Aneh aja. Kau baru kenal dengannya. Bagaimana kau bisa langsung suka padanya?”
Aku diam dan menarik napas panjang lalu menghembuskannya.
“Karena dia…mirip omma” Ya.Itu alasan utamaku mencintai Miyoung.
“Kau benar” kata Kwangmin, “geurae, aku akan membantumu”
Aku tersenyum lebar mendengar jawabannya. Langsung ku peluk erat saudara kembarku itu.
“Namun jika dia lebih memilihku, apa yang akan kau lakukan?” tantang Kwangmin dengan nada mengejek.
“Atas dasar apa kau berbicara seperti itu? Aku akan melakukan apa pun agar dia menjadi milikku. Arasho?” jawabku tak mau kalah. ‘Aku benar-benar mencintainya. Mulai sekarang aku akan melakukan apa pun agar aku bisa dekat dengannya’ batinku dalam hati.

%%%%%%%%%

2 month later….

Miyoung PoV

Aku berjalan lemas memasuki sekolah. Semalam aku harus mengerjakan tugas sampai tengah malam. Dan sudah di pastikan pasti mataku bengkak kayak panda.
“Baa!!” teriak seseorang dari belakang sambil sedikit mendorongku. Sontak aku menolehkan kepalaku ke belakang. Melihat siapa yang melakukan itu padaku.
“EUNKYO?” reflek aku langsung memeluknya. Dia pun juga balik memelukku.
“Kapan kau datang? Kok gak bilang sih?” tanyaku seraya melepas pelukan. Dia hanya terkekeh, lalu menjelaskan, “sengaja haha. Aku sampai kemarin”
“Tau gini kan aku menjemputmu di bandara”
“Kau yakin? Aku sampai korea jam 10 malam lhoo. Emang boleh Song Miyoung si anak mama ini keluar rumah jam segitu? Haha”
“ya! Jangan meledekku!”
“hahaha mianhae. Kajja ke kelas! Aku kangen sama suasana kelas”
Aku mengangguk dan kembali berjalan menuju kelas kami.
Selama perjalanan menuju ke kelas, Eunkyo terus saja menceritakan kehidupannya di Jepang. Kasihan sekali dia, dia menyukai namja jepang namun dia tidak berani mengutarakan perasaannya. Aah kasian sekali dia.
Akhirnya kami sampai kelas. Langsung saja kami duduk di bangku kami. Sudah lama sekali kami tidak duduk berdua di sini.
“Oya bagaimana hubunganmu dengan Kwangmin?”. Aku kaget mendengar pertanyaanya.
“Emm..mm…dia…seperti menjauhiku” jawabku lirih. Ya itu benar. Aneh sekali dia. Saat bertemu denganku, dia selalu saja menghindar.
“Waeyo? Kalian bertengkar ya?”
“Molla. Malah Youngmin yang selalu mendekatikudan seperti lebih peduli denganku. Aku juga bingung kenapa sifatnya berubah padaku. Saat aku ingin mendekatinya, dia selalu menghindar. Anehnya Youngmin yang justru mendekatiku” terangku panjang lebar. Eunkyo hanya manggut-manggut sambil memikirkan sesuatu. Lalu berkata, “naksir sama kamu kali haha”. aku langsung mencubit pipinya.
“Annyeonghaseyo Miyoung-ah” sapa seseorang yang sudah kukenali suaranya. Aku menoleh melihatnya sambil tersenyum. Ekspresi wajahnya terlihat bingung.
“Dia siapa? Kenapa dia duduk di bangkuku?” tanya Youngmin heran.
“Dia Eunkyo, dulu dia duduk sebelahku. Dia baru pulang dari Jepang. Mianhae, kau jadi tidak bisa duduk di sini”
“Gwenchana. Aku duduk di bangku yang lain saja” .Dia mencari tempat duduk. Lalu memilih tempat duduk yang tidak jauh dari tempat dudukku.
Eunkyo menatapku dan bertanya apakah itu Youngmin karena wajahnya familiar di matanya. Aku hanya mengangguk. Lalu menoleh ke arah Youngmin. ‘Mianhae Youngmin-ah’ batinku.

%%%%%%%%%%

Aku dan Eunkyo berjalan keluar kelas karena sekolah telah berakhir. Kami berencana untuk merayakan kepulangan Eunkyo. Lagian sudah lama juga kami tidak bermain bersama.
“Eunkyo-ya! Miyoung-ah!” teriak seseorang dari belakang. Kami menoleh bersamaan.
“Waeyo Minwoo?” tanya Eunkyo. Ya, ternyata yang memanggil kami itu Minwoo. Dia tidak sendiri. Youngmin dan Kwangmin mengikutinya dari belakang.
“Aku, Youngmin dan Kwangmin akan pergi merayakan kepulanganku dari Jepang. Kau mau ikut?” tawat Minwoo.
“Jinjja? Ide yang bagus! Aku juga akan melakukan hal yang sama dengan Miyoung. Tapi sepertinya lebih seru kalau kita pergi bersama” jawab Eunyo bersemangat.
“Youngmin-ah, Kwangmin-ah, kalian setuju kan?” tanya Minwoo memastikan.Aku menolehkan pandanganku ke arah Jo Twins. Kulihat Youngmin menganggukan kepalanya dengan senyum mengembang. Sedangkan Kwangmin, aku mencoba menatapnya. Namun dia menghindari kontak mata denganku. Ekspresi wajahnya juga tidak enak. Kwangmin-ah, kenapa kau jadi berubah seperti ini?
“Kalau kau bagaimana Miyoung?” pertanyaan Eunkyo mengagetkanku.
“Ehh..mm..aku terserah kalian saja” jawabku sedikit gelagapan.
“Bagaimana kalau kita ke noraebang?” kata Eunkyo.
“Joha!! Kajja!!” jawab Minwoo semangat. Lalu dia berjalan duluan memimpin kami.
“Tunggu!” Kwangmin membuka mulutnya. Kami semua menatapnya heran, “kita melupakan satu orang” lanjutnya. Aku mengernyitkan dahiku. Lalu aku menangkap maksudnya. Jangan-jangan yang dia maksud itu. andwae! Semoga dugaanku salah.
“Nugu?” tanya semuanya selain aku dengan serempak.
“Namju”
Deg! Hatiku sakit mendengarnya menyebut nama yeoja itu. ternyata dugaanku benar. ada apa dengannya? Kenapa dia menjadi perhatian dengan Namju? Dia telah berubah banyak. Aku hanya menunduk. Aku tidak berani menatap wajahnya. Aku merasakan tangan Eunkyo menepuk bahuku pelan.
“Kalian berangkat duluan saja. Aku dan Namju akan menyusul” lanjutnya memecah keheningan dan suasana aneh ini. Semuanya hanya mengangguk lalu Minwoo mengajak kami untuk berangkat duluan.

%%%%%%%%%%%

Youngmin PoV

Pandanganku tak lepas dari Miyoung. Melihat wajahnya yang sedih seperti itu, membuatku juga sedih. Eunkyo dan Minwoo mulai menyanyikan lagu yang ada di list noraebang ini. Mereka berdua terlihat sangat menikmatinya. Sesekali Eunkyo memberikan mic untuk Miyoung namun dia hanya tersenyum ringan sambil menggelengkan kepalanya. Kini Minwoo mengajakku untuk bergabung. Aku berdiri dan hendak mendekati Miyoung dan mengajaknya bernyanyi. Namun aku mengurungkan niatku karena sepertinya Eunkyo sedang membujuk Miyoung. Tak berapa lama kemudian Miyoung berdiri dan merebut mic dari tangan Eunkyo. Syukurlah kalau dia tidak sedih lagi.
Kami berempat memilih lagu Bangkok City, lagu dari Orange Caramel. Sesekali aku mengarahkan pandanganku ke Miyoung. Dia sudah tidak sedih lagi. Hanya senyum yang ada di wajahnya.
Pintu ruangan kami terbuka. Ternyata Kwangmin dan Namju datang. Minwoo langsung menyambut mereka. Mereka bergabung bersama kami. Aku langsung memandang Miyoung. Ekspresi wajahnya perlahan berubah. Tatapannya menuju ke arah Kwangmin. Lebih tepatnya melihat mereka bergandengan tangan.
Kulihat dia duduk di salah satu sudut sofa. Dia menundukkan wajahnya. Andwae! Aku tidak suka melihatnya sedih. Aku harus melakukan sesuatu agar dia bisa melupakan Kwangmin dan membuka hatinya untukku.
Aku menghentikan eunkyo yang akan menghampiri Miyoung. “Biar aku saja” kataku pada eunkyo. Dia diam sejenak lalu setuju. Aku mulai mendekatinya.

Miyoung PoV

Yang hanya bisa ku lakukan sekarang adalah menyendiri di sofa ruangan ini sambil menundukan kepalaku. Aku tidak kuat melihatnya berdua bahkan bergandengan tangan bersama yeoja itu. Apakah ini alasan dia mejauhiku? Karena dia menyukai Namju? Jika itu benar, bisakah dia jujur padaku? Mungkin jika ia jujur padaku, aku tidak akan sesakit ini.
Aku merasakan sesuatu yang basah menyentuh pipiku. Oh tidak! Air mataku turun. Padahal aku berusaha agar tidak menangis. Namun apa daya. Rasanya begitu sakit menerima kenyataan yang ada. Dengan cepat aku menghapus air mataku karena aku merasakan seseorang menepuk pelan punggungku. Aku menengadahkan wajahku.
“Gwenchanayo?” tanya Youngmin padaku. Terlihat ekspresi khawatir di wajahnya. Aku menggelengkan kepalaku dan mencoba tersenyum ceria agar dia tidak curiga.
“Gojitmal. Kau habis menengiskan?” ujarnya seraya menghapus sisa air mata yang masih tertinggal di pipiku. “Kalau kau ingin pulang, pulang saja. Akan aku antar” tawarnya padaku.
“Aniyo, gwenchana. aku masih ingin di sini kok. Ayo kita bergabung bersama mereka”. Aku menarik Youngmin agar berdiri dan ikut bergabung dengan yang lain.
Sedihku perlahan menghilang karena tingkah konyol Minwoo, Eunkyo dan Kwangmin saat menyanyikan Bangkok City-Orange Caramel. Mereka benar-benar menghibur. Aku masih tertawa walaupun mereka telah menyudahi ‘kegilaan’ mereka. Aku berinisiatif untuk gila-gilaan bersama mereka. Aku tidak akan sedih lagi. Aku ingin menikmati saat-saat menyenangkan seperti ini.
Perasaanku kembali sekit saat aku melihat Namju menyenderkan kepalanya di bahu Kwangmin di sofa. Mereka terlihat seperti pasangan kekasih. Ku alihkan pandanganku ke arah lain. Ku rebut remote dari tangan Minwoo dan memencet tombolnya secara kasar. Aku memilih lagu How Dare You milik Sistar. Aku mulai menyanyikannya secara gila-gilaan. Aku melakukan ini untuk mengalihkan rasa sakitku.
“Miyoung-ah, neo wae irae?” tanya Eunkyo yang kaget perubahan kelakuanku. Aku hanya cuek dengan pertanyaanku dan terus menyanyi. Mungkin bisa di bilang aku seperti orang gila.
Nafasku tersengal-sengal setelah menyanyi. Aku memilih untuk duduk sambil meneguk minuman yang ku pesan tadi.
“Sudah merasa baikan?” sebuah suara mengagetkanku. Nyaris saja aku menumpahkan air yang aku minum tadi.
“Kalau kau tidak betah di sini, pulang saja. Aku tak tega melihatmu seperti ini” lanjutnya. Aku terdiam mendengar perkataannya barusan. Dia memandangku dengan tatapan khawatir. Merasa risih, ku alihkan pandanganku. Namun sayang, pemandangan tidak mengenakkan yang kuliah. Aku melihat Kwangmin dan Namju bercanda gurau.
Aku merasakan panas di daerah sekitar mataku. Sudah lama aku tidak bercanda bersamanya. Aku merindukan saat seperti itu. tertawa bersama, senyum lebar yang selalu mengembang di wajahnya dan kejahilannya yang terkadang membuatku kesal tapi sebenarnya aku menyukainya. Aku berusaha menahan agar air mataku tidak turun. Oh god…sangat susah bagiku untuk menahan air mata ini.
“Youngmin-ah, bisa kau antar aku pulang? Aku…aku…tidak tahan di sini” kataku berusaha menahan air mata sebisaku. Dengan cepat Youngmin meraih tasku dan tasnya.
“Teman-teman, aku dan Miyoung duluan ya. Miyoung tidak enak badan jadi aku akan mengantarya pulang” pamit Youngmin. Eunkyo menghampiriku dan memastikan keadaanku.
“Gwenchana Eunkyo-ya. Kau tidak usah khawatir” kataku untuk meyakinkan Eunkyo.
Aku dan Youngmin akhirnya keluar dari ruangan itu.

%%%%%%%%%%

Sepanjang perjalanan kami hanya diam. Aku tenggelam dalam pikiranku. Aku masih memikirkan kejadian tadi. Aku menyandarkan kepalaku ke dinding bis yang kami naiki ini. Mataku kembali memanas. Kini aku tak dapat menahannya lagi. Air mata kubiarkan jatuh membasahi pipiku. Sepertinya Youngmin menyadari kalau aku menangis. Tiba-tiba dia memelukku dan kepalaku berada di dadanya sekarang.
“Menangislah sepuasmu” ujarnya lembut. Mendengar ucapannya, membuat tangisku semakin kencang. Sesekali dia mengelus lembut rambut dan punggungku. Entah kenapa aku merasa nyaman di pelukannya.
Entah berapa lama aku menangis di pelukannya. Aku merasa lega menumpahkan rasa sedihku dengan menangis seperti ini. Sangat kekanakan! Aku melepaskan pelukan Youngmin dan menghapus air mataku dengan punggung tanganku. Dengan cekatan Youngmin mengambil alih. Dia menghapus air mataku menggunakan sapu tangannya. Manis sekali perlakuannya padaku.
“Lihat matamu sampai bengkak begitu” ejeknya. Aku tersenyum simpul lalu membalas ejekannya dengan pukulan ringan di bahunya.
“Setidaknya aku merasa sedikit lega setelah menangis” kataku.
Tidak sengaja aku melihat seragamnya basah karena ulahku. “Youngmin-ah, mianhae. Seragammu menjadi basah”. Aku jadi tidak enak padanya.
“Gwenchanayo” dia bersi keras berkata tidak apa-apa.
Terdengar pemberitahuan bahwa kami akan sampai pada pemberhentian berikutnya. Kami memutuskan berdiri karena kami akan turun.
“Kita mau kemana?” tanyaku pada Youngmin. Dia tampak bingung. Ah! Aku lupa kalau dia kan lama di jepang mana tau daerah ini. Dia hanya diam dan tetap berjalan.
“Ya youngmin-ah kau mau kemana?” tanyaku kesal karena dia berjalan lebih cepat dariku. Dasar Youngmin! Dia kan tidak tau tempat ini kenapa berlagak sok tau sih.
Tiba-tiba dia menarik tanganku masuk ke sebuah kedai es krim. Kedai es krim? Ini kan hampir winter. Dan suhu sekarang sangat dingin! Kenapa dia malah mengajakku kesini? Padahal aku sempat melihatnya sedikit kedinginan.
“Kau mau pesan rasa apa?” tanya Youngmin padaku. Aku menggeleng, “aku tidak ingin makan es krim”. Terlihat raut kecewa di wajahnya.
“Jebal~ temani aku makan es krim. Saat bad mood atau sedih, aku selalu makan es krim. Setelah itu perasaanku menjadi lebih baik. Percayalah padaku” rayunya padaku.
Aku memikirkan perkataannya. Hmm…sepertinya ada benarnya juga perkataannya. Lagipula kedai ini hangat. Kalau tidak, aku tidak bisa membayangkan bagaimana dinginnya. Setelah itu kami memesan es krim. Lalu kami memilih tempat duduk yang nyaman.
Kami memakan es krim kami sambil berbincang-bincang. Sesekali Youngmin melontarkan cerita lucunya, yang sukses membuatku tertawa. Aku baru tahu dia humoris juga orangnya. Kukira dia pendiam.
Setelah selesai menyantap es krim, kami keluar dari kedai es krim itu. Kami berkeliling melihat-lihat. Youngmin menantangku untuk mengambil boneka dari mesin boneka yang ada di pinggir jalan.
“Siapa takut!” kataku pada Youngmin dengan tatapan mengejek. Youngmin pergi untuk membeli koin msein boneka ini. Sedang aku memikirkan taktik untuk mengambil boneka ini. Youngmin kembali dengan membawa 5 buah koin. Aku mengambil 1 koin dari tangannya lalu mencoba memainkan mesin ini.
Sial! Daritadi aku gagal untuk mengambil boneka. Bahkan aku sudah menghabiskan 8 koin! Namun hasilnya tetap nihil! Youngmin yang berada di sebelahku hanya terkikih pelan melihat kegagalanku.
“Kali ini aku akan berhasil!” kataku bersemangat pada Youngmin. Youngmin menatapku dengan tatapan ‘oh ya?’. Aish! Menyebalkan sekali tatapannya. Aku harus membuktikannya!
Aku memasukan koin lalu memencet tombolnya. Setelah itu aku menggerakkan kursor untuk mengambil boneka Angry Bird warna biru. Sebenarnya selain gengsi, aku juga ingin sekali memiliki boneka Angry Bird warna biru itu. Aku kembali fokus pada mesin ini. Yap!! Dapat!! Akhirnya aku mendapatkannya. Aku mengarahkan kursor agar boneka itu jatuh di lubang pengambilan boneka. Namun sayang, boneka itu malah jatuh saat hampir dekat dengan lubang.
“ANDWAEEEEE!!!!!!!!” teriakku frustasi sambil mengjambat rambutku sendiri. Youngmin malah tertawa melihatku.
“Berikan koin terakhir itu padaku!” bentakku pada Youngmin.
“Aniyo” jawabnya sambil mehrong.
“Ya! Palliwa! Berikan padaku!!”
“waeyo? Kau malu gara-gara gagal?”
“Malu? Hahaha. Aku bukannya malu! Tapi aku menginginkan boneka itu dari dulu! Karena itu aku berusaha untuk mengambilnya. Cepat berikan koinnya padaku!”
“Jinjjayo? Kau menginginkan boneka itu? biar aku yang mengambilkannya untukmu”
Aku mengernyitkan alisku. Sepertinya dia tahu kalau aku meragukan kemampuannya.
Youngmin mendekati mesin boneka itu. Ia memasukan koin dan mulai menggerakan kursor. Dengan fokus dia memainkan kursor itu. Dan…voila! Dia BERHASIL MENGAMBILNYA!!! Dia melirikku dengan senyum sinisnya. Aku hanya mengerucutkan bibirku. Kesal karena sikapnya. Dia mendekatiku dan memberikan boneka itu padaku. Aku berlalu, hendak meninggalkan dirinya. Dengan cepat dia menahan tanganku.
“Ya! Kau kenapa? Harusnya kau senang karena aku berhasil mendapatkan boneka ini”. Aku hanya melirik Youngmin sekilas lalu hendak mendahuluinya. Namun genggaman di tanganku makin kuat.
“Atau kau kesal karena aku berhasil mengambilnya hanya dalam sekali coba? Sedangkan kau berkali-kali mencoba tapi tetap saja gagal” godanya. Aku berbalik arah lalu memukulnya keras. Terdengar rintihan yang keluar dari mulutnya.
“I DON’T CARE IT!” teriakku tepat di depannya. Dia mendekat ke arahku. Dia menempatkan boneka Angry Bird biru itu di sebelah wajahku.
“Kau mirip dengan boneka ini ya” godanya lagi. Aku mengambil boneka itu lalu melemparkannya tepat di wajah Youngmin. Menyebalkan sekali dia!
Dengan cepat aku melangkahkan kakiku meninggalkannya. Lagi-lagi ia menahanku.
“Mianhae. Bukan maksudku untuk membuatmu marah. Lucu saja menggodamu seperti tadi” kata-kata yang indah itu meluncur dari mulutnya dan sukses membuat wajahku sedikit merona. Youngmin memberikan boneka itu padaku. Kini aku menerima dengan senang hati. Youngmin menggandeng tangankku dan kami berkeliling lagi.
Kami memutuskan untuk beristirahat di kursi taman. Youngmin menyuruhku untuk menunggunya di sini karena dia akan membeli sesuatu. Aku hanya mengangguk.
Sudah hampir setengah jam Youngmin tidak kembali. Kemana sih dia sebenarnya? Kenapa dia lama sekali? Apa dia meninggalkanku? Awas saja kalau dia melakukan itu padaku! Aku melirik boneka Angry Bird Biru di tanganku. Aku membayangkan kalau itu Youngmin. Aku mulai memukul boneka itu sambil mengumpat untuk melampiaskan rasa kesalku.
Aku merasakan seseorang memakaikan sesuatu di kepalaku. Aku mendongak ke atas. Ternyata Youngmin yang berusaha memakaikanku topi rajut. Youngmin duduk di sebelahku begitu selesai memakaikan topoi rajut padaku. Ternyata dia memakai tpi rajut yang sama denganku.
“Kemarikan tanganmu” suruh Youngmin.
“Untuk apa? Pasti kau mau menjahiliku lagi ya? Shiro!” tolakku mentah-mentah. Mendengar penolakanku, ia langsung mengambil tanganku dan menggenggamnya erat. Dia mengambil sesuatu dari kantong jaketnya. Sebuah sarung tangan rajut yang manis, ia keluarkan dari jaketnya. Lalu memakaikannya padaku.
“Tanganmu daritadi seperti es. Dingin. Dan aku beberapa kali melihatmu kedinginan. Makanya aku memutuskan untuk membeli ini utukmu. Maaf kalau kau harus menungguku lama. Aku bingung memilihnya karena aku tidak tau seleramu.” jelasnya panjang lebar. Aku terdiam terpaku mendengar penjelasannya. Ada rasa bersalah karena telah mengumpatnya tadi. Aku merasakan sesuatu yang aneh. Jantungku berdegup kencang. Ada apa ini?
“Apa kau menyukainya?” tanyanya yang mebuatku tersadar dari lamunanku. Aku mengangguk. Aku melihatnya sedikit kesusahan saat memakai sarung tangan rajutnya. Entah dorongan dari mana aku membantunya. Dia tersenyum dan berterima kasih.
Untuk beberapa saat tak ada yang memulai percakapan. Hening dan menjadi sedikit awkward.
“Apa kau senang hari ini?” Youngmin memecah keheningan ini.
“Ne, aku sangat senang hari ini. Ini berkat kau, Youngmin-ah. Jeongmal gomawoyo”
“emm…apakah kau sudah melupakan kejadian tadi?”
Aku berpikir selama beberapa detik, “kejadian apa?”
“Kejadian yang membuatmu menangis” tanya Youngmin hati-hati.
“Maksudmu tentang Kwangmin dan..Namju?”. Youngmin mengangguk pelan seraya menatapku khawatir.
Ah sial! Kenapa dia mengingatkan ku tentang peristiwa tadi sih? Aku memejamkan mataku dan mengambil nafas panjang. Memori tentang Kwangmin dan Namju tadi berputar kembali di otakku. Mataku memanas. Aku menggenggam tanganku berusaha menahan rasa sakit ini.
Setetes air mata turun di pipiku. Youngmin menghapus air mataku sebelum aku menghapusnya. Dia menarik tubuhku ke pelukannya. Tangisku semakin pecahnya.
“Youngmin BABO !! KAU MANUSIA TERBODOH YANG PERNAH KU TEMUI!! KENAPA KAU MENGINGATKANKU TENTANG ITU LAGI, HAH? AKU SUDAH MELUPAKANNYA!!” kataku setengah berteriak sambil memukul dadanya. Aku melepaskan diriku dari pelukannya. Dia menatapku tajam.
“Kenapa kau menangisi namja yang telah membuatmu tersakiti begini, hah? Tak bisakah kau melupakannya?”
“Itu bukan urusanmu!!”
“Tentu saja ini urusanku!”
Aku terdiam. Mencerna perkataannya. Lalu Youngmin kembali memelukku. Lebih erat dari yang sebelumnya. Youngmin melanjutkan, “ini urusanku. Aku tak tega melihatmu menangis seperti itu. Tak bisa kah kau membuka hatimu untukku? Apakah kau sadar kalau selama ini aku mendekatimu karena aku mencintaimu?” Youngmin merenggangkan pelukannya dan menatap dalam mataku.
“Saranghae…Song Miyoung”
Yang kulakukan hanya bisa diam. Aku bingung harus menjawab apa. Setelah seharian ini bersamanya, aku mulai memutuskan untuk membuka hatiku untuknya. Aku sikap manis dan kejutan kecilnya yang mebuatku senang. Aku tersentuh dengan perhatiannya padaku. Namun di sisi lain, Kwangmin masih memenuhi hatiku. Sangat sulit untuk melupakan namja yang aku cintai selama setahun.
“Would you be my girlfriend?” lanjut Youngmin yang sukses membuatku tambah galau. Harus ku jawab apa?

To be continue~~~

This entry was posted by r13eonnie 강 하이에나.

9 thoughts on “[FREELANCE] Love Story – Part 7

  1. thoooorrrr….. seru!! #ganyante haha
    kwangmin nya knp jdi dingin?? dia suka gak sih sama miyoung??

    berharap miyoung akhirnya sma kwangmin hehe

    lanjut thor🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: