[FREELANCE] Omo! Weird Namja Kissing Me on Christmas night


Author: Han Taerin

Main cast:

  • Kim Ji Eun
  • Jo Kwangmin

Support cast:

  • Kim Hyun Joong as a Kim Ji Eun’s brother
  • Han Taerin as a Kim Hyun Joong’s girlfriend

Genre: Romance

Rating: PG

Type: One shoot

***

“Ya! Chagiya I’m busy now, arasso?” terdengar suara Hyun Joong yang datar dari cell phone Han Taerin. Taerin terdiam, dia harus selalu bersabar menghadapi namja chingunya yang sulit ditebak dan sangat moody itu.

“Nappeun namja! Ya! Kenapa oppa-ku begitu dingin dan menyebalkan?!” rutuk Ji Eun.

“Eonni-ya, gwenchana?” Ji Eun menepuk pundak Taerin yang tengah menutup cell phone nya dengan lemas. Taerin hanya mengangguk dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

“Hmm mianhaeyo eonni, nanti akan kumarahi oppa-ku yang berhati dingin itu. Kalau begitu aku pulang dulu eonni, lain kali kita shopping bareng lagi ya… Annyong…!” Ji Eun segera bergegas dan melambaikan tangannya pada Taerin.

***

Sesampainya di rumah…

“Ya! Seperti ini kau bilang sibuk?!” cecar Ji Eun pada oppa nya.

Hyun Joong menoleh sekilas, kemudian matanya kembali ia fokuskan pada layar flat di depannya. Ji Eun semakin kesal karena Hyun Joong tak menggubrisnya sama sekali.

“Ya! Hyun Joong oppa!!!!! Aku bicara padamu! Kau tau tidak, betapa sedihnya Taerin eonni menerima perlakuanmu tadi?! Hhhh aku tak habis pikir, mengapa aku memiliki oppa sepertimu, nappeun namja!!” rutuk Ji Eun.

Namja dingin itu tetap diam tak memperdulikan dongsaengnya yang ia anggap sebagai anak kecil yang sok tahu. BRAK!! Ji Eun keluar dari kamar oppa nya dan membanting pintu dengan kasar.

***

“Omo!! Bagaimana kalau aku terkena karma buruk dari sifat oppa ku?? Anni, sekalipun dia selalu bersikap dingin pada yeoja, tapi dia adalah namja setia dan bukanlah namja brengsek yang suka mempermainkan wanita. Hajiman…….tetap saja sifatnya itu telah menyakiti hati yeoja chingu nya!! Arght!! Forget it Ji Eun-sshi, semoga kau mendapatkan namja chingu yang baik, hangat, dan menyenangkan. FIGHTING!!” Ji Eun mengepalkan tangannya sambil tersenyum di depan cermin rias kamarnya.

“You and I… I I I I…” cell phone Ji Eun berdering.

“Yeobseo?” sapa seorang namja dari cell phone Ji Eun.

“Ne, yeobseo. Nugu?” tanya Ji Eun.

“Ji Eun-sshi, nae Kwangmin. Aku ingin bertemu denganmu. Besok sore aku akan menjemputmu, eotthae??”

“……” Ji Eun terdiam, alisnya bertaut dan ia teringat kenangan semasa SMA.

“Ige mwoya? Kwangmin? Untuk apa dia menghubungiku? Aneh sekali, tiba-tiba menelpon dan mengajakku bertemu. Hhhh… Apakah dia ingin menemuiku untuk mengatakan bahwa aku bodoh, lagi??”

 

 

Flashback

 

Sejak Ji Eun lulus SMA ia pindah rumah ke Seoul, jadi ia tak pernah bertemu teman-teman SMA nya sewaktu di Daegu, termasuk Kwangmin. Kwangmin adalah teman sekelas Ji Eun yang seringkali membuat Ji Eun kesal. Tak ada kenangan special diantara mereka, karena setiap harinya Ji Eun selalu menghindari Kwangmin yang dianggapnya namja aneh yang menyebalkan.

 

Bagaimana tidak? Selama ini Ji Eun selalu menjadi kebanggaan guru-guru di sekolah karena kepandaiannya, tapi Kwangmin selalu meremehkan kemampuan Ji Eun. Dan sialnya setiap kali ujian sekolah, Ji Eun harus selalu berdekatan dengan Kwangmin karena absen mereka berdekatan. Akhirnya Ji Eun harus ekstra bersabar berhadapan dengan Kwangmin yang notabene pendiam namun entah mengapa dia selalu mempermainkan Ji Eun.

 

Ji Eun yang pada dasarnya angkuh dan tidak sabaran tentu saja sering terpancing oleh celotehan Kwangmin, dan setiap harinya mereka selalu bertengkar. Namun, setiap kali mereka usai bertengkar Kwangmin selalu bersikap biasa-biasa saja, seolah tak ada masalah. Sedangkan Ji Eun selalu kesal, menggerutu dan berwajah masam.

 

“Ya, Ji Eun-sshi, kau sedang apa?” tanya Kwangmin yang tengah duduk di sampingnya.

“Eh? Ah anni, aku sedang mencoba memecahkan soal logaritma ini,” Ji Eun asik sendiri dengan soal matematikanya tanpa menghiraukan kehadiran Kwangmin.

“O, sini, berikan padaku,” Kwangmin menarik buku dihadapan Ji Eun tanpa izin.

 

Ji Eun menoleh, menatap Kwangmin sekilas kemudian menghela nafas. Ia ingin sekali mengusir Kwangmin dari sampingnya, namun apa daya itu adalah tempat duduknya. Ya, mereka harus duduk bersampingan selama masa ujian. Alhasil, Ji Eun hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Kwangmin terhadapnya, karena ia sudah bosan bertengkar dengan Kwangmin.

 

“Ya! Kenapa kau melihatku seperti itu? Huh? Aku keren ya?” ucap Kwangmin.

“Kau terlalu percaya diri!!” jawab Ji Eun ketus, ia mulai lepas control.

“Kemarilah, lihat, begini caranya, x…” Kwangmin memecahkan soal yang sedari tadi diotak-atik Ji Eun. Ji Eun tersenyum puas, dalam hati ia mengagumi kemampuan Kwangmin namun ia tak ingin memuji namja itu karena sifatnya sangat menyebalkan.

 

“O, ne, ne, arasso…” Ji Eun mengangguk-ngangguk.

“Ah pabo-ya… Bukankah mereka selalu bilang kau pintar? Masa begini saja kau tidak bisa. Andai saja mereka tau betapa bodohnya seorang Kim Ji Eun ini…” ucap Kwangmin sambil berlalu meninggalkan tempat duduknya dengan wajah tanpa dosa.

“Ya!!!!…. Hhhhh,” Ji Eun segera memalingkan wajahnya, berusaha menahan emosi dan berusaha mengabaikan ejekan Kwangmin.

 

End flashback

 

“Yeobseo? Ji Eun-sshi… Kau mendengarku kan? Yeobseo?”

“O, ne… Hajiman, rumahku itu terlalu jauh. Aku malas pergi jauh,”

“Aku tau, kau tinggal di Seoul kan? Aku pun tinggal di Seoul,”

“Mwo? Bukankah kau di Daegu? Sejak kapan kau pindah?”

“Sebelum lulus SMA aku sudah pindah ke Seoul, namun aku sering menginap di rumah nenekku di Daegu. Bagaimana? Bisakan besok?”

“Hmm kau ingin menemuiku dalam rangka apa?”

“Hanya jalan-jalan biasa, otthae?”

“Baiklah, tapi kau tak perlu menjemputku,”

“Waeyo?”

“Gwenchana, aku biasa pergi sendiri,”

“Oke, bertemu di depan kampusku ya, Seoul University. See ya…”

“Ne…”

***

Ji Eun membaringkan tubuh di atas sofa, tiba-tiba ia menyesali keputusannya.

“Aish! Untuk apa aku bertemu dengannya? Bagaimana kalau nanti dia mengejekku lagi? Anni, mungkin saja dia sudah berubah. Well, aku harap pertemuan ini menyenangkan, setidaknya aku bisa bertanya mengapa dulu dia senang sekali mempermainkanku,” ucap Ji Eun pada dirinya sendiri.

***

Ji Eun bergegas menuju kampus, ia sedikit tergesa-gesa karena pagi ini telat bangun. Saat ia berlari memasuki kelas, cell phone nya bergetar.

One message received

Weird Namja:

“Ji Eun-sshi, kau yakin  tak mau ku jemput?”

 

Reply message:

“Ne Kwangmin-sshi”

 

Weird Namja:
“Baiklah. O, kau tak perlu berdandan berlebihan.”

 

“IGE MWOYA?!” Ji Eun berteriak. Seisi kelas menatapnya. Tentu saja, ia baru saja duduk di kelas, namun telah membuat keributan.

“Ji Eun-sshi!! Kau ini sudah datang telat, berisik pula!!” cecar Park seonsangnim.

“Ehmmm mianhamnida……” Ji Eun menyatukan telapak tangannya dengan wajah penuh sesal.

***

Setelah pelajaran usai, Ji Eun segera bergegas pergi, namun hatinya masih saja kesal. Sambil berjalan ia terus menggerutu.

“Ya! Kau pikir aku akan berdandan seperti apa untuk bertemu denganmu?! Kau pikir kau siapa? Kau pikir kau itu demikian penting untukku? Apa maksudmu menyuruhku untuk tidak berdandan? Arght sayangnya aku sudah terlanjur berjanji untuk menemuimu. Aish jinjja! Weird namja!”

***

“Ya! Ji Eun-sshi!” sapa seorang namja dari balik punggungnya.

“Ne, kau sudah lama menunggu?” tanya Ji Eun.

“Anni, baru beberapa menit. Kkajja!!” Kwangmin mengajak Ji Eun pergi.

“Kwangmin-sshi!!” sapa seorang yeoja.

“Ne noona, waeyo?” tanya Kwangmin.

“Kebetulan sekali kau belum pulang, Kim seonsangnim mencarimu,” terang yeoja itu.

“Ye, kamsahamnida noona.”

“Ji Eun-sshi, ikut aku sebentar,”

“Ne,”

Ji Eun duduk di samping ruang dosen menunggu Kwangmin. Tak lama kemudian Kwangmin keluar ruangan tersebut.

“Lama ya?” tanya Kwangmin tanpa permintaan maaf.

“Gwenchana,” jawab Ji Eun singkat.

Beberapa teman Kwangmin menghampiri mereka. Ji Eun hanya terdiam, tak mengerti harus berbuat apa. Sepertinya Kwangmin cukup sibuk hari ini, namun Ji Eun kesal mengapa dia mengajak bertemu jika ia memang sedang sibuk. Apakah Ji Eun diajak ke kampusnya hanya untuk menemani aktivitas kuliahnya hari ini?

Hari mulai gelap, kampus mulai sepi, teman-teman Kwangmin sudah pulang.

“Ji Eun-sshi, mianhamnida, seharusnya hari ini aku mengajakmu pergi jalan-jalan, tapi…” Kwangmin bersikap manis pada Ji Eun.

“Gwaenchana,…” jawab Ji Eun singkat.

“Jeongmal?” Kwangmin menatap Ji Eun.

“Ne,” jantung Ji Eun berdetak kencang melihat tatapan Kwangmin.

“Baiklah, sekarang kita pergi. Kkajja…” ajak Kwangmin.

Mereka berdua menuju lift kampus dan ketika sampai di lantai dasar, tiba-tiba hujan turun. Langit sangat mendung dan angin berhembus kencang.

“Yahhh hujan, eotthokkae?? Aku tak membawa payung” ucap Ji Eun cemas.

“Aigoooo… Sebaiknya kita tunggu dulu sampai hujan reda,” jawab Kwangmin.

Ji Eun mengenakan sweater hitamnya, sementara Kwangmin mengeratkan sweater abu-abunya. Udara malam ini sangat dingin, suasana kampus pun sudah semakin gelap.

Kwangmin mengeluarkan beberapa gambar dari tasnya.

“Ji Eun-sshi, coba kau lihat gambar ini,”

“Ne, wae?”

“Menurutmu apa yang tersirat dari gambar ini?”

“Hmmm… Molla, aku kan bukan anak Psikologi sepertimu,”

“Sudahlah katakana saja apa yang ada dalam pikiranmu,”

“Aigo, ini begitu abstrak Kwangmin-ah. Aku seperti melihat bentuk pohon natal,”

“Waeyo?”

“Molla, mungkin karena sebentar lagi hari natal, jadi aku selalu teringat pohon natal,”

“Lalu apa lagi?”

“Tidak ada, aku tidak tahu…”

Kwangmin tersenyum datar.

“Wae?” tanya Ji Eun penasaran.

“Jawabanmu itu seperti jawaban anak SD, tak mencerminkan bahwa kau seorang mahasiswi,” jawab Kwangmin datar.

“Ya!! Sudah kubilang aku tak tahu!! Kenapa kau terus memaksa aku untuk menjawabnya? Huh?!” Ji Eun melempar Kwangmin dengan tissue yang ia pegang.

“Sudahlah, sekarang coba kau jawab gambar apa ini?” Kwangmin mengeluarkan gambar lain dan kembali bicara dengan santainya.

“Molla!” bentak Ji Eun.

“Yaaaaa! Kau jawab saja sebisamu,” paksa Kwangmin.

“Weird namja! Omona aku benar-benar menyesal telah datang menemuimu hari ini. Ya! Kau pikir aku akan menjawab pertanyaanmu lagi? Dan setelah itu kau akan mengataiku lagi? Hhh mungkin kali ini jawabanku akan kau bilang seperti jawaban anak TK!” rutuk Ji Eun dalam hati.

“Entahlah, seperti gambar hati,” jawab Ji Eun singkat.

“Jinjja? Ehm kalau hatimu di mana?” suara Kwangmin terdengar sangat lembut.

“Eh, ne?” Ji Eun terkejut.

Kwangmin tak mengulangi kata-katanya, ia hanya tersenyum simpul, membuat matanya yang sipit semakin menghilang. Ji Eun tertegun memandang senyum Kwangmin yang menurutnya sangat manis dan mampu meluluhkan hatinya.

“Ji Eun-sshi, apa kau lapar?” tanya Kwangmin.

“Tentu saja,” jawab Ji Eun yang semakin kedinginan.

“Baiklah, hujan sudah mulai reda. Ayo kita pulang, kita makan di rumah masing-masing,” ucap Kwangmin.

“Arasso, arasso, ayo kita pulang!” rutuk Ji Eun.

Tentu saja ia kesal, setelah hatinya terbuai melihat perlakuan manis Kwangmin, kini ia dihempaskan lagi oleh perkataan namja itu. Ji Eun pikir ia akan diajak makan malam oleh Kwangmin, namun ternyata Kwangmin malah mengajaknya pulang.

“Kwangmin-ah, aku tak biasa naik motor, jadi kau tak perlu mengantarku,” ucap Ji Eun.

“Shireo! Aku akan mengantarmu pulang,” jawab Kwangmin.

Kwangmin berjalan menuju area parkir, Ji Eun mengekor di belakangnya. Benar-benar namja aneh, sepanjang hari ini dia tidak menyentuh Ji Eun sedikitpun, bahkan di tengah suasana kampus yang cukup menyeramkan ini, Kwangmin sama sekali tak menggandeng tangan Ji Eun. Dia membiarkan Ji Eun berjalan sendiri mengekorinya menuju area parkir.

“Ya, untuk apa mengikutiku? Bukankah kau mau pulang?” tanya Kwangmin tiba-tiaba.

Ji Eun mencelos, ingin sekali dia memukul Kwangmin dengan stick baseball.

“Arasso!! Aku akan pulang!!” Ji Eun bertolak dari area parkir menuju jalan raya dengan tatapan penuh dendam pada Kwangmin.

“Ya! Kau ini, santai saja, aku hanya bercanda. Ini, pakai helm mu,” Kwangmin memberikan helm pada Ji Eun.

“Aigo, dingin sekali. God, mengapa namja ini tak menyuruhku berpegangan padanya? Ah apa aku pegangan saja ya? Bukankah lumrah berpegangan saat naik motor? Anniya! Bagaimana nanti kalau Kwangmin menganggapku yeoja agresif? Aish tapi ini benar-benar dingin sekali. Eotthokkae??” batin Ji Eun di balik punggung Kwangmin.

Kwangmin memarkirkan motornya di sebuah caffe.

“Kita makan dulu,” ucap Kwangmin singkat.

Ji Eun tak menggubris, ia hanya mengekori Kwangmin sambil terus menggerutu dalam hati, “Katanya mau langsung pulang, tapi sekarang mengajak makan, namja aneh!”

 

Suasana di caffe sangat hangat, pengunjungnya tidak begitu ramai. Kwangmin memberikan daftar menu pada Ji Eun. Sikap Kwangmin pada Ji Eun sangat hangat, berbeda saat mereka berada di kampus tadi. Mereka saling bertukar cerita dan Kwangmin tak henti-hentinya tersenyum mendengar cerita Ji Eun.

Sungguh di luar dugaan, Ji Eun yang selama ini dikenal dingin terhadap para namja, kini bersikap sangat manis di hadapan Kwangmin. Bahkan, ia sempat menggerutu ketika Kwangmin sama sekali tak menggandeng tangannya. Padahal ia tipikel yeoja yang anti terhadap sentuhan namja.

“Kwangmin-sshi, kau ingat dengan Yeora??” tanya Ji Eun.

“Anni, siapa dia?” Kwangmin malah balik bertanya.

“Aigo, dia teman sekelas kita, dia sudah punya anak sekarang. Anaknya lucu sekali,” jawab Ji Eun antusias.

“M.B.A.?” tanya Kwangmin.

“Ya! Kenapa kau bertanya begitu? Entahlah…” jawab Ji Eun.

“Kau ingin segera punya anak juga, huh?” Kwangmin menyeringai.

“Tentu saja, setiap orang pasti ingin punya anak,” jawab Ji Eun polos.

“Jujur saja, sejak lulus SMA aku sudah lupa dengan mereka,” terang Kwangmin.

“Mwo? Yaaa Kwangmin-sshi, kau ini belum sukses saja sudah melupakan teman-temanmu, apalagi nanti kalau sudah sukses? Aigo…” Ji Eun menatap Kwangmin tajam.

“Aku salah?” tanya Kwangmin datar.

“Tentu saja! Ah terserah kau sajalah. Sebenarnya kau ini pelupa atau amnesia sih?” tanya Ji Eun gemas. Kwangmin terkekeh, senyumnya melebar, bibirnya yang merah terlihat begitu segar di mata Ji Eun.

“Hanya dua orang yang aku ingat, yaitu Taemin dan kau Ji Eun-sshi,” terang Kwangmin sambil menggoyang-goyangkan sendoknya.

“Wae?” Ji Eun menghentikan aktivitas makannya sejenak, menanti jawaban.

“Karena Taemin kini satu universitas denganku dan karena kau teman satu bangku ku setiap kali ujian sekolah,” jawab Kwangmin kemudian menyeruput air mineralnya. Ji Eun mengangguk dan melanjutkan aktivitasnya.

“Hmmmm namja ini mirip seperi oppa-ku, senyumnya, tawanya, sifatnya yang menyebalkan… Aigooo jangan-jangan ketakutanku selama ini akan menjadi kenyataan?? Andwae! Andwae! Aku tak ingin bernasib sama seperti Taerin eonni!” Ji Eun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.

“Ya! Kau ini kenapa?” tanya Kwangmin.

“Hehe…anni,” Ji Eun tersenyum datar.

***

Ji Eun tengah makan siang di kantin kampusnya, entah sudah berapa kali ia mengecek cell phone nya, berharap ada pesan masuk dari Kwangmin yang ia beri nama ‘Weird Namja’ di phonebook nya. Namun, namja itu sama sekali tak mengirim pesan semenjak pertemuannya satu minggu lalu. Ji Eun menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Ia terus bertanya-tanya, mengapa Kwangmin tak menghubunginya lagi.

***

Malam ini terasa sangat dingin, namun suasana di rumah keluarga Kim terasa begitu hangat. Pohon natal menghiasi ruang tamu dilengkapi dengan kerlap kerlip lampu natal yang semakin memperindah moment natal ini. Nyonya dan Tuan Kim sedang menjamu keluarga Han. Kim Hyun Joong dan Han Taerin sedang membuka kado natal, sedangkan Ji Eun tengah melempar pandangan ke luar jendela, menatap salju yang turun cukup lebat malam ini. Taerin menyenggol bahu Hyun Joong, wajahnya seolah bertanya, “Ada apa dengan Ji Eun?” Kemudian Taerin menghampiri Ji Eun.

“Kim Ji Eun, do gwenchana?” tanya Taerin perhatian.

“Eh? Ne, gwenchana eonni-ya. Wae?” jawab Ji Eun sedikit kaget.

“Kau terlihat murung saeng, aku khawatir melihatmu seperti ini. Biasanya kau selalu ceria. Tell me dongsaeng-ah…” bujuk Taerin.

“Eonni, apa yang membuatmu bertahan dengan oppa-ku?” tanya Ji Eun serius.

“Ya! Apa maksudmu Ji Eun-sshi?!” Hyun Joong menghampiri Ji Eun dengan mata membelalak.

Ji Eun kembali melemparkan pandangannya ke luar jendela, saat ini ia sedang tak ingin meladeni oppa nya yang menyebalkan itu.

Setelah Taerin membisikkan sesuatu pada Hyun Joong, namja itu pun pergi memberikan ruang untuk Taerin dan dongsaengnya.

“Hmmm oppa mu itu memang dingin dan seringkali membuatku kesal, namun dia itu namja yang baik dan bertanggung jawab, tidak suka berpura-pura dan ia jujur. Dia juga bukanlah namja gampangan yang suka bermain-main dengan para yeoja. Selama masa pendekatan kami, dia tak pernah menyentuhku sedikitpun. Awalnya aku bertanya-tanya apakah aku tidak menarik di matanya, namun oppa mu menjelaskan bahwa dia tak akan berani menyentuh yeoja sebelum ada ikatan hubungan. Akhirnya aku paham bahwa itu pertanda bahwa dia menghargai yeoja. Dan aku justru semakin menyukainya. Oppa mu itu namja yang baik Ji Eun-sshi. Waeyo? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” terang Taerin panjang lebar.

Ji Eun menghela nafas, matanya menatap Taerin penuh nanar seolah berkata, “Mengapa kau bisa begitu sabar eonni?”

“Eonni, dari dulu aku selalu khawatir dengan sikap oppa ku terhadapmu. Sebagai wanita aku merasa oppa ku itu kejam dan menyebalkan, sebentar manis, sebentar dingin. Selain itu aku khawatir, aku takut terkena karma atas sikap oppa ku itu. Dan sepertinya ketakutanku ini mulai menjadi kenyataan. Seorang namja mendekatiku, aku merasa dia berbeda dari yang sudah-sudah. Aku pikir aku menyukainya eonni, tapi sejak pertemuan kami dua minggu lalu, dia tak pernah menghubungiku lagi. Sifatnya itu sangat mirip dengan Hyun Joong oppa, menyebalkan, namun terkadang ia bersikap sangat manis,” jawab Ji Eun lemas. Kemudian Ji Eun menceritakan pertemuannya dengan Kwangmin.

“Mwo?” Taerin tersenyum.

“Ne eonni, mengapa kau tersenyum?”

“Haha anni, aku hanya berfikir mengapa kita bisa mengalami hal yang sama Ji Eun-ah?”

“Molla,” Ji Eun tersenyum datar.

“Bersabarlah saeng, dari cerita mu itu, aku pikir dia menyukaimu. Kalau tidak, untuk apa dia mengajakmu bertemu waktu itu? Hanya saja dia itu tak ingin terburu-buru. Kau tunggu saja sampai dia menghubungimu lagi, eotthae?” jawab Taerin bijak.

Ji Eun mengangguk kecil kemudian memeluk yeoja di hadapannya yang notabene merupakan calon kakak iparnya.

“You and I… I I I I…”

Cell phone Ji Eun berdering, segera ia melepaskan pelukannya dan meraih cell phone di saku hoodie nya.

“OMO!” Ji Eun terkejut melihat nama yang tertera di layar cell phone nya.

“Wae?” tanya Taerin.

“Kwangmin…” jawab Ji Eun.

Taerin tersenyum, kemudian ia menepuk pundak Ji Eun dan meninggalkannya sendiri, memberikan ruang privasi agar ia leluasa berbicara dengan Kwangmin.

“Ji Eun-sshi, aku menunggumu di taman dekat rumahmu,” ucap Kwangmin singkat.

“Eotthokkae? Apa aku harus menemuinya? Keluar rumah di tengah hujan salju seperti ini? Omo bagaimana kalau dia mempermainkanku lagi? Hhhh mengapa dia seenaknya saja menyuruhku ke taman malam-malam begini? Apakah dia tidak sadar bahwa selama ini selalu membuatku kesal? Setelah dua minggu tak menghubungiku, kini dia mau mengajakku bertemu lagi? WEIRD NAMJA!” rutuk Ji Eun.

One message received

Weird Namja:

“Cepatlah datang.”

***

“OMO! Kwangmin, untuk apa kau berada di sini?” sapa Ji Eun perhatian.

“Aku ingin bertemu denganmu,” jawab Kwangmin singkat.

Ji Eun menatap wajah Kwangmin lekat-lekat, jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Ji Eun ingin sekali memaki namja ini, namun di sisi lain ia ingin memeluk namja ini erat-erat karena Ji Eun benar-benar merindukan sosok Kwangmin yang menyebalkan namun dapat menarik perhatiannya dan membuatnya terbuai oleh senyuman namja tersebut.

“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, kkajja,” ucap Kwangmin tanpa basa-basi.

Ji Eun seolah kehilangan kesadaran, ia mengekor di belakang Kwangmin.

Di tengah hujan salju di malam natal, mereka menyusuri jalan yang cukup sepi. Kwangmin mengendarai motornya dengan perlahan, Ji Eun terus menatap Kwangmin lekat-lekat dari balik tubuhnya. Kwangmin menghentikan laju motornya.

“Turun dulu bisa kan?” suruh Kwangmin tiba-tiba.

“Eh? Ne?” Ji Eun tersadar dari lamunannya.

“Aku mau isi bensin dulu. Kau ini betah sekali duduk di belakangku. Cepat turun,”

“Ah aku malas,” Ji Eun memonyongkan bibirnya, ia baru sadar ternyata kini mereka tengah berada di SPBU.

Kwangmin tersenyum manis dan sukses meluluhkan hati Ji Eun.

***

“Ji Eun-sshi,”

“Ne,”

“Hmm…”

“Ya! Kau ini mau bicara apa sih? Biasanya kau begitu to the point, ayolah jangan bertele-tele. Ini sudah malam Kwangmin-ah,” keluh Ji Eun.

“Aku…” Kwangmin mulai membuka mulutnya lagi.

“Cham, Kwangmin-ah kenapa kau selalu mengajakku ke caffe ini? Apakah tidak ada caffe lain? Huh?” tanya Ji Eun memotong perkataan Kwangmin.

Ji Eun mengamati caffe ini, tidak ada yang special, sama seperti caffe lainnya.

Bukannya menjawab pertanyaan Ji Eun, Kwangmin malah membisu.

Setelah mengamati isi caffe, Ji Eun menatap Kwangmin menanti jawaban.

Kwangmin menatap Ji Eun dalam. Lidahnya terasa kaku.

“Ehm, aku hanya ingin mengucapkan…Marry Christmas Ji Eun-sshi!!” jawab Kwangmin terbata-bata dengan senyum dipaksakan yang terasa begitu hambar di mata Ji Eun.

Ji Eun mencelos, ia tak menyangka namja ini memutuskan keluar rumah di tengah hujan salju dan mengajaknya ke caffe hanya untuk mengucapkan dua kata itu.

Setelah menghabiskan cake yang mereka pesan, Kwangmin bergegas mengantar Ji Eun pulang. Pertemuan mereka kali ini lebih buruk dari yang sebelumnya. Bagaimana tidak? Sedari tadi Kwangmin hanya membisu, membuat Ji Eun seperti sedang berhadapan dengan patung. Ji Eun terus mendengus melihat Kwangmin yang semakin aneh.

***

Sepanjang perjalanan menuju rumah Ji Eun, mereka tetap saja tak berkomunikasi. Keduanya diam tak bergeming.

“Aku masuk dulu Kwangmin-ah. Kamsahamnida untuk malam yang sangat indah ini. Hati-hati di jalan, annyong,” ucap Ji Eun datar tanpa menatap Kwangmin.

“Tunggu Ji Eun-sshi, nae…” ucap Kwangmin terbata-bata.

“Wae? Kau ingin mengucapkan Marry Christmas lagi? Marry Christmas too Kwangmin-sshi. Sudah cukup?!” ucap Ji Eun ketus.

Kwangmin membisu, ia menatap Ji Eun lekat-lekat.

Ji Eun kehilangan kesabaran, air matanya mulai menetes, ia sudah tak sanggup menahan perasaannya, sampai akhirnya keluarlah kata-kata dari mulutnya yang mampu membuat Kwangmin bertindak.

“Ya! Apa maumu sebenarnya? Kau tiba-tiba datang dalam kehidupanku! Lalu menghilang tanpa kabar! Kini kau datang lagi! Kau pikir aku ini apa? Aku punya perasaan Tuan Jo Kwangmin! Apa kau tidak ada pekerjaan lain selain menggangguku dan membuang-buang waktu bersamaku? Huh? Mengapa kau begitu me…” ocehan Ji Eun berhenti seketika.

Kwangmin menarik tangan Ji Eun. Ia meraih dagu Ji Eun, kemudian mengusap bibir Ji Eun dengan lembut, sedetik kemudian ia menempelkan bibirnya pada bibir Ji Eun. Ji Eun tak bergerak sedikitpun, tubuhnya terasa kaku.

Setelah lima detik, Kwangmin melepaskan ciumannya, mengusap air mata di pipi Ji Eun, kemudian kembali menempelkan bibirnya yang merah pada bibir mungil Ji Eun. Perlahan-lahan bibir Kwangmin menyusuri bibir Ji Eun. Ji Eun membalas ciuman Kwangmin, lidahnya bermain-main di rongga mulut Kwangmin. Ji Eun benar-benar kehilangan kesadaran, ciuman Kwangmin membuatnya terhanyut. Kwangmin tersenyum di sela-sela ‘aktivitasnya’. Tangan Kwangmin melingkar di pinggang Ji Eun. Ji Eun semakin terhanyut, tangannya menyusuri rambut hitam Kwangmin, menekan kepala Kwangmin agar memperdalam ciuamannya. Nafas Ji Eun menderu di sela-sela aktivitasnya, Kwangmin merasakan hawa panas di bibirnya.

“Ternyata kau benar-benar merindukanku Ji Eun-sshi, mianhae…” ucap Kwangmin sambil mengusap bibir Ji Eun setelah menyelesaikan ciumannya.

“My first kiss…” bisik Ji Eun.

“Ne, arasso,” Kwangmin memeluk Ji Eun erat.

“Saranghamnida Kim Ji Eun,” ucap Kwangmin lembut tepat di telinga Ji Eun.

“OMO!!” ucap Ji Eun tiba-tiba.

“Wae?” Kwangmin melepaskan pelukannya.

“Aigo oppa!!” Ji Eun terbelalak melihat perlakuan oppa nya terhadap Taerin di balkon.

Hyun Joong tengah mencium bibir Taerin dengan kasar, tubuhnya mengunci tubuh Taerin sehingga yeoja itu tak bisa bergerak, tangannya memainkan rambut panjang yeoja chingu nya itu. Sedangkan Taerin hanya pasrah menerima perlakuan namja chingu nya.

“Ya! Kupikir ada apa!” Kwangmin menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kwangmin-ah aku tak menyangka oppa ku demikian agresif! Omona!” Ji Eun panik.

“Sudahlah Ji Eun-sshi mereka sudah dewasa, bukankah kita juga baru saja berciuman? Huh?” Kwangmin mengerlingkan matanya pada Ji Eun.

“Ya! Tapi Taerin eonni bisa mati kehabisan nafas kalau seperti itu!!!” oceh Ji Eun.

“Tidak mungkin, oppa mu itu kan mencintainya, sudahlah, kau masuk saja, sudah malam. Mulai sekarang kau adalah yeoja chingu ku, aku tak ingin kau sakit,” Kwangmin berusaha menenangkan Ji Eun.

Ji Eun menurut, ia melambaikan tangan pada namja yang baru beberapa detik lalu resmi menjadi namja chingu nya itu. “Sungguh kado natal yang sangat indah…” batin Ji Eun.

END

This entry was posted by r13eonnie 강 하이에나.

36 thoughts on “[FREELANCE] Omo! Weird Namja Kissing Me on Christmas night

  1. IGEUMWOYA??? HAN TAERIN, DEMI APA YA GUE SENYUM – SENYUM SENDIRI PAS BACA FF INI *capslock bodol*

    Kkkk~ Bravo! Bahasanya dikemas dengan ringan RIn. Gak kek bahasa gue yang berat /plak
    Request dong, yang minwoo yaaaa *pasang puppy eyes*

    Tapi bener deh Thor *asiiik manggil author* gue senyum2 sendiri. Berasanya kek kisah nyata gitu, /plak plok

  2. omona!!!
    prtma kali bca FF ini ckp *shock*

    byk kta2 yg bnr2 kocak u/ di bca dn di khayati. kkk~ seperti Mengekor.😀😀

    hmm.. dan sepertinya pernah mendengar cerita ini dr seseorang. hoammm ^.^v

    tp knp peran’a hrz kwangmin T^T knp bkn Yongmin sja peran’a?? xixixi^^

    but overall the FF is enough to make me laugh😀

    wait 4 the next FF from u ^^

    Chukkae Han taerin sshi ~~ #prokprokprok *bow* kkk~~

    • kamsahamnida hyesun eonni udh baca..
      ha? jeongmal? ko malaha jd lucu ya ni FF?? pdhl niatnya kan bikin romance eon.. haha jgn bk kartu ah.. kkk.. main castnya kwangmin krn aku tak rela kl youngmin, cz endingnya kan jadian sm IU.. hehehehehe..
      ne, kamsahamnida eon..😀

  3. sumpah eomma bikin nae senyam senyum sendiri baca nih FF….
    ditunggu FF yang laen eomma..
    sungguh sungguh…….gag bisa diomongin dg kAta2,,
    nae paaaaaaallllllllllllinnnnnnnnng berkesan “first love”
    hehehehe

    • haha kamsahamnida adeul udh baca.. awas jgn senyam senyum mulu ntr dikira ga waras loh.. hihi.. ne, next time aku bikin lagi kl ada waktu senggang.. cie cie first love…😀

  4. wawwww .. bingung mau ngomong apa .. habis FF nya Keren bngett !! Like .. Like .. Like ..
    bkin cerita yg Lucu + Romance kayak gini lagi yah Thor . ditunguu ;D

  5. wow.. FFnya keren cingu.. Baru nemu ini FF ternyata keren ceritanya .. sering” bikin FF pairingnya IU-kwangmin yah cingu.. Gomawo

  6. Wow…. Kado natal yang benar2 indah…chingu kapan2 bikin lagi dong yang IU sama Minwoo…. hehehe

    aku suka sama ni FF, Daebak…

  7. Ffnya bagys keren lucu pokoknya good job dh buat authhor.. Ak bcnya smbl ktw sm deg2an😀 ayoo min dtggu ff slnjtnya :-))

  8. haduh,,bilang cinta aja lama bgt.
    gemes qu bacanya…..
    >_<
    untung akhirnya jadian,,
    adegan terakhir itu double kiss gitu..
    inget drama "protect the boss",hehehe
    bedanya ini di satu tempat..😉

    nice ff!
    ditunggu karya selanjutnya
    ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: