[FREELANCE] Noona You Broke My Heart

Tittle: Noona You Broke My Heart

Author: Han Taerin

Main cast:
• Jo Youngmin
• Han Taerin

Support cast:
• Oh Ha Young ‘A Pink’
• Kim Hyun Joong
• No Min Woo

Genre: Sad Romance

Rating: G

Type: One shoot

P.S: Jeongmal mianhae, yeoja cast-nya kebanyakan fiksi, abis aku ga begitu kenal GB apalagi GB yang seusia member Boyfriend. Dan mianhae selalu ada nama Kim Hyun Joong. Hehehe… Happy reading…

***

“Noona, aku bosan…” rajuk Youngmin pada yeoja di hadapannya.
“Selesaikan dulu tugas sekolahmu ini Youngmin-ah,” jawab yeoja itu.
“Hmm baiklah,” Youngmin memonyongkan bibirnya. Kemudian ia melanjutkan, “Tapi setelah ini kita pergi makan ice cream ya? Ayolah Taerin noona, jebal…” Youngmin memasang wajah aegyo-nya.

Yeoja disampingnya mengangguk kecil dan tersenyum simpul melihat kelakukan anak didiknya ini. Ya, Han Taerin adalah guru privat Youngmin. Ia datang tiga kali seminggu untuk memberikan pengajaran pada Youngmin untuk menambah uang sakunya selama berkuliah di Seoul University.

***

“Noona, lihat itu!” ucap Youngmin sambil mengarahkan telunjuknya ke arah jam 2 jarum jam. Kemudian ia memicingkan matanya dan berkata, “Ya! Itukan Minwoo. Omo siapa yeoja di sampingnya itu?”

Taerin mengarahkan pandangan pada orang yang dimaksud. “Mungkin itu yeoja chingu-nya,” jawab Taerin sambil memposisikan tubuhnya di atas ayunan taman.
“Mwo? Haha,” Youngmin terkekeh. “Bagaimana bisa dia berpacaran dengan gadis kecil seperti itu? Aigo Minwoo…” Youngmin menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus memakan ice cream-nya.

Taerin menatap heran pada Youngmin, “Youngmin-ah, kelihatannya yeoja itu seumuran dengan Minwoo. Ya, bukankah kau juga belum masuk usia dewasa? Mengapa kau mengatainya anak kecil?” tanya Taerin kemudian tersenyum.
“Anni noona-ya, aku tidak terlalu suka melihat yeoja seumuranku, mereka terlihat kekanak-kanakan,” jawab Youngmin yang tawanya mulai mereda. Ia mengayunkan ayunan yang tengah dinaiki noona-nya itu.

“Mwo? Dasar anak ini, bisa-bisanya berkata begitu. Hhhh Youngmin-ah kau itu lucu sekali. Pasti menyenangkan jika aku mempunyai namdongsaeng sepertimu,” batin Taerin sambil terus menatap Youngmin.

***

Youngmin baru saja pulang sekolah, tubuhnya terasa lelah. Namun, bukannya beristirahat ia malah mengambil cell phone dan menghubungi guru privat-nya.

“Yeobseo,” sapa Taerin.
“Yeobseo, noona, kau sedang sibuk?” tanya Youngmin.
“Aku masih di kampus Youngmin-ah, wae?”
“Bogoshippo, aku akan menjemputmu sore ini, eotthae?”
“Tidak usah Youngmin-ah, aku akan pulang larut malam hari ini. Kau istirahatlah, besok kan kita bertemu. Jangan lupa, minggu depan kau ujian akhir,”
“Ne, arasso noona-ya. Kau hati-hati ya, jangan lupa makan. Annyong…”

Youngmin menutup cell phone dengan lemas. Ia berjalan gontai ke kamarnya. Di hempaskanlah tubuhnya dengan malas ke atas singgasananya yang empuk itu. Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya, seolah sedang memikirkan sesuatu.

***

Ting tong…
Terdengar suara bel di rumah keluarga Jo. Youngmin segera bergegas membuka pintu, ia memang sudah menantikan kedatangan orang ini sejak tadi.

“Ahjumma, biar aku yang membuka pintunya,” ucap Youngmin pada wanita setengah baya yang merupakan pekerja rumah tangga di keluarga Jo. Wanita itu mengangguk dan kembali ke dapur menyiapkan makan malam.

“Noonaaa……….” Youngmin serta merta langsung memeluk Taerin erat-erat.
Taerin terkejut. Bagaimana tidak? Baru dua hari lalu mereka pergi bersama ke taman, namun kini Youngmin bertingkah seolah sudah bertahun-tahun tak bertemu guru privat-nya itu.

***

Sepanjang pengajaran Youngmin terus tersenyum menatap noona-nya yang sedari tadi menjelaskan segala jenis rumus, mulai dari matematika, fisika, sampai kimia. Taerin yang sudah biasa melihat tingkah anak didiknya itu tak menggubrisnya, ia tetap menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

“Hmm kemajuanmu cukup pesat Youngmin-ah, kau sudah ahli memecahkan rumus-rumus ini. Chukkae!!” puji Taerin sambil membolak-balikkan kertas di hadapannya. Ia tersenyum puas melihat anak didiknya yang semakin pandai.
“Tentu saja! Aku belajar cukup keras. Aku ingin segera lulus dari SMA Kangnam dan setelah itu aku akan menjalankan misiku,” ucap Youngmin menggebu-gebu.
“Bagus, aku menyukai semangatmu Youngmin-ah. Eh, ne? Misi? Memang kau punya misi apa setelah lulus?” tanya Taerin.
“Rahasia,” jawab Youngmin sambil tersenyum lebar.
“Arasso, arasso… Aku bisa membaca yang ada dalam pikiranmu Youngmin-ah,” goda Taerin sambil menyeringai pada Youngmin.
“Mwo?” Youngmin ketakutan. Taerin terkekeh melihat ekspresi Youngmin.
“Ya! Kau mempermainkanku noona-ya?” namja itu berpura-pura marah.
Taerin merasa bersalah, ia menyatukan kedua telapak tangannya. “Mianhaeyo…”
Youngmin memasang wajah cemberut, ditatapnya wajah Taeerin dengan datar.

Cup…
Namja yang usianya terpaut lima tahun dengan Taerin itu secepat kilat mendaratkan bibirnya pada pipi mulus Taerin. Taerin membelalakan matanya. Tentu saja dia terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari anak didiknya.

“Gomawo untuk pelajaran hari ini Taerin noona,” ucap Youngmin.
“Ne, tapi mengapa kau menciumku? Huh?” kedua alis Taerin bertaut.
“Anggap saja itu ucapan terimakasihku,” ucap Youngmin enteng.

***

Tidak seperti biasanya, malam ini Youngmin belajar cukup serius, ia tak menggoda noona-nya sama sekali, ia tak mengeluh bosan ataupun merengek-rengek minta keluar untuk jalan-jalan.

“Oke, fighting Youngminnie! I believe u can do it!” ucap Taerin. “Istirahatlah, pelajaran hari ini sudah cukup. Jangan lupa berdoa sebelum kau mengerjakan soal-soal ujianmu besok,” terang Taerin.
“Ne noona, arasso,” jawab Youngmin sambil merapikan buku-bukunya.
“Baiklah, aku pulang dulu, annyong…” Taerin bergegas pergi.
“Cham, aku akan mengantarmu pulang malam ini noona-ya,”
“Mwo? Shireo, besok kan kau ujian, istirahatlah.”
“Shireo! Pokoknya aku ingin mengantarmu. Lagipula tempat tinggal kita kan tidak terlalu jauh, jadi tidak akan memakan waktu lama,” Youngmin bersikeras.
Akhirnya Taerin menyerah, membiarkan namja imut itu mengantarnya pulang.

***

Sepanjang perjalanan Youngmin terus saja mengoceh berbagai hal pada Taerin. Sedangkan Taerin hanya tersenyum menganggapi ocehan namja yang sudah dianggap sebagai namdongsaeng-nya itu. Sampai akhirnya mereka sampai di depan apartement Taerin.

“Aku masuk dulu Youngmin-ah. Kau hati-hati di jalan, gomawo,” ucap Taerin.
Youngmin menarik tangan Taerin, menahannya beberapa detik kemudian bertanya, “Hmm noona, aku tak pernah melihatmu jalan dengan seorang namja. Apakah kau belum mempunyai namja chingu?” tanya Youngmin terbata-bata.
Taerin hanya tersenyum. “Pulanglah Youngmin-ah hari sudah semakin malam.”
“Noona, kau menyukai namja seperti apa? Malhaebwa…” pinta Youngmin.
Taerin menarik nafas panjang dan melepasnya perlahan. “Dengar, aku tidak mempunyai kriteria khusus, yang penting dia adalah namja yang mengenal Tuhan, setia, dan bertanggung jawab,” ucap Taerin.
“O, baiklah kalau begitu aku pulang dulu. Annyong noona…” Youngmin melambaikan tangannya. Taerin memperhatikan namja itu sampai menghilang dari pandangannya.

***

Youngmin berdiri di antara puluhan siswa SMA Kangnam. Ia mencari namanya pada kertas yang terpampang di papan pengumuman sekolahnya. Tidak sulit untuk mencari namanya, dalam sekejap ia sudah menemukan apa yang ia cari. Ia tersenyum lega, tidak lama lagi ia akan memasuki universitas, melepaskan predikat ‘siswa’ yang selama ini melekat di dirinya.

***

“Ha Young-sshi, kau mau menunggu sampai kapan?” tanya Minwoo.
“Molla, aku takut dia akan menolakku,” jawab Ha Young pesimis.
“Itu urusan belakangan, yang penting perasaanmu itu akan terasa lega nantinya. Dua tahun itu bukan waktu yang singkat Ha Young-ah. Dan lagi setelah kelulusan ini kurasa kau akan sulit bertemu dengannya. Yah, melihat hubungan kalian yang tidak begitu dekat, tentunya tak ada alasan untuk kalian bertemu di luar urusan sekolah,” terang Minwoo sambil menatap Ha Young dengan wajah cemas.
Ha Young hanya tertunduk lemas, ia tak punya nyali untuk menyatakan perasaannya pada namja yang dianggapnya terlalu sempurna itu.
“Ha Young-ah, eotthae?” Minwoo menggoyang-goyangkan pundak Ha Young.

“O, Youngmin-sshi!!!!” teriak Minwoo pada seorang namja yang melintas di hadapannya. Merasa namanya dipanggil, Youngmin menoleh, dengan agak ragu ia menghampiri Minwoo yang tengah duduk berdua dengan Ha Young di aula.

“Wae?” tanya Youngmin.
“Chukkae!! Kau masuk tiga besar, daebak!!” ucap Minwoo sumringah.
“Ne, gomawo. Aku juga ingin mengucapkan selamat padamu,” balas Youngmin.
“Untuk?” tanya Minwoo.
“Tentu saja untuk kelulusanmu, kelulusan kita,” ucap Youngmin tersenyum lebar. “Hhhh akhirnya sebentar lagi kita akan menjadi seorang mahasiswa,” namja itu menepuk-nepuk pundak chingu-nya. Youngmin mengarahkan pandangannya pada yeoja yang berada di antara mereka, “Oya, ada satu lagi. Chukkae atas hubunganmu dengan Ha Young. Ya! Aku tunggu traktiranmu Minwoo-ah”
“Ne?” tanya Ha Young terbata-bata. Youngmin hanya tersenyum tak mengindahkan pertanyaan Ha Young yang menurutnya tak memerlukan jawaban.
“Maksudmu?” Minwoo menimpali.
“Ya Minwo-ah, kau tidak usah berpura-pura padaku. Dua minggu lalu aku melihat kalian berdua sedang berkencan di taman,” terang Youngmin.
“MWO?” ucap Minwoo dan Ha Young bersamaan.
“Haha daebak, kalian benar-benar pasangan yang kompak,” ucap Youngmin penuh tawa. “Aku lapar. Sampai jumpa nanti malam, appa-ku akan mengadakan pesta atas kelulusanku, kalian jangan lupa datang ya… Annyong!”

***

“You’re my lady… You’re my lady…” cell phone Yongmin berdering.

“Yeobseo noona, kau ke mana saja? Mengapa kau menghilang beberapa hari ini? Aku sudah puluhan kali mencoba menghubungimu tapi cell phone-mu selalu tidak aktif. Kau baik-baik saja kan?” Youngmin langsung memburu Taerin.

“Ne, I’m fine Yongmin-ah. Beberapa hari ini aku pergi ke Osaka, aku ada sedikit urusan. Bagaimana berita kelulusanmu?” tanya Taerin perhatian.

“O, ku pikir terjadi sesuatu padamu. Aku khawatir padamu. Seharusnya kau memberiku kabar sebelum kau berangkat noona-ya. Hmm tentu saja aku lulus, dan masuk tiga besar noona!” jawab Youngmin semangat.

“Mianhae… Whoaa chukka!! Aku sudah mengira hasilnya akan memuaskan… Daebak Youngmin-sshi!!” jawab Taerin.

“Ne, gomawo. Kapan kau pulang? Malam ini akan ada pesta kelulusan di rumahku, kuharap kau bisa datang noona,” rajuk Youngmin manja.

“Hmm mianhae, aku baru akan pulang tiga hari lagi Youngmin-ah. Kau bersenang-senanglah, nikmati masa-masa kebersamaanmu dengan teman-temanmu. Suatu saat kau akan merindukan mereka,” terang Taerin.

“Aigooo…” jawab Youngmin lemas.

“Sudah dulu Youngmin-ah, aku harus melanjutkan pekerjaanku. Annyeong! Sekali lagi chukkae atas kelulusanmu,” ucap Taerin kemudian menutup cell phone-nya mengakhiri perbincangannya dengan namja tampan itu.

“Noona, bogoshippo…” ucap Youngmin lemas. Tentu saja Taerin tidak mendengarnya karena dia telah menutup cell phone-nya beberapa detik lalu.

***

Suara musik mengalun merdu di halaman rumah ber-cat biru itu. Terdengar tawa beberapa remaja yang tengah berbincang satu sama lain. Sedangkan Youngmin tengah memegang cell phone-nya, berharap Taerin menghubunginya malam ini.

“Youngmin-sshi,” Ha Young menghampiri namja itu dengan agak ragu.
“Ne, Ha Young-ah, wae?” tanya Youngmin.
“Mengapa kau tak berkumpul dengan yang lain?” Ha Young menunduk.
“Anni, aku lebih suka mengamati mereka dari sini,” jawab Youngmin.
“Oh,…” Ha Young membulatkan bibirnya.
“Kau sendiri? Mengapa kau membiarkan Minwoo mendekati para yeoja di sana? Mengapa kau malah menghampiriku? Bagaimana kalau namja chingu-mu itu bermain mata dengan yeoja lain?”tanya Youngmin basa-basi. Ia sama sekali tak menatap Ha Young, ia melayangkan pandangannya pada Minwoo yang tengah berkumpul dengan teman-temannya yang lain.
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu Youngmin-sshi,” ucap Ha Young mulai mengangkat kepalanya, ia beranikan diri untuk menatap Youngmin. Youngmin menatap Ha Young sejenak, kemudian…

Byuuuurrrr…

“OMO!” Youngmin berteriak dan bangkit dari tempat duduknya.
Seorang yeoja jatuh ke kolam renang rumahnya yang cukup besar itu. Sedetik kemudian Minwoo melompat ke dalam kolam untuk menyelamatkan yeoja yang ternyata tak bisa berenang itu.

Youngmin kembali pada posisi semula, duduk di kursi halaman rumah sambil menopang dagunya dengan kedua tangan putihnya. Demikian pula dengan Ha Young, ia kembali ke posisi semula, berniat melanjutkan kata-katanya.
“Ya… No Minwoo, jeongmal… Rupa-rupanya dia berniat jadi playboy. Hhh lagipula ada apa dengan yeoja itu? Bisa-bisanya terjatuh ke kolam, dasar kekanak-kanakkan. Apa enaknya sih berpacaran dengan yeoja remaja seperti itu? Hhhh,” Youngmin bermonolog sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ha Young tertegun mendengar celotehan Youngmin, kemudian ia bangkit dari duduknya dan mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perkataannya pada Youngmin. Ha Young pergi meninggalkan Youngmin seorang diri. Youngmin tak menggubris kepergian Ha Young, ia malah kembali menatap layar cell phone-nya. Namun orang yang diharapkan tak kunjung menghubunginya atau bahkan mengirimkan pesan singkat padanya. Youngmin mendengus, menyandarkan tubuhnya, tangannya mulai memijit-mijit kepalanya yang mulai terasa pusing.

***

Setelah pesta kelulusan di rumah Youngmin, Ha Young sama sekali tak pernah menampakkan diri di hadapan Youngmin. Ia semakin tak percaya diri berhadapan dengan Youngmin. Dan ia pun telah paham bahwa Youngmin tak menyukai gadis seumurannya yang dia anggap kekanak-kanakan. Ya, Ha Young menyerah.

***

“Youngmin-ah,” ucap Minwoo.
“Ne,” jawab Youngmin sambil memegang kotak kecil di tangannya.
“Apa yang kau katakana pada Ha Young malam itu?” tanya Minwoo.
“Ha Young? Tidak ada,” jawab Youngmin santai.
“Lalu? Mengapa dia terlihat sedih kemarin?” selidik Minwoo.
“Molla. Ya, kau itu kan namja chingu-nya, mengapa menanyakan hal itu padaku?” Youngmin balik bertanya.

“O, mungkin dia sedih melihat tingkah lakumu. Bukankah kemarin kau bertingkah sok pahlawan menolong Hyuri yang terjatuh di kolam?” goda Youngmin, kemudian dia menarik bibirnya membuat sebuah smirk namun tetap saja tak menghilangkan kesan imut di wajahnya.

“Youngmin-ah, kurasa kau salah paham,” ucap Minwoo sambil menghela nafas.
“Maksudmu?” tanya Youngmin yang masih fokus pada kotak merah di tangannya.
“Ha Young itu bukan yeoja chingu-ku. Selama ini kita dekat karena dia selalu menanyakan hal tentangmu. Dia menyukaimu. Ya, Oh Ha Young menyukaimu Jo Kwangmin, sejak kita kelas dua SMA,” terang Minwoo.

“Mwo?” Youngmin membulatkan matanya kemudian terkekeh.
“Ya! Kenapa kau malah ketawa?” ucap Minwoo sedikit ketus.
“Haha… Anni-ya, aku hanya merasa lucu saja, kupikir dia itu pacarmu. Minwoo-ah, bukankah kau mengenalku sudah cukup lama? Kau tau kan kalau aku tak suka tipikel yeoja seperti Ha Young?” tanya Youngmin mulai menahan tawanya.

“Ne. Tapi kau harus sadar Youngmin-sshi, tidak semua yeoja seumuran kita itu kekanak-kanakan. Kau terlalu cepat mengambil kesimpulan,” jawab Minwoo.
“Anni, mereka semua sama saja,” jawab Youngmin singkat.
“Ah terserah kau sajalah!” Minwoo kesal, ia melemparkan bantal yang sedari tadi menopang tubuhnya pada Youngmin.

“Ya! Kau ini kenapa? Jadi kau menginap di rumahku malam ini hanya untuk menceramahiku dan menjodohkanku dengan Oh Ha Young?” rutuk Youngmin.
“Bukan begitu, aku hanya tak habis pikir dengan tingkahmu yang sok dewasa itu!” suara Minwoo semakin meninggi. “Ya! Apa kau menyukai Taerin noona? Huh? Kulihat kalian begitu dekat sejak dia jadi guru privat-mu,” selidik Minwoo ia mulai memelankan suaranya. Youngmin mengangguk dengan pasti.

“Mwo?! Kau gila! Dia terlalu tua untukmu!!” bentak Minwoo.
“Cinta tak kenal batas usia Minwoo-ah, lima tahun itu bukanlah jarak yang jauh,” Youngmin meletakkan kotak merah yang ia pegang di meja belajarnya, kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya dan mulai memejamkan matanya.
“Tapi kenapa harus Taerin noona?” Minwoo membalikkan tubuhnya menghadap Youngmin. Youngmin hanya tersenyum simpul tanpa sedikitpun membuka mata.

“Bagaimana kalau dia tak menyukaimu?”
“Aku akan membuatnya menyukaiku,”
“Caranya?”
“Molla,”
“Bagaimana kalau dia sudah punya kekasih?”
“Anni, dia tidak pernah mengatakan hal itu padaku,”
“Kau pernah menanyakannya?”
“Ne,”
“Dia bilang, ‘belum’?”
“Anni,”
“Lalu?”
“Dia hanya tersenyum, dan kurasa jawabannya adalah ‘belum’,”
“Ya! Pabo! Kau pikir arti dari senyumnya itu adalah ‘belum’?” Minwoo bangkit dari tidurnya kemudian memandang garang pada Youngmin.

Youngmin terkejut, ia membuka matanya dan memukul Minwoo dengan guling yang ia pegang. “Berisik!! Kau itu bawel sekali!!” bentak Youngmin.
“Aku hanya ingin kau sadar Jo Youngmin-sshi! Yeoja seperti taerin noona itu tak mungkin belum punya kekasih. Dia memang yeoja sederhana, tapi dia termasuk yeoja yang menarik dan mengagumkan. Diusianya yang cukup muda dia sudah memperoleh gelar Sarjana. Selain itu dia yeoja yang cukup ramah dan tak banyak bicara, para namja pasti banyak yang menginginkannya,” terang Minwoo panjang lebar, berusaha menyadarkan chingu-nya yang tengah dimabuk cinta itu.

“Hmmm kau benar juga Minwoo-ya. Hajiman, aku akan menyatakan perasaanku dulu padanya, aku tak ingin terus memendam perasaanku padanya. Semoga saja dia bisa menjadi yeoja-ku,” ucap Youngmin tetap optimis.

“You’re my lady… You’re my lady…” Youngmin segera meraih cell phone-nya.

“Yeobseo, Youngmin-ah, aku sudah sampai di apartemenku sejak tiga hari lalu. Hajiman aku cukup sibuk, mian aku belum sempat ke rumahmu,” ucap Taerin.
“Ne noona, gwaenchana, kau pasti sangat lelah, istirahatlah,” jawabnya perhatian.
Youngmin kembali merebahkan tubuhnya, senyumnya merekah, sedangkan Minwoo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Youngmin.

***

Youngmin meraih kalender yang menghias di atas meja belajarnya, ia tersenyum melihat angka yang telah ia lingkari. 14 Februari 2012.

“Hhhh sudah tiga minggu aku tak bertemu Taerin noona, kuharap malam ini aku bisa bertemu dengannya. Aku akan membuatmu menyukaiku noona. Kau pasti akan menjadi yeoja-ku. Aku bersikeras belajar agar segera lulus sekolah. Setelah lulus, setidaknya aku bisa menyetarakan statusku dengan Taerin noona. Yeah, mahasiswa. Dan malam ini akan kujalankan ‘misi’-ku itu,” batin Youngmin.

Jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul enam sore. Youngmin segera bergegas merapikan diri. Cukup lama ia berdiri di depan cermin, menatap wajahnya sambil tersenyum. Ia menata rambut blonde-nya dan menyemprotkan parfum di tubuhnya. Wajahnya sangat tampan, senyum ceria menghiasi bibir merahnya. Kemudian ia mengambil coat putih-nya dan mengenakannya di tubuhnya yang semampai. Tak lupa kotak merah yang sudah ia bungkus rapi semalaman itu ia masukkan ke dalam saku coat-nya. Perfect, dia tampil sangat rapi dan tampan malam ini.

***

Ting tong…
Taerin segera membukakan pintu.
“Annyong noona…!” sapa Youngmin seraya memeluk tubuh Taerin erat-erat.
“Youngmin-sshi, long time no see…” Taerin tersenyum. “Kau tampan sekali malam ini,” Taerin menggerakan hidungnya, menangkap aroma yang terasa sangat segar, “dan…kau sangat wangi malam ini,” Taerin tersenyum lebar.
“Hehehe…” Youngmin terkekeh. “Bukankah aku memang selalu terlihat tampan dan selalu wangi noona-ya?” ia menyeringai.
“Ah, ne, ne, tapi malam ini kau terlihat beda Youngmin-ah, ayo masuklah,” ia mempersilahkan Youngmin duduk kemudian menyajikan secangkir coklat panas.

“Noona, ingat ya, sekarang aku bukan siswa lagi, aku sudah menjadi ma-ha-sis-wa,” ucap Youngmin dengan bangga.
“Ne, arasso. Kau sudah lulus tes universitas?” tanya Taerin.
“Ne, aku lulus dan akan masuk Seoul University. Finally, aku bisa satu kampus denganmu noona!! Huaaaaa bukankah itu sangat bagus?” soraknya.
Taerin tertawa mendengar celotehan Youngmin yang polos itu.

“By the way, happy valentine noona-ya…” Youngmin menatap Taerin dalam, wajahnya mulai terlihat serius, ia menunjukkan sisi manly-nya pada Taerin.
“Ah, ne, happy valentine too Youngmin-sshi…” jawab Taerin gugup.

Youngmin mendekatkan tubunya pada Taerin diraihnya tangan Taerin dengan lembut. Tangan kanan Youngmin memegang erat tangat Taerin, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk membelai rambut Taerin. Namja itu terus menatap sang noona. Sedangkan yang ditatap membisu, terlihat kebingungan. Dan…

Ting tong…
Taerin kembali ke alam sadarnya, Youngmin melepaskan pegangan tangannya. Yeoja itu segera menuju pintu, membukakan pintu menyambut orang yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Ya, ia telah menunggu orang itu selama 6 bulan.

Klek…
Pintu terbuka, seorang namja bertubuh kekar yang tingginya tak jauh berbeda dengan Youngmin muncul dari balik pintu apartemen Taerin. Ia mengenakan coat hitam yang semakin menampakkan sisi maskulinnya. Seketika itu juga Taerin langsung memeluk namja itu erat-erat. Terlihat kerinduan yang begitu dalam di mata Taerin. Namja itu menyambut hangat pelukan Taerin beberapa detik, kemudian melepaskan pelukannya dan mengecup lembut bibir yeoja di hadapannya. Yeoja itu membalas kecupannya dengan sedikit tak sabaran.

Sementara itu…
Youngmin mematung di sofa apartemen Taerin, dia teramat shock melihat pemandangan yang sangat meluluh lantahkan hatinya itu. Hatinya menjerit, matanya mulai berkaca-kaca, tangannya mengepal menahan rasa cemburu. Namun, ia tetap berusaha menahan emosinya yang mulai tak karuan, mencoba tetap bersikap tenang agar tidak salah bertindak.

“O, nugu?” tanya namja itu pada Taerin sambil melihat ke arah Youngmin.
“Ne? Oh, masuklah oppa, perkenalkan ini Youngmin,” ucap Taerin.
“Kim Hyun Joong imnida,” sapa namja ber-coat hitam itu.
“Youngmin imnida, Jo Youngmin…” jelas sekali getaran dari suara Youngmin.
“Ehm, aku ambilkan minum dulu untukmu oppa, kau berbincanglah dulu dengan Youngmin,” ucap Taerin sambil tersenyum.

Suasana hening, Youngmin tak melepaskan tatapannya pada Hyun Joong.
“Kim Hyun Joong? Siapakah dia? Namja chingu-nya kah? Tapi mengapa baru kali ini aku melihatnya?” batin Youngmin penuh tanda tanya.

“Ehm,…” namja yang usianya terpaut sembilan tahun dengan Youngmin itu berdehem. Tentu saja ia jengah dengan tatapan Youngmin yang tak kunjung usai. Youngmin mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian ia menunduk menenangkan hatinya. Sungguh ia sudah tak sanggup menahan rasa cemburunya. Namja di hadapannya ini benar-benar terlihat sempurna.

“Kau anak didiknya Han Taerin, Youngmin-sshi?” tanya Hyun Joong ramah.
“Eh? Oh, ne…” jawab Youngmin terbata-bata. “Dan kau?”
Hyun Joong tersenyum, “Aku?”
“Ne, apakah kau kekasihnya Taerin noona?” hati Youngmin semakin sesak.
“Anni,” jawab Hyun Joong singkat.
Youngmin terperanjat, “Bukan kekasih tapi berciuman? Lalu apa?” batinnya.
Seolah mampu membaca gelagat Youngmin yang kebingungan, Hyun Joong melanjutkan kalimatnya. “Aku tunangannya Taerin,” jawab Hyun Joong mantap.

Bing!!!
Seketika itu juga wajah Youngmin pucat pasi, ia mematung di tempat duduknya.
Taerin menghampiri kedua namja itu dengan sebotol soju di tangannya, tentu saja untuk ia berikan pada tunangannya, Kim Hyun Joong.

“Youngmin-ah, gwaenchanayo? Wajahmu pucat sekali,” Taerin menatap Youngmin dengan nanar, ia khawatir akan kesehatan Youngmin. Wajah namja itu terlihat pucat pasi, berbeda drastis saat ia baru memasuki apartemen Taerin tadi.
“A..a..an..anni-ya noona, gwaenchana. Aku pamit pulang dulu, annyong,” Youngmin membungkukkan badannya ke arah Hyun Joong dan Taerin.
“Ya, dongsaeng-ah, bagaimana kalau aku mengantarmu? Wajahmu benar-benar pucat. Kau tidak terlihat baik-baik saja,” ucap Hyun Joong perhatian.
“Anni-ya hyung, aku tidak apa-apa,” Youngmin segera meninggalkan sepasang makhluk itu dengan gontai dan hati yang bergemuruh.

***

“Pabo! Jo Youngmin pabo! Seharusnya aku mendengarkan kata Minwoo. Aish kalau statusnya itu hanya namja chingu, aku pasti akan terus mengejar Taerin noona, tapi ini tunangan, mereka sudah bertunangan!!” Youngmin memaki dirinya sepanjang perjalanan pulang.

***

Setelah melepas rindu dan merayakan valentine dengan Hyun Joong, Taerin menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang tadi diduduki oleh Youngmin. Kemudian ia melihat benda kecil di pojok sofa yang ia duduki, ia meraih benda itu dan membukanya perlahan.

“Apa itu chagi-ya?” tanya Hyun Joong dari balik punggung Taerin.
“Molla,” jawab Taerin kebingungan.
“Aku mandi dulu chagi, udara malam ini sangat dingin, aku ingin berendam dengan air hangat, sekaligus meregangkan otot-ototku yang terasa kaku,” ucap Hyun Joong sambil mengelus kepala Taerin penuh kasih sayang.
“Ne, setelah itu kau istirahatlah oppa. Mianhae, kau baru datang jauh-jauh dari Shanghai tapi malah ku ajak jalan-jalan sampai larut malam begini,” ucap Taerin sambil tersenyum pada namja yang sangat ia cintai itu. Kemudian setelah namja-nya pergi, Taerin kembali fokus pada benda kecil di tangannya.

Ternyata benda itu adalah sebuah MP4 berwarna merah, warna favoritnya. Dipasangnya headset pada kedua telinganya, kemudian ia tekan tombol ‘play’.

You’re my lady…
You’re my lady…
You’re my lady…with you…
Jakeunge mwo eottae jjalbeumyeon eottae…
Gwaenchanha gwaenchanha kkotbodeon…
Neoya yeppeuda yeppeuda namdeul boda…
Soknunsseopdo gilgo ttongbaedo gwiyeowo…
Yeppeunda hani yeppeo jyeottnabwa…
Gwaenchanhda hani baram nattnabwa…
Dagaanya Ha! Kkeutnange anya Ha!
Heeojin ge aniya…

Terdengar suara merdu Youngmin dari benda kecil itu.
‘Don’t Touch My Girl,’ lagu itu seolah mewakili perasaannya terhadap Taerin.

Setelah lagu usai, terdengar suara petikan gitar disusul oleh suara seorang namja,
“I like ur smile, I like ur voice, I like everything about u… Hmm aku sadar umurku terpaut lima tahun di bawahmu, namun aku rasa tidak ada yang salah dengan cinta. Ya, cinta tak pernah salah noona…”

Suara gitar masih mengalun, kemudian…
“Naneun, saranghamnida… Ye, seorang Jo Youngmin mencintai yeoja yang bernama Han Taerin. Would u be my girlfriend? Datanglah ke taman besok malam jam tujuh, dan berikanlah jawabanmu noona, aku akan menunggumu sampai kau datang…”

Suasana hening menyelimuti malam, benda kecil itu sudah tak mengeluarkan suara apapun. Taerin terdiam, menghela nafas panjang kemudian memejamkan matanya berusaha menenangkan fikiran. Sungguh di luar dugaan, perhatiannya pada Youngmin selama ini telah membuat Youngmin jatuh hati padanya.

“Waeyo?” tanya Hyun Joong melihat wajah tegang Taerin.
“Youngmin,… ternyata dia menyukaiku oppa,” Taerin membalikkan tubuhnya mengahadap tunangannya, kemudian ia menyerahkan benda kecil berwarna merah itu pada Hyun Joong.

***

“Pergilah, temui dia, namja seusianya masih cukup labil,” saran Hyun Joong.
Taerin melirik arlojinya sekilas, pukul tujuh, ia harus segera pergi ke taman. Tapi ia ragu, mengingat Youngmin telah bertemu dengan tunangannya.
“Apakah Youngmin akan tetap menungguku?” batinnya.

***

“Aigo kalau aku keluar malam ini, bisa-bisa aku mati kedinginan! Tapi, bagaimana kalau Taerin noona menungguku di taman? Aish pabo-ya! Kenapa kado-ku sampai tertinggal di sana sih? Harusnya aku bawa pulang kemarin! Kalau sudah begini, aku jadi bingung sendiri… Arght…” Youngmin bermonolog sambil mengacak-ngacak rambut blonde-nya.

***

Taerin menunggu Youngmin di ayunan taman tempat mereka biasa menghabiskan waktu bersama. Sudah lima belas menit yeoja ini menunggu, namun yang ditunggu belum juga menunjukkan batang hidungnya.

Tiba-tiba seseorang mengayunkan ayunan yang tengah diduduki Taerin. Seketika yeoja itu menoleh, dan didapatinya Youngmin sedang tersenyum padanya. Setelah keheningan menyelimuti mereka selama menit, akhirnya Taerin menghentikan ayunannya dan beranjak mendekati Youngmin.

“Youngmin-sshi,” ucap Taerin pelan.
“Ne, noona. Mianhae membuatmu menunggu,” jawab Youngmin.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Taerin.
“Tentu saja tidak,” jawab Youngmin singkat.
“Mianhaeyo…” Taerin menatap mata Youngmin penuh nanar.
“Untuk apa? Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku saja yang terlalu bodoh, menyukai yeoja yang telah memiliki tunangan,” Youngmin mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat, menghindari tatapan Taerin.

“Youngmin-ah,…” yeoja itu berusaha menangkap perhatian namja di hadapannya.
“Mianhae, selama ini aku hanya menganggapmu sebagai namdongsaengku, mianhae kalau aku menyakitimu,” terang Taerin.

“Menyedihkan! Gwaenchana, aku hanya kecewa mengapa noona tak pernah mengatakan bahwa kau telah mempunyai tunangan,” ucap Youngmin lemas.
“Itu karena aku merasa tak perlu mengatakannya padamu. Hubungan kita sebatas guru dan anak didik, jadi aku berusaha professional Youngmin-sshi. Ketika prestasimu meningkat, berarti tanggung jawabku telah kupenuhi. Tak ada sangkut pautnya dengan kehidupan pribadiku,” terang Taerin panjang lebar.

“Ne, kau benar noona. Aku rasa aku terlalu kekanak-kanakan selama ini. Salah mengartikan perhatianmu dan terlalu nekat untuk menyukaimu,” ucap Youngmin.
“Tidak ada yang salah Youngmin-ah,” Taerin mengusap wajah halus Youngmin dengan ibu jarinya dengan sangat sangat lembut.

Youngmin terhanyut, wajahnya terasa memanas saat jemari yeoja yang dicintainya itu mendarat di wajah halusnya. Ia memejamkan matanya, menikmati lembutnya sentuhan yang selama ini selalu ia dambakan dari seorang Han Taerin.
“Bukalah matamu Youngmin-sshi,” yeoja itu menghela nafas panjang. “Kisahmu masih panjang, temukanlah yeoja di luar sana yang benar-benar mencintaimu sepenuh hati, cinta seorang yeoja terhadap namja seutuhnya, bukan cinta seperti ini,” Taerin berbicara sehalus mungkin agar namja itu tak tersinggung.
Youngmin menundukan kepalanya dan mengangguk pelan.

***

BRUK!
Seorang yeoja berambut panjang menabrak tubuh Youngmin cukup keras. Keduanya terjatuh di lantai dekat kantin kampus. Para mahasiswa menghampiri dua makhluk itu, mereka menyaksikan pemandangan yang sangat mencengangkan. Bagaimana tidak? Saat ini Youngmin sedang tergeletak di lantai, seorang yeoja berada di atas tubuhnya, dan bibir mereka saling menempel!

“Omo! Mianhae,” yeoja itu membelalak dan segera menjauhkan bibirnya dari bibir Youngmin, namun tubuhnya tetap tak bergerak.
“Oh, ne, gwaenchana,” jawab Youngmin sedikit meringis. “Mian, bisakah kau segera bangun, aku sudah tidak kuat menopang tubuhmu,” pinta Youngmin.
“Aish! Ne, ne, mianhae,” yeoja itu segera berdiri dan merapikan bajunya.
“Apa kau mahasiswa baru juga di sini?” tanya Youngmin.
“Ne,” yeoja itu tersenyum.
“Ehm, Jo Youngmin imnida,” Youngmin mengulurkan tangannya.
“Han Yeora imnida,” yeoja berkulit putih itu menjabat tangan Youngmin.

Youngmin menatap wajah Yeora lekat-lekat. “Omo! Apakah ia kembarannya Taerin noona? Wajah mereka begitu mirip! Ah! tidak mungkin! Yeoja ini seusia denganku. Lagipula dia berasal dari Jjeolabuk, bukan dari Seoul,” batinnya.
“Wae?” yang ditatap merasa jengah.
“Anni, kau mirip dengan seseorang,” jawab Youngmin.
“Oh,” Yeora membulatkan bibirnya.
Youngmin tak henti-hentinya menatap Yeora, ia merasa bahwa Yeora begitu mirip dengan Taerin, dari wajahnya, gerak-geriknya, juga senyumnya. Ia membuat kesimpulan bahwa Tuhan telah mengirimkan Taerin yang jauh lebih muda untukknya. Senyum Youngmin melebar, demikian juga dengan Yeora.

END

This entry was posted by r13eonnie 강 하이에나.

7 thoughts on “[FREELANCE] Noona You Broke My Heart

  1. Masih asing kl dipanggil ‘author’ eon.. kkk..
    Gomawo eon udh baca, gimana2?? Kacau ya FF-nya??
    Haha sbnrnya endingnya mau sm Youngmin eon, tp tak sampai hati, yah u knowlah.. hehe.. eh, eunhyuk?? hmm..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: