Love Story part 8

Title             : Love Story part 8
Author        : Rifka Amalia / Min Rira
Cast              : Song Miyoung (OC), Kwangmin, Youngmin, Minwoo (Boyfriend), Namju (A Pink), Eunkyo (5dolls)
Genre           : Romance, Friendship
Lenght        : Chaptered
Rating          : General

Preview

“Would you be my girlfriend?” lanjut Youngmin yang sukses membuatku tambah galau. Harus ku jawab apa?

LOVE STORY : WHITE CONFESSION

 

Youngmin masih menatapku. Apa aku harus menerimanya? Atau menolaknya? Aku menyukainya. Tapi hanya sebagai teman. Tidak lebih. Sepertinya aku memang harus menolaknya. Eh tapi jika menerimanya siapa tau dapat melupakan Kwangmin. Okey aku telah memutuskan!
“Ne, I wanna be your girlfriend” jawabku seraya tersenyum padanya. Tersirat ekspresi kaget di wajah Youngmin. Sedetik kemudian dia memelukku sangat erat.
“Gomawo, jeongmal gomawo Miyoung-ah. Aku akan melakukan apa saja agar kau sepenuhnya mencintaiku”
“Ne, aku akan berusaha untuk mencintaimu Youngmin-ah”
Aku merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kepalaku. Kurenggangkan pelukan Youngmin. Aku menengadah ke atas. Salju? Yap! That’s first snow!
“First snow” kata Youngmin lirih namun aku masih bisa mendengarnya. “Apa kau tau mitos tentang first snow?” tanya Youngmin. Aku dengan cepat menggelengkan kepalaku.
“Ada mitos yang mengatakan jika sepasang kekasih melihat first snow bersama, cinta mereka akan abadi” jelas Youngmin padaku.
“Kau percaya mitos seperti itu? ku kira kau tidak percaya begituan” ledekku. Dia tersenyum kecut lalu mencubit pipiku gemas. Aku merintih kesakitan. Lalu dia menghentikannya.
“Kalau itu menyangkut kau dan aku, aku akan percaya. Karena aku berharap bisa bersama denganmu, Miyoung-ah”
“Gomawo Youngmin-ah”
Youngmin mendekat padaku lalu mengecup keningku.
“Ayo kita nikmati malam ini berdua. Hitung-hitung sebagai hari jadi kita yang pertama. Otteyo?”
Aku hanya menganggukan kepalaku tanda setuju. Youngmin tersenyum lalu menggandeng tanganku.
Kami berjalan mengitari tempat ini. Tak di sangka ternyata ada pasar malam di sini. Dengan penuh semangat, Youngmin menarik tanganku masuk ke dalam sana. Banyak sekali wahana permainan kecil-kecilan namun sepertinya menyenangkan. Kami mulai mengeksplorasi tempat ini. Sesekali kami mampir ke kedai makanan kecil. Kami juga bernarsis ria dengan berfoto-foto di sebuah photobox. Kami mengedit-edit foto tersebut. Menyenangkan sekali!
Untuk mengakhiri kesenangan malam ini, Youngmin mengajakku untuk menjajal wahana bianglala. Aku takjub melihat pemandangan yang kini di depan mataku. Kerlap-kerlip cahaya yang terpancar dari gedung-gedung atau pun jalanan di Seoul, mnghasilkan pemandangan yang sangat indah untuk dipandang. Ditambah salju yang sedang turun, menambah indah pemandangan ini.
“Apakah ini yang pertama kali kau menaiki ini?” tanya Youngmin padaku.
“Kalau naik bianglala uda sering. Tapi aku belum pernah melihat pemandangan seindah ini saat naik bianglala” jawabku sambil tetap menatap keluar jendela.
“Emmm, kau tau? Sebenarnya aku sangat benci musim dingin, terutama first snow” kata Youngmin setelah beberapa menit tidak ada yang memulai berbicara. Aku menoleh ke arahnya.
“Waeyo? Musim dingin kan menyenangkan”
“Karena…karena hal-hal yang tidak aku ingin akn selalu terjadi di musim dingin”
“Maksudnya?”
Youngmin menundukan kepalanya. Lalu mengangkat kepalanya seraya menghela nafas. Ada apa sebenarnya? Membuatku penasaran saja.
“Pada first snow saat umurku 7 tahun, untuk pertama kalinya aku dan Kwangmin melihat orang tua kami bertengkar hebat. Hampir saja eomma terkena pukulan appa kalau saja aku dan Kwangmin tidak berteriak untuk menghentikannya,”  ia melanjutkan, “dan tahun depannya orang tuaku bercerai. Mirisnya mereka dengan tega memisahkanku dengan Kwangmin, padahal kami saling membutuhkan satu sama lain. Eomma…dia lebih memilih Kwangmin hanya karena Kwangmin lemah, dia gampang sekali terkena penyakit. Jujur saat itu aku merasa dunia ini benar-benar tidak adil. Aku juga ingin hidup bersama eomma dan Kwangmin. Berkali-kali aku menangis agar aku bisa hidup bersama mereka. Namun percuma. Akhirnya appa membawaku ke Jepang agar aku bisa melupakan mereka. Apa kau tau? Itu semua terjadi saat first snow dan musim dingin”
Aku menatapnya miris. Dia benar-benar orang tertegar yang pernah kutemui.
“Setelah beberapa bulan di Jepang, appa menikah. Ia mulai melupakanku. Dia terlalu sibuk dengan istri barunya. Daripada di acuhkan begitu, aku sempat meminta ayah untuk tinggal bersama eomma dan Kwangmin di korea. Sialnya appa tidak mau mengabulkan itu” Bisa kulihat ekspresi marah Youngmin saat menceritakan itu.
“Selama bertahun-tahun aku lost contact dengan ibu dan Kwangmin. Itu membuatku sangat frustasi. Aku amat sangat merindukan mereka. Sampai suatu malam saat umurku 13 tahun, haaah… lagi-lagi terjadi hal yang buruk saat first snow. Aku mendapat kabar kalau…” Youngmin menghela nafasnya sejenak lalu melanjutkan, “kalau eomma meninggal dunia”
Aku menutup mulutku saking kagetnya. Youngmin menundukan wajahnya. Aku memutuskan untuk duduk di sebelahnya, sebelumnya aku duduk  di depannya. Youngmin menengadahkan kepalanya lagi. Berusaha untuk menahan tangisnya.
“Saat itu juga aku meminta appa pulang ke korea. Untuk urusan kali ini, appa mengabulkannya. Aku sempat membenci Kwangmin karena dia tidak bisa merawat eomma. Aku juga sempat bertengkar hebat dengannya gara-gara masalah ini. Mungkin ini yang membuat aku dan Kwangmin tidak seakrab dulu. Saat kami akan kembali ke Jepang, appa menyuruh Kwangmin untuk ikut dengan kami. Tapi di tolak mentah-mentah olehnya. Dia lebih memilih tinggal dengan haraboji di Busan. Namun dia pindah ke Seoul saat SMA ini. Aku sangat iri dengannya. Aku juga ingin hidup mandiri sepertinya”

Karena sejak tadi diam. Aku memutuskan untuk membuka suara, “waeyo? Sepertinya hidupmu lebih enak daripada Kwangmin”
Youngmin menatapku sekilas, “dari segi materi iya. Tapi aku tidak merasakan kebahagiaan. Hampa. Sejak umurku 15 tahun, aku tidak bisa bermain bebas seperti remaja seusiaku. Aku dituntut appa untuk berprestasi di sekolah sehingga aku bisa jadi penerus perusahaan. Sering kali aku menemani rapat atau membantu appa mengerjakan sesuatu. Bisa kau bayangkan kan? Aku benar-benar kehilangan masa remajaku! Makanya aku sangat senang saat appa menyuruhku menemani Kwangmin karena dia sakit dan tidak bisa melakukan apa pun sendiri. Ternyata kehidupan Kwangmin sangat menyenangkan. Benar-benar bebas. Teman-temannya juga sangat menyenangkan” Kulihat segurat senyum menghiasi wajah Youngmin. Sedetik kemudian Youngmin menatapku.
“Apalagi saat bertemu denganmu. Aku benar-benar merasa sangat beruntung. Aku…menemukan sosok eomma di dalam dirimu. Dan kenyataan yang indah adalah akhirnya first snow kali ini aku tidak menerima hal buruk, bahkan sebaliknya, ini adalah first snow terindah yang pernah ku alami. Jangan pernah meninggalkanku. Tetaplah di sisiku. Janji?” Youngmin mengacungkan kelingkingnya. Aku menyambutnya dengan mengaitkan kelingkingku di kelingkingnya. Setelah itu Youngmin memelukku erat. “Saranghae Song Miyoung. Jeongmal saranghae” bisiknya tepat di telingaku.

%%%%%%%%%

          Aku berjalan menuju ke halte bis dekat rumah. Ayah sedang tugas ke luar kota sehingga dengan terpaksa aku naik bis ke sekolah. Aku memasukan tanganku ke saku jaket. Pagi ini sangat dingin. Bodohnya aku lupa memakai syal dan sarung tangan.
Berulang kali aku menguap. Semalam aku tidak bisa tidur nyenyak. Cerita Youngmin masih saja berputar di otakku. Aku merasa sedikit bersalah jika mengingat sebenarnya aku tidak sepenuhnya mencintainya, malah mencintai kembarannya. Kenyataan pahit jika Youngmin mengetahui ini. Sepertinya aku memang harus membuka hati untuknya.
Tiba-tiba aku merasakan seseorang menepuk pundakku. Aku  terlonjak kaget dari lamunanku. Aku menengok ke arah orang itu. Betapa terkejutnya aku saat aku tau kalau orang itu YOUNGMIN!!
“Neo!” kataku terkejut. Dia hanya terkekeh pelan.
“Kau kenapa berjalan sambil malamun begitu? Oya, aku tadi ke rumahmu. Niatku sih mau mengajakmu berangkat bersama. Tapi kata eomma mu kau sudah berangkat duluan. Tapi syukurlah kau belum jauh dari rumahmu jadi aku masih bisa mengejarmu” jelasnya padaku. ia menatapku, membuatku tidak nyaman.
“Waeyo? Ada yang aneh dariku?”
Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah melepas syalnya. Saat ia hendak memakainkan syalnya padaku, aku menahannya.
“Andwae. Ntar kamu kedinginan”
“Aku kan namja jadi fisikku lebih kuat dari kamu. Sini aku pakaikan”
Aku hanya bisa menurut kalau dia sudah begini. Tapi jujur sebenarnya aku juga sedikit kedinginan hehe. Tapi bagaimana kalau Youngmin kedinginan ya?
“Youngmin-ah, bagaimana kalau kau kedinginan?”
“Sudah ku bilang tadi kan? Fisikku pasti lebih kuat karena aku namja. Gwenchana, tak perlu khawatir arrasho? Kajja kita berangkat” kata Youngmin. Ia mengambil tanganku dari saku jaketku, lalu menggandeng tanganku. Aku melihat tangannya yang sedang menggenggam erat tanganku. Hangat dan lembut, pikirku.

%%%%%%%%%

          Aku merasa risih karena setiap siswa menatapku dan Youngmin begitu sampai di sekolah. Ada yang kaget, sebal dan berbagai ekspresi yang mereka tunjukan saat kami melewati mereka. Ada yang salah kah dengan kami? Aku melihat diriku. Lalu mataku tertuju pada tanganku. Pantas saja semua melihat kami. Ternyata kami masih bergandengan tangan. Ah babo! Kenapa aku baru sadar.
“Youngmin-ah, lepaskan tanganku sekarang” pintaku. Sialnya ia tidak mengindahkan permintaanku. Justru semakin erat menggenggam tanganku. Aku berusaha melepasnya namun tidak bisa. Tenaga lebih kuat dariku.
“Youngmin-ah! Miyoung-ah! Kalian…” kata Minwoo yang tiba-tiba muncul di hadapanku dan Youngmin. Mulutnya terbuka lebar dan telunjuknya menunjuk ke arah tanganku dan Youngmin.
“Iya, aku dan Miyoung jadian. Waeyo Minwoo?” jawab Youngmin enteng.
“Mwo? Kalian JADIAN?” teriak seseorang di belakang Minwoo, Namju yang juga muncul tiba-tiba. Namju mendekat ke arahku dan Youngmin.
“Chukae Miyoung-ah, Youngmin-ah. Long last yah” ucapnya girang sambil menatapku sinis. “Oh Kwangmin-ah sini sini” sapa Namju lalu menarik Kwangmin sehingga Kwangmin berada tepat di depanku. Mata kami sempat bertemu namun buru-buru ku alihkan ke arah lain. Aku tak kuat melihatnya.
“Lihat Kwangmin-ah. Hyungmu sudah mendapatkan yeojachingu lho!” Ingin sekali ku robek mulut yeoja ini. Menyebalkan sekali!
“Jinjja? Kenapa kau tidak bilang padaku hyung kalau kau jadian sama Miyoung?” respon Kwangmin yang membuat hatiku sakit. Bagaimana tidak? Dia seperti…senang melihatku bersama Youngmin. Demi apa pun aku ingin mati sekarang. Tak kuat aku menahan sakit hatiku.
“Mianhae aku lupa bilang semalam Kwangmin-ah”
“Oh…geurae? Long last ya hyung” kata Kwangmin sambil menepuk pundak Youngmin.
“Kwangmin-ah, neon gwenchana?” tanya Minwoo seraya memandang aneh ke arah Kwangmin.
“Naega? Naega wae? Nan gwenchana”
“Kau…bukannya kau meny&(*I)((^&*”  belum selesai Minwoo berbicara, kwangmin langsung membekap mulut Minwoo.
“Ah..Minwoo ayo kita ke kelas. Annyeong!” Terdengar suara Minwoo yang tak jelas bicara apa karena Kwangmin tetap membekap mulutnya.
“Ayo kita ke kelas juga Miyoung” ajak Youngmin. Aku mengangguk, menuruti perkataanya.

%%%%%%%%%%

          Yaah seperti itu lah keseharianku sekarang. Berangkat sekolah bersama Youngmin, makan siang bersama di kantin, mengerjakan tugas bersama Youngmin, semuanya hampir aku lakukan bersamanya. Bahkan kami di mendapat julukan “Pasangan Ideal yang tak akan terpisahkan”dari teman-teman kami. Namun anehnya, perasaanku masih sama padanya. Tak ada sedikit pun cinta yang ku rasakan saat bersamanya. Berbeda saat aku bersama Kwangmin. Aku merasakan dadaku berdegup cepat dan aku selalu salah tingkah. Aah bagaimana ini? Bukannya aku sudah berjanji untuk mencintainya? Tapi kenapa tetap tak bisa?
Aku merasakan seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh. Ternyata Eunkyo.
“Ya! Kalau kau melamun begitu, kau bisa kesurupan” ujarnya. Aku hanya tersenyum tipis. Dia menyodorkan sebungkus cookies padaku.
“Gomawo”

%%%%%%%%%%%

Author PoV

Selama beberapa detik, tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka.
“Apa yang pikirkan?” tanya Eunkyo mulai membuka suara.
“Haah…Molla, aku bingung dengan diriku sendiri”
“Tentang Jo twins?”
Miyoung mengangguk, “aku bingung dengan perasaanku”
“I see. Aku juga akan merasa seperti itu kalau aku jadi kau. Kenapa kau dulu menerima cintanya?”
“Aku…ku kira aku bisa melupakan Kwangmin. Kerena saat itu aku merasakan sesuatu yang berbeda saat bersama Youngmin. Nyaman dan hangat. Namun anehnya sampai saat ini aku tidak merasakan sesuatu yang special saat aku bersamanya. Dan perasaanku tetep sama. Ahh sangat membingungkan!!”
Miyoung mengacak rambutnya frustasi.
“Apa kau punya pemikiran untuk mengakhiri hubungan dengannya?”
Miyoung diam. Berpikir sejenak. “Mollayo. Aku akan merasa bersalah jika mengakhiri ini semua. Youngmin sangat baik dan tulus padaku. Aku tak tega”
“Tapi itu artinya kau akan melukai perasaanmu sendiri”
“Tapi bagaimana caranya? Aku takut membuatnya sedih”
“Haaah…Terserah padamu lah”

%%%%%%%%%

Youngmin PoV

Berulang kali aku memencet tombol untuk menelpon Miyoung. Namun hasilnya sama saja. Ponselnya tidak aktif. Ada apa dengannya? Kenapa hari ini dia aneh sekali?
Aku berjalan tanpa arah. Bingung harus mencarinya kemana. Teman-temannya juga tidak tau di mana dia. Tak sengaja aku melewati taman belakang sekolah. Terdengar suara yeoja sedang bercengkrama. Tunggu! Aku tau suara siapa ini. Ini suara…Miyoung dan Eunkyo! Aku memutuskan untuk medekat. Saat aku hampir dekat, aku memutuskan untuk bersembunyi. Sepertinya mereka membicarakan sesuatu tentang aku dan…Kwangmin.
Aku mendengarkan percakapan mereka.
“Aku bingung dengan perasaanku” kata Miyoung. Aku merasakan ada yang ganjil.
“I see. Aku juga akan merasa seperti itu kalau aku jadi kau. Kenapa kau dulu menerima cintanya?”
Aku mulai menajamkan pendengaranku. Aku penasaran dengan jawabannya.
“Aku…ku kira aku bisa melupakan Kwangmin. Kerena saat itu aku merasakan sesuatu yang berbeda saat bersama Youngmin. Nyaman dan hangat. Namun anehnya sampai saat ini aku tidak merasakan sesuatu yang special saat aku bersamanya. Dan perasaanku tetep sama. Ahh sangat membingungkan!!”
DEG! Sakit. Ya, sangat sakit mendengar pernyataannya. Aku mengepalkan tanganku untuk menahan emosi. Kenapa dia masih saja mencintai Kwangmin, yang notabene adalah kembaranku sendiri?
“Apa kau punya pemikiran untuk mengakhiri hubungan dengannya?” Sial! Kenapa Eunkyo malah bertanya seperti itu,hah? Ku lihat Miyoung hanya terdiam, berpikir.
Tak lama kemudian dia membuka mulutnya, “Mollayo. Aku akan merasa bersalah jika mengakhiri ini semua. Youngmin sangat baik dan tulus padaku. Aku tak tega”
Eunkyo, kenapa dia berusaha memprovokasi Miyoung agar berpisah denganku? Demi apa pun ingin rasanya aku melenyapkan Eunkyo saat ini juga. Aku memutuskan untuk mengakhiri acara mengupingku saat kulihat Eunkyo dan Miyoung akan beranjak pergi.

%%%%%%%%%%%

Hari ini aku pulang sendiri karena Miyoung ingin bermain dengan Eunkyo. Aku tidak tau ini sengaja is lakukan untuk menjauhi atau ia benar-benar ingin bermain dengan eunkyo, mengingat mereka jarang bermain bersama.
Aku merebahkan tubuhku di kasur kesayangannku. Aku hampir saja terlelap kalau saja perutku ini tidak protes minta di isi. Aku baru sadar aku memang belum makan siang. Segera saja aku beranjak dari kasurku menuju dapur. Aku mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa kumakan. Nihil. Semuanya habis. Aku berdecak kesal. Namun aku mengingat sesuatu. Biasanya Kwangmin sering menyimpan makanan di kamarnya. Langsung saja aku meluncur ke kamarnya.
Aku mengubek-ubek kamarnya. Mencari makanan itu berada. Kini aku mencari di meja belajarnya, satu-satunya objek yang belum aku ‘ubek-ubek’. Dan…akhirnya aku menemukan ramyun di kaci meja belajarnya. Thanks god kau menyelamatkanku dari kelaparan ini hahaha.
Aku mengambil ramyun itu. Tak sengaja mataku menangkap sebuah buku hitam di bawah ramyun tersebut. Aku mengambil buku itu. ini seperti note. Karena penasaran, aku mengambil note itu. aku membuka halaman pertama note itu. Tidak, ini bukan sekedar note biasa. Ini buku diari Kwangmin. Aku tau ini salah jika aku membaca privasi orang. Masa bodoh ah. Aku benar-benar penasaran apa isi diari ini.
Aku membawa diari itu ke kamarku, setelah merapikan kamar Kwangmin tentunya, agar dia tidak curiga. Entah kenapa rasa penasaranku berhasil mengusir rasa laparku. Dengan perlahan aku membuka diari ini. Apa-apaan ini? Kenapa dia menggambar banyak pikachu di halaman depan diari ini? Dasar Kwangmin! Aku melanjutkan membuka lembar demi lembar diari ini. Ku baca dengan teliti. Kadang aku terkikik saat membaca kejadian konyol yang pernah menimpanya.
Aku hampir saja bosan membaca diari ini karena menurutku isinya tidak bermutu dan aneh. Itu semua berubah saat mataku menemukan banyak foto-hasil-jepretan-polaroid seorang yeoja di tengah-tengah  diari itu. Ternyata di lembar itu juga tertulis isi hati Kwangmin yang membuatku tidak percaya. Aku membuka lembar setelahnya juga. Masih menceritakan hal yang sama. Aku makin membuka lembaran itu.
Setelah selesai membaca diari itu, aku menyimpulkan sesuatu. Aku tak menyangka Kwangmin…Argh!! Ini semua membuatku gila! Maldo andwae!

TBC

Nb : Huwaaa akhirnya selesai juga. Mianhae, jeongmal mianhae yaa membuat readers menunggu lama. Soalnya emang kegiatan mulai padet semenjak masuk sekolah. Ini juga habis UHB >< #curhatdikit kkkk. Jeongmal gamsahamnida buat readers yang uda baca sekaligus comment FF ku🙂

This entry was posted by evildubu.

11 thoughts on “Love Story part 8

  1. aku kasian sama kwangmin grgr gk bisa bilang kalau dia suka sma miyoung, tpi kasian juga sma youngmin…
    tpi aku berharap kwangmin yang sama miyoung…

    pokonya lanjut thor ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: