[FREELANCE] Melt Down

Title: Melt Down

Author: Amutia

Genre: Drama, Hurt/Comfort, Romance

Type: Oneshoot

Rating: T

Main Cast: Jo Kwangmin (Boyfriend), Krystal (fx)

Author Note: Halo semuanya… Ini adalah fanfic Boyfriend pertama aku. Aku coba bikin fic tentang Boyfriend karena tertarik dengan teman aku yang bikin fic tentang mereka, berhubung aku juga suka Boyfriend. Ya, karena aku punya ide cerita jadi aku buat saja. Um… untuk alur, maju-mundur semoga tidak membingungkan karena ini pertama kalinya juga aku bikin alur cerita yang seperti ini.

Aku harap kalian suka dan jangan lupa beri komentar, kritik, dan saran-sarannya. Aku tunggu lho…
Oke! Langsung saja baca fanficnya.

Korea

Angin musim dingin berhembus perlahan, membawa udara dingin yang menusuk tulang. Penghujung tahun sudah dekat. Kota dihiasi dengan berbagai pernak-pernik khas natal. Pohon natal besar berdiri tegak di pusat kota. Berbagai macam gantungan dan lampu kecil bergantung pada pohon. Hanya satu hal yang kurang dari sana, salju.
Natal tinggal tiga hari lagi, tapi rasanya kurang pas kalau tidak ada salju. Itulah pikiran yang ada pada kebanyakan orang. Orang-orang tentu mengharapkan salju akan turun pada hari natal dan menjadi white crismast. Terlebih kalau ditemani dengan orang yang kau kasihi tentu akan sangat berkesan.

Tapi hal itu hanya angan-angan belaka bagi gadis berambut coklat ini. Gadis itu duduk di sebuah halte bus. Kedua telapak tangannya ia gosokan satu sama lain, mencari kehangatan saat angin kembali bertiup cukup kencang kali ini.

“Hh… lagi-lagi aku lupa memakai kaos tangan,” gerutunya sambil merapatkan mantelnya yang berwarna coklat. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku mantelnya. Ia berdiri saat sebuah bus berhenti di halte. Gadis itu lalu melangkah masuk ke dalam bus dan mencari tempat duduk. Beruntung ada satu tempat duduk yang kosong.

Sepanjang perjalanan, matanya menyapu setiap pemandangan yang ada. Suasana khas natal sangat terasa. Anak-anak berlari dengan riang di trotoar dengan pakaian musim dingin mereka yang lucu, gadis itu turut tersenyum melihat mereka yang tertawa-tawa.

Matanya berubah menjadi sendu saat melihat sepasang kekasih berjalan dengan mesra di trotoar. Mereka bergandengan tangan dan tertawa bersama, sungguh bahagia. Gadis itu mendesah. ‘Kapan aku bisa seperti mereka,’ pikirnya lesu.

Bus berhenti. Gadis itu beranjak dari kursi dan turun dari bus. Udara dingin kembali menyeruak saat dia keluar dari bus. Kaki jenjangnya ia langkahkan menuju sebuah stasiun yang cukup ramai.

Gadis itu duduk di sebuah kursi panjang dan menatap kosong pada apa yang ada di depannya.

“Lagi-lagi aku datang ke sini,” ucapnya pada diri sendiri. “Sebegitu berharapkah aku akan bertemu dengannya? Belum tentu dia akan datang kemari.” Ia mengeratkan genggamannya pada sapu tangan yang ia pegang.

Sebuah kereta muncul dari arah timur. Kereta itu berhenti dan menurunkan para penumpang. Sang gadis memfokuskan matanya mencari seseorang yang dia kenal, yang dia harapkan kedatangannya. Nihil, orang yang ia tunggu tidak ada.

“Babo, aku terlalu banyak berharap,” katanya lirih. “Tapi aku sangat merindukannya. Kwangmin…”

.
.

Flashback

Krystal duduk di sebuah kursi panjang ditemani oleh seorang pemuda. Ah, salah, yang benar ia yang menemani pemuda itu. Sebuah kereta berhenti di stasiun tersebut, membuat Krystal terlonjak. Perasaan tidak enak mulai merasukinya.

“Itu keretaku,” ujar Kwangmin memberitahu. Pemuda itu mengatakannya dengan wajah datar, membuat Krystal menggigit bibir bawahnya.

“Um, kalau begitu kita simpan barang-barangmu dulu,” ajak Krystal sambil berdiri. Kwangmin ikut berdiri dan membawa kopernya. Lalu mereka berjalan menuju kereta. Kwangmin masuk sendiri untuk menyimpan kopernya, sementara Krystal menunggunya di luar.

Kwangmin turun dari kereta dan menghampiri Krystal. “Ayo duduk di sana,” ajaknya sambil menunjuk sebuah kursi panjang tak jauh dari tempat mereka. Krystal mengangguk.

“Kenapa kau diam saja? Biasanya kau selalu banyak bicara. Apa kau sedih karena aku pergi?” tanya Kwangmin saat mereka telah duduk.

‘Tentu saja bodoh!’ batin Krystal. “Sedikit…” ucapnya lirih. Kenapa lidahnya tak mau menuruti hatinya?!

“Hm…” gumam Kwangmin. Kwangmin melirik ke arah tangan Krystal yang saling bertautan di atas pangkuannya. “Lagi-lagi kau tidak memakai kaos tangan, padahal kau itu gampang kedinginan,” kata Kwangmin lalu menarik kedua tangan Krystal dan menggenggamnya dengan kedua tangannya yang besar.

‘Kalau kau memperlakukan aku seperti ini, aku jadi tidak bisa lepas darimu,’ batin Krystal menatap tangannya yang sedang Kwangmin genggam. Rasanya terlalu berat hidup tanpa kehadiran Kwangmin di sisinya.

“Jadi, kapan sebenarnya kau akan ke Jepang?” tanya Krystal, suaranya sedikit bergetar.

“Um… setelah natal mungkin, aku juga tidak tahu,” jawabnya. “Sekarang aku pergi ke rumah orang tuaku dulu, lalu pergi ke Jepang entah kapan.”

“Kapan kau kembali?” tanya Krystal lagi.

“Entahlah… mungkin aku akan menetap di sana,” jawab Kwangmin.

“Berapa lama?”

“Tidak tahu, itu tergantung keputusan orangtuaku,” jawab Kwangmin. “Kenapa? Kau tidak ingin aku pergi?”

“Ya, aku tidak punya lagi teman untuk di ajak bercanda. Tidak ada teman yang apartemennya bisa aku kuasai seenaknya, mengambil makanan di kulkasnya dan menonton tv sepuasnya,” jawab Krystal sambil tertawa hambar, mencoba membuat suasana yang nyaman.

“Haha… Kau itu tetangga yang merepotkan tahu,” Kwangmin tertawa. “Hei, kalau kau bisa memilih dengan siapa kau akan bertemu, kau ingin bertemu dengan siapa?”
Krystal melihat ke arah Kwangmin, lalu ia mendesah. “Tidak tahu,” jawabnya. “Tapi yang aku tahu, hidup selalu berubah. Kita tidak tahu dengan siapa kita akan bertemu, dengan siapa kita akan berhubungan. Tapi, dua hal yang relatif di dunia ini…” Krystal menggantungkan kalimatnya.

“Apa itu?” tanya Kwangmin.

“Perubahan dan kehendak. Kedua hal itu saling berhubungan kan?” jawabnya pasti.

Kwangmin tersenyum. “Ya,” katanya, tangan kirinya menepuk kepala Krystal pelan. “Kau berubah ya? Semakin dewasa.”

“Kau selalu menganggapku sebagai anak kecil,” gerutu Krystal.

“Kau kan adikku.”

Tak ada lagi yang berbicara. Hening menyelelimuti mereka.

Kwangmin berdiri, melepaskan genggaman tangannya. Krystal menatapnya.

“Sebentar lagi keretanya berangkat,” ujar Kwangmin. Krystal terus menatapnya.

‘Ah… rasanya tangan ini hampa, kosong. Aku tidak ingin dia pergi, karena… aku terlalu mencintainya. Tuhan, kenapa aku baru sadar sekarang, saat aku akan kehilangan dia, aku baru sadar aku sudah terlalu dalam mencintainya,’ batin Krystal berseru.

Krystal berdiri dan keduanya mulai melangkah mendekati kereta. Kwangmin berhenti melangkah dan menatap ke arah Krystal.

“Kita tidak bisa merayakan natal bersama…” ujarnya. Krystal hanya mengangguk. Biasanya saat malam natal, mereka akan merayakannya berdua di dalam apartemen Kwangmin atau Krystal. Mereka teman, sahabat, sekaligus keluarga. Tapi Krystal memiliki perasaan lebih dari itu, dia tidak menganggap Kwangmin kakaknya, melainkan seorang lelaki yang ia cintai.

Rasanya dia sudah tidak sanggup berkata apa-apa. Dia sendiri tahu kalau dia bicara suaranya akan bergetar dan ia tidak bisa lagi menahan air matanya.

Gadis itu menarik napas lalu menghembuskannya. Bibirnya ia tarik membentuk sebuah senyuman. ‘Aku harus kuat, aku tidak boleh membuat Kwangmin khawatir.’
Krystal meronggoh tas kertas yang ia bawa dan mengeluarkan sebuah syal berwarna merah. Lalu ia pakaikan syal itu pada Kwangmin. “Hadiah natalmu, semoga kau suka,” ujarnya sambil tersenyum.

Kwangmin menatap syal itu lalu beralih pada Krystal. Dengan cepat ia memeluk gadis itu, mendekapnya dan membelai rambutnya.

“Terima kasih, terima kasih Krystal,” ucapnya berulang-ulang.

Krystal membalas pelukan Kwangmin. ‘Tuhan, bolehkan aku menangis sekarang?’ Air mata mengalir melalui pelupuk mata Krystal. Cukup sampai disitu ia menangis. Kwangmin melepas pelukannya.

“Aku benar-benar harus pergi,” ujarnya.

“Ya,” balas Krystal melepaskan pelukannya.

“Kau menangis?” tanya Kwangmin khawatir saat melihat bekas air mata pada wajah Krystal. Dengan cepat Krystal menghapus jejak itu.

“Tidak, aku tidak menangis,” kilah Krystal.

Kwangmin meronggoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna biru lembut dengan ukiran nama Krystal pada sudut kanan bawah. Diserahkannya sapu tangan itu pada Krystal.

“Hadiah natalmu,” katanya. “Maaf, sebenarnya aku bingung akan memberimu apa. Seharusnya aku memberimu kaos tangan, kau selalu lupa memakainya sih.”

“Tidak perlu, aku suka sapu tangan ini,” jawab Krystal tersenyum bahagia. ‘Karena dengan sapu tangan ini aku bisa menghapus airmataku.’

Kwangmin dengan tiba-tiba menarik Krystal dan menciumnya. “Selamat tinggal,” ucapnya. Lalu ia masuk ke dalam kereta. Kereta itu mulai meninggalkan stasiun. Krystal masih berdiri di sana sambil memegang pipi bagian bawahnya.

“A-apa itu tadi?” tanyanya entah pada siapa. ‘Tadi, dia menciumku, hampir mencium bibirku.’ Dengan cepat ia berlari keluar dari stasiun. Di luar, salju mulai turun. Tangis Krystal pecah, sesak memenuhi dadanya. Ia tidak tahu berbuat apa lagi selain menangis. Airmata yang sudah lama ia tahan tumpah begitu saja.

“Apa aku boleh berharap?” tanyanya lirih. “Akan aku simpan perasaan ini. Hanya perasaan ini yang tidak boleh berubah.”

Flashback End
.
.
Jepang

Pemuda berperawakan tinggi itu duduk sendiri di sebuah bangku taman. Digenggamannya ada sebuah gelas kertas yang berisi kopi, isinya tinggal setengah. Pemuda itu menghela napas, uap keluar dari mulutnya. Dia menengadah melihat langit yang penuh dengan awan berwarna kelam.

“Lihat! Salju!” seorang gadis tak jauh dari tempat pemuda itu berseru pada temannya. Pemuda itu melirik ke arah sumber suara dan melihat mereka dalam diam.

“Aku jadi ingin melihat kristal salju, katanya sangat cantik,” balas teman sang gadis, samar-samar terdengar oleh pemuda itu.

Pemuda itu bersandar pada bangku dan kembali menghela napas sambil melihat langit yang mulai menurunkan salju. “Krystal, eh? Dia memang cantik,” gumanya disertai senyum tipis terulas pada bibirnya.

“Ya, Kwangmin! Apa yang sedang kau lakukan, sendiri pula?” tanya seorang pemuda.

“Oh, hyung, sedang mengenang masa lalu,” jawab Kwangmin ramah.

“A… Sebentar lagi natal ya? Apa kau tidak akan pulang ke Korea?” tanya lelaki itu lagi.

“Entahlah…” balas Kwangmin. “Hyung sendiri?”

“Aku akan pulang sebelum tahun baru,” jawabnya tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang putih. Mau tak mau Kwangmin ikut tersenyum.

“Sebenarnya aku ingin pulang ke Korea,” ujar Kwangmin.

Lelaki yang lebih tua dari Kwangmin itu tersenyum. “Selamat menikmati liburanmu, Jaa na!”

“Ya…”

Kwangmin mengangkat syal merahnya sampai menutupi mulutnya. Tangannya ia julurkan, berharap butiran salju mendarat di telapak tangannya.

“Sudah tiga tahun, bagaimana dia sekarang ya?” tanya Kwangmin entah pada siapa. Dia meminum habis kopinya dan melemparkan gelas kertas itu ke dalam tong sampah.

.
.

Flashback

Kwangmin duduk di sebuah kursi panjang dengan Krystal di sampingnya. Pemuda itu sedang menunggu kereta yang akan membawanya pergi. Tak berapa lama, keteta itu datang dan berhenti di stasiun itu.

“Itu keretaku,” ujarnya dengan wajah datar. Meskipun dalam hati ia merutuki kedatangan ketera itu.

“Um, kalau begitu kita simpan barang-barangmu dulu,” ajak Krystal sambil berdiri. Kwangmin ikut berdiri dan membawa kopernya. Lalu mereka berjalan menuju kereta. Kwangmin masuk sendiri untuk menyimpan kopernya, sementara Krystal menunggunya di luar.

Melalui jendela yang berembun, Kwangmin melihat sosok Krystal. Perasaan sesak merasukinya. “Sial!” rutuknya pelan.

Kwangmin turun dari kereta dan menghampiri Krystal. “Ayo duduk di sana,” ajaknya sambil menunjuk sebuah kursi panjang tak jauh dari tempat mereka. Krystal mengangguk.

‘Dia jadi pendiam begitu,’ batin Kwangmin tidak enak. “Kenapa kau diam saja? Biasanya kau selalu banyak bicara. Apa kau sedih karena aku pergi?” tanya Kwangmin saat mereka telah duduk.

“Sedikit,” ucap Krystal lirih.

“Hm…” gumam Kwangmin. ‘Hanya sedikit ya?’ Kwangmin melirik ke arah tangan Krystal yang saling bertautan di atas pangkuannya. “Lagi-lagi kau tidak memakai kaos tangan, padahal kau itu gampang kedinginan,” kata Kwangmin lalu menarik kedua tangan Krystal dan menggenggamnya dengan kedua tangannya yang besar.

‘Kapan lagi aku bisa menggenggam tangannya?’ batin Kwangmin. ‘Apa dengan ini perasaanku bisa tersampaikan?’

“Jadi, kapan sebenarnya kau akan ke Jepang?” tanya Krystal tiba-tiba. Sedikit membuat Kwangmin tersentak.

‘Aku malah berharap tidak pergi ke sana,’ batin Kwangmin.

“Um… setelah natal mungkin, aku juga tidak tahu,” jawab Kwangmin. “Sekarang aku pergi ke rumah orang tuaku dulu, lalu pergi ke Jepang entah kapan.”

“Kapan kau kembali?” tanya Krystal lagi. ‘Aku tidak akan kembali karena aku ingin tetap di sini, bersamamu,’ batin Kwangmin. Ingin ia ucapkan semua kata-kata itu tapi yang lidahnya ucapkan bertolak belakang.

“Entahlah… mungkin aku akan menetap di sana,” jawab Kwangmin.

“Berapa lama?”

“Tidak tahu, itu tergantung keputusan orangtuaku,” jawab Kwangmin. “Kenapa? Kau tidak ingin aku pergi?”

“Ya, aku tidak punya lagi teman untuk di ajak bercanda. Tidak ada teman yang apartemennya bisa aku kuasai seenaknya, mengambil makanan di kulkasnya dan menonton tv sepuasnya,” jawab Krystal sambil tertawa hambar, mencoba membuat suasana yang nyaman.

‘Setidaknya dia sudah mulai banyak berbicara,’ batin Kwangmin lega. “Haha… Kau itu tetangga yang merepotkan tahu,” Kwangmin tertawa. “Hei, kalau kau bisa memilih dengan siapa kau akan bertemu, kau ingin bertemu dengan siapa?”

Krystal melihat ke arah Kwangmin, lalu ia mendesah. “Tidak tahu,” jawabnya. “Tapi yang aku tahu, hidup selalu berubah. Kita tidak tahu dengan siapa kita akan bertemu, dengan siapa kita akan berhubungan. Tapi, dua hal yang relatif di dunia ini…” Krystal menggantungkan kalimatnya.

“Apa itu?” tanya Kwangmin.

“Perubahan dan kehendak. Kedua hal itu saling berhubungan kan?” jawabnya pasti.

Kwangmin tersenyum. “Ya,” katanya, tangan kirinya menepuk kepala Krystal pelan. “Kau berubah ya? Semakin dewasa.”

“Kau selalu menganggapku sebagai anak kecil,” gerutu Krystal.

“Kau kan adikku.”

‘Kau memang aku anggap sebagai adik dan kau menganggapku sebagai kakakmu. Tapi, aku memiliki perasaan lebih dari itu. Aku menganggapmu sebagai seorang wanita, wanita yang aku cintai.’

Tak ada lagi yang berbicara. Hening menyelelimuti mereka.

Kwangmin berdiri, melepaskan genggaman tangannya. Krystal menatapnya.

“Sebentar lagi keretanya berangkat,” ujar Kwangmin. Krystal terus menatapnya.

‘Tolong jangan menatapku seperti itu, kau membuatku sulit untuk melepaskanmu.’

Krystal berdiri dan keduanya mulai melangkah mendekati kereta. Kwangmin berhenti melangkah dan menatap ke arah Krystal.

“Kita tidak bisa merayakan natal bersama…” ujarnya. Krystal hanya mengangguk. ‘Padahal aku berharap dapat mengahabiskan natal bersamamu. Nanti… tidak akan sama lagi tanpa adanya kamu di dekatku, Krystal.’

Gadis itu menarik napas lalu menghembuskannya. Bibirnya ia tarik membentuk sebuah senyuman. ‘Ah, senyuman itu. Aku pasti akan sangat merindukannya. Tetaplah tersenyum dan aku tidak akan merasa khawatir. Senyumanmu itu akan selalu teringat dalam diriku.’

Krystal meronggoh tas kertas yang ia bawa dan mengeluarkan sebuah syal berwarna merah. Lalu ia pakaikan syal itu pada Kwangmin. “Hadiah natalmu, semoga kau suka,” ujarnya sambil tersenyum.

Kwangmin menatap syal itu lalu beralih pada Krystal. Dengan cepat ia memeluk gadis itu, mendekapnya dan membelai rambutnya.

“Terima kasih, terima kasih Krystal,” ucapnya berulang-ulang. ‘Terima kasih sudah mengisi hari-hariku, menjadi teman dalam perjalanan hidupku. Andai kau tahu, kau yang ceroboh, yang selalu membuatku khawatir membuatku ingin selalu berada di sisimu, melindungimu. Tapi, itu tak bisa aku lakukan. Belum saat ini. Tunggulah dan aku akan menjadi pelindung bagimu selamanya. Aku titipkan hatiku padamu.’

Krystal membalas pelukan Kwangmin. Dapat Kwangmin rasakan kehangatan tubuh Kristal. Betapa inginnya ia tetap merasakan hangatnya tubuh Krystal. Ia tak ingin pergi jauh dari gadis itu. Lalu, Kwangmin melepaskan pelukannya.

“Aku benar-benar harus pergi,” ucap Kwangmin. ‘Tapi aku pasti akan kembali.’

“Ya,” balas Krystal melepaskan pelukannya. “Kau menangis?” tanya Kwangmin khawatir saat melihat bekas airmata pada wajah Krystal. Dengan cepat Krystal menghapus jejak itu.

‘Kalau kau menangis sekarang, aku masih bisa menghapus air mata itu. Tapi, saat aku tidak ada, aku tidak bisa mengapus air matamu. Aku tidak bisa menghentikan tangismu. Aku merasa tidak berguna.’

“Tidak, aku tidak menangis,” kilah Krystal.

Kwangmin meronggoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna biru lembut dengan ukiran nama Krystal pada sudut kanan bawah. Diserahkannya sapu tangan itu pada Krystal.

“Hadiah natalmu,” kata Kwangmin. “Maaf, sebenarnya aku bingung akan memberimu apa. Seharusnya aku memberimu kaos tangan, kau selalu lupa memakainya sih.”

‘Tapi aku harap sapu tangan ini bisa menggantikan aku untuk menghapus airmatamu.’

“Tidak perlu, aku suka sapu tangan ini,” jawab Krystal tersenyum bahagia.

‘Sial!’

Kwangmin dengan tiba-tiba menarik Krystal dan menciumnya. “Selamat tinggal,” ucapnya. Lalu ia masuk ke dalam kereta. Kereta itu mulai meninggalkan stasiun. “Gawat, aku tidak bisa menahan diri,” gumam Kwangmin pelan dan duduk di kursinya. “Hampir saja…” desahnya dengan wajah memerah.

Flashback End
.
.

Kala orang yang dicintai berada jauh, sekitar rasanya gelap dan sunyi tiba-tiba. Rasa hampa tiba-tiba mendesak masuk ke relung hati. Rasanya ada hal yang direnggut dari dalam dan tidak meninggalkan apa-apa, menjadi kosong. Walaupun kosong, tapi rasanya sesak. Bagaimana cara untuk menghilangkan rasa sesak itu?

Berteriak memintanya kembali, tapi hal itu tidak mengubah apa-apa. Diam, sama, tidak merubah apapun. Yang bisa dilakukan hanya menangis, tangis itu adalah perwujudan rasa sesal. Segala rasa yang tidak bisa tercurahkan digantikan oleh air mata. Sedih maupun bahagia, air mata selalu mengiringi.

.
.

Malam natal. Krystal kembali ke stasiun yang beberapa waktu lalu ia kunjungi. Dalam hati ia selalu berharap Kwangmin akan pulang. Cukup lama gadis itu duduk di kursi panjang itu. Kursi yang tiga tahun lalu ia duduk bersama Kwangmin, mengantar kepergiannya.

Cukup sepi stasiun itu. Mungkin karena malam natal, kebanyakan orang akan merayakannya di rumah atau dimana saja asal bersama keluarga dan teman-teman mereka.
Krystal bisa saja pergi merayakan natal dengan teman-tamannya, hanya saja perasaannya menuntunnya untuk pergi ke stasiun ini.

“Sebentar lagi tengah malam,” katanya sambil melihat jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya. “Sebaiknya aku pergi.”

Tepat saat Krystal beranjak, sebuah kereta berhentid di stasiun itu. Tapi Krystal tidak peduli, ia tetap melanjutkan langkahnya keluar stasiun.

Langit malam gelap tanpa bintang. Meskipun begitu, di bawah langit, jutaan cahaya menghiasi malam itu. Mata Krystal menatap langit itu. Matanya menemukan sebuah bintang yang cahayanya meredup, hanya sendiri di tengah langit yang gelap. “Kasihan sekali bintang itu… sendiri. Tapi aku juga sama.”

Tiba-tiba seseorang memeluk tubuh Krystal dari belakang, napas orang itu sedikit memburu. Krystal ingin berteriak tapi suara dari orang itu membuat suaranya tercekat.

“Akhirnya,” desah orang yang sedang memeluk Krystal itu. Krystal melirik ke arah bahunya. Sebuah syal merah bertengger di bahunya. Syal berwarna merah itu, Krystal mengenalnya. Suara orang itu, suara orang yang sangat ia rindukan.

“Kwang…min?” tanya Krystal ragu. Suaranya bergetar.

“Iya, ini aku,” jawab orang itu.

Sesak, dalam diri Krystal terasa rasa sesak yang tidak tergambarkan. Tangisnya pecah begitu saja.

“Ini… sungguh kau?” tanya Krystal lagi dengan suara parau. Air mata terus mengalir dari matanya.

“Ya, maafkan aku sudah meninggalkanmu,” ucap Kwangmin. Pelukannya ia eratkan rasa menyesal itu kembali datang. Krystal mengangguk, tak sanggup berkata-kata. Rasa bahagia memenuhi dirinya. Tangis yang ada menjadi perwujudannya.

“Kau boleh menangis sepuasnya, karena aku ada di sini. Aku yang akan menghapus airmatamu,” ujar Kwangmin. Tangannya menyentuh pipi Krystal yang dingin. Krystal berbalik dan balas memeluk Kwangmin, membenamkan kepalanya dalam dada Kwangmin.

Krystal menengadah, menatap Kwangmin. “Kau semakin tinggi saja,” katanya.

Kwangmin membelai Krystal. “Kau semakin cantik.”

Wajah Krystal bersemu merah. Seakan ia tidak pernah mendengar seseorang memujinya cantik. Banyak yang bilang seperti itu, tapi saat Kwangmin yang mengatakannya sangat berbeda. Ia merasa sangat bahagia.

Mereka berdua terdiam. Krystal menengadahkan kepalanya menatap langit. “Ah, bintangnya menjadi dua!” ujarnya senang. “Akhirnya dia ada yang menemani, sama sepertiku.” Krystal tersenyum sambil menatap Kwangmin.

“Krystal, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” kata Kwangmin.

“Katakan saja,” jawab Krystal.

“Tapi kau jangan terkejut.”

Krystal terdiam sebentar. “Mungkin,” jawabnya ragu.

“Krystal, saranghae…” ucapnya Kwangmin dengan sungguh-sungguh. Manik coklatnya memancarkan kesungguhan dan ketulusan.

Airmata Krystal kembali mengalir.

“Ke-kenapa kau menagis?” tanya Kwangmin.

“A-aku sungguh bahagia. Mendengar kata-kata itu darimu… aku sungguh bahagia.”

“Jadi…?”

“Aku juga mencintaimu Jo Kwangmin,” ucap Krystal. Perasaan bahagia tak lagi terbendung. Saat ia tahu lelaki yang ia cintai juga mencintainya. Rasanya bumi berhenti berputar sejenak.

Butiran putih turun dari langit. Kedua insan itu sontak menengadah. Lonceng berdentang, waktu sudah menunjukan pukul dua belas tepat.

“Ah… white cristmast,” ucap Kristal. Airmatanya masih mengalir, rasa bahagia ini sulit untuk dijelaskan.
Kwangmin mendekatkan wajahnya pada wajah Krytal. Krystal menutup matanya, air mata jatuh dari pelupukanya. Bibir Kwangmin menyentuh bibirnya dengan lembut. Ciuman yang hangat dan lembut di tengah hujan salju.

“Aku tidak pernah menyangka ciuman pertamaku rasanya seperti air mata.” Kwangmin terkekeh.
“Aku juga,” balas Krystal dengan wajah malu.

“Benarkah?” tanya Kwangmin tidak percaya. “Aku beruntung!” Uajrnya riang sambil memeluk leher Krystal.

“Keluar deh sifat kenak-kanakanmu,” kata Krystal sambil terkikik. “Tapi aku suka semuanya.” Dan Krystal mencium pipi Kwangmin.

Mereka berdua tertawa bersama. Walaupun salju turun dan udara dingin. Rasanya salju itu akan mencair akibat kebahagian sepasang kekasih itu.
Ya, mencair seperti perasaan hati mereka yang mencair dan menjadi satu.

They’re melt down.

End

This entry was posted by r13eonnie 강 하이에나.

14 thoughts on “[FREELANCE] Melt Down

  1. Bener-bener makasih banyak buat komentar kalian😀 aku jadi pengen buat fanfic lagi setelah baca komentar kalian. Makasih banyaaaak🙂

    Terus ada yang minta ceritain keseharian mereka, maaf, aku nggak bisa mewujudkannya. Karena ide saja udah mentok segitu-gitunya. Itu juga terinspirasi dari lagu walaupun hanya satu liriknya saja yg membuat aku pingin bikin fic ini. So ini bukan song fic yaaa

  2. really love it ;___;
    feeling nya dapat dan pendeskripsian suasana yang sangat nyata ;____;

    lebih bagus lagi kalau flashback seperti di atas dibuat berdasarkan sudut pandang casts.
    Jika ingin based on author POV akan rancu jika flashback yang sama dituliskan dua kali😀

    so far…… i love your writing a lot ^o^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: