[FREELANCE] Beautiful Day

Title: Beautiful Day

Author: Amutia
Genre: Drama, Romance
Type: Oneshoot
Rating:  T
Cast: Jo Kwangmin, Krystal (fx)
Warning: Semoga karakter di sini tidak out of character, tapi demi kelangsungan cerita, watak tokoh-tokoh di sini dibuat agar sesuai dengan jalan cerita.
AN: Sebuah fanfic yang tidak terlalu panjang dariku. Enjoy!

“Sekarang kau dimana?” tanya wanita muda itu sambil berjalan cepat keluar rumahnya. Sebuah ponsel yang sedang tersambung berada di telinga sebelah kirinya. Dengan cepat wanita itu memakai sepatu berwarna hitam dengan hak sedang dibantu dengan tangan kanannya.
“Aku sedang di jalan, sebentar lagi aku sampai,” jawab orang di seberang telepon dengan cepat. “Sabarlah sedikit Krystal…” pintanya sambil tetap fokus pada jalanan di depan.
“Bukannya aku tidak sabar, hanya saja kau sudah berjanji akan mengantarku ke tempat wawancara dan sekarang kau belum sama sekali ada di depan rumahku! Padahal kau bilang akan menunggu di depan rumahku jam delapan kurang dua puluh menit. Aku bisa terlambat Kwangmin…” ujar Krystal panjang lebar sambil berjalan munuju depan rumahnya dan menutup pagar. Dia melirik ke kanan dan kiri, berharap ia melihat mobil sedan hitam milik Kwangmin, tapi sayang ia tidak menemukannya.
Di dalam mobil Kwangmin mendesah pasrah. Dia berpikir betapa cerewetnya kekasihnya jika sedang kalap, seperti saat ini misalnya. “Aku sudah memasuki jalanan dekat rumahmu, tunggu saja,” ujar Kwangmin berusaha tenang, ia tidak mau membuat kekasihnya itu lebih kesal dari ini. Bisa-bisa Krystal mendiamkan dirinya seharian ini.
Mobil sedan itu meluncur pelan memasuki jalanan yang lebih kecil dan berhenti tepat di samping Krystal. Krystal menatap mobil itu, tak lama kemudian kaca mobil terbuka dan memperlihatkan seorang pria berumur 22 tahun dengan penampilan yang sedikit berantakan. Kwangmin sedikit menundukan kepalanya untuk melihat Krystal.
“Jangan bilang kau baru bangun,” tebak Krystal sambil mendengus dan melipat kedua tangannya di depan dada. Melihat kemeja yang Kwangmin pakai kusut seperti tidak diistrika dan dasi biru tuanya yang ia pasang longgar.
Kwangmin terkekeh. “Aku bahkan tidak tidur,” jawab Kwangmin sambil membukakan pintu mobil dari dalam. “Lembur di kantor.” tambahnya.
Krystal meraih pintu mobil tersebut dan membukanya lebih lebar agar ia bisa masuk. Krystal menghempaskan diri di sebelah kanan Kwangmin dengan muka kesal lalu menutup pintu mobil lumayan kencang. “Tidak ada romantisnya sama sekali. Seharusnya kau keluar dari mobil lalu membukakan pintu untukku.”
“Aku lelah. Lagipula kau bisa sendiri kan?” tanya Kwangmin sambil mulai menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Krystal.
“Kau sudah membuatku kesal pagi ini, bagaimana bisa aku konsentrasi saat wawancara nanti,” rutuk Krystal sambil melirik Kwangmin yang sedang serius mengemudikan mobilnya.
“Hm… aku tidak bermaksud,” ujar Kwangmin saat mereka berhenti di sebuah lampu merah. Pria muda itu melirik wanita di sampingnya yang sudah menjadinya kekasihnya sejak mereka berada di bangku SMA.
Krystal diam tidak menanggapi ucapan Kwangmin. Ia lebih memilih diam dan berusaha menghapalkan beberapa buah kalimat yang akan ia jadikan sebagai jawaban saat wawancara nanti.
Keheningan yang menyelimuti mereka membuat Kwangmin merasa risih. Ia tidak mau membuat Krystal kesal. Perlahan mobil sedan hitam itu menepi. Kwangmin mematikan mesin mobilnya.
“Kenapa berhenti?” tanya Krystal heran sambil melirik jam tangannya. “Kita tibak punya banyak waktu luang.”
“Tunggu sebentar,” ujar Kwangmin sambil keluar dari mobil dan menutup pintu. Krystal dapat melihat Kwangmin menyebrang ke seberang jalan dengan cepat.
“Mau apa dia?” tanya Krystal sambil mendesah pasrah. Ia sandarkan punggungnya ke kursi dan melihat jam tangannya lagi. Berharap ia tidak akan terlambat.
Tak lama kemudian Kwangmin kembali dengan sebuah buket bunga ditangannya. Krystal melirik ke arah Kwangmin, tepatnya ke arah buket bunga yang sedang pria itu pegang.
“Untuk apa kau beli bunga?” tanya Krystal sambil menunjuk buket tersebut.
“Ini untukmu,” jawab Kwangmin sambil menyerahkan buket bunga itu kepada Krystal. Krystal menerimanya dan menatap buket tersebut.
“Warna putih yang cantik dan bunga ungu ini manis,” ujar Krystal sambil memainkan bunga-bunga itu. Wajahnya terlihat sangat senang dan berseri-seri. Bagaikan rasa kesal yang beberapa saat yang lalu ada tiba-tiba menguap begitu saja. Kwangmin yang melihat itu tersenyum senang dengan wajah sedikit memerah.
“Baguslah kalau kau suka. Sebenarnya aku bingung bagaimana menghilangkan rasa kesalmu, lalu aku terpikir untuk memberimu bunga,” ujar Kwangmin sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Aku… selalu ingin melihatmu tersenyum.”
Entah mengapa ucapan Kwangmin yang terakhir membuat Krystal tersipu malu. Wanita itu menjadi salah tingkah. “Eh, itu… Kenapa kau memilih bunga ini?” tanya Krystal mengalihkan pembicaraan sambil mencoba menghilangkan warna merah pada pipinya dan debaran jantungnya yang mulai tidak karuan.
Kwangmin mendekat ke arah Krystal lalu menunjuk bunga berwarna ungu. “Yang ini namanya hyacinth dan yang putih ini bunga anyelir,” terangnya sambil menunjuk bunga berwarna putih yang mekar itu. “Mereka mempunyai arti sendiri.”
Krystal menatap Kwangmin. “Apa artinya?” tanyanya dengan antusias.
“Hyacinth ungu artinya ‘maafkan aku’,” jawab Kwangmin sambil menatap Krystal begitu lembut. “Jadi… maafkan aku sudah membuatmu kesal pagi ini,” tutur Kwangmin dengan rasa penuh penyesalan.
Krystal tertegun sejenak tapi segera digantikan dengan sebuah senyuman. “Aku maafkan,” ucap Krystal sambil memegang tangan Kwangmin. “Lalu, yang satu lagi apa artinya?”
“Akan ku beritahu nanti, setelah kita sampai di tempat wawancara. Kau tidak ingin terlambatkan?” tanya Kwangmin sambil mulai menyalakan mesin mobilnya. Mobil sedan Kwangmin mulai bergabung dengan kendaraan lain yang ada di jalanan.
Selama perjalanan tak ada yang berbicara. Kwangmin serius menyetir dan Krystal terlihat senang memainkan bunga-bunga yang ada di dalam buket itu sambil sesekali tersenyum.
Sedan Kwangmin sampai di tempat parkir di dekat sebuah gedung, tempat dimana Krystal akan melakukan wawancara. “Kita sudah sampai, jadi beritahu aku apa arti bunga yang satunya,” pinta Krystal membuka suaranya.
Kwangmin tersenyum tipis. “Artinya, semoga berhasil,” ujar Kwangmin. Krystal tersenyum senang mendengarnya dia memang sedang membutuhkan kata-kata itu.
“Terima kasih,” ucap Krystal bahagia senyum seakan tidak mau lepas dari wajahnya
.
“Masih ada arti yang lain,” ujar Kwangmin saat Krystal hendak membuka pintu. Krystal mengurungkan niatnya dan mendengarkan perkataan Kwangmin.
“Artinya, manis, cantik dan lugu,” jawab Kwangmin. “Aku rasa bunga itu cocok denganmu. Kau tahu, saat aku pertama kali melihatmu, aku pikir kau orang yang lugu. Tapi setelah lama mengenalmu, banyak hal yang aku tahu. Kau manis saat tersenyum dan kecantikan hatimu membuat aku terpikat padamu. Mungkin semua itu yang membuat aku tidak pernah bisa melepaskanmu.”
Perkataan Kwangmin yang jujur tadi sukses membuat jantung Krystal berdebar dengan sangat cepat. Wajahnya memerah dan lidahnya tiba-tiba kelu. Jujur saja, walaupun sudah lama menjadi sepasang tapi sehari-hari mereka bagaikan pasangan yang baru berpacaran beberapa minggu. Kwangmin selalu memberi kejutan yang manis bagi Krystal, dan tentu saja Krystallah yang membuat Kwangmin seperti itu.

“Kalau kau seperti itu, aku jadi ingin menciummu,” celetuk Kwangmin dengan semburat merah di pipinya, tapi senyum jahil tak lepas dari bibirnya.

“Kau hanya mau menggodaku!” ujar Krystal, wajahnya masih memerah, bahkan mungkin lebih merah dari sebelumnya.

“Padahal aku serius,” ucap Kwangmin dengan lesu. Krystal mendelik, lalu terduduk lemas. 

“Hei, tatap aku,” perintah Krystal. Kwangmin menurutinya masih dengan wajah yang lesu.

Cup

Sebuah kecupan mendarat di bibir Kwangmin tentu saja Krystal yang menciumnya. Kwangmin dapat melihat wajah Krystal yang memerah sesaat sebelum wanita itu keluar dari mobilnya dan meneriakan kata terima kasih. Di dalam mobil, Kwangmin menyentuh bibirnya dan wajahnya kembali memerah. Lalu ia berteriak kegirangan yang masih bisa Krystal dengar. Gadis itu menggerutu pelan tapi tersenyum bahagia.

Ya. Hari bukan hari yang menyebalkan bagi mereka, tapi salah satu dari hari indah mereka.

The End
This entry was posted by r13eonnie 강 하이에나.

8 thoughts on “[FREELANCE] Beautiful Day

  1. sik asik sik asik # kok’ jdi kyak ayu ting ting…
    keinginanq stelh bca ff ini :
    * di antr sma kwangmin
    * dibeliin bunga sma kwangmin
    * ngeliat kwangmin dgn gya yg sdikit brntkn ( kmeja yg g’ disetrika, dsi yg sdikit longgar)
    * dengar kta” indh dri kwangmin……

    thor,,, q tunggu karya2 lainnya yach!!!!
    ^ Hwaiting ^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: