[FREELANCE] I’ll Be There

  • Tittle    : I’ll Be There
  • Author : Enny hutami
  • Lenght : Oneshoot
  • Genre  : Romance, Sad
  • Rating : General
  • Cast     :
  1. Jo Kwangmin
  2. Yang Ji Won

~ooOoo~


Andai saja penyesalan tidak akan terasa setelah suatu kejadian, mungkin saja aku tidak akan seperti ini. Tapi jika sebuah penyesalan itu terjadi sebelum suatu kejadian, itu bukanlah hidup. Bisakah kalian memikirkan hal seperti itu? Kurasa jawabannya tidak. Karena semakin lama kau memikirkan itu, akan semakin kacaulah pikiranmu. Sama halnya seperti aku sekarang ini.

~ooOoo~

Sudah hampir satu minggu ini aku tidak berbicara dengannya. Jangankan bicara. Bertemu saja sudah sangat sulit sekali. Kesibukannya akhir-akhir ini benar-benar gila! Belum lagi dia akan berangkat ke Jepang karena diundang oleh sebuah acara disana.

“Kapan kau akan kembali?” tanyaku padanya lewat telfon. Sebenarnya aku sudah sangat malas mendengar ini. Siapa, sih, yang tak gusar melihat banyak gadis-gadis yang jauh lebih cantik atau manis dariku mengelu-elukan namanya dan bersikap centil didepannya? Aku tahu inilah resikonya kalau aku mempunyai kekasih seorang idola seperti Jo Kwangmin. Tapi ternyata tak semudah apa yang kupikirkan sebelumnya. Kupikir aku akan dengan mudah melihatnya seperti itu dan ditinggalnya karena kesibukan grupnya. “Aku butuh kau, Kwangmin-ah.”

Kudengar dia berbicara dengan seseorang disebrang telfon sana. Sepertinya dengan anggota grup lainnya karena dia meneriaki kata Hyung. Aku menghela nafas. “Aku tak tahu, Ji Won-ya.” Katanya dengan cepat. “Segera aku kembali. Aku akan selalu ada kalau kau membutuhkanku. Tapi, aku harus pergi sekarang. Sampai nanti.” Lalu dia menutup telfonnya.

Aku merosotkan tubuhku dikursi taman di sekolah. Bahkan dia tak pernah memanggilku Jagiya selama kami menjalin hubungan beberapa bulan yang lalu.

“Kau lelah dengannya, Ji Won-ssi?” aku cepat-cepat membenarkan posisiku dan mencari seseorang yang berbicara.

“Kau… No Minwoo, bukan? Temannya Kwangmin?” tanyaku begitu melihat seseorang yang sering kulihat berada didekat Kwangmin jika berada sekolah. Dan akupun juga sering melihatnya di televisi bersama grupnya, Boyfriend, dan tentu saja dengan Kwangmin.

Kulihat ia tersenyum dan ikut duduk disebelahku. Aku menggeser tubuhku sedikit agar dia bisa duduk. Aku menatapnya heran. Sedang apa dia disini? “Ne,” katanya. “Kau tahu Kwangmin akan ke Jepang?”

Lagi-lagi aku menurunkan bahuku pasrah. “Aku tahu. Dan bukankah harusnya kau juga kesana?” giliranku bertanya padanya. Bukankah alasan Kwangmin ke Jepang karena urusan grupnya?

Lagi-lagi dia tersenyum dan tertawa renyah. “Hanya Kwangmin dan Youngmin Hyung yang berangkat hari ini. Aku dan yang lain berangkat besok siang.” Jawabnya.

“Kenapa seperti itu?” tanyaku penasaran. Lalu apa yang akan mereka lakukan disana berdua? Kenapa Kwangmin tak memberitahuku?

“Akan ada penggemar yang diberi kejutan oleh mereka berdua.” Sahutnya. Jadi karena penggemarnya ya? “Ini ide Manager bukan ide mereka berdua.” Lanjutnya begitu dia melihat raut wajahku berubah.

Aku tahu, jawabku dalam hati. Aku tahu Kwangmin sangat peduli dengan penggemarnya. Menurutnya, grupnya tidak akan seperti ini kalau bukan karena penggemar. Aku sangat mengerti itu. Lalu aku harus bagaimana? Aku sudah lelah seperti ini.

“Kau tidak pulang?” aku meliriknya. Dia sedang menatapku heran. “Sekolah sudah mulai sepi. Kau mau tetap disini?” tanyanya lagi.

Aku menatap lurus kedepan tanpa menjawab pertanyaannya. Aku menghela nafas berat lalu menghembuskannya dengan berlebihan dengan menggembungkan mulutku lalu melompat berdiri. “Aku akan pulang sekarang.” Kataku padanya sambil mengambil tasku yang kuletakkan dibawah bangku. “Terima kasih sudah memberitahuku, Minwoo-ssi. Annyeong.” Aku membungkukkan badan sedikit lalu melangkahkan kakiku dengan menghentak-hentakkan sepatu.

~ooOoo~

Sudah tiga hari berlalu. Hari ini Kwangmin dan dua member lainnya, Youngmin dan Minwoo sudah terlihat disekolah. Tapi Kwangmin belum menghampiriku ataupun menyapaku. Akupun belum menemuinya.

Disanapun dia tak menghubungiku dan aku tak bisa menelfonnya. Ponselnya mati. Mungkin dia sudah mendapat gadis lain yang lebih dariku atau gadis itu dari kalangan sepertinya, pikirku.

“Kau tidak menemuinya?” aku tidak menoleh untuk menjawab pertanyaan Park Sooyoung, sahabatku, aku hanya menggeleng lemah menjawabnya. “Wae? Aku tahu kau merindukannya.”

Aku hanya tersenyum kecut sambil memainkan ponselku diatas meja kafetaria sekolah. Aku tahu resiko kalau aku menemui Kwangmin disekolah. Pasti tatapan tak suka dari beberapa gadis yang menyukai Kwangmin mendarat padaku.

“Tak usah pedulikan orang lain, Ji Won-ah.” Kata Sooyoung seakan tahu apa yang kupikirkan. Dan, yah, pada kenyataannya aku memang mudah sekali ditebak.

Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. “Baiklah, baiklah. Aku akan menemuinya sekarang.” Kataku lalu pergi keluar kafetaria sekolah dan melangkahkan kakiku menuju ruang kelas Kwangmin. Kelasnya bahkan disamping kelasku! Tapi aku tak melihatnya atau dia menghampiriku.

Aku mencari sosoknya dari kaca. Aku melihatnya sedang mendengarkan musik dari mp3 miliknya dan tertidur dengan tangannya yang disilangkan didepan dadanya. Itu pemberianku dulu sebelum aku menjadi kekasihnya. Tak terasa senyum tersungging dari bibirku melihatnya masih membawa mp3 itu.

“Jo Kwangmin.” Panggilku dari depan pintu dan hanya memasukkan kepalaku sedikit kedalam ruang kelas itu. Aku tahu ini bodoh. Jelas-jelas dia tertidur sambil mendengarkan lagu.

Seorang laki-laki—aku tak tahu siapa—melihatku sedang memanggil Kwangmin. Dia menatapku dengan tatapan bertanya ingin-ku-bangun-kan? Aku menggelengkan kepala. “Tidak usah.” Kataku lalu menundukkan kepalaku. “Terimakasih.” Lanjutku lalu pergi.

Terlihat sekali kalau Kwangmin sangat lelah. Tidak biasanya dia tertidu dikelas. Jadi kuurungkan niatku untuk bertanya padanya. Aku membalikkan badanku dan ternyata aku menabrak seseorang. “Maaf.” Kataku tanpa melihat siapa yang kutabrak dan melangkah pergi seraya menunduk serta menyeret kakiku agar kembali ke kelas.

“Kau tidak menemuinya, Ji Won-ssi?” aku menoleh ketika suara berat itu bertanya padaku. Dia—saudara kembar Kwangmin, Jo Youngmin—memandangku heran.

Aku menggelengkan kepalaku lemah. “Kelihatannya dia sangat lelah.”

Kulihat dia mengangguk. “Ne. Kami semua lelah bukan hanya dia.” Sahutnya. “Ohya, Ji Won-ssi Donghyun Hyung ingin kau ke tempat latihan lagi.” Lanjutnya ketika aku ingin membalikkan badanku.

Aku mengangguk mengerti. “Mungkin lain kali.” Jawabku lalu pergi meninggalkan-nya untuk kembali kekelas.

~ooOoo~

Akhirnya kesibukkan Kwangmin perlahan-lahan berkurang. Musim dingin juga sudah menyelimuti kota. Tapi tetap saja dia tak menghubungiku. Dia hanya menyapaku jika kami berpas-pasan disekolah ataupun menyunggingkan senyumnya yang tetap saja masih tak biasa untukku.

“Ji Won-ah, apa kau yakin Kwangmin Oppa menyukaimu? Aku sangat tidak yakin akan itu.”

Aku menghiraukan mereka dan terus membasuh tanganku yang terluka karena terkena gunting yang sedang kumainkan dikelas tadi.

“Aku bahkan tak pernah melihatmu bersama Kwangmin Oppa.” Ujar gadis yang bertubuh pendek. “Apa dia pernah mengatakan kalau dia mencintaimu?” aku tercengan mendengarnya. Kwangmin memang belum pernah mengatakan kalau dia mencintaiku. Bahkan dia hanya sekali membisikkan kata aku menyukaimu. Setelah itu dia tak pernah mengatakannya lagi.

“Jadi belum pernah, ya?” aku menoleh pada gadis yang berambut panjang hitam lurus dengan poni yang menutupi dahinya. Kulihat dia tersenyum mengejek. “Berarti dia hanya menganggapmu penggemarnya saja.”

Aku menggigit bibir bawahku. Tidak mungkin. Jangan terpancing dengan mereka, Yang Ji Won. Aku mengingatkan diriku sendiri. Lalu aku menyunggingkan senyumku pada mereka. Mereka menatapku bingung. “Terima kasih. Aku akan mengingatnya.” Kataku lalu pegi meninggalkan mereka dengan telapak tanganku yang ku kepal erat-erat menahan emosi. Rasanya aku benar-benar ingin menangis. Mereka benar. Kwangmin tak pernah mengatakan kalau dia mencintaiku ataupun menyukaiku walaupun sudah satu kali dan itupun dia membisikkannya ditelingaku. Apa dia tak mau orang-orang tahu kalau dia menyukaiku? Maka dari itu dia hanya membisikkannya ditelingaku.

Malamnya, aku terus memikirkan kata-kata kedua gadis itu di toilet sekolah. Aku duduk dibawah jendela sambil memeluk lututku dan memegang erat hadiah ulang tahun dari Kwangmin, bola kristal dengan beberapa butiran mirip salju didalamnya dan semua serba putih. Benda ini memang tidak mahal, tapi ini selalu mengingatkanku padanya. aku tahu dia sangat menyukai musim dingin. Terlebih lagi kalau salju sudah mulai turun. Sedangkan aku tak begitu menyukai musim dingin karena suhu tubuhku yang mudah sekali turun.

Langit tidak begitu cerah. Cahaya dari bulan tak bersinar begitu terang malam ini. Aku memutar bola kristal ini supaya salju bohongannya ini seolah-olah turun dari langit. Dalam waktu yang lama, mataku menerawang menatap bulan sambil menggenggam erat bola kristal pemberian Kwangmin dan berpikir. Mungkin itulah yang terbaik untukku dan untuknya juga.

~ooOoo~

Aku sudah menduga dia akan berada disini. Kulihat ia membelakangiku. Dia mengenakan jas cokelat muda dan syal merah yang melilit lehernya.

Aku menghela nafas menguatkan diri sambil mempererat pengangan tanganku pada bola kristal pemberiannya. “Kwangmin.” Panggilku.

Dia berbalik dan menatapku terkejut. “Ji Won-ya, kenapa kau disini?” tanyanya padaku. Aku memiringkan kepala dan mencoba tersenyum. Kulihat ia membalas senyumanku. Senyumnya benar-benar membuatku gila. Kata-kata yang sudah dikepalaku buyar. “Kenapa membawa itu?”

Aku menoleh padanya dan mengikuti arah pandangnya. “Oh, ini.” Aku mengangkat bola kristal ini dan menyerahkan padanya. “Ini. Aku mau mengembalikannya padamu.”

Dia menolak dan mengembalikan padaku lagi. “Kenapa? Ini hadiah ulang tahunmu dariku, bukan. Kenapa dikembalikan? Ini milikmu.”

Aku menghela nafas mengatur detak jantungku yang tak beraturan. “Aku mau mengakhiri ini.” Ujarku. Ada perasaan lega namun juga takut muncul didalam diriku. Aku tahu aku bisa melakukan ini.

Kulihat raut wajahnya berubah. Percampuran kaget, sedih, marah dan lainnya yang aku tak tahu itu apa. “Kau… apa alasanmu?” tanyanya sedikit bergetar.

“Aku tahu resiko menjadi kekasihmu. Dan aku bisa menerimanya. Tapi belakangan ini kau tak ada kabar. Aku hanya melihatmu disekolah tapi kau hanya tersenyum padaku tiap kita berpas-pasan di koridor dan tidak menyapaku.” Jelasku. “Aku sangat lelah dengan itu. Bahkan aku ragu kalau kau menyukaiku, Kwangmin-ssi.” Kini aku memanggilnya dengan formal. Entahlah. Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku.

Kulihat ia hanya menatapku sedih. Andai aku bisa mendengar pikirannya sekarang. Dia terlihat begitu… tenang walaupun ada sedikit rasa sedih yang tergambar diwajahnya. Apa benar kalau dia memang tak menyukaiku? Aku… aku… apa selama ini hanya bertepuk sebelah tangan?

Kurasakan wajahku memanas. Aku berbalik dan memalingkan wajahku agar dia tak melihat wajahku yang hampr menangis. Aku meninggalkannya pergi. Setelah sampai dibawah, ponselku bergetar tanda pesan masuk. Aku tak tahu ini siapa karena nomornya tidak dikenal.

Kau dimana Ji Won? Aku sudah dengar keputusanmu untuk mengakhiri hubunganmu dengan Kwangmin. Jangan. Dia sudah membuat rencana yang spesial untuk hari jadi kalian berdua yang ke-6.

No Minwoo

Aku terpaku melihat tulisan ini. Jadi… apakah benar? Aku mengangkat bola kristal itu dan cepat-cepat kembali keatas. Sepi. Dia sudah tidak ada. Kemana dia pergi?

Akhirnya aku terduduk di lantai yang dingin dengan bola kristal dikedua telapak tanganku dan mataku yang hampir mengeluarkan air mata. “Kwangmin-ah, maafkan aku.” Aku terisak.

~ooOoo~

“Kenapa kau gegabah seperti ini?” Sooyoung bertanya padaku dengan suara pelan karena kami sekarang sedang berada diperpustakaan.

Aku menggeleng. “Aku tak tahu.” Sahutku lirih. “Minwoo-ssi, apa dia marah?” kini aku menatap Minwoo yang mengikutiku dan Sooyoung kedalam perpustakaan sekolah. Hanya tempat ini yang sepi dari tatapan tajam penggemar Kwangmin disekolah ini karena aku memutusnya dan ada juga yang tertawa senang. Tapi kebanyakan mereka kesal karena aku yang memutusnya bukan dia yang memutusku.

Minwoo mengangguk pelan. Aku menenggelamkan kepalaku kedalam lipatan tanganku frustasi. Sejujurnya, aku masih sangat menyayanginya. “Kelihatanya seperti itu. Sifatnya berubah drastis dan sedikit dingin sama seperti Youngmin Hyung.” Katanya.

Kamipun keluar dari perpustakaan dan melihat Kwangmin berjalan dikoridor tanpa senyumannya yang biasanya mengembang di wajahnya. Aku rindu senyumnya…

Mata kami bertemu. Cepat-cepat aku menundukkan kepalaku agar dia tak bisa melihat wajahku. Mianhae, Kwangmin-ah. Batinku. Mungkin ini yang terbaik. Kau akan terus melanjutkan karirmu dan terus tersenyum pada penggemarmu tanpa ada rengekan cemburu dariku.

Aku benar-benar menyesal. Harusnya hari ini kami merayakan hari jadi hubungan kami yang ke-6 dan tidak seperti ini. Aku akan tetap menyayangimu, Kwangmin-ah.

END

This entry was posted by r13eonnie 강 하이에나.

6 thoughts on “[FREELANCE] I’ll Be There

  1. Yah… Cuma sampe sini ??? Yaa.. Author ayoo dong bkin sequelnyaa… Seru n bagus pdhl ffnya ^^ yah yahh .. ?? :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: