[FREELANCE] SAENGIL CHUKKAHAMNIDA, CHINGU!

Cast: Park Ni Chan

No Min Woo

Jo Kwang Min

Gong Chan Shik

And other cast

Author: @ririnovi

Length: Oneshoot

Rating: General

Genre: Friendship

Emang agak aneh sih bikin ff ulang taun ini, haha. Dan aku juga bikin ff ulangtaun Minwoo ini pas di ulangtahunnya Donghyun. Semoga ga ditabok sama Donghyun-oppa, karena akan ada Minwoo yang akan selalu melindungi author huakakakak

Jangan lupa, kasih kritik dan saran juga yaaaaa😀

“Ayo Gongchan-oppa, jangan sia-siakan waktumu hanya dengan berkutat di kamar dan mengerjakan hal yang tidak penting itu! Lebih baik kau ikut aku saja pergi ke  taman..”,

aku menarik lengan baju Gongchan-oppa yang sedang asyik bermain game seperti yang

biasa dia lakukan.

“Hey lepaskan tanganmu Nichan! Ini sudah menjadi hobiku, dan aku tidak akan menukar hobiku hanya untuk berjalan-jalan di taman, lagipula diluar sangat panas. Tidakkah kau takut meleleh karenanya?”

“Aku lebih baik kepanasan daripada tidak jadi bertemu dengannya. Ayolah oppa, temani aku kesana sebentar saja, kalau tidak dengan kau umma tidak akan mengizinkanku keluar. Aku janji akan mentraktirmu semangkuk ice cream di restoran depan taman itu”

“Ice cream? Hanya semangkuk ice cream?”, kata Gongchan-oppa tanpa mengalihkan sudut matanya sekalipun. Dia memang oppa  yang sangat menyebalkan.

Kalau disuruh memilih, aku lebih ingin kakak seperti Minwoo saja yang mau diajak kemana-mana, tanpa harus disogok tentunya. Ah ya, Minwoo. Sudah beberapa minggu ini aku tidak mengobrol  dengannya. Jangankan mengobrol, saling berkomunikasi lewat telepon atau internet pun tidak padahal kami satu sekolah dan hampir setiap hari bertemu.

“Hey mengapa kau malah melamun? Apa kau sedang memikirkan hal lain yang akan kau berikan untukku selain semangkuk ice cream?”, tanyanya dengan wajah yang aku tahu maksudnya apa.

“Baik, kau boleh memiliki 2 seri komik Detective Conan kepunyaanku. Itu kan yang kau mau?”, aku pasrah. Ya mau bagaimana lagi? Aku lebih baik menyerahkan komikku itu daripada pergi ke taman sendirian. Meskipun komik itu sama berharganya dengan guci mahal kepunyaan umma yang dibelinya di China tahun lalu.

“Haha akhirnya kau menyerahkannya juga Nichan! Ayo cepat, jangan sampai kita keluar terlalu malam..”

***

Kami sampai di taman dan aku langsung menghampiri seorang namja yang terlihat sudah menungguku.

“Annyeong, mian aku terlambat. Kau bisa salahkan oppa ku ini..”, kataku sambil menundukkan badan.

“Annyeong Nichan-ah, Annyeong hyung, gwaenchanha. Aku juga baru saja sampai”

Aku memang janjian bertemu Kwangmin disini, kami harus membeli sebuah kue untuk kejutan ulang tahun Minwoo nanti malam. Aku sangat menanti ulang tahunnya sejak sebulan yang lalu karena jujur tidak tahan rasanya harus berpura-pura marah dan cuek setiap kali bertemu dengannya, padahal sebelum ini aku dan Minwoo sangat akrab. Bahkan meskipun kami tidak satu kelas, aku dan dia juga kwangmin selalu pergi ke kantin bersama saat istirahat. Aku dan Minwoo pun selalu pulang bersama, kali ini tidak dengan Kwangmin karena rumahnya berbeda arah.

*FLASHBACK ON*

Sebulan yang lalu, aku menitipkan kucing kesayanganku di rumah Minwoo, karena ada kakek dan nenekku yang akan menginap selama 2 minggu di rumahku. Kakekku itu alergi terhadap bulu kucing, jadi untuk sementara Cheri -nama kucingku- harus diasingkan terlebih dahulu dan aku memilih rumah Minwoo sebagai tempat pengasingannya.

“Hanya 2 minggu saja, ya? Setiap hari aku akan datang kesini untuk merawatnya. Ya ya ya?”

“Tidak usah memaksa seperti itu Nichan-ah, aku pasti dengan senang hati mengizinkannya..”.

Ya Tuhan, aku pasti bermimpi mempunyai teman sebaik Minwoo. Ralat! Sahabat sebaik Minwoo.

Tapi sebenarnya, kakek dan nenek hanya akan menginap selama 2 hari saja, sisa waktu pengasingan Cheri itu digunakan untuk melakukan rencana jahat Kwangmin.^^

***

Seminggu berlalu, pagi ini Kwangmin akan melaksanakan tugas utama dari rencana jahatnya. Dia bekerjasama dengan adik Minwoo, yaitu Eunbin untuk membawa Cheri keluar tanpa sepengetahuan Minwoo. Kwangmin akan membawa Cheri pulang ke rumahnya dan Minwoo akan berpikir Cheri hilang. Minwoo pasti akan merasa bersaalah sekali karena dia sangat tau bahwa Cheri itu kucing kesayanganku.

Kwangmin sengaja datang ke rumahnya pagi-pagi, saat Minwoo sudah berangkat ke sekolah. Minwoo memang terkenal rajin, dia selalu datang tepat pukul  7 pagi padahal jam pelajaran pertama baru dimulai pukul 8 pagi. Dia beralasan, udara pagi di sekolah sangat ia sukai untuk dipakai membaca pelajaran hari kemarin. Ah dia itu benar-benar sosok murid teladan.

From:  Jo Kwangmin

Cheri sudah ada di rumahku sekarang. Kau tinggal melakukan misi selanjutnya.

Aku tersenyum penuh arti, mulai merangkai skenario selanjutnya di otakku. Mungkin teman-teman sekelasku akan menganggapku gila karna senyam senyum sendiri pagi-pagi begini. Tapi aku terlalu sibuk dengan pemikiranku sendiri dan tak sempat memikirkan itu.

Bel istirahat aku menemui Minwoo dan Kwangmin di bangku biasa kami duduk di kantin.

“Hai Nichan-ah, kami baru saja membicarakanmu!”, ucap Kwangmin antusias saat aku baru saja duduk dihadapannya, di sebelah Minwoo.

“Kalian membicarakanku? Tumben.. biasanya topik pembicaraan kalian seputar impian-impian kalian untuk membuat film seperti Harry Potter yang melegenda itu”

“Memang begitu Nichan-ah! Kami sepakat jika sudah lulus kami akan serius menekuni hobi ini. Dan suatu saat jika kami benar-benar membuat film itu, kau harus jadi bintang utamanya!”, ucap Minwoo tak kalah antusias.

“Ah ya! Kalian memang seharusnya melakukan itu, mengingat aku selalu bosan setiap kali kalian membicarakan soal film-film khayalan kalian itu..”

“Mian Nichan-ah, kami mungkin terlalu excited.” Kali ini Minwoo memasang wajah merasa-bersalah nya. Ah tak tega juga melihatnya selalu seperti itu setiap kali aku mengatakan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Dia memang begitu, tipe orang yang sangat atau bahkan terlalu memikirkan perasaan orang lain, bahkan perasaannya sendiri di nomor 2 kan.

“Haha aku hanya becanda Minwoo-ah. Oya, bagaimana keadaan Cheri? Maaf kemarin aku tidak datang untuk merawatnya, tugasku sangat banyak..”

“Gwaenchanha, Cheri baik-baik saja. Sama seperti saat pertama kali kau memberikannya padaku”

“Bagaimana jika pulang sekolah nanti kita ke rumah Minwoo? Sekalian kau melihat keadaan kucingmu itu. Lagipula besok kan hari Minggu dan kita tidak perlu mengerjakan tugas sekolah.”, ucap Kwangmin sambil menatap Nichan. Nichan mengerti arti pandangan itu, namun tidak dengan Minwoo.

“Silahkan saja, rumahku selalu terbuka untuk kalian..”^^

***

Sepulang sekolah..

“Wah buruk sekali cuaca hari ini, bisa-bisa aku mati kepanasan..”, eluh Kwangmin sambil mengibas-ngibaskan tangannya, membuat angin untuk dirinya sendiri.

“Sebentar lagi juga sampai di rumahku, kau bisa menikmati AC di rumahku atau jika kau ingin, kau boleh saja langsung menceburkan diri di kolam renangnya..”, ucap Minwoo sambil cengengesan. Aku tertawa kecil karena membayangkan seandainya Kwangmin benar-benar melakukan itu. Pasti akan konyol sekali!

“Annyeong..”, Minwoo membuka pintu rumahnya yang sedikit terbuka.

“Annyeong, eh oppa sudah pulang. Ini pasti Nichan-eonni dan Kwangmin-oppa kan? Ayo silahkan masuk..”, ucap Eunbin. Dia manis sekali, sama seperti oppa-nya. Ups!

Aku masuk dan duduk di kursi ruang tamu, tempat yang nyaman dan dingin. Tidak seperti diluar. Sedangkan Kwangmin langsung saja masuk ke dapur setelah Eunbin memberitahu tidak ada siapa-siapa di rumah. Dasar Kwangmin! Dia tidak pernah berubah sejak kami berteman 5 tahun lalu.

“Oya Minwoo, bisa kulihat Cheri sekarang?”

“Ya tentu, dia pasti ada di kandangnya karena tadi pagi aku menaruhnya disitu. Tunggu sebentar, biar aku bawa kesini..”

Aku segera melatih diriku untuk tidak tertawa saat Minwoo kembali dengan tangan kosong. Dia tidak akan bisa membawa Cheri kesini karena jelas Kwangmin sudah membawanya tadi pagi. Maafkan aku Minwoo!

Entah 10 menit atau 15 menit aku menunggunya, namun ia tak kembali.

“Minwoo, apa kau baik-baik saja?”, teriakku yang langsung disambut kedatangannya. Oh dia tidak datang dengan tangan kosong, dia datang dengan kandang Cheri yang kosong. Aku mulai memainkan ekspresiku. Memandangnya bingung.

“Kita mungkin mendapat sedikit masalah disini, maafkan aku Nichan-ah”, Minwoo sedikit tertunduk. Sedangkan aku belum mau bergeming karena ingin mendengar penjelasan darinya terlebih dahulu.

“Sepertinya Cheri keluar dari kandangnya dan bersembunyi di suatu tempat, bisakah kau membantuku mencarinya?”, ucapnya sedikit bergetar. Aku tau dia pasti sangat merasa bersalah sekarang, dan dia sedang mencoba menenangkan dirinya sendiri.

“Hmm baik, memangnya Cheri biasa bersembunyi dimana?”

“Kemarin aku menemukannya bersembunyi di bawah tempat tidurku, tapi aku tak menemukannya disana tadi. Dia pasti keluar dari kamarku..”

“Semoga saja dia memang hanya keluar dari kamarmu, bukan rumahmu. Kau tentu tau apa yang akan terjadi.”, ucapku sambil sedikit agak sinis kepadanya. Dia sekali lagi menunduk dan berusaha untuk tidak menatapku. Dia memang pernah mengatakan, saat aku marah pandanganku seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya kapan saja. Sebuas itukah aku?

Kwangmin membantu kami mencari ke setiap sudut rumah, walaupun kami tau hasilnya akan nol besar. Dan kuyakin Minwoo berpikiran sama dengan aku dan Minwoo. Kita tidak akan menemukan Cheri di rumah Minwoo. Bahkan seperti sekarang, sudah 2 kali rumah Minwoo dijelajahi dan hasilnya? You know what I mean.

“Jadi.. kau ingin becanda denganku Minwoo?”, aku berlagak seakan-akan Cheri memang hilang.

“Mianhe Nichan-ah, jeongmal mianhe. Aku tak tahu mengapa semuanya bisa terjadi seperti ini. Setiap pergi sekolah aku selalu memasukkan Cheri ke kandangnya, kuletakkan di kamarku dan kamarku selalu aku kunci. Dan sepulang sekolah aku melepaskannya dan kuajak bermain dia. Kau kan selalu melihat Cheri tetap di kandangnya setiap kau datang kemari untuk merawatnya? iya kan?”

“Ya, tapi aku tak tahu apa yang kau lakukan di pagi harinya Minwoo-ah. Jujur aku tak bisa semarah biasanya padamu, tapi harus kau ketahui, aku sangat kecewa.”, kataku memberi penekanan pada kata ‘kecewa’. Aku beranjak dari tempat dudukku dan mengambil tasku.

“Nichan-ah kau mau kemana??”, Tanya Kwangmin ikut bangkit dari tempat duduknya.

“Aku tak mau diam disini lebih lama, aku bahkan tak mau menginjakkan kakiku disini lagi!”

“Apa kau semarah itu padaku Nichan-ah? aku benar-benar menyesal. aku juga tidak mau hal ini sampai terjadi.”, entah keberapa kalinya Minwoo menunduk dan tak mau menatap mataku.

“Kau ingin tau seberapa marahnya aku padamu? Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi di sekolah! Jangan pernah menghubungiku lagi atau sekedar menyapaku! Lupakan saja semua persahabatan kita selama ini, aku sama sekali tidak ingin melihatmu!”. Aku setengah berlari menuju pintu keluar. Tak sadar air mata menetes. Aku bahkan menangis? Sungguh, aku benar-benar pantas menjadi aktris sekelas Emma Watson. Mungkin tidak sehebat itu, aku memang sering reflex menangis setelah marah-marah pada orang lain. Apalagi Minwoo  sahabat baikku.

“Nichan-ah! Tunggu!”

Minwoo baru saja akan menyusulku seandainya Kwangmin tak menghentikan langkahnya.

“Hey, kau tau sendiri kalau dia sedang marah. Biarkan dia sendiri dulu, nanti jika dia sudah agak baikan baru kau coba bicarakan ini lagi dengannya. Untuk sekarang, percayakan dia padaku.”

“Baik, apa dia akan baik-baik saja Kwangmin?”

“Aku tak menjamin, tapi akan kucoba. Kalau begitu aku kan pergi menyusulnya.”, Kwangmin segera melangkahkan kakinya keluar dari rumah Minwoo.

From: Jo Kwangmin

Kau dan wajahmu itu sangat hebat Nichan-ah! Kau belajar acting darimana? Minwoo-ah benar-benar merasa bersalah sekali tadi.

To: Jo Kwangmin

Terimakasih atas pujianmu Kwangmin-ah, aku benar-benar tersanjung haha. Sebenarnya bukan hanya Minwoo yang akan merasa bersalah padaku, aku juga pasti akan sangat merasa bersalah pada Minwoo. Ah semoga Tuhan mengampuni dosaku!

From: Jo Kwangmin

Tak apalah, dia pasti akan baik-baik saja. Dia memang sering begitu kan jika melakukan kesalahan sedikit saja.

To: Jo Kwangmin

Kau ini memang benar-benar innocent Kwang! Haha. Sudah, aku ingin tidur sekarang. Dan kau, jaga Cheri baik-baik jika tidak ingin hal ini benar-benar terjadi padamu!

Setelah itu Kwangmin tidak membalas sms ku lagi, mungkin dia juga sudah tertidur. Aku pun segera menutup tubuhku dengan selimut. Udara malam ini sangat dingin, sangat kontras dengan udara tadi siang. Baru saja aku akan  menutup mataku, phone cell ku berdering. Nada telepon. Aku bangun lagi dari posisiku dan mengambil phone cell ku yang kuletakkan dimeja samping tempat tidur. Kulihat nama Minwoo terpampang di layar phone cell ku.

“Ah ternyata dia masih berani menelponku. Tapi maaf ya Minwoo-ah, aku harus professional dalam hal ini..”, aku tertawa kecil dan segera menekan tombol reject di phone cell ku. Mungkin Minwoo tidak bisa tidur sampai menelpon malam-malam begini.

Ternyata dia belum menyerah, dia kembali menelponku lagi. Namun usahanya sia-sia karena aku kembali me-reject panggilannya. Dia kembali menelponku.

“ah dia benar-benar orang yang tidak mudah putus asa..”, gumamku sambil menatap layar phone cell ku. Kemudian kembali menekan tombol reject. Aku menunggu beberapa saat, mungkin dia akan menelpon lagi. Tapi tidak. Kali ini dia mengirimkan sms.

From: No Minwoo

Nichan-ah, maaf mengganggumu malam-malam begini. Untuk kesekian kalinya aku ingin mengucapkan permintaan maafku padamu. Aku benar-benar menyesal. Aku harap kau tidak semarah ini padaku. Aku janji akan mencari Cheri sampai ketemu.  Kumohon balas sms ku jika kau tidak mau mengangkat teleponku..

Jujur saja aku iba melihatnya seperti ini, aku sangat ingin membalas sms nya dengan ‘Tidak Minwoo, aku tidak benar-benar marah padamu. Sungguh. Ini semua hanyalah rencana jahat Kwangmin untuk ulang tahunmu.’. namun aku masih ingin melanjutkan rencana ini. Ku matikan phone cell ku dan beranjak tidur.

***

Keesokan harinya aku pergi ke rumah Kwangmin untuk melihat Cheri. Ya, Cheri benar-benar ada di rumah Kwangmin.

“Kemarin malam Minwoo menelponku beberapa kali, tapi selalu ku reject. Kemudian dia mengirimi ku sms, namun tak kubalas. Akhirnya kumatikan phone cell ku. Dan pagi harinya saat kunyalakan phone cell ku, sms nya datang bertubi-tubi. Aku ingin ini semua cepat berakhir Kwangmin!”, ucapku sambil memperlihatkan sms-sms yang dikirimkan Minwoo.

“Ulang tahunnya kan 3 minggu lagi, bersabarlah sedikit Nichan-ah.”, ucap Kwangmin santai. Dia tidak merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku tidak pernah memusuhi temanku sebelumnya, dan saat disuruh berpura-pura memusuhinya aku sangat terganggu sekali.

“Entahlah apa aku bisa menyelesaikan drama ini sampai akhir, ini sangat sulit Kwangmin-ah. Kau sama saja memusuhi ibumu sendiri”

“Tapi Minwoo kan bukan ibumu, jadi tenang saja. Haha”, dia menertawakan hal yang menurutku tidak lucu.

Bel rumah Kwangmin berbunyi. Ada orang yang datang. Kwangmin melongok ke jendela depannya sebelum membukakan pintu.

“Astaga! Nichan-ah kau dan Cheri harus bersembunyi sekarang! Diluar ada Minwoo!”, ucap Kwangmin panik seraya menghampiriku.

“Mwo? Minwoo? Kenapa dia bisa kesini??”

“Aku tidak tahu, ayo cepat kau masuk ke kamarku saja! Cari tempat aman disana!”

Aku segera masuk ke kamar Kwangmin. Kamar yang lumayan rapi untuk ukuran anak laki-laki pemalas seperti dia. Aku duduk di kursi mungkin tempat dia biasa belajar. Tapi aku saja tidak yakin dia suka belajar di rumah hehe.

Kamar Kwangmin berhadapan langsung dengan ruang keluarga. Disanalah Minwoo dan Kwangmin duduk sekarang. Wajah Minwoo tidak seceria biasa kulihat. Dan tak pernah semurung ini.

“Aku tak tahu apa yang harus kulakukan lagi Kwangmin-ah. Pikiranku benar-benar kacau!”, ucap Minwoo sambil menutup wajahnya dengan  kedua telapak tangannya.

“Aku sudah mencoba berbicara padanya, tapi dia sama sekali tidak ingin membahas ini. Maafkan aku Minwoo-ah mungkin kau harus menyelesaikan masalah ini sendiri. Nichan-ah tidak suka aku ikut campur.”

“Menurutmu apa yang harus aku lakukan? Kemarin aku berpikir untuk membeli kucing yang sama persis seperti Cheri dan memberikannya pada Nichan-ah dengan berkata..”

“Kau akan berkata bahwa itu Cheri? Kau gila hah? Cheri itu kucing kesayangannya, dia pasti tau detail terkecil tentang kucingnya itu. Kau hanya menambah masalah Minwoo-ah!”, nada bicara Kwangmin sangat membuatku ingin tertawa. Dia seperti appa ku saat memarahiku karena aku memakan kue yang seharusnya disediakan untuk tamunya kekeke.

Tiba-tiba.. “Meong.. Meong..”

“Suuut.. Oh Tuhan, kenapa kau bersuara??”, Aku tak tahu aku harus bagaimana. Menutup mulut Cheri pun rasanya tidak mungkin.

“Sejak kapan di rumahmu ada kucing?”

‘Ah astaga! Minwoo mendengar suaramu!’, batinku.

“Oh itu, itu kucing kepunyaan Hyunmin. Akhir-akhir ini dia memang hobi memelihara binatang.”

“Kucing tidak pernah membuatku sekacau ini sebelumnya!”, Minwoo memasang wajah sedih yang bisa kulihat dari pintu kamar Kwangmin yang sedikit terbuka.^^

***

Keesokan harinya aku kembali dengan rutinitasku di sekolah. Sedikit ada yang berbeda saat jam istirahat. Aku pergi ke kantin bersama teman sekelasku, Min Young. Aku sempat melihat Kwangmin dan Minwoo duduk di bangku biasa kami duduk di kantin, namun tak kuhiraukan mereka.

“Nichan-ah! Disini!”, Kwangmin memanggilku sambil melambaikan tangannya dan menyuruhku menghampirinya. Aku sedikit melihat guratan senyum terpaksa di wajah Minwoo.

“Tidak Kwangmin, aku sedang tidak berniat duduk disana sekarang.”, aku baru saja akan melangkahkan kakiku sebelum seseorang menarik tanganku.

“Nichan-ah kumohon, maafkan aku. Aku akan melakukan apapun agar kau memaafkanku. Kumohon..”

Ya, tanpa mellihatnya pun aku sudah tahu itu adalah Minwoo. aku tak berani melihat matanya karena kuyakin aku tidak akan sanggup. Aku segera melepaskan tanganku yang tadi ditariknya kemudian mengalihkan pandangan pada Kwangmin yang masih duduk di meja makannya.

“Kwangmin-ah! Beritau temanmu ini agar dia segera menjauh dariku. Bukankah aku pernah memberitaunya sebelumnya?”, Aku melihat guratan sedih di wajah Minwoo.

Kwangmin menghampiriku dan Minwoo.

“Nichan-ah, kau benar-benar marah padanya? Mungkin dia benar-benar bersungguh-sungguh meminta maaf padamu. Lagipula ini kan kecelakaan. Minwoo juga pastinya tidak ingin ini terjadi.”, wajah Kwangmin itu sekali lagi ingin membuatku tertawa.

“Terserah apa katamu. Aku tidak peduli. Ayo Min Young!”, aku menarik tangan Min Young dan segera pergi dari tempat itu. Meninggalkan Kwangmin dan Minwoo yang masih berdiri mematung.

“Apa yang terjadi? Bukankah kau benar-benar bersahabat dengan mereka berdua?”, Tanya Min Young tak lama kemudian.

“Bukan sesuatu hal yang penting.”.

Sejak saat itu aku dan Minwoo tidak pernah berbicara. Jangankan berbicara, jika bertemu saja aku langsung mengalihkan pandanganku darinya. Setiap aku bertemu dengannya selalu kulihat raut sedih menyelimutinya. Terkadang aku merasa ini keterlaluan. Namun mau berhenti pun ini sudah terlalu jauh.

*FLASHBACK END*

“Kira-kira kue yang mana yang dia sukai?”, Tanya Kwangmin saat kami bertiga sudah sampai di toko kue.

“Dia pasti sangat suka kue cokelat. Beli yang itu saja.”, aku menunjuk kue cokelat dengan krim berwarna biru.

“Kurasa yang itu saja. Dia kan lebih menyukai warna merah ketimbang biru.”, tunjuk Kwangmin pada sebuah kue cokelat dengan krim berwarna merah.

“Tapi kue berkrim merah itu ukurannya lebih kecil.”

“Kalian ini lama sekali hanya membeli kue saja. Toh kue cokelat dimana-mana rasanya akan terasa seperti cokelat. Peduli apa dengan warna krim diatasnya.”, Gongchan-oppa kelihatannya sudah mulai bosan.

Akhirnya kami mendapat kue itu. Kue cokelat dengan krim berwarna hijau diatasnya. Gongchan-oppa yang memilihkannya karena melihat aku dan Kwangmin berdebat sedari tadi.

“Apa kau akan langsung pulang Kwangmin-ah?”, tanyaku setelah kami keluar dari toko kue.

“Jangan dulu Kwangmin-ah! Nichan-ah akan mentraktir ku semangkuk ice cream, kau ikut saja dengan kami.”, ajak Gongchan-oppa.

“Wah kau tidak bilang padaku Nichan-ah! Aku ikut kalau begitu!”, ucap Kwangmin antusias. Apa-apaan ini? Aku kehilangan 2 komik Detective Conan kesayanganku dan merelakan uangku untuk mentraktir Gongchan-oppa membeli ice cream agar dia mau mengantarku bertemu Kwangmin, dan sekarang Kwangmin malah ikut-ikutan meminta traktir padaku? Ini kan hari ulang tahun Minwoo, kenapa harus aku yang mentraktir mereka?

Pasrah. Aku mengikuti mereka masuk ke toko ice cream tersebut dan duduk di bangku yang tidak jauh dari pintu. Gongchan-oppa memanggil seorang pelayan.

“Aku ingin..”

“3 mangkuk ice cream cokelat, terimakasih”, aku memotong perkataan Gongchan-oppa.

“Hey apa-apaan kau ini? Aku baru saja akan memesan ice cream ku!”

“Aku yang bayar jadi aku yang menentukan,” aku tersenyum puas melihat Gongchan-oppa menekuk mukanya seperti itu. Sedangkan Kwangmin, dia terima saja dengan apa yang kulakukan asalkan dia mendapat ice cream gratis. Ya kwangmin memang selalu begitu.

Beberapa saat kemudian pesanan datang, tadi saja muka Gongchan-oppa ditekuk begitu tapi habis juga ice cream nya. Hu!

“Nichan-ah?”, seseorang memanggilku dengan suara yang sudah aku kenali. Sangat kukenali.

“Minwoo-ah? Hey sedang apa kau disini?”, Kwangmin menyapa orang yang berdiri dibelakang kursiku itu. Aku harus segera mengatur ekspresiku. Tidak mudah membuat ekspresi kesal saat sedang bahagia seperti ini.

“Aku kesini membeli ice cream untuk adikku. Kalian sendiri?”

“Kami sedang tidak bisa diganggu.”, aku bangkit dari tempat dudukku dan beranjak pergi. Minwoo dengan sigap menarik tanganku.

“Apa kau masih mau marah padaku? Aku sudah menurutimu untuk tidak mendekatimu lagi Nichan-ah. Bahkan kau masih belum mau bicara padaku sampai saat ini?”

“lalu apa peduliku?”, aku ingin sekali menyapanya dengan ramah, namun ini detik-detik terakhir aku menyempurnakan bakat acting ku.

“Nichan-ah, kau mau kemana? Ice cream mu ini belum habis..”

“Untukmu saja oppa, aku sudah muak disini melihatnya!”, ucapku sambil menunjuk wajah Minwoo.

“Ah? Ada apa ini? Bukankah kau dan Kwangmin baru saja akan memberinya kejutan ulang tahun? Kenapa sekarang kalian malah bertengkar seperti ini? Kalau begitu kue yang tadi kalian beli untukku saja ya?”, Gongchan-oppa memasang wajah innocent-nya.

“Hyung! Apa kau ingin membunuhku disini??”, Kwangmin menyenggol lengan Gongchan.

“Tunggu, apa tadi hyung bilang?”, Minwoo mendekati Gongchan-oppa. Aku memasang wajah buasku pada Gongchan-oppa. Argh! Seharusnya aku tidak mengajaknya!

“Eh maafkan aku, mungkin aku mengatakan sesuatu yang salah..”, Gongchan-oppa melirikku penuh arti.

“Sudah terlambat Nichan-ah. Mungkin ini adalah waktu yang tepat..”, Kwangmin mengarahkan pandangannya pada sekotak kue diatas meja kami.

“Hmm baiklah kalau begitu. Oppa, aku akan membunuhmu sampai di rumah nanti!”

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi disini?”, wajah Minwoo penuh dengan tanda Tanya.

Aku mengeluarkan kue didalam kotak itu. Dan menyalakan lilin diatasnya.

“Saengil chukkahamnida chingu..”, ucapku sambil tersenyum dan menyodorkan kue itu di hadapan Minwoo.

“Nichan-ah? Kau sudah tidak marah lagi padaku?”, Minwoo memasang wajah yang aku tidak tahu maksudnya apa. Dia benar-benar tidak pernah memasang ekspresi seperti ini sebelumnya.

“Kau ini polos atau bodoh Minwoo-ah? Kalau kau kira Nichan benar-benar marah padamu, berarti kau benar-benar bodoh! Haha saengil chukkahamnida!”, Kwangmin merangkul pundak kawannya itu.

“Tunggu! Jadi selama ini kalian telah menipuku? Ah aku benar-benar bodoh! Lalu Cheri bagaimana? Dia tidak benar-benar hilang?”, Tanya Minwoo padaku.

“Biar kujelaskan nanti. Minwoo-ah tanganku sangat pegal memegang kue ini daritadi. Ayo cepat tiup lilinnya. Oya jangan lupa make a wish..”

Minwoo menutup matanya sejenak, membuat permohonan dalam hatinya. Kemudian membuka matanya lagi dan meniup lilin diatas kue cokelat berkrim hijau itu. Aku meletakkan kue itu diatas meja dan langsung memeluk Minwoo.

“Saengil chukkahamnida! Maafkan aku telah membuatmu kacau beberapa minggu ini. Aku juga merasa seperti itu, sungguh. Berpura-pura memusuhimu adalah hal tersulit yang pernah kujalani dalam hidupku..”, aku ingin sekali menangis bahagia, melepaskan semua bebanku selama berminggu-minggu.

“Maafkan aku juga Minwoo-ah, aku yang membuat ide ini. Aku yang menyuruh Nichan-ah melakukan semuanya. Dan ternyata dia berhasil! Saengil chukkahamnida!”, ucap Kwangmin sambil memeluk aku dan Minwoo bersamaan.

“Wah kalian benar-benar membuatku kacau selama ini! Terimakasih teman-teman. Dan apa kalian ingin tahu apa yang menjadi permohonanku sebelum meniup lilin tadi?”

“Kalau kau tidak keberatan, kau bisa menceritakan itu pada kami!”, ucapku yang memang ingin tau apa yang Minwoo mohon.

“Aku berharap sahabat-sahabat terbaikku ini tidak akan lupa hari ulang tahunku. Apa kalian tidak punya kalender ? ini kan masih tanggal 30 Juli dan hari ulang tahunku itu tangal 31 Juli !”, ucapnya sambil memamerkan senyum ingin tertawa.

“Kau bisa tanyakan pada orang yang sedang makan ice cream disana!”, tunjuk Kwangmin pada Gongchan-oppa.

“Loh? Kenapa aku? Aku hanya mengantar Nichan-ah membeli kue untuk ulang tahunmu, sungguh!”, ucap Gongchan-oppa sambil memakan ice cream.

“Karena mulutmu yang tidak bisa dijaga! Sebenarnya kami akan membuat kejutan untuk Minwoo-ah malam nanti tepat di  pergantian hari, tapi gara-gara kau semuanya jadi berantakan! Ingatkan aku untuk membunuhmu saat kembali ke rumah nanti oppa!”, ucapku sambil menyolekkan krim hijau di kue itu ke wajah Gongchan-oppa.

“Hey apa-apaan kau ini? Yang ulang tahun kan Minwoo bukan aku!”, ucap Gongchan-oppa sambil membersihkan wajahnya dari krim hijau itu.

“Dan ini untuk hyung yang telah memakan ice cream ku juga!”, ucap Kwangmin ikut menyolekkan krim hijau itu ke wajah Gongchan-oppa.

“Kau ini sama saja! Daripada ice cream itu meleleh sia-sia lebih baik aku habiskan!”

Minwoo menyolekkan krim hijau itu juga ke wajah Gongchan-oppa sehingga matanya tertutup krim.

“Kau juga! Ini hari ulang tahunmu! Aku seharusnya mencolekan krim ini padamu !”, ucap Gongchan-oppa sambil menghapus krim itu dari wajahnya.

“Itu karena hyung sudah membuat hari ulang tahunku menjadi tanggal 30, bukan 31!”, ucap Minwoo sambil tertawa. Kami bertiga kompak mencolekkan krim itu pada Gongchan-oppa.

“Kalian bertiga ini!!!”, Gongchan-oppa berteriak geram sementara kami tertawa puas melihatnya tersiksa seperti itu.

Aku senang bisa kembali tertawa bersama Kwangmin dan tentunya Minwoo. semoga persahabatan kami abadi untuk selama-lamanya.

SAENGIL CHUKKAHAMNIDA MINWOO!

END

This entry was posted by r13eonnie 강 하이에나.

6 thoughts on “[FREELANCE] SAENGIL CHUKKAHAMNIDA, CHINGU!

  1. agk ksian sih ma minwoo… ide kwangmin emg bner2 jht…
    msa ngrjain org mpe b’mnggu2 gtu sih…
    tp aq ska kok critax…

  2. Daebak thor ceritanya keren tapi aku gag tahan lihat minwoo di sakitin hiks hiks ..
    thor boleh gag ff nya aku copast ke FP ku tapi tenang aja ceritanya gag aku ubah ubah kok , nama author nya juga tetap nama pembuat aslinya.
    Author : GAG BOLEH “hiks hiks”

  3. Haa~ sehrsny tue kue di kasih kan ke aku. Ku kn tngl 30 Jul xD
    wkwk xD *becnda*
    ceritany deabak bgt.. Aplagi itu tntng Minwoo Oppa.. ^_^

  4. Keren thor,, kereeennnn… Hahaha
    apaan tu gongchan,, ngacau aja,, kyaaaa… Hahahaha #ditabok gongchan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: