[FANFICT/FREELANCE] My Cupid

397587_307882245996919_1153598677_n

Title 
My Cupid
Author   Ai Siti Mulyani
Genre         Sad Romance, Fantasy
Rating          T
Type   One Shoot
Main Casts      
– Kim Nayoung (OC)

– Lee Jeongmin (Boyfriend)

– Nam Hira (OC)

Disclaimer : FF ini hasil dari pemikiran saya sendiri tanpa copast dari page, blog dsb. Ff, alur cerita milik author. Main cast milik yang menciptakannya. Dilarang plagiat, me-reshare, mengcopast tanpa seizin author.

A/N : nah, ini ff pertama saya yang di post disini J semoga kalian suka dan jangan lupa tinggalkan jejak kalian

:::: Happy Reading ::::

“Tuan putri, anda disuruh menghadap yang mulia raja sekarang” ucap seorang yeoja memakai baju putih dan bersayap pada yeoja lainnya yang dipanggil tuan putri yang sedang berdiri menikmati pemandangan dari jendela istana.

“Ah, ne” ucap putri itu dan mulai berjalan menuju ruangan sang raja yaitu appanya sendiri.

“Apakah ada tugas lagi yang harus dikerjakan sehingga appa memanggilku?” Tanya putri itu dengan sopannya ketika sudah berdiri dihadapan sang raja.

“Ne. kali ini tugasnya sedikit berat. Apa kau sanggup?” Tanya appanya dengan nada yang menggambarkan kebijaksanaan.

“Ne appa. Seberat apapun tugas itu akan aku laksanakan sebisa mungkin”

“Kalau begitu kau istirahatlah dulu. Nanti kita bicarakan lagi masalah ini”

“Ne appa”

***

“Ah, apa yang harus kulakukan?” ucap seorang namja yang sedari tadi bersembunyi di balik pohon, memandangi seorang yeoja yang tengah duduk sendirian diatas rumput taman yang berada di universitas tempat ia belajar.

“Aku malu..” ucapnya lagi sambil berbalik.

“Kyaaa!!!!” teriaknya ketika mendapati seorang yeoja cantik berbaju putih dengan cahaya yang seolah keluar dari dalam tubuhnya membuatnya tampak bersinar seperti seorang malaikat.

“Nu..nuguya?” Tanya Jeongmin terbata sambil menunjuk hidung yeoja itu dengan telunjuknya.

“Na?” Tanya yeoja itu sambil menujuk dirinya sendiri juga.

“Ne. kau?” Tanya jeongmin lagi.

“Perkenalkan, Kim Nayoung imnida” ucap yeoja itu memperkenalkan diri sambil membungkuk.

“Nuguya?” lagi, Jeongmin menanyakan hal yang sama.

“Kim Nayoung imnida” jawab yeoja itu lagi sama dengan yang tadi.

“Bukan. Maksudku kau ini apa? Berpakaian aneh sekali. Disini tidak ada kerajaan” cibir Jeongmin melihat pakaian yang dienakan Nayoung agak sedikit aneh menurutnya.

“Aku adalah seorang Cupid” jawab Nayoung yang membuat Jeongmin tertawa.

“Ya. Kau jangan bercanda. Mana ada yang namanya Cupid disini” ucap Jeongmin masih sambil tertawa.

“Ada. Ya, aku ini. Seorang Cupid sedang berdiri dihadapanmu sekarang” jawab Nayoung lagi sambil memamerkan senyumnya yang menawan.

“Ya. Aku tidak sebodoh itu. Mana munkin ada..”

“Hyung!! Sedang apa kau disini? Ayo kita ke kamtin! Aku sudah lapar…” teriak seorang namja imut yang sukses memotong perkataan Jeongmin.

“Sebentar Minwoo-ya, aku sedang bicara dengan yeoja gila ini” tunjuk Jeongmin pada Nayoung. Sementara Nayoung sendiri malah tersenyum dikatai orang gila.

“Yeoja? Yeoja mana? Aku tidak melihat siapa-siapa. Atau jangan-jangan kau yang gila hyung?” ledek Minwoo. Jeongmin yang mendengar semua pertanyaan hobaenya itu langsung mebelalakan matanya tak percaya.

“Mwo?? Ya! Kau jangan bercanda Minwoo-ya!” bentak Jeongmin.

“Aku tidak bercanda. Disini memang tidak ada siapa-siapa. Sudahlah hyung. Ayo kita kekantin. Dari pada kau terus diam disini, nanti kau benar-benar jadi gila” ledek Minwoo sambil menyeret Jeongmin menuju kantin.

Sekilas Jeongmin melirik Nayoung yang berdiam diri di dekat pohon tadi mengangguk dan tersenyum puas.

***

“Yeoja tadi, apa dia benar-benar Cupid?” Tanya Jeongmin pada dirinya sendiri sambil tiduran di ranjangnya.

“Ne, aku ini seorang Cupid” jawab Nayoung yang tiba-tiba muncul disamping ranjang Jeongmin.

“Kyaa!! Kenapa kau bisa muncul disitu?” Tanya Jeongmin sambil terburu-buru bangun dari tidurnya karena kaget.

“Karena aku Cupid” jawab Nayoung terus mengulang kata yang sama.

“Bagaimana kau bisa muncul disini?” Tanya Jeongmin lagi karena belum puas mendengar jawaban dari Nayoung jika dirinya adalah seorang Cupid.

“Karena aku seorang Cupid jadi aku bisa berpindah dengan cepat dari mana saja”.

“Kenapa aku bisa melihatmu sementara orang lain tidak?”

“Ini semua sudah takdir”

“Maksudmu?” Tanya Jeongmin tak mengerti.

“Aku mendapat tugas untuk mempersatukanmu dengan gadis yang kau sukai itu, Nam Hira”. Jawab Nayoung.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Karena aku ini seorang Cupid”

“Aish, ne. ne. aku percaya sekarang kalau kau seorang Cupid. Tapi kau tidak perlu mengulang-ulang jawaban yang sama” ucap Jeongmin kesal.

“Ah, ne. minhamnida” ucap Nayoung sambil mebungkukkan badannya.

“Sudahlah, aku mau tidur dulu” ucap Jeongmin sambil menarik selimut sehingga menutupi seluruh tubuhnya.

“Ne” *Cliinnggg….(?)

Jeongmin menyibakkan kembali selimutnya dan mendapati sudah tidak ada Nayoung dikamarnya. Merasa tak heran lagi akhirnya dia memutuskan untuk benar-benar tidur.

***

“Annyeong Jeongmin-ssi!” sapa Nayoung ceria pada Jeongmin yang baru saja bangun dari tidurnya.

“Ya! Bisakah kau tidak muncul tiba-tiba. Kau selalu membuatku kaget!” ucap Jeongmin setengah berteriak dengan kesadaran yang seketika terkumpul –saking kagetnya-.

“Mianhae. Lebih baik kau cepat mandi dan siap-siap. Hari ini kau ada kuliah kan?”

“Atas dasar apa kau mengaturku?” Tanya Jeongmin kesal.

“Because I’m your Cupid” jawab Nayoung mantap membuat Jeongmin mendengus kesal.

“Memang apa hubungannya antara kuliah dengan Cupid?”

“Nam Hira” ucap Nayoung dengan penekanan yang dibuat-buat.

“Ne, ne”. Jeongmin kemudian langsung menyambar handuknya dan segera memasuki kamar mandi.

***

*di skip aja ne. soalnya kalau diceritain sedetail-detailnya ceritanya bakal panjang banget ^^v*

Sudah hapir sebulan Nayoung selalu ada membantu Jeongmin untuk mendekati yeoja yang dicintainya, Nam Hira. Dan alhasil hubungan Jeongmin dengan Hira pun semakin dekat. Namun perasaan aneh juga muncul pada Nayoung. Perasaan cintanya pada Jeongmin mulai tumbuh. Dan begitupun sebaliknya. Dalam hati Jeongmin juga mulai tumbuh perasaan itu namun dia masih belum menyadarinya.

“Jeongmin-ssi…”

“Sudah kubilang berapa kali, panggil aku oppa! Oppa! Arra?” potong Jeongmin cepat dengan adanya penekanan pada kata ‘Oppa’.

“Ah, ne oppa. Apa oppa tidak menemui Hira-ssi hari ini?” Tanya Nayoung sedikit gugup.

“Katanya dia sedang sibuk hari ini. Jadi dia tidak ada waktu untuk bertemu denganku. Memangnya ada apa?” Tanya balik Jeongmin.

“Ah, tidak apa-apa. Aku hanya bertanya saja” jawab Nayoung dengan wajah yang ia tundukkan.

“Kau kenapa?” Tanya Jeongmin lagi sambil melirik Nayoung yang masih menunduk.

“Oppa…” perlahan cairan-cairan bening mulai berjatuhan dari mata Nayoung.

“Ya. Kenapa kau menangis?” Tanya Jeongmin lembut seraya mengusap air mata Nayoung yang berjatuhan. Baru kali ini ia melihat Cupidnya itu menangis. Padahal selama ini ia selalu tersenyum meskipun ia sering memarahinya.

“Waktuku tinggal sebentar lagi..” Tsngisan Nayoung semakin mengeras.

“Ap..apa maksudmu?” Tanya Jeongmin. Meskipun ia tahu maksudnya tapi tetap ia tanyakan juga.

“Ne. kalian sudah berhasil ku persatukan, jadi aku harus segera kembali”

“Kapan?”

“Entahlah.. mungkin ketika appa memanggilku. Tapi sampai saat ini appa belum menyuruhku pulang jadi aku masih bisa bertemu denganmu oppa”. Terang Nayoung sambil tersenyum dengan terpaksa.

Greepp~

“Jangan pergi.. jebal…” ucap Jeongmin sambil memeluk Nayoung secara tiba-tiba. Dan tanpa sadar Jeongmin juga mulai mnitikan air matanya. Entah kenapa perasaannya seakan tidak rela jika Nayoung pergi meninggalkannya.

“aku tetap harus pergi oppa. Tapi sebelum aku pergi aku ingin kita menghabiskan waktu bersama”. Ucap Nayoung dengan tangisan yang mulai reda, namun masih dalam posisi semula –jeongmin masih memeluknya-.

“Ne, besok kita habiskan waktu hanya berdua, tidak ada orang lain” Jeongmin melepaskan pelukannya lalu menatap mata Nayoung dalam.

“Gomawo oppa..”

***

Hari ini Jeongmin dan Nayoung memutuskan untuk jalan-jalan keluar tapi tentunya kini Nayoung dengan wujud yang nyata supaya Jeongmin tidak dianggap gila karena berbicara sendiri.

“Oppa kajja kita naik ular itu!” tunjuk nayoung pada benda yang sedang melaju pada rel(?)nya dengan cepat.

“Ular?” Tanya Jeongmin bingung mendengar kata ‘menaiki ular’. Iapun meoleh pada objek yang ditunjuk Nayoung dan ternyata benda yang disebut ular itu adalah roller coaster.

“Ne, itu!” Nayoung begitu antusiasnya melihat benda itu bergerak berputar mengikuti jalan khsus yang dilewatinya.

“Kajja!” Jeongmin menarik tangan Nayoung memasuki antrian panjang menuju loker tiket disana.

***

“Apa kau senang hari ini?” Tanya Jeongmin melihat Nayoung yang terus tersenyum sepulangnya dari tempat bermain itu, tapatnya di Lotte World.

“Ne oppa, aku senang sekali. Saaangat senang” jawab Nayoung dengan mata yang berbinar.

“Oya oppa, ada sesuatu yang ingin aku berikan” lanjutnya sambil berhenti berjalan.

“Oh, apa itu?”

“Ulurkan tanganmu!” perintah Nayoung membuat Jeongmin bingung.

“Untuk apa?”

“Sudah ulurkan saja!” Jeongmin pun mengulurkan tangannya. Tak lama kemudian Nayong juga mengulurkan tangannya tepat diatas tangan Jeongmin.

“Sekarang cepat buka!” perintah Nayoung lagi. Perlahan Jeongmin pun membuka tangannya yang tadi dikepalkan(?) oleh Nayoung. Mata Jeongmin langsung berbinar ketika melihat sebuah kalung dengan liontin bintang yang berkilauan berwarna perak.

“Itu hadiah dariku karena oppa sudah mengajakku jalan-jalan hari ini. Oya, aku juga punya satu” ucap Nayoung  sambil memperlihatkan kalung yang dipakainya.

“Berikan kalung ini pada yeoja yang oppa cintai” lanjutnya lagi.

“Gomawo Nayoung-ah, ini sangat cantik”

Mereka kebali berjalan menyusuri jalanan yang lumayan ramai oleh pejalan kaki. Ketika sedang asik-asiknya mereka mengobrol tiba-tiba..

BRAAKK~

Terdengar suara hantaman benda keras dari arah jalan raya, sontak itu membuat Nayoung dan Jeongmin terkejut. Orang-orang mulai berkumpul mengerubuni korban tabrakan itu. Jeongmin dan Nayoung pun berlari ingin melihat siapa yang menjadi korbannya. Namun seketika tubuh Jeongmin melemas, wajahnya memanas, penglihatannya menjadi kabur akibat air mata yang sudah berkumpul berdesak-desakkan ingin keluar.

“Hira.. Hira-ya.. Ya! Ireona!! Ya!” Jeongmin menguncang-guncangkan tubuh korban yang sudah berluuran darah itu yang ternyata adalah yeojachingunya, Nam Hira.

“Hira-ssi.. ireona!!” Nayoung juga ikut mengguncang-guncangkan tubuh Hira yang sudah tak bergerak sama sekali.

“Ya!! Cepat panggil ambulan!!” teriak Jeongmin frustasi melihat keadaan yeojachingunya itu.

***

“Bagaimana keadaannya dok?” Tanya Jeongmin ketika melihat seorang dokter yang keluar dari dalam ruangan tempat Hira dirawat.

“Maafkan kami. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain” jawab dokter itu sambil menunduk.

“Apa maksudnya ini?” Tanya Jeongmin lagi seakan tak percaya bahwa yeoja yang sangat dicintainya telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.

“Sekali lagi kami minta maaf. Kami permisi dulu” dokter itu pun pergi meniggalkan Jeongmin yang masih terpaku.

Segera Jeongmin membuka pintu ruangan itu dan terlihatlah sesosok yeoja yang sudah terbujur kaku diranjangnya.

“Hira.. kenapa kau meinggalkanku hah?” Tanya Jeongmin sambil menguncang-guncangkannya jasad Hira yang sudah tak bernyawa itu.

Sementara Nayoung hanya berdiam diri sambil terisak melihat Jeongmin menangis.

“Oppa.. aku akan menggantikannya” ucap Nayoung pada akhirnya.

“Menggantikan apa maksudmu?” Tanya Jeongmin bingung dengan perkataan Nayoung.

“Aku tahu oppa sangat mencintainya. Aku tidak mau melihat oppa menangis karena kehilangan Hira-ssi. Jadi aku akan menggantikannya. Dia akan hidup” terang Nayoung dengan air mata yang terus menetes.

“Bagaimana denganmu?” Jeongmin perlahan mendekati Nayoung yang tengah berdiri di sudut ruangan.

“Aku…”

*Flashback*

“Chagi, pasangkan ini pada kalungmu!” perintah sang raja yang bernama Kim Donghyun pada putrinya Kim Nayoung.

“Apa ini?” Nayoung menerima sebuah mutiara kecil berwarna putih permberian dari appanya barusan.

“Itu adalah mutiara keabadian. Mutiara itu bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit bahkan orang yang sudah matipun dapat hidup kembali” terang Donghyun panjang lebar.

“Jinjja?” mata Nayoung berbinar-binar melihat mutiara itu, dia pun langsung memasangkannya ke dalam liontin kalung berbentuk bintang miliknya.

“Tapi kau harus ingat, jika kau kehilangan kalung ini kau akan mati” perkataan appanya membuat Nayoung berhenti melakukan aktifitasnya –melihat kalungnya terus menerus-.

“Bagaimana seorang Cupid bisa mati?” Nayoung keheranan sendiri mendengar jika seorang Cupid bisa mati. Bukankah itu mustahil?

“Ne. seorang Cupid tidak bisa bertahan di bumi dalam waktu satu hari tanpa memiliki mutiara itu. Tapi jika seorang Cupid memiliki mutiara keabadian itu dia akan bisa bertahan di bumi dalam waktu yang tak terbatas. Jangan sampai kau kehilangan benda itu. Jika iya, kau akan mati, dan menjadi abu. Kau tak bisa hidup lagi walau di negri kita sekalipun” Donghyun menjelaskannya dengan menundukkan kepalanya.

“Appa, aku berjanji akan kebali..” ucap Nayoung sambil memeluk appanya dengan erat. Perlahan namun pasti air mata dari keduanyapun jatuh bersamaan.

“Sudahlah, appa jangan menangis. Aku pasti akan kembali” Nayoung melepaskan pelukannya lalu mengusap pipi appanya yang basah oleh air mata.

“Sekarang kau harus segera pergi”

“Ne appa. Pai…”

*Flashback end*

“Andawe.. kau tidak boleh melakukannya!!” bentak Jeongmin, entah kenapa dia merasa akan lebih kehilangan jika Nayoung tidak ada dari pada Hira, yeojachingunya sendiri.

“Mianhae oppa ini sudah menjadi keputusanku” Nayoung berjalan kearah ranjang yang ditempati Hira. Dipegangnya kalung yang selalu ia pakai itu.

“Andwae..” Jeongmin menarik tangan Nayoung sehingga dia jatuh kepelukan Jeongmin.

“Saranghae..” bisiknya tepat di telinga Nayoung.

“Mianhae oppa, kita tidak mungkin bisa bersatu. Lagi pula Hira-ssi lebih pantas untukmu. Manusia jodohnya dengan manusia. Seorang Cupid dengan Cupid lagi. Tuhan tidak mentakdirkan manusia berjodoh dengan seorang Cupid”. Nayoung melepaskan pelukan Jeongmin dan dia sudah melepaskan mutiara keabadian itu dari kalungnya.

“Mainhae appa..” gumamnya ketika melihat bayangan appanya tepat tengah berdiri dihadapannya, memandangnya dengan gusar.

Ditempelkannya mutiara itu tepat ke dada Hira. Seberkas cahaya yang begitu menyilaukan hingga Jeongmin pun memejamkan matanya karena tak kuat menerima cahaya itu.

Perlahan-lahan cahaya itu mulai meredup meninggalkan seorang yeoja yang sudah terkapar dilantai. Jeongmin yang kaget pun langsung menghampiri yeoja itu, Nayoung. Dipangkunya kepala Nayoung keatas pahanya dengan hati-hati.

“Nayoung-ah!! Nayoung-ah!!” Jeongmin menepuk-nepuk pipi Nayoung yang sudah dingin itu.

“Mianhae oppa..” ucap Nayoung lemah. Setetes air mata jatuh sebelum matanya benar-benar tertutup. Dirangkulnya kedalam dekapannya tubuh Nayoung yang sudah tak bergerak. Namun tiba-tiba saja Jeongmin tidak merasakan suatu apapun dalam dekapannya. Seketika itu mata sipitnya langsung membulat sempurna ketika tidak mendapati yeoja itu dalam pangkuannya.

“Op..oppa…” suara lirih yang sangat dikenalinya tiba-tiba terdengar. Buru-buru ia berdiri dan mendapati Hira sudah membuka matanya.

***

Satu minggu berlalu setelah kepergian Nayoung dari hidup Jeongmin dan keadaan Hira pun berangsur-angsur membaik.

“Hira-ah ada sesuatu yang ingin oppa berikan” ucap Jeongmin yang sedang duduk dipinggir ranjang Hira.

“Apa oppa?” Tanya Hira begitu penasaran.

Jeongmin pun mengeluarkan sebuah kalung perak dengan liontin bintang yang berkilauan dari dalam saku jaketnya. Diperlihatkannya kalung itu tepat di depan Hira. Mata yeoja itu langsung berbinar ketika melihat kalung yang begitu cantik tengah disodorkan oleh namjachingunya.

“Oppa.. ini cantik sekali..” ucap Hira sambil memandang Jeongmin dengan mata yang mulai berkaca-kaca, mungkin karena terharu saking senangnya mendapatkan hadiah yang begitu indah dari seorang yang sangat dicintainya.

“Oppa pakaikan ne?” Tanya Jeongmin yang disambut dengan anggukkan dari Hira. Jeongmin pun langsung memasangkan kalung itu keleher Hira.

“Kau sangat cantik..” puji Jeongmin melihat yeojanya itu memkai kalung yang ia berikan.

“Gomawo oppa” ucap Hira malu-malu.

“Oya, ada satu lagi” Jeongmin merogoh saku jaketnya lagi. “Ige, cepat pasangkan!” Jeongmin menyodorkan sebuah mutiara kecil berwarna putih kedepan Hira. Hira pun dengan segera memasangkan mutiara itu pada liontin bintang yang sedang dipakainya.

Mutiara itu. Itu adalah mutiara keabadian. Sekarang aku tahu, ternyata mutia itu berasal dari Cupid sendiri. Setetes air mata Cupid disaat-saat terakhirnya sebelum ia mati. Gomawo Nayoung-ah, kau rela mengorbankan nyawamu demi kebahagiaanku. Saranghae Nayoung-ah, saranghae my Cupid –Jeongmin-

End

Huwaaa… akhirnya end juga. Sebenernya itu kata-kata terakhrir kan mitos putri duyung #plakk~ Karena author bingung mau ngapain jadinya dimasukin deh mitos itu kedalam cerita, walaupun jadi aneh ga apa-apa lah ^_^

Dimohon RCL nya ya J

Gomawo..

Ppyong!!

This entry was posted by boyfriendindo.

11 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] My Cupid

  1. wihh keren ff-nya hhehe, ahh jadi nayoung critanya cupid, hehehe tpi msih ga rela nayoung mati T.T tpi percuma ya dia juga ga bisa bersatu sma jeongmin, aigoo. Gpp hehe, nice ff thor😀 suka sma ff-nya hehe dibawa ke dunia fantasi ..

  2. Suka suka suka~
    aaaa… tp Nayoungnya ;A;
    “Nayoung-ah, aku akan menggantikanmu disisi Jeongmin oppa. tenang saja”

    Hira : apa-apaan ini, si Jeong uda jadi milik aku :p

    ~_~`

  3. Dari mulai pertengahan kirain author bakal biking ending Jeongmin nyatu sama Nayoung. Ternyata engga ‘toh?

    Hira jadi manusia abadi dong karena make liontin sama mutiara keabadian itu?
    Waww..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: