[FANFICT/FREELANCE] Petualangan di Hutan

Petualangan di Hutan

Title 
Petualangan di Hutan
Author   ANDINI940223
Genre         Friendship
Rating          T
Type   One Shoot
Main Casts      
~ No Minwoo~ Jo Kwangmin

~ Jo Youngmin

Disclaimer : Semua cast yang ada dalam FF ini milik Tuhan, orangtuanya, agensi masing-masing band, dan milik para Bestfriend yang namanya author pinjam. FF ini hanyalah fiktif belaka dan pure hasil pemikiran author sendiri.

Summary: Petualangan di hutan dekat desa yang tiga namja penuh semangat kira akan menyenangkan, malah menjadi pengalaman buruk bagi mereka. Apalagi teman mereka Kwangmin hilang, dan Youngmin terluka.“Bertahanlah Youngmin-ah… aku pasti akan segera mencari pertolongan, dan aku akan menemukan dimana Kwangmin.” Apakah Minwoo dapat mencari pertolongan untuk Youngmin yang terluka? Dan dimana Kwangmin sebenarnya? Check this story readers, happy readings~ ppyoung~

Di suatu hari yang cerah, tiga orang namja yang masih duduk di bangku Senior high school terlihat asyik membicarakan sesuatu. Mereka sibuk dengan pembicaraan mereka mengenai rencana perjalanan mereka untuk pergi berpetualang di hutan. Walau hutan itu tak jauh dari desa mereka, tapi mereka belum pernah melakukan perjalanan ke hutan tersebut.

“Ottae?” Tanya Youngmin terhadap kembarannya dan sahabatnya. “Eoh? Hajiman Youngmin-ah, bagaimana kalau kita tersesat?” sahut Kwangmin kembaran dari Youngmin. “Tidak mungkin, hutan itukan tidak terlalu besar.” Youngmin menatap sahabatnya Minwoo untuk meminta pendapatnya. “Apa kau yakin tak ada binatang buas?” Youngmin menggeleng mantap, dia sangat yakin hutan di desa mereka tidaklah berbahaya.

“So? Ottae?” Tanya Youngmin memastikan. “Baiklah kita lakukan!” Kwangmin mulai membayangkan petualangan pertamanya ke hutan. “Lalu kau Minwoo?” sekarang Youngmin menatap sahabatnya yang sedikit pengecut itu.

“Er… kau yakin aman? Aku… aku sejujurnya… aku takut memasuki hutan itu…” aku Minwoo. Youngmin menepuk jidatnya, sementara Kwangmin sudah menahan tawanya melihat sahabatnya yang benar-benar pengecut itu.

“Oh ayolah, Minwoo-ah… ini tidak akan menyeramkan. Di hutan itu taka da apa-apa, kita hanya ingin mencari tupai saja. Apa kau tidak ingin mencari tupai? Ku dengar Yerim ingin memelihara seekor tupai, apa kau tak ingin memberi hadiah untuk yeoja yang kau sukai itu” Minwoo terdiam, dia sedang memikirkan resiko jika dia benar-benar mencari tupai liar di hutan. Tiba-tiba wajah Yerim terlintas di benaknya, hanya dengan membayangkan yeoja manis itu bias membuat Minwoo tersenyum sendiri.

“Lihatlah, bahkan hanya dengan menyebut namanya saja kau sudah seperti ini! Apalagi jika kau dan Yerim jadian, itu akan membuatmu bahagia bukan? Dan cara pertama untuk kalian bersatu adalah dengan memberinya tupai itu” Kwangmin mencoba menghasut Minwoo untuk ikut ke hutan.

“Ne, baiklah. Kajja kita mencari tupai itu. Agar Yerim bias menjadi yeojachinguku!” ujar Minwoo semangat. Jo twins bersaudara hanya bias cekikikan melihat sahabatnya yang sangat bersemangat itu.

“Kita pergi mencari tupai hari minggu ini, jangan lupa kalian bawa perbekalan secukupnya!” ujar Youngmin memberi komando. Dan akhirnya mereka sepakat, hari minggu nanti untuk pergi berpetualang di hutan.

—Minggu–

Sesuai dengan rencana, hari ini adalah hari dimana mereka akan mencari tupai ke hutan. Minwoo sudah bersiap sejak jam 5 pagi, dia membawa ransel yang cukup besar, sebuah kandang, jaring, dan makanan yang banyak. Minwoo dengan semangat memakai sepatu olahraganya dan memakai topinya. Dia berjalan menuju rumah Jo Twins.

“Annyeong… Jo ahjuma, apa Kwangmin dan Youngmin ada?” Tanya Minwoo sopan saat nyonya Jo yang membuka pintu. “Mereka masih tertidur di kamar. Minwoo-ah eodigayo? Kau akan berkemah?” Tanya nyonya Jo saat melihat Minwoo memakai ransel, topi, dan sepatu olahraga.

“Ani, kami hari ini akan pergi ke hutan di dekat desa untuk mencari tupai” Minwoo tersenyum kecil kepada nyonya Jo. Nyonya Jo menautkan sebelah alisnya bingung. “Jinja? Tapi kenapa perbekalanmu sebanyak ini?” “hahaha karena aku baru pertama kali berpetualang ke hutan ahjuma.” Minwoo tertawa kikuk, sepertinya perbekalannya memang terlalu banyak.

“Kalau begitu kau bangunkan Youngmin dan Kwangmin! Kalau terlalu siang, nanti kalian kemalaman di hutan” Minwoo langsung memasuki rumah keluarga Jo itu. Dia langsung menuju kamar yang tak asing untuknya. Terlihat Kwangmin yang masih tertidur memeluk boneka pikachunya sedangkan Youngmin mendengkur kecil dengan kaki yang menindih Kwangmin. Minwoo mengambil ponsel di sakunya. KLIK! Dia mengabadikan foto Jo Twins yang masih tertidur.

Minwoo mulai menggoyangkan kaki Kwangmin, hanya dibalas oleh gerakan kecil Kwangmin. Kemudian dia menggoyangkan badan Youngmin, sama seperti kembarannya, Youngmin hanya mengusap air yang keluar dari mulutnya. Minwoo yang mulai kesal karena si kembar ini tak kunjung bangun akhirnya mengambil ancang-ancang.

BRUK! Minwoo melompat ke atas Jo twins yang masih tertidur. “OUCH!!” jerit Jo twins bersamaan. “Aigo… appo… YA!!! NO MINWOO APA YANG KAU LAKUKAN??!!!” kesal Kwangmin. Minwoo lalu turun dari atas Jo twins. “Neo? Membangunkan kalian” ujar Minwoo santai.

“Ini hari minggu Minwoo-ah, kenapa kau membangunkan kami? Inikan bukan hari sekolah” protes Youngmin sambil menggaruk rambutnya yang gatal. “MWOYA??!!! Apa kalian lupa??? Hari ini kita akan mencari tupai untuk Yerim di hutan!!!!” teriak Minwoo kesal. Youngmin langsung menutup telinganya, sementara Kwangmin langsung kabur menuju kamar mandi.

Minwoo dengan polosnya menunggu Jo twins di meja makan sambil sesekali menggigit roti bakar yang dibuat oleh nyonya Jo. “Kalian sudah selesai bersiap?” Tanya Minwoo saat melihat Jo twins duduk di meja makan. “Kajja kita pergi!!! Jo ahjuma, kami pergi dulu. Kamsahabnida untuk sarapannya… annyeong…” Minwoo menarik Jo twins tanpa memberi kesempatan Jo twins untuk sarapan.

“YA! YA! YA! Minwoo-ah, aku belum mengambil sarapanku!” protes Kwangmin yang masih ditarik Minwoo keluar. “Salah sendiri kenapa kalian membuatku kesal pagi ini!” bentak Minwoo yang tidak memperdulikan rengekan Jo twins.

Akhirnya Jo twins itu berhenti merengek. Mereka mulai berjalan menuju hutan, Kwangmin mengunyah snack yang ia bawa di tasnya. Sementara Youngmin memimpin di depan. “Minwoo-ah, kenapa kau membawa banyak barang seperti ini?” Tanya Kwangmin saat sadar dengan barang bawaan Minwoo. “Mollaaa… aku hanya berjaga-jaga saja!” jawab Minwoo santai, dia kembali mendengarkan musik di ponselnya.

Setelah berjalan selama 30 menit, Minwoo beserta Jo twins tiba di depan hutan. Mereka mulai terlihat tak yakin untuk memasuki hutan itu. ‘Ayolah Youngmin-ah ini masih siang, kau tak usah khawatir. Gwenchana. Gwenchana..’ ujar Youngmin dalam hati. Minwoo hanya menelan ludahnya, rasanya tenggorokannya mulai terasa kering. “Are you ready, guys?” Tanya Kwangmin ragu. Youngmin mengangguk, sementara Minwoo masih terdiam sambil sesekali menelan ludahnya.

Mereka mulai memasuki hutan itu, dengan langkah yang lambat mereka dengan pasti memasuki hutan itu. “Aku takut…” bisik Minwoo. Youngmin hanya memutar bola matanya, sahabatnya sungguh pengecut. “BWAH!!!!” Minwoo terlonjak kaget, sementara Kwangmin tertawa terbahak melihat reaksi kaget Minwoo. “YA! JO KWANGMIN!!! Kubunuh kau!” Minwoo menjitak Kwangmin.

“DIAMLAH KALIAN BERDUA!!!” teriak Youngmin kesal. Minwoo dan Kwangmin langsung menutup mulut mereka. Youngmin tanpa berdosa tetap berjalan di depan untuk memimpin.

“Youngmin-ah… aku lelah…” Kwangmin duduk di tanah, dia mengeluarkan air mineralnya dan meneguk air itu sampai habis. “Bahkan airku pun sudah habis” keluh Kwangmin. “Baiklah kita istirahat” Youngmin kemudian duduk diikuti Minwoo. Mereka lalu membuka perbekalan mereka satu-persatu.

“Sudah jam berapa ini?” Tanya Youngmin. Minwoo langsung melirik jam tangannya. “Ini sudah hampir jam 3 sore, kita belum juga menemukan tupai itu.” Minwoo meniup poninya kesal.

“Aku mulai curiga pada kalian, jangan-jangan di hutan ini sebenarnya tak ada tupai” lanjut Minwoo. Dia melihat ke atas pohon berharap menemukan tupai yang sangat diinginkan Yerim. ‘Yerim-ah aku pasti akan dapatkan tupai itu untkmu’ batin Minwoo.

Mereka bertiga masih mencari tupai di hutan, sampai tak terasa malam tiba. Kwangmin yang tidak membawa senter menabrak pohon yang ada di depannya. “OUCH!!!” ringis Kwangmin. “Kwangmin-ah gwencahana?” Tanya Youngmin yang menyadari kembarannya meringis. “Ne, aku hanya menabrak pohon. Hari sudah semakin gelap, sebaiknya kita pulang.” Usul Kwangmin. “Ne, aku setuju dengan Kwangmin. Minwoo-ah sebaiknya kita pulang!” ajak Youngmin, Minwoo tidak menggubris Jo Twins, dia masih fokus mencari tupai untuk Yerim.

“Minwoo-ah… kajja kita pulang…” Kwangmin mulai merasa tidak tenang, bulu kuduknya mulai merinding. “Minwoo-ah… kita lanjutkan besok saja…” lanjut Kwangmin yang mulai bergetar. “Shireo!! Kita sudah ada di hutan, rasanya tanggung untuk kembali pulang. Apalagi kemarin ada yang menjanjikanku untuk membantu menangkap seekor tupai!” sindir Minwoo.

Minwoo masih sibuk mencari tupai, diikuti oleh Jo twins yang berjalan di belakang. “Youngmin-ah, aku sungguh takut..” ujar Kwangmin yang melihat sekelilingnya sangat gelap. “Nado”.

SRAK! SRAK! SRAK!

“Su-sua-ra a-a-pa i-tu??!!!” Kwangmin mulai panic begitu juga Youngmin, mereka mulai berpegangan tangan. Sedangkan Minwoo berjalan di depan menuju suara itu. SRAK! SRAK!SRAK! “Kwangmin-ah, Minwoo-ah sebaiknya kita kembali!!!” teriak Youngmin yang semakin panic, sekarang Minwoo juga terlihat mulai pucat. Keberaniannya tadi telah menghilang, dan mulai mendekat ke arah Jo twins.

“HUWAAAA!!!!! LARIIIIIIIIII!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Kwangmin panik. Mereka bertiga langsung berlari tak tahu kemana arah tujuan mereka, yang ada di kepala mereka hanyalah keluar dari hutan itu.

“HOSH! HOSH! HOSH!” Minwoo mencoba mengatur nafasnya, dia sudah tidak sanggup lagi untuk berlari.

“Minwoo-ah, dimana Kwangmin??!!!!” Tanya Youngmin yang melihat ke sekitar hutan. Dia tak menemukan Kwangmin dimana pun. “Gawat! Apa Kwangmin tertinggal???” Minwoo mencari-cari Kwangmin dengan senternya. “Tidak mungkin! Tadi dia berlari di depanku!” Youngmin mulai terlihat gelisah karena kembarannya tiba-tiba menghilang.

“Kwangmin-ah… eodigayo???!!!” “Kwangmin-ah…!!!!!” “Kwangmin!!!! Jangan bercanda ini tak lucu, dimana kau!!!!” Youngmin dan Minwoo terus saja mencari Kwangmin. Hari semakin malam, dan senter Youngmin mulai meredup karena batrenya hamper habis.

“Sial!! Senterku habis batre” kesal Youngmin. “Otokhe Youngmin-ah??? Aku takut!!” Minwoo mulai panik kembali. “Tenanglah, kita tak boleh panic” Youngmin mencoba menenangkan sahabatnya itu.

“Ayo kita cari jalan keluar dulu, kemudian minta pertolongan warga untuk mencari Kwangmin” mereka berdua akhirnya berjalan untuk mencari jalan keluar.

“Minwoo-ah, sepertinya…kita… tersesat…” lirih Youngmin setelah sadar mereka hanya berputar-putar di hutan.

“YA! Youngman-ah, kau ini bagaimana! Kenapa kita bisa tersesat eoh? Kau tak bisa perhatikan jalan eoh?!” Minwoo mulai terlihat kesal. “YA! Jangan membentakku!!! Ini semua juga gara-gara kau!!!” bentak Youngmin. “MWOYA??!!!! Gara-gara aku??!!! Heh Youngmin-ah, semuanya gara-gara kamu! Kamu yang membohongiku dengan tupai itu! Kau yang punya ide gila masuk ke hutan!!!” Youngmin mengepalkan tangannya bersiap melayangkan pukulan di wajah polos sahabatnya itu.

“ISH!! JINJA!!! BUGH!!!!” kesal Youngmin, dia mengarahkan amarahnya kepada batang pohon di belakang Minwoo, sementara Minwoo jatuh tersungkur karena kaget.

“Sudahlah tak ada gunanya kita berdebat, kita harus keluar dari sini dan mencari Kwangmin” Youngmin mengatur nafasnya agar tenang, sementara Minwoo tertunduk.

“Minwoo-ah gwenchana??? Mianhae… aku sudah membentakmu tadi” Youngmin menjatuhkan dirinya di dekat Minwoo. “Hiks… nado Youngmin-ah hiks.. mianhae.. hiks… aku terlalu kalut hiks… makanya hiks.. aku marah…” isak Minwoo. Youngmin hanya menghela nafasnya pelan, dia lupa jika sahabatnya ini sangatlah sensitif.

Setelah memutuskan untuk beristirahat sejenak, mereka akhirnya melanjutkan perjalanan untuk mencari Kwangmin dan jalan keluar. Sudah sekitar 2 jam mereka berjalan, dan senter yang dibawa Youngmin kini mulai kehabisan batre.

“Argh! Sial! Batre senterku habis, Minwoo-ah apa kau membawa ponsel?” Tanya Youngmin. Seperti mendapat insight, Minwoo buru-buru mengeluarkan ponselnya. “Youngmin-ah, kenapa tak dari tadi kita memakai ponsel ini!” ujar Minwoo girang. Youngmin mengerjapkan matanya, kemudian berteriak girang. “Ah benar!!! Bukankah ada ponsel!!” Minwoo melihat ke arah ponselnya, raut yang bahagia kini berubah kecewa.

“Waeyo??” Tanya Youngmin saat dia melihat perubahan wajah drastis sahabatnya. “Tak ada sinyal!!!!!!” teriak Minwoo histeris. Mereka berdua menangis sejadi-jadinya meratapi nasib sial mereka.

SREK! SREK! Terdengar suara semak-semak itu lagi, sonatk membuat Minwoo dan Youngmin terkejut. Tanpa aba-aba, mereka langsung berlari karena takut. Mereka terus berlari di dalam hutan yang gelap tanpa penerangan sedikitpun. Sesekali kaki Youngmin menabrak akar pohon dan juga batu. Karena jalanan yang gelap, Youngmin tak menyadari ada jurang di depannya.

“AAARRRGGGGHHHHHHH….!!!!!!” Teriak Youngmin, Minwoo dengan panik langsung menuju ke arah sumber suara, didapatinya Youngmin yang terkulai tak berdaya di bawah jurang yang cukup tajam.

KREK! “AAARRRGGHHH…” karena kecerobohan Minwoo dan hutan yang gelap, Minwoo pun terpeleset jatuh ke jurang yang sama dengan Youngmin. Tapi dia beruntung masih bisa selamat.

“Ergh…” erang Minwoo. Dia mencoba untuk berdiri dan mendekati Youngmin yang terkulai.

“Youngmin-ah… ireona… Youngmin-ah…” Minwoo mencoba membangunkan Youngmin. “Ergh… hosh.. hosh…” Minwoo masih bersyukur karena sahabatnya ini masih hidup, tapi sepertinya Youngmin terluka parah. “Youngmin-ah bertahanlah…” Minwoo mencoba memapah Youngmin untuk berjalan.

“Ergh.. Minwoo—hosh…argh…” Youngmin kembali terjatuh, Minwoo dengan sigap menyenderkan Youngmin di sebuah pohon besar.

“Argh.. sepertinya, kakiku tak bisa digerakkan…ergh. Ouch… appo…” ujar Youngmin dengan nada yang menyedihkan.

“Youngmin-ah..hosh.. berta-hanlah hosh.., ki-ta keluar hosh.. dari jurang ini!” Minwoo mengatur deru nafasnya yang sudah tak beraturan.

“Aku tak kuat lagi Minwoo-ah… badanku sulit untuk ku gerakan..hiks…” Youngmin berusaha menggerakkan kakinya tapi tak bisa.

“A-ku hiks—tak bisa..hiks.. gerak-ouch! Hiks…kakiku..” Minwoo melihat sahabatnya iba, dia langsung memeluk sahabatnya kecilnya itu. “Tenanglah Youngmin-ah, kita pasti bisa keluar dari sini.. kita istirahat sebentar disini. Tunggu sebentar, aku ambilkan dedaunan untuk kita pakai sebagai alas.”

Minwoo mencari dedaunan yang besar untuk dipakai sebagai alas untuk mereka beristirahat dan sekalian melihat keadaan di sekitar mereka.

‘Jurang ini begitu dalam, bagaimana aku membawa Youngmin naik ke atas?’ batin Minwoo, dia melihat-lihat tebing yang ada di depannya untuk mencari jalan agar bisa naik ke atas.

Minwoo tak bisa berlama-lama di depan tebing yang curam itu, dia langsung kembali menuju tempat Youngmin. Keadaan Youngmin sungguh mengenaskan, bajunya kotor dan robek, pelipisnya terluka, dan kakinya yang kaku. Minwoo menatap iba sahabatnya itu, di hapusnya air mata yang jatuh ke pipinya dan menghampiri Youngmin yang terkulai lemah.

‘Youngmin-ah aku pasti akan membawamu keluar dari sini’. Minwoo menyusun dedaunan yang tadi dia bawa, untuk dia jadikan selimut. “Minwoo-ah…” lirih Youngmin.

“Ne? Waeyo Youngmin-ah?? Apa kau lapar?? Aku masih punya sisa snack saku jaketku.” Minwoo mengeluarkan snack yang ada di saku bajunya, Youngmin hanya menggeleng. “Kau tak mau??” Tanya Minwoo, Youngmin kembali menggeleng.

“Minwoo-ah… ka-u.. tak perlu kha-watir-kan a-ku..hosh.. se-baik-nya ka-u… ting-gal-kan a-kk-u did-sini..hosh..hosh..”

“Shireo!!! Aku tak akan meninggalkanmu disini Youngmin-ah, kita akan keluar dari hutan ini!”

“A-ku ssud-dah tak ku-at la-gi… pe-per-gilah Minwoo-ah, k-kau ju-ga harus men-cari Kwangmin…hosh…hosh…”

“Shireo!! Aku tak bisa meninggalkanmu, hiks… bertahanlah Youngmin-ah… Youngmin-ah?? Youngmin-ah??!!! Ireona.. Youngmin-ah…” Minwoo semakin kalut, dia melihat Youngmin tak sadarkan diri. Air matanya mengalir deras di pipinya, Minwoo masih berusaha membangunkan sahabatnya Youngmin.

“Youngmin-ah hiks.. ireona…hiks..Youngmin-ah, jangan membuatku takut seperti ini!!! Hosh..hosh…” Minwoo mengatur nafasnya, tekadnya sudah bulat untuk mencari pertolongan. Youngmin harus segera di tolong, jika tidak nyawanya dalam bahaya.

Minwoo meninggalkan ponselnya yang dia pakai sebagai penerangan, lalu dia melepas kawat yang ada di kandang tupai yang dia bawa tadi. Kawat itu dia pakai sebagai senjata.

Minwoo mulai menandai pohon, agar dia tidak tersesat saat mencari pertolongan untuk Youngmin. Sekarang dia sudah berada di depan tebing yang curam itu, untung saja hari tak hujan sehingga jalanan tidak licin.

‘Aku pasti bisa!!!’ tekad Minwoo. Dengan perlahan tapi pasti Minwoo mendaki tebing itu dengan bantuan kawat tadi. Dia sedikit demi sedikit mendaki tebing itu, hampir setengah jam lamanya Minwoo mendaki.

“ARGH…!!!” Minwoo terpeleset, dia hampir saja terjatuh kalau tidak ada batang yang dia pakai sebagai tumpuan. Dengan perlahan Minwoo kembali mendaki, tangannya dengan sigap memegang akar pohon yang muncul ke permukaaan.

Minwoo akhirnya sampai di atas, dia melihat ke bawah jurang itu. “Bertahanlah Youngmin-ah… aku pasti akan segera mencari pertolongan, dan aku akan menemukan dimana Kwangmin.” Minwoo segera berlari mencari jalan keluar, dia menandai setiap batang pohon yang dia lewati agar dia tak tersesat ataupun berputar-putar di hutan.

Di tempat lain Kwangmin yang terus berlari tak tentu arah, melihat cahaya. Cahaya yang mulai memberikan semangat setelah dia ada diambang keputusasaan. Dengan langkah gontai Kwangmin menuju sumber cahaya itu. Harapannya kembali terbuka lebar ketika dia melihat bahwa cahaya itu adalah jalan keluar dari hutan itu. Sudah beberapa jam dia berlari di hutan. Awalnya Kwangmin tak menyadari bahwa dia tidak bersama dengan kembarannya dan sahabatnya. Dia baru sadar disaat Kwangmin menoleh ke belakang, tak ada Youngmin ataupun Minwoo.

Kwangmin berlari menuju cahaya tersebut, kemudian dia menuju ke pemukinan warga yang terdekat. Dengan nafas terengah-engah Kwangmin menggedor salahsatu pintu dari rumah warga.

“Annyeonghaseyo…hosh…hosh… ahjussi… apa kau bisa menolongku..hosh…” ujar Kwangmin berusaha mengatur nafasnya.

“Waeyo?? Kenapa kau berantakan sekali, duduklah disini aku akan mengambilkan air untukkmu.” Ahjussi itu masuk ke dalam rumahnya, tak lama dia keluar dengan gelas di tangannya. Kwangmin langsung meminum air yang ahjussi itu berikan, setelah nafasnya mulai teratur dia lalu menceritakan apa yang telah menimpanya dan kembaran serta sahabatnya.

“Jadi teman-temanmu masih ada di dalam hutan?” Tanya ahjussi itu cemas. “Ne, ahjussi. Apakah di hutan itu ada binatang buasnya??” Kwangmin takut jika hutan itu ada bianatang buas, bagaimana nasib kembaran dan sahabatnya nanti. Ahjussi itu tersenyum lalu menggeleng pasti. “Di sana tidak ada binatang buas” ujarnya memberi keyakinan Kwangmin. Kwangmin menghela nafasnya lega.

“Sebaiknya kita bergegas menolong teman-temanmu itu” ujar ahjussi. Mereka lalu mengumpulkan warga dan bersiap-siap melakukan pencarian ke hutan. Kwangmin yang memimpin pencarian itu sebagai petunjuk arah. Warga mulai memasuki hutan dan meneriakkan nama Youngmin dan Minwoo.

“Kita tidak masuk hutan sampai sejauh ini ahjussi..” ujar Kwangmin. “Kau yakin?” Kwangmin mengangguk. Mereka terus meneriaki nama Minwoo dan Youngmin.

Kembali ke Minwoo, dia masih berusaha untuk mencari jalan keluar dari hutan ini, kakinya sudah dipenuhi darah yang mengalir dari luka-luka di sekujur kakinya. Saat berusaha mencari jalan keluar, Minwoo terkadang terpeleset atau tersayat ranting pohon yang lumayan tajam. Minwoo sudah tak mempedulikan lagi bagaimana keadaanya sekarang, yang ada dipikirkannya adalah keadaan Youngmin dan juga sesegera mungkin mencari pertolongan.

“Argh…!!” Minwoo terjatuh, terkena akar pohon yang menjulang ke permukaan tanah. “Ergh… kakiku…” ringis Minwoo, dia menyadari bahwa kakinya terkilir. “Aku tak boleh menyerah, Youngmin membutuhkanku!!!” Minwoo membulatkan tekadnya, dia lalu berdiri dan mulai kembali berjalan.

Dengan jalan terseok-seok Minwoo berusaha untuk mencari jalan keluar, yang ada dipikirannya adalah keadaan Youngmin yang harus segera ditolong, dan Kwangmin. Dengan membawa harapan itu, Minwoo terus melanjutkan perjalanannya. Hingga dia melihat cahaya yang menyilaukan mata. Minwoo menutup matanya dengan tangan kirinya. Senyum terkembang di wajahnya, dia dapat memastikan bahwa itu adalah cahaya senter. Dan juga dia bisa mendengar orang-orang memanggilnya.

“Aku disini!!!!!” teriak Minwoo. “HEY!!!! AKU DISINI!!!!!” minwoo terus berteriak dan juga melambai-lambaikan tangannya. Senyumnya tak henti terkembang di wajahnya yang lusuh.

Kwangmin yang menyadari suara Minwoo langsung menyorotkan senter ke arah sumber suara. Dan dia bisa melihat Minwoo yang melambai ke arahnya. Kwangmin segera berlari menuju ke arah Minwoo disusul dengan warga yang lain.

“Minwoo-ah, gwenchanayo??” Tanya Kwangmin khawatir, Minwoo mengangguk. Senyumnya masih terpantri di wajahnya. “Youngmin-ah?? Eodiga???” Kwangmin melirik ke belakang Minwoo mencari kembarannya, namun nihil.

“Kajja, ikut aku. Youngmin terluka parah. Kami tadi jatuh ke dalam jurang.” Ujar Minwoo. Mereka lalu bergegas mengikuti Minwoo dari belakang.

“Ppali!!!” teriak Minwoo. “Minwoo-ah apa kau yakin jalannya kesini, bagaimana kau tahu kalau ini jalan yang benar??” Tanya Kwangmin, dia melihat sekeliling hutan itu. Gelap. Karena memang tak ada pencahayaan.

“Tenang saja Kwangmin-ah, aku sudah menandai setiap batang pohon yang kulalui sehingga kita tak akan tersesat.” Jawab Minwoo tanpa menoleh ke arah Kwangmin lawan bicaranya.

‘Pintar juga dia. Dalam keadaan kalut seperti itu, dia masih bisa melakukan hal sepele seperti itu’ takjub Kwangmin dalam hati.

SRAK! Minwoo, Kwangmin dan beberapa warga desa tiba di tepi jurang dimana Youngmin dan Minwoo sempat terjatuh. “Disinilah kami terjatuh, di bawah sana ada Youngmin.” Ujar Minwoo menunjuk ke bawah jurang. “Kau memanjat tebing ini?” Tanya Kwangmin, Minwoo hanya mengangguk kecil. Sekali lagi Kwangmin dibuat takjub oleh Minwoo, pasalnya Kwangmin tidak percaya jika sahabatnya yang pengecut itu bisa seberani ini.

“Ppalli!!! Turunkan talinya!!” teriak salah seorang warga. Kini warga sedang mencoba untuk turun ke dasar jurang. Kwangmin dan Minwoo menunggu di atas, mereka tetap berdoa demi keselmatan Youngmin.

“Dia masih hidup!!!” teriak salah seorang warga dari dasar jurang. Senyuman terkembang dari bibir Minwoo dan Kwangmin, mereka tak henti-hentinya bersyukur karena Youngmin masih hidup.

“Angkat dia, ppali!!!” perintah dari dasar jurang. Tak lama Youngmin telah diangkat dari dasar jurang, dia masih pingsan. Kemudian dengan sigap warga langsung menaruh Youngmin di tandu. Mereka lalu menuju desa.

Youngmin di bawa ambulance menuju rumah sakit terdekat. Kwangmin dan Minwoo ikut serta di dalamnya. Mereka ingin tahu bagaimana keadaan Youngmin.

Kwangmin dan Minwoo harap-harap cemas menunggu di depan UGD, mereka menunggu dokter keluar. “Bagaimana dok?” Tanya Kwangmin saat melihat dokter keluar dari UGD. “Keadaannya baik-baik saja, hanya saja tulang kakinya patah.” Ujar dokter, lalu meninggalkan Minwoo dan Kwangmin.

“Minwoo-ah, gomawo…” ujar Kwangmin saat mereka berada di kamar pasien. Pasalnya Minwoo dan Kwangmin juga merupakan pasien rumah sakit itu sekarang. “Eoh? Tak usah berterimakasih padaku. Bukankah sudah sepantasnya kita saling menolong?” Minwoo menepuk pundak Kwangmin, Kangmin hanya mengangguk pelan. “Yang penting kita selamat, bukankah begitu?” lanjut Minwoo.

“Minwoo-ah, ada yang dating menjengukmu..!” ujar eoma Minwoo. “Nuguya eoma?” Tanya Minwoo penasaran. “Yerim-ah kajja, masuklah!” eoma Minwoo mempersilahkan yeoja manis itu masuk. Di balik pintu, sosok Yerim muncul lalu mendekati Minwoo yang sedang duduk di tepi ranjang bersama Kwangmin. Kwangmin menyenggol lengan Minwoo untuk menggodanya. Minwoo hanya tersipu malu.

“Minwoo-ah, gwenchana?” Tanya Yerim. “Gwenchana, aku hanya luka ringan Yerim-ah..”

“Heum. Baguslah.. ku dengar kau pergi ke hutan untuk mencari tupai. Jeongmalyo?” selidik Yerim. “Heum” Minwoo mengangguk kecil. “Dan ku dengar kau mencari tupai itu untukku?” DEG! Jantung Minwoo berdetak cepat. Sungguh dia malu, Yerim mengetahuinya.

“Gomawo Minwoo-ah…” ujar Yerim kemudian mencium pipi kanan Minwoo. Minwoo hanya terdiam sambil mengerjapkan matanya tak percaya.

“Ekhm… sepertinya aku mengganggu kalian. Sebaiknya aku temani Youngmin” ujar Kwangmin, lalu menghambur keluar. Minwoo hanya menggaruk tenguknya yang tak gatal sambil tersipu malu.

 

END

This entry was posted by boyfriendindo.

6 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Petualangan di Hutan

  1. hahah aigoo~ uri minwoo polos juga haha, keren thor, dibawah petualang nih bacanya hehe, salut deh sma minwoo bisa cari bantuan hehe, keren2😀 nice ff thor😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: