[FANFICT/FREELANCE] Because I Love You – Chapter 01

because iloveyou

Title 
Because I Love You
Author   Farihadaina a.ka Park HaRin
Genre         Romance
Rating          G
Type   Chaptered
Main Casts      
~ Jo Kwangmin~ Hanna Park (OC)

~ Jo Sangmoon (OC)

Other Casts      
~ Jo Youngmin~ Nana (After School)

A.n : Annyeong Ini kedua kalinya saya kirim FF ke BFI  FF ini juga udh prnah di publish di wpku  maaf jika typo bertebaran. Di review ya chingudeul. Jangan bashing saya ataupun Cast yang ada disini, ini hanya sebuah cerita fiktif belaka. #bahasanya.
Langsung aja Happy Reading!~~

~ Because I Love You ~


Kwangmin—namja berambut coklat gelap—- mengikuti Youngmin yang berjalan di depannya, menuju mobil. Youngmin tampak asik memandang cheese cake blueberry yang ada ditangannya.

“Hyung, ayolah. Jangan memandang cheese cake itu terus.” ujar Kwangmin, yang sudah berada di samping Youngmin. Namja berambut pirang itu mendongak, menatap Kwangmin.

“Wae? Apa aku tidak boleh memandang cheese cake pemberianmu ini?” Kesal Youngmin. Ia melipat tangannya di depan dada.

“Bukan begitu Hyung~ cuman aku kan baru datang, jadi jangan mendiamkan aku dengan memandang cheese cake itu terus.” rajuk Kwangmin, membuat Youngmin yang tadinya kesal menjadi tertawa kecil.

“Aish~ dongsaengku ini memang menggemaskan.” Youngmin mengusut rambut Kwangmin gemas.

“Kau rindu padaku, eoh?” goda Youngmin.

“Aish! Hyung jangan menggodaku seperti anak kecil! Kita sudah besar.” Kwangmin merengut malu. Youngmin memasang wajah kecewa.

“Jadi, kau tak rindu padaku?” sedih Youngmin. Kwangmin melirik youngmin, ia menghela napas pelan.

“Ne, aku rindu padamu Hyung..” ucap Kwangmin pelan. Youngmin terkekeh melihat wajah adiknya yang malu.

“Nah, begitu dong~ Hyung juga rindu padamu.” Youngmin merangkul pundak Kwangmin, “Sudah lama ya waktu berlalu?” lanjutnya pelan. Kwangmin mengangguk.

“Ne Hyung, sudah lama.”

~ Because I Love You ~

Mobil yang dikendarai Youngmin melaju normal di jalanan Seoul yang sepi. Di waktu seperti ini, jalanan Seoul memang sedikit lengang. Kwangmin menatap ke arah luar. Meneliti kampung halaman yang sudah ia tinggalkan ke Paris selama 4 tahun.

“Merasa asing?” tanya Youngmin sembari terus menyetir. Kwangmin menoleh sekilas pada Youngmin, lalu beralih kembali pada jendela sampingnya, melempar pandangannya pada keadaan luar.

“Sedikit.” Jawab singkat Kwangmin. Sebenarnya, matanya tak benar-benar memperhatikan keadaan luar, matanya hanya menatap kosong. Pikirannya sedang tertuju pada suatu hal. Ia ragu atas keputusannya untuk pulang ke Seoul.

“Kwang..” panggil Youngmin, ketika ia merasa ada yang mengganggu pikiran adiknya. Tak mendapat respon dari Kwangmin, Youngmin melirik Kwangmin di sampingnya. Youngmin melihat Tangan Kwangmin yang saling bertautan erat, ciri seorang Kwangmin jika gelisah.

Dan Youngmin tahu betul apa yang sedang dipikirkan Kwangmin. Ya bisa di bilang hubungan batin antara Kwangmin dan Youngmin, sehingga Youngmin tahu apa yang sedang dipikirkan Kwangmin.

“Kwangie~ jangan terlalu memikirkan tentang Sangmoon. Percayalah, dia pasti sudah baik-baik saja.” ujar Youngmin lembut membuyarkan lamunan Kwangmin.

“Tapi.. Hyung..”

“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Santai saja, ne?” Kwangmin mengangguk pelan. ‘Benar. Sangmoon-ah pasti sudah mengerti dan baik-baik saja.’ Batin Kwangmin. Ia memejamkan matanya mencoba menenangkan hati dan pikirannya.

30 menit berlalu untuk menempuh perjalanan antara incheon airport dengan kediaman Youngmin dan Kwangmin. Kwangmin keluar dari mobil. Seorang ahjussi berkepala 4 langsung keluar dari arah halaman belakang setelah Youngmin membunyikan klakson mobilnya. Ahjussi itu sedikit membungkuk sopan pada Kwangmin, Kwangmin membalas bungkukan itu dengan senyum sopan. Ahjussi itu lalu mengambil barang bawaan Kwangmin di bagasi

“Kwangie, ayo masuk.” teriak Youngmin di depan pintu rumah. Kwangmin mengangguk lalu berlari kecil menyusul Youngmin.
Rumah tingkat 2 dengan halaman yang luas, dan bergaya semi modern menjadi bangunan yang paling dirindukan Kwangmin selama 4 tahun. Kwangmin melangkah masuk ke dalam rumah. Atmosfer yang di rindukannya langsung terasa.

“Aku pulang!” ucap Kwangmin dan Youngmin berbarengan. Kwangmin melepas kacamata hitamnya. Ia edarkan pandangannya pada semua sudut rumah.

“Kwangminnie!” Nyonya Jo berlari kecil menyambut Kwangmin. Wajahnya menyiratkan kebahagiaan. Di belakangnya tuan Jo tersenyum gembira tanpa mengurangi kewibawaannya.

“Annyeong, Eomma.” Kwangmin memeluk ibunya dengan lembut. “Bogoshipoyo~” gumam Kwangmin pelan.

“Ne, Eomma juga rindu padamu Kwang.” Ucap nyonya Jo dengan isak tangis. Kwangmin melepaskan pelukan pada Eomma-nya.

“Eomma, uljima. Kenapa menangis?” tanya Kwangmin khawatir.

“Dia menangis karena senang.” Tutur Tuan Jo dari balik tubuh istrinya. Kwangmin membungkuk hormat.

“Annyeong Appa.” Sapa Kwangmin canggung. Tuan Jo tersenyum menatap anaknya.

“Tak perlu merasa canggung lagi denganku kwang. Aku sudah memaafkanmu.” Tuan Jo memeluk badan Kwangmin hangat. Rasa yang tak pernah ia dapatkan lagi dari ayahnya selama 4 tahun. Kwangmin mengangguk paham.

“Eomma.. tak usah menangis lagi.” ujar Youngmin, sembari mengelus-ngelus punggung Eommanya. “Eomma, dimana Sangmoon?” lanjut Youngmin. Ia memapah Eommanya menuju ruang keluarga. Kwangmin dan Tuan Jo mengikuti Youngmin dan nyonya Jo dari belakang. Jantung Kwangmin tiba-tiba berdetak kencang, entah karena alasan apa.

“Dia, ada di kamarnya. mungkin sebentar lagi akan keluar.” jawab nyonya Jo. Ia duduk di sofa panjang yang menghadap televisi.

Youngmin mengikuti Eommanya, duduk di sofa panjang tadi, begitu pula tuan Jo. Hanya Kwangmin sendiri yang tetap berdiri.

“Kwang, tak duduk?” tanya Tuan Jo. Kwangmin menggeleng.

“Ani, aku mau langsung ke kamarku. Penasaran, apa ada yang berubah atau tidak.” Jawabnya dengan tersenyum canggung. Walaupun ayahnya mengatakan tak perlu cangung lagi, tapi perasaan canggung itu sulit di hilangkan bagi Kwangmin.

Kwangmin menaiki tangga menuju lantai 2, dimana kamar Kwangmin, Youngmin dan Sangmoon berada.

“Tak ada yang berubah.” Gumam Kwangmin melihat penataan barang di rumahnya masih sama persis dengan dulu.

‘cklek’

Salah satu pintu kamar terbuka. Menampakkan seorang wanita, yang tengah memegang setumpuk buku. Kwangmin menoleh, sedikit terkejut melihat siapa yang ada di depannya. Begitu juga wanita yang ada di hadapannya, terkejut melihat Kwangmin.

Bruk’ Buku yang sedang di bawanya terjatuh. Wajahnya menyiratkan begitu keterkejutan.

“A-Anyeong Sangmoon-ah” Sapa Kwangmin kikuk. Wanita di hadapannya yang tak lain adalah Sangmoon, segera menutupi keterkejutannya. Ia tidak menggubris sapaan Kwangmin, malah berjongkok untuk mengambil buku-bukunya yang jatuh. Ia berdiri lagi ketika buku-bukunya telah berada di tempat awal—tangan Sangmoon.

Sangmoon memasang wajah tanpa ekspresi. Kwangmin, terdiam melihat wajah Sangmoon.

“Oh, Annyeong.” Ucapnya singkat lalu berlalu melewati Kwangmin menuju Ruang belajar bersama. Kwangmin tidak bergeming dari tempatnya. Ia sedikit terkejut melihat ekspresi wajah Sangmoon.

‘Beda. Ekspresi wajahnya berbeda dengan dulu. Argh, ini semua salahku! Mianhae.’ Batinnya. Tak jauh dari Kwangmin, Youngmin terdiam di ujung tangga, menatap keduanya dengan nanar.

~ Because I Love You ~

Hanna POV

“Lenata chagi.. irreona sayang.” Aku menepuk-nepuk kaki anakku dengan pelan. Kulihat ia mengerang kesal.

“Lenata, ayo bangun. Sekarang kita akan ke sekolah barumu.” Ucapku lembut. Ia membuka matanya perlahan.

“Lenata, gak mau cekolah Eomma..” rengeknya pelan. Aku menarik tubuhnya agar duduk.

“Sayang, kalau tidak mau sekolah, nanti Lenata jadi babo loh. Kau mau?” aku menatapnya lembut. Ia menggeleng pelan, wajahnya menekuk ke bawah.

”Kalau begitu sekarang mandi, ne?” ia mengangguk pelan, di wajahnya masih mengeluarkan ekspresi ketidak relaannya untuk sekolah.

Aku menggendongnya menuju kamar mandi. Sebenarnya aku tidak rela menatap wajahnya yang cemberut, tapi apa boleh buat, ia harus tetap sekolah.

Setelah memandikan Lenata, aku melangkah ke dapur untuk membuat sarapan kami berdua.

“Eomma!!” Lenata dari jauh berteriak girang, Entah kemana rasa kesal dan kecewanya tadi pergi. Ia menubrukkan dirinya padaku, sembari cekikikan kecil. Aku menundukan kepalaku, melihat buah hati yang sangat aku sayangi.

“Ada apa sayang? Cepat sekali kau berpakaian, hmm?”ujarku lembut, lalu melanjutkan menggoreng telur. Lenata memeluk kedua kakiku, mengingat tingginya yang tidak lebih dari pinggulku.

“Lenata kan ingin cepat-cepat bertemu Eomma. Hihi.” Ujarnya sedikit malu-malu. Aku tersenyum kecil mendengar celotehan-celotehan kecilnya.

“Nah, sekarang Lenata duduk di meja makan ne? Eomma mau buat sarapan dulu.” Titahku lembut. Lenata mengangguk lucu lalu berjalan menuju meja makan.

Aku mematikan api kompor, lalu menyajikan telur itu diatas piring. Setelah itu, aku berjalan menuju pemanggang roti mengambil roti yang sudah matang. Ku langkahkan kakiku menuju kulkas mengambil sebotol susu kemasan.

“Eomma datang!! Membawakan makanan.” Teriakku sembari melangkahkan kaki ke tempat Lenata menunggu. Kusimpan telur, roti dan susu di atas meja. Lalu aku menarik salah satu kursi yang menganggur.

Ritual pagi—sarapan—berjalan seperti biasanya. Suara manis Lenata selalu menghiasi acara pagi itu.

“Eomma! Mashita.” Pujinya sembari memamerkan deretan gigi-gigi kecilnya. Aku hanya mengeluarkan senyuman lembut.

“Kajja, kita berangkat sayang.” Ajakku sambil beranjak dari kursi lalu membantu Lenata turun dari kursinya. Aku menuntunya hingga depan mobil. Dengan gerakan lucu ia duduk di samping kursi pengemudi.

Kulajukan mobilku setelah aku memasuki mobil. Jarak antara sekolah Lenata dan apartement memang cukup jauh. Memakan waktu 30 menit menggunakan mobil untuk sampai di sana. Tak terasa mobilku sudah sampai di tujuan. Aku mematikan mesin mobil, lalu menoleh ke samping dimana Lenata duduk.

Mataku menangkap ketakutan diwajah manisnya. Aku menundukkan badanku bermaksud memeluknya.

“Sayang.. semuanya akan baik-baik saja. Kalaupun terjadi sesuatu kau bisa mengatakannya pada Eomma, ne?” bisikku lembut. Aku merasakan gerakan kecil darinya, yang ku simpulkan adalah sebuah anggukan.

Aku keluar dari mobil kemudian membukakan pintu untuk Lenata. Ia bergerak pelan. Sakit melihatnya seperti ini. Rasa bersalah kian mengiris hatiku pelan-pelan. Seorang wanita yang berumur tak jauh dariku berdiri di depan gerbang. Aku melemparkan senyum.

“Eonni, lama tak berjumpa. Bogoshipo.” ujar wanita tadi, lalu berhambur memelukku. Aku balas memeluknya. Sahabat yang sudah kuanggap adikku sendiri sedari dulu, Nana.

“Ne, nado bogoshipo.” Jawabku pelan. tiba-tiba aku merasakan tangan mungil menarik ujung bajuku. Kulepaskan pelukan melepas rindu tadi, lalu menatap Lenata.

“Jadi, ini yang namanya Lenata? Aigo~ sudah sebesar ini rupanya.” Nana berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Lenata. Lenata semakin mendekat dengaku, berusaha menutupi badannya di balik badanku.

“Lenata, ayo berikan salam pada Nana Ahjumma.” tuturku agar Lenata memberi salam. Lenata keluar dari persembunyian, ia menunduk malu.

“Annyeong, Lenata imnida. Bangaseumnida Nana ahjumma” ucapnya pelan. Nana tersenyum, ia mengelus surai tipis Lenata.

“Panggil saja aku Eonni ya?” ucap Nana dengan nada gembira, membiarkan Lenata nyaman dengan Nana. Lenata mengangguk patuh.

“Mian Nana-ya.. dia sedikit sensitif dengan masalah sekolah.” ujarku sambil mengelus puncak kepala Lenata. Nana tersenyum mengerti.

“Ne, aku akan menjaganya. Kajja, Lenata kita bertemu dengan teman-temanmu di dalam.” ajak Nana lalu berdiri dari jongkoknya menggenggam tangan Lenata. Aku melambaikan tangan pada Lenata dan Nana. Kemudian berlalu pergi menuju mobil ketika mereka menghilang di balik tembok kelas. Nana adalah sahabatku dari ketika di universitas, dia memang lebih muda 1,5 tahun dariku tapi aku sangat nyaman berteman dengannya. Dia juga merintis Play group bersama kakak laki-lakinya, Woohyun.

Aku memasuki mobil, lalu segera memajukan mobilku menuju Kantor baru. Untungnya, jarak sekolah Lenata dengan kantorku tidak jauh. Setelah beberapa menit, aku bisa melihat gedung tinggi yang menjadi tempat kerjaku sekarang. Aku memang di pindahkan dari Busan ke Seoul, dan sekarang aku menjadi kepala editor di ScHon Magazine.

Aku memasuki pelataran parkir dan memarkirkan mobilku di tempat yang kosong. Aku mengambil langkah lebar-lebar, aku tak mau di hari pertamaku kerja aku terlambat. Kuhampiri meja lobi. Menghampiri dua resepsionionis, salah satunya sibuk menelepon entah dengan siapa.

“Mian, aku harus bertemu dengan Leeteuk Sajangnim.” Ucapku ramah. Resepsionis yang tengah menganggur itu mendongak. Wajahnya menunjukan ketidakpedulian.

“Ah, silahkan naik ke lantai 5. Nanti kau tinggal menanyakannya pada karyawan di lantai 5.” jawabnya acuh tanpa mengeluarkan senyuman. Aku menatapnya kesal. Hey! bukannya kau dibayar di sini untuk melayani tamu-tamu yang datang ke sini bukannya jutek seperti itu.

“Oke, terima kasih.” Ucapku seadanya lalu berlalu pergi. Hendak melontarkan protes panjang pun sepertinya tak akan berguna. Aku memasuki lift dan menekan lantai 5 yang menjadi tujuanku.

Pintu lift terbuka. Aku melangkah ke luar, mencari seseorang yang bisa ku tanyakan.

“Mian, kalau boleh tau dimana ruangan Leeteuk Sajangnim?” tanyaku sopan ketika melihat seorang wanita muda yang tengah berjalan.

“Ne, ruangannya di ujung lorong ini. perlu kuantar.” Jawabnya ramah. Aku menggeleng cepat.

“Ani tidak usah. Kamshamnida.” Aku membungkuk sekilas lalu berjalan melewati lorong. Kuketuk pintu ruangan yang berada di ujung lorong, dapat kulihat jelas ada tulisan ‘Ruang Direktur utama.’

“Masuk.” teriak seseorang dari dalam. Kugerakkan kenop pintu, dan membukanya. Tampak pria yang mungkin lebih tua dariku sedang duduk membelakangiku.

“Annyeong,sajangnim. Hanna imnida, yang dipindahkan dari Busan.” ujarku mengenalkan diri.

“Oh, jadi kau yang dari Busan. Selamat datang.” Sapanya sembari memutarkan kursi sehingga aku bisa melihat rupanya. Tak jauh beda dari gambaran yang diberikan bos-ku dulu, leeteuk sajangnim ini terlihat bijaksana, dan sepertinya murah senyum. Aku membalas senyumnya lalu menunduk memberi hormat.

“Hmm, jadi dimana aku bisa langsung bekerja.” tanyaku langsung. Dia terkekeh pelan. Aku mengernyit bingung, ada yang lucu?

“To the point sekali.” ujarnya sembari terus tekekeh. “Oke, tunggu sebentar.” Leeteuk sajangnim menelpon, mungkin sekretarisnya yang ia telpon. Benar, aku tidak suka berbasa-basi, ya setidaknya setelah peristiwa itu.

Cklek’

Aku menoleh melihat siapa yang masuk ke ruangan ini. Ah, rupanya wanita yang kutemui di depan lift tadi. Ia menunduk sopan padaku dan leeteuk, aku membalas membungkuk juga.

“Nah, Hanna-ssi kau bisa ikut dengan Sooyoung-ssi, dia akan menunjukkan tempat kerjamu yang baru.” ujar Leeteuk sembari menunjuk wanita disebelahku dengan pulpen yang dipegangnya.

“Mari saya antar.” ucapnya ramah. Aku mengikutinya dari belakang. Hmm, walau sepertinya dia lebih muda dariku tapi dia lebih tinggi dariku. Setelah melewati beberapa lorong yang membatasi setiap ruangan divisi Keuangan dan HRD, aku memasuki ruangan bagian Editor.

Karyawan yang tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, seketika berhenti ketika Sooyoung berucap.

“Semuanya, ini Kepala bagian Editor yang baru, namanya Hanna Park.” ujar Sooyoung dengan nada yang cukup tinggi.

“Hanna Park imnida. Semoga bisa bekerja sama.” tuturku sembari menundukkan sedikit badanku.

“Hanna-ssi, di sini ruanganmu.” Sooyoung menunjukkan ruangan yang terpisah dari karyawan lainnya. Aku membungkuk lagi dan melemparkan senyum pada karyawan lainnya yang sekarang sudah menjadi anak buahku.

Aku memasuki ruangan yang tak terlalu besar tetapi nyaman untuk bekerja.

“Hanna-ssi, saya permisi dulu.” Sooyoung membungkuk lagi kemudian keluar dari ruangan baruku ini.

Aku menghempaskan tubuhku di kursi kerja. “Seoul..” gumamku pelan, lalu memejamkan mataku. “Semoga aku tidak bertemu lagi dengannya.”

~ Because I Love You ~

“Kau mau kemana Kwangie?” tanya namja berambut pirang, Youngmin yang melihat saudara kembarnya tengah bersiap-siap.

“Kau bahkan baru datang kemarin, tapi kenapa sudah pergi?” lanjut Youngmin sembari melangkah masuk ke dalam kamar Kwangmin, ia duduk di tepi ranjang, lalu memperhatikan adik kembarnya yang tengah mematut diri di kaca.

“Aku harus ke tempat kerjaku yang baru Hyung. Ketika masih di Paris aku mendapatkan tawaran dari salah satu majalah Seoul.” jawab Kwangmin. Kwangmin memang kuliah di fakultas fotografi di Paris.

“Wah, wah. Sepertinya kau akan sibuk sekarang. Kenapa kau lebih dulu lulus dariku, huh?” keluh Youngmin pura-pura.

“Ya Hyung. Makanya kau rajin-rajin biar cepat lulus.” Seloroh Kwangmin, disambut kekehan Youngmin.

“Kau sudah bertemu dengan Sangmoon-ah kemarin?” tanya Youngmin, wajahnya berubah menjadi sedikit serius. Tangan Kwangmin yang tengah merapikan kemejanya terdiam. Ia menoleh pada Youngmin lalu menghela napas.

“Sudah.” jawab Kwangmin singkat. Youngmin menganggguk, pada dasarnya Youngmin sudah melihat pertemuan kwangmin dan Sangmoon yang begitu canggung kemarin.

“Hey! Kenapa dengan wajahmu?” tanya Youngmin lagi. Youngmin rasa, dia salah membicarakan hal ini sekarang.

“Ani Hyung..hanya saja, Sangmoon terlihat berbeda sekarang.” ujar Kwangmin pelan, terdengar nada putus asa yang samar-samar dari suaranya. Youngmin menghela napas pelan, lalu merebahkan tubuhnya di kasur Kwangmin. Youngmin sudah tau resiko mengizinkan Kwangmin untuk pulang ke Seoul akan seperti ini. Kwangmin akan merasa bersalah, yang sebenarnya itu bukan sepenuhnya kesalahan dia. Tapi toh tak ada gunanya membiarkan Kwangmin terlalu lama di Paris.

“Tenang saja. Semuanya pasti akan kembali seperti semula.” Ucap namja berambut pirang itu. Kwangmin mengangguk, lalu kembali mematut dirinya dicermin. Youngmin menerawang ke atas langit-langit kamar, memikirkan sesuatu yang dari kemarin mengganjal hatinya. Tiba-tiba ia terlonjak bangun dari posisi tidurnya, ia menatap Kwangmin dengan menyelidik. Merasa diperhatikan, Kwangmin menoleh kembali dengan pandangan bingung.

“Kwang.. Kau sudah tidak memiliki perasaan…” ujar Youngmin menggantung. Kwangmin menyernyitkan alisnya bingung. Otaknya berfikir apa yang dimaksud dengan Kakak kembarnya. Kwangmin membesarkan matanya sedikit, kemudian langsung berseru setelah tau apa yang dimaksud dari sang kakak kembar.

“Ani, Hyung! Aku sudah tidak memiliki perasaan itu. percayalah.” seru Kwangmin sembari mengibaskan tangannya di depan. Youngmin mengangguk mengerti, lalu merebahkan kembali tubuhnya di atas kasur.

“Ne, aku percaya padamu Kwangie~” Youngmin merubah posisinya menjadi menyamping menghadap Kwangmin. “Ya! kau bercermin terus! Jika kau seperti itu terus kau mirip dengan teman kampusku Jeongmin tahu.” Youngmin mendengus melihat Kwangmin yang masih sibuk dengan dirinya. Kwangmin terkekeh menanggapi ucapan Youngmin.

“Ne, Hyung. Kalau begitu aku pergi.” ucap Kwangmin sembari mengambil ranselnya. “Hyung, tidak pergi ke kampus?” tanya Kwangmin di ambang pintu.

“Ani, aku mau tidur di sini. Sana cepat pergi. Jangan lupa bawakan Hyung oleh-oleh.” ujar Youngmin lalu memejamkan matanya. Kwangmin menggeleng kepalanya pelan.

“Hyung! Bagaimana kau bisa lulus jika seperti ini. Nanti kau harus membereskan kamarku!” teriak Kwangmin sembari berjalan santai menuju tangga.

“Aish! Diam kau Kwangie!~” sahut Youngmin teriak. Kwangmin terkekeh kecil. Ia berjalan santai menuruni tangga. Mulutnya menyenandungkan bagian rap dari boygroup idolanya. Nge-rap adalah salah satu hobinya Kwangmin.

Mulutnya berhenti ketika matanya menangkap sosok adik perempuannya yang tengah duduk di sofa ruang tengah sedang menalikan sepatunya. Kwangmin melihat jam tangannya. Jam 07.10. Kwangmin mengernyit. ‘Dia akan ke kampus jam segini?’ pikir Kwangmin.

“Waeyo?” tiba-tiba suara dingin Sangmoon menyentak Kwangmin yang masih tediam di ujung tangga.

“Ani. Kau mau pergi ke kampus?” tanya Kwangmin. Sangmoon menatap Kwangmin tanpa ekspresi.

“Bisa kau lihat sendiri.” Jawab Sangmoon sinis. Ia mengambil tasnya lalu berjalan pergi menuju pintu depan. Kwangmin tersenyum miris mendapat ucapan sinis dari adiknya sendiri. Kwangmin mengejar Sangmoon.

“Kuantar?” tawar Kwangmin.

“Sirheo.” jawab Sangmoon sangat singkat. Kwangmin tak menyerah, ia berusaha agar Sangmoon beragkat dengannya. Bukan karena apa-apa, Kwangmin hanya ingin adiknya tepat waktu sampai ke kampusnya.

“Ayolah. Masa dengan kakak-mu sendiri kau tak mau di antar.” bujuk Kwangmin. Sangmoon mendelik sinis. Hatinya bergemuruh mendengar kata ‘Kakak’ pada ucapan Kwangmin.

“Lantas jika kau kakak-ku, aku harus berangkat denganmu?” ketus Sangmoon. Ia mempercepat langkahnya, menyebrangi halaman depan kediaman keluarga Jo.

“Bukan begitu. Hanya saja, aku sedang ingin mengantarmu. Lagipula sepertinya tas-mu itu sangat berat. Kau mau berangkat dengan bus sambil menenteng tas berat itu?”  ucap Kwangmin sambil melirik tas Sangmoon yang berada di pundak sebelah kanannya.

“Ish, aku tak selemah yang kau pikirkan.”  jawab Sangmoon tak mau kalah. Kwangmin mendengus sebal., lalu menarik tangan Sangmoon tiba-tiba.

“Ya!” teriak Sangmoon ketika Kwangmin menariknya secara paksa. Kwangmin terkekeh pelan. ia membawa Sangmoon hingga motor sport putihnya.

“Nah! Jangan membantah! Pakai ini.” Kwangmin menyodorkan helm berwana peach. Sangmoon mendengus kesal, ia menatap Kwangmin sebal.

“Ppalli!” desak Kwangmin sembari menaiki motornya. Sangmoon akhirnya mengambil helm itu kemudian memakainya dengan enggan. Ia menaiki motor Kwangmin malas. Kwangmin memajukan motornya dengan kecepatan stabil. Sangmoon menggerutu tak jelas di belakang Kwangmin, yang tentunya hanya dia yang dengar.

“Menyebalkan!” gumam Sangmoon lirih. Ia ingin mempercepat waktu, agar ia cepat sampai pada tujuannya, tak ingin berlama-lama dekat dengan Kwangmin.

“Sudah sampai.” ucap Kwangmin antusias. Sangmoon cepat-cepat turun dari motor Kwangmin dan melepas helm itu.

“Rupanya kau tau kampusku. Ku kira kau tak peduli. Aku duluan.” cibir Sangmoon lalu pergi meninggalkan Kwangmin. Tanpa di sadari Kwangmin, mata coklat Sangmoon berkaca-kaca menahan sesuatu yang mendesak keluar dari matanya.

~ Because I Love You ~

“Ish, aku terlambat!” panik Kwangmin sembari berjalan tergesa-gesa menuju ruangan Leeteuk—orang yang menawarinya pekerjaan. Bagaimana ia tidak terlambat? Dengan baiknya Kwangmin menawari mengantarkan Sangmoon lebih tepatnya memaksa, tanpa memikirkan jalan menuju Kampus Sangmoon dengan gedung ScHon magazine ini berlawanan arah. Dan sekarang ia merutuki dirinya sendiri.

Kwangmin merapikan kemejanya sebelum mengetuk pintu dengan tulisan Leeteuk. Ia ketuk pintu yang terbuat dari kayu tersebut.

“Silahkan masuk.” teriak leeteuk dari dalam, mengizinkan namja berambut dark brown masuk ke ruangannya.

“Mianhae, saya terlambat dari perjanjian sebelumnya Leeteuk-ssi.” ujar kwangmin sopan, ia menunduk dalam meminta maaf. Kekehan terdengar ditelinga Kwangmin, membuatnya mendongak, menatap Leeteuk heran.

“Tidak udah berelebihan seperti itu. Kau sudah lupa? Kita cukup akrab bukan sewaktu di Paris.” ujar namja yang mempunyai lesung pipi ketikaia tersenyum. Kwangmin tertawa kikuk.

“Ne, Leeteuk Hyung.” jawab Kwangmin sembari berjalan mendekati meja Leeteuk.

“Langsung saja. Kau akan bekerja sama dengan Kepala editor baru disini.” jelas leeteuk. Kwangmin manggut-manggut mengerti.

“Kinerja-nya dalam bekerja sangat bagus, jadi ku rasa kau cocok dengannya.” lanjut Leeteuk dengan tangannya yang menopang dagu.

“Oke, jadi dimana ruangannya?” tanya Kwangmin to the point. Leeteuk terkekeh.

“Sama-sama orang yang tak suka berbasa-basi.” ucap leeteuk tak jelas. Kwangmin mengedikkan kepalanya tak mengerti apa yang dibicarakan Leeteuk. Sebenarnya Kwangmin orang yang suka berbasa-basi, tapi terkadang ia menjadi orang yang Praktis, tak mau bertele-tele.

“Sooyoung-ssi akan menunjukkan ruangannya.” Leeteuk menunjuk Sooyoung yang sedari tadi ada di belakang Kwangmin.

“Mari Kwangmin-ssi, saya antarkan.” ramah Sooyoung.

~ Because I Love You ~

Kwangmin POV

Sooyoung-ssi mengantarku menuju divisi Editor. Aku membungkuk kecil, ketika melewati meja-meja Karyawan disini. Sooyoung-ssi membuka pintu sebuah ruangan yang sepertinya adalah ruangan kepala Editor.

“Annyeong, Hanna-ssi. Saya mengantar seseorang yang akan menjadi partner anda di proyek anda.” jelas Sooyoung-ssi.

“Oh ne. Kamsahamnida telah mengantarnya Sooyoung-ssi.” jawab wanita yang bernama Hanna itu. Aku berjalan mendekat pada Sooyoung-ssi, sehingga aku dapat melihat wajah wanita bernama Hanna itu dengan sepenuhnya. Aku tertegun menatap Yeoja dihadapanku. Dia yeoja yang kulihat kemarin, yang membuatku sempat terpesona.

“Saya permisi dulu. Annyeong.” Sooyoung-ssi membungkuk padaku dan Hanna bergantian. Aku mengangguk pelan.

“Hmm, Hanna Park imnida. Silahkan duduk.” sapa Hanna-ssi mengenalkan diri. Aku beringsut duduk di kursi yang Hanna persilahkan.

“Nae Jo kwangmin imnida.” Balasku. “ini kebetulan sekali.” ucapku seraya tersenyum tipis. Hanna mengernyitkan alisnya. Mungkin, dia tak mengingat pertemuan kemarin. Sebenarnya bukan pertemuan langsung, hanya saling menatap.

“Apa maksudmu?” tanya Hanna.

“Kau tidak ingat?” tanyaku pura-pura terkejut. “Kemarin aku memberi adikmu Blueberry cheesecake di Bandara. Ingat?”

Hanna semakin mengernyitkan alisnya. “adik?” tanyanya bingung.

“Ne, adikmu bernama Lenata. Tapi, kemarin dia memanggilmu Eomma. Lucu sekali.” kekehku.

“Dia memang anakku, bukan adikku.” jawab Hanna singkat dan datar, menghentikan kekehanku. Aku mengangkat satu alis. “Waeyo?” lanjutnya.

Aku menggeleng pelan, “ hanya saja.. kau tak terlihat seperti Eomma-nya. Kau lebih cocok sebagai kakaknya.” jawabku enteng.

“Oke, tidak usah dibahas. Lebih baik kita mulai diskusi tentang proyek kita yang baru.” ucap Hanna tegas. Sekarang aku mengerti apa yang diucapkan leeteuk Hyung tadi, dia benar-benar orang yang to the point. Aku mengangguk mengerti lalu mendengarkan penjelasan darinya.

~ Because I Love You ~

Hanna POV

Aku selesai menjelaskan rencana konsep baru untuk ScHon Magazine. Konsep fresh, natural, dan sedikit classic. Selama aku menjelaskan dia hanya mengangguk mengerti, terkadang dia memberikan masukan tempat-tempat yang cocok untuk pemotretan. Dia lebih muda dariku tapi dia sangat cakap dan professional. Bukan berarti aku menyukainya, semua itu memang kenyataan.

“Sudah Siang, mau makan siang bersama?” Ajaknya setelah kami selesai berdiskusi. Dia beranjak berdiri, menunggu jawabanku.

“Tak usah. Aku membawa bekal dari rumah.” Jawabku sembari mengeluarkan kotak bekalku. Kulihat ia menampilkan wajah kecewa.

“Mungkin lain waktu.” Buru-buru aku menambahkannya. Wajahnya berseri kembali.

“Kalau begitu aku akan ikut makan disini. Boleh, kan?” ujarnya antusias. Aku terdiam, menimang-nimang permintaannya. Aku akhirnya mengangguk pelan, membiarkannya duduk kembali di kursi yang tadi didudukinya.

Aku membuka kotak bekalku. Ia hanya memperhatikan gerak-gerik yang dilakukanku. Merasa risih diperhatikan terus, aku menatapnya.

“Kau tak pesan makanan di kantin?” tanyaku.

“Ah, benar. Berapa nomor telepon kantinnya?” tanyanya balik sembari mengeluarkan ponselnya. Aku mengernyit.

“Aku tidak tahu nomor telepon kantin. Aku baru masuk hari ini.” jawabku jujur. Tangannya kembali memasukkan ponsel ke saku celananya.

“Jadi, aku harus ke bawah dulu?” entah pernyataan atau pertanyaan dia lontarkan padaku.

“Tak usah. aku bisa membagi bekal ini.” ujarku enteng. Jangan salah paham, aku hanya kasihan dengannya, harus turun 5 lantai menuju kantin. Aku masih punya sisi kemanusiaan.

“Jinjja?” responnya. “Kamshamnida Hanna-ssi.” ujarnya dengan tersenyum manis. Aku menatap senyuman itu, ada sesuatu yang menggelitik hatiku ketika melihat senyumannya. Senyumannya mirip.

“Hanna-ssi? gwenchana?” tanyanya membuyarkan pikiranku. Aku menggeleng cepat. Kemudian membagi bekalku.

“Aniyo.” Jawabku seraya menyerahkan tempat tutup bekal yang berisi setengah bekalku. Dia mengambil tutup bekal itu dengan girang. Aku terkekeh pelan, sekarang dia terlihat sekali bocah-nya.

Drrtt drtt’

Nada dering ponselku berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Di layar tertera ‘Nana incoming call’ aku mengerutkan dahiku. Ada apa Nana menelpon? Ada sesuatu yang terjadi dengan lenata?

Pikiran buruk langsung bermunculan di otakku. Dengan cepat aku mengangkat panggilan tersebut.

“Hanna-ya! Lenata tadi dibawa pulang dengan seseorang wanita paruh baya.” Rasa panik menjalar ke tubuhku.

“Siapa? Apa kau mengenalnya?” pekikku tanpa sadar.

“Kalau ingatanku tak salah, dia Eomma-nya Gikwang-ssi.” DEG. Hatiku berdetak kencang tak karuan. Bukan rasa grogi ketika kau dekat dengan namja yang kau sukai, tapi rasa takut yang tiba-tiba menyergap tubuhku.

Dengan cepat aku membawa tasku. “Nana terimakasih telah memberitahuku.” Ucapku lalu memutuskan sambungan. Aku berjalan keluar ruangan. Tapi, belum sempat aku menyentuh pintu ruangan, ada seseorang yang menahan tanganku. Aku membalikkan badan kesal. Ia tidak tahu apa jika aku sedang terburu-buru.

“Kau mau kemana? Kenapa kau tiba-tiba panik seperti itu?” tanya Kwangmin-ssi bertubi-tubi, ia memandangku dengan khawatir. Aku lupa jika sedang bersama Kwangmin-ssi. Aku melepaskan tangannya.

“Mianhae, aku harus pergi duluan. Kau bisa bawa tempat bekalku. Annyeong.” ucapku cepat lalu berlalu pergi. Secepat mungkin aku harus membawa Lenata kembali. Aku tak mau Lenata di bawa pergi oleh keluarga namja brengsek itu.

——————To Be Continue————–

This entry was posted by boyfriendindo.

3 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Because I Love You – Chapter 01

  1. Aaa…….. kepo berat nih!!! Apa hubungannya gikwang disini? Terus kenapa sangmoonsama kwangmin hubungannya samasekali gak akrab padahal dia adiknya,,,,,, huhhhuuuuuuuu…. lanjut ya thor, secepatnyaaaaaaaaaaaaa

  2. Agak bingung sma ceritanya @_@
    tapi aku penasaran, jadi HARUS DILANJUTIN ya thorr! Ok. Ku tunggu. Dan jgn lama2 ~,^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: