[FANFICT/FREELANCE] Happy Family

jo_twins___bf_by_narulimksam-d4ai61k

Title 
: Happy Family
Author : Ai Siti Mulayani
Genre         : Family
Rating          : G
Type   : One Shoot
Main Casts      
: ~ Jo Youngmin
 ~ Jo Kwangmin

A/N: hai hai… ff baru datang.. moga suka ya.. ^^

***** Happy Reading *****

 

Tik tok.. tik tok…

Dentuman jarum jam menggema diseluruh ruangan yang sudah sepi ini. Malam yang masih gelap dan sangat dingin tidak menghentikan kegiatan seorang namja yang tengah berjalan mondar-mandir di ruang tengah rumahnya. Sesekali ia melirik jam yang sentiasa selalu menempel di dinding. Jarum jam sudah manunjuk pada angka 2 tapi ia masih belum mau tidur mengingat jika ada seseorang yang masih belum pulang. Ia takut, jika ia tertidur dan pintu terkunci dan orang yang saat ini ditunggunya pulang tidak bisa masuk, orang itu akan membekku di luar sana.

Ting.. tong…

Terdengar suara bel dari pintu depan. Ia yang kaget dengan tergesa-gesa berlari kemudian menghidupkan monitor yang ada di depan pintu.

“Siapa itu?” tanyanya pada monitor itu dengan hati yang tak tenang.

“Buka pintunya! Palli!!!” teriak orang diluar sana.

Dibukanya pintu itu dan terlihat seorang namja lagi yang sedang berjongkok sambil mengeratkan jaketnya karena mungkin dia sudah kedinginan.

“Aigo~ Kwangmin-ah, kau mabuk lagi eoh?” tanyanya pada namja yang sedang berjongkok –Kwangmin- ketika bau yang tidak sedap menyengat dari tubuh namja itu.

“Ish, kau kenapa jadi seperti ini?” tanyanya lagi pada namja itu atau mungkin lebih tepat pada dirinya sendiri melihat dongsaengnya yang mempunyai wajah yang mirip sekali dengannya seperti ini. Sering pergi malam dan pulang dalam keadaan mabuk.

Setelah tiba dikamar milik dongsaengnya, Youngmin –hyung dari Kwangmi, namja yang mabuk tadi- langsung membaringkan tubuh dongsaengnya itu ke atas ranjang king size milik Kwangmin.

“Sudah cukup… kalian berhentilah bertengkar.. kumohon…” Kwangmin bergumam, matanya masih menutup, itu membuat Youngmin tersentak. Sebulir air mata kaluar dari mata Kwangmin yang terpejam. Itu semua membuat hati hyungnya sakit. Sakit sekali melihatnya.

***

Praaanngg~

Suara benda pecah terdengar sampai kekamar Kwangmin. Youngmin yang semalam tertidur dikamar dongsaengnya ini seketika terbangun ketika mendengar suara itu. Ia lalu berdiri dan keluar dari kamar.

Perlahan ia mendekati sebuah kamar tempat keributan itu terjadi. Youngmin mengintip, melihat sesuatu yang terjadi didalam melaui celah pintu yang sedikit terbuka.

Yah.. beginilah keadaan keluarganya sekarang ini. Orang tuanya selalu bertengkar setiap hari. Mereka selalu membesar-besarkan masalah sampai mereka berdua bertengakar. Ini semua membuat kedua anak mereka tertekan dan tidak betah berdiam diri dirumah. Lihat saja perubahan mereka sekarang. Youngmin dan Kwangmin dulu dikenal sebagai sepasang anak kembar yang paling ceria diantara murid-murid lain disekolah mereka. Namun lama kelamaan keceriaan mereka tergeser oleh keterpurukan yang terus menimpa mereka. Mereka menjadi pendiam dan tertutup pada orang lain. Masih untung Youngmin, dia hanya menjadi pendiam dan tertutup. Sedangkan Kwangmin? Dia berubah menjadi anak berandal dan pemberontak, ditambah lagi dia sering minum-minum di bar.

Youngmin memegang knop pintu itu dengan hati-hati. Ia tertunduk, manguruangkan niatnya untuk masuk kedalam kamar sana, bermaksud melerai pertengkaran kedua orang tuanya. Namun rasanya akan sia-sia saja.

“Mereka ribut lagi Youngmin-ah?” Tanya seseorang yang mampu mengagetkan seorang Jo Youngmin yang sedang menunduk. Kwangmin tidak pernah memanggil Youngmin dengan embel-embel hyung ketika keadaan mulai retak. Dan ini juga merupakan salah satu akibatnya.

“Yah… begitulah. Seperti yang kau dengar..” jawab Youngmin yang diawali dengan napas beratnya.

“Hey, kau mau kemana?” cegat Youngmin ketika melihat dongsaengnya berjalan melewati dirinya.

“Tentu saja masuk. Memangnya kemana lagi?” Kwangmin membalikkan pertanyaan dengan memasang tampang dinginnya.

Youngmin yang melihat Kwangmin seperti itu hanya pasrah dan dengan perlahan melepaskan genggaman pada tangan Kwangmin.

“Bisakah kalian tidak bertengkar sehari saja!!??” teriak Kwangmin ketika dia membuka pintu kamar orang tuanya sehingga nampaklah keadaan kamar yang sudah seperti kapal pecah, hancur berantakkan.

“Kau jangan pernah mencampuri urusan kami” appanya balas membentak Kwangmin sambil berjalan menghampirinya yang tengah berdiri diambang pintu.

Seketika itu juga, bau kurang sedap yang masih menempel pada tubuh Kwangmin itu mulai terdeteksi oleh indra penciuman appanya, dan itu membuat appanya menatap Kwangmin dengan curiga.

“Kau mabuk lagi eoh?” Tanya sang appa sambil menatap Kwangmin dengan tajam.

“Ne, itu benar. Memangnya kenapa kalau aku mabuk? Ada yang salah?” Tanya Kwangmin seolah manantang appanya untuk berkelahi.

“Tentu saja itu salah!! Appa tidak pernah mengajarimu untuk mabuk-mabukkan seperti ini!!” teriak appanya lagi tepat didepan wajah Kwangmin. Bukannya takut, anak itu malah tersenyum meremehkan yang ia tujukan untuk appanya.

“Tidak ada yang mengajariku. Justru kalian berdualah yang sudah membuatku menjadi seperti ini!!” Kwangmin menunjuk appanya dengan jari telunjuknya yang panjang kemudian beralih pada eommanya yang tengah mematung sambil menangis.

Plakk~

Sebuah tamparan keras berhasil mendarat dengan mulus di pipi Kwangmin yang tirus itu.

“Dasar kurang ajar!!! *jangan ditiru bahasanya ya -_-v* beraninya kau berkata seperti itu pada appa dan eommamu!” Kwangmin yang mendapatkan tamparan itu hanya bisa memegang pipinya yang memerah dan terasa panas itu sambil mendelik kearah appanya yang memberinya tatapan kemarahan yang sangat jelas terpancar.

“Kenapa? Itu memang benar kan? Setiap hari kalian hanya sibuk bertengkar! Tidak tahukah kalian jika selama ini aku dan Youngmin selalu menangis? Aku benar-benar menyesal kenapa aku mempunyai orang tua seperti kalian!!” tutur Kwangmin panjang lebar dengan air mata yang keluar jatuh membasahi pipinya mengalir mengiringi setiap kalimat yang keluar dari mulutnya yang bergetar.

Sang appa kembali mengangkat tangannya tinggi-tinggi berniat ingin menampar anaknya itu sekali lagi. Tapi tangannya itu berhasil ditahan oleh sebuah tangan yang pemiliknya berdiri di samping tubuh Kwangmin.

“Apakah appa benar-benar tidak mengerti akan perasaan kami?” Tanya Youngmin yang mulai angkat bicara.

“Kau juga jangan ikut campur Youngmin-ah!! Ini bukan urusanmu!!” appanya menghempaskan tangan Youngmin dengan kasar.

“Mulai sekarang ini menjadi urusanku juga karena appa sudah berani menampar Kwangmin!!” Youngmin membentak appanya dengan penuh emosi. Sementara itu appanya menatap Youngmin tidak percaya begitupun dengan Kwangmin dan eommanya.

“Kau juga berani membentak appamu ini?” tangan appanya melayang dengan bebas di udara, mencari tempat pendaratan yang mulus namun berhasil tertahan oleh sebuah tangan lainnya.

Youngmin yang sadar dengan apa yang akan appanya lakukan itu langsung menutup matanya dengna rapat. Namun dirasanya tidak ada apapun yang mendarat di pipinya ia lalu membuka matanya dengan perlahan dan dilihatnya tangan appanya ditahan oleh Kwangmin.

“Tak puaskan appa jika hanya menamparku saja!!??” Kwangmin kini yang menghempaskan tangan appanya tak kalah kasar dengan apa yang appanya lakukan tadi pada Youngmin.

“Kalian berdua memang benar-benar anak kurang ajar!!” *sekali llagi, bahasanya bukan untuk ditiru, dimohon kepada anak dibawah umur(?) supaya mendapat bimbingan dari orang tuanya masing-masing #plakk -___________-

“Baikalah.. kami memang kurang ajar, kami anak durhaka. Kami akan pergi dari sini supaya appa bisa hidup dengan tenang, begitupun juga dengan kami. Kajja Kwangmin-ah!” Youngmin menarik tangan dongsaengnya dengan cepat dan berlalu begitu saja dari hadapan sang appa tanpa mengatakan sepatah kata-kata lagi, kata perpisahanpun tidak mereka ucapkan. Mereka terlalu muak untuk mengatakannya.

“Chagiya..!!” teriak eomma Jo Twins sambil berlari. Namun tenaganya seolah habis seketika itu juga ketika ia ingin mengejar kedua putranya itu. Air mata berderai membasahi pipi yeoja itu dengan mulusnya.

“Kenapa kau membiarkan mereka pergi!!?” eommanya yang sejak tadi hanya berdiam diri kini mulai membentak nampyeonnya, yang menurutnya telah melakukan sesuatu yang sangat kelewatan.

***

“Youngmin-ah…” ucap Kwangmin memanggil hyungnya dengan suara lirih.

“….” Tidak ada jawaban. Youngmin terus saja menarik tangan Kwangmin dengan paksa tanpa menjawab pertanyaan dongsaengnya itu.

“Youngmin-ah..” sekali lagi tidak ada jawaban.

“Hyung…” panggilnya sekali lagi. Kali ini panggilannya Youngmin respon ketika Kwangmin memanggilnya dengan sebutan hyung, bukan namanya seperti yang sering kali Kwangmin ucapkan.

“Gwaenchana?” Tanya Kwangmin khawatir ketika melihat mata Youngmin yang mulai berkaca-kaca.

“Gwaenchana. Kajja, kita pergi!” jawab Youngmin sambil memalingkan wajahnya kearah lain. Youngmin menarik lagi tangan dongsaengnya itu namun kali ini lebih lembut dari yang ia lakukan tadi.

“Tapi kita mau pergi kemana?” Tanya Kwangmin lagi.

“Kemana saja. Asalkan tidak kerumah itu” Kwangmin yang merasa ada yang salah dengan hyungnya itu lantas berhenti berjalan yang otomatis Youngmin juga ikut berhenti dan langsung berbalik lagi menghadap dongsaengnya.

“Kenapa kau melakukannya?” Kwangmin memandang wajah hyungnya dengan intens, mentapnya dengan tatapan bersalah.

“Aku.. aku tidak suka mereka. Aku benci mereka. Aku tidak mau bertemu mereka!!” buliran-buliran yang sudah tidak dapat ia tampung akhirnya jatuh juga membasahi pipinya mengiringi setiap kata-kata yang seperti dipaksakan untuk ia ucapkan. Ia lalu menunduk dalam kesedihan.

“Tidak usah berbohong padaku” Kwangmin menepuk bahu hyungnya itu sehingga ia mendongak kearah Kwangmin.

“Ne, aku memang berbohong. Aku menyayangi mereka, tapi aku benci ketika mereka sepeti itu” ucap Youngmin dengan bibir bergetar.

“Nado Youngmin-ah..”

Kwangmin langsung menarik Youngmin kedalam pelukannya, begitu nyaman dirasanya. Disaat seperti ini memanglah Kwangmin yang lebih pantas menjadi seorang kakak. Selalu bisa menenangkan kembarannya itu ketika sedang bersedih, atau sebaliknya. Ketika ada satu diantara mereka yang sedang sedih atau mendapat masalah, yang lainnya pasti akan selalu bisa membuat masalah itu teratasi dengan cara mereka masing-masing.

***

“Youngmin-ah, ini sudah malam. Kita mau pergi kemana lagi?” Tanya Kwangmin yang mulai kelelahan karena dari tadi siang mereka hanya berjalan tanpa tujuan yang jelas.

“Molla, aku juga tidak tahu” Youngmin yang juga bingung hanya mengankat bahunya dan menendang kerikil-kerikil yang ada dihadapannya dengan malas.

“Kita duduk sebentar Youngmin-ah..” Kwangmin lantas mendudukkan dirinya di atas kursi yang ada di taman yang tengah mereka lewati.

“Ne” Youngmin akhirnya menuruti apa yang dikatakan Kwangmin untuk beristirahat sebentar.

“Youngmin-ah..”

“Ne?” Youngmin mengalihkan pandangannya pada wajah Kwangmin yang mendongak kelangit dengan mata terpejam, begitu tenang ia rasakan ketika melihat wajah saudaranya ini.

“Apa kau masih ingat? Dulu kita sering melakukan ini ketika kita sedang ada masalah” ucap Kwangmin masih dalam posisinya semula.

“Mwo?” Tanya Youngmin yang belum mengerti arti dari perkataan kembarannya itu.

“Dulu kita selalu pergi ke bukit kecil yang ada dibelakang rumah hanya untuk melihat bintang-bintang jika kita punya masalah”

“Lihat!! Ada bintang jatuh!!” Youngmin berteriak sambil menunjuk bintang yang jatuh dilangit atas sana.

“Mwo?” Kwangmin yang mendengar teriakkan hyungnya itu langsung membuka matanya lebar-lebar sambil melihat langit yang ditunjuk Youngmin.

“Cepat buat permohonan!!” perintah Youngmin lagi.

Dengan segera, mereka berdua langsung menempelkan kedua telapak tangan mereka didepan dada dengan mata yang kembali mereka pejamkan.

“Aku berharap keluargaku kembali seperti dulu. Keluarga yang bahagia”

“Mwo!?” mereka saling melirik dengan memasang tampang tak percaya dengan apa yang mereka ucapkan barusan. Meminta permohonan kepada bintang jatuh, dengan suara lantang –bukan dalam hati,  dengan perkataan yang sama dan berbarengan pula. Telepati dengan kalimat yang panjang seperti ini sangat jarang terjadi.

“Kita benar-benar saudara kembar sejati, haha~”

“Ne, hahaha~”

Mereka saling merangkul dan tertawa bersama-sama, melepaskan beban yang ada dikepala mereka sejenak.

***

“Sekarang kita mau kemana lagi?” Tanya Kwangmin yang berhasil memecah keheningan setelah mereka tertawa dengan bahagianya.

“Molla Kwangmin-ah” jawab Youngmin lirih.

“Kajja!!” Kwangmin menyodorkan tangannya kedepan wajah Youngmin yang langsung mendongak.

“Kemana?” Youngmin memiringkan kepalanya yang kebingungan.

“Kita pulang. Eomma dan appa sekarang pasti sedang mencari kita” Kwangmin tersenyum.

“Kajja!!” Youngmin menyambut tangan dongsaengnya dibarengi dengan senyuman yang merekah dari bibirnya.

“Eoh? Kalian sudah mau pergi?” tiba-tiba ada tiga orang namja yang datang mengagetkan Youngmin dan Kwangmin yang baru saja berbalik hendak pulang.

“Si-siapa kalian?” Tanya Kwangmin yang terus berjalan mundur, menghindari ketiga namja itu yang terus mendekati mereka. Youngmin berdiri dibelakangnya dengan tangan masih saling bertautan.

“Kau kenapa? Kalian tidak usah takut. Kami ini orang-orang baik ko” ucap namja yang memiliki tato naga di lengan kirinya.

“Siapa kalian?” kini bentakan yang keluar dari mulut Kwangmin.

“Kami ini orang baik.. kalian sedang apa malam-malam disini? Tidak baik anak kecil seperti kalian keluyuran ditengah malam seperti ini. Kalau ada yang menculik kalian bagaimana?” Tanya namja itu lagi sambil mencolek dagu Kwangmin dengan tangan kotornya.

“Cih.. menjijikan!!” cibir Kwangmin sambil menepis tangan namja itu dengan kasar.

“Menjijikan katamu?” Tanya namja itu dengan mulai marah.

“Ne, kalian menjijikan!”

“Mwoo???” namja itu mencengkram kerah baju milik Kwangmin sehingga membuatnya terangkat beberapa senti dari tanah.

“Apa yang kalian lakukan? Lepaskan dia! Atau aku akan berteriak!!” ancam Youngmin yang melihat perlakuan namjadeul itu pada Kwangmin.

“Silakan kalau mau berteriak. Tidak akan ada yang mendengar teriakanmu” ledek namja satunya lagi.

“TOLOOOONNNGGGG!!!!!” teriak Youngmin dengan kencangnya, namun sepertinya sia-sia saja karena di taman itu sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Jalan raya yang ada dihadapannya juga sudah sepi.

“Sudah kubilang itu percuma saja bocah kecil!!” namja bertato itu itu membentak Youngmin lantas melakukan hal yang sama seperti apa yang rekannya lakukan kepada Kwangmin.

“Oh.. sepasang anak kebar yang lucu..” ledek namja yang dari tadi hanya diam saja. Ia menyeringai licik pada sikembar yang sedang bergelantungan ditangan kedua namja itu.

“Kalian pasti anak orang kaya kan?” tanyanya lagi.

“Bu-bukan. Kami tidak punya orang tua..” jawab Youngmin dengan terbata karena sesak mulai menginggapinya akibat cengkraman namja itu di kerah baju Youngmin yang mencekiknya.

“Haha.. kalian tidak usah berbohong padaku” tawa renyah menggema ditaman yang sepi itu. “Cepat periksa baju mereka. Siapa tahu ada barang berharga yang mereka bawa” lanjutnya memerintah kepada kedua mekhluk yang sedang mengangkt tubuh Youngmin dan Kwangmin.

“Tidak ada barang berharga bos” ucap namja yang telah selesai menggeledah badan Kwangmin dengan sebelah tangannya yang bebas.

“Disini juga tidak ada” timpal namja yang memagang Youngmin.

“Sudah kami bilang kan” ucap Kwangmin sambil meronta-ronta.

“Dasar tidak berguna!!! Cepat bawa mereka!” atas perintah sang bos, kedua namja itupun menurunkan si kembar lalu mulai menyeret kedua bocah itu untuk mengikuti menuju tempat tujuan ketiga namja itu.

“Hana.. dul.. set..!!” Kwangmin memberi aba-aba seperti sebuah bisikkan untuk memperingati supaya hyungnya itu bersiap-siap melakukan sesuatu.

Dengan kekuatan penuh sikembar menendang daerah sensitif milik kedua namja itu, dan alhasil kedua namja itu spontan memegang daerah itu sambil melompat-lompat kecil karena merasakan nyeri yang sangat pada daerah itu.

“Bocah kecil!! Awas kalian!!” teriak si bos yang geram atas tindakan yang dilakukan tawanannya itu kepada kedua anak buahnya. Dia pun mengejar Youngmin dan Kwangmin yang berlari menjauh darinya setelah berhasil melumpuhkan dua dari tiga namja itu.

“Kena kau anak kecil..” ucapnya ketika dia berhasil menyentuh bahu Youngmin yang berlari di belakang Kwangmin. Ia mencengkram bahu Youngmin dengan kasar sampai sang empunya meringis kesakitan. Di hadapkannya tubuh Youngmin kearahnya. Ia tersenyum licik dan mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya, sebuah benda kecil berkilau dan runcing. Youngmin yang melihatnya hanya mapu membelalakkan matanya kearah benda itu.

“Mati saja kau!!”

“Akhhhh..!!!”

Duakk~

Pisau kecil itu terlempar jauh seiring dengan pemiliknya yang juga tersungkur ke tanah. Kwangmin berhasil menggagalkan tindakan namja itu pada hyungnya. Tapi sepertinya ia sedikit terlambat karena lengan Youngmin tergores pisau itu dan banyak mengeluarkan darah. Alhasil, Youngmin yang kesakitan jatuh bersimpuh sambil memagangi tangannya yang tidak berhenti mengeluarkan darah segar.

“Kajja hyung.. kumohon, bertahanlah..” Kwangmin membantu hyungnya untuk berlari dengan sekuat tenaga yang masih dia punya.

“Akhhh~” sesekali Youngmin mengerang ketika merasakan sakit di lengan kirinya, membuat Kwangmin bertambah panic.

“Kenapa kalian diam saja!!? Cepat, kejar mereka!!!”

Terdengar dengan sangat jelas, namja itu berteriak kepada kedua anak buahnya yang hanya berdiri menonton adegan-adegan yang dilakukan bosnya dan juga si kembar itu.

“Kajja hyung.. lebih cepat lagi..” pinta Kwangmin dengan lirih pada Youngmin yang kali ini ia panggil dengan sebutan ‘hyung’

“Aku.. sudah.. tidak kuat.. lari Kwangie..” ucap Youngmin dengan lemas. Terlihat wajahnya yang sudah pucat pasi dengan mata yang hampir terpejam, langkah yang mulai melambat dan keringat dingin mulai mengucur dari pelipisnya. Kwangmin yang melihatnya menjadi lebih panic dari pada tadi.

“Kumohon.. sebentar lagi kita akan dapat bantuan.. bertahanlah…” Kwangmin terus memberi semangat kepada hyungnya untuk terus bertahan sampai mereka mendapat bantuan. Kwangmin dan Youngmin berlari kearah jalan raya yang terlihat sudah sepi, mustahil rasanya jika ia berhenti di pinggir jalan untuk menunggu mobil lewat yang akan memberi mereka bantuan, yang ada adalah orang-orang itu akan menangkap mereka berdua.

Mereka hendak menyebrang pas pada belokan jalan raya sampai tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan lampu depan yang menyilaukan mata membuat Kwangmin terpaku dibuatnya.

Tiiitttt~

Kaki Kwangmin tiba-tiba lemas melihat sebuah mobil yang hampir menabraknya, ia ambruk ditengah jalan dengan tubuh yang bergetar. Seperdetik kemudian ia mulai tersadar dan melirik hyungnya yang sudah terkapar di aspal.

“Hyung…” Kwangmin menguncangkan tubuh Youngmin yang tak bergerak sedikitpun.

Ketiga penumpang mobil yang penasaran dengan apa yang terjadi segera turun dari mobil mereka. Dan terkejutnya mereka ketika melihat siapa yang hampir mereka tabrak.

“Kwangmin-gun, gwaenchana?” Tanya namja yang terlihat sudah cukup usia untuk menjadi seorang appa, sambil melihat Kwangmin yang tengah manangis.

“Tolong hyungku…” ucap Kwangmin dengan nada bergetar dan air mata yang tak kunjung berhenti keluar dari kedua matanya.

“Aigo~ dia kenapa Kwangmin-ah?” Tanya Minwoo yang merupakan teman dekatnya dan juga Youngmin.

“Tolong dia..” Kwangmin mangulang kata-kata yang sama tanpa menjawab pertanyaan Minwoo.

“Cepat masukkan dia ke mobil!” perintah yeoja paruh baya yang ternyata itu adalah eomma dari Minwoo. “Minwoo-ah, kau duduk di depan!” perintahnya lagi.

“Ne!”

“Miwoo-ah, ambilkan perban! Ada di tas eomma. Ppalli!!” perintahnya ketika ia meliat luka di lengan Youngmin yang kini tengah terbaring lemas di pahanya. Eomma Minwoo adalah seorang dokter, jadi tidak heran jika dia selalu membawa perban dan alat lainnya -yang entah itu apa namanya- di dalam tasnya setiap kali ia bepergian.

“Ige!”

“Cepat jalankan mobilnya appa! Nanti dia bisa kehilangan banyak darah!”

***

“Sebenarnya kalian kenapa?” Tanya eomma Minwoo. Kini mereka tengah duduk di ruang tunggu yang ada di rumah sakit. Sedangkan Youngmin ada di kamar pasien, para dokter sedang merawatnya dengan intensif.

“Kami pergi dari rumah karena sudah tidak tahan melihat eomma dan appa bertengkar setiap hari” jawab Kwangmin sambil tertunduk.

“Lalu? Kenapa Youngmin bisa terluka?” kini giliran Minwoo yang bertanya.

Kwangmin lantas menceritakan kejadian yang menimpa mereka. Mereka yang mendengar cerita Kwangmin merasa simpati atas apa yang menimpa kedua anak itu.

“Bersabarlah Kwangmin-ah..” Minwoo yang duduk disamping Kwangmin lalu mengusap-usap punggung Kwangmin.

“Ne, gomawo..”

Ckleekk~

Pintu kamar Youngmin terbuka dan menampakkan para dokter yang keluar sambil mengelap peluh di dahi mereka.

“Bagaimana?” Tanya eomma Minwoo yang langsung menghampiri para dokter itu.

“Tidak ada luka serius, hanya saja saat ini dia masih berlum sadar. Dia kehilangan banyak darah. Apakah di sini ada keluarganya?” Tanya dokter itu.

“Aku!! Aku adiknya. Jika dia membutuhkan darah, ambil saja darahku. Kami punya golongan darah yang sama” ucap Kwangmin dengan cepat.

“Baiklah, kalau begitu ikut aku!”

***

“Chagiaya~ eomma dan appa membawakan ini untuk kalian!!” ucap eomma Youngmin dan Kwangmin dengan wajah cerah ketika memasuki kamar rawat Youngmin dan diikuti nampyeonnya dari belakang.

“Wahhh.. tteokbokki!!” seru keduanya dengan serentak, melihat sang eomma membawa makanan favorit mereka.

“Ne, makanlah..”

“Gomawo eomma.. appa..”

***

Kebahagiaan jelas terpancar dari wajah si kembar, apa lagi Youngmin. Walaupun dia masih belum sembuh tapi ia begitu ceria melihat kedua orangtuanya kembali bersatu.

Sekarang tak ada pertengkaran lagi. Tak ada tangisan, keterpurukkan, kesedihan. Yang ada sekarang hanyalah sebuah tawa kebahagiaan yang keluar dari mulut mereka.

Keluarga itu kini sudah kembali bersatu, memberikan kebahagiaan yang sangat amat bagi si kembar, namun tentunya setelah perjuangan yang cukup keras.

Setelah berbagai hal yang menimpa mereka, akhirnya sebuah keluarga yang mereka impikan selama ini tercapai juga.

Sebuah cerita sedih tak harus selalu sad ending bukan? Pasti ada juga yang berakhir happy ending😀

.

.

.

.

.

END

Yuhuu… akhirnya kelar juga.. yeoaahhh…😄 *author gila #plakk

Dimohon kritik dan sarannya ya  :)

Gimana pendapat kalian. Apakah ff ini gaje? Bagus? Jelek? Buruk? Baik? Kepanjangan? Kependekan? #plakk *banyak amat –“

RCL aja dah..😀

Ppyong…!!!

This entry was posted by kepangmusic.

12 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Happy Family

  1. Jjang!!!😄
    Hampir nangis waktu Youngmin tertusuk :’)

    author kebanyakan bikin ff main castnya Jo Twins yaa~

  2. huwaaaT_T keren thor…… jotwinsss,,,,, aku nangis huhuhu…… kwangmin youngmin klian kasihan banget bth perjuangan….. hiks… thor ceritnnya daebak banget… aku suka^^

  3. terharu aku bacanya, bagus ceritanya…..
    tp dak jelas, sejak kapan org tuanya kembali bersatu dan karena apa?
    juga saat youngmin terluka itu, mirip ama FanFictions yg dah ku baca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: