[FANFICT/FREELANCE] I Know Only Love

12209_498397716863471_1597780770_n

Title 
: I Know Only Love
Author : Dhianie
Genre         : Sad Romance
Rating          : PG
Type   : One Shoot
Main Casts      
: ~ Jo Youngmin
~ Kim Haera (OC)

~ Other Cast

Cover FF by : June_Juny Cover Fanfiction

 

A/N : Annyeong haseyo chingudeul~ ^^. Ini pertama kalinya saya mengirim Fanfic ke blog ini. Semoga mendapatkan respon yang baik yah dari kalian ^^. Karena saya author abal-abal jadi mohon di maklum jika Fanfic saya ini masih jauh dari kata sempurna. Karena saya masih belajar dalam buat Fanfic. Fanfic ini juga saya share di blog pribadi saya ~> http://dhianie94.wordpress.com (Mampir yah xD ) . Udah deh dari pada banyak omong… lebih baik capcus yuk baca. Hehe…

——HAPPY READING—— Don’t forget RCL ^^

-Youngmin POV-

Pagi telah kembali datang. Sang dewi malam telah kembali ke peraduannya dan digantikan dengan sang mentari. Aku menghirup nafas dalam-dalam udara pagi—sebelum akhirnya menjajakan kakiku ke dalam sekolah. Bersiap dengan semua cerita yang setiap hari harus kudengarkan. Bukan tak ingin aku mendengarnya, tapi terlalu sulit untukku dengar. Terasa ada desiran di hati ini. Seakan teriris saat satu dua patah kata yang ia rangkai menjadi cerita yang ku dengar. Tapi aku sahabatnya… yang harus setia mendengar keluh kesah dan setiap kisah bahagianya. Dan aku hanya bisa bersiap setiap harinya—menyiapkan hatiku ini agar tidak terus-terusan sakit. Sakit… sakit disaat aku harus mencintai sahabatku sendiri—dan tanpa sepengetahuannya. Sedangkan ia sudah bahagia dengan kekasihnya. Fiuh…

“Youngmin-ah…” Sebuah suara yang sangat lembut memanggilku. Aku hapal betul siapa pemilik suara itu. Suara indah yang setiap malamnya terngiang-ngiang di setiap aku akan memejamkan mata. Aku menghentikan langkahku dan menoleh. Benar saja itu dia… Haera—Sahabat plus yeoja yang sangat aku cintai.

“Annyeong…” Kulambaikan tanganku ketika menyapanya. Ia membalas sapaanku dengan seulas senyumannya. Oh God… kurasa hati ini tengah meleleh akibat senyumannya itu. Jantung ini seakan melompat. ‘Youngmin kontrol dirimu…’ Batinku mencoba menenangkan semuanya.

“Kau baru datang, huh?” Tanyaku. Ku belai rambut hitam legamnya. Ini sudah bukan hal yang aneh lagi. karena aku selalu membelai lembut rambutnya dan Haera pun tak pernah keberatan—yah, karena ia hanya menganggapnya sebagai tanda perhatianku—sahabatnya padanya.

“Ne…” Angguknya. “Memang Kyuhyun hyung kemana, eoh? Apa dia tak menjemputmu?” Tanyaku. Yah, aku menanyakan namjachingunya—Kyuhyun. Mengapa aku memanggil namjachingu Haera dengan embel-embel hyung? Karena namjachingunya itu terpaut beberapa tahun lebih tua dari aku dan Haera dan dia sudah masuk universitas.

“Ani… dia ada kelas.” Tembal Haera seraya menarik lenganku untuk masuk ke dalam sekolah.

“Kasihan sekali…” Godaku. “Ah… appo…” Ringisku ketika tangan Haera dengan manisnya mencubit pinggang kecilku ini.

“Habisnya kau mencibirku!” Ucapnya sebal.

“Hey… itu bukan mencibir!” Seruku. Ku hentikan langkahku sekedar untuk melihatnya. Ah lihatlah sekarang dia sedang mempoutkan bibirnya. Dan itu sangat membuatnya kelihatan manis.

“Terserah kau saja!” Katanya lalu kembali menarik tanganku menuju kelas. Aigo… aku hanya menggodanya. Tapi kenapa dia sampai sesebal itu.

-o00o-

Bel istirahat sudah berbunyi. Tak terasa jam pelajaran ke dua telah selesai. Fiuh… rasanya otakku benar-benar kaku menyerap pelajaran matematika. Tapi pelajaran menyebalkan itu sudah berakhir. Sekarang aku dan Haera terduduk berdua di kursi klasik di taman belakang sekolah. Sangat asik menghabiskan waktu disini. Daripada harus mengisi waktu istirahat di kantin yang ricuhnya bukan main. Tapi kami duduk disini tak akan kelaparan karena sudah membeli makanan sebelumnya.

“Youngmin-ah… kapan kau mau punya yeojachingu? Kalau kau punya yeojachingu kan kita bisa double date!!”

“Ohok… ohok…” Aku tersedak minumanku sendiri ketika mendengar kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Haera. Aish… bagaimana mungkin ia bisa menanyakan hal itu.

“Tidak tahu!” Jawabku tegas lalu kembali meneguk minuman yang sempat terhenti karena pertanyaan Haera yang menurutku tak penting sama sekali untukku jawab.

“Apa kau mau kucarikan yeoja, huh?” Tanyanya lagi. Jujur pertanyaannya kali ini lebih membuatku terkejut. “M—m—mwo? Yeoja?” Tanyaku sedikit terbata-bata.

“Ya! kau kenapa seperti terkejut sekali? Ne… yeoja. Maukan?” Tanyanya lagi. Apa dia pikir aku tak bisa mencari yeoja sendiri.

“Ya! Apa kau pikir aku ini tak laku? Apa kau pikir aku tak bisa mencari yeoja sendiri?” Tanyaku dengan penuh penekanan. Aku menggebrak bangku taman itu dengan minuman yang tengah ku genggam—hingga minuman itu sedikit tumpah. Haera terlihat sedikit terkesiap. Aku lantas beranjak meninggalkannya.

—o—

 

Dengan malas aku duduk menyenderkan pungunggku. Aku sendiri merenung di koridor sekolah yang menurutku sepi dan jarang sekali di lewati oleh para murid karena ini koridor menuju gudang.

Mataku memanas… rasanya ada sesuatu yang menggenang dan memaksa untuk keluar dari pelupuk mataku. Aku ini namja apa? Mengapa aku begitu cengeng. Cengeng hanya karena cinta. Aigo… aku benci diriku sendiri.

Tapi apakah Haera tak tahu… apa ia tak tahu aku begitu sakit saat ia menawarkan akan mencarikan yeoja untukku. Cukup… cukup aku melihatnya bersama namja bernama ‘Cho Kyuhyun’ itu. Itu sudah cukup sakit. Dan sekarang dengan berbaik hati ia menawarkan untuk mencarikan yeoja padaku agar kami bisa double date. Oh tidak…

Aku sangat membenci ketika rasa itu timbul begitu saja. Getaran itu tak mampu ku bendung. Saat kutatap wajahnya… senyumannya… dan saat ku tatap semua yang ada pada dirinya. Aku terhenyak sesaat. Aku begitu menyedihkan. Seolah tak ada yeoja lain yang bisa ku cintai—hingga aku mencintai sahabatku sendiri.

-o00o-

 

Kejadian di taman tadi sedikit membuatku canggung dengan Haera. Saat pulang sekolah Haera tak menyapaku sama sekali. Ia malah memperlihatkan mata sayunya itu. Sepertinya tadi aku begitu keterlaluan padanya. Mungkin niatnya itu baik. Ia tak ingin terus-terusan melihatku tanpa pendamping. Tapi tunggu dulu… ini hidupku. Kenapa dia harus mencampurinya. Tapi aku juga tak bisa menepis—kalau seharusnya aku tak bersikap seperti itu padanya.

Aku berjalan tak jauh dari Haera ketika menuju pelataran parkiran. Kakiku sontak terhenti ketika menangkap sosok namja itu—Cho Kyuhun tengah tersenyum manis pada Haera. Gantian dari sebelumnya—sekarang kulihat sosok Haera yang tengah membalas senyuman itu. Senyuman yang begitu manis… senyuman yang tak pernah ia berikan padaku. Aigo… sadarlah Youngmin, pantas saja Haera tak pernah memberikan senyuman itu padamu. Kau ini hanya sahabatnya. Ingat ‘SAHABATNYA’. Aku bisa gila jika terus mengingat kalau aku ini hanya sahabat Haera.

Sekarang ku alihkan pandanganku dari kedua insan itu. Aku masuk ke dalam mobilku. Dan langsung saja kutancapkan gas sebelum mobil mereka melaju.

-Youngmin POV end-

-Haera POV-

Kulangkahkan dengan malas kakiku menuju parkiran. Ternyata Kyuhyun oppa sudah berada disana. Tapi entah kenapa tak ada sedikitpun rasa senang ketika ia menjemputku. Pikiranku masih melayang-layang mengingat kejadian tadi ‘saat istirahat’. Aku begitu tak enak hati dengan Youngmin. Apa aku sudah menyinggung perasaannya. Sepertinya dia marah padaku. Tadi saja saat kami berpapasan—Youngmin tak menyapaku sedikitpun. Kenapa ada perasaan sedih terselip di hati kecil ini ketika ia menatapku dingin dan tanpa menyapa sedikitpun. Aku harus minta maaf padanya. Tapi sepertinya besok saja karena Kyuhyun oppa sudah menjemputku.

“Chagi…” Panggil Kyuhyun oppa padaku. Aku tersenyum malas padanya. “Ya! kau kenapa? Apa kau sedang sedih?” Tanyanya yang sedikit mengkhawatirkanku. “Ani oppa… aku sedang tak enak badan saja.” Jawabku berbohong padanya. Mendengarkan jawabanku dia malah menautkan alisnya seperti tak percaya. Dengan lembut Kyuhun oppa memegang keningku.”Ah… kau tidak panas sama sekali chagi.” Ucapnya. Aigoo… bagaimana ini. Tapi bukan Haera namanya kalau sampai kalah bicara.

 “Oppa ini bagaimana si. Aku kan tadi bilang sedang tidak enak badan. Bukan demam!” Kataku dengan penekanan saat mengucapkan ‘Demam’.

“Ah… ne… ne… ne… arraseo. Kajja masuklah!” Seru Kyuhyun oppa seraya membukakan pintu mobilnya untukku. Sebelum aku masuk ke dalam mobilnya—aku mengedarkan pandanganku untuk mencari sosok Youngmin. Tapi hasilnya nihil… aku tak melihatnya sama sekali. Mungkin dia sudah pulang. Buktinya saja mobilnya sudah tak ada.

-Haera POV end-

-o00o-

 

-Author POV-

Youngmin membuang tasnya ke sembarang tempat. Ia hempaskan tubuhnya begitu saja ke ranjang king size-nya. Nafasnya ia tarik kasar. “Aaaaaaaaaa…” Teriaknya lalu bangkit dan duduk di tepi ranjangnya.

“Kenapa aku harus mencintainya kalau aku tak mampu memilikinya. Mempunyai rasa itu begitu menyakitkan. Menyesakkan di dada. Setidaknya dia harus mengetahui perasaan ini. Tapi tak mungkin aku mengatakannya.” Youngmin mendengus kesal. Ia acak rambutnya prustasi.

TOK… TOK… TOK… sebuah ketukan pintu berhasil menyita perhatiannya. Dengan malas Youngmin membuka pintu kamarnya. Terlihat seorang namja yang serupa dengannya—yah, itu Kwangmin adik enam menitnya.

“Ada apa?” Tanyanya ketus pada dongsaengnya itu yang menurutnya tengah mengganggu ketenangannya.

“Ada Haera mencarimu.” Tembal Kwangmin. Youngmin menautkan alisnya tak percaya. “Ah kau pasti bohong. Dia kan tadi pulang bersama Kyu—“

“Cepatlah temui dia. Dia terlihat sangat buruk sekali.” Potong Kwangmin saat Youngmin ingin melanjutkan ucapannya. Dengan gusar Youngmin menggeser Kwangmin agar tak menghalangi jalannya.

Satu persatu anak tangga Youngmin turuni. Pikirannya penuh dengan pertanyaan. Terlebih lagi mengingat perkataan Kwangmin barusan ‘Cepat temuilah dia. Dia terlihat sangat buruk’. Kata-kata itu semakin membuat Youngmin ingin segera melihat Haera.

“Haera…” Panggil Youngmin yang terengah-engah karena menuruni tangga dengan cepat. Sontak saat mendengar panggilan Youngmin—Haera pun menoleh. Mata indah itu… mata yang selalu memancarkan kebahagiaan kini terhalangi oleh linangan air mata. Pandangannya begitu sendu.

“Kau kenapa?” Tanya Youngmin cemas sembari memegang kedua pundak Haera.

“….” Haera tak menjawab. Ia terus saja menangis sesenggukan. Dari atas tepatnya di ujung anak tangga—Kwangmin hanya bisa memperhatikan Haera dan Youngmin tak mengerti. “Ada apa dengan mereka berdua. Bukankah mereka berdua berteman baik.” Gumam Kwangmin sebelum berlalu masuk ke kamarnya.

“Katakan kau kenapa Haera?” Youngmin mengguncang-guncangkan tubuh mungil milik Haera untuk meminta jawaban dari yeoja itu. Tetap saja tak ada jawaban dari Haera.

Beberapa saat kemudian Haera malah berhambur memeluk Youngmin. Memeluk namja itu sangat erat. Youngmin semakin tak mengerti dengan Haera.

“Sudahlah kalau kau tak mau menceritakannya. Sekarang duduklah… agar kau bisa lebih tenang.” Perlahan Youngmin melonggarkan pelukan Haera. Ia bawa yeoja itu duduk di sofa.

Lama keduanya terdiam. Youngmin tak punya keberanian lagi untuk bertanya pada Haera. Dia lebih memilih untuk menunggu saja sampai Haera mau menjelaskan semuanya.

“Dia… ternyata… ter—hiks… hiks…—nya—hiks… hiks… hiks…—ta.” Sembari sesenggukan Haera mencoba menceritakan semuanya pada Youngmin. Youngmin tak tega melihat yeoja yang amat ia cintai itu menangis—hingga akhirnya ia memeluk Haera.

“Jangan cerita dulu. Tenangkanlah dirimu dahulu. Kalau kau sudah merasa lebih tenang, baru ceritakan semuanya.” Ucap Youngmin. Ia usap lembut puncak rambut Haera. Mencoba menyalurkan ketenangan pada yeoja itu.

“Dia selingkuh…” Lirih Haera ketika tangisannya sudah sedikit meredam. Youngmin sedikit tersentak mendengar penuturan Haera—sampai ia longgarkan pelukannya itu.

“Jinjja?” Tanya Youngmin tak percaya. Haera hanya bisa mengangguk dan membekap mulutnya karena tak ingin tangisnya tumpah lagi.

Youngmin geram… dikepalnya tangannya itu. Tapi Haera malah meraih tangan kekar Youngmin dan mengusapnya lembut.

“Darimana kau tahu dia selingkuh?” Selidik Youngmin.

“Tadi ada sorang yeoja yang mengahampiri kami ketika sedang di kafe ye—hiks… hiks… hiks…” Haera kembali terisak. Direngkuhnya tubuh mungil itu oleh Youngmin agar kembali tenang. “Sudahlah… kau tak perlu menceritakan semua itu. Lupakan saja dia. Karena masih ada namja yang begitu tulus mencintaimu.” Hibur Youngmin. Tapi sepertinya Youngmin tak sekedar menghibur Haera, karena ia sungguh-sungguh mengatakan itu—dan namja itu adalah dirinya.

‘Namja itu dengan seenak jidat menyakiti Haera. Kenapa dia begitu tega menduakan yeoja sebaik Haera. Awas saja kalau aku bertemu dengannya. Tamat lah riwayatnya.’ Batin Youngmin.

-o00o-

 

Next day-

 

Haera termenung sendirian di bangku taman yang biasa ia duduki berdua bersama dengan Youngmin. Kali ini tanpa Youngmin—hanya kupu-kupu yang lalu lalang setia menemani kesendiriannya. Walaupun air matanya itu telah kering. Tapi batinnya masih saja bergejolak. Sakit… itulah yang terus dirasakan hatinya.

“Aaaaaaaaaaaaa… napeun namja…” Teriaknya. Dihentak-hentakan kakinya kesal ke rerumputan yang hijau. Sesaat setelah itu sebuah tangan dengan halusnya menyentuh pundak Haera. Sontak yeoja itu menoleh untuk melihat siapa pemilik tangan tersebut.

“Youngmin…” Ucapnya lirih. Dilihatnya Youngmin yang tengah mengukir senyuman yang begitu indah. Sangat indah… sesaat senyuman itu mampu membuat pikirannya kosong—seolah pikirannya tentang masalah itu melayang entah kemana.

“Apa kau masih memikirkan yang kemarin?” Tanya Youngmin sedikit ragu. Ia takut pertanyaannya itu mampu membuka luka hati Haera.

“Duduklah…” Kata Haera tanpa menjawab pertanyaan sebelumnya dari Youngmin. Sekarang mereka berdua duduk berdampingan. Keduanya menatap kosong entah kemana. Melayang-layang dengan pemikiran masing-masing.

-Author POV end-

-Youngmin POV-

“Duduklah…” Kata Haera. Aku lantas menurut dan duduk disampingnya. Hati ini rasanya semakin teriris kala melihat semburat kesedihan yang bersarang di wajah cantiknya. Andai aku bisa… aku ingin memelukanya erat. Bukan memeluknya sebagai sahabat. Tapi memeluknya sebagai seorang namja yang begitu mencintainya. Hening… kami sibuk dengan pemikiran masing-masing. Entah apa yang Haera pikirkan. Aku ingin tahu… rasa keingin tahuanku sangat besar. Jika aku bertanya—aku takut akan membaka lukanya kembali.

“Apa kau pernah merasa sakit karena cinta?” Tanyanya tiba-tiba. Aku sedikit terkesiap. Bukan pernah lagi. Tapi aku sering merasakan sakit karena cinta. Itu semua karena aku mencintaimu Haera. Oh tuhan… aku ingin sekali mengucapkan itu padanya.

“Kau tahu sendiri aku belum pernah mempunyai kekasih. Mana mungkin aku bisa merasakan sakit karena cinta. Pertanyaanmu bodoh…” Jawabku memutar balikan semua fakta yang ada. Haera kini beralih menatapku. Manik matanya jauh menerawang ke manik mataku. Mungkin ia mencoba mencari kebohongan dari mataku. Aku tahu itu. Aku bisa ketahuan jika terus menatapnya. Lebih baik ku tundukan kepalaku ini.

“Kau bohong!” Sergahnya. Aku mendongak padanya. Tapi aku tertunduk lagi. Tak ada sedikit keberanian untukku tatap manik matanya.

“Untuk apa aku berbohong. Bukankah kau tahu sendiri.” Tembalku cepat.

“Baiklah aku percaya.” Ucap Haera lemah.

“Kau benar aku berbohong. Aku sering merasakan sakit. Sakit itu pun karenamu. Karena aku mencintaimu. Aku begitu sakit ketika melihatmu dengan namja lain!” Teriakku. Sontak Haera menoleh dan sedikit terkesiap medengar teriakanku. Aku langsung beranjak dari tempat dudukku. Aigo… kenapa kata-kata itu begitu saja meluncur dari mulutku. Bagaimana nasib persahabatanku dengannya setelah ini. Aku telah menghancurkan semuanya.

“Yo—Youn—Youngmin…” Panggil Haera parau. Suaranya nyaris tak terdengar olehku karena aku mulai menjauh darinya.

Ah sial… aku menangis. Kenapa air mata ini sulit untukku bendung. Seperti biasa aku duduk di koridor menuju gudang. Aku terus merutuki betapa bodohnya aku. Bodoh… bodoh… bodoh. Kenapa harus mengatakan itu. Bagaimana kalau Haera tak mau menganggapku sebagai sahabtanya lagi.

“Youngmin-ah…” Suara itu. Suara itu sangat aku kenal. Benar saja—Haera sudah berada disampingku. Entah dari kapan ia berada disampingku. Haera bersandar di pundakku. Walau tak jelas, tapi aku mendengar rintihan tangisnya.

“Maaf…” Lirihnya.

“Maaf untuk apa?” Tanyaku. Suaraku sedikit serak akibat tangisku yang tak juga redam.

“Maaf… karena selama ini aku tak pernah peka.”

“Kau tak perlu meminta maaf Haera-ya. Ini semua bukan kesalahanmu. Aku saja yang tak tahu diri karena menyukai sahabatku sendiri.”

“Bukan ‘tak tahu diri’. Cinta itu bukan masalah ‘tak tahu diri’.”

“Lantas?”

“Kau juga tak pernah bisa memilih bukan—kau mau mencintai siapa. Karena semua rasa itu datangnya dari sini.” Haera menoleh kepadaku. Ia memegang dada kirinya. Menunjukan sebuah isyarat kalau ‘Rasa cinta itu datangnya dari hati’.

“Benarkah?” Aku tersenyum getir. Kulihat Haera menarik nafasnya pelan sebelum ia kembali berbicara. “Sejak kapan rasa itu muncul?” Tanyanya. Mengapa yeoja ini selalu bertanya hal yang tak ingin ku jawab. Hal itu biarlah aku sendiri yang tahu. Aku selalu berpikir tentang semua cintaku padanya. Biarlah rasa cintaku padanya hanya aku yang tahu… tanpa harus ia tahu kapan itu muncul dan seberapa besar rasa cintaku itu.

“Aku tak ingin menjawabnya.” Tegasku. Dia malah tersenyum mendengar penegasanku. Mengapa dia masih bisa tersenyum disaat seperti ini.

“Ini lah yang selalu ku takutkan selama ini.”

“Maksudmu?” Tanyaku tak mengerti.

“Saat rasa sayang sebagai sahabat itu memudar dan tergantikan dengan benih-benih cinta. Apa kau tahu… aku pernah merasakan semua itu. Ketika sentuhan lembutmu itu menyentuhku sebagai seorang sahabat—kala itu aku yang tengah terpuruk. Disaat itu pulalah aku mengharapkanmu lebih dari seorang sahabat. Tapi aku juga sama denganmu—memikirkan bagaimana persahabatan ini kalau rasa cinta itu muncul. Aku takut cinta itu merusak semuanya.” Ujar Haera. Ya tuhan… aku begitu terkejut, ah amat terkejut mendengar ucapannya itu. Benarkah dia mempunyai rasa yang sama denganku. Ini sangat tiba-tiba… semuanya bagai mimpi. Kulihat Haera… dia malah memandang kosong entah kemana.

-Youngmin POV end-

======FLASH BACK======

 

“Youngmin-ah… kapan kau mau punya yeojachingu? Kalau kau punya yeojachingu kan kita bisa double date!!” Tanya Haera pada Youngmin. Sontak saja pertanyaannya itu membuat namja itu tersedak. “Ohok… ohok…”

“Tidak tahu!” Jawab Youngmin tegas lalu kembali menegak minumannya kembali.

“Apa kau mau kucarikan yeoja, huh?” Tanya Haera yang sukses membuat Youngmin kembali terkejut.

“M—m—mwo? Yeoja?” Tanya Youngmin terbata-bata.

“Ya! kau kenapa seperti terkejut sekali? Ne… yeoja. Maukan?” Tanya Haera lagi.

“Ya! Apa kau pikir aku ini tak laku? Apa kau pikir aku tak bisa mencari yeoja sendiri?” Youngmin balik bertanya dengan penuh penekanan. Ia gebrak bangku itu dengan minumannya membuat yeoja yang disampingnya terkesiap. Youngmin beranjak begitu saja meninggalkan Haera yang masih duduk di bangku taman itu. Haera tertunduk membiarkan namja itu pergi begitu saja.

-Haera POV-

Apa tawaranku begitu menyakitkan untuknya. Aku tak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin dia bisa mendapatkan yeoja dan bahagia. Itu saja! Siapa tahu jika dia sudah mendapatkan yeoja—perlahan aku bisa melupakan rasa sukaku padanya. Ya tuhan… kenapa aku bisa menyukai sahabatku sendiri. ini begitu menyakitkan dari apapun. Sakit sekali… disaat aku harus memperjuangkan persahabatanku dengannya—disisi lain aku harus mengorbankan perasaanku sendiri.

Memang aku sudah mempunyai namja chingu. Tapi apalah itu. Aku memang menyukai Kyuhun oppa. Tapi—ada tapinya. Aku hanya menyukainya saja tanpa mencintainya sediktpun. Lagi-lagi itu untuk menyembunyikan rasa sukaku pada Youngmin.

-Skip time-

Aku diajak Kyuhyun oppa ke sebuah kafe. Malas sekali sebenarnya aku harus makan siang bersamanya. Aku lebih baik terjebak berjam-jam mengerjakan soal sejarah dengan Youngmin dari pada harus berada di kafe ini dengan namja ini.

Kyuhyun oppa menggeserkan kursi untukku duduki. Dengan seulas senyuman aku pun duduk. Tak lama setelah itu Kyuhyun oppa memesan makanan pada waiters. Aigoo… begitu terkejutnya kala ada seseorang yang memukul kepala Kyuhyun oppa dengan sebuah tas. Saat aku mendongak ternyata seorang yeoja yang begitu cantik.

“Oppa… kau…” Pekik yeoja itu yang tak ku ketahui siapa namanya. Kyuhyun oppa meringis kesakitan karena beberapa kali di pukuli oleh yeoja itu.

“Oppa… dia siapa?” Tanyaku padanya. Dengan tergagap ia menjawab “Di—dia—“ Ucapannya tergantung saat yeoja itu juga berucap “Aku yeojachingunya. Kau siapa, eoh?” Tanyanya ketus. Aigo… dia sudah mempunyai yeoja tapi memacariku. Apa dia yang menduakan aku. Ah aku tak peduli. Toh aku tak sedikitpun mencintainya.

“Aku juga yeojachingunya. Ah… tapi sekarang tidak lagi. Aku tak peduli… tolong jaga dia baik-baik jangan sampai bermain mata lagi dengan yeoja lain.” Ucapku sebelum pergi meninggalkan mereka berdua. “Haera…” Panggil Kyuhyun oppa. Tapi tak ku hiraukan. Aku langsung saja meninggalkan kafe ini.

—o—

 

Aku berjalan sendirian menelusuri trotoar jalanan kota Seoul. Panas sekali hari ini. Keringat terus saja mengalir di tubuhku. Mengingat kejadian tadi di kafe dan kejadian tadi di sekolah—ah mataku memanas. Cairan bening begitu saja keluar dari sudut mataku. Aku sedikit sakit hati dengan Kyuhyun oppa, walaupun kenyataannya aku tak mencintainya. Tapi bukankah menyakitkan telah diduakan oleh orang yang sudah kita percayai. Bahkan aku sudah dua bulan bersamanya. Tapi aku lebih sakit sekarang. Mengingat Youngmin yang sepertinya marah padaku. Ah aku ini benar-benar labil… gerutuku.

======FLASH BACK END======

 

Akhirnya aku sudah menceritakan semuanya pada Youngmin. Menceritakan semua kejadian yang terjadi di kafe itu. Youngmin terlihat sangat terkejut dan menaikan alisnya. “Lalu kenapa kau menangis saat itu? Apa arti tangisanmu saat itu?” Tanyanya.

“Memang saat itu aku menangis. Aku menangis karena di khianati kyu oppa. Ah tidak bukan sebab itu. Aku lebih menangisi diriku. Aku ingin marasakan dekapanmu. Dan aku sangat merasa bersalah. Merasa bersalah karena telah menawarimu untuk mencarikan seorang yeoja. Padahal kala itupun aku begitu ingin bersamamu. Hingga aku tak tahan menahan air mataku. Aku menangis sejadinya di pelukanmu. Dengan menggunakan Kyu sebagai alibi. Mianhae… jeongmal mianhae Youngmin-ah… tapi aku sangat mencintaimu.” Aku menatap lekat-lekat bola mata Youngin. Berharap namja ini tak marah padaku. Aku yang sudah labil. Ah parah sekali aku jika mengingat kejadian hari itu.

“Gwaenchana… tapi aku tak habis pikir. Ketidak jujuran kita satu sama lain malah membuat kita sendiri merasakan sakit satu sama lain. Aku tak menyangka akan jadi seperti ini akhirnya. Aku yang mulai menyuakimu dari awal bertemu. Tapi kala itu kau malah bilang hanya menganggapku hanya sebagai seorang sahabat. Jadi aku tak punya keberanian apa-apa untuk mengungkapakannya.” Ujar Youngmin. Selama itukah dia menyukaiku. Aku pun sama—aku mulai menyukainya dari pertama kami bertemu.

“Aku pun sama… aku menyukaimu dari pertama melihatmu. Tapi aku takut kau tak meyukaiku. Jadi aku mengatakan kalau aku menganggapmu sebagai seorang sahabat. Dan itulah salah satu cara agar kita bisa selalu dekat.” Sahutku.

“Aigo… kita berdua benar-benar gila.” Youngmin membenarkan posisi duduknya yang tadi menyender pada tembok hingga menghadap padaku.

Deg… dia memandangku. Pandangan hangatnya. Pandangan yang tak pernah ia lihatkan sebelumnya. Aku tak menyangka hari ini dia bisa memandangku seperti ini. Jantungku… kuharap jantungku tak melompat keluar. Aku terlalu senang hingga jantungku memacu dengan cepat dan aku terlalu gugup jika ia terus menatapku seperti ini.

-Haera POV end-

-Youngmin POV-

“Aigo… kita berdua benar-benar gila.” Ucapku seraya membenarkan posisi dudukku hingga mengahadap padanya. Kupandangi satu demi satu lekuk wajahnya. Dia benar-benar cantik. Sudah lama aku ingin memandangnya sedekat ini. Tapi kupikir itu tak mungkin terjadi. Tapi nyatanya hari ini semua itu benar-benar terjadi.

“Apa kau mau memulai hubungan denganku?” Tanyaku. Ku usap lembut rambutnya. Perlahan tanganku menyisir helaian rambutnya. Ku selipkan rambut indahnya itu di daun telinganya.

“Lalu bagaimana dengan persahabatan kita?” Tanyanya. Aigoo… dia masih saja memikirkan persahabatan itu. Justru kami akan sakit jika terus-terusan bersahabat, padahal kami tahu kalau kami saling mencintai.

“Apa kau mau hal menyakitkan itu terulang lagi. Dengan menyembunyikan perasaan masing-masing?” Tanyaku. Dia menggeleng cepat. “Lalu bagaimana?” Tanyaku lagi. Sepertinya hari ini aku begitu bawel hingga terus-terusan bertanya padanya.

“Aku mau memulainya… tapi kenapa sampai detik ini kau belum mengungkapkan perasaanmu secara resmi. Sedari tadi kau hanya bercerita kalau kau mencintaiku saja. Itu bercerita… bukan mengatakan secara resmi…” Godanya padaku. Hey… rupanya dia ingin aku mengatakannya lagi. Baiklah tidak masalah. Walaupun aku harus mengatakannya seribu kali—aku akan mengatakannya sebanyak itu.

“Haera… jujur… dari dalam sini. Coba kau pegang ini.” Aku tak langsung mengatakannya. Kutarik tangan Haera dan meletakannya di dada kiriku.

“Dari dalam sini… dari sini rasa itu muncul. Rasa yang entah dari kapan mulai bersemi. Ah iya padahal tadi aku sudah bilang kalau aku menyukaimu dari awal aku bertemu denganmu. Yah… rasa itu muncul ketika itu. Ada getaran disini. Setiap detiknya getaran itu terus muncul. Apalagi saat kutatap indah wajahmu. Dan disini…” Kupindahkan sedikit tangan Haera hingga kebagian jantungku.

 “Disini… seolah-olah jantung itu akan melompat begitu saja ketika kau balik menatapku. Aku takut… aku takut mati dihadapanmu—karena bukan hanya jantung ini melompat saja, tapi jantung ini seakan berhenti memompa saat di hadapanmu. Mungkin itu kedengarannya seperti aku sedang bergombal padamu. Tapi aku mengatakan semua itu dengan tulus… dan akhir kata. Tidak… tidak… ini bukan akhir kata. Ini awal kata—kalau aku begitu mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu. Mencintaimu dengan segenap hati. Mencintaimu lebih dari yang kau tahu. Aku tak ingin kehilanganmu. Mulai sekarang maukah kau berdiam disini?” Tanyaku. Aku menggeser tangannya kembali ke dekat hatiku. “Maukah kau mendiami kekosongan hatiku.Isilah kekosongan hati ini dengan beribu-ribu cinta yang kau miliki. Aku pun akan mendiami kediaman hatimu itu dengan cinta tulus yang kupunya.” Ungkapku. Kutangkap semburat merah begitu saja terpoles dipipi mulus Haera.

“Kenapa kau diam? Apa kau tidak mau?” Tanyaku lagi. Aku sedikti tak sabar mendengar jawaban darinya karena dia terus saja terdiam.

“E—emm… aku bingung mau berbicara apa lagi. Karena aku begitu tersentuh mendengar semua ucapanmu itu. Dengan senang hati aku akan berdiam disini. Dan memberikan seluruh hatiku untukmmu Youngmin…” Ucap Haera. Ia menepuk-nepuk dadaku saat berkata ‘Dengan senang hati aku akan berdiam disini’. ‘Aigo… eomma dia menerimaku.’ Teriakku dalam hati. Aku sangat senang sekali mendengar ucapannya itu.

“Saranghaeyo Haera…” Kutarik tubuhnya itu kedalam dekapanku. Kupeluk erat ia. Mungkin sekarang Haera akan sulit bernafas karena pelukanku yang sangat erat. Tapi tak apa. Aku ingin seperti ini sebentar saja.

“Youngmin-ah… kau terlalu erat memlukku. Aku kehabisan nafas.” Haera meronta agar aku melepaskan pelukannya.

“Balas ucapanku. Kalau tidak aku tak akan melepaskanmu.” Ucapku.

“Ucapan yang mana?” Aigo… dia malah bertanya lagi.

“Saranghaeyo Haera…”

“Oh… nado saranghaeyo Youngmin…” Balas Haera. Tapi aku malah mengeratkan lagi pelukanku. Tapi kali ini Haera balas memelukku. Kekeke…

——THE END——

 

Gomawo yang udah nyempetin waktu buat baca FF ku😀

Komentar, kritik dan sarannya yah agar aku bisa memperbaiki pembuatan FF selanjutnya 😀

This entry was posted by kepangmusic.

8 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] I Know Only Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: