[FANFICT] Y – Chapter 01

whiteday1

Title 
: Y – Chapter 01
Author : Diah~
Genre         : Family, friendship, dan Romance
Rating          : G
Type   : Chaptered
Main Casts      
: ~ Kwangmin            ~ Youngmin 

  ~ Yewon (OC)

-Chapter 1-

OST Boyfriend – Do

Apa dua orang yang mempunyai fisik yang sama tentu memiliki sifat serta hobi yang sama pula? Itu hanya kebetulan jika memang ada. Mereka kembar tapi berbeda dari segi sifat, hobi, dan tentu saja karakter. Jo Youngmin dan Jo Kwangmin, kembar beda 6 menit, bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Atas. Dua namja yang sering dikejar-kejar oleh para yeoja di sekolah mereka. Tentu saja ketenaran mereka memiliki sebab. Wajah yang tampan!? Itu salah satunya. Youngmin, murid peringkat dua terpintar, hobinya membaca buku filsafat dan sejarah, berkarakter tenang dan mempunyai senyum malaikat, begitulah istilah yang disebut (lagi-lagi) oleh yeoja di sekolah mereka. Tidak hanya Youngmin yang memiliki panggilan, Kwangmin juga. Si Slum Dunk muda, sebutan sedikit aneh tapi itu terdengar sangat keren untuk atlit sekolah. Dia salah satu atlit basket. Sudah menciptakan 4 slam dunk di kejuaraan basket tingkat nasional. Prestasinya membuat nama sekolah mereka semakin diminati oleh remaja yang ingin menjadi atlit basket seperti Kwangmin. Kepintaran di bidang pelajaran mungkin tidak sehebat abangnya, Youngmin, tapi dia juga suka membaca, baca komik, ya tentu saja komik yang berbau basket. Karakternya mudah sekali marah dan sedikit polos.

Saat ini mereka duduk di kelas akhir yang semester depan akan disibukkan dengan ujian masuk universitas. Ini yang menjadi kekhawatiran Mr. Jo, ayah dari si kembar Jo atau Jo Twins. Mr. Jo khawatir kalau Kwangmin akan lalai dengan olahraga dan selalu bermain-main dengan teman-temannya. Mr. Jo ingin sekali melihat kedua anaknya menjadi sukses dan bisa dihargai oleh masyarakat. Apa ini sejalan dengan pemikiran anak-anaknya? Mungkin Youngmin mengerti tapi Kwangmin !?

“Bagaimana sekolahmu Youngmin?” Tanya Mr. Jo ketika mereka sedang sarapan pagi.

“Berjalan baik, Appa.” Jawab Youngmin.

Kwangmin duduk dengan diam di sebelah Youngmin sambil menyantap sarapan paginya.

“Omma, aku akan pulang telat hari ini. Ada kelas tambahan.” Kata Youngmin.

“Nado” Kwangmin menyahut sebelum Omma menjawab.

“Kelas tambahan, bermain basket, atau hang out  dengan teman-temanmu yang tidak berguna itu !?” Mr. Jo tiba-tiba mengangkat bicara. Kwangmin terdiam sejenak.

“Kelas tambahan.” Kwangmin menjawab dengan suara sangat pelan.

“Yeobo, aku harus pergi sekarang.” Perkataan Kwangmin diabaikan. Mr. Jo beranjak dari kursinya, membersihkan sedikit mulutnya dengan serbet serta mengambil tasnya di dekat meja. Mr. Jo mendekati istrinya lalu mencium keningnya.

Setelah dilihat Mr. Jo sudah keluar dari rumah, Kwangmin tiba-tiba berkata “Omma, kamu percaya denganku kan? Dan kenapa Appa selalu menyebut teman-temanku tidak berguna?” Pagi ini terasa muram untuk Kwangmin.

“Tentu saja anakku. Appa hanya khawatir dengan kalian,” Mrs. Jo tersenyum hangat “Nah, sekarang sudah waktunya kalian berangkat ke sekolah.”

Mereka beranjak dari kursi dan lalu mengenakan sepatu masing-masing. Mrs. Jo membersihkan meja makan dan mencuci beberapa piring kotor di dapur bersih.

“Jangan lupa membawa bekal kalian. Jus kalian ada di kulkas.” Teriak Mrs. Jo dari dapur.

“Ne” Youngmin yang sudah selesai duluan mengenakan sepatu lalu mengambil bekal serta jus.

“Omma, ini kenapa kotak bekalnya bergambar Pikachu?” Youngmin terkejut melihat satu kotak bekal yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.

“Hei dia menyuruh Omma membeli kotak bekal yang baru bergambar Pikachu karena yang sebelumnya sangat kecil katanya.” Mrs. Jo berkata sambil tertawa kecil dan menunjuk ke arah Kwangmin yang masih duduk mengenakan sepatunya.

“kekeke~ arraseo!” Youngmin menjawabnya dengan tersenyum mengejek sambil melihat adiknya. Youngmin lalu mencium kening Mrs. Jo dan menghampiri Kwangmin.

“Ini kotak bekalmu. Apa boneka Pikachu juga masih ada di tempat tidurmu sekarang? haha~” Youngmin memberikan kotak bekal milik Kwangmin lalu keluar dari pintu. Kwangmin tidak mengerti pertanyaan Youngmin, dia melihat kotak bekal Pikachu yang dipegangnya lalu tersadar kalau Youngmin sudah mengejeknya karena dia masih menyukai Pikachu.

Mereka berdua berjalan santai menuju sekolah. Youngmin menikmati buku yang sedang dibacanya sedangkan Kwangmin menikmati lagu yang sedang didengarnya melalui mp3. Di antara mereka tidak ada yang berbicara. Mungkin bagi orang asing, mereka terlihat seperti sedang marahan tapi sebenarnya tidak. Kwangmin lalu bosan dengan musik yang sedang didengarnya. Sejenak dia melihat ke arah Youngmin yang sedang membaca sambil berjalan. Terkadang dia merasa aneh melihat kebiasaan Youngmin. Bagaimana dia masih bisa berkonsentrasi membaca buku dikala dia berjalan. Kwangmin menghentikan langkahnya.

“Youngmin-ah~ Jamkkaman. STOP!” Kwangmin tiba-tiba berteriak. Youngmin terkejut  dan langsung berhenti.

“Wae? ” Youngmin melihat sekitar dan menatap Kwangmin yang tanpa sadarnya sekarang berada di belakang.

“Ani!” Kwangmin tersenyum mengejek dan lari ke arah Youngmin, lalu dia merebut buku yang ada di tangan Youngmin. Youngmin terkejut melihat tingkah saudaranya.

“Hei! Kwangmin-a!” Youngmin mengejar Kwangmin. Dia berhasil menangkap Kwangmin tapi tidak bukunya. Kwangmin memain-mainkan buku Youngmin. Mereka saling berebutan buku seperti anak kecil. Kwangmin tertawa melihat Youngmin yang tidak bisa merebut bukunya.

“Ckckck” seorang yeoja mungil dengan gaya rambut kuncir dua memperhatikan tingkah Jo Twins yang masih berebut buku. Dia berjalan dengan cepat ke arah kedua namja kembar tersebut lalu mengeluarkan buku pelajarannya yang sedikit tebal.

*Buuuk* Buku yeoja itu mendarat di atas kepala Kwangmin.

“Ouch” Kwangmin berkeluh sakit dan berhenti. Dia mengelus kepalanya dan melihat ke belakang. Ada yeoja tersenyum tidak merasa bersalah berdiri di belakangnya sambil memegang buku pelajaran.

“Kau…!!” Kwangmin menahan marahnya ke yeoja tersebut.

“Wae!!??” Yeoja itu semakin menantang Kwangmin. Dia mengambil buku Youngmin dan memberikannya kembali ke Youngmin. “Kalian seperti anak kecil berumur di bawah 5 tahun. Cih.” Dia menatap tajam ke Kwangmin.

“Yewon! tumben sekali kamu tidak terlambat!?” tanya Youngmin.

“Hehe~ Ada PR yang belum selesai….” Ekspresi Yewon yang semula mengerikan di mata Kwangmin, sekarang berubah menjadi lembut ketika dipanggil oleh Youngmin.

“Yeoja yang menakutkan.” Kwangmin berbicara pelan lalu menarik Youngmin untuk lanjut berjalan.

“MWO!!!!” Yewon berteriak dan menyusul mereka. Dia lalu berhenti dan berdiri menghadap Youngmin.

“Youngmin-a~ sebentar!” ucap Yewon senyum-senyum.

“Ck!!” Kwangmin berdecak. Yewon yang mendengar itu langsung menatap Kwangmin tajam lagi.

“Boleh aku pinjam buku PR mu?” Yewon mengarahkan kedua tangannya ke Youngmin sambil bermain-main mata genit. Ini taktik yang selalu Yewon gunakan untuk meminjam buku milik Youngmin. Dia tahu kalau Youngmin pasti akan memberikannya meski dia tidak bermain mata, tapi tidak baik kalau tidak memberikan imbalankan!? Itulah yang dipikirkan Yewon.

“Haha. Aku tidak ingin melihat mata genit itu lagi, Yewon-si!” Youngmin tertawa melihat tingkah Yewon.

“Mmm ini imbalanmu yang selalu meminjamkan buku PR mu. Sedikit fanservice lah hehe~” balas Yewon dengan percaya dirinya.

“Sejak kapan kau jadi fans dia, Youngmin?! Kau masih waras kan!?” Kwangmin menyahut.

“Nanti akan aku berikan. Bukannya kamu hari ini harus membersihkan kelas?” Youngmin tidak memperdulikan tanggapan Kwangmin.

“Eh!? Kelas!? Bersih!? OMONA!!!” Yewon langsung lari dan meninggalkan Youngmin dan Kwangmin. “Youngmin-si jangan lupa berikan bukumu ya!!! ANNYEONG!!” Yewon berteriak dari kejauhan dan melambai.

 “Aku akan menjadi tidak waras jika tidak menjadi fans nya. Hehe~” Youngmin tiba-tiba berkata ke Kwangmin dan melanjutkan langkahnya. Kwangmin tidak mengerti.

“Kalian berpacaran!?” Kwangmin menyusul Youngmin.

“Menurutmu!?” Pertanyaan Youngmin seperti menggoda Kwangmin. “Kamu cemburu saudara kembarku?” Youngmin semakin mempermainkan kebingungan Kwangmin.

“Tapi bukannya tipemu itu…”

“Ah sudahlah… sepertinya aku harus membantu Yewon, dia tidak bisa menghapus papan tulis bagian atas karena dia sangat pendek. Aku pergi duluan ya!!” Youngmin tiba-tiba pergi dan berlari ke sekolah duluan.

Kwangmin masih bingung. Apa betul mereka berpacaran? Tidak mungkin. Yewon tidak ada cantik-cantiknya sama sekali. Tapi.. dari cara Youngmin berkata seperti tadi sepertinya betul. Pertanyaan dan pernyataan bolak-balik muncul di kepala Kwangmin. Sepanjang jalan dia terus berpikir dan tertawa sendiri karena membayangkan Youngmin dan Yewon bergandengan tangan berjalan bersama.

“Seperti Jerapah dan semut haha.”

Yewon adalah tetangga mereka. Yewon pindah ke daerah dekat rumah Youngmin dan Kwangmin semenjak awal Yewon masuk SMA. Ayahnya dipindahkan kerja yang dulunya di Jepang. Keluarga mereka orang korea asli tapi sebelumnya sudah 4 tahun menetap di Jepang. Yewon sering main ke rumah keluarga Jo untuk belajar bersama Youngmin. Yewon dan Youngmin berada di satu kelas, tapi tidak Kwangmin. Tidak hanya belajar, Yewon pun sering iseng datang ke rumah Jo kalau dia bosan di rumahnya. Ibunya Jo Twins menjadi mengenal Yewon dekat karena dia sering berkunjung.

Kwangmin berjalan sendiri ke sekolah. Yewon dan Youngmin sudah duluan. Sesampai di koridor depan kelas Youngmin, Kwangmin melihat dari luar Youngmin dan Yewon sedang membersihkan papan tulis berdua. Yewon menghapus bagian bawah, sedangkan Youngmin bagian atas. Mereka berdua membersihkan sambil sesekali tertawa.

“Sepertinya betul kalau mereka berpacaran. Hah~” Kwangmin mendesah. Tapi aku butuh kepastian. Pikir Kwangmin.

Seseorang keluar dari kelas tersebut. Seorang yeoja. Kwangmin langsung menarik yeoja itu.

“Hei.” Panggil Kwangmin. Yeoja tersebut terkejut dan kesenangan ternyata yang menariknya adalah Kwangmin.

“Apa mereka berpacaran?” Kwangmin bertanya ke yeoja itu sambil menunjuk ke arah Youngmin dan Yewon yang berada di dalam.

“He!?” Yeoja itu tidak fokus akan pertanyaan Kwangmin sehingga Kwangmin harus mengulangnya. “Ah~ aku tidak tahu. Tapi akhir-akhir ini mereka terlihat begitu akrab dibandingkan sebelumnya.”

“Sebelumnya? Memangnya tahu apa kau tentang mereka.” Kwangmin tiba-tiba sedikit marah mendengar jawaban dari yeoja itu.  Yeoja itu memandang Kwangmin aneh. “Ah~ tidak ada apa-apa. Gomawo.” Sambung Kwangmin sambil memberikan cengiran termanisnya.

Dari dalam kelas Yewon menyadari kehadiran Kwangmin di luar. Dia melambai sambil tersenyum ke arah kwangmin.

“Dia betul-betul menakutkan. Tadi pagi menatap tajam sekarang sudah ramah kembali.” Kwangmin berkata sendiri dan tentu saja Yewon tidak bisa mendengarnya. Kwangmin mengabaikan lambaian Yewon dan lanjut jalan menuju kelasnya.

Sekolah berjalan dengan lancar. Yewon, Youngmin dan Kwangmin belajar di kelas mereka masing-masing. Kwangmin serius belajar untuk membuktikan ke Mr. Jo kalau dia bisa juga berprestasi di kelas. Dia sudah semakin lelah dan marah selalu dibanding-bandingkan dengan Youngmin. Kemarahannya bukan untuk Youngmin melainkan untuk Mr. Jo, Appa mereka. Padahal dia sudah berhasil menjadi atlit basket terkenal di kalangan siswa. Apa itu tidak cukup? Pikir Kwangmin.

Bel makan siang berbunyi. Teman-teman Kwangmin mengajakknya ke kantin. Awalnya dia ingin ikut dan mengambil bekalnya dari dalam laci meja. Tapi setelah melihat bentuk kotak bekalnya yang penuh dengan gambar Pikachu, dia sedikit malu untuk menampakkannya.

“Kalian duluan saja. Aku tidak ada selera makan akhir-akhir ini.” Kwangmin duduk kembali ke kursinya dan memasukkan kotak bekalnya ke laci meja. Ha~ seharusnya aku tidak menyuruh Omma membelikan kotak bekal ini. Pikir Kwangmin. Dia membaringkan kepalanya di atas meja dan melihat ke arah luar jendela. Kelas mulai sepi karena para siswa beristirahat di luar.

*Kriuuuk* suara perut Kwangmin bunyi. itu tandanya dia memang harus makan siang. Tapi kotak bekal itu….. Peduli amat.

Kwangmin mengambil kotak bekal dan jusnya dan mulai jalan keluar. Dia berjalan cepat menuju atap sekolah yang dia yakini pasti tidak orang disana. Sepanjang dia berjalan, para siswi yang selalu memperhatikan Jo Twins, terkejut melihat Kwangmin yang membawa kotak bekal Pikachu. Mereka terkejut bukan karena Kwangmin membawa bekal, akan tetapi kenapa harus bergambar Pikachu. Sebagian dari mereka berpikir itu sangat lucu, imut dan manis tapi sebagiannya lagi merasa aneh dan berkata “Untung saja aku menyukai Youngmin yang berkharisma” Kwangmin menyadari itu semua dan semakin mempercepat langkahnya. Lagi dan lagi dia dibanding-bandingkan dengan Youngmin.

Dia sampai di atap sekolah dan berteriak.

“KWANGMIN-AAAA YOU’RE IDIOT!! PABO!!” Kwangmin berteriak-teriak sejadi-jadinya seolah-olah tidak ada orang disana.

“YA!! KAU MEMANG BODOH!!” Kwangmin terkejut mendengar suara itu. Familiar. Pikirnya.

Dia berbalik ke belakang dan melihat Yewon sedang duduk sambil memegang kain putih dan jarum. Dia menjahit? Dugaan Kwangmin.

“Ngapain kau disini?” Kwangmin bertanya sambil berjalan ke arah Yewon. Ternyata yang dipegang Yewon bukan kain biasa, tapi handuk, handuk putih. “Buat apa handuk itu?” tanya Kwangmin lagi.

Yewon langsung memasukkan kembali handuk serta peralatan menyulamnya ke dalam kantong yang dia bawa. Yewon menjadi salah tingkah ketika ditanya. “Emm.. Ini hehe~” Yewon mengalihkan pandangan.

Lalu pandangannya berhenti ke kotak bekal Kwangmin.

“Kau mulai menunjukkan ke orang-orang kalau kau menyukai Pikachu?” Yewon tiba-tiba bertanya ke Kwangmin.

Kwangmin terkejut mendengar pertanyaan Yewon. Kwangmin langsung menyembunyikan kotak bekal itu di belakang punggungnya. Yewon mengambil Jus yang ada di tangan Kwangmin satu lagi. Membuka penutup Jusnya dan meminumnya.

“Ha~ lega~ aku sudah kehausan dari tadi.” Ucap Yewon.

Kwangmin diam saja lalu duduk di sebelah Yewon.

“Bekalnya tidak dibuka?” tanya Yewon.

“He!?”

“Kau malu karena kotak bekalmu bergambar Pikachu?” tanya Yewon lagi. “Sudahlah.. Gak perlu disembunyikan lagi. Aku tahu dan kupikir itu lucu.” Yewon mengambil kotak bekal Kwangmin yang ada di sebelah Kwangmin.

“Hei.. Siapa suruh kau mengambilnya!!” Kwangmin menarik kotak bekalnya.

“Aish. Sifat kekanak-kanakanmu tidak berubah.” Yewon ngedumel.

Kwangmin berpikir sejenak. Darimana dia tahu kalau Kwangmin menyukai Pikachu. Sejak SMA, dia tidak lagi menunjukkan kepada orang-orang kalau dia menyukai karakter kartun itu. Sedangkan, Yewon adalah orang yang baru mereka kenal semenjak SMA.

“Yewon-a… Kau tahu dari-” tanya Kwangmin.

“Aku tahu darimana?” potong Yewon yang mengetahui pertanyaan Kwangmin. “Rahasia.!!” Yewon menjulurkan lidahnya. “Sini bekalmu. Aku sudah lapar.”

“Se..se…sebentar!!” Kwangmin menarik lagi kotak bekalnya yang dipegang erat oleh Yewon. “Tidak seorang pun tahu kalau aku masih menyukainya semenjak SMA. Kecuali keluargaku dan kecuali….” Kali ini Kwangmin menatap Yewon tajam. Apa Youngmin yang memberi tahukannya? Pikir Kwangmin.

“Dan kecuali apa?” Yewon membalas tatapannya. Lama.

“Kecuali pernah masuk ke kamarku.” Sambung Kwangmin. Yewon gugup setelah mendengar itu. Dia mengalihkan pandangan dan melepaskan genggamannya dari kotak bekal milik Kwangmin. “Wae!?” Kwangmin heran dengan Yewon yang mendadak salah tingkah.

“Ani! Makan sajalah. Aku makan nanti saja di kantin.” Yewon bergeser duduk menjauh sedikit dari Kwangmin.

“Oke. Aku akan memakannya sendiri.” Sahut Kwangmin.

*Kriuk* mendadak Kwangmin mendengar suara perut. Perut Yewon berbunyi.

Kwangmin pura-pura tidak mendengarnya. “Hari ini Omma memasak cumi goreng dan beberapa masakan enak lainnya.” Kata Kwangmin sambil melihat ke arah Yewon yang sedang sibuk atau tepatnya pura-pura sibuk memainkan handphonenya.

*Kriuk* suara perut kelaparan itu berbunyi lagi. Kenapa Yewon jadi aneh begini? Biasanya dia selalu egois dan memaksakan apa yang dia mau. Ini tumben sekali dia tidak mau merebut kembali kotak bekalku. Pikir Kwangmin.

“Aish!! Nah!!” Kwangmin memukul kepala Yewon dengan sumpit dan lalu memberikan bekalnya ke Yewon.

“He!?”

“Ini untuk kamu.” Kwangmin memasukkan dengan paksa cumi goreng ke mulut Yewon dan lalu menaruh kotak bekal itu ke atas pangkuan Yewon.

“YA!!” Yewon marah dengan mulut penuh dengan makanan. Kwangmin tertawa. Yewon membalas dengan memasukkan potongan sayur ke dalam mulut Kwangmin. Kwangmin tersedak dan meminum jusnya yang ada di dekat Yewon. Mereka memakan bekalnya berdua.

“Yewon-a apa jangan-jangan Youngmin yang memberitahukanmu mengenai rahasiaku ini?” Kwangmin bertanya sambil mengambil telur goreng yang ada di kotak bekalnya menggunakan tangan kosong. Kwangmin tidak sabar menunggu Yewon selesai menggunakan sumpit. Yewon memukul tangan Kwangmin dengan sumpit.

“Kau jorok sekali. Jangan pakai tangan kosong kalau mengambil makanan. Nih!!” Yewon memberikannya sumpit. “Ani. Youngmin tidak memberitahukannya.” Sambung Yewon menjawab pertanyaan Kwangmin.

Kwangmin sibuk menyantap bekalnya. “Jadi?” lalu dia bertanya lagi.

“Kan aku sudah bilang itu rahasia. Haha~ lagipula Youngmin bukan orang seperti itu. Dia tidak mungkin membocorkan rahasia saudaranya sendiri. Hehe~” Yewon menjawab lagi. Kali ini dengan senyuman aneh yang seperti dia sangat mengetahui bagaimana Youngmin sebenarnya.

Kwangmin menghentikan makannya dan meletakkan sumpit. Dia bangun dari duduknya.

“He!? Mau kemana? Ini belum habis!” Yewon menatap Kwangmin heran.

“Kau habiskan saja sendiri.” Kwangmin tiba-tiba pergi tergesa-gesa. Dia seperti merasa sesak mendengar jawaban Yewon.

Dia pergi menuju toilet, dia seperti hanya ingin menyiram kepalanya dengan air. Kwangmin merasa aneh sekali. Di toilet, dia berhenti di depan kloset dan memandang ke cermin. Tidak ada orang di toilet. Kenapa harus Yewon!? Kenapa harus dia yang memuji Youngmin di depanku!? Tiba-tiba pertanyaan itu muncul di kepala Kwangmin. Dia semakin sesak.

Dia menyalakan air dari kran di kloset dan membasuh muka serta kepalanya sedikit. Lalu mengeringkannya dengan tisu yang tergantung di dinding dekat cermin.

Bel kelas tambahan berbunyi. Dia masuk ke kelas.

Apa aku salah bicara? Tapi..apanya yang salah!! Yewon mulai tidak tenang dengan Kwangmin yang tiba-tiba pergi. Dia melamun sepanjang kelas tambahan. Memutar-mutar pensilnya. Lalu mencoret-coret bukunya pelan. Youngmin melihat Yewon, menulis sesuatu di kertas kecil dan mendorong sedikit meja Yewon. Yewon melihat ke arah Youngmin. Lalu Youngmin memberikan kertas tadi ke Yewon.

‘Kau terlihat seperti monyet kelaparan kalau melamun seperti itu’ Yewon membacanya sambil menahan tawa agar tidak dilihat oleh guru.

‘Kalau aku monyet lalu kamu apa?’ Yewon membalas tulisan Youngmin. Sedikit hiburanlah daripada memikirkan Kwangmin gila itu. Pikir Yewon

‘Aku tetap aku si Prince Charisma yang mempunyai senyum malaikat.’ Youngmin menulisnya dengan percaya diri sekali.

“Buahahahahaha” tawa Yewon meledak membaca tulisan Youngmin. Youngmin seperti biasa yang selalu percaya diri. Pantas banyak sekali yeoja yang menyukainya.

Mendadak kelas hening mendengar tawaan Yewon. Yewon yang menyadarinya langsung terdiam dan melihat sekeliling kelas.

“Maaf.” Yewon sangat malu. Dia menunduk. Kemudian untung saja bel berbunyi. Ini berarti sudah saatnya pulang.

“Pabo!! Apa yang kamu tertawakan dari tulisanku?” Youngmin menghampiri Yewon yang seperti tidak berdaya.

“Ha~” Yewon membalas dengan berdesah.

“Ayo pulang. Mumpung belum terlalu sore.” Youngmin mengajak Yewon pulang. Menarik tangannya pelan.

“Aku ingin melanjutkan sulamanku. Kau pulang saja duluan.” Yewon menjawab dengan tidak bersemangat.

“Tidak sakit kan?” Youngmin lalu memegang kening Yewon. Mana tahu dia sedikit demam.

“Ani.” Yewon menjawab seadanya.

“Baiklah. Kalau sudah sampai rumah nanti jangan lupa menelponku.” Youngmin lalu mengambil tasnya dan pulang.

Yewon mengambil peralatan menyulamnya. SEMANGAT YEWON !! Dia menyemangati dirinya sendiri.

Dia mulai menyulam handuk putihnya. Kejadian tadi siang tiba-tiba melintas dipikiran Yewon. Kwangmin pergi begitu saja. NAH!! Mungkin dia tiba-tiba sakit perut dan ingin membuang gas !? Pikir Yewon tentang Kwangmin.

“Ani-ani-ani. Tidak mungkin sampai pergi turun ke bawah.” Yewon menjelaskan ke dirinya sendiri.

Banyak pertanyaan serta pernyataan yang muncul dipikiran Yewon. Tanpa sadar dia menusuk jarinya dengan jarum. Darah keluar dan mengenai handuk putih.

“OMO!! Handuknya!! Aduh!!” Yewon membersihkan darahnya tapi darah itu masih menempel di handuk dan di atas sulamannya. Yewon mulai merasa kesakitan dengan jarinya yang tertusuk jarum. Dia memeriksa tasnya mencari obat atau perban untuk menahan darahnya terus keluar. Ternyata barang yang dia cari tidak ada.

Yewon memberanikan diri menuju UKS. Sekolah sudah sangat sepi karena kelas memang sudah berakhir dari tadi. Dia melihat jam tangannya. 18:25 KST. Sudah petang ternyata.

Yewon mulai mencari perban dan obat merah di ruang UKS. Membersihkan lukanya dan membalut dengan perban. Lalu duduk sejenak karena entah kenapa hari ini dia merasa sangat lelah.

*BRAK!!* Suara pintu dibanting.

Yewon terkejut melihat pintu tiba-tiba terbuka. Terlihat seorang namja sedang membopong seorang namja lain yang lutut kakinya penuh luka. Mereka mengenakan baju basket.

“KWANGMIN!?” Teman Kwangmin membawa Kwangmin duduk di atas ranjang. Yewon mendekati mereka.

“Dimana guru UKSnya? Dia terjatuh lumayan parah ketika sedang latihan.” Jelas teman Kwangmin. Kwangmin hanya diam dan menunduk.

“Tidak ada siapa-siapa tadi ketika aku kemari.” Yewon menjawab “Biar aku yang mengobatinya. Kamu lanjut saja latihan.” Yewon melihat ke arah Kwangmin dengan khawatir.

“Baiklah kalau begitu. Kwangmin kau bisa langsung pulang jika sudah diobati. Barang-barangmu akan aku bereskan dan aku tarok di lapangan.” Ucap teman Kwangmin dan dia langsung pergi.

Yewon sibuk mencari peralatan untuk membersihkan luka Kwangmin. Dia menampung air, mengambil handuk, dan beberapa lainnya.

Kwangmin hanya diam melihat Yewon yang berlalu lalang dan lalu berlutut membersihkan lukanya. Kwangmin merasa sedikit canggung karena tadi dia tiba-tiba pergi meninggalkan Yewon. Yewon pun begitu, dia ingin sekali bertanya ke Kwangmin tentang kejadian tadi siang, tapi rasanya ini bukan waktu yang tepat.

Yewon membersihkan luka di lutut Kwangmin. Kwangmin sesekali meringis karena sakit.

“Manja sekali.” Yewon ngedumel karena mendengar Kwangmin meringis. Kwangmin mendengarnya tapi dia hanya diam.

“Hei..” Kwangmin membuka percakapan. Dia ingin meminta maaf dan menanyakan kejelasan mengenai hubungan Yewon dan Youngmin. Yewon memelankan basuhan handuk ke lutut Kwangmin karena dia ingin mendengar jelas apa yang ingin dikatakan oleh Kwangmin.

“Apa kau menyimpan kotak bekalku dengan aman?” Kwangmin menanyakan hal yang tidak penting. Permintaan maaf tidak jadi keluar dari mulutnya. Dia terlalu gugup. Tapi kenapa aku harus gugup. Tanya Kwangmin dipikirannya.

Yewon tidak habis pikir mendengar pertanyaan Kwangmin. Di saat begini dia masih memikirkan kotak bekal. Kekanak-kanakkan sekali. Yewon sangat kesal dan menekan luka Kwangmin dengan sangat kencang.

“AWW!! Apa yang kau lakukan!?” Kwangmin menarik kakinya.

“Aku sedang membersihkan lukamu.” Yewon berkata dengan geram dan menarik kaki Kwangmin. Dia mengambil obat merah dan menaruhnya di lutut Kwangmin. Mereka diam kembali.

“Emm..” Kwangmin memulai percakapan lagi. Yewon tidak memperdulikan. Sekarang aku harus meminta maaf. Pikir Kwangmin. Seketika lalu dia melihat jari Yewon yang diperban. “Jarimu.. kenapa?” tanya Kwangmin. “Kau mencoba membunuh diri?”

Pertanyaan macam apa itu. Bunuh diri? Kenapa aku harus membunuh diri!? Pikir Yewon.

Yewon berdiri setelah selesai membersihkan dan mengobati luka Kwangmin.

“Ternyata selain kekanak-kanakkan, kau juga bodoh sekali.” Yewon berkata sambil membuang sampah dan menaruh barang-barang ke tempatnya semula. “Untuk apa aku bunuh diri!? Dan juga, apa tertusuk jarum di jari bisa mengakibatkan bunuh diri!? Kau bodoh sekali Kwangmin. Ha~ Ternyata Youngmin lebih pintar dibandingkan kamu.” Yewon lalu melihat ke arah Kwangmin setelah menaruh barang-barang.

Kwangmin menunduk diam dan tangannya mengepal menahan amarah. Dia marah sekali mendengar kata-kata itu. Kenapa harus Yewon yang membanding-bandingkan dia dengan Kwangmin. Siapa saja boleh membandingkanku dengan Youngmin tapi tolong jangan Yewon. Kata-kata itu muncul dipikiran Kwangmin.

Yewon melihat Kwangmin aneh. Dia mendekati Kwangmin.

“Gwenchana? Apa lukamu masih sakit?” Yewon khawatir dengan keadaan Kwangmin. Dia berlutut di depan Kwangmin lagi dan memeriksa luka di lutut Kwangmin.

“Apa dipikiranmu saat ini hanya Youngmin?” Kwangmin mengangkat lembut kepala Yewon dan bertanya pelan. Mereka saling memandang. Yewon terdiam dan tidak mengerti dengan pertanyaan Kwangmin. “Apa kalian berpacaran?” Kwangmin bertanya lagi dan menunggu jawaban Yewon.

-TBC-

This entry was posted by kepangmusic.

9 thoughts on “[FANFICT] Y – Chapter 01

  1. ceritanya seru banget thor…😀

    itu jangan” kwang ama yewon saling suka o.o

    lanjut yah~ penasaran ama kelanjutannya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: