[FANFICT/FREELANCE] Melody of Silence – Chapter 01

Title 
: Melody of Silence – Chapter 01
Author : Dhianie
Genre         : Horror, Mysteri, Romance dan Sad Romance
Rating          : PG+13
Type   : Chaptered
Main Casts      
: ~ Lee Jeongmin
~ Park Yoonjae (OC)

~ Shim Hyunseong
Other Casts
: ~ Choi Hyerin (OC)
~
No Minwoo

Disclaimer : FF ini 100% imajinasi saya ^^. Don’t COPAS.

A/N : Annyeong chingudeul~ ^^. Saya bawa lagi FF nih. Semoga suka yah ^^. FF ini saya post juga di blog pribadi saya~ http://dhianie94.wordpress.com . Dan saya share juga di note fb. (Jadi kalau ada yang udah merasa pernah baca…mungkin baca di note fb saya or d. Blog saya. Hehe..). yaudah deh dari pada banyak omong mending capcus yuk baca… hehe😀

—ooo( HAPPY READING )ooo—

 Sebuah keringat terus saja mengalir dipelipisnya. Wajahnya merah padam menyembunyikan sebuah emosi yang siap meledak. Seorang yeoja dengan setia berada dibelakang punggungnya. Menarik dengan gusar lengan baju namja dihadapannya. Masih dalam suasana yang sengit—rintik hujan satu persatu turun membasahi bumi. Perlahan membesar dan mengguyur tanpa ampun.

“KAU BENAR-BENAR BODOH… KAU BEGITU SAJA MENGORBANKAN PERSAHABATAN KITA HANYA UNTUK YEOJA ITU…” Teriak seorang namja yang berada hanya beberapa meter saja dihadapan sepasang insan yang tengah ketakutan itu.

“Kenapa pikiranmu dangkal sekali, huh? Siapa yang memulai semuanya? Bukankah kau yang diam-diam menyukai yeojaku—“

TSKKKKKKK…

“Awasss…” Yeoja itu begitu saja berhambur memeluk namja didepannya. Sebelum sebuah pisau melesat. Berniat untuk melindungi namja yang amat ia cintai—mengorbankan hidupnya itu. Padahal ucapan namja yang ada di hadapannya itu belum selesai sampai tubuh mungilnya itu memberi sebuah perlindungan. Melindungi tubuh itu dari sebuah tusukan yang memang sebelumnya telah diancang-ancangkan oleh sahabatnya sendiri.

“Chagi…” Ucap namja itu lemas memanggil yeojanya. Ia rengkuh tubuh mungil itu sebelum sepenuhnya merosot. Sontak tangannya itu menyentuh sebuah pisau yang masih bersarang di tubuh yeojanya. Perlahan tapi pasti ia tarik tangannya itu kehadapannya. Dilihatnya sebuah cairan berwarna merah yang biasa disebut darah. Seketika sebuah bau anyir menguar masuk ke indra penciumannya.

“K—ka—kau!!” Masih dalam posisinya namja itu menatap namja dihadapannya dengan tatapan membunuhnya. Atau bisa lebih diartikan tatapan tak terima. Mengapa—kau—melakukannya.

Yang ditatapnya hanya tersenyum sinis. Senyum yang tak dilandasi kewarasan. Yah, mungkin salah satu saraf otaknya telah terputus hingga ia bisa berbuat hal segila itu.

-ooo00 STORY BEGINS 00ooo-

-Yoonjae POV-

Aku terus saja mengikuti namja di depanku. Seperti tengah membuntutinya tapi tidak—karena dengan kehendaknya aku ada di belakang namja ini. Aish… sungguh menyebalkan. Demi apapun aku lelah jika terus begini. Dalam dua tahun belakangan ini aku sudah tiga kali pindah sekolah. Pertama aku dan keluargaku pindah ke Paris—karena appa memulai bisnisnya disana. Kurang lebih satu tahun kami disana dan setelah itu appa malah memutuskan untuk pindah lagi ke Korea. Awalnya saat kembali pindah ke Korea aku tinggal di Seoul. Tapi itu saat awal kembali ke Korea. Sekarang aku harus kembali pindah. Aku kembali pindah ke busan—karena bisnis appa yang di Seoul sedang menurun.

Sekarang di tempat ini. Di belakang namja ini. Aku mengikutinya menuju ruang kepala sekolah. Yah, aku sedang berada di sekolah baruku. Rasanya lelah sekali harus berpindah-pindah sekolah terus. Aku ingin seperti anak yang lain. Menghabiskan waktu sekolah hingga kelulusan. Ah… sepertinya bagiku mustahil saja.

“Siapa namamu?” Namja itu tiba-tiba berbalik ke belakang. Aku sedikit tersentak. Memang sedari tadi kami berjalan bersama aku belum berkenalan dengannya. Menyebalkan sekali… pindah ke sekolah baru tanpa diantar oleh orang tua. Untung saja aku bertemu dengan namja ini dan namja ini berbaik hati mau mengantarkanku menuju ruang kepala sekolah.

“Park Yoonjae imnida…” Aku mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengannya.

“Shim Hyunseong imnida… bangapta.” Ia balas uluran tanganku dengan hangat. Tercetak sebuah senyuman di bibir merahnya. Kyaaa… namja yang tampan. Aish… berpikir apa aku ini. Aku barus saja berkenalan dengannya. Tapi tak masalahkan jika aku memujinya tampan. Kekeke…

“Ne… emmm… apa ruangan kepala sekolahnya sudah dekat?” Tanyaku.

“Hu’um~ ini ruangan kepala sekolahnya…” Namja bernama Hyunseong itu menudingkan telunjuknyake arah sebuah pintu. Aku menoleh dan mendongak. Benar ini sudah sampai.

“Ah aku sedari tadi melamun sampai tak memerhatikan. Gomawo… kau sudah mau mengantarkanku.” Aku sedikit membungkukan badanku tanda berterimakasih padanya.

“Cheonmaneyo… aku harus segera ke kelasku. Ppyong…” Hyunseong menepuk pundakku dan berlalu meninggalkanku sendirian di depan ruang kepala sekolah.

Aigoo… aku harus segera masuk ke dalam. Sendiri? Aish…

—o—

Akhirnya dengan sedikit keberanian yang kupunya—aku menemui kepala sekolah. Setelah semuanya beres aku diantar kepala sekolah menuju kelasku. Kelas 11-5. Kelasnya berada di paling ujung dan berada di lantai dua. Lalu akupun diantar masuk. Sebelum aku duduk ada perkenalan diriku pada teman-teman baruku. Aku senang sekali—sepertinya mereka merespon kedatanganku dengan baik.

“Kau bisa duduk disana!!” Songsaengim menudingkan telunjuknya ke arah bangku ke empat yang berada di barisan pojok. Disitu ada seorang namja yang duduk sendirian. Aku mengangguk saja mengiyakan dan langsung menghampiri bangku itu.

“Annyeong haseyo…” Sapaku—yang sontak membuat namja itu menoleh ke arahku. Seulas senyuman terukir di bibir namja itu. Aish… kenapa sepertinya di sekolah ini banyak sekali namja yang sangat tampan. Demi apapun namja ini sangat, sangat, sangat tampan.

“Nado annyeong…” Balasnya. “No Minwoo imnida…” Namja ini langsung saja memperkenalkan dirinya padaku. Ah aku sangat senang. Jadi tidak ada kecanggungan diantara kami.

“Park Yoonjae imnida…” Kubalas uluran tangannya. Aku ukir juga sebuah senyuman padanya.

-o00o-

Hari ini belum banyak teman yang kukenal. Bahkan belum ada yang bisa ku ajak istirahat bersama. Kali pertama istirahatku di sekolah ini—terpaksa aku harus sendirian. Disaat orang-orang bersama dengan teman-temannya—aku malah sendirian duduk di kantin sekolah ini sembari memakan ramen yang tadi ku pesan.

“Annyeong…” Tiba-tiba saja sebuah tangan menepuk pundakku—menghentikan aktifitasku untuk memasukan ramen yang kesekian ke mulutku. Aku mendongak seraya menyeka sisa-sisa makanan yang ada di bibirku. Memang tidak ada sisa makanan—hanya khawatir saja jika ada yang tersisa di sudut bibirku.

“Nado…” Balasku. Pada Minwoo. Yah, orang itu Minwoo. No Minwoo teman sebangkuku.

“Boleh aku ikut bergabung denganmu?” Tanyanya.

“Tentu saja!!” Aku sedikit menggeser bokongku untuk memberikan tempat agar ia bisa duduk di sampingku.

“Bagaimana menurutmu? Lebih asik di Busan apa di Seoul?” Tanyanya tiba-tiba sembari mengaduk-aduk ramennya. Aku menoleh untuk menjawab pertanyaannya.

“Molla… aku baru seminggu disini. Jadi belum bisa merasakannya.” Jawabku seadanya.

“Semoga kau betah bersekolah disini. “ Sesaat Minwoo menatapku begitu lekat. Kenapa kali ini raut wajahnya begitu serius. Seperti ada sesuatu. Tapi kan ia hanya mengatakan ‘Semoga kau betah bersekolah di sekolah disini.’ Ah sudahlah mungkin tatapannya itu tak ada maksud apa-apa.

-Yoonjae POV end-

—O—

-Author POV-

“Kajja kita ke kelas!!” Ajak Minwoo setelah mereka berdua (Red : Minwoo & Yoonjae) menghabiskan makanan mereka masing-masing. Tanpa ragu Yoonjae mengikuti Minwoo menuju kelas.

Sepanjang perjalanan keduanya hanya terdiam. Tak ada satu orangpun yang bersuara. Yoonjae sibuk membenarkan dasi pitanya yang melingkar di lehernya. Sedangkan Minwoo sibuk membenarkan letak poninya. Langkah Yoonjae tiba-tiba terhenti—sesuatu didalam perutnya tiba-tiba saja memaksa untuk keluar. Minwoo yang sudah berjalan cukup jauh merasakan tak ada orang yang mengikutinya di belakang—Yah, dia merasa Yoonjae tak ada dibelakannya lagi.

Minwoo menghentikan langkahnya sembari berbalik mencari sosok Yoonjae. Terlihat Yoonjae tengah membekap mulutnya sendiri.

“Yoonjae-ya… kau kenapa?” Tanya Minwoo cemas seraya menghampirir Yoonjae. Yoonjae hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dengan sekuat tenaga agar sesuatu yang dalam perutnya tak keluar, ia bertanya pada Minwoo “Minwoo-ya… dimana toiletnya?”

“Dari sini kau lurus saja. Nanti belok kanan. Toiletnya ada disebelah ruang seni.” Jelas Minwoo. Tanpa menunggu lebih lama Yoonjae membungkuk berterima kasih—rasanya sudah tak sanggup lagi untuk ia berbicara.

Yoonjae berlari kecil menuju toilet. Akhirnya toilet itu ketemu juga—sesuai intruksi dari Minwoo. Dibukanya pintu toilet itu dengan perlahan.

“Hoek… hoek… hoek…” Suara muntahannya terdengar ke seluruh penjuru toilet. Sepi… hanya seorang diri Yoonjae disana. Tak ada murid lain yang berada di tempat itu. Ia bercermin sebentar… terlihat bayangan wajahnya yang sangat pucat. Diputarnya keran dihadapannya itu kemudian. Mencoba membasuh bibirnya untuk membersihkan sisa-sisa muntahannya yang masih menempel disana.

Yoonjae kembali mendongak. Matanya membulat sempurna saat ia melihat seorang siswi berada di belakangnya. Menatapnya dengan nanar. Ah bahkan lebih dari itu. Sebuah tatapan kesedihan—seperti sebuah kesedihan yang mendalam.

Pucat… seorang gadis yang sangat pucat pasi—tapi memiliki rambut yang begitu indah. Rambut hitam legam yang terurai. Rambut itu lumayan panjang—melebihi rambut panjang Yoonjae yang tergerai. Yoonjae hanya bisa memberikan sebuah senyuman. Tak ada balasan dari yeoja itu. Beberapa saat kemudian yeoja itu membuka satu pintu kamar mandi dan masuk ke dalamnya.

“Hiks… hiks… hiks…” Tak perlu menunggu waktu lama sebuah suara isak tangisan terdengar keluar dari dalam pintu yang yeoja tadi itu masuk. Yoonjae mengernyitkan keningnya lantas berbalik.

Kebingungan langsung saja menyelimuti dirinya. Bagaiman tidak… pintu yang tadi tertutup rapat saat ia pandangi dari balik cermin—ternyata terbuka sempurna saat ia telah berbalik. Kosong… tak ada seorang pun disana. KECUALI DIRINYA.

Kedua lututnya bergetar sempurna. Ia gapai tambok-tembok dengan sekuat tenaganya. Tangisan itu masih ada—tanpa menampakan sosok seseorang.

“Kau siapa?” Yoonjae berteriak seraya melempar gulungan tisu yang berhasil diraihnya. Seketika suara tangisan itu hilang seiring sebuah kembusan angin yang cukup kencang berhembus. Aneh… angin itu seperti memutar di dekat tubuh Yoonjae. Padahal ia sedang berada di dalam kamar mandi. Mengapa bisa angin begitu saja berhembus dengan kencang. Jendelanya saja tertutup. Pikir Yoonjae. Dengan segera ia meninggalkan tempat itu dengan sedikit terbirit-birit.

“Hos… hos… hos…” Nafas Yoonjae terengah-engah. Ia berhenti sesaat di depan ruang seni. Yoonjae mencoba mengedarkan pandangannya. Sepi… mungkin para murid tengah belajar. Pikirnya. Ia melanjutkan lagi langkahnya menuju kelas. Yoonjae telah melewati ruang seni itu—tapi ada sebuah petikan gitar yang membuatnya menghentikan langkahnya (Lagi). Ia buka perlahan ruangan itu. Yoonjae memutar bola matanya untuk mencari sumber suara petikan gitar yang ia dengar.

Seperti ada sebuah magnet yang menarik kakinya untuk masuk ke dalam ruangan itu—tanpa sedikitpun rasa takut.

Yoonjae tersenyum, ia memegang dadanya sendiri. Sebuah petikan gitar yang sangat indah. Ditambah dengan suara nyanyian yang tak kalah indah—bahkan suara itu sangat merdu.

Lama… lama ia terhanyut dalam nyanyian itu. Ia sendiri saja tak tahu lagu apa itu. Tapi dari liriknya lagu itu sangat mendalam. Seperti sebuah kesedihan. Masih dalam kediamannya—lagu itu terhenti dan belum menyadarkan Yoonjae. Sepersekian detik akhirnya Yoonjae sadar bahwa lagu yang ia dengarkan telah selesai.

Perlahan ia hampiri seseorang yang tadi memetik gitar tersebut. Mencoba duduk disamping orang itu. Sangat tenang. Orang itu menoleh tanpa bersuara apapun pada Yoonjae. Tak ada larangan untuk Yoonjae duduk di dekatnya.

Yoonjae hanya tersenyum dengan pikiran kosong. Namja itu pun  memandangnya tanpa membalas senyuman Yoonjae.

“Mengapa disaat orang-orang berada di kelasnya kau malah berada disini?” Tanya Yoonjae memecahkan keheningan. Namja itu tak bergeming sedikitpun—ia mulai kembali memetik gitarnya. Kali ini hanya memetiknya tanpa bernyanyi seperti tadi saat Yoonjae menghampirinya.

Yoonjae bersendar pada tembok di belakangnya. Dengan asik namja itu terus saja memetik gitarnya—hingga membuat Yoonjae menatapnya penuh kekaguman.

Kedua kelopak mata Yoonjae mulai tertutup dengan perlahan. Kesadarannya mulai hilang. Kini hanya terdengar deru nafasnya yang teratur. Rupanya Yoonjae mulai tertidur. Namja disampingnya itu menoleh sesaat. Sebuah senyuman merekah tiba-tiba tercetak di bibir namja itu.

Dari balik jendela, seorang yeoja memerhatikan Yoonjae yang tengah terlelap—lalu memerhatikan juga namja yang berada di samping Yoonjae. Yeoja itu menatapnya tanpa ekspresi. Datar… air wajahnya begitu datar. Masih sama seperti tadi—hanya sebuah kesedihan yang mendalam terpancar dari matanya. Yah, yeoja itu yang tadi ditemui Yoonjae di kamar mandi.

Poni yang menutupi kening Yoonjae perlahan di usap lembut oleh namja itu. Ia usap lembut juga lekukan wajah Yoonjae dengan telunjuknya. “Neomu yeppo…” Gumamnya. Lalu dibukanya jas almamater biru tua yang sejak tadi pagi ia pakai. Perlahan namja itu menutupi tubuh atas Yoonjae dengan jas almamaternya. Setelah itu ia beranjak dan meninggalkan ruangan itu.

-o00o-

Yoonjae mulai mengerjapkan matanya—tanda kesadarannya mulai kembali. “Rupanya aku tertidur.” Gumamnya. Jas almamater yang sedari tadi menutupi tubuhnya itu merosot begitu saja seiring Yoonjae membenarkan posisinya. Ia menguap dengan lebar. Mengucek perlahan matanya—agar penglihatannya kembali jelas.

“Eh… ini jas siapa?” Tanyanya pada diri sendiri ketika baru menyadari keberadaan jas tersebut. Diraihnya jas tersebut. “Lee Jeongmin.” Ucapnya saat membaca name tag yang berada pada jas tersebut.

“Ah iya… aku baru ingat. Aku tertidur saat tadi ada namja yang bermain gitar.”

“Aigoo… ini jam berapa. Aku tertinggal pelajaran!!” Ucapnya panik seraya bangkit.

Dengan gusar Yoonjae berjalan menuju kelasnya. Ia pangku jas milik namja bernama Lee Jeongmin itu di lengan kirinya. Masih sangat sunyi keadaan sekolahnya. Sesaat Yoonjae mengeluarkan ponselnya itu dari dalam saku untuk melihat jam. Ternyata ia sudah terlambat satu jam pelajaran.

Ada sedikit rasa takut ketika kelasnya sudah di depan mata. Entah hukuman apa yang akan ia terima. Apalagi kalau mengingat ia itu murid baru. Masa murid baru sudah mendapat hukuman!! Pikirnya.

TOK… TOK… TOK

“Permisi…” Yoonjae mengetuk pelan pintu kelasnya yang tak tertutup. Songsaenim pun sontak menoleh padanya.

“Darimana saja kau?” Bentak songsaenim.

“A—“

“Sudahlah… percuma kau masuk. Sekarang kau diam saja di luar kelas. Kau ku hukum sampai pulang sekolah.”

Mendengar pernyataan dari songsaenim itu Yoonjae hanya bisa menurut dan kembali keluar kelas. Dengan sangat terpaksa ia mengangkat lengannya ke atas—menjalani hukuman yang diberikan.

—O—

Hukuman itu cukup membuatn Yoonjae letih. Ia sedikit merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Ketika tengah asih merenggang-renggangkan ototnya—sebuah bell berbunyi dengan nyaring. Tak bisa dipungkiri hal itu mebuatnya senang. Berati hukumannya telah berakhir. Tak lama setelah bell, songsaenim yang memberinya hukumanpun keluar dan memberi isyarat padanya kalau hukumannya telah selesai.

Yoonjae berjalan sendiri keluar dari sekolanya. Ditengah jalan ia menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan seseorang yang telah menolongnya tadi pagi—yah, orang itu Hyunseong.

“Annyeong…” Sapa Hyunseong ramah.

“Nado annyeong.” Balas Yoonjae.

‘Apa Hyunseong mengenal namja yang mempunyai jas ini. Ah tapi biar kucari tahu sendiri saja.’ Batin Yoonjae. Jas milik Jeongmin itu masih di gendong dilengannya seperti saat tadi sebelum menjalani hukuman.

“Kau yeoja yang tadi pagi kan?”

“Ne…”

“Ummm… kalau tidak salah namamu Yoonjae?”

“Ne kau benar.”

“Kau masuk kelas berapa?”

“Aku kelas 11-5. Kalau kau?”

“Aku anak 12-1…”

“Ah jadi kau sunbaenim-ku… mianhae aku sudah tak sopan padamu.” Yoonjae sedikit membungkuk. Ia merasa tak enak hati sudah tak bersikap formal pada Hyunseong.

“Ya, santai saja. Aku lebih suka kalau kita ini tak usah bersikap formal. Jadi kesannya itu terlalu canggung kalau seperti itu. Apa kau mau pulang? Bagaimana kalau kita pulang bersama?” Tawar Hyunseong.

“Boleh saja kalau tak merepotkanmu.”

“Tentu saja tidak. Kajja…” Dengan sok akrabnya Hyunseong merangkul Yoonjae. Sebenarnya sikap Hyunseong yang seperti itu sedikit membuat Yoonjae sedikit risih.

Hyunseong membukakan pintu mobilnya untuk Yoonjae. Dari jauh sepasang mata menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian. Ah tapi mungkin tatapan itu hanya di berikan untuk Hyunseong—karena disini Yoonjae tak mengetahui apapun.

Beberapa saat kemudian mobil Hyunseong melesat meninggalkan pelataran sekolah. Masih dengan manis namja itu berdiri ditempatnya—menatap mobil Hyunseong yang mulai menjauh. Tangannya terlihat mengepal—menunjukan sekali kalau ia geram melihat Hyunseong.

“Jadi sekarang kau dekat dengan yeoja itu. Tunggulah beberapa saat. Aku akan segera kembali. Kembali seperti waktu itu. kembali dengan luka lama.” Gumamnya. Kilatan kebencian kini terpancar jelas dari balik matanya.

Dari kejauhan. Yeoja itu muncul lagi. Menatap Jeongmin—yah, nama namja itu Jeongmin. Dengan tatapan sendunya. Kristal bening itu begitu saja menyeruak dari pelupuk matanya. Melewati pipi putihnya yang pucat hingga bermuara di dagunya. Yang di tatapnya itu mulai berjalan meninggalkan tempat itu. Tak lama yeoja itu pun menghilang. Kini hanya ada daun kering yang berterbangan seiring hembusan angin—di tempat yeoja itu tadi berdiri.

-o00o-

Next day…

Dengan manis Yoonjae duduk dibangkunya. Minwoo belum terlihat disana. Keadaan kelaspun masih sangat sepi—belum banyak murid yang datang. Suara rel sleting terdengar lumayang keras di tengah kesunyian. Yoonjae mengambil jas almamater yang kemarin itu dari dalam tasnya. Ia hirup perlahan aroma yang berada dalam jas itu. “Wangi yang menenangkan…” Gumamnya.

“Hei… kau sedang apa?”

Yoonjae sedikit terkesiap. Pertanyaan Minwoo yang tiba-tiba cukup membuatnya terkejut.

“Ya! kau ini mengagetkanku saja. Bagaimana kalau aku kena serangan jantung, eoh?” Tanyanya sinis pada Minwoo.

“Aish… kau ini sangat berlebihan. Hei… itu jas siapa, huh?” Minwoo duduk lalu mengambil paksa jas almamater yang di pegang Yoonjae.

“Ish… ini bukan urusanmu!!” Pekik Yoonjae seraya menarik kembali jas yang sebelumnya di rebut Minwoo.

“Kau pelit sekali. Aku kan hanya ingin tahu. Ish…” Minwoo mengerucutkan bibirnya lucu—yang membuat Yoonjae sedikit terkekeh.

“Baiklah akan aku beritahu. Tapi kau jangan menangis ne. Disini tidak ada balon kotak. Puk… puk… puk…” Goda Yoonjae seraya menepuk-nepuk pundak Minwoo. Minwoo menggeser duduknya dan cemberut pada Yoonjae. “Aku ini bukan anak kecil. Jadi berhentilah seperti itu.” Kata Minwoo sebal. Yoonjae kembali terkekeh sebelum akhhirnya bercerita pada Minwoo.

“Minwoo-ya… ada hal aneh di toilet yang kau tunjukan.” Yoonjae mulai bercerita pada Minwoo—namja itu kembali bergeser agar bisa lebih dekat dan mendengar lebih jelas cerita Yoonjae.

“Hal aneh apa?” Minwoo sedikit gugup dengan pertanyaan yang ia tanyakan. Padahal ada sesuatu yang ia ketahui.

“Apa kamar mandi itu angker?” Selidik Yoonjae. Kali ini Yoonjae sedikit berbisik agar tak ada orang yang mendengarnya.

“Aish… hari begini kau masih percaya dengan hal seperti itu.” Tukas Minwoo.

“Hei… kau ini lebih dulu masuk sekolah ini. Pasti kau lebih tahu dariku. Kalau kau tidak mau memberitahuku—aku akan mencaritahunya. Ah iya… ada sunbaenim yang kukenal. Aku bisa saja bertanya padanya.”

“Nugu? Siapa sunbaenim yang ingin kau tanyai itu? Hei… kau ini murid baru. Jangan sembarangan bertindak!!” Tegas Minwoo dengan nada yang sangat serius.

“Mianhae…” Mendengar penegasan Minwoo—Yoonjae lantas menunduk.

“Ah gwaenchana. Kemarilah… akan ku bisikan kau sesuatu.” Minwoo memeberi isyarat agar Yoonjae mendekat padanya. Yeoja itu segera saja mendekatkan tubuhnya—lebih tepatnya mendekatkan telinganya pada Minwoo.

“Berhati-hatilah kau. Jangan berbuat yang tidak-tidak. Ah… aku bingung harus berbicara apa. Terlebih lagi jangan dekat-dekat dengan—“ Minwoo menggantungkan ucapannya. Ia sedikit menjauh dari Yoonjae.

“Kau curang!! Banyak sekali yang ingin kau tahu. Tapi kau tak memberitahuku itu jas siapa!!” Minwoo mengalihkan pembicaraannya. Ia kembali membahas jas yang tadi di rebutnya dari Yoonjae.

“Ya!! kau ini tak sabaran. Bukankah tadi aku sudah mau bercerita. Dengarkan dulu. Eh tapi kau tadi menggantungkan ucapanmu. Cepat beritahu aku. Jangan dekat-dekat dengan siapa?” Tanya Yoonjae tak sabaran.

“Jangan dekat-dekat dengan—“

TETTTTTT….

Belum sempat Minwoo berbicara. Bell tanda masuk begitu saja berbunyi. Tak lama Songsaenim yang akan mengajar pelajaran fisika pun masuk.

TBC…

Gimana ceritanya? Gaje yah ._. ini modal nekat banget buat FF genre begini -_-“

‘Gomawo’ yang udah nyempetin waktunya buat baca FF-ku… dan jeongmal gomawo yang udah jadi good readers  :D

Komentar, kritik, dan sarannya yah agar bisa memperbaiki part selanjutnya ^^

This entry was posted by kepangmusic.

7 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Melody of Silence – Chapter 01

  1. Thor.. Aku ini slh satu org yg agak takut baca ff genre horor, tapi kamu bikin aku bisa baca thor~~ xD
    Hmm.. Bnr nggk ya perkiraanku..
    Jeongminkah pembunuhnya? T.T jeongminnie~~ kok jdi pembunuh sih xD (tpi jujur agak seneng dpt ff genre gini main castnya Jeongmin kkk~ jarang soalnya -_-)

    Pokoknya mesti lanjut thor ‘-‘)/
    Klo bisa bikin lbh sadis ya Jeongminnya *kicked*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: