[FANFICT] Y – Chapter 02 (END)

whiteday1

Title 
: Y – Chapter 02 (END)
Author : Diah~
Genre         : Family, friendship, dan Romance
Rating          : G
Type   : Chaptered
Main Casts      
: ~ Kwangmin                ~ Youngmin 

  ~ Yewon (OC)

Review Chapter 1

“Apa di pikiranmu saat ini hanya ada Youngmin?” Kwangmin mengangkat lembut kepala Yewon dan bertanya pelan. Mereka saling memandang. Yewon terdiam dan tidak mengerti dengan pertanyaan Kwangmin. “Apa kalian berpacaran?” Kwangmin bertanya lagi dan menunggu jawaban Yewon.

-Chapter 2 (END)-

OST Boyfriend – Jum Jum Jum

Handphone Yewon bergetar di kantong roknya. Yewon langsung mengambil handphonenya dan melihat tulisan nama ‘Youngmin’ muncul di layar. Kwangmin melihat juga. Mereka berdua langsung berdiri. Kwangmin pergi sambil menahan sakit di kakinya. Dia berjalan dengan tidak normal karena lukanya yang belum sembuh. Kwangmin tidak mendengar Yewon menjawab telpon dari Youngmin. Mungkin mereka mengobrol dengan suara dengan pelan. Kwangmin melanjutkan jalannya menuju lapangan. Di luar sudah hampir gelap. Dia mengambil tasnya dan melihat jam di layar handphone 18:48 KST. Dia hanya menutupi badannya dengan jaket yang dibawa.

“Kwangmin-a!!” Yewon berteriak dari belakang. Dia berlari  ke arah Kwangmin. Kwangmin melihat dan tidak peduli.

“Jamkkaman. Hah-hah-hah” Yewon berdiri di depan Kwangmin sambil mengatur napas. “Mana bisa kau pulang sendiri dengan kaki seperti ini. Sini kubantu.” Yewon menarik tas yang sedang dipakai oleh Kwangmin. Kwangmin menepis tangan Yewon.

Yewon terdiam.

“Tidak perlu. Di tanganmu sudah ada barang bawaan, kenapa harus membawa tasku lagi.“ Jawab Kwangmin dan lanjut berjalan.

Gengsi sekali namja ini. Pikir Yewon. Kali ini dia mendekati Kwangmin lagi. Menarik tangan Kwangmin dan menaruhnya di lingkaran pundaknya.

“Kalau begitu biarkan aku membantumu berjalan.” Kata Yewon. Kwangmin ingin menarik kembali tangannya tapi dipegang erat oleh Yewon. “Jangan bantah.” Yewon memelototi Kwangmin. Mereka pulang berdua. Tidak ada seorang pun yang membuka pembicaraan karena mereka berpikir lebih baik tidak perlu saling mengobrol saat ini.

Kwangmin dan Yewon sudah sampai di rumah masing-masing. Kwangmin masuk ke rumahnya dan duduk di dekat pintu. Meletakkan tas dan membuka sepatunya perlahan. Mrs. Jo melihat kaki Kwangmin diperban dan langsung menghampiri dan duduk di samping Kwangmin.

“Apa yang terjadi dengan kakimu? Gwenchana? Kamu terjatuh lagi?” Pertanyaan demi pertanyaan kekhawatiran muncul dari mulut Mrs. Jo. Tentu saja dia mengkhawatirkan anaknya.

“Tidak kenapa-kenapa. Tadi sepatuku sedikit licin, mungkin karena tapaknya dan akhirnya aku terjatuh ketika latihan.” Kwangmin menjelaskan ke Mrs.Jo dengan tenang.

Mrs. Jo mengambil sepatunya dan melihatnya. “Ini sudah tidak bisa dipakai lagi menurut Omma. Besok Omma akan berikan uang untuk kamu beli yang baru. Arraseo?!” Mrs. Jo berkata dengan tegas. Dia tidak ingin Kwangmin jatuh dan terluka lagi.

“Aku pulang.” Mr. Jo masuk ke rumah. Ternyata baru pulang dari kerjanya. Beliau melihat ke arah Kwangmin yang duduk di bawah dan melihat kakinya.

“Ah Yeobo.” Mrs. Jo bangun dari duduknya dan mengambil tas yang dipegang Mr. Jo.

“Jatuh lagi?” Mr.Jo bertanya dengan nada yang sangat datar.

“Iya. Sepatunya sudah tidak bagus lagi.” Mrs. Jo yang menjawab pertanyaan suaminya. Kwangmin hanya diam.

“Menurutku bukan sepatunya yang tidak bagus. Tapi sudah saatnya dia berhenti bermain dan belajar untuk masuk universitas.” Sambung Mr. Jo dan langsung masuk ke dalam. Kwangmin masih diam tapi di dalam hati dia ingin sekali menjawab perkataan appanya.

“Omma. Aku akan membeli sepatu baru dengan uangku sendiri. Omma tidak usah khawatir.” Kwangmin bangun dan berjalan perlahan menuju kamarnya di lantai dua.

“Kwangmin-a!” Mrs. Jo memanggil Kwangmin yang terus berjalan naik ke kamarnya.

Di lantai dua hanya ada kamar Youngmin dan Kwangmin serta satu kamar mandi. Begitu di ujung tangga sesampai di lantai dua. Kwangmin melihat kamar Youngmin terbuka sedikit pintunya.

“Yobuseo. Yewon-a!?” Kwangmin mendengar sedikit Youngmin yang sedang menelpon Yewon. Dia mendekat ke arah kamar Youngmin.

“Kenapa tadi tidak menjawab telponku?” Youngmin berbicara ke Yewon melalui telpon. Berarti Yewon tidak menjawab telpon Youngmin tadi di UKS. Pikir Kwangmin. Dia semakin mendekatkankan telinganya ke kamar Youngmin.

“UKS? Kenapa dengan jarimu? Gwenchana?” Youngmin bertanya lagi ke Yewon. Suaranya mengkhawatirkan Yewon.

“Tidak apa-apa sudahlah jangan menangis.” Menangis? Yewon menangis? Hanya karena jari terluka dia menangis? dasar cewek. Kwangmin ngedumel di dalam hatinya.

“Hari minggu ini kita jadi pergi kan?! Aku sangat deg-degan sekarang menunggu hari itu haha~” Mereka mau pergi berkencan? Kenapa Youngmin jadi begitu genit mengatakan deg-degan. Dan tawa itu, dia seperti malu-malu. Kwangmin tidak henti-hentinya ngedumel di dalam hati.

Youngmin lalu merasa seperti ada orang di dekat pintunya. Dia berjalan ke arah pintu.

“Kwangmin! Itu kamu?” tanya Youngmin.

Tertangkap sudah kalau dia menguping. “Ah. Ne! aku cuma ingin mampir ke kamarmu. Tapi sepertinya kamu sedang sibuk menelpon.” Kwangmin menjawab gugup.

“Yewon-a. Sudah dulu ya. Sampai jumpa besok.” Youngmin menutup telponnya dan melihat Kwangmin sudah berjalan masuk ke kamarnya sendiri.

“Sudah ku duga. Mereka berpacaran!!” Kwangmin masuk ke kamar membanting tas dan badannya ke atas tempat tidur. “Oke. Aku gak tahu kalo aku menyukai dia atau tidak. Yang jelas beberapa hari ini aku aneh sekali. Apalagi hari ini. KACAU !!” Kwangmin bangun dari tempat tidurnya. “Terserah kalau mereka beneran pacaran. Aku tidak peduli”

Di saat yang sama, di kamar Yewon.

Dia menghapus air matanya dengan tisu. Hah~ aku terlalu berlebihan menangisi handuk yang sudah berdarah karena kecerobohanku tadi siang. Tapi kalau aku membeli handuk baru dan menyulam ulang, bukan solusi yang tepat. Pikir Yewon.

“Semoga dia tidak apa-apa kalau aku memberikan handuk yang ada sedikit darah ini.” Yewon lalu mengambil handuk serta alat menyulamnya. Dia melanjutkan sulaman huruf ‘Y’ dan tanda heart di ujung handuk putih itu. Membungkusnya dengan kertas kado lalu merangkai beberapa kata di sebuah surat. Yewon dengan lancar menulis. Kata-kata yang sudah lama ingin sekali dia ungkapkan untuk si penerima kado ini. Besok adalah hari penentuannya. Semoga dia suka kado Valentine dariku.

Segala persiapan sudah Yewon siapkan untuk hari esok. Dia beristirahat sejenak sebelum mengerjakan PR nya. Membaringkan kepala di atas bantal. Tiba-tiba dia teringat kejadian tadi di UKS. Mendadak muka Yewon menjadi memerah karena malu. Tatapan Kwangmin begitu lembut saat itu. Flashback demi flashback muncul dipikirannya. Terutama kejadian dua hari lalu ketika dia berkunjung ke rumah Youngmin dan Kwangmin.

Saat itu Yewon ingin mengembalikan buku pelajaran milik Youngmin yang dipinjamnya. Yewon mengembalikannya cepat-cepat karena dia berpikir kalau Youngmin pasti membutuhkannya untuk mengerjakan PR. Hari itu hari minggu. Ketika Yewon datang ke rumah mereka, Yewon melihat Mrs. Jo sedang membersihkan dapur bersih.

“Annyeonghaseyo. Mrs. Jo. Youngminnya ada?” Yewon menundukkan badan dan menyapa Mrs. Jo.

“Ah~ Yewon-a. Annyeong. Kalau tidak salah Youngmin belum kembali dari mini market.” Jawab Mrs. Jo melihat kedatangan Yewon.

“Oh. Padahal aku ingin mengembalikan buku dia. Sepertinya dia membutuhkan ini untuk PR.” Kata Yewon ke Mrs. Jo.

“Begitukah? Kalau gitu kamu letakkan saja di kamarnya di lantai dua.” Mrs. Jo ucap.

Yewon merasa tidak enak untuk masuk ke kamar lelaki. Meskipun dia sudah sering main ke rumah ini tapi dia tidak pernah masuk ke kamar Youngmin apalagi Kwangmin, jadi dia tidak tahu di kamar mereka.

“Tapi Mrs….” Ketika Yewon ingin melanjutkan ucapannya. Tiba-tiba Mrs. Jo mengangkat telpon yang saat itu berbunyi. Mrs. Jo memberi tanda kepada Yewon untuk naik ke lantai dua.

Yewon naik ke lantai dua dengan tangga yang terletak tidak jauh dari dapur bersih tersebut. Sesampai di ujung tangga lantai dua. Dia bingung yang mana letak kamar Youngmin. Ada tiga pintu disana. Satu pintu lebih kecil, jadi dia yakin kalau itu pasti kamar mandi. Tersisa dua pintu yang mana satunya terbuka sedikit. Dia mulai dengan pintu yang terbuka. Yewon berjalan pelan menuju kamar yang pintunya terbuka sedikit lalu masuk perlahan.

Kamarnya rapi berwarna krim dan Pikachu? kenapa banyak sekali Pikachu di meja belajar itu dan di tempat tidur.

“Ah!” Yewon terkejut melihat ada orang di atas tempat tidur. Kwangmin. Kwangmin sedang tidur di tempat tidur tersebut. Keningnya terdapat kain dan tubuhnya ditutupi selimut. Dia sakit? Pikir Yewon.

Yewon mendekati Kwangmin lalu memegang pipinya pelan. Demam. Dia mengambil kain di atas kening Kwangmin dan membasahinya dengan air yang ada di atas meja kecil di sebelah tempat tidur kemudian meletakkannya di atas kening Kwangmin lagi. Yewon lalu berdiri dan mengambil buku yang tadi ditaruh di sebelah tempat tidur.

“Jangan pergi.” Yewon terkejut mendengar itu. Kwangmin mengigau dan menarik tangan Yewon. “Yewon-a jangan pergi.” Kali ini tangannya ditarik lagi sehingga Yewon terjatuh di atas badan Kwangmin. Yewon mengangkat kepalanya sedikit dan melihat kwangmin yang matanya masih tertutup. Apa dia bermimpi? Dia memimpikan aku? Pikir Yewon. Tangan dan badan Kwangmin hangat sekali.

Yewon terdiam dan merasa gugup. Ini tidak baik. Pikirnya. Yewon melepaskan pegangan Kwangmin, cepat-cepat bangun dan pergi dari situ. Buku yang tadi dipegangnya terjatuh di kamar Kwangmin. Kwangmin terbangun sedikit dan melihat sosok orang lari dari kamarnya. Karena terlalu pusing, akhirnya Kwangmin kembali tidur. Dia tidak tahu apa yang sudah terjadi.

Yewon buru-buru keluar dari kamar itu dan pergi.

“Yewon-a, kamu sudah taruh di kamar Youngmin?” Mrs. Jo berkata ke Yewon yang sedang buru-buru menuruni tangga.

“Ah. Sudah Mrs. Maaf. Aku pamit dulu.” Yewon menundukkan badan dan kembali pergi.

“ADUUUHHH!! Untuk apa aku mengingat kejadian itu lagi.” Yewon kembali sadar dari lamunannya. Kemudian handphonenya berdering. Dia melihat ke layar dan tulisan nama ‘Kwangmin’ muncul di layar handphonenya.

Tumben sekali dia menelponku. Apalagi di tengah malam begini. Pikir Yewon.

“Yobuseo?” Yewon menjawab telpon.

“Yobuseo. Mmm. Belum tidur?” Kata Kwangmin di seberang.

“Belum.” Jawab Yewon seadanya. Kenapa kebetulan sekali dia menelponku. Pikir Yewon.

Kwangmin diam. Dia sedang mengatur kata-kata untuk meminta maaf dan berterima kasih kepada Yewon.

“Kau masih hidup? Ada apa menelponku?” Yewon bingung karena tidak ada suara di seberang. Tidak mungkin Kwangmin tertidur.

“Ah ya. Sebenarnya aku ingin bilang…..apa kau sudah menyiapkan kado untukku? Besok hari valentine, walaupun kita teman, setidaknya aku ingin cokelat.” Ucap Kwangmin. Apa yang aku katakan. Bodoh. Pikir Kwangmin.

“Eh!? Bukannya kau sudah terkenal di kalangan para yeoja. Dan tentu saja para penggemarmu itu akan memberikan cokelat mereka.” Balas Yewon. “Apa hadiah dariku begitu kau tunggu-tunggu?” sambung Yewon.

“Tentu saja.” Kwangmin menjawab dengan sangat cepat.

Yewon terdiam mendengar jawaban itu. Dia tidak tahu harus berkata apa.

“Maksudku. Aku ingin menerima cokelat dari teman dekatku. Bukannya kau pintar memasak dan-”

“Oh cokelat dari teman dekat.” Yewon memotong perkataan Kwangmin. “Tentu saja aku pintar memasak. Sudah dulu ya. Aku ingin mengerjakan PR ku.” Yewon memutuskan telponnya.

Kwangmin terkejut karena Yewon sangat ketus dan langsung mematikan telpon. Padahal dia belum meminta maaf dan berterima kasih.

Kwangmin melemparkan handphonenya ke atas tempat tidur. “PABO!!”

Malam ini dia merasa tidak bisa tidur jadi memutuskan untuk belajar. Di ambil tasnya yang ada di dekat tempat tidur. Disitu dia melihat buku pelajaran yang jelas buku itu tidak pernah terlihat sebelumnya. Dia membuka buku tersebut dan melihat nama Youngmin di dalamnya.

Darimana buku ini datang? Aku tidak pernah meminjam buku Youngmin dan lagipula akhir-akhir ini Youngmin tidak ada masuk ke kamarku.

Esok paginya.

Kwangmin keluar dari kamarnya dan turun menuju ke meja makan. Youngmin hampir menyelesaikan sarapannya. Dan Mr. Jo sudah berangkat ke kantor.

“Apa aku terlambat hari ini?” Dia berkata kepada Youngmin dan lalu memberikan buku yang tadi malam ada di kamarnya. “Nih. Bukumu ada di kamarku.”

“Oh Kwangmin-a~ kenapa hari ini bangunmu telat!?” Mrs. Jo bertanya.

“Sepertinya aku belajar terlalu larut tadi malam.” Jawab Kwangmin.

“Buku ini bukannya dipinjam dengan Yewon!? Hari ini aku ingin memintanya kembali karena besok aku harus mengumpulkan PR.” Youngmin bingung. “Kenapa bisa ada di kamarmu?” tanya Youngmin.

“Yewon? Tapi aku tidak tahu kenapa buku itu ada di kamarku.” Kwangmin menjawab.

“Sepertinya Omma pernah melihat buku itu. Kalau tidak salah Yewon pernah mau mengembalikannya dua hari lalu. Karena Omma sedang sibuk mengangkat telpon, jadinya Omma menyuruh dia untuk meletakkannya ke kamar Youngmin.” Yang lain diam. “Tapi kenapa bisa ada di kamar Kwangmin?”

“Mungkin dia salah masuk kamar.” Jawab Youngmin. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dua hari lalu ketika dia baru pulang dari mini market, dia memang melihat Yewon keluar dari rumah mereka tapi saat itu Yewon terlihat sangat terburu-buru dan lari begitu saja.

“Salah masuk kamar?” Kwangmin bertanya ke diri sendiri. Berarti dia masuk ke kamar ku. Dan bukannya dua hari lalu itu aku sedang sakit dan tertidur? Seharusnya dia sadar kalau sudah salah masuk kamar karena pasti dia melihat ku di atas tempat tidur. Sebentar…. Saat itu kalau tidak salah aku sempat terbangun dan melihat orang lari terburu-buru keluar dari kamarku.

Kwangmin melamun.

Terus.. buku itu ada di dekat tempat tidur. Seharusnya dia meletakkan di meja kan!? Kenapa di tempat tidur? Apa sesuatu telah terjadi dan lalu dia lari begitu saja dari kamarku. Jangan-jangan dia terkejut melihat kamarku yang penuh dengan anime karakter Pikachu dan langsung lari meninggalkan tempat. Pikiran Kwangmin mulai kacau.

“Hei, cepat makannya. Kita sudah terlambat.” Perkataan Youngmin membuyarkan lamunan Kwangmin.

“Maaf. Kau pergi saja duluan. Aku masih ada beberapa barang yang harus disiapkan dulu.” Youngmin akhirnya berangkat duluan. Dia mengambil bekalnya dan mencium kening Mrs. Jo.

Setelah Youngmin sudah jelas-jelas keluar dari rumah, Kwangmin ingin menanyakan sesuatu ke Omma nya.

“Omma. Dua hari lalu ketika Yewon datang. Apa dia mengatakan sesuatu setelah keluar dari kamarku?” tanya Kwangmin penasaran.

“Ani. Dia malah buru-buru turun dan pergi begitu saja.” Jawab Mrs. Jo sambil membereskan meja makan.

“Begitukah?”

“Nih bekalmu. Ini sudah terlambat dan lebih baik kamu berangkat sekarang.” Mrs. Jo memberikan bekal Kwangmin serta minumannya. Kwangmin pun beranjak dan jalan menuju pintu untuk keluar berangkat ke sekolah.

“Ah iya. Hari ini valentine. Sesekali bawalah pulang coklat yang kamu dapat. Tidak baik menolak pemberiankan?!” Mrs. Jo berkata dan tersenyum ke arah Kwangmin.

Dia memang selalu membuang atau membagikan coklat yang didapatnya selama valentine. Karena menurut dia itu tidak penting. Lagian dia tidak terlalu menyukai makanan manis.

Sesampai sekolah ternyata coklat sudah banyak di laci dan di atas meja.

“Ha!! Ternyata ketenaran teman kita belum berkurang. Lihat! aku saja hanya mendapatkan dua coklat.” Goda teman sekelas Kwangmin.

“Dua? Bukannya pacarmu hanya satu? Eits.. udah ada penggemar baru nih!!” Jawab Kwangmin.

“Bukan penggemar. Lebih tepatnya selingkuhanku. Dia memberikanku coklat. Haha~” Temannya tertawa dan pergi.

“Dasar!”

Di atas kursinya ada sebuah kantong. Dia mengambil kantong tersebut dan mengeluarkan isinya. Kado, di atasnya bertuliskan Yewon. Dan ada surat jatuh. Dia mengambil surat tersebut dan meletakkannya di atas meja. Kwangmin membuka bungkusan kadonya dan terdapat handuk di dalamnya. Handuk ini seperti tidak asing. Pikir Kwangmin. Dia membuka handuk lebar itu dan melihat huruf ‘Y’ serta tanda heart di ujungnya. Ada sedikit darah di huruf ‘Y’ tersebut. Y? Untuk Youngmin? Apa dia salah memberikan kado?

Kwangmin marah melihat handuk itu. Dimasukkannya handuk tersebut serta surat dan semua coklat yang ada di atas meja dan laci ke dalam kantong tadi. Apa-apaan ini!!

Seketika dia langsung mengirim pesan ke Yewon ‘Setelah pulang sekolah, tunggu aku di atap sekolah.’

Yewon merasakan handphonenya bergetar. Pesan.

Kwangmin?! Apa dia sudah melihat kadoku dan membaca suratnya? Dia mengajakku ketemuan di atas atap? Pikiran Yewon sangat senang saat itu. Dia tidak sabar menunggu sekolah cepat usai.

Hari ini tidak ada kelas tambahan. Yewon cepat-cepat menuju atap dengan wajah yang sangat senang dia melihat Kwangmin sudah menunggunya di atas sambil memegang handuk pemberiannya.

“Kwangmin.” Panggil Yewon.

“Mmm.” Jawab Kwangmin seadanya. Kenapa wajah Yewon senang sekali. Tanya Kwangmin dipikirannya.

“Ah iya. Sepertinya kamu salah memberikan kado.” Kata Kwangmin sambil memberikan kembali handuk tadi ke tangan Yewon. Yewon diam saja karena tidak mengerti dengan pernyataan Kwangmin. “Itu untuk Youngmin kan? Seharusnya kau jangan ceroboh seperti itu.” Sambung Kwangmin.

“Youngmin?! Ini bukan untuk Youngmin. Ini untukmu.” Jawab Yewon. Jangan-jangan dia belum membaca suratku. “Kau tidak membaca suratnya?” tanya Yewon.

“Buat apa aku membaca surat yang bukan untukku. Di kantong tadi ada surat dan handuk. Kalau handuknya saja sudah untuk Youngmin ya berarti suratnya juga.” Jawab Kwangmin yang sedikit kesal.

Mata Yewon mulai sedikit basah.

“Kenapa kau begitu bo-”

“Bodoh?! Iya aku bodoh. Aku bodoh dibandingkan Youngmin. Dia pintar, berprestasi, dan selalu dipuji oleh Appa.” Nada suara Kwangmin mulai meninggi.

Yewon seperti tidak percaya melihat Kwangmin di depannya.

“Bukan be-” Suara Yewon bergetar karena menahan tangis.

“Apanya yang bukan!! Sudahlah tidak usah menghiburku. Aku sudah terbiasa dibanding-bandingkan. Aku hanya kecewa denganmu. Aku tidak percaya kalau kau sama saja dengan yang lain.” Kwangmin terlalu emosi.

Air mata Yewon keluar. Dia tidak pernah menangis sebelumnya di depan namja keras kepala yang dia sukai itu.

“Kalau menurutmu handuk ini untuk Youngmin, maka ambil ini dan berikan ke dia.” Yewon marah. Dia melemparkan handuknya dan pergi. DASAR NAMJA GILA! Pikir Yewon.

“Cih. Yeoja aneh. Kenapa dia jadi berbalik marah denganku.” Kwangmin mengambil handuk yang dilempar tadi dengan kesal. Aku harus memberikannya ke Youngmin. Pikir Kwangmin.

 Sesampai di rumah. Tidak ada siapa-siapa di bawah. Mrs. Jo sedang berbelanja. Kwangmin naik ke kamarnya. Lalu meletakkan barang-barangnya di kamar. Setelah itu dia menuju kamar Youngmin untuk memberikan handuk Yewon.

Dia membuka pintu kamar Youngmin dan melihatnya sedang duduk di depan meja belajarnya.

“Nih dari Yewon.” Kwangmin melempar handuk tersebut ke Youngmin yang sedang duduk.

Youngmin berbalik dan melihat Kwangmin di belakangnya.

“Dari Yewon?” Youngmin memperhatikan handuk itu. Youngmin tahu kalau sebenarnya ini handuk untuk Kwangmin karena sebelumnya Yewon pernah bercerita. Youngmin membuka dan melihat ujung handuk tersebut.

“Ternyata ini darah yang dibilang oleh Yewon!?” ucap Youngmin.

“Kenapa kau bisa tahu kalau itu berdarah?” tanya Kwangmin bingung.

“Yewon bercerita kepadaku kalau dia ingin memberikan kado untukmu berupa handuk dan sulaman.” Jelas Youngmin.

“Iya. Tapi itu untukmu kan!? Lihat saja inisialnya. ‘Y’ yang berarti Youngmin.” Sambung Kwangmin.

“Haha~ Jadi kau cemburu?” tanya Youngmin dengan tawa.

“IYA! Aku cemburu. Aku cemburu selalu melihatmu dengan Yewon. Aku cemburu mengetahui kalau kalian berpacaran. Aku cemburu. Kenapa? Apa kau rela memberikan Yewon kepadaku gitu!!” Kwangmin menjadi serius.

Youngmin terkejut mendengar jawaban Kwangmin.

“Pacaran? Nugu?” Youngmin bertanya dengan polosnya.

“Tidak usah belagak bego. Kalian berpacaran di belakangku kan!? Kenapa kalian tidak pernah bilang.” Lanjut Kwangmin.

“Hahaha!!” Kali ini tawa Youngmin lebih keras. “Kau belum membaca surat darinya?”

Kwangmin menjawab dengan gelengan kepala.

“Pabo!!” Youngmin melemparkan kembali handuk putih tadi. “Yewon menyukaimu. Dan lihat huruf yang ada disitu. Berdarah itu kan?!” Tanya Youngmin. Kwangmin melihat kembali. “Itu dia sulam kemarin sampai jarinya berdarah. Lalu dia nangis kepadaku karena dia takut kamu akan menolak handuk yang sudah berdarah itu.” Lanjut Youngmin.

“Tapi huruf itu…”

“Itu ‘Y’ untuk Yewon. Dia mau kamu memakai handuk itu sambil mengingatnya. Kau betul-betul bodoh. Jangan bilang kalau kamu sudah memarahinya!?” Tanya Youngmin lagi.

Kwangmin menjawab dengan anggukan.

“AISH!! Bacalah surat darinya dan temui dia.” Perintah Youngmin.

“Bukannya kalian berpacaran!?” tanya Kwangmin.

“Sudahlah! Tanyakan itu padanya. Temui dia sekarang dan katakan maaf. Dia sangat menyukaimu.” Kwangmin langsung pergi begitu mendengar perkataan Youngmin.

Dia mencari surat yang ada di kantong di kamarnya. Setelah mendapatkannya dia pergi menuju ke rumah Yewon.

Dia mengetuk pintu rumah Yewon dan tidak ada yang keluar.

“Yewon! Yewon-a!!” panggil Kwangmin dari luar. Dia mencoba menelponnya tapi tidak ada jawaban. Dia menelpon lagi.

“Yobuseo?” jawab orang di seberang

“Youngmin-a!” Kwangmin menelpon Youngmin. “Dia tidak ada di rumahnya. Apa dia menghubungimu dimana dia sekarang?” Kwangmin bertanya dengan khawatir. Sudah petang tapi Yewon belum juga pulang.

“Ani. Dia tidak mengirimkan pesan atau menelponku hari ini.” Jawab Youngmin. Kwangmin langsung menutup telponnya.

Kwangmin mencari Yewon. Dia mulai mencari ke sekolah. Mungkin saja dia belum pulang. Sambil masih memegang handuk dari Yewon, dia berlari ke sekolah. Yewon tidak ada dimana pun di sekolah. Begitu juga di atap.

Kwangmin mencari di luar sekolah. Berkeliling di daerah sekitar.

“KWANGMIN-AAAAAAAAAAAAA!!!! NAMJA GILA!!!!!!” Kwangmin mendengar teriakan seorang yeoja yang dia kenal.

Kwangmin mendekat ke arah suara tersebut.

“GILA! GILA!!” Itu Yewon. Dia ada di taman sedang berdiri menghadap sebuah pohon besar. Badannya bergetar. Yewon menangis.

“aaaaa hiks hiks” Yewon menangis sejadi-jadinya. Dia merasa bersalah kepada Kwangmin karena selalu mengatakannya bodoh.

“Kalau Pikachu sedang marah, maka dia akan mengeluarkan tegangan listrik yang sangat dahsyat. Ternyata kamu lebih hebat dari Pikachu.”

Yewon berbalik badan dan melihat Kwangmin seperti kelelahan setelah berlari. Yewon melihat di tangan Kwangmin memegang handuk.

“Kenapa tidak kau berikan itu ke Youngmin. Bukankah katamu itu miliknya?” tanya Yewon dengan nada ketus.

“Ternyata betul amarahmu lebih hebat dari Pikachu.” Jawab Kwangmin.

Yewon tidak memperdulikannya dan duduk di ayunan. Yewon memainkan ayunan itu sendirian. Kwangmin juga memainkan ayunan di sebelahnya.

“Bacalah.” Kwangmin menyerahkan surat ke Yewon.

Yewon berhenti mengayun. “Baca saja sendiri.” Jawab Yewon.

“Aku ingin kamu membacanya di depanku.” Kwangmin menuju ke depan Yewon yang masih duduk di ayunan. “Nih.” Kwangmin memberikan surat itu lagi.

Yewon mengambilnya dan membuka surat tersebut. Dia pun membacanya.

Happy Valentine Day.

‘Aku gak tahu gimana bagusnya menulis surat. Tolong jangan tertawa. Karena aku tahu kamu akan cekikikan tidak jelas.’ Yewon melihat ke Kwangmin yang betul ternyata dia sedang cekikikan.

‘Maaf kalau kado valentinenya bukan coklat atau seperti yang kamu harapkan. Kau tahu. Aku tidak punya banyak uang untuk itu. Dan maaf juga kalau ternyata ada darah yang menempel di handuk tersebut. Kamu bisa lihat huruf Y itu kan? Itu inisial namaku. Semoga kamu bisa terus memakainya ketika selesai berolahraga sambil mengingatkuSuara Yewon menjadi kecil di kata terakhir. Kwangmin tidak mendengarnya.

“Sambil apa?” Kwangmin bertanya. Sambil tertawa genit.

‘sambil mengingatku. Aku tidak ingin memberikan barang-barang Pikachu karena kepunyaan Pikachu mu sudah banyak sekali. Aku tidak ingin memberikan barang yang sudah pernah kamu miliki. Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang memberikan handuk dengan sulaman disana. Terima Kasih karena sudah membaca surat ini.’ Lalu Yewon berhenti.

Kwangmin melihat Yewon dengan pandangan tanya-tanya.

‘Dari seorang yeoja aneh yang selalu menyukaimu suara Yewon mengecil lagi.

“Aku menyukaimu.” Yewon menatap Kwangmin yang duduk di depannya. “Aku menyukaimu Pabo Kwangmin.”

Ada rasa senang di hati Kwangmin setelah mendengar itu.

“Aku tidak pernah bermaksud untuk membandingkan-bandingkanmu dengan Youngmin. Kau memang bodoh tapi…” “Maafkan aku.” Yewon menangis.

Kwangmin mengangkat dagu Yewon. Dan melingkarkan handuk itu di leher Yewon.

Kwangmin kembali duduk di ayunan di sebelah Yewon. “Kalian tidak berpacaran?” Yewon melihat ke arah Kwangmin. “Jadi, kamu dan Youngmin tidak berpacaran!?” tanya Kwangmin.

“Ani. Kenapa kau berpikir seperti itu?” Yewon berbalik bertanya.

“Aku melihat kalian dekat sekali dan aku dengar dia mengajakmu pergi hari minggu ini.” Jelas Kwangmin.

“Kau cemburu?” Yewon menggoda Kwangmin. Kwangmin mengalihkan pandangan karena tidak mau wajahnya yang merah terlihat oleh Yewon. “Dia memang mengajakku pergi tapi untuk mengantarnya membelikan hadiah untuk Hana.” Sambung Yewon.

“Hana? Nugu?” tanya Kwangmin.

“Hana itu cewek yang disukai oleh Youngmin. Dia junior di sekolah kita. Mmm Youngmin ingin memberikan kejutan untuk Hana.”  Lanjut Yewon lagi. Lalu mereka diam.

“Kamu pernah masuk ke kamarku kan?” tanya Kwangmin tiba-tiba.

“Eh!? I..iya.” Yewon menjawab dengan gugup.

“Lalu apa yang terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba lari dari kamarku?” tanya Kwangmin lagi.

Jadi, dia tidak mengetahui kejadian itu? Baguslah. Pikir Yewon.

“Apa yang terjadi!? Jawablah” tanya Kwangmin lagi.

“Rahasia.” Yewon menjawab sambil merangkulkan handuk yang di lehernya ke Kwangmin. Yewon memainkan ayunannya. Dia sudah merasa lega karena sudah mengungkapkan perasaannya. Kwangmin belum mengatakan kalau dia menyukai Yewon atau tidak. Yewon ingin mengetahuinya tapi Yewon berpikir mungkin Kwangmin tidak ingin mengatakannya sekarang.

“Bagaimana kalau hari minggu ini kita double date!?” tanya Kwangmin.

Double date?! Tapi kau dan aku…” Yewon bingung.

“Iya. Jadi Youngmin dengan Hana dan Aku dengan yeoja yang aku sukai, yaitu kamu.” Kwangmin menatap Yewon lembut.

Yewon mengangguk dan tersenyum.

“Aku tidak akan menjadi Pabo Kwangmin lagi. Aku akan menunjukkan ke Appa dan kamu kalau aku bisa lebih hebat dari Youngmin.” Kata Kwangmin.

“Jadilah hebat bukan karena orang lain. Tapi jadilah karena diri kamu ingin melakukannya dengan tulus dari hati kamu.” Yewon berkata dengan lembut sekali. Kwangmin menjadi bersemangat dan sangat senang hari ini.

-END-

Thanks for reading guys ^^

Please wait my next Fanfiction🙂

Diah~

This entry was posted by kepangmusic.

8 thoughts on “[FANFICT] Y – Chapter 02 (END)

  1. keren! daebak banget lah~
    yg buat aku suka sama ini ff itu ada pesan nya d akhir cerita nya.. kan jarang2 ada ff/apa lah yg ada pesan/amanah d akhir cerita!

    DAEBAK pokok nya~

  2. Koq gue jadi ngkak2 gaje waktu ngbca neh ff?
    Apa gue udah stress or gila or gk waras gitu?

    *kebnyakan ngmong

    Thor! Ffnya kren…
    Tpi aneh, aq wktu ngbca MENGAPA AKU SELALU DI BANDINGKAN DENGAN YOUNGMIN?
    Sumpah, hati qhu kya ikut kesayat (?)
    Mungkin aq trlalu menghayati kale ya?
    *plaak

    Yaudah deh,yg pnting ffnya,keren,daebak, tpi sdkit MENYAKITKAN HATI (?) Untukku😄
    *apadeh -,-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: