[FANFICT/FREELANCE] Only You – Chapter 01

Title 
: Only You – Chapter 01
Author : Kim Sung Rin (@megaoktavias)
Genre         : Romance
Rating          : PG 15
Type   : Chaptered
Main Casts      
: ~ Shim Hyunseong  ~ Kang Hye Mi (OC)
Other Casts
: ~ Member Boyfriend Lainnya
  ~ Shim Mina (OC)

Disclaimer: terinspirasi dari lagu Hyunseong yang Only You. Jalan cerita utuh milik saya, jika ada kesamaan itu gak sengaja. No silent reader! Plagiarism! Tinggalkan komentar setelah membaca, untuk kebaikan author di masa depan J

Note: Annyeonghaseyoo~~ kim sung rin imnida kekekeke~ ini ff gaje milik aku. Aku bestfriend baru, dan akhir-akhir ini sedang kepincut sama si main vocal setelah kepincut sama Donghyun oppa, Kwangmin, Jeongmin, Youngmin dan Minwo #maruk – -“

RCL (read, comment, like) ya bestfriend! Dan salam kenaaaaaall J happy reading~~ *lemparin bias masing-masing*

~~~

Kang Hye Mi pov

Menikah…aku masih tidak percaya bahwa aku akan menikah. Tidak, tidak! ini bukan dengan pacarku atau dengan pria yang kusuka. Aku menikah dengan pria pilihan orang tuaku, dengan kata lain aku dijodohkan.

Ini menyebalkan~sangat menyebalkan! Umurku baru beranjak 21 tahun, masih ingin menikmati masa mudaku dan masa kuliahku. Dulu eommaku pernah bilang agar aku cepat-cepat lulus dan dapat gelar sarjana. Tapi sekarang seenaknya eommaku bilang bahwa aku akan hidup bahagia tanpa lulus dari Universitas. Yang berhak bilang bahagia atas hidupku ya hanya aku seorang, bukan eomma, appa atau siapapun! Termasuk pria yang bernama Shim Hyunseong itu.

Yah~itu dia, pria yang dijodohkan kepadaku. Dia pernah bilang kepada eomma bahwa aku akan bahagia hidup bersamanya. Ha? Percaya diri sekali lelaki itu! Aku tidak pernah melihatnya, bahkan mengenalnya. Jadi, kenapa dengan entengnya dia berbicara seperti itu?

Yang kudengar dari eomma dia adalah pekerja keras, dia sering keluar negri untuk mengurus cabang perusahaan yang tersebar disana. Kedengarannya sih bagus, tapi itu tidak menjamin sama sekali. Sifatnya, itu yang paling penting bagiku.

“Hye Mi~kau sudah memilih gaun apa yang akan kau kenakan nantinya?” Suara eomma membuyarkan lamunanku. Aku kembali membolak-balikkan catalog yang sedari tadi berada di pangkuanku.

“Semuanya bagus, aku bingung harus pilih yang mana.” Aku menaruh catalog tersebut diatas meja. Eomma melirikku dibalik cangkir tehnya, “Kau harus pilih salah satu, nak. Siang ini designer gaun pengantinmu akan datang kesini dan mengukur semuanya.” Jelasnya. Aku menatap eomma kesal lalu menarik lagi catalog yang sudah terhampar di meja.

“Baiklah, baiklah! Aku pilih gaun yang ini.” Aku menunjuk  asal gaun berwarna broken white yang terpampang di sampul catalog. Eommaku memperhatikannya lantas tersenyum, “Seleramu memang benar-benar bagus, dear. Aku  juga menyukai gaun yang satu itu.” Ucapnya bahagia sambil mengamati gaun yang barusan kupilih.

Aku hanya tersenyum simpul. Wajah eomma begitu berseri-seri ketika melihat gaun itu. Sepertinya aku tidak pernah melihat wajah eomma sebahagia itu, bahkan saat perayaan ulang tahun pernikahannya Desember lalu.  Aku tidak tahu dengan jelas alasan dia menyuruhku menikah di usia dini. Dia tidak pernah menjawab pertanyaanku yang satu itu walaupun aku terus membombardirnya dengan pertanyaan yang sama.

“Dua jam lagi appamu sampai dari perjalanan bisnisnya. Kuharap kau menyambutnya nanti, ya?” eomma menatapku. Aku sempat terdiam, lalu menatap mata memohon milik wanita yang telah melahirkanku. Dengan helaan napas aku mengangguk, menyetujui permintaannya. Hubunganku dan appa tidak semulus hubunganku dengan eomma. Aku selalu tidak mengerti jalan pikiran appa yang selalu menginginkan hal yang bertolak belakang dengan keinginanku. Dan…yeah, pernikahan ini juga atas idenya.

“Baiklah, panggil aku jika appa sudah pulang. Aku ingin menyelesaikan rajutan shall yang kubuat.”

Tanpa menunggu persetujuan dari eomma, aku beranjak kekamarku yang berada di lantai dua. Sebenarnya ini hanya alasan agar aku bisa berlama-lama dikamar dan tidak mendengar pertanyaan-pertanyaan dari eomma. Semuanya membuatku pusing, termasuk rencana pernikahan ini. Aku hanya menghela napas pasrah. Yah~aku memang belum pernah pacaran dan belum menemukan seseorang yang kusukai. Tapi, keinginanku untuk hidup bersama seseorang yang kukasihi dan kucintai kandas sudah. Dan kini aku harus menerima kenyataan bahwa aku akan menikah dengan orang yang tak pernah kukenal.

TES…tanpa sadar air mataku jatuh. Kupikir ini pertama kalinya aku menangis setelah mendengar kabar pernikahanku seminggu yang lalu. Aku pernah berfikir untuk menolaknya, tapi aku sudah terlalu sering mengecewakan orang tuaku.

Dulu appa ingin aku kuliah di jurusan perbankan, namun dengan keras aku tolak dan memilih kuliah di jurusan sastra. Seingatku itu perlawanan terakhirku. Dan aku tidak berniat lagi menambahnya. Aku sudah sering dengar appa mengeluh kepada eomma tentang sikapku yang sulit diatur. Aku memang anak satu-satunya, tapi appa selalu merasa dia mempunyai anak 10 karena kelakuanku.

Aku menghela napas lagi, kalau waktu bisa berputar kembali, aku lebih memilih menuruti semua keinginan eomma dan appa tapi menolak keinginannya yang satu ini.

“Hyemi, Kau tidak tidur kan sayang?” suara ketukan pintu kamarku membuatku buru-buru menghapus air mataku dan merapikan rambutku yang berantakan. Rajutan yang terabaikan dikeranjang rotan kutaruh dipangkuanku, agar aku terlihat benar-benar merajut seperti yang kukatakan kepada eomma tadi.

“Masuk saja eomma, pintu tidak dikunci.”

Kepala eommaku menyembul dibalik pintu, “Appa sudah datang, dia sedang beristirahat di halaman belakang.” Eommaku tersenyum. Aku beranjak dan mengikuti langkahnya ke halaman belakang. Kulihat appa masih memakai jasnya, dan aku memutuskan untuk duduk disampingnya sementara eomma membiarkan kami mengobrol berdua.

“Bagaimana perjalanan bisnismu?” ucapku memulai pembicaraan. Appa menyesap kopinya lalu menatapku, “Seperti biasa, melelahkan. Bagaimana persiapan pernikahanmu?”

“Siang nanti designer gaun pengantinku datang.” Jawabku tanpa memandang appa. Kurasakan tangannya mengelus puncak kepalaku, “Aku tau ini berat untukmu, tapi aku yakin kau akan bahagia.” Appa tersenyum. Senyum yang jarang terlihat, dan gurat lelahnya berganti dengan wajah yang berseri-seri. Ada yang mencekat di leherku. Ya~aku ingin sekali menangis sekarang.

“Anak appa yang satu ini sudah besar ya,” Appa merangkul bahuku dan mengistirahatkan kepalaku di bahunya, “Sebentar lagi akan meninggalkan appa dan eomma untuk tinggal bersama suamimu.”

Air mataku benar-benar jatuh sekarang. Sekarang aku bisa merasakan kalau appa benar-benar menyayangiku sebagai putrinya.  Jemarinya bergerak menghapus air mataku, rupanya dia mengamatiku sejak tadi.

“Ini adalah saat bahagia, kau tidak perlu menangis. Kau mungkin tidak memahami apa yang appa inginkan, tapi itu semua demi kebaikanmu, demi putriku satu-satunya. Hyunseong anak yang baik, begitu aku kenal dengannya aku langsung teringat kepadamu. Lelaki bertanggung jawab saat ini sulit ditemui. Jadi begitu aku bertemu dengannya aku mengutarakan niatku, dan tak kusangka dia setuju.”

Jelas appa bahagia. Aku semakin merasa bersalah. Aku selalu berpikir appa menyesal telah memilikiku sebagai anaknya, namun, itu salah besar. Semua ini dia lakukan demi kebaikanku, masa depanku kelak.

Appa, aku menyayangimu.” Pelukku erat ke tubuh appa. Tangannya menyusuri rambut panjangku dan membelainya lembut, “Nado, appa juga menyayangimu nak.”

Aku menguraikan pelukanku dan menatap wajah appa lantas tersenyum. Senyum yang benar-benar tulus, setulus kasih sayangnya kepadaku.

~~~

Author pov

Hyunseong berjalan terburu menyusuri koridor rumah sakit di Seoul. Dia baru sampai dari Thailand 30 menit yang lalu. Ada sesuatu yang membuncah di pikirannya sekarang, dan dia harus mengutarakannya pada Kwangmin karena hanya dialah yang bisa bertemu dengannya saat ini.

“Hyungseong hyung~!” Suara berat yang memanggil pria bermata sipit itu membuat langkah panjangnya terhenti dan mendapati Kwangmin membuka maskernya.

“Ah~kau disini rupanya,” Hyunseong menghela napas lega. Kwangmin Nampak mengernyit, “Ya~kan aku sudah bilang tadi kalau aku akan menangani operasi usus buntu. Dan kebetulan baru selesai, kau tidak memperhatikan sekitarmu hyung?” Kwangmin melipat tangannya didepan dada. Matanya melirik plang yang bertuliskan ‘Ruang Operasi’ yang tertulis di pintu.

Hyungseong mengusap wajahnya dan mendengus pelan, “Yeah~aku tidak melihatnya. Oh astaga~aku benar-benar tak bisa berfikir dengan baik sekarang.”

Kwangmin memutuskan untuk mengajak Hyunseong duduk di kursi tunggu, tepat didepan  ruang operasi tersebut.

“Ceritakan pelan-pelan. Sebenarnya ada apa hyung?”

“Pernikahanku lima hari lagi, dan aku belum sama sekali bertemu dengan Hye Mi.” Hyunseong mengeluarkan keluh kesahnya. Kwangmin dan keempat temannya yang lain –Donghyun, Jeongmin, Youngmin serta Minwoo- sudah tau kabar bahwa Hyunseong akan menikah dalam waktu dekat ini.

“Lalu? kau sudah berada di Seoul, susunlah rencana agar kau bisa bertemu dengannya.” Usul Kwangmin. Hyunseong menggeleng pelan, “Tidak bisa, jadwalku padat sekali disini.” Balas Hyunseong lagi. Kwangmin terkekeh pelan lalu menepuk bahu Hyunseong, “Aku mengenalmu dengan baik hyung, semua ini hanya alasanmu saja. Kau tidak benar-benar ingin bertemu dengan Hye Mi kan?”

Hyunseong menatap Kwangmin dan mendengus pelan, “Yang benar saja! Masa aku tidak mau bertemu dengan calon istriku sendiri?” Protes Hyunseong.

Kwangmin tertawa, membuat Hyunseong memandang malas kearahnya.

“Hyunseong hyung, jangan bercanda kepadaku. Kau punya sekertaris Han, dan kurasa dia yang akan menggantikanmu beberapa hari ini. Masa dia tidak mau membantu sih? Kau kan ingin menikah hyung! Dimana-mana orang yang ingin menikah diberi cuti.” Kwangmin terkekeh lagi membuat Hyunseong semakin semrawut. Perkataan Kwangmin tidak sepenuhnya salah, bahkan bisa dibilang 100% benar. Hyunseong tidak ingin bertemu dengan Hye Mi, atau lebih tepat dikatakan kalau dia tidak berani bertemu Hye Mi. Dia tidak seperti Jeongmin yang bisa bergaul dengan siapa saja yang baru dikenalnya, atau seperti Minwoo yang banyak tersenyum dan mengobrol santai. Terakhir kali dia pacaran adalah saat SMA, dan itu hanya berlangsung selama seminggu. Dan selama seminggu itu Hyunseong tidak pernah mau bertemu dengan kekasihnya. Alasannya hanya satu, canggung. Hyungsung mudah sekali canggung, apalagi bila itu berkaitan dengan makhluk yang bernama wanita. Dan kekhawatiran itu terlalu mendominasi dirinya sehingga dia perlu berfikir ulang untuk menemui Hye Mi.

“Ayolah hyung~ kau harus bertemu dengannya, paling tidak satu kali sebelum hari pernikahanmu. Kusarankan kau makan malam, atau kau ingin mengajak kami berlima juga?”

Hyunseong melirik Kwangmin lalu berpikir sejenak, “Kelihatannya bagus seperti itu. Tapi sepertinya aku memilih untuk makan malam dengannya, tanpa kalian! Aku tidak bisa jamin Jeongmin tidak main mata dengan Hye Mi.”

Kwangmin tertawa lagi, lalu menepuk bahu Hyunseong kencang saking senangnya.

“Yah~ terserah padamu. Ngomong-ngomong kau sudah bertemu dengan yang lain?”

Hyunseong menggeleng lalu menyenderkan bahunya ke kursi, “Tidak ada yang bisa kutemui kecuali kau. Kembaranmu Youngmin sedang memperbarui cabang restoran di Daegu, Jeongmin masih mengajar di sekolah musiknya hingga nanti sore, Donghyun hyung tidak bisa dihubungi, begitupun Minwoo. Kurasa baru nanti malam mereka bebas.”

Kwangmin mengangguk paham, “Sebaiknya kita kumpul nanti malam. Aku juga jarang bertemu dengan mereka. Oh bahkan bertemu kembaranku sendiri, hyungku benar-benar menekuni usahanya.” Kwangmin tersenyum.

“Ide bagus! Aku juga ingin menanyakan beberapa hal kepada kalian, terlebih kepada Donghyun hyung yang sudah terlebih dulu menikah.”

Kwangmin membelalakkan matanya, “Ya! Hyung, kau ingin bertanya apa memangnya?”

Hyunseong hanya tersenyum lalu menepuk bahu Kwangmin, “Rahasia! Oh iya sudah makan siang?” Kwangmin menggeleng, disusul suara perutnya yang membuat Hyunseong tertawa.

“Baiklah, ayo kita makan. Aku yang traktir.” Ajak Hyunseong.

~~~

Hyunseong POV

Setengah jam berlalu, kali ini aku telat datang kerumah Jeongmin. Setelah mengutarakan niatku untuk berkumpul -dengan sahabatku- pada Kwangmin, kini kami benar-benar berkumpul kendati sudah hampir tengah malam.

“Hyunseong hyung~” Minwoo menyambutku dengan sebuah pelukan. Badannya tidak sekurus  saat terakhir kali aku melihatnya. Wajah imutnya sedikit terlihat lebih melelaki. Kuedarkan pandanganku kepada orang yang berada diruangan yang terletak di lantai 2 rumah Jeongmin. Disana ada Youngmin, Donghyun hyung, Kwangmin dan Jeongmin yang juga tersenyum sambil menatapku.

“Sudah lama sekali kita tidak bertemu hyung~” Jeongmin merangkulku dan mengajakku duduk untuk berkumpul dengan yang lainnya.

“Pangeran kita yang satu ini sibuk sekali Jeongmin, kau lupa sekarang dia pemilik SG Coorporation?” Donghyun hyung menimpali sebelum aku menjawabnya. Aku tersenyum dan menonjok pelan lengannya yang terlihat semakin kekar.

“Maaf~belakangan ini aku tidak berada di Seoul jadi tidak bisa sering bertemu.”

Youngmin menyodorkan segelas soju, “Bukan masalah besar, belakangan ini kami juga jarang bertemu kok. Oh iya bagaimana rencana pernikahanmu hyung?” tanya Youngmin. Aku terdiam dan menatap Kwangmin yang terlihat sekali sedang menahan tawa.

“Yah~lima hari lagi aku akan menikah.” Aku meneguk segelas soju sekaligus.

“Benarkah? Wah berarti 4 bulan itu waktu yang singkat. Aku masih menyimpan pesanmu yang mengatakan kau ingin menikah.” Donghyun hyung mengecek ponselnya.

“Lalu bagaimana hyung? Dia cantik tidak?” Jeongmin bertanya dengan antusias. Aku memandang Kwangmin yang mulai terkekeh, aku lalu menatapnya tajam agar dia tidak mengatakan apa yang kukatakan siang tadi.

“Cantik, tentu saja.” Balasku singkat. Jeongmin dan Donghyun hyung saling berpandangan lalu menatapku curiga, “Jangan bilang kau belum bertemu dengannya.” Ucap Jeongmin.

Aku langsung tercekat. Gerakan tanganku yang ingin mengambil sundubu jigae juga terhenti.

“Sudahlah hyung~untuk apa kau bohong. Dia memang belum bertemu dengan Hye Mi.” Kwangmin mengatakan semuanya. Aku memandang kesal kearah pemuda yang pandai bernyanyi rap itu, dia benar-benar tidak bisa menjaga rahasia.

“Kau serius hyung? Belum pernah bertemu satu kalipun?”

Dengan terpaksa aku mengangguk, kalau aku suka berbohong pasti aku lebih memilih untuk berbohong saat ini. Tapi, aku tidak dapat melakukannya, terlebih itu kepada sahabat yang sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri.

“Kau benar-benar hebat hyung! Tapi aku memang sudah menebaknya sih, kalau Jeongmin hyung yang seperti itu tentu saja aku tidak percaya.” Jelas Youngmin santai. Jeongmin yang merasa disebut-sebut melempar gumpalan tissue kearah Youngmin.

Donghyun hyung lalu memandangku, “Kau harus bertemu dengannya. Biar bagaimanapun dia adalah calon istrimu, yang akan hidup bersama denganmu.”

Aku terdiam, hanya bisa memutar-mutar gelas soju yang masih kosong. Oh baiklah~sepertinya aku harus bertemu dengan Hye Mi. Tapi, kenapa sebagian hatiku menolak untuk bertemu dengannya?

“Pikirkanlah itu baik-baik, “Donghyun hyung berkata lagi, “Nah sekarang lebih baik kita makan malam. Aku belum sempat makan malam tadi.”

“Setuju!” koor yang lainnya kecuali aku. Sekarang aku benar-benar memikirkan calon istriku, Hye Mi. Memikirkan waktu yang tepat untuk bertemu dengannya.

~~~

Author pov

Hye Mi menatap kosong kearah gundukan pasir di taman komplek rumahnya. Akhir-akhir ini, taman menjadi tempat favoritnya untuk mendinginkan pikirannya sekaligus melarikan diri.

Pernikahannya akan berlangsung besok, dan akan dilaksanakan di Ballroom hotel milik Hyunseong didaerah Gangnam. Seharusnya dia pergi kesana sekarang, tapi dia memilih kabur karena kepalanya pusing setiap kali mendengar pembicaraan tentang pernikahannya.

#Drttttttttt drtttttt, ponsel yang berada di tangannya bergetar. Dahinya mengernyit begitu melihat layar ponselnya yang tertera nomor yang tidak dikenalnya.

“Halo?” Hye Mi akhirnya memutuskan untuk mengangkat ponselnya.

Kau gadis yang bernama Kang Hye Mi?” suara lembut milik seorang lelaki terdengar disebrang sana. Membuat jantung Hye Mi berdebar.

“Ya, kau benar. Siapa ini?”

Terdengar kekehan pelan dari sebrang sana, membuat Hye Mi lagi-lagi mengerutkan dahinya.

“Kenapa kau tidak menjawabnya? Jangan membuatku kesal, tuan!” Hye Mi baru saja ingin menutup ponselnya, namun suara lembut pria disebrang sana membuat Hye Mi urung memutuskan hubungan teleponnya.

“Jika kau benar-benar ingin tau siapa aku, kau bisa menoleh ke kiri.”

Hye Mi spontan menoleh ke kiri, seperti yang disebutkan lelaki tadi. Jantungnya berdebar lagi melihat seorang pria bertubuh tinggi dengan kemeja putih yang menutup tubuh atletisnya. Senyum pria itu membuat matanya terlihat lebih sipit.

Hyunseong pun melangkah mendekati Hye Mi hingga berada tepat didepan gadis itu. Yang Hyunseong lakukan hanya tersenyum dan mengulurkan tangannya.

“Aku Shim Hyunseong.”

Hye Mi menyambut uluran tangan itu, “Aku Kang Hye Mi.”

Setelah itu hening. Hye Mi masih berusaha mengendali debaran jantungnya yang berpacu. Hyunseong pun sama, dia tidak bisa melihat wajah cantik itu berlama-lama karena itu membuat debaran jantungnya semakin meningkat.

“Oh iya, aku kesini untuk menjemputmu. Eomma ingin bertemu denganmu dan memperlihatkan tempat resepsi terlebih dulu kepadamu.” Hyunseong akhirnya membuka suara. Hye Mi mengangguk, “Yah~sebenarnya aku harus kesana sejak tadi. Aku terlalu pusing jadi aku memilih untuk berdiam diri kesini. Maafkan aku, kau jadi repot-repot menjemputku.”

“Ah kebetulan saja aku lewat sini. Aku pernah melihat fotomu sekali jadi aku bisa menemukanmu disini.”

Hye Mi mengangguk lagi. Apapun yang dilakukan pria dihadapannya ini mampu membuat suaranya tercekat sekaligus terpana. Dia tidak tau bahwa Shim Hyunseong, pria yang akan menjadi suaminya adalah orang yang murah senyum dan ramah. Dan tentu saja kedua hal itu membuatnya jauh lebih tampan.

“Hye Mi, kita kesana sekarang ya?” lagi, suara lembut itu memasuki indra pendengaran Hye Mi, membuat hatinya kembali tergelitik. Dan dengan entengnya Hye Mi mengangguk.

“Ya~aku tidak mau membuat eomma menunggu.”

~~~

Kang Hye Mi pov

Aku memandang wajah Hyunseong lagi, entah sudah keberapa kalinya. Saat aku bertemu dengan eommanya tadi, aku tidak benar-benar menyimak perkataan eomma yang menjelaskan dekor pernikahan kami nanti. Kupikir itu tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah yang menikah denganku, untuk itulah aku benar-benar mengamati Hyunseong hari ini.

Eommaku benar, Hyunseong adalah tipe lelaki yang mau bekerja keras terhadap hal apapun. Selain itu, dia juga sangat ramah. Tak jarang aku melihatnya tersenyum kepada para pendekor yang sibuk memasang rangkaian bunga di tiang-tiang  yang berdiri kokoh disana. Saat makan siang pun dia yang mengaduk-aduk sup ku agar tidak terlalu panas. Ah~appa , lelaki pilihanmu ini benar-benar membuatku tak mampu berkata-kata.

“Daritadi kuperhatikan kau melihatku terus, ada apa?” Suara Hyunseong membuatku sontak salah tingkah. Mataku kini tidak lagi melihat wajah mulus dan putih milik Hyunseong. Mata kenariku kini sibuk mengamati pemandangan diluar jendela mobil Hyunseong.

“T…tidak a..da… aku tidak me….mandangmu.” sial! Aku mengutuk diriku sendiri yang terbata menjawab pertanyaannya. Hyunseong tersenyum, tanpa memandangku.

“Tidak apa-apa jika kau benar memerhatikanku. Aku malah senang.” Lanjut Hyunseong lagi. Debaran jantungku meningkat lagi, benarkah aku jatuh cinta kepadanya? Atau ini hanya sensasi pertemuan pertamaku dengannya? Pikirku.

“Tenang saja, aku tidak akan membuatmu bertambah pusing.” Aku sukses menoleh kearah Hyunseong, “Apa maksudmu?” aku benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan olehnya.

“Aku tau kau terpaksa menjalani pernikahan ini. Aku tidak akan berbuat macam-macam kepadamu kecuali kau yang memintanya kepadaku. Aku juga sudah menyiapkan dua kamar terpisah yang akan menjadi kamarku dan kamarmu nantinya. Biarkan ini berjalan dengan alamiah. Bagaimana?”

Aku tampak berfikir. Kedengannya ide yang bagus. Walaupun entah kenapa aku merasa kecewa dia mengatkan seperti ini kepadaku. Tapi, lagi-lagi aku harus berterima kasih karena dia telah memudahkanku menjalani semua ini. Tanpa agu aku mengangguk, meng-iya-kan usulannya. Hyunseong tersenyum lagi lalu mengusap puncak kepalaku pelan.

Gomawo~” ucapnya pelan. Aku tersenyum, “Bukan apa-apa. Aku malah berterima kasih karena kau mengerti apa yang kurasakan, Seung.”

Hyunseong menoleh sekilas kearahku, “Oh iya. Satu permintaan dariku.”

“Apa?” tanyaku tak sabar.

“Kau harus panggil aku ‘oppa’” Hyunseong berkata dengan santai.

Mwo?! Memanggilmu oppa?”

~~~

TBC

This entry was posted by kepangmusic.

11 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Only You – Chapter 01

  1. Love this story~
    Alurnya pelan tapi pasti (?)
    Dan juga karakter masing2 pemain hampir mendekati aslinya..😀

    Saran nih kalau untuk percakapan, lbh bagusnya tidak digabung dalam satu paragraf hehe~ supaya pembaca menjadi lebih nyaman untuk ngebaca😀

    Keep writing y ^-^)/

  2. Bagus” thor..
    Daebak sangatttt dehh…^o^

    Lanjutannya jgn lama” ya. Readersnya juga selaluuu menunggu..
    Kekeke🙂

  3. Eonni ini ceritanya lumayan menarik sih buat ku tapi bisa dibuat lebih menantang lagi gak karna agak membosankan menurutku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: