[FANFICT/FREELANCE] I’m Not Her – Chapter 02

Title
: I’m Not Her – Chapter 02
Author : Kang Mi Hye
Genre : Friendship dan Romance
Rating : G
Type : Chaptered
Main Casts
: ~ Jeongmin

  ~ Suzy

Other Casts
: ~ Bora

  ~ Ji-Eun (IU)

  ~ Kwangmin

  ~ Yoon Eunhye

  ~ Youngmin

Hi bestfriend-deul! Kang Mihye balik lagi dengan lanjutan ff kemarin. Kali ini sumpah deh, di usahain banget supaya panjang. Tapi ga tau deh hasilnya. Happy reading aja ya ^^

Matahari semakin tinggi. Lagu “Taeyang – I need a girl” menjadi lagu terakhir yang di mainkan Suzy, Jeongmin, Jo twins, Bora, dan IU. Mereka kembali masuk ke dalam panti. Menghabiskan waktu dengan bermain bersama anak-anak.

Namun, sepertinya hati Jeongmin tiba-tiba saja muram. Ia keluar ke teras, mendudukkan diri di batu yang menjadi pembatas teras dan halaman. Di keluarkannya ponsel, lalu dengan cepat ia menggeser-geser layar hingga sampai pada galeri. Hanya satu yang ia cari. Foto Eunhye!

*Suzy POV*

Sudah lama aku tidak mengunjungi anak-anak disini. Sungguh menyenangkan melihat mereka tertawa seperti ini.

“Kenapa dia keluar? Apa dia bosan?” Tanyaku dalam hati saat melihat Jeongmin keluar.

Aku memutuskan untuk keluar. Biar bagaimana aku bisa di bilang tuan rumah, dan aku harus melayani tamuku. Ia sedang memerhatikan ponsel. Sepertinya ia tidak sedang menelpon ataupun mengirim pesan. Ia hanya memerhati kan ponsel itu.

*Suzy POV end*

“Ehem.” Suzy berdeham, membuat Jeongmin tersentak dan segera mengantongi ponselnya. “Waeyo? Sunbae bosan?”

“Ah, aniya.” Jeongmin menjawab dengan senyum canggung. “Disini menyenangkan.”

“Jinjja?” Tanya Suzy berbasa-basi.

“Hmm.” Jawab Jeongmin. Ia mengalihkan pandangannya. Sebisa mungkin tidak memerhatikan wajah Suzy.

Hening beberapa saat, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Suara tawa Bora dan IU yang baru keluar, memecah keheningan.

Suzy menoleh “Apa yang kalian tertawakan.” Tanyanya penasaran.

“Aniya. Kwangmin barus menceritakan lelucon.” Jawab Bora di sela tawanya. “Kita sudah akan pulang kan?” Lanjutnya.

Suzy mengangguk “aku harus mengunjungi orang tuaku.”

“Ku rasa kami juga. Iya kan oppa?”

Jeongmin mengangguk “ne, kalau begitu oppa panaskan mobil dulu.” Lalu berjalan ke tempat mobil diparkirkan.

***

Satu minggu berlalu sejak mereka mengunjungi panti asuhan. Sejak hari itu, entah mengapa Jeongmin tidak bisa berhenti memikirkan Suzy yang mengingatkannya pada Eunhye. Mereka begitu mirip, dan ini membuat Jeongmin semakin merindukan Eunhye yang takkan kembali.

*flashback*

Dua tahun yang lalu, Jeongmin dan Eunhye adalah murid baru sekolah menengah kejuruan jurusan musik. Hari itu Jeongmin sedang bermain bass di ruang musik, lalu Eunhye pun masuk. Ia terlihat canggung karena merasa mengganggu latihan Jeongmin. Eunhye segera mundur kembali, tapi Jeongmin mencegahnya keluar.

“Tunggu.” Kata Jeongmin “ayo ikut main, aku bosan main sendiri.”

Eunhye mendekati keyboard. Ia menekan tuts dengan sangat lincah.

“Daebak!” Puji Jeongmin setelah lagu berakhir

Eunhye hanya tersenyum “kau juga hebat.”

Jeongmin bangkit dari duduk, berjalan mendekati Eunhye yang berdiri di belakang keyboard “Lee Jeongmin imnida.” Katanya seraya mengulurkan tangan.

Eunhye menyambut uluran tangan Jeongmin “Yoon Eunhye imnida.” Ia berkata lembut dengan senyuman yang begitu manis.

Bulan demi bulan berlalu sejak hari itu. Eunhye dan Jeongmin menjadi partner bermusik yang kompak. Bahkan lebih dari itu. Malam setelah berakhirnya showcase. Jeongmin dan Eunhye memutuskan menyusuri jalan ke dorm bersama.

Tiba-tiba Jeongmin menghentikan langkahnya. “Wae?” Tanya Eunhye.

Jeongmin hanya tersenyum. Tak lama terdengar suara ledakan-ledakan yang disusul percikan warna warni bunga api di langit. Lalu muncul segerombolan orang berkaus putih yang merupakan teman-teman satu jurusan mereka. Orang-orang itu masing-masing membawa setangkai mawar merah muda. Lalu mereka mengambil posisi mengelilingi Jeongmin dan Eunhye.

“Eunhye-a, would u be my girlfriend?”

Eunhye membulatkan mata, ia tak bisa mengerjap saking kagumnya. Ia hanya bisa menatap Jeongmin yang kini menggenggam kedua tangannya “bagaimana mungkin aku bisa bilang tidak.” Jawab Eunhye pada akhirnya.

Mereka menjadi pasangan yang begitu berbahagia. Pasangan yang membuat iri siapa saja yang melihatnya. Sampai akhirnya hari itu datang!

Itu pagi yang berawan di musim gugur. Eunhye hendak pergi mengunjungi orang tuanya karena hari itu akhir pekan. Tidak seperti biasa, kali ini ia pergi sendirian karena Jeongmin tidak bisa mengantarnya. Headphone menutupi kedua telinga Eunhye ketika menyeberangi jalanan. Dengan santai ia melewati jalanan setelah warna hijau menyala. Mana ia sangka sebuah sedan putih berkecepatan tinggi muncul dari samping kirinya. Eunhye hanya menoleh dengan kaget. Ia terdiam terpaku saat mobil itu semakin mendekat dan BUKK!! Tabrakan yang sangat keras terjadi. Eunhye terpental hingga kepalanya membentur aspal. Darah bercucuran keluar. Naasnya si penabrak pergi meninggalkan Eunhye yang sekarat. Orang-orang sekitar membawa Eunhye ke rumah sakit terdekat. Namun semua terlambat. Eunhye kehabisan darah dan tak bisa lagi di selamatkan.

Betapa terpukulnya Jeongmin mendengar kabar itu. Menjadi penysesalan terdalamnya ketika menolak untuk mengantar Eunhye hanya karena latihan klub. Hidupnya seketika gelap. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Hanya menyesal dan menyesal yang ia rasakan.

*flashback end*

*Jeongmin POV*

“Kau tahu?” Aku berbicara pada foto Eunhye “satu tahun berlalu tanpamu. Susah payah aku menghapus kesedihanku.” Aku terdiam sejenak “aku berusaha yakin kau selalu ada untukku. Maka aku tidak perlu merindukanmu. Tapi melihatnya begitu mirip denganmu.” Tangan kananku terkepal “aku tahu aku masih ingin kau disini. Bersandar di bahuku. Menggenggam tanganku!”

“Sunbae?” Sebuah suara familiar terdengar dari belakangku.

*Jeongmin POV end*

Suzy berjalan tak tentu arah. Mengelilingi sekolahnya tanpa tahu mau kemana. Ia berhenti ketika melihat punggung seseorang yang di kenalnya.

“Sunbae?” Panggil Suzy ketika sampai di belakang Jeongmin.

Jeongmin tersentak hingga menjatuhkan foto Eunhye yang dipegangnya.

“Ah mianhae.” Suzy membungkuk mengambil foto yang terjatuh. Ia hendak mengembalikannya, namun tidak jadi saat melihat sosok di foto itu. Diperhatikannya yeoja yang ada di foto “yeoja ini?” Suzy ragu melanjutkan kalimatnya “sedikit mirip denganku?”

Jeongmin segera merampas foto itu dari tangan Suzy “a-apa maksudmu?”

Suzy menggeleng cepat “ani, tadi sekilas aku mengira itu fotoku. Tapi setelah diperhatikan bukan.” Ia menyengir.

Jeongmin mengerjap-ngerjap mendengar perkataan Suzy. Suzy berpikir yang sama dengannya. Berarti memang benar mirip.

“Sunbae?” Suzy menggoyang-goyangkan tangan di depan wajah Jeongmin.

“Ah? Apa kau bilang?”

Suzy mengerutkan dahi “aku tidak bicara.”

“Oh begitu ya?” Jeongmin mengusap tengkuknya “hmm, kau mau kemana?”

“Molla.” Suzy mengedikkan bahu “sunbae sendiri?”

“Aku juga tidak tahu.” Jawab Jeongmin lalu berpikir sejenak “ayo karaoke” katanya tiba-tiba.

“Hmm?” Belum sempat Suzy mengiyakan, Jeongmin sudah menarik tangannya menuju gedung jurusan musik.

*Suzy POV*

Aku hanya mengikuti Jeongmin yang selangkah di depanku. Rambut coklatnya sedikit terbang tertiup angin. Cahaya matahari yang di belakangi Jeongmin membuat namja ini terlihat… Tampan? Yah, kurasa memang begitu. Tidak salah kan aku memujinya?

Kami sampai di depan gedung musik. Jeongmin masih memegangi lenganku. Ia menarikku perlahan menaiki tangga menuju mesin karaoke yang ada di lantai dua. Gedung sudah agak sepi karena hari sudah cukup sore sekarang. Hanya ada beberapa orang yang sedang berlatih menari dan ada beberapa murid lain yang sedang mengobrol.

Jeongmin melepas tanganku setelah kami sampai “kau mau lagu apa?” Tanyanya.

“White love.” Jawabku dengan semangat.

“Ah, kau curang. Bagian namja di lagu itu lebih banyak dari bagian yeoja.” Katanya, namun tetap mengetikkan kode lagu itu “ok, kita mulai.”

Intro lagu white love mulai terdengar. Jeongmin memulai bagiannya dengan apik. Lalu aku menyambutnya dengan tidak kalah baik. Kami bernyanyi dengan gembira hari itu. Entahlah. Aku merasa cepat dekat dengannya. Tidak ada kecanggungan antara kami yang baru bertemu beberapa kali.

Jeongmin melihat jam tangannya saat lagu sudah selesai “wahh, sudah 2 jam kita disini.”

Aku membulatkan mataku “jinjja?” Tanyaku tidak percaya. “Berarti ini sudah malam.”

Jeongmin berdiri, membuatku mendongak melihatnya “ne, kajja ke dorm.” Ia mengulurkan tangannya.

Aku menyambut tangan Jeongmin lalu berdiri mengikutinya turun. Lima belas menit kami menyusuri jalan dari gedung musik menuju dorm. Kami bercanda seperti sudah lama saling kenal. Entahlah, aku juga biasa bersenda gurau dengan Youngmin dan Kwangmin. Tapi kali ini, aku tidak merasa senang. Aku merasa… Bahagia.

*Suzy POV end*

*Jeongmin POV*

Ia banyak tersenyum hari ini. Aku akui, aku suka melihat senyumnya. Ia benar-benar tampak seperti Eunhye saat tersenyum. Ya, dia memang seperti Eunhye.

Kami sampai di depan dorm. Aku melepas tangan Suzy “sampai jumpa Suzy.” Kataku lalu melambaikan tangan.

“Ne, sampai jumpa sunbae.” Iya membalas lambaian tanganku.

Tunggu, dua hari lagi akhir pekan. “Tunggu sebentar.” Aku menghentikan Suzy yang hampir memasuki pintu dorm.

Ia berbalik dan terlihat bingung “wae?”

Aku mengusap tengkukku, bingung mau mulai darimana “emm, apa akhir pekan nanti kau ada waktu?”

Suzy memiringkan kepalanya, lalu ia terlihat berpikir “hmm” ia mengangguk.

“Emm, kau mau menonton music bank?” Tanyaku ragu “emm, kemarin aku membeli tiket untukku dan Ji-eun. Tapi dia tidak bisa pergi.” Selaku cepat sebelum Suzy menjawab.

“Sunbae mengajakku karena tidak ada yang bisa di ajak?” Tanya Suzy yang mengagetkanku.

“Ah? Aniya. Bu-bukan itu maksudku.” Kataku gelagapan. Kulihat Suzy terkekeh melihat tingkahku yang membuatku ikut terkekeh, “aish kau ini.” Kataku lalu mengacak poninya.

“Yaaa!” Suzy mengerucutkan bibirnya sambil membenarkan poni, lalu ia mengangguk “baiklah.”

“Baiklah?” Aku mengulangi karena tidak mengerti arah perkataannya.

Suzy menyilangkan tangan didepan dada “iya, baiklah kita akan menonton music bank bersama.”

Aku tersenyum puas “baiklah, kalau begitu sampai jumpa di akhir pekan.”

“Hmm” ia mengangguk “sampai jumpa.” Katanya kemudian masuk ke dalam dorm.

Aku menunggunya sampai menutup pintu. Lalu aku berjalan menuju dorm namja sambil memikirkan tindakanku. Aku bahkan belum membeli tiketnya. Ahh, itu masalah gampang. Tapi apa aku boleh?

Aku menatap langit sebelum memasuki dorm “Eunhye. Apa kau mengizinkan aku menjadikannya penggantimu? Bolehkah dia yang menghapus kerinduanku padamu?” Aku yang bodoh bertanya pada langit. Aku tersenyum melihat tingkahku sendiri. Lalu berjalan memasuki dorm menuju kamarku.

*Jeongmin POV end*

This entry was posted by kepangmusic.

6 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] I’m Not Her – Chapter 02

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: