[FANFICT/FREELANCE] Only You – Chapter 02

Title 
: Only You – Chapter 02
Author : Kim Sung Rin (@megaoktavias)
Genre         : Romance
Rating          : PG 15
Type   : Chaptered
Main Casts      
: ~ Shim Hyunseong

  ~ Kang Hye Mi (OC)

Other Casts
: ~ Member Boyfriend Lainnya

  ~ Shim Mina (OC)

  ~ Byancha (OC)

Disclaimer: terinspirasi dari lagu Hyunseong yang Only You. Jalan cerita utuh milik saya, jika ada kesamaan itu gak sengaja. No silent reader! Plagiarism! Tinggalkan komentar setelah membaca, untuk kebaikan author di masa depan J

Note: Annyeonghaseyoo~~ Mianhae karena lama update FF ini, saya sedang banyak tugas kuliah dan itu sangat sangat merepotkan *curhat dadakan*

Terima kasih kepada bestfriend yang telah meninggalkan komentar di post ff saya, jujur unexpected banget karena ff aku ini adalah hasil kejenuhanku terhadap tugas, tapi pada respon dengan baik. Jeongmal gamsahamnida #hugkiss *tebar bias masing-masing*

RCL (read, comment, like) ya bestfriend! Dan salam kenaaaaaall J happy reading~~ *lemparin duit Minwoo (?)*

~~~

Previous part

Hyunseong menoleh sekilas kearahku, “Oh iya. Satu permintaan dariku.”

“Apa?” tanyaku tak sabar.

“Kau harus panggil aku ‘oppa’” Hyunseong berkata dengan santai.

“Mwo?! Memanggilmu oppa?”

~~~

Hyunseong melirikku, dan mengangguk dengan pasti, “Ya~oppa. Kupikir ini hal mudah.” Ucap Hyunseong. Aku hanya terdiam dan memilih memandang temaram lampu jalanan yang menghiasi jalan setapak yang terlintas. Bagiku bukan hal yang mudah memanggil ‘oppa’ kepada seseorang yang baru saja kukenal. Berulang kali aku mengubah posisi dudukku, menandakan bahwa aku jengah dengan pertanyaannya barusan.

“Oh baiklah, kalau ini juga memberatkanmu kau boleh memanggilnya nanti.” Hyunseong bersuara lagi. Dari nada bicaranya dia terlihat kesal, walaupun wajahnya tidak terlihat seperti itu.

“Ya Hyunseong o…oppa.” Gumamku kecil, “Aku akan memanggilmu oppa.”

Aku tertunduk, wajahku terasa hangat. Jangan sampai Shim Hyunseong itu melihat wajah merahku karena aku memanggilnya oppa.

“Kau bisa melihatku sebentar?” Hyunseong memintaku. Aku melihat pemandangan diluar jendela. Dan tanpa kusadari Maybach Landaulet putih miliknya telah terparkir tepat didepan rumahku.

Aku memandangnya, memandang wajah putih yang tengah memandangku dengan tatapan yang lagi-lagi membuat wajahku semakin menghangat. Tangan kanannya meraih tangan kananku dan mengusapnya lembut, memberikan ketenangan disetiap sentuhan jemari panjangnya.

“Kuharap kau tidak menunjukkan ketidaksukaanmu terhadap perjodohan ini dengan orang tuamu. Mereka sangat memikirkanmu dan juga menyayangimu. Jika kau kesal terhadap mereka, kau boleh melampiaskannya kepadaku. Kau mengerti?”

Aku menatap kedua bola matanya yang tengah memandangku. Pria ini begitu baik, kuyakin dia juga terpaksa menerima perjodohan ini. Aku sangat beruntung bisa bertemu dan bersanding dengannya nanti. Tapi, apakah itu hanya sekedar keberuntungan? Bagaimana dengan cinta?

Aku mengangguk perlahan, mengerti dengan apa yang diucapkannya kepadaku.

“Ya, kuharap kau juga melakukan hal yang sama. Eomma mu telah banyak kerepotan dengan pernikahan besok. Jangan membebaninya dengan keluhanmu juga, arasseo?”

Hyunseong tersenyum, membuat matanya terlihat semakin sipit tapi justru itulah saat yang aku paling suka. Dia mengusap lembut puncak kepalaku.

“Baiklah, kau harus masuk sekarang. Kau besok akan jauh lebih lelah ketimbang hari ini. Selamat malam.”

“Selamat malam…oppa.” Ucapku pelan.

Hyunseong melambai sebelum melajukan Maybach Landaulet miliknya.

Aku menghela napas pelan. Bersyukur semua yang terlihat sulit dimataku, sekarang malah terlihat mudah.

“Tuhan, terima kasih.” gumamku kecil sambil tersenyum.

~~~

 

Hyunseong pov

Setelah Maybach Landaulet putih milikku terparkir, aku bergegas masuk kedalam rumah. Kulihat beberapa pengawal rumah masih berkeliaran didepan pintu masuk. Perasaanku mulai tak enak, buru-buru aku menghampiri mereka yang mendadak cerah begitu melihatku.

“Oh, Tuan Muda kau sudah pulang?” Sekertaris Han menghampiriku dan berjalan disisiku. Aku menghentikan langkahku dan mengernyit, “Ada apa? Kenapa kau menungguku hingga selarut ini?”

“Sesuatu terjadi dengan Nyonya besar, tadi beliau sempat pingsan.” Jelas Sekertaris Han. Aku membelalakkan mataku, dan dengan langkah seribu aku menuju lantai 2, tempat dimana kamar eommaku berada.

Kubuka pintu bercat putih itu dengan terburu. Terlihatlah sosok eomma yang sedang duduk bersandar di tempat tidur. Wajahnya Nampak sumringah begitu melihatku menghampirinya.

Eomma gwenchanayo?” aku memegang dahi eomma, dan memastikan tidak ada seuatu yang buruk terjadi padanya. Eomma membelai lembut pipiku, “Gwenchanayo~ eomma hanya terlalu khawatir kepadamu. Cangkir eomma tadi pecah, dan kupikir sesuatu yang buruk telah terjadi kepadamu.” Suara eomma mendadak merendah. Langsung saja aku memeluk tubuhnya. Bisa kurasakan tubuh eommaku bergetar, dia telah menangis sekarang.

“Maafkan eomma, tapi eomma masih trauma. Dan eomma tidak ingin kejadian itu terjadi padamu.” Isak tangisnya terdengar sangat jelas di indra pendengaranku.

Kupahami kondisi eomma yang masih belum bisa lepas dari trauma dua tahun lalu. Saat itu, piring makan eomma terjatuh, padahal dia memegangnya dengan benar. Eomma tidak berfirasat apapun. Saat itu dia hanya berfikir bahwa tubuhnya terlalu lelah karena terlalu banyak bercocok tanam. Tapi ternyata itu adalah sebuah pertanda. Sore harinya kami mendapat kabar bahwa pesawat yang appa tumpangi meledak sebelum lepas landas, dan semua penumpang pesawat itu tewas, termasuk appa.

Aku mengusap punggungnya lembut, menghantarkan kehangatan sekaligus ketenangan bagi dirinya. Aku mengurai pelukanku dan menatap wajah eomma yang terlihat begitu pucat dan bersimbah air mata.

“Perlu kau ketahui eomma, aku tidak akan kemana-mana. Dan aku akan selalu ada untuk eomma, dan aku akan hidup dengan baik demi eomma.” Ucapku sambil meghela air matanya. Secercah senyum menghiasi wajah ovalenya.

Gomawoyo~sebaiknya kau tidur. Besok adalah hari pernikahanmu, kau harus cukup tidur.”

Aku mengangguk, eomma ada benarnya juga karena tubuhku sangat lelah.

“Selamat malam eomma.” Aku mengecup keningya sebelum aku keluar kamarnya.

~~~

Finally~aku bertemu dengan kasurku lagi. Sepertinya belakangan ini aku mudah rindu terhadap kasurku. Haha ini benar-benar menggelikan!

Tanpa aku minta dan tanpa aku sadari, Hye Mi berseliweran di pikiranku. Membuat mataku yang seharusnya menutup, kini menjadi cerah~bahkan sangat cerah sampai-sampai aku tidak mengantuk lagi.

Kuselipkan tanganku untuk memegang dada kiriku. Menenangkan jantungku yang tiba-tiba berdebar. Gadis itu benar-benar membuat jantungku serasa mau copot.

Kang Hye Mi~ah kau ternyata gadis yang manis, lebih manis dari yang kulihat di foto. Sejauh ini perangainya baik, tapi wajahnya tidak bisa dibohongi. Kelihatan sekali muram tercetak disana, walaupun dia sempat memperlihatkan gurat merahnya kepadaku saat dimobil tadi. Dia terlihat cantik. Tapi, aku tidak ingin memaksanya. Aku sendiri merasa diuntungkan dengan perjodohan ini. Aku tidak banyak dekat dengan wanita, tidak seperti teman-temanku. Pengalaman cintaku pun tidak banyak. Begitu Tuan Kang berencana ingin menikahkan putrinya denganku, jujur aku sangat senang. Tuan Kang Minhyuk sangat baik. Dia orang yang disiplin terhadap waktu, ramah dan pekerja keras. Jadi, kupikir putrinya pasti mempunyai sifat yang sama terhadapnya.

Tapi, sepertinya putrinya itu terpaksa menikah dneganku. Entahlah~tapi kurasa kali ini aku telah mengambil keputusan yang salah karena telah membebani putrinya.

Kulirik jam yang berada di nakas, sudah jam 2 dini hari. Mau tidak mau aku harus memejamkan mataku. Aku tidak mau terlihat seperti orang yang kurang tidur besok.

~~~

Author pov

Eonni, kau terlihat cantik sekali.” Perempuan dengan dress putih selutut menghampiri Hye Mi yang duduk di ruang rias. Hye mi tersenyum dan meraih tangan Mina sambil tersenyum.

“Kau pasti Mina kan?” Hye Mi menebak. Gadis berumur 17 tahun itu mengangguk kegirangan, “Bagaimana eonni tau? Ini kan pertemuan pertama kita.”

Hye Mi tersenyum dan mengajak Mina duduk disampingnya.

“Kau terlihat sangat mirip dengan Hyunseong oppa, bagaimana bisa aku tidak mengenalmu?”

Mina sedikit cemberut, “Aku mirip oppa? Ah~padahal aku berharap tidak mirip dengannya sama sekali. Tapi kau jangan khawatir, oppaku adalah orang yang sangat baik. Hanya saja dia terlalu sibuk bekerja.” Papar Mina. Hye Mi tersenyum dan menyelipkan helaian rambut Mina kebelakang telinganya.

“Ya~semua orang juga berkata seperti itu kepadaku dan aku mempercayainya karena oppamu memang baik. Kau tidak perlu khawatir, Mina.”

Mina tersenyum, menampakkan kedua lesung pipinya.

“Oh iya eonni, kau dijodohkan kan? Bagaimana? Maksudku…apa kau mencintai Hyunseong oppa?”

Aku memandang gadis mungil dihadapanku. Gadis yang baru saja mendarat di Seol dua jam yang lalu. Ini karena dia bersekolah di Jepang, sehingga dia jarang terlihat disaat persiapan pernikahan kami belakangan ini. Matanya yang sipit memandangku dengan lekat, seolah mengisyaratkanku untuk segera menjawab pertanyaan yang dilontarkannya dua menit yang lalu.

“Menurutku terlalu mudah untuk mengatakan itu sekarang. Maaf, tapi aku belum bisa mengatakannya.” Ucap Hye Mi dengan senyum simpul. Mina menghela napasnya dan menggengam tangan Hye Mi.

“Tidak apa eonni. Aku juga seorang wanita, tentu sangat sulit membangun perasaan cinta kepada orang yang baru saja kenal denganmu. Aku mengerti akan itu. Tapi aku ingin kau tidak mengecewakan oppa. Walaupun dia sering tenggelam dalam bisnisnya, tapi dia tipe orang yang penyayang. Perlu kau ketahui dia terlihat senang akan hal ini, untuk itu aku tidak mau eonni menyakitinya.”

Hye Mi tersenyum. Otaknya benar-benar merekam perkataan Mina dengan seksama. Dia juga sedikit terkejut, tak menyangka Hyunseong senang akan pernikahan ini. Artinya dia tidak terpaksa, berbeda dengan Hye Mi.

Hye Mi menghela napasnya juga, diiringi dengan senyuman. Tangan mungilnya berganti mengelus tangan Mina.

“Aku akan menjaga oppamu. Dia lelaki yang baik, untuk itu Appaku menjodohkanku dengannya. Terima kasih kau telah mengingatkanku, Mina.” Hye Mi memeluk Mina singkat. Mina pun tampaknya senang dan lega dengan perkataan Hye Mi.

“Oh aku sampai lupa. Aku kesini untuk memanggilmu. Acara akan segera dimulai.”

Mina menepuk keningnya pelan lantas tertawa. Dia bergegas menarik tangan Hye Mi yang mendandak dingin.

Eonni, kajja.”

~~~

Hye Mi pov

Pintu besar nan kokoh yang berada dihadapanku perlahan terbuka sedikit demi sedikit. Semua tamu kini menatapku takjub. Appa menarik tanganku pelan, mengisyaratkanku agar aku mulai melangkah ke seorang lelaki yang telah menungguku diujung sana.

Shim Hyunseong, begitu melihatku dia sudah tersenyum sangat lebar. Tubuh atletisnya tertutupi dengan tuxedo berwarna hitam. Rambutnya juga tidak tergerai lurus seperti kemarin.

Aku begitu takjub dengan dekor pestaku ini. Banyak mawar merah jambu terletak di sudut-sudut tiang.  Air mancur mini didekat altar pun rasanya begitu indah. Mataku mendadak kabur. Kuyakin karena air mataku yang rasanya ingin merembes keluar. Aku tidak dapat menggambarkan perasaanku sekarang bagaimana. Aku menikah…maksudku benar-benar akan menikah. Kakiku pun rasanya berat untuk terus melangkah menuju altar.

Appa menggenggam tanganku erat begitu kami sudah sampai di depan altar. dia menatapku pelas dan menyerahkan tanganku ke tangan Shim Hyunseong.

“Kau sangat cantik.” Bisik Hyunseong sebelum kami mengucap janji.

~~~

Author pov

Upacara pernikahan selesai, saatnya menjamu tamu yang hadir dalam pesta pernikahan. Hyunseong menarik Hye Mi begitu dia melihat segerombolan pria masuk kedalam ballroom, tempat dimana resepsi pernikahan mereka berlangsung.

Hyung~maafkan aku. Aku tidak bisa hadir dalam upacara pernikahanmu. Aku harus menangani operasi lagi.” Keluh lelaki dengan postur tinggi yang bernama Kwangmin membuka percakapan, disetujui dengan anggukan keempat orang lainnya.

“Tidak apa-apa. Kalian bisa hadir ditengah-tengah kesibukan kalian saja aku sudah senang.” Hyunseong mengurai senyumnya lagi. Kelima sahabatnya itu menghela napas lega lantas tersenyum.

“Jadi gadis cantik ini yang bernama Hye Mi?” Donghyun merangsek maju, mendekati Hye Mi yang sedari tadi diam. Hye Mi mengangguk lalu tersenyum.

Ne, Naneun Hye Mi imnida. Mannaseo bangapseumnida.” Hye Mi menundukkan kepalanya singkat.

“Namaku Kwangmin.” Lelaki berambut hitam memperkenalkan diri.

“Aku Youngmin.”

“Jeongmin desu.”

“Donghyun imnida.”

Majimak~Minwoo.”

“Ah~kalian membuat Hye Mi bingung.” Gurau Hyunseong. Hye Mi tersenyum simpul.

Anieyo~aku senang bertemu dengan kalian. Oh iya, sekalian aku ingin mengundang. Kalau kalian tidak sibuk, besok datang kerumah kami ya. Rencananya besok aku ingin membuat sate dan bakso. Temanku dari Indonesia akan datang, jadi kupikir akan lebih ramai jika kalian juga hadir.” Jelas Hye Mi. kelima lelaki itu mengangguk cepat mengiyakan permintaan Hye Mi.

“Dengan senang hati, Hye Mi. Bolehkah aku mengajak istriku? Mungkin dia bisa membantumu nanti. Dia ingin sekali bertemu denganmu, tapi dia tidak bisa datang sekarang. Dia sedang ada meeting dengan kliennya dari Jerman. Kurasa dia ingin design baju miliknya dijadikan icon di salah satu butik di Jerman.” Donghyun menjelaskan dengan detail, membuat Hye Mi berdecak kagum.

“Wah benarkah? Berarti eonni orang yang sangat hebat! Sampaikan salamku kepadanya ya, bilang aku mencarinya dan aku menunggu kedatangannya besok.”

Ucap Hye Mi yang disambut baik oleh Donghyun. Hyunseong menarik Hye Mi menjauh dari kelima temannya itu. Sebelumnya dia sudah mengisyaratkan kepada teman-temannya bahwa dia ingin bicara sebentar oleh Hye Mi.

Oppa, kenapa menarikku? Sangat tidak sopan ketika sedang berbicara kau menjauh begitu saja.” Protes Hye Mi, namun Hyunseong mengabaikan keluhan Hye Mi.

“Kau yakin mau mengadakan jamuan besok? Apa kau tidak lelah?” Tanya Hyunseong. Hye Mi terdiam dan menatap manik mata Hyunseong yang tengah menatapnya tajam, membuat Hye Mi terdiam dan tidak berani protes lagi.

“Temanku dari Indonesia akan datang ke Seoul besok, dia sengaja datang karena mendengar kabar pernikahanku. Namanya Byancha, dia dulu teman sekamarku saat diasrama kampus, namun dia hanya 3 smester berada di Korea. Sebenarnya dia ingin datang kemarin, tapi tidak ada tiket pesawat, baru besok dia mendarat di Seoul. Apa kau keberatan oppa?”

Hyunseong terperangah lalu menggeleng cepat, “Tidak…tidak, tentu saja tidak. aku hanya khawatir kau akan lelah, sejak kemarin kau selalu pulang malam, sekarang pesta dan besok harus menjamu orang.”

Nada khawatir Hyunseong membuat Hye Mi tersenyum senang. Lagi-lagi dia begitu beruntung lelaki yang sudah sah menjadi suaminya ini mengkhawatirkannya. Terlihat sekali Hyunseong benar-benar menjalankan perannya sebagai suami, walaupun dia baru saja sah menjadi suaminya dua jam yang lalu.

Hye Mi mengusap pelan pergelangan tangan Hyunseong sekaligus menatap mata sipit itu dengan lembut.

“Tenang saja oppa, ada kau yang bersamaku.”

Hyunseong tersenyum lalu mengusap pipi Hye Mi. Hye Mi sendiri terkejut kenapa dia bisa mengatakan hal itu. Apa mungkin aku mulai menerimanya? Batin Hye Mi.

Ya! Kalian masih punya waktu setelah ini, lebih baik temani kami.” Keluh Donghyun yang sedaritadi memperhatikan Hyunseong dan Hye Mi. Hyunseong dan Hye Mi langsung berbalik dan kembali bergabung bersama kelima temannya.

Semburat merahpun menghiasi kedua pipi mereka.

Ne Hyung. Sebaiknya kalian mulai menikmati santapan yang telah kami siapkan. Kajja.

~~~

Hyunseong pov

Maybach Landauletku telah terparkir di rumah baruku, terletak di kawasan Myeongdong. Kulihat Hye Mi terlelap disampingku. Wajahnya terlihat lelah, ya tentu saja dia lelah. Bayangkan saja, hampir 1000 tamu undangan yang dia temui hari ini.

Tanganku bergerak untuk memegang wajah putihnya dan entah kenapa aku menatap bibir mungilnya. Lama~dan itu membuatku hampir menciummnya, kalau saja aku tidak ingat kesepakatan yang kutawarkan dengannya.

Tak lama, tubuhnya menggeliat dan mata kenarinya sukses terbuka. Dia tampak terkejut melihatku yang tengah memandangnya.

“Sudah sampai kenapa kau tidak membangungkanku oppa?” Tanya Hye Mi sambil mengucek matanya. Aku hanya tersenyum dan melepas seat belt ku.

“Kau terlihat sangat lelah, aku tidak tega untuk membangunkanmu.” Gumamku pelan. Hye Mi tersenyum lagi lalu mengikuti langkahku untuk melepaskan seat beltnya.

“Tidak usah seperti itu oppa, aku malah merasa tidak enak jika kau seperti itu.”

Hye Mi beranjak dari duduknya lalu keluar dari Maybach Landauletku secepat yang dia bisa. Senyumku memudar. Gadis itu benar-benar tidak bisa ditebak. Terkadang dia tersenyum, tapi terkadang dia seperti tadi, terlihat muram dan kesal.

Akupun mengikuti jejaknya untuk keluar juga. Kulihat dia masih berkeliaran dihalaman depan, masih mengamati sekitarnya.

Oppa, kau yakin ini di Myeongdong?” Hye Mi menatapku bingung. aku mengangguk singkat dan bersandar di mobilku.

“Ya, ini memang di Myeongdong. Kenapa? Apa kau tidak suka tempatnya?”

Hye Mi menggeleng, “Aku suka tempatnya. Hanya saja aku belum pernah kekawasan ini, rumah ini membuatku merasa berada diluar Korea.” Ucapnya singkat lalu menuju pintu depan.

Aku mengamati rambut sebahunya yang bergerak mengikuti tubuhnya. Aku menghela napas lega, beruntung dia menyukainya.

Oppa, apa ini kamarku?” Tanya Hye Mi yang sudah duluan masuk kedalam rumah dan melihat-lihat seisi rumah. Aku mendekatinya dan mengangguk.

“Ya, benar itu kamarmu.”

“Darimana kau tau kalau aku suka warna biru?”

Aku tersenyum dan mengusap puncak kepalanya, “Bukan hal yang sulit untuk mengetahui apa yang kau suka. Sebaiknya kau istirahat. Besok kau akan menjamu tamu pertama kita.”

Author pov

Hye Mi mengangguk dan melangkah untuk masuk kedalam kamarnya. Namun, Hyunseong menahan pergelangan tangan Hye Mi, membuatnya berhenti melangkah masuk kedalam kamarnya.

Hye Mi sedikit terbelalak karena wajahnya sangat dekat dengan wajah Hyunseong sampai-sampai dia dapat merasakan nafas hangat Hyunseong yang berhembus dan menerpa pipinya.

O…oppa w…waegeurae?” Hye Mi bertanya gugup pada Hyunseong yang masih menatapnya tajam. Dan dengan sekali gerakan, bibir Hyunseong sudah mendarat dipermukaan bibir Hye Mi.

“Selamat malam.” Hyunseong akhirnya menjauh, dan memasuki kamarnya yang terletak persis disamping kamar Hye Mi. Sedangkan Hye mi masih terdiam diambang pintu kamarnya, memegangi dadanya yang berdesir.

“Dia…menciumku?” gumam Hye Mi pelan. dan semburat merah itu muncul di wajah ovalenya.

TBC

This entry was posted by kepangmusic.

10 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Only You – Chapter 02

  1. Yah~
    ko TFL sih?
    Lagi asyik-asyiknya baca nih thor T^T
    Hua~ i’m so jealous. Aku pingin jadi Hye Mi😥

    kyaaaak!!!
    Super duper kereeen. I like this. Mana aku lagi dengerin lagu hyunseong yg only you pula😄😄 DAEBAK.
    lanjutnya jangan lama-lama loh thor😄 ini bias ane yg ke-2 main nih❤

    Ku tunggu selalu lanjutan FF ini ^^ *walau rada telat dikit*
    wkwkwk..

    • akupun jealous dia bisa nikah sama hyunseong T^T *apa ini*
      waahh makasih ya kalo suka hehe, itu bonus karena udah mau meluangkan waktunya untuk RCL ff ini ^^
      iya, semoga saja inspirasinya lancar jadi cepat lanjut yaa hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: