[FANFICT/FREELANCE] Truly Deeply Love

Title : Trule Deeply Love
Author : Kim Sung Rin (@megaoktavias)
Genre : Romance
Rating : PG 15
Length : One Shoot
Cast : ~ Shim Hyunseong
  ~ Han Eun Min
Other cast : ~ No Minwoo

Disclaimer: Murni hasil pemikiran aku. Sebelumnya sudah di publish di ffcnblueindo.wordpress.com dengan judul yang sama, nama author yang sama, namun cast namja yang berbeda dan dengan beberapa bagian yang aku edit.

A/n : Annyeonghaseyo *melambai bersama adik kembar jo twins* mianhae aku datang kemari (?) bukan untuk mempublish terusan dari only you, malahan membawa FF lain #plak

Ini ff udah lama, dan tadi baru baca lagi. Dan tergoda untuk membagikannya dengan bestfriend sekalian *smile* dengan cast my nampyeon aa hyunseong *kiss hug him tightly*

Don’t be a plagiator! Coment, kalo bisa like juga kkkkk~

Dan saran membangun sangat sangat sangat aku tunggu demi kebaikan aku dimasa depan.

Happy reading \(^o^)>

~~~

Eun Mi meregangkan otot-ototnya. Dia masih enggan untuk turun dari kasurnya padahal perutnya sudah meronta. Malahan dia semakin merapatkan selimut yang sejak tadi melindungi tubuhnya.

Kondisinya memburuk sejak tiga hari yang lalu, saat Hyunseong memutuskan untuk menyudahkan tali pertunangan mereka. Sebuah tamparan yang keras bagi Eun Mi, karena dia sudah terlanjur mencintai calon suaminya itu.

Perutnya kembali meronta, kali ini Eun Mi bangkit untuk meraih roti kering yang tersimpan di kamar tidurnya. Tatapan gadis itu kosong, seperti hatinya yang ditinggal pergi oleh Shim Hyunseong.

Argh!” lagi, gadis itu melempar satu-satunya frame foto yang masih berdiri tegak dikamarnya. Yah, frame itu berisi foto Hyunseong yang tengah mengecup pipinya.

“Kau bajingan Shim hyunseong!” pekiknya murka. Tiga hari ini dia habiskan sia-sia untuk memaki dan menyumpah Hyunseong. Kamarnya pun seperti hutan rimba, tidak ada satu space pun yang membuat penglihatannya semakin membaik.

Gadis itu beranjak kedepan cermin besar dikamarnya. Dia terlihat kacau, dengan mata yang mulai dihiasi oleh lingkar hitam. Rambut yang kusut dan tubuh yang semakin kurus. Sebenarnya Eun Mi tidak mau terpuruk seperti ini, hanya saja hatinya berkata lain. Dia tidak mampu menyimpan kesedihannya, untuk itulah dia tega mengubah kamarnya yang selalu bersih menjadi hutan rimba.

Suara bel apartmennya menggema, Eun Mi kesal dibuatnya karena seseorang yang berada didepan apartmennya menekan bel dengan beruntun.

“Siapa sih? Menyebalkan!” gerutunya sambil melirik kelayar intercom.

Dengan satu sentuhan dilayar intercomnya, pintu apartmennya terbuka dan didorong oleh seorang kurir yang memegang amplop coklat ditangannya.

Kurir itu sedikit terkejut menatap Eun Mi yang berdiri beberapa meter dari hadapannya. Dengan takut-takut dia menyerahkan amplop ditangannya ke Eun Mi.

“Hei! Biasa saja! Aku ini manusia kok, jangan menatapku seolah aku ini hantu!” Gerutu Eun Mi kesal. Kurir tersebut tersentak lalu nyengir, sepertinya dia lega mendapati orang yang berdiri dihadapannya adalah manusia.

“Ini, tanda tangan disini.” Eun Mi mencoret asal kertas putih yang disodorkan oleh kurir itu, sebelum kurir yang diketahui bernama Park Joe Hwang pergi dari apartmennya.

Gadis itu menghempaskan begitu saja amplop yang  baru diterimanya di mini bar dapurnya. Sedikit tak berniat untuk mengetahui isinya, dia melengos begitu saja menuju ruang tengah.

~~~

Eun Mi pov

Semerbak aroma kopi memanjakan indra penciumanku begitu aku memasuki delCafe -café milikku. Cukup ramai, seperti biasanya. Pemuda berambut coklat yang berada dibalik mesin kasir itu mengalihkan pandangannya menuju pintu dan seketika senyumnya melebar.

Noona, kau kesini?” Minwoo, yang merupakan pegawaiku disini, bergegas menghampiriku. Jelas saja dia senang, hampir seminggu aku tidak menyambangi tempat ini berkat rasa sakit hatiku kepada Shim Hyunseong. Aku mengangguk lalu mengacak puncak kepalanya, “Apa kabarmu Min?”

Pemuda berwajah imut itu mengerucutkan bibirnya, “Buruk semenjak tidak ada kau, noona. Aku tidak punya teman makan siang!”

Pernyataannya mengundang tawaku dan kembali mengacak puncak kepalanya dengan gemas. Ya, sudah menjadi kebiasaan baginya untuk selalu membawa bekal ketika bekerja, dan kebiasaan itu sama denganku. Sejak kecil, ibuku membiasakan diriku untuk membawa makanan yang telah dibuatnya. Selain lebih sehat dan terjamin, tentu lebih irit bukan?

Mianhae, aku terlalu sibuk dengan perasaanku, Min.” Minwoo mengernyit lalu menghela napas sebelum akhirnya dia menyelipkan tangan di apronnya, “Kenapa lagi lelaki bermata sipit itu?”

Aku menghela napasku. Rasanya begitu berat membagi cerita pahit kepada orang walaupun Minwoo merupakan teman curhatku dan begitupun sebaliknya.

“Ayolah noona, tanpa kau jawab pun aku sudah tau kalau memang benar dia orangnya.”

Aish sudahlah, masalah itu kita bicarakan nanti. Sebaiknya kau bergabung dengan kedua temanmu yang sedang sibuk melayani pelanggan.” Aku mengedikkan kepala menunjuk dua orang yang memang sedang kelimpungan karena antrian pelanggan yang menumpuk. Minwoo menepuk keningnya, “Astaga! Karena keasikan ngobrol denganmu aku jadi lupa tugasku! Baiklah noona, sampai nanti!”

Minwoo bergabung dengan kedua teman lainnya yang sedikit bernafas lega. Aku melangkahkan kakiku menuju ruangan yang resmi menjadi kantorku sejak café ini dibangun dan menjadi lahan bisnisku.

Satu-satunya frame foto yang berdiri tegak di meja kerjaku membuatku merasa sesak untuk yang kesekian kalinya. Bagaimana tidak? disana terpampang jelas wajah tampan seorang yang telah mengacak-acak relung hatiku yang tadinya bersinar dan berbunga-bunga.

Kuambil frame foto itu lalu menjejalkannya disebuah laci. Aku tidak tahan hanya sekadar melihat wajahnya kendati itu hanya di foto.

Kulirik berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjaku. Yah ini laporan keuangan selama seminggu ini. Senyumku sedikit mengembang karena nyatanya sepeninggalanku, terjadi peningkatan pada pemasukan.

Pintu kantorku terbuka, tak lama kepala Minwoo tersembul dibaliknya.

Noona, ada yang ingin bertemu denganmu.”

Aku mengerutkan keningku, seingatku aku tidak membuat janji dengan orang lain, “Siapa?”

Minwoo tersenyum kikuk, “Sebaiknya kau melihatnya sendiri noona. Dia duduk dimeja nomor 24.”

Aku melepas kacamata yang sempat bertengger dihidungku lalu menyusul Minwoo.

“Shim Hyunseong?”

Lelaki itu mengalihkan perhatiannya pada Mocca Latte yang sudah terhidang didepannya, “Oh Hai, apa kabar?”

Aku tidak menjawab. Rasanya seperti lelucon menanyakan kabarku setelah dia memutuskan tali pertunangan kami.

“Apa kau sudah menerima paket dariku?”

Aku mengernyit dan mulai berfikir dan seketika mataku membulat,

“Ya, amplop coklat itu kan? Sudah seminggu yang lalu.”

“Lalu?” tanyanya ragu.

Aku menatapnya heran, “Apa maksudmu hah?”

Nampaknya Hyunseong lebih heran dibanding aku. Dia menyesap mocca latte yang daritadi hanya diaduk-aduk olehnya.

“Jangan-jangan kau belum membacanya ya?” Tanya Hyunseong yang sediki khawatir. Aku mengangguk mantap, “Ya, memang aku belum menyentuh lagi amplop pemberianmu itu.”

Hyunseong menghela napasnya lalu meneguk mocca lattenya hingga tak tersisa. Aku menangkap gelagat aneh dari raut wajahnya, “Sebenarnya apa isi amplop itu?”

Hyunseong menatapku, “Itu hal yang sangat penting, kau tau? Aigoo bagaimana bisa gadis ini mengabaikannya!” gumamnya pelan. Jari-jarinya mulai mengetuk tak sabar di meja.

“Baiklah aku akan melihatnya nanti malam, ada urusan lagi? Pekerjaan sedang menungguku, tuan Shim Hyunseong.”

Lelaki didepanku ini menggeleng pasrah. Dan tanpa menunggunya lenyap dari hadapanku, aku sudah melangkah kembali menuju kantorku.

~~~

Noona jadi sebenarnya apa yang terjadi?” seloroh Minwoo begitu dia duduk dihadapanku.

“Hei aku tidak tertarik membicarakan itu lagi, aku lebih tertarik bekal makan siangmu. Cepat keluarkan! Aku hanya membawa kimchi dan japchae daging. Buru-buru Minwoo menarik kotak bekalnya, “Syaratnya kau harus cerita dulu, baru boleh tau!”

Aku mendecak kesal sementara pemuda dihadapanku ini nyengir tanpa dosa, “Arra arra, cepat buka bekalmu!”

Dengan kekehan kemenangan dia membuka kotaknya dan aroma yang berasal dari sogogi bokkeum –tumis sapi pedas- serta sundubu chigae –sup tofu dan sayuran- menusuk hidungku.

“Ini enak sekali Minwoo~ah!” desisku begitu rasa pedas sogogi bokkeum menyentuh lidahku, “Eommamu benar-benar hebat!”

Minwoo hanya tersenyum dan mengikuti jejakku untuk menyantap makan siangnya.

“Ngomong-ngomong aku sampai lupa! Sebenarnya apa yang terjadi antara dirimu dan lelaki itu?”

Aku sontak menghentikan aktivitas mengunyahku lalu menatapnya tajam, “Haruskah kau mengetahuinya?”

Minwoo mengangguk cepat, sepintas dia tampak seperti bocah taman-kanak-kanak melakukan hal itu.

“Lelaki itu memutuskan tali pertunangannya denganku!”

Yah, aku yakin mata Minwoo akan membulat dan mulutnya akan menganga, “Kau serius noona?”

Aku mengangguk, “Super serius! Makanya aku muak melihatnya tadi. Mengesalkan sekali!”

Minwoo mengernyit, “Tapi, aku melihat gurat kekecewaannya saat dia meninggalkan café tadi. Apa itu ada hubungannya denganmu?”

Aku mengernyit, seorang Shim Hyunseong kecewa? Atas dasar apa lelaki itu kecewa? Aku berusaha mengingat-ingat. Saat bertemu denganku dia kan membicarakan amplop itu.

“Entahlah, dia mengirim paket untukku dan aku tidak membukanya setelah aku mendapatkannya seminggu yang lalu.” Aku mengedikkan bahuku, “Sudahlah itu tak penting! ayo makan!”

Minwoo yang sempat terbengong pun akhirnya kembali menyantap makan siangnya yang super enak itu.

~~~

Kuhempaskan tasku ke atas mini bar dapurku. Aku menghampiri kulkas dan meneguk air mineral yang tersimpan didalamnya.

Tak sengaja, mataku menangkap amplop coklat yang dikirim Hyunseong minggu lalu. Ah~ hampir saja aku lupa untuk membukanya padahal aku sangat penasaran semenjak Hyunseong datang dan menyuruhku untuk membukanya siang tadi.

Mataku terbelalak, ini jelas sebuah undangan! Belum selesai aku membukanya hingga terbebas dari amplop coklat itu air mataku ini keluar begitu saja. Tanganku bergetar dan dadaku sesak.

Jadi ini yang diinginkannya? Membuatku lebih terpuruk? Ah~dasar namja sialan! Untuk apa dia menyuruhku membukanya? Dan bodohnya aku kenapa menurutinya?

Kulempar amplop coklat itu sebelum aku masuk kedalam kamar, tampaknya tubuh dan perasaanku sangat kompak sekarang ini. Sama-sama lelah!

~~~

Author pov

Tiga hari sudah Eun Mi tidak menyambangi delCafe. Bukan tanpa alasan gadis itu tidak menyambangi lahan bisnisnya, dia terkena demam yang mengharuskan dia terbaring di apartmennya.

Kali ini dia tidak bisa diam melihat ponselnya yang berkali-kali bergetar.

“Hyunseong, Hyunseong, Hyunseong, Hyunseong, Hyunseong, Hyunseong, Minwoo, Hyunseong, Hyunseong.” Mulut kecilnya bergumam membaca daftar panggilan tak terjawab di ponselnya.

“Untuk apa lelaki itu menghubungiku setelah dia menyakiti hatiku?” maki Eun Mi sambil menghempaskan ponselnya.

Bel apartmennya menggema, membuat Eun Mi mendecak kesal karena artinya dia harus meninggalkan kasurnya.

“Cepat sekali sih pesananku datang!”

Dengan gontai, Eun mi berjalan menuju layar intercom dan menyentuh layarnya untuk membuka pintu apartmen.

“Mana pesanan…” kalimatnya terputus begitu menyadari yang datang bukanlah kurir makanan cepat saji yang dipesannya 35 menit yang lalu. Lelaki yang berdiri dihadapannya adalah Shim Hyunseong, seseorang yang paling tidak ingin ditemui olehnya untuk sekarang ini.

“Ada apa?” begitulah kata yang terucap menyambut kedatangan Hyunseong. Senyum lelaki itu sedikit sirna, “Aku ingin mengunjungimu, apa tidak boleh?”

“Tidak boleh!” balas Eun Mi mantap. Hyunseong semakin merasa aneh, “Kau masih belum membuka amplop coklat itu?”

Kedua tangan Eun Mi kini melipat didepan dadanya, “Untuk itu kau datang kemari? Untuk memberitahu berita bahagiamu yang akan menikahi gadis lain?”

“Apa yang…hei kau tidak membaca undangan itu kan?” Hyunseong semakin tak sabar sekarang. Eun Mi masih menatap Hyunseong kesal, heran kenapa daritadi yang dibahasnya adalah amplop coklat itu.

“Kenapa kau terus menanyakan hal itu?! Aku muak mendengarnya!”

Eun Mi menutup pintu apartmennya namun dia kalah cepat dengan Hyunseong yang menahan pintu tersebut dan menerobos apartmen Eun Mi tanpa seizinnya.

YA!! Jangan masuk tanpa seizinku!”

Teriakan Eun Mi sepenuhnya diabaikan oleh Hyunseong yang mulai mencari-cari wujud amplop coklat itu.

Ya! Kuperingatkan kau Shim Hyunseong!” lagi, Teriakan Eun Mi diabaikan oleh Shim Hyunseong.

Matanya menangkap benda coklat yang tengah dicarinya itu dibawah meja ruang tengah milik Eun Mi. Hyunseong bergegas kesana dan menarik amplop itu dengan tak sabar dan mengeluarkan isinya yang merupakan undangan pernikahannya.

“Shim Hyunseong kumohon! Jangan tunjukkan itu kepadaku.” Kini Eun Mi telah berdiri dibelakang Hyunseong, dia menangis. Gadis itu tidak baik-baik saja semenjak tali pertunangan mereka putus. Hyunseong menghampirinya lalu memeluknya. Tangannya mengelus rambut panjang Eun mi yang tergerai kusut.

“Aku tau kau akan bahagia dengan gadis itu Shim Hyunseong, jadi kumohon jangan menunjukkannya kepadaku.” Pinta Eun Mi disela isak tangisnya.

Perlahan Shim Hyunseong menatap gadis yang tengah dipeluknya lalu memandangnya sayu. Dihelanya air mata gadis itu dengan ibu jarinya.

“Kau sudah melihat undangannya kan?” Hyunseong bertanya untuk kesekian kalinya. Eun Mi mengangguk ragu, “Aku tidak melihat semuanya.”

Hyunseong tersenyum kecil, “Kau tidak penasaran dengan calon pengantin wanitanya?” goda Hyunseong yang membuat raut wajah Eun Mi semakin suram.
Tangis Eun Mi pecah lagi, kali ini disertai pukulan ke dada bidang lelaki yang berdiri dihadapannya.

“Kau gila?! Kau benar senang melihatku menderita kan? Jadi begini caramu menyakitiku? Kau keterlaluan Shim Hyunseong!” racau Eun Mi tak jelas karena isak tangisnya menggema bersamaan.

Hyunseong menyodorkan undangan berwarna ungu muda itu tepat didepan wajah Eun Mi, “Baca baik-baik siapa nama yang tertera didalamnya.”

Eun Mi mengikuti saran Hyunseong dan membacanya perlahan.

“Shim Hyunseong dan Han Eun Mi.” baca Eun Mi kesal namun beberapa detik setelah itu matanya membelalak, “Han Eun Mi? Han Eun Mi itu aku. Jadi kau…”

Hyunseong mengangguk mantap dan melebarkan tangannya untuk menyambut pelukan dari Eun Mi, “Benar sayang, kau yang akan kunikahi.”

Eun Mi masih tak percaya, dibacanya lagi undangan yang sudah terhempas di sofa ruang tengah. Dan benar, nama Han Eun Mi tercetak jelas disana.

“Ayolah, kau tidak ingin memelukku setelah mengetahui kabar bahagia ini?”

Eun Mi menghampiri Hyunseong, tapi bukan untuk memeluk lelaki tersebut, melainkan menghujani tubuh kekarnya dengan pukulan-pukulan.

Ya! Han Eun Mi apa-apaan kau ini?!” pekik Hyunseong sambil menghindari Eun Mi. Gadis itu menatap kesal Shim Hyunseong, “Babo! Kau pikir pertunangan adalah hal yang main-main? Dengan begitu kau bisa seenaknya memutuskannya? Apa kau tau bagaimana rasanya aku setelah itu? Babo! Kau benar-benar lelaki brengsek Shim Hyunseong!” pekik Eun Mi kesal. Sudah tak terhitung lagi berapa jumlah pukulan yang mengenai tubuh kekarnya.
GREB!

Tangan Hyunseong berhasil mendarat di pinggang Eun Mi dan menarik tubuh gadis itu hingga jatuh kedalam pelukannya.

“Yah aku tau ini gila, tapi aku ingin melakukan hal romantis untukmu. Kau kan selalu bilang aku tidak pernah romantis, itu membuatku berfikir untuk melakuhan hal ini. Kukira kau akan senang tapi kau malah salah paham dan marah kepadaku. Maafkan aku.”

Suara lembut Shim Hyunseong membuat Eun Mi iba, gadis itu memutuskan untuk memeluk tubuh Shim Hyunseong, “Lebih baik kau jadi dirimu sendiri, aku lebih suka yang seperti itu.”

Hyunseong pun tersenyum dan mengeratkan pelukannya kepada Eun Mi, “Gomawo, kau sudah ingin menjadi istriku.”

Eun Mi menarik dirinya dari pelukan Hyunseong, “Memangnya aku bilang ingin menikah denganmu?”

YA! Han Eun Mi!”

~~~

Eun Mi pov

Disinilah aku. Berjalan perlahan berpijak pada karpet merah yang membentang dibawahku. Tangan hangat appa membuatku tidak gugup dan berjalan dengan yakin menuju seseorang yang telah berdiri diujung sana, yang tersenyum sejak tadi. Aku menghantarkan senyuman tersirat berjuta kebahagiaan kepada tamu undangan. Sempat kulihat Minwoo melambai kearahku begitu aku meliriknya. Ah~ dia terlihat tampan dan dewasa mengenakan setelan jas hitam formal itu.

Pandanganku beralih ke wanita paruh baya yang tersenyum penuh haru. Ya, dia ibuku. Aku tersenyum memandangnya, berusaha menguatkannya yang daritadi sibuk menghela air mata yang berkumpul di ekor matanya.

Kini saatnya appa memberikan tanganku kepada seorang lelaki yang akan menjadi suamiku beberapa menit mendatang. Tangan hangat appa berganti dengan tangan lembut dia, Shim Hyunseong.

“Kau terlihat sangat cantik hari ini.” Bisiknya sebelum kami berucap janji. Kusunggingkan senyum tulus kepadanya.

“Kau juga terlihat tampan.”

~~~

Setelah resepsi pernikahan kami usai, kami memutuskan untuk berjalan-jalan di pantai Haeundae. Hyunseong yang mengajaknya karena dia begitu suka dengan pantai.

Semilir angin membawa rambutnya bertebangan sehingga membuat bentuknya tidak serapih tadi, tapi justru membuatnya dua kali lebih tampan.

Yeobo, apa kau bahagia menikah bersamaku?”

Aku menunduk sambil menendang-nendang pasir yang tersebar dibawahku, “Menurutmu bagaimana?”

Langkahnya terhenti, membuatku ikut-ikutan berhenti dibuatnya. Bibirnya mengerucut dan menatapku kesal, “Kau selalu begitu jika ditanya. Jawab saja pertanyaanku!”

Aku tertawa, ya ini pertama kalinya aku melihatnya bermanja-manja seperti anak kecil begini. Dengan pasti, aku menganggukkan kepalaku, “Ya aku bahagia. Sangat bahagia.”

Senyumnya perlahan merekah dan dia menatapku, “Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan satu hal sayang.”

“Apa itu?” tanyaku sedikit bingung. Wajahnya mendekat dan mengecup bibirku sekilas.

Ya! Kau ini! Ini kan tempat umum!”

Hyunseong tertawa lalu mengacak rambutku dengan gemas, “Memang dan aku sengaja melakukannya.”

Ish Babo kau!” decakku kesal. Kami melangkah lagi menyusuri bibir pantai sembari menunggu matahari kembali ke peraduannya.

“Oh iya dan satu hal lagi.”  Lagi, langkahnya terhenti dan kembali memandang wajahku. Kali ini pandangannya jauh lebih lembut dari sebelumnya.

Aku menatapnya malas. Kenapa saat dia melakukan hal romantis yang selama ini aku inginkan aku malah tidak suka.

Saranghae.” Bisiknya pelan ditelingaku. Oh, dia masih ingat mengatakan itu rupanya dan hal itu membuat jantungku berdegup berknot-knot. Aku tersenyum, kali ini dia berhasil membuatklu benar-benar tersentuh dengan ucapan sederhana tapi bermakna itu. Senyumnya begitu menawan, membuatku tidak tahan untuk tidak memeluknya sekarang ini.

Nado.” Balasku pelan, masih menghambur dipelukannya.

Dalam remang senja, dia kembali menciumku.

Hyunseong memulainya perlahan.

-THE END-

This entry was posted by boyfriendindo.

10 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Truly Deeply Love

    • surely kamu boleh panggil unni🙂 *kibas rambut*
      kkk~ entah kenapa aku belum lajutin FF yang satu itu T^T tiba-tiba tidak tau mau dibawa kemana hyemi dan hyunseong (tapi kalo aa hyunseong dibawa kerumahku ajasih XD)
      doakan ya supaya aku dapet ilham (?) ~~~~~~~~~~~~~

  1. eonni keren. aku suka ff yang dibin Eonni. walau aku baru baca 2 ff Eonni (yanf Only You sama yang ini) hehehe

    terus berkarya yah Eonni😀

  2. Uwa~ Hyunseong ku di ambil T,T
    tapi keren ko thor😄

    Oiya, yg Only You cepet di lanjut ya. Coz ane suka banget sama entu epep😄
    boleh minta nama fb eonnie?😄

    • Mega Zukhriati Oktavia🙂

      Insya Allah cepet dilanjut, UTS dulu ya🙂

      oh iya makasih ya semua yang udah baca :*

  3. Ini ff kenapa unyu banget -_- Di awal cerita gue sampe stress garagara mikirin kok hyunseong jahat .. Eh untung authornya kreatif heheh daebak~ btw belom baca only you ._.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: