[FANFICT/FREELANCE] Be My Shine (Jeongmin’s Love Story)

Title 
: Be My Shine
Author   : Alifya Anandiani
Genre         : Romance
Rating          : G
Type   : One Shoot
Main Casts      
: ~ Lee Jeongmin
  ~ Kim Chae Rin

 

JeongMin POV

Annyeonghaseyo, ceoneun Lee Jeong Min imnida! Aku adalah namja terkeren di sekolah menengah ini, ya mungkin juga aku adalah namja terkeren di Korea Selatan. Setiap aku lewat di koridor sekolah, pasti sosok menawanku ini akan mencuri semua perhatian. Jangankan untuk seorang youja atau noona, di mata namja lainpun aku tetap mempesona.

Aku berjalan di lorong sekolah yang biasa aku lewati jika ingin pergi ke kelas, semua orang yang ada di sekitarku mulai bergerak slow motion. Aku tahu aku tampan. Akupun berjalan menghiraukan mereka dengan kepala yang sedikit diangkat.

Dari kejauhan aku melihat youja yang aku suka menghampiriku. Dia adalah youja tercantik di sekolah ini. Rambutnya terurai panjang, senyumnya manis dengan lesung pipi yang ada di kedua sisi pipinya yang putih, kulitnya halus, matanya besar dengan bulu mata panjang yang lentik. Dia sangat cantik.

Semakin lama ia semakin dekat dan..

“YA, JeongMin jelek! Berhentilah mengirimi ku pesan – pesan menjijikan, gara – gara kau aku harus mengganti nomer ponselku setiap minggu! Dan gara – gara kau juga, aku selalu ditertawakan teman sekelasku karena dikejar – kejar pecundang sepertimu!” teriak youja manis itu mengejutkanku.

Diapun segera berbalik meninggalkanku yang berdiri mematung. Tiba – tiba terdengar suara tawa orang – orang yang membuatku tersadar, akupun sontak menoleh ke arah sumber suara.

“Kau pikir kau siapa sampai berani – beraninya menyatakan cinta pada gadis secantik Hye Ra.. hahaha,” ucap salah satu dari mereka, akupun hanya mempercepat langkahku dan masuk ke kelas.

Sesampainya di kelas, aku langsung menghampiri bangku ku yang ada di baris ke tiga dan duduk. Tidak lama, ponselku berbunyi dan menunjukkan satu pesan. Akupun membuka pesannya dan ternyata pesan itu adalah fotoku yang terlihat seperti orang babo saat ditolak mentah – mentah oleh Hye Ra beberapa menit yang lalu! Eomeo! Nan babo gatha! Aku harus melakukan operasi plastik untuk mengubah wajahku dan terlahir sebagai orang baru! Bukan Lee JeongMin! Tapi aku tidak punya uang untuk operasi plastik! Atau seharusnya tadi aku membawa topeng Scream yang biasa aku gunakan untuk menakut – nakuti MinWoo saja ya?

Saat aku mengalihkan pandanganku dari ponsel, ternyata semua orang di kelas sedang memandangku sambil menahan tawa. Jangan bilang kalau mereka..

“Chukae, Lee JeongMin! Ini adalah ke 37 kalinya kau di tolak di sekolah ini.. hahaha,” ledek SoYu padaku. Shit! Ternyata pesannya disebarkan ke semua orang!

“Kau boleh tertawa sepuasmu sekarang, tapi nanti..”

“Nanti apa? Aku akan tertawa lebih keras lagi.. hahaha,”

Aish! Dia membuat ku semakin kesal saja, kalau saja dia bukan youja atau teman ku sejak taman kanak – kanak, aku pasti sudah menarik bibirnya sampai seperti Tukul atau ‘Tak sobek – sobek!’.

Ne, itulah kenyataannya! Aku bukanlah namja terkeren di sekolah ini, atau namja terkeren di Korea Selatan. Aku hanyalah seorang pecundang yang selalu mengalami cinta sepihak. Aku mudah sekali jatuh cinta dan semudah itupula aku ditolak. Itu sebabnya aku tidak pernah berpacaran, tidak pernah memiliki youjachingu..hiks. Aku tahu, nasibku memang malang.

Aku merasa aneh, kenapa tidak ada satupun youja yang menyukaiku padahal aku cukup tampan dan keren *bukan bermaksud narsis ya, tapi itulah faktanya!*. Selain itu aku tidak terlalu babo, aku juga baik dalam pergaulan, memiliki suara indah dan aku pandai memainkan alat musik. Bukankah hal itu yang biasanya banyak diinginkan youja? Ada seorang namja yang bermain piano sambil bernyanyi untuknya? Aku bahkan pernah melakukan itu untuk youja yang pernah ku sukai saat di kelas sepuluh, tapi yang aku dapatkan malah sirup lengket di rambut.

 

“Aku kutuk kau tidak akan memiliki youjachingu seumur hidupmu!”

 

“Kenapa tiba – tiba kenangan itu teringat lagi ya? Hah, mana mungkin hal – hal seperti itu terjadi! Itukan hanya ucapan seorang anak berusia 4 tahun,” ucapku sambil menggeleng – gelengkan kepala dengan keras dan menepuk – nepuk pipiku.

Tiba – tiba bel sekolah berbunyi menandakan kelas akan segera dimulai dan menunjukkan Guru Seo di ambang pintu. Guru Seo pun masuk ke dalam kelas dan ternyata ia tidak sendirian, ia diikuti oleh seorang youja yang berjalan di belakangnya. Youja itu memiliki rambut pendek yang manis dengan warna yang sedikit kecoklatan, matanya memiliki kelopak mata ganda yang sempurna, wajahnya kecil dan.. neomu neomu yeopo! “Mati seribu tumbuh satu” ucapku dalam hati *perumpamaan ini tidak salah, aku memang ditolak banyak youja dan yang muncul memang hanya satu. Jadi menurutku ‘Mati satu tumbuh seribu’lah perumpamaan yang salah! Kau tau, itu terlalu berlebihan!* Forget it!

“Ayo, perkenalkan dirimu!” ucap Guru Seo.

“Annyeonghaseyo, ceoneun  Kim Chae Rin imnida! Aku berharap kita dapat berteman baik,” ucapnya lalu membungkukkan badan.

 

Jam Istirahat..

 

Aku merasa sangat bosan, jadi aku memutuskan menghabiskan waktu istirahat di ruang musik daripada di kantin. Apalagi sejak insiden tadi pagi, pasti semua orang akan berbisik – bisik atau tertawa kecil saat melihat ku. Cih, menyebalkan!

Aku mulai meletakkan tanganku diatas piano dan memainkan Kolibre. Sudah lama tidak bermain piano membuat tanganku mudah merasa lelah saat memainkan musik yang cepat.

Saat permainanku selesai, terdengar suara tepuk tangan seseorang dari ambang pintu. Aku refleks menoleh untuk mengetahui siapa itu. Saat pandanganku sudah mengarah ke pintu, aku mendapati Kim Chae Rin sedang berdiri di sana.

‘Apa yang sedang dia lakukan?’ ucapku dalam hati.

Diapun menghampiriku dan duduk di sebelahku.

“Aku tidak tahu kalau kau pandai bermain piano, Jeongminnie!” ucapnya

‘Bagaimana dia bisa mengetahui namaku?’

“Apakah sekarang kau sudah mempunyai youjachingu?”

‘Kenapa dia bertanya seperti itu? Jangan – jangan dia tertarik padaku,’

“YA! Kenapa kau menunjukkan ekspresi aneh begitu? Apa kau tidak ingat denganku?” ucap youja itu dengan sedikit berteriak.

‘Aku tidak tahu kalau anak mungil dan manis seperti dia bisa mengeluarkan suara seperti itu,’

“Museun soriya?” tanyaku.

Chu~

Tiba – tiba dia mencium pipiku. Ada apa dengan anak ini?

“Apakah sekarang kau sudah ingat?” tanyanya.

“YA, kenapa kau menciumku? Anak gadis tidak boleh melakukan itu,” ucapku  mulai salting tanpa menjawab pertanyaannya.

“Ah.. ternyata kau benar – benar tidak ingat padaku! Padahal dulu kita berjanji untuk menikah,”

“MWO?” pekikku.

“JeongMin-ah, kau membuat telingaku sakit! Apa kau tidak ingat? Dulu kita selalu bermain setiap hari, kau juga selalu minta dicium dan kita bahkan pernah berjanji untuk menikah suatu hari nanti. Tapi kau tiba – tiba membuangku hanya karena Yoo Ri jelek itu!” ucapnya dengan suara keras.

‘Bagaimana mungkin tubuh semungil itu bisa mengeluarkan suara yang begitu keras?’ rintihku dalam hati.

“Aigoo aigoo aigoo.. Kau yang membuat telingaku sakit! sebenarnya kau ini siapa?” tanyaku.

“AHHH!!! Bagaimana mungkin JeongMin-ssi tidak mengenalku? Hiks hiks..” rengeknya dengan suara keras sambil menghentak – hentakkan kaki.

‘Eomeo! Berapa usianya sampai merengek seperti anak TK? Ah.. aku benar – benar jadi ilfeel!’

“Baiklah! Apa kau ingat ini, ‘Aku kutuk kau tidak akan memiliki youjachingu seumur hidupmu!’”

 

“Aku kutuk kau tidak akan memiliki youjachingu seumur hidupmu!”

 

“Neo? NEO!!”

“Ne~ Op-pa! Annyeong!” ucapnya sambil beranjak pergi meninggalkanku yang duduk terpaku menatap punggungnya yang mulai menjauh dan menghilang dari jangkauan pandang.

Dia? Gadis berumur 4 tahun menyebalkan yang telah mengutukku! Tapi bagaimana mungkin kutukannya benar – benar terjadi? Apa jangan – jangan dia itu.. ah, mana mungkin! Tapi dia tahu kalau sampai sekarang aku belum mempunyai youjachingu, berarti dia juga tahu kalau kutukannya akan ampuh.

Bagaimana mungkin dulu dia bisa menjadi cinta monyet sekaligus cinta pertamaku? Anak aneh seperti itu?! Untung aku tahu lebih awal, jadi aku tidak keburu menjadikannya targetku. Mungkin kalau dia sedikit pendiam dan bersikap lugu ditambah dengan wajahnya yang manis dan tubuh mungil itu, aku pasti sudah menyukainya. Tapi kenyataannya, dia adalah gadis mungil manis menyebalkan kekanak – kanakkan bersuara keras yang terkutuk!

 

Satu Minggu Kemudian..

 

“Annyeonghaseyo, Oppa!” teriaknya padaku yang sedang tertidur di kelas. Akupun langsung mendongakkan kepalaku.

“Mwo? Sepagi ini kenapa kau sudah menggangguku?” tanyaku dengan wajah yang masih kusut.

 

Ne! Sekarang setiap hari dia selalu mengikuti dan menggangguku. Aku tidak tahu sebenarnya apa yang dia inginkan dengan selalu membuntutiku. Padahal dia sudah menggeser posisi Hye Ra sebagai gadis terpopuler di sekolah sampai – sampai dia selalu mendapatkan banyak surat dan hadiah di lokernya setiap pagi. Tapi karena keberadaanya juga kepopuleranku sedikit meningkat, pecundang di sekolah sekarang malah dibuntuti oleh youja terpopuler yang otomatis telah memberikan tamparan ke semua wajah orang – orang yang mengejekku. Tapi aku sama sekali tidak merasa senang akan itu.

 

“Chae Rin-ah, bisakah kau berhenti membuntutiku?” ucapku sambil mengucek – ngucek mata yang masih melihat dengan rabun.

“Apa maksudmu, Oppa? Kita kan sudah ditakdirkan untuk selalu bersama,” ucapnya kelewatan riang dengan kedua kelopak mata yang dikedip – kedipkan.

“Haaah… terserah padamu saja!” balasku sambil beranjak dari bangku dan mulai meninggalkan kelas. Aku terus berjalan ke arah toilet dan bisa aku rasakan kalau Chae Rin masih membuntutiku. Akupun menoleh ke arahnya,

“Chae Rin-ah, aku ingin ke toilet,” ucapku.

“Aku akan menunggumu di luar,” balasnya.

“Apa yang akan dipikirkan oleh orang – orang kalau ada seorang youja yang berdiri di depan toilet namja? Pergilah, nanti kita bertemu di kelas!”

“Ne, Oppa!” ucapnya dan mulai mengerucutkan bibirnya menunjukkan kalau ia kesal.

Aku melihat punggung Chae Rin yang mulai menjauh dan mulai tak tertangkap jangkauan mata. Akupun berbalik dan meneruskan jalanku, sebenarnya ke toilet itu hanyalah sebuah alasan agar Chae Rin tidak mengikutiku.

Aku berjalan ke arah taman belakang sekolah untuk meneruskan tidur siangku sampai jam istirahat selesai. Sampai di sana, aku mendapati Hye Ra sedang menangis tersedu sambil berusaha menahan suaranya agar tidak terdengar oleh orang lain karena taman belakang sekolah ini cukup sepi.

Akupun menghampiri dan berdiri di depannya yang sedang menatap tanah. Karena menyadari keberadaanku, ia dengan lekas menghapus air matanya dan mendongakkan kepala menatapku.

“Apa yang kau lakukan di sini, JeongMin-ssi?” tanyanya berpura – pura ceria.

“Gadis cantik tidak boleh menangis!” ucapku dengan senyuman lebar dan memeluknya sambil menepuk – nepuk pundaknya yang terus bergetar karena menangis.

 

ChaeRin POV

Sudah beberapa hari ini JeongMin Oppa selalu menempel dengan youja yang bernama Hye Ra itu. Dari yang aku dengar, ibunya Hye Ra baru saja meninggal karena menderita kanker rahim. Karena kasihan jadinya aku membiarkannya dulu sebentar dengan JeongMin Oppa. Tapi semakin lama kesabaranku semakin habis dan aku mulai mengikuti JeongMin Oppa lagi agar youja itu merasa risih.

Aku  terus mengikutinya bahkan sampai rumahnya. Dan hari ini akupun masih mengikuti JeongMin Oppa. Aku menatap jam yang ada di pergelangan tanganku, sekarang sudah pukul 11 malam dan JeongMin Oppa masih belum berjalan ke arah rumahnya. Sejak tadi ia hanya berjalan tanpa menoleh ke arahku yang berjalan tepat di belakangnya. Kakiku mulai merasa sakit karena berjalan terlalu lama tanpa istirahat.

“Aww!” rintihku yang jatuh tersandung. JeongMin Oppapun menoleh dan menghampiri dan berjongkok untuk melihat kakiku.

“Ya, babo! Makanya kalau jalan berhati – hati,” ucap JeongMin Oppa.

“Memangnya Oppa pikir ini salah siapa?!” tanyaku dengan sedikit berteriak.

Tiba – tiba Oppa berdiri dan menatapku dengan kesal.

“Mwo? Kau bertanya ini salah siapa?” tanya JeongMin Oppa dengan nada yang dingin.

“KAU BERTANYA INI SALAH SIAPA??!! Berhentilah membuntutiku karena aku sudah muak melihat wajahmu yang menggunakan topeng itu! Bisakah kau berhenti memberiku senyuman kebohongan itu? Bisakah kau berhenti merengek dan bermanja – manja padaku? Bisakah kau berhenti mengganggu ku? Dan bisakah kau lenyap dari kehidupanku?” ucap JeongMin Oppa dingin sambil meninggalkanku yang masih terduduk di tanah.

Tanpa disadari air mata telah meleleh dari pelupuk mataku, rasanya benar – benar sakit. Akupun beranjak bangun, menghapus air mataku dan menyusul JeongMin Oppa yang mulai menjauh. Aku berusaha berjalan dengan kakiku yang masih terasa sangat sakit, tapi itu tidak sebanding dengan rasa sakit lain yang sedang menggorogotiku.

Saat jarak kami sudah mulai dekat, akupun memeluk JeongMin Oppa dari belakang untuk menghentikannya dan mulai menangis lagi.

“Mianhe.. jeongmal jeongmal mianhe, JeongMin Oppa! Aku berjanji tidak akan menyusahkanmu lagi, aku berjanji tidak akan merengek lagi padamu, aku janji. Aku akan mendengarkan semua yang kau katakan, tapi aku mohon jangan menyuruhku untuk lenyap dari kehidupanmu, aku mohon jangan meninggalkanku. Jebal.. Oppa, jebal!” ucapku.

“Aku tidak membutuhkan kata maaf dan janjimu,” ucap JeongMin Oppa sambil mencoba melepaskan pelukanku dan beranjak pergi.

“Kajjima! Op-pa ka-jji-ma!” dia tidak mendengarkanku dan meneruskan jalannya. Lututku terasa lemas dan akupun hanya bisa jatuh terduduk.

 

JeongMin POV

Aku berjalan tak tentu arah. Aku sudah mengatakan semua hal yang ingin aku katakan padanya, tapi kenapa kau merasa ini sangat menyakitkan. Bukankah ini yang aku mau? Ingin Chae Rin berhenti menggangguku. Tapi kenapa rasanya sangat menyakitkan. Terlalu menyakitkan sampai mataku mengeluarkan cairan bening ini. Chae Rin menggangguku tapi tanpa disadari aku senang karena dia melakukan itu. Selalu tersenyum saat ia berbicara padaku, menyapaku setiap pagi, membangunkanku saat jam istirahat berakhir, membelikanku minuman setelah jam olahraga, bergelayutan di tanganku jika ingin dibelikan ice cream, mengerucutkan bibirnya saat kesal dan bahkan ia mengetahui semuanya. Apa yang aku benci dan yang aku suka, apa yang harus dilakukan ketika aku kesal atau senang. Dia terlalu.. ya tuhan!

Akupun langsung berbalik arah dan berlari ke tempat Chae Rin berada. Saat aku tiba, aku tidak mendapati Chae Rin di sana. Dia sudah pergi. Aku terus berlari dan mencarinya ke segala arah. Saat mataku bertemu dengannya, tanpa di sadari bibirku mulai terangkat. Aku melihatnya sedang berdiri kosong di seberang jalan yang cukup jauh dariku, aku pikir ia tidak menyadariku. Akupun menunggu lampu berubah warna untuk menyebrang dan menghampirinya. Tapi tiba – tiba Chae Rin menyebrang dan tidak memperhatikan sebuah mobil yang melaju dengan kencang dan tanpa kendali. Akupun berlari menghampirinya tanpa mempedulikan mobil – mobil lain yang sudah mengklaksoniku.

“CHAEE RIIINN!” teriakku, tapi ia bergeming dan masih menatap kosong. Aku harus melewati 3 jalur lagi sampai akhirnya..

“KIIMM CHAEEE RIIIINN!” aku melihat mobil yang tanpa kendali itu menabrak tubuhnya yang mungil dan langsung melarikan diri.

“Aku terlambat,” ucapku sambil menitikkan air mata dan terus berlari menghampirinya. Saat aku sampai, aku langsung mengangkat kepala Chae Rin yang sudah berlumuran darah.

“Chae Rin-ah.. hiks gwaencana aku akan menyelamatkanmu.. gwaencana”

Dia hanya tersenyum menatapku.

“Op-pa.. sa-rang-hae..”

“Nado, Chae Rin-ah.. nado saranghae! Gwaencana.. tidak akan terjadi apa – apa padamu, aku berjanji.” ucapku masih dengan air mata yang terus mengucur.

Aku langsung menggendong Chae Rin, dan orang – orangpun mulai berdatangan untuk menolong dan menelpon ambulan.

***

 

Sudah lebih dari 7 bulan Chae Rin koma, akibat kecelakaan itu Chae Rin terluka parah. Rusuk dan kakinya patah, pendarahan di kepalanya sangat hebat dan tubuhnya luka – luka. Sejak beberapa yang lalu Bibi Kim terus menemani Chae Rin tanpa beranjak pergi. Aku sangat mengkhawatirkannya karena sejak aku menelponnya dengan menggunakan handphone ChaeRin, dia terus menemaninya sehingga Bibi Go yang bekerja di rumahnya akan datang setiap hari untuk membawakan makanan dan pakaian ganti.

“Bi, biar aku yang menjaga Chae Rin. Sudah beberapa hari ini Bibi tidak tidur,” ucapku.

“Aniya, JeongMin-ah! Bagaimana kalau Chae Rin bangun saat aku tidak ada?” jawabnya.

“Eomma! Benar yang dikatakan Hyung, sebaiknya eomma beristirahat.” Ucap Chae Joon, dongsaeng Chae Rin.

“JeongMin-ah, Chae Rin akan bangun lagi kan?” tanyanya dengan air mata yang mulai mengalir.

“Ne, dia pasti akan bangun, sehat dan ceria lagi seperti dulu.” Ucapku, walaupun ada keraguan di dalam hatiku.

 

Satu Tahun Kemudian..

 

“Oppa, anyeong!” ucap seorang gadis yang berlari ke arahku sambil tersenyum lebar.

“Ya! Jangan lari – lari, nanti kau bisa jatuh!” ucapku.

“Awww!!”

“Tuh kan! Seharusnya kau mendengarkan ucapanku! Babo!” aku pun langsung membantunya berdiri dan menggendongnya di belakan punggungku.

Angin Pulau Jeju berhembus dengan tenangnya dan menerpa wajahku yang tidak hentinya tersenyum saat aku berjalan di sebuah jalan besar yang bisa membuatku melihat hamparan kebun bunga dan pantai di waktu bersamaan. Youja di punggungkupun terus mengoceh tentang banyak hal yang menurutku bahkan tidak penting. Tapi aku merasa senang mendengarkan ocehan dan tawanya. Hal yang sangat aku rindukan.

“Oppa! Apakah dulu aku cerewet?” tanyanya.

“Tentu saja!” jawabku.

“Kalau aku cerewet, kenapa kau menyukaiku?” tanyanya lagi.

“Menurutmu?”

“Aku tidak ingat,” jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya lagi.

“Kalau begitu, kenapa kau menyukaiku?”

“Karena saat aku terbangun di rumah sakit, aku tidak mengingat apapun. Aku begitu khawatir karena tidak mengenal dan mengetahui apapun bahkan diriku sendiri. Tapi kau menghilangkan semua kekhawatiranku saat aku melihat kau tersenyum dan berkata kalau kau yang akan menjadi ingatanku dan menjadi cahaya untukku,” balasnya. Akupun hanya tersenyum dan membenarkan posisinya di punggungku.

“Kajja! Nanti Bibi Kim marah padaku karena membawamu bermain terlalu lama,”

Sejak Chae Rin bangun dengan keadaan hilang ingatan, Bibi langsung membawa Chae Rin ke Jeju untuk tinggal dan mencari ketenangan. Dan yang ku lakukan hanya terus membuntutinya hingga sekarang sampai – sampai aku memutuskan untuk pindah ke Jeju dan meneruskan sekolah ku di sini. Eomma tidak melarangku karena dia tahu kalau aku akan menyesal seumur hidup jika aku tidak melakukan ini.

Sekarang bukan lagi Chae Rin yang membuntutiku tapi aku yang membuntutinya dan diapun senang akan itu. Chae Rin masihlah Chae Rin yang ceria seperti dirinya sebelum kecelakaan. Bahkan sekarang dia lebih senang.

Sejak saat itu, aku berjanji untuk melindunginya dan membuatnya selalu bahagi dan ceria. Karena dia adalah satu – satunya alasan tergambarnya senyum di wajahku. Dia adalah cahayaku.

THE END

This entry was posted by boyfriendindo.

11 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Be My Shine (Jeongmin’s Love Story)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: