[FANFICT] Gajima (가지마) Jangan Pergi

752284828_b8c2fd7bfe

Title 
Gajima (가지마) Jangan Pergi
Author   Diah~
Genre         Action, Romance, Tragedy
Rating          PG 13
Type   One Shoot
Main Casts      
~ Kim Donghyun
~ Sulli (F(x))

Backsound : Tell Me Good Bye – Big Bang

Hingga akhir kita berpisah, aku masih bisa merasakan setiap detak jantungmu bahkan desahan pelan napasmu di telingaku.

Sulli POV

Aku sedang menunggu jemputan datang, Ahjussi Lee. Kuliahku lebih cepat selesai dari biasanya siang ini Sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba berhenti tepat di depanku. Kaca mobil si pengendara mobil tersebut terbuka dan terlihat Donghyun Oppa di dalamnya. Dia keluar dari mobil dan menghampiriku.

“Oppa? Ahjussi Eodieseo?” tanyaku dengan bingung.

“Kali ini aku yang menjemputmu, chagi.” Jawab dia sambil mengelus kepalaku perlahan.

Donghyun Oppa, pemuda pekerja keras dan sangat pintar, begitu menurut Appa. Dia merupakan asisten baru di bisnis keluarga Choi. Untuk usianya yang tergolong sangat muda, dia berani mengambil tawaran Appa untuk menjadi asistennya.

“Gajja!! Ayo kita pulang.” Kata dia yang menarikku perlahan menuju ke mobil lalu membukakan pintu untukku.

“Bagaimana kalau kita nge-date dulu, nonton film, atau kamu mau ke taman hiburan? Hehe.” Katanya dengan riang setelah kami sudah berada di dalam mobil.

“Terserah Oppa. Aku ikut aja deh.” Jawabku.

“Baiklah. Kita ke taman hiburan saja kalau begitu.” Dia mecubit ujung hidungku. Sebenarnya aku tidak suka diperlakukan seperti anak-anak tapi rugi saja kalau aku selalu mengeluh tentang perlakuannya ini, dia pun tidak pernah berubah. Tiba-tiba handphonenya berdering. Dia mengangkatnya terlebih dahulu sebelum menyetirkan mobil.

“Yobuseo?” jawabnya kepada orang di seberang telpon.

“Ne?” Raut wajah berubah menjadi serius. Sepertinya ada sesuatu hal yang terjadi. Lalu dia keluar dari mobil. Setelah lebih kurang 2 menit, dia masuk kembali.

“Mianhe. Kamu harus pulang sekarang.” Katanya dengan wajah sangat menyesal.

“Apa itu Appa yang menelpon ?” tanyaku.

“Bukan, tapi Ahjussi Lee.” Jawabnya dan lalu menghidupkan. Sepanjang perjalanan wajahnya sangat gelisah. Tidak seperti biasanya. Sedikit pun dia tidak mengajakku berbicara.

“Oppa, apa Oppa sedang mengkhawatirkan sesuatu? Wajahmu gelisah sekali.” Tanyaku yang penasaran.

“Ha Ani~” Dia terkejut mendengar pertanyaanku dan lalu tergambar jelas senyum paksaan muncul di wajahnya.

Sekarang kami sudah hampir sampai di rumah. Oppa tiba-tiba menghentikan mobil.

“Wae?! Kenapa berhenti?” Tanyaku. Dia tidak menjawab akan tetapi menatap ke depan dengan serius. Aku mengikuti pandangannya. Dia melihat ke arah rumahku yang di depannya ada dua orang berjas hitam dan sebuah mobil putih. Salah satu dari dua orang tersebut sedang berbicara ditelpon sedangkan yang satu lagi sedang melihat-lihat daerah sekitar rumahku.

“Nugu Oppa? Siapa mereka?” aku bertanya lagi. Dia masih tidak menjawab pertanyaanku. Seketika dia memundurkan mobil dengan cepat. Aku sangat bingung sekali. Sepertinya oppa berniat untuk memutar arah mobil. Ada apa ini? Sebenarnya apa yang terjadi? Aku tidak berani bertanya kepadanya. Aku sangat takut. Mobil kami sudah berputar arah. Aku melihat ke belakang dan ternyata mobil putih yang tadi berada di depan rumah ku mengikuti kami dari belakang.

“Sulli-a tolong telpon Ahjussi Lee sekarang.” Kata Oppa cepat dengan pandangan tetap ke arah jalanan. Oppa menyetirkan mobil dengan sangat cepat. Aku langsung mengambil handphone ku dan mencari nomor telpon ahjussi Lee dan menekan tombol dial.

“Berikan padaku.” Aku memberikan handphoneku. Aku melihat ke arah belakang mobil lagi dan melihat mobil putih itu tetap mengikuti kami dan hampir mendekat.

“Ahjussi Lee, ini aku Donghyun. Ternyata mereka ada di depan rumah. Dan mereka mengikuti kami sekarang.” Oppa berbicara melalui telpon dengan ahjussi Lee. Kecepatan mobil semakin cepat. Aku tidak tahu kemana tujuan kami. Tentu saja aku semakin takut dan khawatir. Sebenarnya apa yang sedang terjadi. Aku memegang erat seatbelt yang ku kenakan.

“Ne~ Baiklah.” Oppa menutup telponnya dan memberikan handphone kepada ku.

“Sulli-a kamu tidak perlu takut. Kalau kita sudah sampai, nanti akan ku jelaskan semuanya. Oke?” Dia menenangkankanku dengan sesekali pandangannya ke arah ku dan ke arah jalan. Aku mengangguk.

Aku melihat ke belakang lagi, mobil putih itu masih tetap mengejar kami, kecepatannya semakin menambah dan sekarang dia bersebelahan dengan mobil kami. Lalu seketika mobil itu berada di depan dan menghentikan kecepatannya. Oppa menginjak rem mendadak dan mengarahkan setir ke kanan dengan cepat.

“Aaaaaaa” teriakku. Aku langsung menutup mataku dan berpegang kuat pada dasbor mobil. Ketika mobil sudah berhenti dengan tenang. Aku melihat Oppa menghela napas dengan cepat karena suasana yang menegangkan dan takut.

Aku tidak tahu dimana kami sekarang, yang jelas jalanan sangat sepi dan tidak ada kendaraan lain yang berlalu-lalang. Dua orang yang berada di mobil putih itu keluar dan berjalan menuju ke arah kami.

“Sulli, dalam keadaan apapun, tolong jangan buka pintumu.” Oppa memperingatiku. Salah satu dari dua orang itu mengetuk kaca jendela Oppa.

“Dan juga ketika aku melihat ke arahmu berarti itu aku menyuruhmu pergi. Lalu pergilah bawa mobil ini ke arah sana. Dan telpon ahjussi Lee.” Oppa menunjuk ke arah lurus di depan dan berbicara sangat cepat. Aku takut sekali. Orang itu mengetuk lagi kaca jendela Oppa.

“Oppa.” Aku menarik tangannya.

Dia melepas tarikanku perlahan dan membuka pintu, keluar dari mobil, dan menutup kembali pintu dengan cepat. Aku langsung mengunci pintu mobil dari dalam. Aku tidak tahu apa sedang mereka bicarakan, dua orang itu seperti marah dengan Oppa begitu juga sebaliknya. Salah satu dari mereka tiba-tiba memukul Oppa. Oppa membalasnya. Oppa dan salah satu orang yang berjas hitam itu saling memukul. Oppa jatuh. Aku sedikit mendongakkan kepalaku melihat bagaimana keadaan Oppa. Aku sangat khawatir.

Siapa mereka? Aku tidak mungkin diam disini. Aku melihat ke arah Oppa yang sekarang juga sedang melihatku. Dia menganggukkan kepalanya. Berarti dia menyuruhku pergi. Tapi tidak mungkin. Bagaimana aku harus meninggalkan dia sendirian disini. Satu dari mereka berjalan menuju ke arah mobil kami. Oppa berteriak kepada ku tapi aku tidak bisa mendengarnya karena dia berada di luar. Sepertinya dia berkata. Ka!! Pergilah!!

Aku langsung pindah ke belakang setir dan menghidupkan mobil. Orang yang tadi ke arahku sekarang mengetuk kaca jendela mobil kami. Aku cepat-cepat meng-gas kan mobil dan mengarahkannya ke arah yang sudah Oppa beritahukan.

Aku membawa mobil dengan cepat dan melihat ke belakang, Oppa dibawa masuk ke dalam mobil mereka. Aku terus melaju dengan cepat. Apa yang terjadi Oppa? Apa aku harus balik ke tempat Oppa? Tapi Oppa menyuruhku pergi dan menelpon ahjussi.

“Ahjussi, Donghyun oppa.” Suaraku serak, ketakutan, cemas dan aku menangis.

“Kalian dimana sekarang?” tanya Ahjussi Lee.

“Aku tidak tahu jelas. Donghyun Oppa. Donghyun Oppa dipukul oleh orang yang aku tidak kenal. Oppa menyuruhku untuk pergi dengan mobil. Sekarang dia dibawa oleh mereka. Ottokhe? Tidak mungkin. Donghyun oppa sendirian disana. Ahjussi selamatkan dia.” Kataku dengan nada sedikit meninggi dan gemetaran.

“Jangan khawatir. Dia akan segera ditolong. Kamu tetap tenang. Kamu dimana sekarang?” Ahjussi Lee menenangkanku. Aku melihat sekeliling jalanan dan terlihat papan nama jalan yang bertuliskan “Hongdo” dengan tanda panah lurus.

“Hongdo. Ada papan jalan yang bertuliskan Hongdo kalau aku lurus.” Jawabku langsung dengan masih menyetirkan mobil.

“Tetap lurus. Ketika kamu berada di perempatan maka beloklah ke kanan dan tunggu aku disana. Jangan membuka kaca jendela. Aku kesana sekarang. Kamu tetap tenang.” Aku mendengar baik-baik pesan ahjussi Lee. Aku menutup telpon dan pergi sesuai perintah Ahjussi Lee. Appa!!

Bagaimana keadaan Appa!? Aku menekan angka 1 di layar handphone untuk tersambung ke nomor Appa. Appa tidak mengangkat telponku. Sekarang aku harus fokus dengan jalanan.

Aku sudah di perempatan yang dimaksudkan oleh Ahjussi Lee dan lalu berbelok ke kanan. Menghentikan mobil. Aku memeriksa semua pintu mobil agar semua aman terkunci. Tidak lama kemudian aku melihat sebuah mobil yang sangat familiar berhenti tidak jauh dari tempatku, Ahjussi datang. Dia keluar dari mobilnya. Aku membuka pintu dan lari kearahnya. Aku memeluknya. Menangis. Itulah yang bisa ku lakukan saat ini. Ahjussi sudah seperti paman ku sendiri. Sejak aku kecil hingga sekarang, ahjussi selalu menemaniku kalau Appa sedang sibuk bekerja. Dia mengelus kepalaku.

“Appamu sudah menyuruh orang untuk menyelamatkan Donghyun secepatnya. Ayo sekarang kita harus pergi.” Jelas ahjussi.

“Appa eodieseo? Gwenchana?” Aku bertanya dengan ahjussi Lee.

“Dia baik-baik saja. Berikan kunci mobilmu.” Aku langsung memberikan kunci mobil.

“Sebenarnya apa yang telah terjadi? Dan siapa dua orang tadi?” Tanya ku ketika kami sudah di dalam mobil.

“Mereka sepertinya orang suruhan rekan kerja Appamu. Dan mereka mencari Appamu saat ini.” Jawab Ahjussi.

“Mencari Appa? Ini pasti hal yang sangat serius.”

“Appamu akan menjelaskannya.” Ahjussi menjawab dengan singkat.

Kami sampai di sebuah rumah. Aku tidak tahu rumah siapa ini? Aku turun dari mobil seperti yang ahjussi lakukan. Dan mengikutinya dari belakang. Ahjussi membuka pintu rumah dan masuk. Di dalamnya ada sekitar 5 orang dan juga Appa sedang duduk dan mendiskusikan sesuatu. Aku hanya mengenal tiga orang diantara mereka. Mereka para karyawan Appa.

“Sulli!” Appa memanggil dengan khawatir ketika melihatku. Dia berjalan cepat ke arahku dan lalu memelukku. Aku memeluknya kembali dengan erat dan menangis. Aku takut sekali.

“Apa yang terjadi? Siapa dua orang yang membawa Donghyun oppa?” Aku menangis sejadinya. Appa membawaku duduk. Tidak ada lagi orang selain kami berdua di ruangan ini sekarang.

“Maafkan Appa. Appa tidak tahu kalau keadaan menjadi seperti ini.” Jelas Appa menunduk menyesal.

Ini benar-benar sangat serius. Appa tidak pernah terlihat lemah seperti ini di depanku.

“Appa tidak keberatan kalau bercerita kepadaku?” Aku bertanya dengan perlahan.

“Appa bekerjasama dengan orang yang salah. Sekarang dia mencari-cari Appa untuk mengambil sertifikasi kepemilikan perusahaan keluarga kita. Appa tertipu.”

“Kenapa tidak melaporkan kepada polisi? Appa korban disini.” Tanyaku

“Tidak bisa. Dia seorang mafia dan keluarga kita akan semakin bermasalah lagi kalau polisi tahu ini semua, termasuk perusahaan kita akan menjadi bangkrut total. Saat itu, tidak ada yang bisa menolong kita kecuali dia. Seharusnya Appa mendengar kata Jungho.” Tergores garis kemarahan di wajahnya. Jungho adalah panggilan Ahjussi Lee.

“Maaf mengganggu Tuan, Donghyun sudah tiba.” Seorang karyawan Appa masuk. Dan dibelakangnya disusul Donghyun oppa yang dipapah oleh dua orang lainnya.

“Oppa!!” Aku berdiri. Oppa dibawa menuju sofa di tempat aku duduk dengan Appa.

“Tuan Choi, bisa kita bicara sebentar?” Ahjussi Lee masuk dan memanggil Appa.

“Oppa!! Gwenchana-yo? Wajahmu terluka. Apa yang sakit? Mian-” Oppa meletakkan jarinya di bibirku. Aku terdiam.

“sssttt. Aku tidak apa-apa lagi sekarang. Mereka hanya memukulku sedikit.” Oppa menjawab dengan tenang walau sesekali meringis kesakitan.

“Sedikit? Dengan luka di wajah seperti ini!!” Suaraku meninggi. Aku memegang lebam dipipinya.

“Ouch!!”

“Ah mianhe. Aku tidak bermaksud… ottoke… aku mengambil kompres dulu.” Aku beranjak bangun dan dia menarik tanganku dan menyuruhku kembali duduk.

“Tidak perlu. Sakitku hilang ketika melihatmu.” Ucap dia dengan sangat lembut. Aku tersipu malu. “Boleh aku tidur sebentar di pangkuanmu?” tanya dia.

“Sebenarnya tidak apa-apa tapi bagaimana kalau Appa melihat?” Appa memang tahu tentang hubungan kami tapi aku merasa tidak enak kalau Appa melihat Donghyun Oppa berbaring di pangkuanku. Dia seolah-olah tidak mendengar dan langsung meletakkan kepalanya.

“Mianhaeyo. Kamu hebat sekali bisa sampai disini dengan selamat.” Katanya sambil memainkan rambutku yang tergerai panjang. Dia kemudian menutup matanya. Raut wajahnya kelihatan sangat lelah dan penuh memar di tulang pipinya. Aku mengelus kepalanya dengan pelan. Aku sangat mencintai namja ini. Namja yang membuatku selalu merasa nyaman.

“Kalau aku meninggal nanti, apa kamu akan melupakanku?” Dia tiba-tiba bertanya tapi masih dengan mata tertutup. Aku terkejut mendengar mendengarnya.

“Oppa! Kenapa bertanya seperti itu? Jangan bicara yang aneh-aneh.” Aku menjawab. Dia membuka matanya lalu duduk dan menatapku tajam.

“Berjanjilah. Kalau suatu saat aku meninggal, lupakanlah aku. Carilah orang lain yang mencintaimu seperti aku mencintaimu atau bahkan yang lebih mencintaimu dibandingkan aku.” Dia menggenggam tanganku dengan erat.

“Andwe~aku tidak bisa. Aku hanya mencintaimu. Aku tidak bisa mencintai orang lain.” Aku melepaskan genggamannya.

“Tidak selamanya aku hidup. Begitu juga denganmu. Hiduplah untukku.” Dia memelukku dengan erat.

*Braak* suara apa itu? Kami berdua sangat terkejut.

“Tunggu disini. Jangan kemana-mana.” Oppa pergi keluar dari ruangan. Aku duduk tidak bergerak sedikit pun.

“Sulli!!” Dia tiba-tiba masuk, menarik tanganku dan membawaku ke arah meja yang berada di dekat jendela. Kami bersembunyi di bawahnya.

“Mereka datang? Mafia-mafia itu? Dimana Appa?” tanyaku takut.

“Appa mu bersama ahjussi Lee. Dia tidak apa-apa. Kamu tenanglah aku akan melindungimu.” Oppa menjawab.

*Door* *Door* suara tembakan.

Oppa menutup telingaku dan mendekapkan kepalaku di dadanya. Kami masih tetap bersembunyi di bawah meja. Oppa mengintip sedikit ke atas meja melihat keadaan sekitar.

*Door* lalu suara tembakan itu menjadi sangat dekat. Si penembak sepertinya berada di ruangan di tempat kami berada. Oppa menunduk lagi lalu menundukkan kepala ku. Aku menutup mata dan telinga. Bagaimana keadaan Appa sekarang. Aku terus menutup mata

*Bruuk* suara apa itu?

Aku membuka mata. Oppa? Donghyun oppa dimana? Aku sedikit mengintip dan melihat Donghyun oppa memukul si penembak. Si penembak terjatuh. Aku berdiri dan Donghyun oppa menarikku, membawaku lari dari ruangan ini. Dia menggenggam tanganku dengan erat. Sebenarnya aku ingin bertanya dimana Appa sekarang tapi sepertinya ini bukan saat yang tepat.

“Appamu pasti baik-baik saja.” Dia berkata kepadaku seperti mengetahui pikiranku.

“Hey..Kalian!!” Aku melihat ke belakang. Seorang mafia lain di belakang kami tapi kali ini tidak membawa senjata. Dia mengejar. Oppa membawa ku ke lantai dua. Kami berlari dan masuk ke sebuah kamar. Oppa mengunci pintu.

“Masuklah ke dalam lemari itu. Dan jangan membuat suara.” Oppa menunjuk ke arah lemari yang berada di dekat tempat tidur.

“Bagaimana dengan Oppa?” tanyaku mengkhawatirkannya.

“Aku akan menahan pintu ini dengan meja lampu yang disana. Masuklah cepat.” Jawabnya yang langsung mendorong meja ke belakang pintu. Aku masuk ke dalam lemari dan berdiam diri. Aku mengintip dari celah kecil yang ada di lemari. Oppa masih dibelakang pintu. Tiba-tiba terdengar ketukan kencang dari luar pintu kamar. Oppa terlihat kaget dan terus menahan pintu. Suara ketukan semakin kencang, seperti bukan ketukan biasa. Apa mafia itu mencoba mendobrak pintu? Pintu terbuka.

Oppa terjatuh karena pintu yang terdobrak dengan paksa. Dua orang mafia yang mengejar kami tadi siang masuk. Salah satu dari mereka memegang pistol.

“Dimana yeoja itu?” Seorang mafia mengarahkan pistolnya ke arah Oppa. Oppa bangun dengan perlahan. Aku gemetaran dan menutup mulutku agar tidak bersuara. Oppa tidak menjawab.

“Cari dia” Perintah mafia itu ke temannya. Dia mencariku di bawah tempat tidur lalu ke sebuah pintu lainnya, sepertinya itu kamar mandi. Dan akhirnya dia berjalan ke arah lemari di tempat aku bersembunyi.

Aku melihat sekeliling lemari, mencari sesuatu yang bisa aku gunakan untuk melindungi diri. Syukurlah, di sebelahku ada tas golf, aku membuka tas itu dan mengambil satu stick golf. Bersiap-siap kalau mafia itu datang. Dia semakin dekat dan aku menggenggam erat stick golf.

Pintu lemari dibukanya. Aku langsung memukul mafia itu dengan stick golf. Aku keluar dari lemari. Mafia yang aku pukul tadi jatuh. Aku melihat ke arah Oppa yang langsung menendang ke pistol mafia yang berada di depan Oppa. Pistol itu jatuh. Aku memukul lagi mafia yang di dekatku, setiap dia mencoba bangun aku memukulnya dan terakhir memukul kepalanya. Seketika dia pingsan.

“Kamu tetap disana” Oppa memperingatiku.

Aku melihat Oppa berantem dengan mafia satu lagi. Mereka berdua berusaha menuju ke arah pistol yang jatuh tadi. Ternyata sang mafia mendapatkan pistol itu terlebih dahulu dan mengarahkannya kepadaku. “Kau jangan bergerak jika tidak mau dia mati.” Mafia itu memperingati Oppa dan tetap mengarahkan pistolnya ke arahku. Oppa menghentikan langkahnya. Mafia itu mendekatiku “Turunkan tongkat itu.” Kali ini dia memerintahku.

Aku menjatuhkan stick golf yang ku genggam lalu dia menendangnya menjauh, dia berlari cepat ke arahku dan membekapku. Oppa berlari juga ke arahku

“Jangan bergerak”

*Door* mafia itu menembakkan pistolnya ke arah tempat tidur sebagai tembakan peringatan.

Oppa menghentikan langkahnya lagi dan aku berusaha melawan bekapan mafia ini. Tapi dia sangat kuat. Kali ini pistolnya di arahkan ke kepalaku. Aku menangis. Oppa sesekali mencoba mendekat dan mau menyelamatiku. Lalu dengan cepat Oppa berlari ke arah stick golf yang tadi dan mafia itu menembak, tangan Oppa terkena tembakan.

“Oppa!!” teriakku. Mafia itu membekapku semakin erat.

Oppa mencoba bangun dan mengambil stick golf. Oppa ingin melemparnya dengan tangan sebelahnya. Lalu mafia itu menembak lagi. Kali ini tembakannya terkena bahu oppa. Aku meronta mencoba semakin keras melepaskan bekapan.

“Diam kau!!” mafia itu berteriak kepada ku. Karena sangat marah, dia menembak lagi ke Oppa.

Tembakannya terkena di dada kiri Oppa. Oppa kesakitan dan darah terus keluar. Aku tidak sanggup melihatnya. Oppa tolong bertahan. Aku menginjak kaki mafia itu dengan keras, bekapan sedikit longgar, Aku kabur tapi dia lalu menangkapku dan kali ini membawaku keluar dari kamar. Sesampai di pintu, ada seorang polisi baru saja datang dan mengarahkan pistolnya ke arah mafia itu. Polisi yang lain pun berdatangan. Mafia itu terkepung dan menyerah. Dia melepaskanku, aku langsung berlari ke Oppa yang terbaring lemah di kamar.

Matanya tertutup.

“Oppa!! Bangunlah!! Oppa, tolong bangunlah.” Aku membawanya ke pangkuanku lalu memegang dada kirinya yang tertembak. . Dia membuka matanya perlahan.

“Sulli..”

“Jangan bicara oppa!! Aku akan memanggil bantuan.”

“Tidak perlu.” Dia menahanku dengan menggenggam tanganku kencang. “Tetaplah disini.” Aku menangis dan dia mengusap wajahku. “Uljima chagi. Kamu jelek sekali ketika menangis.” lanjutnya dan dia tersenyum.

“Oppa. Bertahanlah!!” Aku berkata kepadanya.

“Siapa saja!! Tolonglah!!” Teriakku berharap seseorang mendengarnya.

“Saranghaeyo Sulli.” Aku menghentikan teriakanku dan melihatnya yang melihatku dengan tatapan sayu.

“Hiduplah untukku dan berjanjilah seperti yang sudah aku katakan. Appamu pasti akan menyelesaikan masalah ini secepatnya.” Lanjutnya dengan membelai pipiku.

“Nado saranghae oppa.” Aku mencium bibirnya lembut. Lalu napas dia terhenti. Matanya tertutup dan genggaman tangannya perlahan melonggar.

“Oppa!! Gajima.. Oppa..!! Bangunlah!!” Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan dan semakin lama semakin kencang tapi tidak ada sedikitpun reaksi balik dari nya. “Oppa!!” aku menangis sejadinya dan memeluknya dengan erat. “Oppa!! Andwe~” Seseorang memelukku dari belakang.

“Maafkan Appa!!” Appa berbisik kepadaku. Ahjussi Lee datang dan melepaskan perlahan pelukanku ke Donghyun oppa.

Girl you know when you lose your smile
I will place the blame on myself
Those words, and even the light
I will lose sight of everything else
Baby the moment our lips part this time
I’ll never find better, better than you

(Tell me goodbye, tell me goodbye)
Those hands that embraced me
(Tell me goodbye, tell me goodbye)
seem to be letting go
merely being by my side is not kindness Baby
(Tell me goodbye, tell me goodbye)

<END>

Cintailah setiap orang dengan ketulusan dan keikhlasan

Karena suatu saat pasti akan datang cinta yang tulus untuk kita

Please keep writing and give a lot of your supports for all of authors and also their stories in this fanbase ^^

Wait my next fanfiction😀

-Diah-

This entry was posted by boyfriendindo.

10 thoughts on “[FANFICT] Gajima (가지마) Jangan Pergi

  1. Sulli sama Donghyun?? O.o
    wow~ ceritanya seru!!

    Akh~ coba di buat yang berchapter thor, pasti lebih keren.
    Barang twoshot lah:/
    ayolah thor, jebal T.T *maksa*

  2. Thor! FFnya daebbak thor! coba author bikin FF Jo Twins yang sad ending tapi yang oneshoot dong thor!!!! Ne ne ne ne???? gomawo thor!

  3. Kece FFnya. Asli thor!! Kebetulan aku suka ff yang sad ending😀. Kapan kapan bikin FF Minwoo sad ending ya thor! Gomawo🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: