[FANFICT/FREELANCE] Love You Like You – Chapter 01

Title 
: Love You Like You – Chapter 01
Author   : Aryn Chan (@1998aryn)
Genre         : Romance
Rating          : G
Type   : Chaptered
Main Casts      
: ~ No Minwoo

~ Jang Yoon Hee

  ~ Jo Youngmin

  ~ Kim Yuri

>>>>AUTHOR NOTE

Halo, pembaca ^^

Ini adalah FF pertamaku. Di awal cerita ini, aku mendapat inspirasi dari sebuah drama yang di parody-kan oleh BoyFriend. Aku harap ini tidak jadi masalah bagi kalian.🙂

Mungkin FFku ini banyak sekali kekurangan, jadi karena itu kritik dan saran kalian sangat penting untukku kedepan. Aku sangat berharap kalian menyukai FFku ini.

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca FFku. Semoga ceritaku bisa menghibur kalian. Sekali lagi, aku sangat membutuhkan komentar kalian. Terima kasih ^^

***

LOVE YOU LIKE YOU

BAGIAN SATU

Pagi itu No Minwoo baru saja keluar dari toko roti dan berjalan pulang ke rumahnya. Ia melewati gang kecil yang sudah sering ia lewati jika akan pergi dan pulang. Minwoo berjalan santai sambil mendengarkan music melalui headsetnya.

Tiba-tiba langkahnya terhenti, ia melirik kearah kardus didekat tempat sampah. Kardus itu terasa aneh, seperti ada sesuatu. Minwoo melepaskan headset yang terpasang ditelingannya dan berjalan pelan menuju kardus itu. Dengan ragu, Minwoo membuka tutup dari kardus itu dengan sangat hati-hati.

Minwoo tersentak kaget. Ia melompat kebelakang sambil memegang dadanya. Ia mencoba tenang dan menarik nafas sejenak, perlahan ia memberanikan diri maju selangkah untuk meyakinkan dirinya dengan apa yang barusan ia lihat.

Seorang gadis sedang duduk dengan tangan yang memeluk kakinya, rambutnya kusut, bajunya kotor, dan…. goresan pisau dikulit tangannya? Apa yang terjadi dengan gadis ini? Siapa dia? Dan sedang apa dia disini?

“Sedang apa kau disini?” Tanya Minwoo, suaranya terdengar gemetar. Gadis itu tidak menjawab. “Mari kubantu.” Kata Minwoo sambil mengulurkan tangannya kearah gadis yang hanya duduk tidak bergerak itu.

Gadis itu terdiam, tidak menerima uluran tangan Minwoo. Ia hanya menatap Minwoo dengan ekspresi wajah yang aneh. “Aku bukan orang jahat. Mari kubantu.” Kata Minwoo seakan tau apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Pertama gadis itu sedikit ragu, tapi, akhirnya ia menerima uluran tangan Minwoo dan ia menariknya untuk berdiri.

***

“Sebenarnya kau siapa? Mengapa kau bisa berada disana?” Tanya Minwoo sambil membawa kotak obat ketika mereka sudah berada dirumahnya. Karena tidak tega melihat gadis itu terluka sendirian Minwoo mengajak gadis itu kerumahnya.

Awalnya gadis itu menolak, tapi, Minwoo meyakinkan gadis itu bahwa dirinya bukan orang jahat dan tidak akan macam-macam. Tentu saja, kalau gadis itu langsung menerima ajakannya sudah pasti gadis tidak beres.

“Ceritanya panjang.” Sahut gadis itu pelan.

“Oh.” Gumam Minwoo.“Boleh aku melihat luka tanganmu?” Tanya Minwoo halus. Gadis itu mengulurkan tangannya dan Minwoo melihat luka yang ada ditangan gadis itu. “Kau harus cepat mengobati luka ini, jika tidak luka mu ini akan menjadi lebih parah.” Celoteh Minwoo sambil mengoleskan obat dibagian luka tangan gadis itu.

Gadis itu meringis kesakitan.

“Sudah selesai. Sebentar lagi juga akan sembuh.” Kata Minwoo sambil memasukkan obat-obat ke kotaknya. “Kau boleh mandi sekarang dan akanku buatkan kau teh hangat.”

“Terima kasih.” Gumam gadis itu sambil berjalan menuju kamar mandi.

Tiba-tiba Minwoo teringat sesuatu, ia membalikkan badan dan berseru. “Tunggu.” Gadis itu membalikkan badan tepat kearahnya. “Hmm… Aku belum menanyakan namamu. Namamu siapa?”

Gadis itu tersenyum lalu menjawab, “Namaku Jang Yoon Hee.”

“Nama yang bagus. Namaku No Minwoo. Kau bisa memanggilku Minwoo.” Kata Minwoo sambil memandang gadis itu. Lalu, ia teringat kembali setelah ia cukup lama memandangi gadis itu. “Oh, yasudah aku akan kembali kedapur.”

Minwoo baru saja selesai membuat teh hangat dan baru akan menyimpannya diatas meja makan ketika ia melihat Jang Yoon Hee keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Astaga, ia cantik sekali. Minwoo tidak bisa mengalihkan pandangan dari Jang Yoon Hee.

“Hey, kau baik-baik saja.”

***

Yoon Hee baru saja selesai mandi, ia keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia sangat suka rumah ini. Rumah ini sederhana tetapi menarik. Minwoo juga sepertinya orang baik, jadi ia tidak perlu khawatir.

Ketika ia baru saja akan melangkah maju, tiba-tiba ia merasa seperti ada yang memandanginya. Ia segera melihat ke sekeliling dan matanya terhenti kearah Minwoo yang mematung disana. Astaga, Minwoo sedang menatapnya. Yoon Hee maju mendekati pria itu dan menggerak-gerakkan tangannya didepan mata Minwoo. “Hey, kau baik-baik saja.”

Minwoo terlihat sedikit kaget dan salah tingkah. “Oh…Eh…ya aku baik-baik saja.” Minwoo diam sejenak dan menyodorkan segelas teh hangat kearahnya. “Ini teh hangatnya. Oh ya, kakak perempuanku meninggalkan pakaiannya disini, jadi kau boleh menggunakannya dulu.”

Yoon Hee menerima gelas teh yang Minwoo sodorkan dan duduk dimeja makan diikuti Minwoo yang duduk didepannya. “Baik, terima kasih.” Kata Yoon Hee dan menyesap teh hangat buatan Minwoo tadi. “Kau tinggal disini sendiri?”

Minwoo agak ragu sejenak, kemudian menjawab. “Iya. Orang tuaku ada di Busan sedangkan kakak perempuanku sudah menikah dan kini ia tinggal di Amerika.”

“Oh? Berarti disini hanya kita berdua?” Tanya Yoon Hee kaget. Ah, ia tidak mengerti dengan apa yang ia pikirkan. Pertanyaan itu seperti pertanyaan bodoh.

Seakan tau apa yang dimaksud Yoon Hee, Minwoo menjelaskan. “Benar. Tapi, kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan macam-macam. Kau percaya?”

Yoon Hee tersenyum. “Ya. Aku percaya.”

“Tapi, setiap 1 tahun sekali orang tuaku datang ke Seoul untuk melihat keadaanku.” Lanjut Minwoo.

“Oh,” Gumam Yoon Hee, hanya kata itu yang terlintas dalam pikirannya.

Diam sejenak, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tak lama kemudian, Minwoo akhirnya berhasil memecah keheningan diantara mereka.

“Boleh aku menanyakan sesuatu kepadamu?” Tanya Minwoo ragu-ragu.

“Apa?”

“Mengapa kau tadi bisa berada disana? Maaf, bukan maksud aku untuk mencampuri urusanmu, aku hanya…Ah, lupakan saja.”

“Tidak apa-apa. Lagi pula kau pantas menanyakannya.” Kata Yoon Hee. Entah kenapa, ia ingin menceritakan semua yang dialaminya kepada Minwoo. Ia yakin, Minwoo orang yang baik. Jadi, mungkin saja Minwoo bisa membantunya.

Yoon Hee menarik nafas sebelum bercerita. “Ceritanya 25 tahun yang lalu, sejak kecil aku dibesarkan dipanti asuhan. Kata pengurus panti asuhan, mereka menemukanku didepan gerbang panti asuhan. Orang tuaku tidak menuliskan apa-apa—nama mereka, alamat rumah mereka, tanggal lahirku, namaku pun tidak. Tapi, ibu panti asuhan yang baik hati itu memberiku nama Jang Yoon Hee.

“Setiap saat aku merindukan orang tuaku, setiap hari aku menangis dibawah pohon halaman panti asuhan. Dan saat itu, seorang laki-laki menghampiriku dan ia memberikanku tissue dia bernama Donghyun, Kim Donghyun. Dia menenangkanku dan mengajakku bermain. Aku senang bermain dengannya, dia laki-laki yang baik, lembut, dewasa, dan sangat penyayang. Tapi, sayangnya dia senasib denganku. Orang tuanya mengabaikannya.

“Semakin lama kita tumbuh menjadi dewasa, dan aku menyadari bahwa aku mencintainya begitupun Donghyun, dia mencintaiku juga. Kita menjalin hubungan, tetapi, ketika kita sedang menikmati liburan musim dingin sekaligus merayakan ulang tahunku, saat itu Donghyun sedang menyebrang sambil mengacungkan setangkai bunga mawar untukku, aku tersenyum kearahnya. Dan ternyata itu senyumanku yang terakhir untuknya karena tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak Donghyun.” Tanpa disadari air mata menetes dipipi Yoon Hee dan dengan cepat Yoon Hee menghapusnya. “Aku segera menghampiri Donghyun dan memegang tangannya sambil menangis histeris. Kalimat terakhirnya untukku adalah ‘Jangan menangis,,,,bahagialah tanpa diriku agar aku bisa tenang disana. Jangan menangisiku, jangan bersedih. Bahagialah demi aku. Aku mohon. Aku mencintaimu.’ dan saat itu matanya tidak bisa terbuka lagi. Tidak akan terbuka. Selamanya tidak akan terbuka.

“Dan sekarang….sudah 4 tahun Donghyun meninggalkan aku. Sejak kejadian itu hidupku hancur, hanya Donghyun yang aku miliki didunia ini. Hanya dia. Sekarang dia tidak ada, aku merasa tidak semangat hidup, sampai-sampai aku pernah melakukan perbuatan bodoh dengan mencoba mengakhiri hidup. Bunuh diri. Ya, aku pikir dengan bunuh diri rasa sakit yang aku alami akan hilang. Tapi, aku gagal. Aku tidak bisa. Dan semenjak Donghyun pergi aku tidak tinggal dipanti asuhan lagi. Aku kabur dan tinggal disebuah kontrakan kecil. Aku pikir dengan meninggalkan panti asuhan itu, lebih mudah untukku melupakannya. Tapi, percuma. Aku tetap belum bisa.”

***

Minwoo yang mendengarnya merasa tidak tega, ia merasa kasihan. Ia seperti orang bodoh yang hanya duduk terdiam melihat seorang wanita menangis.

“Tapi, aku beruntung. Kau menemukan aku.” Terdengar suara Yoon Hee lagi. “Terima kasih.”

Minwoo menatap Yoon Hee dan tersenyum. “Aku senang membantumu.” Kata Minwoo. “Apa yang diucapkan pacarmu itu benar, kau harus bisa bahagia walaupun tidak bersamanya. Kau harus semangat.” Kata Minwoo. “Yoon Hee, semangat!” Minwoo mengangkat sebelah tangan untuk memberi semangat.

“Fighting!” Kata Yoon Hee tersenyum sambil menghapus air matanya.

“Tapi kalau boleh tau, darimana kau mendapatkan luka ini?” Tanya Minwoo penasaran.

Yoon Hee segera melihat lukanya yang ada dilengan tangan kanannya, “Kemarin saat aku pulang bekerja, ada segerombolan preman yang mencoba merayuku. Aku sangat takut sekali, aku mencoba melawannya. Aku tau badan mereka besar-besar dan sangat kuat sedangkan aku, aku sendiri dan aku sudah pasti tidak mempunyai tenaga untuk melawan mereka. Tapi, aku masih memiliki tenaga untuk lari dari mereka. Tapi sebelum aku sempat kabur, mereka menarik tanganku dan pisau yang mereka bawa menggores lengan tanganku. Aku tidak menghiraukan luka yang mereka buat pada tanganku, tapi, yang aku pikirkan saat itu adalah bagaimana aku bisa kabur dari mereka. Berbagai cara telah aku gunakan dan akhirnya aku bisa kabur dari mereka. Aku mencoba mencari tempat persembunyian dan aku beruntung kau menemukanku tadi.”

Minwoo tersenyum, “Kau gadis yang hebat.”

Yoon Hee membalas senyum Minwoo dengan malu dan berkata, “Terima kasih.”

Minwoo baru sadar ternyata Yoon Hee memiliki senyum yang manis.

***

Yoon Hee masuk kedalam kamar yang ditunjukkan Minwoo. Ia melihat-lihat kamar itu. Dekorasinya bagus. Minwoo bilang, ini kamar kakak perempuannya yang sudah pindah ke Amerika. Jadi, ia boleh menggunakan kamar ini untuk sementara.

Yoon Hee duduk diatas kasur sambil memikirkan sesuatu. Sekarang ia akan berjanji kepada Donghyun, bahwa ia akan bahagia, ia akan menuruti apa yang dikatakan Donghyun. Ia akan memulai lembaran baru dan bahagia tanpa Donghyun. Ya, ia berjanji.

Walaupun ia sendiri tidak yakin dengan janjinya.

***

Angin pagi yang sangat dingin menembus tulang rusuk Minwoo dan memaksanya untuk segera bangun. Dengan terpaksa, ia harus meninggalkan kasurnya itu dan berjalan kebawah untuk menggosok gigi.

“Selamat pagi. Kau baru bangun? Ini sudah ku buatkan sarapan.” Sapa seseorang dari arah dapur.

Minwoo melihat kearah dapur dan ternyata Jang Yoon Hee sedang menyiapkan makanan. Ia tidak menyangka Yoon Hee anak yang rajin. “Kau bisa masak?” Tanya Minwoo menghampiri Yoon Hee.

“Sedikit.” Sahut Yoon Hee tanpa mengalihkan pandangan kearah Minwoo. “Aku pernah diajarkan memasak dipanti asuhan dulu.”

“Oh baiklah. Semoga masakanmu enak.” Gurau Minwoo. “Yasudah, aku mau mandi dulu.”

“Awas saja kalau ternyata masakanku enak.” Gerutu Yoon Hee kepada Minwoo. Tapi, Minwoo tidak menghiraukannya. Ia terus berjalan menuju kamar mandi. Yoon Hee heran anak itu tidak mendengarkannya atau pura-pura tidak mendengar?

***

“Bagaimana masakanku?” Tanya Yoon Hee tersenyum jail.

“Masakanmu tidak enak.” Sahut Minwoo tanpa mengalihkan pandangan dari makanannya.

Wajah Yoon Hee berubah kesal. “Kalau tidak enak, tidak usah dimakan.” Kata Yoon Hee sambil menatap tajam Minwoo.

Minwoo mengangkat kepala, dan menyengir. “Masakanmu enak. Aku hanya bergurau.”

Tiba-tiba terdengar bel pintu berbunyi.

“Biar aku saja yang membukakan pintu.” Kata Yoon Hee sambil bangkit dari kursinya. Minwoo hanya mengangguk dan meneruskan makannya.

“Selamat pagi, mencari Minwoo ya? Silahkan masuk.” Sapa Yoon Hee sambil tersenyum kearah wanita bertubuh langsing dan tinggi itu. Yoon Hee melihat wajah wanita itu kaget dan bingung. Sudah pasti, karena mungkin wanita itu belum pernah melihatnya sebelumnya.

“Baiklah, terima kasih.” Kata wanita itu akhirnya, sambil melangkah masuk kedalam rumah walaupun sepertinya masih agak bingung.

“Silahkan duduk, akan kupanggilkan Minwoo.” Kata Yoon Hee.

***

“Siapa yang datang?” Tanya Minwoo ketika melihat Yoon Hee sudah kembali kedapur.

“Seorang wanita cantik, bertubuh tinggi, rambut berwarna coklat lurus.” Jawab Yoon Hee sedikit mengingat-ingat ciri-ciri wanita itu.

Minwoo sudah tau yang dimaksud Yoon Hee. Wanita itu pasti adalah Kim Yuri. “Baiklah, terima kasih.”

Minwoo berjalan menuju ruang tamu dan melihat seorang wanita yang sedang duduk menunggunya. Tidak salah lagi itu Kim Yuri.

“Hey, sudah lama?” Sapa Minwoo dan langsung duduk didepan Yuri.

“Oh? Tidak.” Sahut Yuri yang baru menyadari kedatangan Minwoo.

“Ada apa mencariku?” Tanya Minwoo.

“Aku ingin memberikan ini,” kata Yuri sambil mengulurkan sebuah map yang berisi lembaran-lembaran kertas. Minwoo menerimanya dengan wajah bingung. “kau harus menandatanganinya. Dan jangan lupa besok ada rapat tentang pembangunan renovasi restoran.”

Minwoo membuka-buka lembar per lembar kertas yang digenggamnya. Lalu, berpaling kearah Yuri. “Mana mungkin seorang direktur + anak seorang presdir sebuah café melupakannya?” Kata Minwoo menyombongkan diri.

“Sombong sekali.” Gerutu Yuri.

Minwoo tersenyum dan berkata, “Hanya bercanda,” katanya. “lalu, mana yang harus ku tanda tangani?”

Yuri menunjuk kertas yang harus Minwoo tanda tangani.

“Ini sudah selesai.” Kata Minwoo lalu membereskan kertas-kertas yang berserakan diatas meja.

“Baiklah, terima kasih.” Kata Yuri dan memasukkan map besar itu kedalam tasnya. “Minwoo, bolehkah aku menanyakan sesuatu?”

Minwoo menatap Yuri. “Apa?”

“Gadis yang tadi membukakan pintu untukku tadi siapa?” Tanya Yuri.

Minwoo sedikit bingung menjawab pertanyaan Yuri. Sebenarnya Minwoo tahu kalau Yuri akan menanyakan hal ini, tapi, dia belum menemukan jawaban yang pas. Tapi, Minwoo berhasil menjelaskan tentang Jang Yoon Hee walaupun ada sedikit kalimatnya yang acak-acakan.

Wajah Yuri sedikit berubah, Kecewa? Kaget? Minwoo tidak bisa mengartikan ekspresi itu. Tapi, tentu saja Yuri pasti kaget dan tidak percaya. Jadi, kemungkinan Yuri kaget mendengar cerita tentang Yoon Hee tadi.

“Kalau begitu aku pergi dulu.” Kata Yuri sambil berdiri.

“Cepat sekali kau pergi. Kau kesini hanya untuk menyuruhku menandatangani itu saja?” Tanya Minwoo dengan memasang ekspresi kecewa.

“Iya. Banyak yang harus aku selesaikan untuk persiapan rapat besok.” Jelas Yuri sambil berjalan menuju pintu rumah diikuti Minwoo yang berjalan disampingnya.

“Baiklah aku tahu, sekretaris selalu sibuk.” Celetuk Minwoo.

Yuri hanya tersenyum. “Berikan salamku untuk Jang Yoon Hee.”

Minwoo sedikit bingung, tapi ia mengangguk dan menjawab, “Baiklah.”

“Kalau begitu aku pergi dulu.” Yuri membungkukkan badannya dan pergi dengan mobilnya.

Minwoo memperhatikan mobil yang ditumpangi Yuri sampai mobil itu tidak terlihat, setelah itu ia masuk kedalam rumah dan mencari Yoon Hee.

***

Jang Yoon Hee sedang duduk didekat pantai belakang rumah Minwoo. Tempat itu sepi hanya ada air laut dan ombak laut yang bersuara, mengajaknya untuk menikmati suasana yang sejuk dan sunyi ini. Yoon Hee pun tertarik dengan ajakan itu, ia berdiri dan merentangkan tangan seperti orang yang sedang menikmati hembusan angin yang dibawa dari laut.

“AAAAAAAAAAAAAAAAA…………” Teriak Yoon Hee sekeras-kerasnya. Ia ingin berteriak lebih keras lagi untuk menenangkan jiwanya. Yoon Hee merasa dengan berteriak ia bisa merasa lebih tenang.

“Hey, jangan teriak-teriak. Berisik.”

Yoon Hee terlompat kaget dan melihat kebelakang. Ternyata Minwoo sedang berdiri dibelakangnya dan berjalan perlahan menghampirinya.

Yoon Hee menarik nafas dan duduk kembali disusul Minwoo yang duduk disebelahnya. “Tidak apa-apa, aku akan berteriak sekeras mungkin jika perasaanku sedang kacau.” kata Yoon Hee. Ia melihat Minwoo mengangkat alis. Karena tidak ingin melanjutkan lebih panjang lagi, ia mengalihkan pembicaraan. “Aku baru menyadari dibelakang rumahmu ada pantai.” Gumam Yoon Hee kepada Minwoo.

Minwoo terlihat sedikit aneh, tapi ia tidak bertanya apa-apa dan menjawab, “Dulu orang tuaku suka sekali dengan alam, ketika kami pindah dari Busan ke Seoul—dulu aku masih SMA—mereka melihat rumah ini dan membelinya. Tapi, baru 2 tahun mereka tinggali, mereka harus pindah lagi ke Busan karena tuntutan pekerjaan. Jadi, hanya ada aku dan kakak perempuanku—yang bernama Lee Eun Ra—yang tinggal disini. Tapi, setelah kakakku menikah ia pindah dan seperti yang sudah pernah aku katakan padamu, kakakku lebih memilih tinggal di Amerika bersama suaminya.”

“Jadi kau pernah tinggal di Busan?” Gumam Yoon Hee.

Minwoo mengangguk.

“Minwoo.” Panggil Yoon Hee.

“Apa?”

“Apa kau akan menceritakan tentang keberadaanku kepada orang tuamu?” Tanya Yoon Hee sedikit ragu.

“Tentu saja.”

“Kau sudah memberitahu mereka?”

“Belum.” Jawab Minwoo singkat. “Memang kenapa?”

“Aku takut reaksi mereka.” Jawab Yoon Hee memalingkan wajah kedepan, kearah pantai.

Minwoo menatap Yoon Hee yang sedang menatap kedepan. “Kau tidak usah takut. Orang tuaku baik. Sungguh. Mereka pasti akan mengerti. Mereka akan menerimamu dengan senang hati. Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja.”

“Apa itu benar?” Tanya Yoon Hee ragu dengan menatap Minwoo.

Minwoo mengangguk. “Iya.”

Tidak tahu kenapa saat Minwoo mengucapkan ‘kau tidak usah takut, mereka pasti akan menerimamu’ hati Yoon Hee sedikit lega, dan ia percaya dengan ucapan Minwoo ‘semuanya akan baik-baik saja.’

“Boleh aku tahu sesuatu lagi?” Tanya Yoon Hee masih menatap Minwoo.

“Apa?”

“Yang tadi datang siapa?”

“Oh…itu Kim Yuri. Dia teman baikku, bisa dibilang dia sahabatku. Semenjak aku baru pindah aku berkenalan dengannya. Bermain dengannya sangat menyenangkan. Dia itu lucu, periang, dan sangat menyenangkan. Kita bersekolah di SMA yang sama, sampai bekerja ditempat yang sama. Aku belum pernah melihatnya menangis dan aku tidak ingin melihatnya menangis.” Jelas Minwoo sambil memandang kedepan.

Yoon Hee masih menatap Minwoo, menunggu kelanjutan kata yang akan dikeluarkan laki-laki disampingnya itu.

“Oh ya, keluarga Yuri juga pernah tinggal di Busan!”

“Benarkah?” Tanya Yoon Hee dengan mata melebar.

Minwoo mengangguk. “Ya. Orang tua kita juga saling kenal. Keluarga Yuri sama seperti keluargaku juga. Aku mengenali semua keluarganya, dia tidak mempunyai kakak, tapi, mempunyai 1 adik laki-laki  bernama Shim Hyunseong. Ayahnya bekerja sebagai dokter sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Ayahnya menyuruh Yuri agar menjadi dokter sepertinya, tapi Yuri tidak mau. Yuri tidak suka pelajaran Biology. Jadi, untuk kabur dari tuntutan ayahnya, Yuri pergi mencari pekerjaan lain dan aku membantunya masuk kedalam restoran milik ayahku. Dan dia sekarang menjadi sekretaris di restoranku.”

“Kau hebat, kau tau semua tentangnya.” Kata Yoon Hee sambil bertepuk tangan. Lalu, Yoon Hee terdiam memandang Minwoo.

Minwoo merasa Yoon Hee memandangnya dan ia melihat kearah Yoon Hee. “Mengapa memandangku seperti itu?”

Yoon Hee tersenyum. “Kau menyukainya.” Kata Yoon Hee, itu bukan sebuah pertanyaan tapi itu pernyataan.

“Apa?” Tanya Minwoo kaget.

“Kau menyukai Yuri.” Ulang Yoon Hee sekali lagi.

***

“Kau menyukai Yuri.”

Minwoo terdiam sejenak sedang berfikir. Apa benar yang dikatakan gadis ini? Tapi, mengapa ia tidak menyadarinya? Malah orang lain yang menyadarinya. Mungkin gadis ini benar, ia merasa sangat senang bila berada didekat Yuri, perasaannya tenang dan nyaman. Ya, mungkin selama ini dirinya menyukai Yuri.

“Tapi, Yuri tidak menyukaiku.” Gumam Minwoo lebih pada diri sendiri.

Yoon Hee mengangkat alis.

“Yuri menyukai pria lain.” Kata Minwoo.

“Siapa?”

“Lee Joengmin.”

Yoon Hee tidak menjawab, dia terdiam.

“Yoon Hee, aku mohon, semoga kau tidak akan menceritakan masalah ini kepada orang lain.” Kata Minwoo sambil menatap Yoon Hee dengan pandangan memohon.

Yoon Hee mengangguk, lalu tersenyum.

Suasana menjadi sunyi. Perasaan canggung tiba-tiba menyelimuti hati mereka. Minwoo juga tidak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba saja ia kehabisan bahan obrolan. Minwoo melihat sekilas kearah Yoon Hee lalu, kembali memandang lautan yang luas.

“Oh ya, kudengar tadi ayahmu pemilik sebuah restoran?” Tanya Yoon Hee tiba-tiba.

Minwoo mengalihkan pandangan kearah Yoon Hee, “Sebenarnya aku tidak ingin menyombongkan diri, tapi, karena kau bertanya, aku akan menjawab,” kata Minwoo lalu, melanjutkan, “ya, kau benar.”

“Benarkah?” Tanya Yoon Hee datar.

“Ya, kau pikir aku sedang berbohong?” Kata Minwoo.

“Bukan begitu.” Katanya menatap Minwoo lalu, mengalihkan pandangan kedepan.

Minwoo mendengar Yoon Hee mendesah. Ternyata, gadis ini mudah untuk dikerjai. Minwoo tertawa dalam hati.

“Dulu, kakakku yang menjadi manager Café Chonsa itu. Dan seperti yang sudah kukatakan padamu. Setelah menikah kakakku tinggal bersama suaminya, jadi, ayah menyuruhku menggantikannya.” Kata Minwoo, “Sebenarnya aku tidak mau, aku tidak niat. Hanya saja karena ada Yuri, aku jadi menerimanya.”

“Oh begitu ya?” Gumam Yoon Hee. “Menurutku, itu hebat. Kau harus melakukan yang terbaik untuk kemajuan café milik ayahmu. Bagaimanapun juga, kau sudah dipercayai ayahmu untuk mengelola café miliknya. Jadi kau harus berbuat sesuatu yang baik untuk itu.”

Minwoo tersenyum dan mengangguk lalu, ketika akan mengalihkan pandangan kearah pantai tiba-tiba ia teringat sesuatu. “Oh ya, kau dapat salam dari Yuri.” Kata Minwoo.

“Benarkah? Oh, katakan padanya salam juga dariku.”

“Baiklah, akan aku sampaikan.” Kata Minwoo tertawa. “Kalian sangat mirip.”

This entry was posted by boyfriendindo.

12 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Love You Like You – Chapter 01

  1. waaah,,,, thor… next please…

    aku penasaran ama perasaannya minwoo ke yuri..?

    hehe… ditunggu ya…

    jangan lama-lama ne…🙂

  2. hua……. main cast.a my bias🙂
    Ok, krn ni ff bkn q speechless jd hrp di lnjtn & kalo blh saran di ksh POV (Point of View) biar lbh jls apa yg dirasain msng” cast
    ky.a itu dulu j, Lanjutin y, thor

    • Iya, aku sedang membuat lanjutannya. Mohon ditunggu ya,🙂
      Terima kasih sudah memberi komentar dan terima kasih sudah menyempatkan baca FFku..😀

  3. ceritanya, bahasanya bagus banget…
    ohya cuman mau ngasih tau, kalau dalam satu keluarga itu memiliki marga yang sama. kalau adiknya No berarti kakaknya juga bermarga No.
    ohya klau ceritanya bersambung kasih tanda TBC biar gk binggung readersnya🙂

    • Oh, terima kasih🙂
      Ya, soal marga untuk kakaknya, aku kebingungan. Soalnya, kalau No Eun Ra aku rasa agak aneh. Jadi, aku ubah menjadi Lee Eun Ra.
      Iya, terima kasih sudah memberi komentar, akan aku perbaiki kekuranganku dan terima kasih telah menyempatkan membaca FFku..🙂

  4. Bagus bagus..
    Habis ini aku mau baca next partnya..

    Tapi thor..
    Kenapa marga kakaknya Minwoo gak sama dgn Minwoo? Lee sama No. *nama kakak aslinya Minwoo No Eun Bin*
    Marganya Yuri juga gak sama dgn adiknya, Shim.
    Seharusnya, marga mereka sama antara kakak adik. Ya, kecuali mereka bukan saudara kandung.
    Kyk Jo twins. Marga mereka kan sama, adiknya juga Jo Hyun Min.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: