[FANFICT] At The Sweet Library

lain copy

Title 
: At The Sweet Library
Author   : Diah~ (@diahdanich)
Genre         : Romance, Sad Romance, Drama
Rating          : PG
Type   : Chaptered
Main Casts      
: ~ Shim Hyunseong  ~ No Han Byul (OC)
Support Casts
: ~ No Minwoo  ~ Kim Sungyeol (Infinite)

  ~ Park Minha (Nine Muses)

 
Everyone in this world has a soulmate
So not anyone can be a fit to my heart
-Soulmate – Boyfriend-

2 Januari 2013

Author’s POV

“Jam 16:07. Semoga saja dia masih disana.” Han-Byul berlari ke perpustakaan secepat mungkin. Tidak biasanya Byul terlambat untuk memenuhi janji. Berdandan secantik mungkin, membongkar isi lemari untuk mencari outfit yang manis dan elegan ternyata menghabiskan waktu lebih dari satu jam sehingga dia harus terlambat lebih dari 15 menit. Byul memutuskan untuk menelpon orang yang ingin ditemuinya saat ini.

Kebetulan sekali. Orang yang dimaksud telah menelponnya terlebih dahulu. ‘Oppa~’ muncul di layar telpon genggamnya.

“Yobuseo!! Oppa! Ne~ aku masih di jalan menuju kesana.” Byul mengangkat panggilan tersebut dengan masih berlari.

“Kamu berlari? Nanti kamu bisa jatuh.” Jawab seorang namja di seberang telpon.

Kali ini Byul berhenti di persimpangan yang menunjukkan lampu merah di lampu lalu lintasnya.

“Araseo. Aku lagi di persimpangan, sebentar lagi sampai.” Lampu merah sudah berubah ke hijau, dia pun melanjutkan larinya dan dengan asyik terus mengobrol.

“Aku membawakan sesuatu untuk kamu.” Namja itu memandang hadiah yang ingin dia berikan kepada Byul.

“Jinja? Tunggu aku.” Jawab Byul dengan kegirangan.

“Ya!!Ya!!Kamu!!Hei!!Hei!!” seorang ahjumma memanggil Byul dari belakang, tapi dia sama sekali tidak mendengarnya.

*Tiiiiittt* tiba-tiba terlihat dari samping, mobil melaju ke arah Byul. Byul melihatnya. Mobil itu melaju kencang dan seperti tidak terkontrol. Byul ingin menghindar tapi dia sangat terkejut dan ada perasaan aneh sehingga dia sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Semakin mendekat. *Bruuuuk*

Suara tubrukan terdengar ke sebrang telpon namja yang tadinya sedang asyik mengobrol dengan Byul.

“Yobuseo~? Byul? Han-Byul?!” *Tut tut tut* telpon terputus. Dia mencoba menelpon Byul lagi. Kali ini yang menjawab merupakan operator telpon.

****

Byul’s POV

Kalian percaya tentang sebuah takdir ?

Aku percaya semenjak bertemu dengan dia pengisi hariku.

Kalian percaya cinta mengubah segalanya ?

Aku percaya semenjak dia mengubahku untuk menyukai perpustakaan seperti aku bermula mencintainya di tempat yang penuh kenangan ini~

Hei tidak salah kan kalau aku si gadis berumur 22 tahun menguraikan beberapa kata mengenai cinta yang mungkin terlalu berlebihan. Tapi tidak sepertinya. Cintaku tentu saja lebih besar dibandingkan untaian kata yang sudah ku ungkapkan di atas.

Tempat kenangan ? Ya !! Sebuah perpustakaan dimana awal mulanya cinta ku bercerita dan terlukis beberapa emosi.

Dia bernama Shim Hyunseong. Pria yang saat itu berumur 20 tahun di waktu aku baru saja duduk di kelas 3 SMA. Hanya benih kekaguman pertama kali timbul ketika melihat sesosok pria tampan duduk di sudut ruangan sebuah perpustakaan umum yang tidak jauh dari sekolahku. Dia mengenakan kaos berwarna pastel berkerah hitam. Tergantung di telinganya sebuah earphone merah yang terhubung dengan IPhone putih nya. Buku-buku tebal bertaburan di atas meja tempat dia duduk.

Namaku Han Byul. Saat SMA dulu, aku paling malas dengan yang namanya membaca buku. Baik itu buku pengetahuan umum, komik, novel, koran atau apa pun lah itu. MinHa, seorang teman sebangku dari sejak aku menginjakkan kaki di SMP hingga SMA. Tidak hanya teman tapi juga sahabat. Jelas-jelas MinHa mengetahui kalau aku sangat alergi dengan membaca apalagi harus ke perpustakaan. Tapi dia terus memaksa kalau aku harus kesana untuk menyelesaikan tugas kami. Secara tidak langsung aku berterima kasih kepada MinHa yang menyuruhku ke perpustakaan dan akhirnya bertemu dengan dia, Shim Hyunseong.

Kenapa bisa awalnya hanya kagum ?

Tidak pernah dalam hidupku menemui seorang pria yang sangat menikmati membaca seperti Hyunseong. Bayangkan. Dengan buku-buku tebal yang bertaburan di mejanya, dia masih dengan santai membaca sambil mendengarkan musik. AWESOME !! Menurutku itu sangat MENGAGUMKAN.

Lalu menjadi cinta ?

Begini ceritanya……

30 Juni 2008

Aku berhenti sejenak di depan pustaka sebelum memutuskan untuk masuk. Rapikan baju dan rambut yang berantakan terlebih dahulu.

“Eonnie!! dia ada?” tanyaku pelan ke Songhyun Eonnie, salah satu penjaga pustaka.

“Ada!! Tuh lagi baca buku di tempat biasa.” dia menunjuk ke meja yang berada di sudut. Tapi disana tidak ada siapa-siapa melainkan buku-buku yang berantakan di meja. “Eh? kok hilang? tadi dia disana. Mungkin sedang mencari buku lain.” lanjut Songhyun Eonnie.

“Oh ne~ gomawo Eonnie.” mmm lagi cari buku ya. Aku memeriksa setiap lorong-lorong rak buku. Terhitung sudah kelima kalinya aku selalu ke pustaka dalam dua minggu ini. Melihat seorang pria yang kukagumi seusai sekolah seperti menjadi kegiatan rutinitas ku. Hahaha. Terdengar sangat aneh.

Drdrdrdr pesan masuk dari MinHa untukku, tolong pinjamkan buku sejarah. Oh ya Jangan terlalu keasikan memperhatikan  pujaan hati si kutubuku itu. Kekeke~

“Mwo? Pujaan hati? Aku hanya kagum akan dirinya.” Balasku.

MinHa selalu menggodaku. Hem, aku hanya kagum dengan pria yang belum kutahu namanya itu. Kagum akan minat bacanya serta ketampanannya. Hahaha

Aku menuju ke rak buku sejarah dan mencari buku untuk MinHa si gadis terpintar nomor dua di sekolah.

“Aish!! Di atas!?” buku sejarah yang dicari terletak di rak paling atas. Aku mencoba meraihnya dengan menjinjitkan kaki. Rak itu terlalu tinggi. Aku mencoba lagi, kali ini dengan sedikit melompat. Ternyata buku itu menyenggol buku-buku lain di sampingnya. Seketika buku-buku di rak atas berjatuhan ke arahku.

Di saat itu juga aku merasa badanku seperti ada yang menarik dan lalu mendekapku. Aku tidak tahu siapa karena dengan reflek aku menutup mata ketika melihat buku-buku berjatuhan ke arah ku. Orang itu mendekapku erat dan melindungi kepalaku di bawah tubuhnya yang besar. Coffee~ itu aroma tubuhnya. Berdetak. Jantungku berdetak. Terkejut karena runtuhan buku-buku juga terkejut ada orang yang berbaik hati melindungiku.

Aku membuka mata.

Rangkulan melonggar dan aku langsung melihat wajah orang yang menyelamatkanku.

“Gwenchana ?” tanyanya.

“Nan gwenchana.” Aku membalas tapi suaraku tidak keluar.

Kalian percaya siapa yang tepat berada di depanku sekarang ? Dia yang merangkulku. DIA !!

Namja di depanku mengibas-ngibaskan telapak tangannya tepat di depan wajahku sambil tersenyum simpul.

“Ah.Ya!! Gamsahamnida.” Jawabku yang mulai salah tingkah. “Tapi, kamu tidak apa-apa?” aku mencoba mendekatinya dan memastikan bahwa tidak ada luka di kepalanya.

“Ani-ani..tidak apa-apa.” Jawab dia. “Lain kali, berhati-hatilah” setelah itu dia berbalik badan.

Bodoh sekali kamu Han-Byul. Seperti orang idiot yang terdiam menatapnya.

“Jamkaman-” tanpa sadar aku memanggilnya.

“Ne~?” dia berbalik.

“Byul!! Apa yang terjadi?” Songhyun Eonnie datang, melihat buku-buku berantakan di lantai. Wajahnya yang cantik sekarang tergambar ekspresi terkejut dan seperti ingin memakanku kalau dia bisa.

“Maafkan aku Eonnie. Akan segera ku bereskan.” Aku merasa malu sekali. Dia si namja itu masih berada disana seperti menunggu maksud dari panggilanku.

“Bereskan segera!”

Aku menatap buku-buku yang berantakan dengan pandangan pasrah. Mengambil satu persatu buku dan meletakkannya kembali ke atas. Buku yang kupegang diambil oleh namja tadi. Dia membantuku.

Kalau saja bukan di situasi yang seperti ini, mungkin aku sudah mengajaknya untuk mengobrol.

“Pabo.” Ucapku pelan.

“Ne~?!” Ternyata dia mendengar ucapanku.

“Ani..Ani..” Aku melambai-lambaikan kedua tangan dengan cepat. Lalu lanjut membereskan buku. Tumpukan terakhir lalu dia meletakkannya lagi ke bagian rak paling atas. “Gamsahamnida. Jeongmal gamsahamnida.” Kataku sambil terus menerus membungkukkan badan.

“Hyunseong imnida.” Namja ini tiba-tiba mengulurkan tangannya mengajakku berjabatan.

Aku terdiam seperti tidak percaya kalau dia mengajakku berkenalan.

“Namamu?” tanyanya.

“Ah..Han Byul imnida.” Aku meraih tangannya.

****

2 Januari 2013 16:10

Hyunseong’s POV

*Tiiiiiiiit* *Bruuuuk* Suara nyaring dan keras terdengar dari sebrang telpon.

“Yobuseo~? Byul? Han-Byul?!” *Tut tut tut* telpon terputus.

Aku menekan tombol telpon genggamku dengan sedikit gemetaran. Apa yang terjadi? Klakson mobil? Apa itu suara klakson mobil?

Nomor yang Anda tuju…. Seorang operator telpon menjawab.

Aku segera keluar dari perpustakaan dan berlari menuju ke persimpangan terdekat dari sini. Ada apa dengan Han-Byul? Kenapa tiba-tiba telponnya terputus ?

Di persimpangan terdekat terlihat banyak sekali kerumunan orang dan ada beberapa mobil polisi serta ambulance. Sepertinya ada kecelakaan. Aku berhenti dan memperhatikan dari jauh sejenak.

Tidak mungkin!! Aku berlari ke arah kerumunan itu dan menerobosnya. Terlihat seorang yeoja berambut panjang terlungkup. Penuh darah di sekelilingnya. Seorang polisi membalikkan tubuh itu. Darah terus keluar dari sekitaran wajahnya dan beberapa luka di sekujur tubuhnya.

“Sebentar.” Aku mendekati polisi tersebut.

“Maaf Pak. Anda tidak boleh mendekat.” Seorang polisi lain menahanku dari belakang.

Aku tidak peduli. Tanganku menuju ke pergelangan tangan kiri yeoja itu dan melihat gelang berwarna merah yang familiar sekali. Ini Byul. Byul di depan mataku dalam keadaan seperti ini.

“Byul?” Suaraku gemetaran.

“Anda mengenalnya Tuan ?” Tanya polisi tersebut.

Aku menjawab dengan anggukan kepala pelan. Tubuhku sangat lemas melihat orang yang kucintai terbaring tak berdaya dan dipenuhi oleh darah tepat di depan ku.

Petugas ambulance yang mengenakan seragam putih datang mengangkat Byul dan membawanya ke dalam mobil ambulance. Aku mengikutinya dari belakang. Orang-orang terus berdatangan ingin melihat apa yang terjadi. Pikiranku sudah mulai kacau.

“Boleh aku ikut ke rumah sakit ?” Tanyaku ke petugas ambulance sebelum mereka menutup pintu mobil.

“Silahkan.”

Aku langsung masuk ke dalam dan duduk di samping dengan memegang erat tangannya. Petugas ambulance yang duduk di depanku sedang membersihkan darah-darah yang ada di tubuh Byul, memasangkan alat bantu napas dan infuse. Aku menggenggam tangan Byul dengan semakin erat dan berharap dia membuka matanya sesegera mungkin.

Sudah hampir 2 jam, Byul berada di dalam ruang operasi. Belum ada seorang pun yang keluar dan memberikan kabar. Aku duduk di kursi tunggu dengan perasaan bercampur aduk. Marah, kesal, kecewa, perasaan bersalah dan terus mengutuk diri sendiri.

“Oppa!!.” Aku mendengar suara yang familiar. Dua orang datang mendekatiku.

“Bagaimana keadaannya ?” Tanya Sungyeol yang datang bersama MinHa. Aku hanya menjawab dengan gelengan kepala. Raut wajah MinHa seperti kelelahan. Matanya terlihat basah. Dia menangis mengkhawatirkan sahabatnya.

“Han Byul !!” Tangisan MinHa semakin kencang.

“Kapan keluarganya akan datang ?” Tanya Sungyeol lagi yang sedang menenangkan MinHa dengan memeluknya.

“Ayahnya sedang dalam perjalanan langsung kemari dari Taiwan. Sedangkan Minwoo mungkin sebentar lagi sampai.” Jawabku.

Kami bertiga menunggu dengan belum ada kepastian.

Byul, jangan tinggalkan aku, bertahanlah Byul. Aku mohon. Tuhan, jangan ambil dia dariku dengan cara seperti ini. Aku sangat mencintainya.

Terdengar langkah cepat dari kejauhan. Minwoo datang dengan penampilan yang sangat berantakan.

“Noona? Mana noona?” Minwoo menghampiri Sungyeol yang langsung berdiri melihat kedatangan Minwoo.

“Hyung!!” Dia lalu melihatku yang masih terduduk lemas.

Belum sempat aku menjawab, pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter keluar mengenakan pakaian operasi lengkap. Dengan cepat kami semua menghampirinya.

“Dia tidak apa-apa kan ?” tanyaku.

Dokter itu menggelengkan kepalanya. “Dia belum sadarkan diri akibat benturan di kepalanya.” Kata dokter. “Dan juga kedua kakinya lumpuh.” Lanjut dokter dengan suara prihatin.

MinHa menangis lagi.

“Noona masih bisa sadarkan diri kan, Dok? Apa tidak ada harapan untuknya berjalan lagi?” tanya Minwoo.

“Ya, dia masih bisa sadar. Untuk kakinya, dia harus menjalankan terapi lebih lanjut. Saya butuh bicara dengan keluarga pasien.” Jawab dokter.

“Saya adiknya. Sebentar lagi Appa akan sampai.” Minwoo menjawab.

“Baiklah. Pasien sudah dipindahkan di ruang rawat inap.” Kata Dokter.

Harus berapa lama Byul terbaring seperti ini ? Sejak tadi dia belum juga sadarkan diri. Dengan bantuan alat pernapasan di hidungnya dan infuse terpasang di tangan kirinya, dia terlihat sangat tenang.

“Hanya saja…kedua kakinya lumpuh”

Kata-kata dokter tadi terngiang di pikiranku. Lumpuh? Seharusnya hari ini adalah hari yang paling bahagia untuk kami berdua.

*pintu terbuka*

Terlihat Minwoo membuka pintu dan masuk.

“Apa yang dokter katakan ?” aku menghampirinya. Tidak ada jawaban dari Minwoo. Selang beberapa detik kemudian pintu terbuka lagi, Mr. No, ayah Byul dan Minwoo, masuk. Beliau berjalan ke arah Byul yang terbaring. Aku tidak berani menyapa beliau. Beliau baru saja tiba dari Taiwan dan saat ini tergambar jelas dari raut mukanya bahwa Beliau sangat lelah. Ini bukan saat yang tepat untuk menanyakan kabar.

“Kamu bertahanlah Byul ! Kami semua mencintaimu dan akan terus menunggumu” Mr. No berkata untuk Byul lalu mencium kening putrinya.

“Apakah sesuatu akan terjadi ?” tanyaku ke Mr. No

“Belum tahu pasti kapan dia akan sadarkan diri. Walau benturan di kepalanya tidak terlalu keras tapi itu adalah daerah yang sangat fatal.” Jawab beliau yang masih menatap Byul.

“Bagaimana dengan kakinya ? Byul lumpuh ?” tanyaku lagi.

“Iya tapi akan segera sembuh jika noona rajin melakukan terapi setelah dia sadar.” Kali ini Minwoo menjawab.

Aku tidak percaya ini. Hanya satu harapanku. Andai ini semua adalah mimpi.

Tuhan, kenapa harus Byul yang mengalami ini. Kenapa harus orang yang aku cintai.

“Hyunseong.” Mr. No memanggilku.

“Ya?”

“Bukannya kamu seharusnya ada di Australia sekarang ?” tanya Mr. No

“Aku baru saja tiba tadi siang.” Jawabku.

Selama dua tahun, aku melanjutkan kuliah di Australia. Lebih tepatnya aku mendapatkan beasiswa untuk menyelesaikan kuliah disana. Jadi, selama dua tahun pula aku dan Byul pacaran jarak jauh.

“Hyung bersama dengan noona ketika kecelakaan ini? Apa yang terjadi dengannya?” Minwoo tiba-tiba bertanya.

Aku terkejut. Memang seharusnya aku berkata jujur tentang kejadian hari ini.

“Tidak. Aku tidak bersamanya.” Jawabku pelan. “Dia ditabrak oleh sebuah mobil ketika sedang menyebrang jalan.” Sambungku.

“Bagaimana bisa kamu ada disini? Seseorang menelponmu?” kali ini Mr. No yang bertanya.

“Tidak. Saat itu kami sedang mengobrol melalui telpon dan lalu…..” Aku menghentikan jawabanku.

*Bruk* sebuah pukulan mendarat di pipi kananku.

Minwoo berdiri dengan tangan mengepal. Aku pantas mendapatkan ini.

“Kenapa noona harus menderita setiap kali bersamamu, Hyung?!!” Dengan penuh amarah dan nada sedikit meninggi dia berkata kepadaku.

Aku hanya menunduk dan tidak menjawab.

“Minwoo!!!” Mr. No menegur Minwoo tegas.

“Hyunseong, lebih baik kamu pulang sekarang. Lihat dirimu yang berantakan saat ini.” Mr. No mengkhawatirkan ku yang dari tadi masih menunggu Byul di rumah sakit.

“Saya tidak apa.” Jawabku. Aku ingin berada disini terus, di samping Byul.

“Hyunseong. Kamu bisa balik lagi besok pagi. Sekarang beristirahatlah.” Mr. No mengabaikan perkataanku.

“Hyung, mending kamu pergi sekarang. Dan kalau bisa jangan pernah kemari. Aku tidak ingin noona selalu menderita dan menghadapi kesialan setiap berada di dekatmu.” Perkataan yang kasar keluar dari mulut kecil Minwoo. Aku tidak menyangka dia berkata seperti itu.

“No Minwoo!!” teguran lagi untuk Minwoo. Dia pun langsung pergi meninggalkan kamar inap Byul.

Suasana sekarang menjadi tidak mengenakkan. Apa betul kalau aku hanya membawa penderitaan untuk Byul?

Sudah waktu nya aku pulang dan kembali besok pagi. Aku memperhatikan penampilanku yang berantakan.

Sepanjang jalan yang ku pikirkan hanya Byul. Mr. No tadi sempat berkata sebelum aku berpamitan pergi untuk jangan terlalu membuang waktuku menjenguk Byul setiap hari. Tapi tujuanku kembali ke Korea memanglah hanya untuk bertemu dengan Byul. Tidak ada yang lain.

Sudah hampir dua minggu berlalu.

Minwoo melarangku untuk datang dan berkunjung ke kamar rawat Byul. Dia selalu mengusirku setiap kali melihatku datang ke rumah sakit.

“Apa perlu aku bilang sesuatu kepada Minwoo?” Ujar MinHa kepada ku.

Tidak tahu harus dengan siapa lagi aku harus bercerita tentang betapa kacau nya keadaanku sekarang karena tidak bisa melihat Byul yang masih terbaring dan tak sadarkan diri di rumah sakit.

“Tidak perlu. Dengan mengabarkan bagaimana keadaan Byul saja sudah cukup untukku.” Jawabku dengan pasrah.

“Appa nya Byul kemarin menanyakan Oppa kepadaku.” Ucap MinHa.

“Lalu? kamu menjawab apa?” Tanyaku. Mr. No pasti berpikir kalau aku seorang namja buruk yang tidak mau menjenguk kekasihnya sendiri.

“Aku hanya bilang, Oppa masih di Korea.” Jawab MinHa.

Aku mengubah posisi dudukku untuk menunggu beberapa kata lagi dari MinHa.

“Sebenarnya, beliau tahu kalau Minwoo melarangmu untuk menjenguk Byul.” MinHa menambahkan dengan cepat. “Tapi, dia tidak bisa berkata apa pun. Karena beliau juga sebenarnya tidak ingin Oppa juga berada disana beberapa saat.” Suara MinHa mengecil.

Keadaan lebih buruk yang ku kira. Bahkan sekarang Mr. No sendiri tidak ingin melihatku.

“Oppa!! Aku tidak bisa diam saja seperti ini. Aku harus mengatakan sesuatu ke Minwoo dan Appa nya Byul agar Oppa bisa melihat Byul.” Gadis yang sangat bersemangat di depan ku ini tidak pernah berubah. Dia selalu baik dan mendukung hubunganku dengan Byul.

“Terima kasih MinHa.”

Banyak yang kutinggalkan selama aku berada di Korea. Pekerjaan. Proyek. Deadline. Tapi sama saja, jika aku harus kembali ke Australia, pikiranku pasti akan tidak fokus dan terus menerus memikirkan Byul. Pekerjaan dan lainnya masih bisa ku cari lagi. Tentu saja email, text, telpon terus-terusan masuk dan menanyakan dimana keberadaanku sekarang. Semua dari rekan kerja.

Seperti orang bodoh dan gila. Semakin hari semakin kacau. Kabar-kabar yang MinHa sampaikan tetap sama, Byul masih terbaring di rumah sakit dan belum sadar. Sedikit perkembangan memang ada, jari kelingkingnya sempat bergerak sebentar. Tapi hanya jari, bukan matanya yang terbuka, bukan mulutnya yang bergerak.

Pagi hari di pertengahan bulan Januari, aku bergerak menuju perpustakaan yang menjadi tempat kami menghabiskan waktu saat dulu. Ingat sekali di meja ini Byul pernah berkata kalau dia bosan hanya melihat ku membaca buku. Dan dia selalu menggangguku jika kebosanan dia muncul. Aneh. Aku tidak bisa marah saat itu.

Dia juga pernah berkata kalau dia memutuskan untuk mencintai buku dan membaca hanya karena dia mencintaiku. Gadis yang aneh. Itulah Byul. Keriangannya. Senyumannya. Keusilannya.

Byul, aku rindu.

Drdrdrdrdr Nama Sungyeol muncul di layar handphone ku.

“Yobu-”

“Hyung!!! Dimana kau sekarang?”

Perkataanku dipotong oleh Sungyeol di seberang telpon.

“Aku lagi di pustaka.” Jawab ku singkat.

“Hyung, ke rumah sakit sekarang. Byul…Byul…” Sambung Sungyeol.

“Ada apa dengannya?” Aku menaikkan nada bicaraku dan berdiri dari tempat duduk. Semua orang di pustaka melihat ke arahku. Aku pun keluar dari pustaka dengan cepat karena takut mengganggu lainnya.

“Byul sudah sadar. Aku dan MinHa lagi di jalan menuju kesana sekarang.” Kabar dari Sungyeol membuat senyuman merekah tergambar di wajahku.

Tapi kalau aku kesana bagaimana dengan Minwoo dan Appa nya!? Oke. Itu urusan nanti.

“Baiklah aku kesana sekarang.” Jawabku langsung kepada Sungyeol.

Dia sadar !! Yeoja ku, Byul ku sudah sadar.

Terima Kasih Tuhan.

Semua sudah berkumpul. Appa nya, Minwoo, Sungyeol dan MinHa sudah sampai di rumah sakit duluan. Aku tidak berani masuk dan hanya melihat dari luar pintu yang terbuka sedikit.

MinHa memeluk erat Byul yang sedang menangis.

“Kakiku. Kenapa MinHa!?” Itu yang terdengar olehku. Byul menangisi kakinya yang tidak bergerak.

“Ini akan baik-baik saja anakku. Kamu harus melakukan terapi dengan rutin agar semuanya kembali normal.” Appa nya mendekati Byul.

Seharusnya aku juga berada di dalam sekarang untuk menyemangatinya seperti yang lain lakukan.

“Hyunseong Oppa! Oppa Eodisso ?” Dia menanyakanku. Kakiku melangkah masuk.

“Dia di Australia saat ini.” Minwoo menjawab cepat. Langkahku terhenti.

“Byul. Kamu lebih baik istirahat dulu. Hyunseong sedang sibuk sekarang. Kamu bisa menghubunginya nanti.” Perkataan Mr. No membuatku semakin hancur. Aku pergi meninggalkan rumah sakit.

Drdrdrdrdr MinHa Calling.

“Oppa!!! YAHH!!! DIMANA KAU SEKARANG!??” MinHa berteriak di seberang telpon.

“Aku..”

“Aku tahu kau ada di rumah sakit tadi. KENAPA KAU TIDAK MASUK HA!?” MinHa memarahiku lagi.

“MinHa-ya~ Byul lebih baik jika tidak bersamaku saat ini. Benar kata Appa nya. Aku sedang sibuk.” Jawabku.

“Apa cuma segitu nyalimu ?” MinHa masih dengan nada tingginya.

“MinHa~ Aku tahu aku pengecut. Tolong berikan aku waktu.” Waktu? perkataan konyol seperti apa yang sudah aku lontarkan.

“Terserah!! Aku tidak akan membantu apa pun lagi kalau kau hanya terus-terusan seperti ini.” MinHa pun lalu memutuskan telpon.

Aku menuju apartemen dan mengistirahatkan diri yang sebenarnya tidak lelah. Baru beberapa menit mata ku tertutup, sebuah panggilan masuk lagi ke handphone ku. Dengan malas aku meraihnya dan menatap layar.

Han-Byul Calling…

Nama itu tertulis di layar handphone. Dia menghubungiku dan pasti ingin menanyakan kenapa aku tidak berada disana ketika dia sadar. Aku cuma bisa menggenggam handphone yang masih berdering dan bertuliskan nama Han-Byul muncul di layarnya.

5 kali dia menelponku tapi aku tetap tidak menjawab panggilan yang masuk ini.

Jam sudah menunjukkan pukul 20:17 KST

Sebuah text masuk.

Oppa. Apa sesibuk itu kah Oppa sampai tidak bisa menjawab telponku? Maafkan aku yang ceroboh dan berakhir dengan keadaan buruk seperti ini. Hehehe (^^;) Oppa !! oppa sudah makan ? Disana pasti bukan malam lagi, disini malamnya tidak terlalu dingin. Tapi entah kenapa kakiku tidak dapat bergerak. Aku ingin sekali bertemu denganmu dan membaca buku di perpustakaan. Hubungi aku segera setelah membaca pesan ini. Oppa. Saranghaeyo.

Kenapa dia harus meminta maaf? Seharusnya aku yang mengatakan seperti itu.

Dan dia masih bisa tertawa kecil di pesannya.

“Nado saranghaeyo Byul.” setetes air mata jatuh di ujung mata kiriku.

Dengan cepat aku mengambil jaket lalu keluar dari apartemen dan menggerakkan mobil menuju ke Rumah Sakit. Aku berlari sekencang mungkin arah kamarnya. Aku melihat Byul lagi duduk di atas ranjangnya. Dia menatap ke layar handphone yang sedang digenggam. Sepertinya dia menunggu balasan pesanku. Aku bermaksud untuk masuk dan…..

“Apa yang kau lakukan disini?” Minwoo dari arah berlawanan datang sambil membawa sekantong plastik.

“Aku ingin melihat Byul.” Jawabku.

“Kau bisa melihatnya dari luar. Tidak perlu masuk.” Dengan ketus Minwoo berkata.

“Minwoo. Izinkan aku ketemu dengannya sekali.” Ucapku.

Drdrdrdr  Han-Byul Calling…

Minwoo melihat ke arah handphone ku. Dari ekspresi yang ku keluarkan, sepertinya dia tahu kalau yang menelponku adalah Byul.

“Maafkan aku jika hanya bisa membuatnya menderita. Tapi tolong sekali saja.” Sambungku kepada Minwoo.

*Bruuuk* *Praaang*

Sebuah suara keras terdengar dari kamar Byul. Apa yang terjadi ?

Minwoo dengan cepat masuk. Aku pun mengikutinya.

“Noona!!!” Teriak Minwoo.

Byul jatuh dari ranjangnya. Vas bunga pecah. Tempat letak Infuse pun juga jatuh di samping Byul. Byul berkali-kali mencoba untuk berdiri tapi dia tidak bisa.

“Noona!!” Minwoo membantu Byul.

“Oppa!?” Byul melihatku.

Aku bergerak ke arah Byul dan meminggirkan sedikit tubuh Minwoo. Byul pun aku angkat dengan pelan dan medudukkannya kembali di atas ranjang. Aku lalu memencet sebuah tombol yang terhubung dengan suster yang menjaga di luar untuk datang ke kamar Byul.

Tidak lama kemudian. Seorang suster pun datang dan memasang kembali infuse yang terlepas dan mengambil vas bunga yang pecah.

“Aku tahu Oppa pasti datang.” Dia menahan tangis dan menampakkan sebuah senyuman.

“MinHa sudah cerita semuanya.” Katanya sambil melihat ke Minwoo.

“Byul..”

“Noona..”

“Minwoo, pulanglah. Aku ingin dijaga oleh Hyunseong Oppa malam ini.” Byul berkata pelan tapi tegas ke Minwoo.

“Noona. Aku bisa menjagamu.” Jawab Minwoo.

“Minwoo! Tolonglah!”

Dengan segera Minwoo mengambil jaket dan kunci motornya. Dia pun pergi sambil membanting pintu dengan keras.

Malam itu aku menjaga Byul. Dia tertidur lelap sambil menggenggam kuat tanganku. Selama dua tahun lebih aku tidak melihatnya secara langsung dan sedekat ini. Byul. Kamu lah istri ku di kemudian hari.

“Saya ingin melamar Byul dan menjadikannya istri.” Dengan mantap aku pun berkata kepada Mr. No, Appa nya Byul. Secepat yang ku bisa, aku ingin meyakinkan Mr. No kalau aku bisa menjaga Byul.

“Bisakah kau mengatakan itu setelah Byul benar-benar sembuh?” Mr. No membersihkan mulutnya dengan serbet. Kami sedang makan siang di restauran mini yang ada di rumah sakit. Byul sedang bersama dengan MinHa sekarang di kamarnya.

“Maafkan saya.” Ucapku.

“Dia perlu sembuh dengan total. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk anakku sendiri dan melihatnya berjalan lagi.” Balas Mr. No.

“Begitu juga dengan saya. Saya berencana membawanya ke Australia dan melakukan pengobatan disana.” Sambungku pelan.

“Jadi maksudmu aku tidak bisa menyembuhkannya disini anak muda?” Mr. No meneguk segelas air putihnya.

“Bukan begitu. Maafkan saya.” aku membungkukkan kepala. “Saya ingin membuktikan kepada Anda bahwa saya sangat mencintai Byul dan akan memberikan yang terbaik untuknya.”

“Hem! Kuat juga nyalimu.” Ucap Mr. No. “Apa kau sudah bertemu Minwoo?” Tanyanya.

“Sudah tadi malam.” Jawabku.

“Lalu?”

“Lalu?” aku bertanya balik. “Ha Iya. Dia terlihat masih marah.” Jawabku.

“Hahaha” Mr. No tertawa. “Biarkan Minwoo menjadi urusanku. Kau jagalah Byul dengan sungguh-sungguh.” Lalu Mr. No bangkit dari duduknya dan meninggalkanku sendiri. Apa ini artinya dia menyetujui ku menikahi Byul?

“Ah ya!” Mr. No berbalik lagi. Dengan terkejut aku melihat ke arah beliau. “Tolong bayarkan makananku.” Dengan senyuman ramah, Mr. No berkata.

“Baik.” Aku pun menunduk ke arah nya.

Aku mengambil kotak cincin yang sempat tertunda ketika aku ingin memberikannya ke Byul di awal Januari lalu, dimana hari Byul mengalami kecelakaan.

Cincin ini aku ada di jari manismu, Byul. Aku pun berkata kecil kepada cincin yang sedang ku pegang.

Aku berlari ke kamar Byul. Terlihat dia sedang duduk di atas kursi roda, melamun melihat ke luar jendela. Aku menyimpan kembali kotak cincin yang ku pegang dan menghampirinya.

“MinHa sudah pergi?” aku bertanya kepadanya.

“Ya. Sungyeol menelponnya tadi. Sepertinya mereka bertengkar lagi. Hihihi” Dia tertawa kecil memikirkan kedua temannya.

“Kenapa kamu tertawa melihat mereka bertengkar?”

“Masalahnya sangat sepele Oppa! Sungyeol marah karena MinHa tidak membangunkannya dan meninggalkannya sendirian di rumah. Hahaha.” MinHa dan Sunyeol baru menikah 3 bulan yang lalu. Sayang waktu itu, aku tidak ada di Korea dan tidak bisa hadir ke acara pernikahan konyol mereka. Begitulah yang pernah diceritakan oleh Byul.

“Oppa~” Panggil Byul pelan. “Apa aku masih bisa berjalan lagi?”

Aku pun berlutut di depannya dan lalu menggenggam tangannya erat. Mengeluarkan kotak cincin dan membukanya pelan di depan Byul.

“Menikahlah denganku. No Han Byul.”

Dia mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah luar jendela lagi. Terdiam sejenak.

“Aku tidak bisa.” Byul mengeluarkan air mata, menunduk dan berkata pelan.

Aku memeluknya.

“Aku tidak bisa Oppa! Tidak bisa.” Tangisannya semakin kuat.

“Aku akan menjagamu. Kamu meragukanku?” tanyaku sambil memegang lembut kedua pipinya.

“Bukan Oppa. Bukan!” Dia menurunkan kedua tanganku. “Masih banyak wanita lain yang lebih sempurna dibandingkanku. Saat ini aku hanya bisa bergantung pada alat ini.” Dia pun memegang roda yang ada di kursinya.

“Aku mencintaimu. Bukan mencintai fisikmu. Aku mencintai ketulusan dan penantianmu kepadaku selama ini. Bukan mencintai apa yang terlihat di depanku.” Aku meyakinkannya. “Aku tidak peduli sekurang apa pun kamu, Byul.”

“Oppa!” Dia menangis lagi.

“Aku mencintaimu.” Aku pun memeluknya. “Menikahlah denganku.”

Anggukan pelan dan pasti diberikan oleh Byul untukku. Senyuman di balik tangisnya tampak sangat cantik.

“Aku akan memberikanmu pengobatan terbaik sampai kamu bisa berjalan lagi. Percayalah kepadaku.”

– END –

My heart, my better half, my destiny, it’s you

-Soulmate – Boyfriend-

Note : Having planning to make this Fanfiction into the Chapter version ^^ Sungyeol and MinHa will be not as Support casts in the Chapter Vers but as Main Casts also. Please love this fanfaction and others. Tunggu Chapter version ya ^^)/

-Diah-

This entry was posted by boyfriendindo.

8 thoughts on “[FANFICT] At The Sweet Library

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: