[FANFICT/FREELANCE] Love Hate – Chapter 3

Title 
Love Hate – Chapter 03
Author @Han_SooYun
Genre Romance,Comedy,Friendship
Rating Teen
Type Chaptered
Main Casts 
~ Jo Kwangmin~ Yoon Dae Hee [OC]
Support Casts 
~ Jo Youngmin~ Shin Kyung Min [OC]

~ Lee Joon [MBLAQ] 

Disclaimer                  : FF ini yang bikin saya ! FF ini punya saya !😀 Plot dan Alur itu murni dari karangan saya..

Theme Song               : MBLAQ-I Don’t Know

                                                Boyfriend-Don’t Touch My Girl

Author Note               : Halooo..I’m Comeback again..hehehe..😀

FanFic ini terinspirasi dari lagu MBLAQ di atas.Tapi cerita beneran murni dari karangan saya.Setelah baca FF ini coment dan kasih pendapat serta saran kalian yah J .Oh iya,readers please kasih coment kalian dan saran+kritik yang membangun J ini masih “dalam tahap Flashback antara Daehee-Kwangmin looh J tapi semakin berlanjut tokohnya semakin banyak…Tapi sekali lagi, Jeongmal Gomawo udah mau nyempetin baca FF-ku dan coment kalian sangat membangun untuk ku J Tinggalkan jejak yah setelah baca FF ini.. NO PLAGIAT !

*~*Happy Reading All*~*

Preview Chapter 1 :

“PUAS KAU ?! Pergi kau jauh-jauh dari hidupku !!” kemudian Jo Kwangmin tidak berkata apa-apa lagi. Tanpa melihat ke arah Daehee ia berjalan melewatinya dengan langkah lebar.

            Mendadak sekujur tubuhnya berubah menjadi dingin. Daehee terkejut ketika Kwangmin membentak Daehee. Dan tentang kalimat terakhirnya itu, kenapa Daehee begitu sakit untuk mendengarnya ? Perasaan apa ini ? Semarah itukah dia pada Daehee ? Daehee tidak pernah melihat Kwangmin semarah ini meskipun Daehee bertengkar dengannya.

Daehee menatap punggung Kwangmin yang berjalan pergi menyusuri koridor dengan perasaan bercampur aduk. Bingung. Cemas. Takut. Sementara Kyungmin yang disebelah Daehee sedang menenangkan Daehee. Perasaan bersalah apa ini ?

Bagaimana ini ? Sekarang Kwangmin sangat marah dengannya. Apa yang harus ia lakukan ? Oh, Astaga ! masalah ini semakin rumit.

            ****

 

Aku tak tahu apa yang kau fikirkan ..

Aku benar-benar tak tahu ..

Aku tak tahu mengapa kau menyebalkan dan marah ..

Aku tak tahu ..

Aku tak bisa tanpamu, aku hanya mencintaimu seperti ini, kau hanya mencintaiku ..

MBLAQ – I Don’t Know

 

****

 

‘Ottokhae ?’ batin Daehee menggumam.

Ada yang tidak beres sejak Kyungmin melihat Daehee terus diam di kelas. Ia duduk disamping Daehee sejak tadi memperhatikannya. Ketika yang lainnya sedang mengobrol asyik, diam-diam Kyungmin memperhatikan Daehee yang memegang jari-jari kuku tangannya cemas. Kyungmin tahu sahabatnya ini sedang tidak baik sejak tadi ia bertengkar dengan Kwangmin. Lalu ia tahu dimana posisinya sekarang yang paling tepat. Baru kali ini ia melihat Daehee segelisah ini.

“Daehee-ya, kau melamun ?” Kyungmin menyentuh pundaknya menyadarkan Daehee.

Daehee baru sadar bahwa ia melamun setelah Kyungmin berbicara dengannya. Sedari tadi pikirannya tidak bisa berpikir dengan jernih. Daehee terus terfikir bagaimana ia mengingat Kwangmin sangat marah padanya tadi. Biasanya ia akan biasa saja saat Kwangmin marah. Tidak akan ia pedulikan Kwangmin mau berkata apa saja. Tetapi perasaan bersalah menyergapnya kali ini dan ia sangat merasa bersalah padanya.

Daehee tidak bisa menjawab pertanyaan Kyungmin. Bahkan berbicara saja mulutnya seperti terkunci.

Kyungmin tersenyum mengerti. ”Kau merasa bersalah ? kalau begitu minta maaf lah,”

Mendadak Daehee menatap Kyungmin ragu. Dari tatapannya seperti menanyakan apakah ia harus melakukannya atau tidak ? Kyungmin mengangguk yakin. Sedetik kemudian Daehee tersenyum dan memeluk sahabatnya itu erat.

Gomawo, Kyungmin.”

Sebagai balasannya Kyungmin hanya menepuk-nepuk bahu Daehee pelan

****

“Hai, kau melihat Kwangmin tidak ?”

“Aku tidak melihatnya.”

Ah, kamsahamnida.”

“Kau melihat Kwangmin tidak ?”

“Tidak.”

Kamsahmnida.”

Annyeong sunbae, apa kau melihat Jo Kwangmin ?”

“Maaf, aku tidak melihatnya.”

“Oh, baiklah kalau begitu kamsahamnida.”

Daehee mengusap pelipisnya pelan. Ia mendesah berat. “Hahh, Kwangmin kau dimana sih ?”

Cling ! satu ide muncul di otaknya. Tadikan guru itu bilang dia di suruh membersihkan kamar mandi. Sebaiknya Daehee susuli saja. Tapi tunggu dulu, kamar mandi laki-laki kan ? bagaimana nanti ia dikira gadis maniak ? atau semacamnya yang buruk bagi Daehee. Ah, sudahlah. Ia kan menemui Kwangmin hanya untuk meminta maaf saja. Tujuannya baik bukan ?

Masing-masing lantai sekolah mempunyai 1 kamar mandi laki-laki dan perempuan. Dan Daehee harus menemui Kwangmin.

Daehee sudah ada di depan pintu kamar mandi. Seorang laki-laki keluar dari kamar mandi lantai 4.

“Permisi, ada Kwangmin tidak di dalam ?”

“Iya, ada.”

“Oh, dia sendiri atau.. ?”

“Sedang membersihkan lantai.” Potong murid itu.

Ah, kamsahamnida.”

Setelah murid itu pergi. Duh, bagaimana ini ya ? aku masuk tidak ya ? kalau masuk aku dikira maniak. Tapi jika tidak masalah ini akan semakin berlanjut dan Kwangmin akan semakin sebal padaku. Daehee terdiam sejenak mencoba berfikir. Masuk sajalah, Oh God ! Please help me.

Daehee membuka pintu tanpa menimbulkan suara. Disana terlihat Kwangmin yang membelakangi gadis itu tanpa menyadari siapa yang ada di belakangnya. Entah mengapa, mulutnya terasa kaku untuk berbicara. Banyak hal yang ingin ia katakan pada Kwangmin, tapi ini semua terasa berat.

Daehee sudah bersiap-siap membuka mulutnya, namun ia tutup lagi. Ia menunduk dan berfikir sejenak. Dan akhirnya Daehee kembali membuka mulutnya untuk berbicara dengan Kwangmin.

“Ka-Kwangmin­-ah,” seru Daehee sedikit terbata. Jelas saja ? masalah tadi membuat Daehee ragu apakah Kwangmin mau memaafkannya atau tidak.

Bukannya Daehee merasa ingin berdamai dengan musuhnya itu, tidak. Daehee hanya ingin bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuatnya.

Disisi lain, Kwangmin merasa kenal dengan suara itu. Tetapi bagaimana ia bisa masuk ke kamar mandi pria ? Kwangmin berbalik dan benar saja itu adalah Daehee. Ia begitu sengit menatap gadis itu dan mendelik sinis.

Wae ?! Aa, kau mau meledekku ? baik, lakukanlah.. tapi setelah itu jangan muncul dari hadapanku lagi.” sela Kwangmin tajam lalu membelakanginya.

Daehee membuka mulutnya ragu. “Bu-bukan begitu..”

Kwangmin masih tidak peduli Daehee ingin berbicara apa saja. Jadi dari pada Kwangmin harus kesal padanya dan membuang-buang energi hanya karenanya, lebih baik ia tidak menganggapnya ada.

Mi-mianhae,”

Kwangmin berhenti dari aktifitasnya dan mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia terdiam dan berfikir sejenak. Kemudian berbalik.

Mwo ?” Kwangmin menengok kaget, bagaimana mungkin seorang Daehee meminta maaf. Ah, paling ini hanya rencananya dia untuk kembali mengerjaiku. Kwangmin tidak akan kemakan tipuan mu Daehee !

“Kwangmin-ahMianhae,” Daehee mengangkat kedua tangannya meminta maaf. Matanya tertutup rapat, seolah berharap agar Kwangmin memaafkannya. Ia taruh di depan dadanya dan meminta maaf kepada Kwangmin memelas.

Tapi tidak di rubis oleh Kwangmin. Karena ia masih sangat marah dengan Daehee. Karenanya ia selalu di hukum. Bahkan ia sempat berpikir untuk jauh-jauh darinya. Karena Kwangmin masih marah, ia melanjutkan mengepel lantai kamar mandi dengan cara membelakangi Daehee. Ia mengepel dengan asal..

“Aishh..” Daehee menghindar dari Kwangmin. “Kwangmin-ah, kau jangan mengepel sepatu ku juga dong ! basah tau !” protes Daehee mengangkat-angkat kakinya.

“Suka-suka aku dong ! salah sendiri kau disini.”

Daehee tidak menyerah. Ia menghampiri Kwangmin yang membelakanginya.

“Kwangmin-ah.. Jinjja mianhae.. Jebal maafkan aku.” pinta Daehee mengerucutkan bibirnya. Ia menatap Kwangmin dengan penuh harapan. Berharap Kwangmin mau memaafkannya dan tidak marah lagi padanya.

Kwangmin berhenti, lalu menatapnya. Kemudian pria itu menghembuskan napasnya berat. “Kau fikir memaafkan itu hal yang mudah ?” tanya Kwangmin menatapnya dengan sengit.

Daehee menundukkan kepalanya lesu. ”Aku benar-benar minta maaf.”

Ia berharap Kwangmin mau memaafkannya saat itu juga, tetapi kenyataannya tidak semudah dengan apa yang ia fikirkan. Ia menghela napas panjang.

Disisi lain, Kwangmin menatap gadis itu iba. Sebenarnya dari mimik wajahnya ia terlihat tulus meminta maaf, tidak seperti sewaktu gadis itu mengerjai Kwangmin. Tidak ada raut keterpaksaan di wajahnya. Kwangmin jadi kasihan kepadanya. Tapi yasudahlah ia tidak mau membahasnya untuk sekarang ini.

“Sebaiknya kau keluar sekarang, aku ingin membersihkan ini semua tidak mungkin kau disini,” ujar Kwangmin mencoba bersikap dingin ke Daehee. Padahal hatinya berlawanan dengan perkataan dan ekspresi wajahnya.

“Tapi..”

Krekk..

Pintu kamar mandi terbuka begitu dua orang siswa yang tidak Daehee kenal masuk ke kamar mandi itu. Mereka begitu terkejut begitu ada wanita disini. Bahaya ini, sebersit fikiran terlintas di otak Kwangmin. Murid itu bisa berfikir yang tidak-tidak jika Daehee ada disini.

“Eo, Kwangmin-ah. Kalian.. Sedang apa ?” tanya salah satu siswa menunjuk Daehee dan Kwangmin.

A-ania.. kami hanya..”

“Ya, cari saja kamar mandi lain. Kau mau buang air kecil di depan wanita ?” bisik murid yang satunya itu ke murid yang pertama, tetapi bisikannya itu masih di dengar oleh Daehee dan Kwangmin. Lalu mereka menutup pintu dengan rapat.

Kwangmin dan Daehee saling bertatapan. “Ya, ku bilang juga apa ! nanti mereka berpikir yang tidak-tidak. Tidak sadar kau ada di kamar mandi laki-laki ?”

“Eo ? Ye ?” Daehee sadar sekarang. Ia mengerjap-kerjapkan matanya sadar.

“Cepat keluar sana !” usir Kwangmin mendorong-dorong lengan Daehee.

“Ah, Tidak mau ! Kwangmin kau harus memaafkanku dulu, baru aku mau keluar !”

Ania  ! Kau tidak boleh berada di kamar mandi pria. Keluar !” usir Kwangmin yang masih mendorong-dorong lengan Daehee.

Shireo ! Shireo ! Shireo !” Daehee menahan berat tubuhnya agar ia tetap menjaga keseimbangan.

Krekk.. Sekilas pergelakan mereka terhenti. Mereka menatap ke arah sumber suara.

Kenop pintu terbuka rupanya, “Oh, Myungsoo hyung. Sedang apa disini ?” tanya Kwangmin tersenyum berbasa-basi.

Myungsoo menunjuk keduanya. “Ka- lian.. sedang pacaran kah ?”

Ania !” teriak mereka merespon secara bersamaan. Myungsoo tambah mengernyitkan dahinya heran. “ Lalu mengapa ada di kamar mandi seperti ini ?”

Walau tidak di beri tahu, Daehee tahu yang di maksud dengan kata itu pasti dirinya. Lalu ia menatap Kwangmin yang juga menatapnya bingung.

Tiba-tiba Daehee berbicara. “Eo, sunbae. Begini, aku dan dia ada urusan yang penting yang perlu dibicarakan. Jadi maaf sekali, kau cari kamar mandi lain saja.”

Myungsoo mengangguk dan mengangkat bahu mengerti. “Baiklah.”

Setelah Myungsoo pergi…

“Ya ! kau membuat aku malu. Bagaimana dengan tanggapan mereka ? ntar kalau di kira kita ngapa-ngapain gimana ?!” tanyanya khawatir.

“Aih, siapa juga yang mau ngapa-ngapain sama kamu !”

“Ya ! neo, aishh jinjja ! kau mau minta maaf, tapi kelakuan mu masih begini.” Kwangmin menatap gadis itu dengan perasaan dongkol.

Daehee tertawa kuda. “Aku akan keluar setelah kau memaafkanku.”

Kwangmin menyipitkan matanya. “Kau mau aku memaafkanmu ?”

“Ya.” Jawabnya tersenyum riang.

“Kalau begitu kau mau membersihkan semua kamar mandi ini ?”

Daehee mengangkat alisnya. Lalu ia mencibir. Yang benar saja aku harus melakukan semua pekerjaan ini. Dasar Kwangmin, bisa-bisanya kau hanya memanfaatkan keadaan. Daehee memandangnya remeh.

Shireo !” dengan sengaja Daehee menendang ember sangking kesalnya. Apa-apaan orang ini ? Huh, merepotkan. Dan tanpa bersalah gadis itu malah pergi seenaknya saja keluar kamar mandi. Ia berlari kecil keluar kamar mandi.

Kwangmin memberengut dongkol. “Kau ! Aissh ! eodisseo !? ini tumpah semua bagaimana ?!” teriak Kwangmin marah.

“Ups, mian. Annyeong Kwangmin.” teriak Daehee yang sudah ada di luar kamar mandi.

“YA !! kau benar-benar ya !” gerutunya melangkah lebar menghampiri Daehee. Tapi apa yang terjadi ?

Srekk..

“Aww ! sakit !” ringis Kwangmin sambil mengelus-elus bokongnya.

“Aduh ! Daehee~ Kau tega sekali. ini sakit banget. Kau membuatku terpeleset.. Aa-aa.. Apooyo..”  teriak Kwangmin dari dalam kamar mandi membuat Daehee memberhentikan langkahnya.

Tidak tega juga sih kalau membiarkan dia kesakitan seperti itu, Kau kan yang membuat dia di hukum Daehee. Sebersit pikiran menyergap Daehee. Sebenarnya ia kasihan juga dengan namja itu. Berkali-kali ia dihukum karena ulahnya. Kenapa kau menjadi khawatir seperti ini Daehee dengannya ? Kau hanya berniat membantunya saja kan ?

“Kwangmin-ah gwenchana ?” tanya Daehee dengan polos kembali lagi ke kamar mandi.

“Tidak apa-apa bagaimananya ?! gara-gara kau aku terpeleset ! pantatku sakit sekali tahu tidak ?!”

“Eh, masih untung ya aku masih ingin mengkhawatirkan mu.” katanya membela diri.

“Tetap saja ini juga salahmu !”

“Hahh, yasudahlah. Sini aku bantu,” ujar Daehee membantu Kwangmin berdiri.

“Aku tidak akan memaafkanmu jika kaki ku kenapa-napa, tahu tidak ?”

Daehee tetap diam. Ia menelan ludah dalam diam. Apa yang bisa dikatakannya dalam situasi seperti ini ? tidak ada. Mereka sudah di luar kamar mandi. Daehee membantunya berjalan ke kelas mereka.

“Aduh, Aduh, kau ini bagaimana sih, berniat membantu aku tidak ?”

Daehee menahan napas. Apa ? Apa lagi sekarang ?Dasar cerewet ! dan Daehee pun akhirnya menghembuskan napas yang di tahannya.

“Sudah sampai kan ? aku ingin pulang.”

“Yasudah sana, cepat pergilah.” Apa ? kata-katanya seolah mengusirku.

Oh, laki-laki ini benar-benar… Daehee menggigit bibir dan berusaha menahan diri supaya tidak melempar tas yang di sampinnya ke kepala Kwangmin. Daehee hampir tidak percaya ia sendirilah yang dengan sukarela membantunya kerena rasa bersalah. Tapi siapa yang menduga Kwangmin bisa begitu menyebalkan.

Ia bergumam, “Aku pergi.” Daehee mengambil tas lalu pergi meninggalkan Kwangmin sendirian.

You’re my lady.. You’re my lady..

            You’re my lady.. With you…

            Jakeunge mwo eottae jjalbeumyeon eottae

            Gwaenchana gwaenchanha kkotbodeon neoya

            Yeppeuda yeppeuda namdeul boda soknunsseopdo gilgo ttongbaedo gwiyeowo

 

Yobeoseo ? Oh, Lee Joon­-hyung. Kenapa ?”

“…”

Nde ?! Ta-tapi, tapi..”

“…”

“Ah, baiklah.”

Kwangmin mematikan handphone-nya dengan kasar.

Disisi lain, Daehee terlihat sedang berdiri di samping gerbang sekolah. Sepertinya sedang menunggu seseorang. Kemudian setelah beberapa saat Daehee mengangkat sebuah telfon.

Annyeong oppa, jemput aku ya ?”

“…”

“Apa ?! tidak bisa ?? wae ?”

“…”

“Ah, wae ? masa aku harus jalan seperti kemarin sih ? capek tahu !”

“Ania, nanti ada yang menjemputmu. Sudah ya oppa sibuk sekali, showcasenya tidak bisa tibatalkan. Ini mendadak.. daah , saeng.”

“Ta-tapi.. Ya, ya ! Oppa !” panggil Daehee, namun sambungan itu sudah terlanjur diputuskan oleh Lee Joon.

Apa lagi sekarang ? yang benar saja ia harus di jemput dengan orang yang tidak ia kenal.  Ia mengerucutkan bibirnya sebal. Ck ! Ada-ada saja dengan hari ini. Ia benar-benar sebal.

TIINN !

Daehee menengok ke arah sebuah suara yang menglakson dirinyaa. Rupanya suara motor Kwangmin ? Cih, belagu sekali dia. Jalan luas kenapa pakai mengklason seperti itu ? dia kan bisa melewati jalan yang lainnya ? Pria yang menyebalkan.

            Disisi lain, Kwangmin terpaksa harus mengantar adik semata wayang Lee Joon ini. Apa boleh buat. Lalu dia membuka kaca helm nya untuk mempermudah komunikasi antara dia dengan Daehee.

“Kenapa belum pulang ? menunggu siapa ?” tanya Kwangmin basa-basi.

“Menunggu kakak ku.” Jawab Daehee dengan datar.

“Sudah tahu tidak bisa jemput, masih saja di tunggu.” gumam Kwangmin pelan namun samar-samar terdengar di pendengaran Daehee. Hanya terdengar berupa satu atau dua kata. Seperti, “tidak bisa jemput” dan  “di tunggu”

“Apa ?”

Ani. Tadi aku bilang, ngapain sih ditengah jalan ? merusak pemandangan saja.”

Daehee mendelik sinis. Ia yakin pasti bukan itu kata-kata yang di ucapkan Kwangmin. “Menghina saja terus ! sudah pulang sana,”

“Memang ingin pulang, mau ikut tidak ?”

Daehee mencibir. “Ania.” sahutnya pendek.

“Kau sungguh tidak mau naik ?” tawar Kwangmin sekali lagi, meyakinkan.

Ani, aku ingin menunggu kakakku.” jawabnya angkuh.

“Oh, yasudah. Terserah kaulah,” kata Kwangmin tidak peduli. Ia mulai menghidupkan motornya dan pergi meninggalkan Daehee.

Daehee melihat dari kejauhan. Motor itu sudah menghilang dari pandangannya. “Dasar pabo ! bisa-bisanya dia meninggalkan wanita sendiri ! pergi kau jauh-jauh !”

Daehee mengangguk yakin. “Yah, aku tidak butuh bantuannya.” Lalu, Daehee berpikir sejenak lalu memiringkan kepalanya. “Dasar kau jahat sekali jadi namja ! yang benar saja ! tega sekali meninggalkan wanita sendirian, bukannya di tungguin dulu, hufft.” gerutunya mengerucutkan bibir.

“Tidak usah mengomel-omel bagitu gadis cerewet .. seperti nenek-nenek saja,”

E-eh ?

“Kau, kenapa masih disini ?”

“Cepat naik, lagipula ini kakakmu yang menyuruh. Jika Joon hyung tidak menyuruhku me-ngan-tar-mu aku tidak akan mau.” ujarnya menekankan kata ‘mengantarmu’

Daehee menatap Kwangmin ragu, “Changseon oppa ?” ulangnya bertanya. ”Oppa ngapain menyuruh dia menjemput ku, yang benar saja.“ umpatnya pelan.

“Kali ini aku benar-benar ingin pulang. Jadi jika Joon-hyung bertanya padaku, ‘kenapa aku tidak menjemputmu ?’ itu bukan kesalahanku karena kau menolaknya.”

Daehee mendecak sebal menatap Kwangmin dan berjalan enggan ke arahnya. “Arrasseo.. Arraseo..”

Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara di antara keduanya. Lalu Daehee mencoba mencairkan suasana.

“Kwangmin-ah, kau benar-benar tidak ingin memaafkan ku ?”

“Aku bilang kan memaafkan itu bukanlah hal yang mudah.”

“Aku kan sudah meminta maaf ! susah sekali sih kau memaafkanku ! Terserah kau ya, yang terpenting aku sudah minta maaf. Dan urusan maaf-memaafkan itu urusanmu, bukan jadi urusanku lagi !”

“Oke, baiklah. Setelah kau melakukan tiga permintaan ku.”

“Ta-tapi. Tapi.. Kenapa harus tiga permintaan sih ? banyak sekali.”

“Tidak mau ? kalau begitu tidak aku maaf..”

“Eeh.. Iyaa.. Iyaa..”

Huhh, Apa lagi ini ? Oh, sudahlah.

****

Kwangmin menghempaskan diri ke ranjang. Hari ini ia sangat lelah. Belum lagi hukuman yang membuatnya harus menguras tenaga dan fikiran pria itu yang terus berkelut. Tiba-tiba sesuatu yang ada di perutnya bergerak riuh. Oh ya, dia baru ingat seharian ini ia belum sarapan. Akhirnya ia bergegas ke dapur untuk mencari makanan.

Kwangmin membuka kulkas, almari dapur, panci penggorengan. Kemudian ia menghela napas dengan berat. Semuanya kosong. Bahkan juga tidak ada makanan cepat saji diruangan ini. Ia baru ingat kemarin belum sempat membeli persediaan makanan dan uang yang memegang Youngmin.

Dukk !

Kwangmin menendang bangku disebelahnya kesal. “Arggh ! tidak ada makanan. Tidak tahu aku lapar apa ?”

Tapi ekpresi wajahnya berubah menjadi senang seketika. “Ah, aku ada ide.”

Dia bisa saja kan meminta uang pada Daehee ? atau menumpang di apartementnya untuk sekedar makan. Lalu ia segera keluar menuju apartement Daehee.

Ding Dong ! (Maaf ya author nggak tau jelasnya gimana suara bel :D)

Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Daehee membukakan pintunya. Lalu ketika melihat apa yang ada dihadapannya saat ini, keningnya berkerut samar. Ada apa dia kesini ?

Kwangmin ? wae ?”

Kwangmin tertawa hambar dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Pasti ada maunya jika gelagatnya seperti ini.

“Ehm, Daehee aku mau makan. Tapi persediaan makanan ku habis dan ingin membelinya dibawah tapi uangnya di pegang Youngmin hyung. Jadi aku ingin meminta uang untuk membeli makanan.” Jelasnya dengan panjang lebar.

Daehee mendelik pelan. ”Apa ? enak sekali kau.” cibir Daehee.

Kwangmin mengerang. “Ya, kau kan berjanji akan mengabulkan 3 permintaan.” tagih Kwangmin memasang wajah memelas.

“Tapi aku tidak punya uang Kwangmin !”

“Hmm, kalau begitu makanan di apartement mu masih ada tidak ?”

“Ada sih, tapi aku harus masak dulu.”

“Yasudah, buatkan aku makanan sana. Aku lapar nih,”

Daehee mendelik kesal. Apa gadis itu tidak salah mendengarkan kata-katanya barusan ? atau mungkin pendengarannya yang bermasalah. “Apa ? kenapa seolah-olah kau menyuruhku seperti pembantumu ? Tidak mau!”

“Yasudah kalau begitu, perjanjiaan maaf-memaafkan batal.”

Daehee menengok kearah Kwangmin lalu mendelik heran. Apa pria itu tidak salah bicara ? Pria itu, mentang-mentang Daehee menyutujui sebuah perjanjian ia bisa seenaknya melakukan apa saja yang ia mau. Eh, bukankah Daehee yang menyutujui semua permintaannya ? Oke, biarkan ini semua selesai dan Daehee lepas dari perjanjian-perjanjian yang tidak mengenakkan ini.

“Iya, iya.”

“Oke. Antarkan ke apartement ku ya ?”

“Apa lagi ini ? sudah bagus aku ingin memasak untukmu !”

Kwangmin mengangguk-ngagguk sambil memutar kedua bola matanya. “Baiklah tapi, perjan..”

“Hufft. Ck ! Baiklah tunggu sebentar.” Daehee balas menatap Kwangmin dengan sengit. Yang ditatapnya hanya tertawa meledek.

“Memang enak Daehee. Rasakan. Hahaha..”

Daehee menekan bel apartement setelah butuh beberapa menit untuk memasak. Tangannya sudah pegal karena memegang mie yang terlalu panas dan tidak ada respon dari sang pemiliknya.

Krekk.

Daehee membuka kenop pintu apartementnya dan ternyata tidak terkunci. Baguslah. Cepat, cepat, cepat. Daehee menaruh mie itu di meja dengan cepat. Jika tidak ia akan menjatuhkannya karena mie itu terlalu panas untuk berlama-lama di pegang.

“Kwangmin~ Aku sudah memasak.” teriak Daehee dari ruang tamu berharap Kwangmin mendengarnya.

Tidak ada sahutan dari sang pemilik apartement itu. Karena sudah tidak ada keperluan penting lagi Daehee memutuskan untuk beranjak pergi dari apartement Kwangmin. Daehee beranjak akan pergi namun tiba-tiba langkahnya terhenti oleh sesuatu.

Ia memperhatikan sebuah figura kecil yang berada tepat di sampingnya. Daehee semakin tertarik untuk mendekat dan tiba-tiba saja tangannya bergerak untuk menyentuh figura itu tanpa disadari. Sebuah foto pria familiar yang sangat ia kenal bersama seorang gadis yang menurutnya cantik. Pria yang ia kenal pastinya adalah Kwangmin dan gadis yang menurut Daehee begitu asing. Mereka sangat bahagia sepertinya. Senyum mereka sama-sama tulus. Daehee tidak pernah melihat Kwangmin tersenyum secerah itu. Tepatnya Kwangmin yang tersenyum mengarah ke gadis yang ada di foto itu. Mungkin saja gadis itu adalah pacarnya. Daehee mengangkat bahu. Mungkin saja.

“Hei.”

Tiba-tiba saja jalan fikirannya terhenti karena mendadak Kwangmin sudah ada di depannya. Namun yang Daehee herankan Kwangmin begitu menatap gadis itu dengan sengit. Lalu tanpa disadari Kwangmin merebut figura itu dengan kasar.

“Berani sekali kau menyentuh barang-barang ku. Tidak sopan !”

“Oh, maaf. Itu, yang difoto itu pacarmu ya ?”

“Bukan urusan mu ! dan aku peringatkan ya, jangan pernah menyentuh barang-barang ku apalagi foto ini.”

Oh, dia benar-benar sensitif jika foto itu sudah di sentuh oleh orang lain. Mungkin saja mempunyai makna yang terpendam.

Sejenak Kwangmin melihat kearah lain. Mencari-cari sesuatu yang telah di tunggunya. “Mana sarapanku ?”

“Itu.”

Kwangmin melihat ke arah yang ditunjuk Daehee. Lalu beranjak dari tempatnya ke sofa.

Jo Kwangmin duduk tertegun menatap sarapan yang disiapkan Daehee untuknya.“Hanya mie instan ?” tanya laki-laki itu tidak percaya sambil mendongak menatap Daehee. “Hanya ini yang bisa kau lakukan ?”

Mata Daehee menyipit mendengar nada mencemooh dalam suara Kwangmin. “Hanya itu yang ada di dapur ku,” Katanya membela diri.

Kwangmin memberengut menatap mie yang ada dihadapannya. Yasudahlah. Ia harus memakannya atau jika tidak ia akan mati kelaparan disini.

Akhirnya Kwangmin terpaksa memakannya.

“Tidak enak.” Komentar Kwangmin tetapi masih memakan mie yang ada dipegangannya.

Daehee mencibir. “Tidak enak masih dimakan.”

“Itu karena aku lapar,” jawab Kwangmin membela diri.

“Alah, alesan.”

“Um, omong-omong Daehee. Kau ikhlas tidak ini membuatnya ?”

“Aku jawab tidak ikhlas pun tetap kau makan kan ?”

“Ya benar sih.”

“Oh ya, cepat beritahu 2 permintaaan mu yang berikutnya. Agar aku bisa lepas dari tanggung jawab ‘Maaf-memaafkan’ ini.”

“Eh, Tidak bisa secepat itu. Aku masih ingin meninkmatinya.”

Daehee mendongak tidak percaya. “Apa katamu !? Ishh ! Kau ini , arggh ! lama-lama aku bisa gila !” Daehee berjalan dengan cepat dengan segala segenap perasaan yang kesal dihatinya.

Daehee menutup pintu dengan pelan. Ia melihat ke atasnya, bola lampu ruang tengah belum diganti. Ia baru mengingatnya sekarang. Harusnya, Changseon oppa yang membantunya saat ini. Tetapi lelaki muda yang masih kuat itu tidak ada saat gadis itu membutuhkannya.

Siapa yang akan diminta bantunya, ia hanya mengenal Changseon oppa dan Youngmin. Tetapi jam segini Youngmin pasti belum pulang.

Daehee mendecakkan lidah. “Kemana semua pria itu saat dibutuhkan ?” gerutunya.

Tiba-tiba saja Daehee teringat kepada seseorang.

Ia berfikir sejenak. “Apa pria itu bisa diandalkan ?” tanyanya mendengus pelan. Lalu ia menggumam. “Huhh, coba sajalah.”

****

“Kwangmiiin ! Buka pintunya~” teriak Daehee dari luar pintu.

“Kenapa baru sekarang di kunci ? dasar ada maunya saja.”

Kemudian gadis itu berjongkok karena terlalu lama menunggu Kwangmin untuk membukakan pintunya.

Dan setelah pria itu muncul dari hadapannya. “Apasih ?”

Daehee berdiri dan menghampiri Kwangmin dengan ekspresi merajuk. “Kwangmin-ah. Kau bisa membantuku memasang bola lampu tidak ?”

Kwangmin menaikkan sebelah alisnya. Ia sudah tahu ujung-ujungnya apa jika gadis itu merajuk seperti itu. “Tidak bisa.”

“Oh, ayolah Kwangmin.. bantu aku.” Pinta Daehee mengerang.

“Sudah kubilang tidak bisa ! kalau pun bisa aku tidak akan mau membantumu !”

Sergah Kwangmin cepat dan buru-buru menutup pintunya. Tetapi pintu itu ditahan oleh Daehee dengan cepat.

“E-eh.. Eh. Kwangmin tunggu dulu !”

Kwangmin memasang ekspresi malas. “Apalagi sih ? aku bilang aku tidak bisa.”

“Aku yakin kau pasti bisa. Kau kan laki-laki Kwangmin.”

“Kenapa tidak kau saja sih yang memasangnya ?”

“Oh, ayolah Kwangmin. Aku tidak pernah memasang bola lampu. Aku akan meminta bantuan Changseon oppa jika ia ada disini, ataupun Youngmin jika ada disini. Tetapi mereka sama-sama belum pulang. Hanya kau satu-satunya yang ada di apartement ini,”

“Argh. Kau kan bisa menunggu kedua pria itu sampai pulang. Lagipula aku juga sedang makan.”

“Tapi, Kwangmin, Apartementku gelap gulita.” Daehee mengerang.

“Aku tidak peduli ! minggir !” gertak Kwangmin menyingkirkan tangan Daehee dengan cepat. Lalu menutup pintu itu dengan keras.

“Kwangmin ! Kwangmin ! Buka pintunya, ku mohon.” Pinta Daehee yang masih menggedor-gedor pintu apartementnya.

“Daehee, kau tahu ? sebenarnya aku bisa memasang bola lampu. Tapi aku tidak mau membantu jika kau lah orangnya. Kau tahu kenapa ? karena kau sudah berkali-kali membuatku kesal sampai-sampai aku terus dihukum karena kau.” ujar Kwangmin dari balik pintu.

“Aku kan sudah meminta maaf. Jebal Kwangmin, bantu aku. Aku phobia gelap.” teriak Daehee dari luar.

“Huwaaaaa !! Kwangmin ! jika kau tidak membantuku, aku akan menangis di depan apartement mu sampai kau keluar. Biar saja tetangga lain mengira kau adalah penyabab aku menangis. Kau jahat ! kau tega sekali Kwangmin ! Hiks.. Hiks..”

“Huwaaaaaa.”

Kwangmin menarik napas dan menghembuskannya dengan kesal. Akhirnya Kwangmin mau membukakan pintu untuknya karena gadis itu terlalu berisik dan mengganggunya. “Kau ini apa-apaan sih ?!” Kwangmin menyipitkan mata. Ekspresinya masih tidak berubah. Masih terkesan dingin seperti tadi. Ia sangat terganggu dengan tangisan Daehee itu. “Berhenti !”

“huwaaaaa. hu.. hu.. hu.. hu..”

Kenapa bertambah makin kencang ? Bisa-bisa gadis ini membuat seluruh penghuni apartement keluar dan menyangka Kwangmin lah penyebab gadis itu menangis. Ia mendesah enggan. “Aishh, iya iya aku bantu. Kau ini menyusahkan sekali sih Daehee.”

Setelah beberapa menit harus berkutat dengan aktifitas sementaranya itu. Kwangmin tampak serius membetulkan lampu Daehee yang mati itu.

“Lihat ? tinggal di putar seperti ini saja,”

Daehee memegang senter sambil cemberut. “Aku kan takut kesetrum.”

“Tidak akan kesetrum jika kau hati-hati.” respon Kwangmin. “Coba nyalakan.”

Daehee mencoba menyalakan saklar disampingnya. Tapi ia terheran. Mengapa tidak bisa. “Tidak bisa, Kwangmin.”

“Kok tidak bisa ?” Kwangmin mendongak dari atas dan mengerutkan dahinya.

“Memang tidak bisa kok.”

“Sebentar,”

Daehee mencibir. “Cih, bilang saja tidak bisa.” ucapnya asal.

Kwangmin mendongak kebawah. “Eh, kau ! bukannya terimakasih malah menghina. Masih untung ya aku mau bantuin kau ! Dasar, tengil !”

“Eh, kamu kok jadi ngatain aku sih ?!”

“Panteslah buat mu ! tidak dibantu biar tau rasa kau ! biar saja gelap-gelap seperti ini, lalu ada hantu yang mengendap-endap ke sini.”

Tiba-tiba bulu kuduk gadis itu meremang. “Eh, jangan menakut-nakuti dong.”

“Yee, siapa yang menakut-nakuti coba.” balas Kwangmin mengelak.

“Sudah selesai. Coba nyalakan lagi,”

Cklek.. Lampu itu terang.

“Sudah tidak ada lagi kan ?”

“Ya, kau boleh keluar.”

“Cih, aku memang ingin keluar !” respon Kwangmin ketus. Setelah itu Kwangmin keluar dari apartement Daehee.

Huhh, hampir saja Daehee harus bermalaman dengan keadaan gelap gulita. Ia tidak tahu apa jadinya jika apartementnya tetap dalam keadaan seperti ini. Mungkin Daehee terlalu percaya dengan mitos-mitos yang sering diceritakan oleh orang banyak. Meskipun kamarnya terang, ia pasti akan mondar-mandir ketempat ini. Ia tersenyum senang.

Oh Iya ! Daehee hampir saja lupa akan sesuatu. Segera ia membuka pintunya.

“Ya, Kwangmin-ah..” panggil Daehee dari balik pintu.

Ck ! Apa lagi ini ? Tidak puaskah Daehee merepotkannya ?

Kwangmin berbalik enggan lalu menatapnya. ”Wae ?”

Gomawo sudah membantuku.” Kata Daehee dengan penuh semangat dan mata berkilat-kilat. Dan ia tersenyum lebar kepada Kwangmin. Kemudian Daehee menutup pintunya tanpa memperhatikan Kwangmin yang terdiam disana.

Kwangmin tertegun. Bagaimana bisa pria ini mematung ? Yah, Kwangmin sadar sekali itu adalah senyum pertama yang di lemparkan Daehee kepadanya. Tetapi tidak bisa dipungkiri oleh Kwangmin jika musuhnya itu mempunyai senyuman yang indah. Bahkan jantung Kwangmin melonjak dan berdebar lebih keras sampai-sampai Kwangmin takut Daehee bisa mendengarnya. Untuk yang pertama kalinya Kwangmin melihat senyuman gadis itu yang terlihat begitu tulus dan cerah.

Ia merasa aneh. Pertama karena Yoon Daehee tersenyum. Gadis itu memang belum pernah tersenyum selama Kwangmin mengenalnya. Daehee memang sering tersenyum hambar dan sinis, tetapi itu tidak bisa di bilang dengan “senyuman”, bukan ? Kedua, karena Yoon Daehee mengucapkan kata “terima kasih” padanya. Selama Kwangmin mengenalnya, Daehee tidak pernah mengucapkan kata “terima kasih” sedikit pun. Bahkan selama ini, jika Kwangmin membantu gadis itu pun yang ia dengar hanya nada mencemooh dari dalam suaranya. Mereka selalu bertengkar dan saling mencemooh. Sejenak ia tersadar dan memotong jalan pikirannya sendiri.

“Kenapa juga aku harus memikirkan gadis itu ?” gerutunya pelan. “Lagi pula, biarkan saja dia mau tersenyum atau tidak.” Tambahnya dalam hati. Lalu Pria itu masuk ke apartement miliknya dengan cepat.

To Be Continue..

 

****

 

LOVE HATE Chapter 4 (Next Episode ) :

 

“Ada apa dengan gadis itu ?”

“Kau itu kalau tersenyum cantik loh. Maka dari itu aku ingin melihatmu tersenyum.”

“Tersenyumlah.”

“Kenapa cara seperti ini tidak ampuh juga ?”

“Biasanya hanya inilah yang membuat wanita tenang. Maka dari itu aku melakukan ini.”

“Kau itu. Sebentar baik sebentar menyebalkan. Mau mu apasih ?!”

“Apa yang kau lakukan, Minwoo ?”

“Kenapa kau jatuhkan, Kwangmin ?!”

“Eopseo. Ottokhae ?”

“Ahjussi benar tidak ada ?”

“Sekarang bagaimana ?”

“Cih, kau ini. Basa-basi saja tidak bisa.”

“Mwo ?! kau tidak boleh melakukan itu !”

“Yah, kenapa kau jatuhkan Kwangmin ?! Sekarang bagaimana ? Hanphone ku rusak dan aku tidak bisa menghubungi siapa-siapa lagi. Aku itu hanya meminta bantuan. Kita tidak bisa melakukannya hanya berdua !”

“Tenang saja. Aku akan segera menemukannya. Tapi mian, tidak bisa sekarang. Eomma-ku sudah marah-marah, dia minta diantarkan ke salon. Jadi maaf ya, untuk sementara kalian harus bertahan dengan keadaan seperti itu dulu.”

“Bagaimana jika Changseon oppa pulang ? Bagaimana jika Youngmin pulang ? Ottokhae ??”

“Kenapa kau melihat ku seperti itu ? awas kau ya macam-macam !”

“Nan micheosseo ! Nan micheosseo !”

****

Waaah..akhirnya selesai juga chapter 3nya..InsyaAllah chapter 4 akan lebih seru dari ini, semoga kalian menikmatinya ya readers J

Kalian sukaa gak sama DaeMin couple ? :D   Aku ngebayangin Daehee itu seperti ulzzang yang bernama Kang Su Ra. Aku suka banget sama itu ulzzang cantik banget soalnya. Dan senyumnya itu cakep banget. Coba kalian search di google dan cari yg namanya ulzzang Kang Su Ra. Pasti dia cantik banget.

Oh ya, aku butuh 2 pendukung karakter nih ? Mau tidak ? Tetapi dengan syarat mau jadi apa saja dengan yang diperankan. Karakter ini memang gak muncul di Chapter 4 atau 5. Mungkin Chapter 6 dan seterusnya. Kalau ada yang mau. Coment namkor atau nama china atau nama jepang kalian ya. Yang kepilih akan aku umumin di part 5 dan sebagai apa saja perannya.

Gomawo readers yang udah sukarela baca ni FF. DON”T BE SIDERS !! AKU BENCI SIDERS !! DILARANG KERAS SIDERS MEMBACA FF INI.karena kalian para readers harus menghargai Authors yang susah payah membikin fanfiction.

Oh ya jangan Cuma coment daebak ! lanjut,thor ! keren banget ! coment thor ! tapi kasih kritik dan saran juga ya J agar bisa lebih membangun para Authors. Tapi sekali lagi jeongmal Gomawo udah mau sempetin baca ni FF J Reed and Review yaa gimana menurut kalian FF ini.

NO PLAGIATOR !! Bangga sama karya sendiri.

            NO SIDERS !! Hargai Authors maka Authors akan menghargai Readers.

            NO BASH !! It’s just fiction,right.

This entry was posted by boyfriendindo.

14 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Love Hate – Chapter 3

  1. For silent readers : aku udah liat viewernya dari chapter 1-3
    Love Hate Chapter 1 viewer : 233
    Love Hate Chapter 2 viewer : 65
    Love Hate Chapter 3 viewer hanya malam ini : 29

    tolong yah, jika masih banyak siders yg masih membandel.. gak mau coment ni ff atau tinggal jejeak sedikitpun ,part selanjutnya akan aku password.. dan yg udah baca sampai bawah liat coment ini masih tetep bandel juga ga mau coment/like.. aku bilang aku ga main2, aku akan password in ni FF..

    dan buat yg pingin kebagian karaktet di ff ini bisa coment namkor kalian/nama jepang/nama china/atau indonesia pun juga boleh ^^ dan akan aku umumin di chapter yg selanjutnya. gomawo sebelumnya

    By : Nandila Sofara / Author Of LOVE HATE FF

    • oh ya, kalo misalkan next chapter jadi aku password..
      kalian bisa minta pw di
      Line ID : Dilaaa…
      fb : Nandila Sofara
      atau no hp : 081380576506
      dengan format :
      Nama asli :
      Nama username kalian buat coment di wp apa :

  2. Mian chingu, aku gak pernah komen soalnya aku bingung mau ngomen apa:/
    Mau dong jadi karakter di ff ini. Namkorku Song Rae Jae atau Park Min Min.

    Kwangmin sama Daehee bertengkar terus ya -_-😀

  3. mnrut ku alurnya aku msh bngung, tpi bgus kok!
    oia aku mau dong jdi slah satu karekter d FF kamu namanya Park Hyun Min. klau bsa jdi yeojachingu nya Jo Hyun Min …😉
    Okay !! aku tggu jwbnnya!!

    Ghamsahamida… J Reed

    • annyeong makasih udah mau baca ff ku dan coment🙂
      maksudnya bingung gimana ya ? apa ada kata2 kurang jelas/tidak dimengerti gitu ?
      tapi sekali lagi makasih ya udah mau kritik🙂 karena kritik sangat membangun untuk ku😀
      berhubung ni ff gabisa di protect.. hmm yaudahlah.. aku harap siders semakin berkurang..

      dan makasih buat kalian yg mu ninggalin jejak hanya sebatas coment/like. itu sangat berharg untukku🙂 gomawo

  4. Huaa~ keren!!
    Tapi sayang, aku telat baca -,-

    aku suka liat mereka berkelahi gitu😄
    wkwk~ lanjut!!

    Eh, mau thor mau😄
    namkor ku Jung Hye Mi😉

    ditunggu nextnya

  5. Thor, aku agak aneh pas di tengah2 ceritanya sama bahasa “aku, kamu, suka2 aku dong” Soalnya jarang nemu ff yg bahasanya agak kurang formal. Jd, agak lebih diformalkan(?) ya thor🙂
    Itu saran dr aku.😉

    Tp jalan ceritanya bagus kok.
    Saya suka, saya suka😀

    Next chapter jgn lama” ya thor😉

  6. bagus, thor!!! tp kalo blh saran bisa tolong dikasih POV gk?? Soal.a disini POV.a DaeKwang kecampur😦
    tp overall udh bgs koq😀. Btw blh daftar jd karakter kgk?? namkor q Jung Ji Yoo kalo nama Jepang q Aiko Himewa, Thx B4,

    • gomawo atas saran dan kritiknya😀 sangat membangun.. next chap akan kuberbaiki..🙂

      boleh dong..😀 oh ya aku suka sama nama jepang mu loh.. ntar aku pertimbangkan lagi deh.. soalnya aku milih secara acak..

      makasih ya udah mau sempetin read&coment😀

  7. keren, aku suka banget dengan pertengkaran kwangmin sunbae dan daehae. u/ sikap daehee d charapter 2 sumpah keterlaluan banget. jadi aku merasa maklum klo kwangmin sunbae marah ^^
    semangat ia untuk ngelanjutin ff nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: