[FANFICT/FREELANCE] Only You – Chapter 05

Title 
: Only You – Chapter 05
Author : Kim Sung Rin (@megaoktavias)
Genre         : Romance
Rating          : PG 15
Type   : Chaptered
Main Casts      
: ~ Shim Hyunseong

  ~ Kang Hye Mi (OC)

Other Casts
: ~ Member Boyfriend Lainnya

  ~ Shim Mina (OC)

  ~ Byancha (OC)

Disclaimer: terinspirasi dari lagu Hyunseong yang Only You. Jalan cerita utuh milik saya, jika ada kesamaan itu gak sengaja. No silent reader! Plagiarism! Tinggalkan komentar setelah membaca, untuk kebaikan author di masa depan J

Note: Annyeonghaseyoo~~ saya ngebut ngerjain ff ini biar bestfriend gak nungguin hohohoh *emang ada gitu yang nungguin?* ada ataupun tidak ada, aku harus memenuhi kewajiban sebagai author freelance yang ngirim cerita series. Mianhae ya update-annya lama hihihi. Sekarang udah ada nih, so saya harap NO BASH! RCL WAJIB!! YANG PLAGIAT GAK BAKALAN SUKSES DUNIA AKHIRAT!

Bocoran : FF ini sampe part 6 loh, stay tuned ya ^^

Happy reading bestfriendssssss *lempar kolor Youngmin (?)*

~~~

Previous part

“Tidurlah, kau pasti lelah.” Ucap Hyemi. Aku lalu menarik tangannya.

“Waeyo? Kau mau kubuatkan sesuatu?” Tanya Hyemi bingung. Aku menggeleng dan nampak kening Hyemi berkerut-kerut.

“Ani, hanya saja malam ini dan malam seterusnya kau harus tidur dikamarku.” Gumamku pelan.

“Ne???”

TBC

Author pov

Hyemi tengah memandang Hyunseong, dengan tangan Hyunseong yang masih menahan lengan Hyemi. Gadis itu tak berkutik semenjak Hyunseong bilang agar Hyemi tidur dikamarnya. Hyunseong cepat-cepat melepaskan pegangan tangannya. Semburat merah kini menghiasi wajah lelahnya. Dia pun jadi salah tingkah, menggaruk kepalanya yang tak gatal adalah wujud salah tingkahnya saat ini.

“Ma-maksudku agar kau tidur lebih eunghhh nyenyak?”

Hyemi semakin mengerutkan keningnya karena tidak mendapatkan jawaban yang tepat, sedangkan Hyunseong gugup sendiri karena tidak dapat memberi alasan yang benar.

“Kalau kau tak mau kau bis –“

“Aku mau,” gumam Hyemi pelan. wajahnya tertunduk selagi kakinya bermain-main diatas lantai yang dingin, “Aku akan tidur dikamarmu.” Ucap Hyemi semakin pelan menutupu rasa gugup yang dideranya.

Hyunseong semakin salah tingkah namun akhirnya tersenyum menanggapi jawaban Hyemi.

“Baiklah, kau bisa tidur sekarang. Aku masih ada beberapa kerjaan yang harus diselesaikan.”

Hyemi menengadah menatap Hyunseong, “Perlu aku temani?” tanyanya penuh harap.

Hyunseong menatap Hyemi ragu. sejujurnya dia sangat ingin ditemani oleh gadis yang berstatus sebagai istrinya itu. Tapi, dia juga tidak tega melihat wajah mengantuk Hyemi. Akhirnya Hyunseong menggelengkan kepalanya untuk menolak Hyemi, “Tidak usah. Kau terlihat mengantuk sekali, tidur saja, ya?” bujuk Hyunseong.

Hye mi menghela napasnya lalu berbaring di sofa ruang tengah, yang artinya dia tetap ingin menemani Hyunseong menyelesaikan pekerjaannya. Kalau sudah begini, Hyunseong tidak ingin menginterupsinya lagi.

Setelah bersih-bersih, Hyunseong kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan pekerjaannya karena lusa dia sudah harus berangkat ke Jepang untuk peresmian cabang perusahaannya. Senyumnya mengembang begitu mendapati Hyemi tertidur pulas di sofa ruang tengah.

Sejenak Hyunseong memandang wajah gadisnya itu. Seingatnya dia tidak pernah benar-benar memandang wajah Hyemi yang sedang tertidur pulas seperti ini. Ditelusuri wajah mungil Hyemi dan tatapan wajahnya berhenti tepat di bibir ranum milik Hyemi.

Dan, tanpa menunggu lama, Hyunseong mendaratkan bibirnya ke bibir Hyemi. Jantungnya berdegup sekali. Dan rasa bahagia menjalar ke seluruh tubuh Hyunseong. Hyemi masih tetap tertidur, Hyunseong menghela napas lega karena istrinya tidak terbangun akibat ulahnya.

Senyuman mengembang lagi diwajah Hyunseong, dan sekali lagi dia mengecup bibir  milik Hyemi.

“Hyemi~ya, saranghae.” Bisik Hyunseong pelan sebelum dia memulai menggeluti pekerjaannya.

~~~

Sinar matahari membuat Hyemi terbangun dari tidur nyenyaknya. Semerbak harum bubur juga bergumul diruang tengah yang juga menjadi alasan Hyemi melepas kantuknya. Tampak semangkuk bubur dan segelas susu sudah terhidang di meja ruang tengah, tak jauh darinya.

Hyemi menatap sekeliling namun matanya tidak dapat menemukan sosok Hyunseong disana. Sampai akhirnya dia menemukan secarik kertas dibawah mangkuk buburnya.

Hyemi, hari ini aku harus berangkat ke Jepang selama dua hari satu malam. Peresmian cabang perusahaan SG Coorp0ration akan segera dibuka disini.  Maaf sebelumnya aku tidak memberitahumu, aku ingin membicarakannya semalam tapi kau sudah tidur. Sekali lagi aku minta maaf, makan yang teratur ne?

Ps : habiskan sarapanmu. Kurasa aku menaruh garam berlebihan ke bubur mu.

Hyemi menghela napasnya. Kesal? Tentu saja. Bagaimana bisa hal sepenting ini terlewatkan oleh Hyunseong? Hyemi semakin yakin Hyunseong telah berubah. Hyunseong bisa mengabarinya jauh sebelum keberangkatannya.

Hyemi lalu menyantap bubur yang dibuat Hyunseong dengan rasa yang sedikit lebih asin dengan muram. Tangannya meraih remote tv dan menonton acara bertajuk wanita namun buru-buru dimatikannya. Tiba-tiba dia takut sendiri begitu melihat tema yang sedang dibahas dalam acara tersebut –selingkuh.

Hyemi gusar. Pikiran-pikiran buruk bermunculan tak karuan. Hyunseong memang selalu lembur dan pulang kerumah di jam yang sangat larut. Ditambah sifatnya yang tidak lagi seperhatian dulu.

“Argh! Andwae!” Hyemi menutup kedua telinganya seakan-akan berusaha tidak mendengar suara-suara hatinya. Tanpa ragu, diapun menelpon seseorang untuk dijadikan tempat berkeluh kesahnya.

~~~

Kwangmin membuka maskernya dengan terburu setelah operasi yang ditanganinya dengan rekan dokter lainnya berakhir. Dokter Jonghyun yang menjadi partnernya kali ini menatapnya heran.

“Kenapa buru-buru sekali? Apa kau ingin ke toilet?” Tanya Jonghyun yang baru membuka sarung tangan karetnya. Kwangmin menoleh lalu tersenyum, “Ah tidak sunbaenim, aku harus bertemu dengan temanku. Dia sudah datang sejam yang lalu. aku tidak enak jika dia harus menunggu lebih lama lagi.”

Jonghyun hanya mengangguk-angguk tanda mengerti, “Baiklah, kau harus bergegas. Sampai bertemu nanti malam.” Ucap Jonghyun. Kwangmin membungkuk hormat, “Ne sunbaenim, sampai jumpa nanti malam.” Kata Kwangmin. Ya, malam nanti Kwangmin ada jadwal untuk operasi patah tulang, bersama dokter Jonghyun lagi.

Setelah mengganti bajunya, Kwangmin bergegas ke cafeteria dan melangkah tak sabar ke sudut cafeteria.

“Oh, kau sudah selesai?” Ucap Hyemi begitu Kwangmin sudah duduk dihadapannya. Wajahnya kelihatan mengantuk dan lelah.

“Ne, maaf kau menunggu lama,” seloroh Kwangmin tak enak, “Ngomong-ngomong ada apa kau ingin bertemu denganku?”

Hyemi tersedak orange juicenya dan tertawa tak jelas setelahnya. Dahi Kwangmin mengerut, pasti ada yang tak beres tentang Hyunseong hyung, batinnya.

“Tidak, aku hanya bosan terlalu lama didalam rumah. Tidak apa-apa kan kalau aku ingin ngobrol-ngobrol sedikit denganmu?”

Kwangmin tergugu dan meneguk canggung coke nya yang baru saja diantar.

“Sebenarnya aku ingin menanyakan tentang Hyunseong oppa,” Hyemi memecah keheningan diantara mereka berdua, “Apa dia sering bertemu denganmu akhir-akhir ini?”

Kwangmin berfikir sebentar, “Terakhir kali aku bertemu dengannya kemarin, direstoran Youngmin hyung. Apa kau ada masalah Hyemi ssi?”

Hyemi menggeleng ragu dan tersenyum kecut, “Tidak, tentu saja tidak. Kau tau kan Hyunseong oppa orang yang sangat baik? Aku hanya penasaran dengan kegiatannya diluar kantor, itu saja.” Terang Hyemi.

“Tidak usah berputar-putar denganku. Sebenarnya apa yang kau cemaskan?”

Hyemi berhenti mengaduk-aduk orange juicenya. Matanya menatap Kwangmin lekat kemudian menangis.

Kwangmin yang tepat duduk didepannya sudah menduga ada yang tidak beres dan juga dia sudah menduga pada akhirnya Hyemi akan menangis. Sesekali dia menepuk-nepuk bahu Hyemi menyuruhnya agar tenang.

“Aku tidak tau apa masalahmu, tapi aku kenal betul dengan Hyunseong hyung. Dia pria yang bertanggung jawab terhadap apa yang dimilikinya, jadi kau tidak usah ragu.” ucap Kwangmin. Secercah senyum menghiasi wajah basah Hyemi. Setidaknya dia sudah mendengar kebaikan Hyunseong dari orang-orang terdekat Hyunseong, dan tidak ada komentar buruk tentang dirinya.

“Sudahlah, daripada kau sedih berlarut-larut, sebaiknya kau menemaniku makan siang diluar. Aku bosan dengan makanan café, ah atau kita ke restoran youngmin hyung? Kau kan belum pernah kesana.” Ajak Kwangmin ceria. Hyemi menghela air matanya dan mengangguk, “Baiklah, kedengarannya ide yang bagus.”

Kajja, perutku lapar sekali.” Kwangmin beranjak sambil mengelus-elus perutnya yang rata.

~~~

Hyunseong menghela napasnya begitu acara peresmian cabang perusahaannya di Jepang selesai. Bersama dengan Lee Jeongmin yang juga bekerja diperusahannya, dia melangkah menuju hotel.

“Ngomong-ngomong kenapa kau tidak mengajak Hyemi hyung?” Tanya Jeongmin saat mereka memasuki lift. Hyunseong melepas kacamatanya dan mengurut kepalanya yang pusing sejenak, “Akan lebih baik dia dirumah. Kau lihat sendiri kan kita tak henti-hentinya kedatangan kolega, aku tak mau Hyemi merasa terabaikan disini.” Sahut Hyunseong, Jeongmin pun mengangguk setuju.

Hyung, kurasa Seul Ra menyukaimu,” kata Jeongmin menerawang. Hyunseong menoleh sejenak, “Seul Ra?” Tanya Hyunseong meyakinkan.

Jeongmin menoleh dan mengangguk pasti, “Iya, Seul Ra. Putri pak mentri yang datang tadi. Kuperhatikan tatapan matanya tak lepas darimu.”

Hyunseong tersenyum, “Wah, jangan-jangan kau menyukai Seul Ra ya?” Goda Hyunseong. Jeongmin menggeleng, mengelak sanggahan Hyunseong barusan.

“Buktinya kau memperhatikan sekali yeoja itu, siapa tadi namanya? Ah Seul Ra.” Kikik Hyunseong. Jeongmin hanya tersenyum muram, “Aniyo, tidak seperti itu hyung. Sudahlah lupakan saja.” Hyunseong tertawa karena Jeongmin menyerah begitu cepat.

“Oh iya, kurasa aku akan pulang besok pagi, kemarin aku bilang dengan Hyemi acaranya hanya 2 hari satu malam. Selanjutnya kau yang menangani, tidak apa-apa kan?”

Jeongmin mengangguk mengerti dan menepuk bahu Hyunseong pelan, “Tentu saja tidak apa-apa hyung. Masih ada Sekertaris Choi dan beberapa karyawan lainnya. Kau tidak perlu khawatir.” Jeongmin mengacungkan jempolnya. Hyunseong tersenyum simpul begitu pintu lift terbuka.

“Oke, sampai nanti Jeongmin.” Hyunseong berbelok di koridor hotel, sedangkan Jeongmin berbelok kearah sebaliknya.

~~~

Hyunseong sengaja keluar dari kamar hotel meskipun jam telah menunjukkan pukul 09.00 PM. Dia lupa membelikan buah tangan untuk Hyemi. Dia yakin gadisnya itu marah karena dia tidak menceritakan perihal keberangkatannya. Dengan menggunakan celana jeans dan kemeja biru dongker polos, lelaki itu melangkah menyusuri jalan di Shinjuku untuk melihat pernak-pernik yang rencananya akan dijadikan buah tangan untuk Hyemi.

Mata Hyunseong menangkap sebuah gelang cantik yang tersusun dari beberapa tali warna-warni begitu dia memasuki sebuah toko kecil di Shinjuku.

“Halo, apa kau berencana untuk membeli gelang ini?” pelayan toko dengan ramah menghampiri Hyunseong. Hyunseong tersenyum, untungnya dia cukup mahir bahasa Jepang, jadi dia tidak kesulitan untuk berkomunikasi dengan siapapun disini.

“Kau benar, sejak aku memasuki toko ini, mataku langsung tertuju pada gelang ini.”

Pelayan wanita paruh baya itu tersenyum ramah, “Gelang ini hanya satu, putriku baru saja membawanya petang tadi. Putriku bilang, gelang ini adalah gelang yang akan membuat hidupmu lebih berwarna dan bahagia. Ah, apa kau ingin memberikannya kepada pacarmu?”

Hyunseong menggeleng, “Bukan, untuk istriku.” Sahut Hyunseong, masih mengamati gelang yang kini sudah berada ditangannya.

“Ah jadi begitu ya. Kalau begitu, kau bisa menambahkan aksesoris huruf di gelang ini. Kau ingin huruf apa?” Wanita paruh baya itu mulai mengaduk-aduk aksesoris perak yang berada di kotak kecil nakasnya.

“Aku pilih H,” ucap Hyunseong pelan, “Dan aku minta tolong untuk dibungkus juga.”

“Baiklah, tunggu sebentar.” Sahut wanit aparuh baya itu ramah.

~~~

“Hyunseong ssi?”

Hyunseong menoleh, dilihatnya gadis berambut hitam sebahu sedang berlari-lari kecil kearahnya dengan membawa plastik berukuran sedang, sepertinya dia juga habis belanja.

“Seul Ra ssi?” Hyunseong menebak-nebak. Gadis itu tersenyum lebar, lega karena lelaki yang sejak pagi tadi dipikirkannya mengingat namanya.

“Ya, aku Seul Ra, putri pak mentri. Sedang apa kau disini?”

“Aku baru saja membelikan istriku oleh-oleh,” jawab Hyunseong singkat. Terlihat perubahan yang sangat drastis di wajah Seul Ra, “Oh begitu ya, aku juga habis belanja untuk teman-temanku di Korea. Besok aku akan kesana menemani Appa.” Jawabnya singkat.

“Wah, benarkah? Kebetulan besok pagi aku juga akan pulang ke Korea. Baiklah sudah malam, sebaiknya kau kembali ke Hotel.” Hyunseong membungkuk ramah.

“Bagaimana kalau kita bersama-sama kembali ke Hotel?”

Hyunseong tersenyum ramah, “Maaf, aku masih ada urusan.” Hyunseong membungkuk ramah lalu berlalu dari hadapan Seul Ra. Gadis itu bersungut kesal dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel.

“Hyunseong, awas kau!” geram Seul Ra.

~~~

Hyemi bangun pagi-pagi sekali hari ini karena Hyunseong akan pulang. Dia sudah menyiapkan lasagna dan spaghetti untuk Hyunseong. Semalam suntuk dia mencoba membuat kedua menu tersebut, dibantu oleh Eun Ki, istri Donghyun yang dengan senang hati membantunya.

Hyemi juga telah memasang pigura besar berisikan foto pernikahannya yang baru sampai semalam. Hyemi tak henti-hentinya tersenyum melihat betapa serasinya dia dan Hyunseong di dalam foto itu.

Suara deruman mobil terdengar tepat didepan rumahnya. Hyemi buru-buru memperbaiki dandanannya, kali ini dialah yang harus bersikap lembut dan baik kepada Hyunseong. Dia berlari-lari kecil untuk membukakan pintu untuk Hyunseong.

“Selamat dat –“ Suara Hyemi terputus begitu saja ketika melihat Hyunseong datang bersama dengan orang lain. Bersama gadis yang parasnya cantik dan tubuh yang bagus. Entah Hyunseong sadar atau tidak, tapi tangan gadis itu melingkar di lengan kiri Hyunseong.

“Oh kenalkan, dia Seul Ra. Dia putri pak mentri.” Hyunseong mengamati muka Hyemi yang kebingungan mendapati seorang gadis datang bersamanya.

Hyemi tersenyum kecut dan melebarkan pintu masuk, “Silahkan masuk, kalian pasti lelah.”

“Wah, rumahmu bagus juga ya Hyunseong ssi,” Seul Ra mengamati sekitar rumah Hyunseong dan Hyemi sementara Hyemi ke dapur untuk menghidangkan mereka minum.

Hyunseong mengikuti Hyemi. Baru dua hari dia meninggalkan istrinya itu, tapi rasa rindunya seperti dia tidak bertemu dengan Hyemi selama bertahun-tahun.

“Aku merindukanmu.” Hyunseong memeluk Hyemi selagi hyemi menuangkan Jus Strawberry kedalam gelas. Gadis itu tak berkutik begitu merasakan aroma maskulin yang berasal dari tubuh Hyunseong.

“Apakah kau makan dengan baik?” Tanya Hyunseong lembut. Kali ini dia membalikkan tubuh Hyemi agar gadisnya itu menatap wajahnya. Hyemi mengangguk pelan tanpa menatap mata Hyunseong. Seluruh wajahnya menghangat sekarang.

“Hey, kenapa kau diam saja sejak tadi?” Hyunseong meraih dagu Hyemi agar mata gadis itu menatap wajahnya. Hyemi menggeleng pelan, “Aniyo, aku baik-baik saja. Sebaiknya kau menemani tamu itu, aku akan kesana beberapa menit lagi.”

Hyunseong teringat oleh kata-kata Byancha sewaktu mereka mengadakan pesta waktu itu. Hyemi tidak suka melihatnya bersama orang lain, dan sekali lagi itu terulang. Hyunseong meraih Tubuh Hyemi dan memeluknya singkat.

“Kau tidak perlu khawatir, dia hanya sekedar teman bisnisku.”

Hyemi menatap Hyunseong malu, “Tidak, aku tidak berkata apa-apa kan tentang –“ lagi, suara Hyemi tercekat. Kali ini bukan karena cemburu, melainkan karena degupan jantungnya yang berpacu cepat. Hyunseong telah menciumnya sekarang.

“Hyunseong ssi, sebaiknya aku pulang saja.” Seul Ra menginterupsi Hyunseong dan Hyemi sehingga mereka melepaskan pagutannya. Tanpa permisi lagi, Seul Ra langsung ngeloyor pergi dari rumah Hyunseong dan Hyemi.

“Kurasa dia gadis yang baik, tapi mencintai orang yang salah.” Ucap Hyemi masih menatap pintu yang berdebam keras beberapa menit yang lalu.

“Ya, kurasa begitu. Buktinya Jeongmin menyukainya.”

Hyemi menatap Hyunseong, “Benarkah?” Hyunseong mengangguk yakin, “Bisa kulihat dari matanya. Sudahlah kenapa kita malah membicarakan mereka. Oh iya, apa kau tidak merindukanku?” Tanya Hyunseong cemberut. Hyemi tersenyum jahil dan meraih kepala Hyunseong.

“Aku sangat merindukanmu, suamiku.” Ucap Hyemi lembut yang membuat Hyunseong hampir menangis saking senangnya.

Tanpa menunggu lama, Hyemi mengecup bibir Hyunseong lembut dan mereka memulainya perlahan.

~~~

“Kau yakin kau yang membuat lasagna dan spaghetti ini?” Tanya Hyunseong –yang kebetulan pagi itu sedang menyantap kedua menu yang telah dibuat Hyemi-  sambil menatap Hyemi yang berada tepat dihadapannya. Hyemi mengangguk semangat, “Tentu, Eun Ki eonni yang membimbingku. Kenapa? Rasanya tidak enak ya?” Tanya Hyemi khawatir. Hyunseong menggeleng, “Memangnya aku bilang begitu? Aku hanya aneh saja, kurasa ini spaghetti dan lasagna terenak yang pernah kumakan.” Ucap Hyunseong sungguh-sungguh.

Hyemi tersenyum malu, tampak sekali dia bahagia karena dia telah berhasil membuat masakan kesukaan Hyunseong.

“Oh iya, ngomong-ngomong apa yang kau lakukan selama aku tak ada? Tak mungkin kan kau berada dirumah sepanjang hari?” Hyunseong meneguk air putih yang baru saja disediakan oleh Hyemi.

“Aku pergi bersama Kwangmin. Dia mengajakku ke restoran Youngmin.”

Hyunseong terbatuk-batuk. Dia tersedak air yang diminumnya. Hyemi buru-buru menghampiri sambil menepuk-nepuk punggung Hyunseong.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Hyemi panik. Hyunseong mengangguk dan meneguk air putihnya lagi.

“Aku tidak apa-apa. Kau benar pergi dengan Kwangmin?” Hyemi mengangguk, “Wae? Apa kau marah?”

Hyunseong terkekeh pelan, “Tentu saja aku tidak marah. Maksudku bagus kalau kau sekarang mulai ingin bergabung dengan teman-temanku.” Hyunseong berkata riang sambil melahap spaghetti yang tersisa di piringnya.

TING TONG! TING TONG! Bel rumah mereka berbunyi tanpa jeda. Tampaknya tamu mereka kali ini tidak sabaran sekali. Hyemi buru-buru membukakan pintu.

“Seul Ra?” Hyemi bergumam ragu melihat gadis berambut hitam sebahu didepannya. Gadis itu tampak khawatir sekali. Bekas-bekas air mata tercetak jelas di wajahnya yang putih.

Annyeonghaseyo, bisa bertemu dengan Hyunseong?” tanyanya to the point. Tak lama, Hyunseong muncul dan berdiri dibelakang Hyemi.

“Seul Ra? Ada apa pagi-pagi sekali kau kemari?” Tanya Hyunseong sopan. Tak disangka, Seul Ra malah menangis.

“Jeongmin, kau harus ikut aku sekarang.”

Hyunseong membelalakkan matanya, “Ada apa dengannya? Apa sesuatu terjadi padanya?”

“Sudah, nanti saja kujelaskan. Kau sebaiknya ganti baju, dan Hyemi ssi kau juga sebaiknya ikut.”

~~~

Hyemi menggenggam punggung tangan Seul Ra begitu gadis yang umurnya dua tahun lebih muda dari Hyemi itu menceritakan apa yang telah terjadi.

Semalam setelah Seul Ra pulang dari kediaman Hyunseong dan Hyemi, Jeongmin menghubunginya. Katanya dia ingin bertemu dan ada hal penting yang ingin disampaikan olehnya. Awalnya Seul Ra bingung, karena setaunya Jeongmin masih di Jepang hingga besok pagi. Tapi sebelum Seul Ra bertanya, Jeongmin telah terlebih dulu menjelaskan bahwa dia mengambil penerbangan terakhir pada hari itu.

Seul Ra yang memang kesal mengiyakan ajakan Jeongmin dan mengaknya bertmu di kedai soju. Jeongmin datang saat Seul Ra sudah menghabiskan botol keduanya.  Jeongmin menyuruh Seul Ra untuk berhanti minum . Namun, Seul Ra tidak ingin mendengarkan Jeongmin dan membiarkan Jeongmin menunggunya hingga dia pulas tertidur.

Saat bangun, dia sadar dia telah berada disebuah apartmen Jeongmin. Lelaki itu Nampak kesakitan di sofa ruang tengah, yang membuat Seul Ra panik setengah mati. Tanpa persetujuan Jeongmin, Seul Ra membawanya ke Rumah sakit untuk diperiksa.

“Jadi kau belum tahu Jeongmin sebenarnya sakit apa?” Tanya Hyunseong yang ikutan panik. Seul Ra menggeleng, “Benar, aku terlalu takut untuk mendengarnya. Untuk itu aku mengunjungimu, untung saja rumah sakitnya dekat dengan rumahmu.”

“Ya, kau tepat membawanya kesana.” Ucap Hyunseong.

Mereka bertiga bergegas ke ruang dokter tempat Jeongmin pertama kali diperiksa namun, tidak ada Jeongmin disana.

Hyung,” panggil Kwangmin yang lari tergopoh-gopoh sambil melepas maskernya, “Kau datang disaat yang tepat. Harus ada yang menandatangani surat pernyataan operasi terlebih dulu, Orang tuanya sedang berada di luar Korea dan mereka sendiri yang memintamu mewakilkan.”

Hyunseong mengernyit, “Operasi? Sakit apa Jeongmin sampai-sampai harus dioperasi?” sahutnya panik.

“Jeongmin hyung terkena penyakit usus buntu akut. Jalan satu-satunya adalah operasi agar usus yang terinfeksi terangkat.” Jelas Kwangmin singkat.

Hyunseong buru-buru menandatangani surat tersebut, “Aku tau kau dokter yang handal, kuharap Jeongmin baik-baik saja.”

Kwangmin menghela napasnya dan menepuk bahu Hyunseong pelan, “Doakan dia ya. Baiklah, aku harus cepat keruang operasi. Sampai nanti Hyung.”

Tubuh tinggi itu menjauh meninggalkan Hyemi, Seul Ra dan Hyunseong yang masih terpaku. Seul Ra Nampak terkejut sekali dan terhempas begitu saja di lorong rumah sakit itu.

“Apa ini karena dia terlalu kelelahan? Atau semua ini salahku?” Seul Ra menatap Hyemi bingung. Hyemi berjongkok kemudian memeluk tubuh Seul Ra.

“Ini bukan salahmu, kau tidak perlu merasa bersalah. Sudahlah sebaiknya kita berdoa saja untuk Jeongmin. Kau mengerti?” Hyemi tersenyum sambil menghela sisa-sisa air mata yang menggenang di wajah Seul Ra. Gadis itu tersenyum dan kembali memeluk Hyemi.

Hyunseong tersenyum memandang kedua wanita yang tengah berpelukan dihadapannya.  Tidak menyangka bahwa mereka akan menjadi akrab seperti sekarang ini.

~~~

TBC

Annyeong~~ huhu sedih ya bestfriend ngedenger kabar Jeongmin yang sakit TT_TT

FF ini khusus buat Jeongmin deh dan para mirrorrers (?) yang lagi pada sedih. Bestfriends, doakan Jeongmin ya, semoga cepet sembuh dan dapat beraktivitas kembali dengan uri Boyrfriend :’D

Btw, FF aku semakin ngco kah? Comment 🙂

This entry was posted by boyfriendindo.

13 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Only You – Chapter 05

  1. daebak…🙂

    hyemi hebat… selalu bisa bersikap biasa walau sebenernya ceburu.. hehe..
    hyunseong oppa… co cweet deeeh… :*

    ditunggu part selanjutnya…🙂

    • kkekeke~ aku juga cemburu pada hyemi (?) dia begitu pintar menyembunyikan kekesalannya huhuy.
      oke, makasih udah baca dan komen ya, staytuned part terakhir FF ini ya🙂 dalam proses ^^

    • dalam proses pengerjaan part terakhir cantik ^^oke, makasih udah baca dan komen ya, staytuned part terakhir FF ini ya🙂

  2. klo baca ff ini tuh takut bgt pas scrolling ke bawah, takut habis T^T
    jeongmin disini sakit juga masaaaaTT.TT

    • hehe, part ini udah aku panjangin kok. part selanjutnya pun insya allah lebih panjang tapi tetep kamu akan menemukan end, hehe
      iya, aku bikin jeongmin sakit disini soalnya pas sama karakter kwangmin yang dokter bedah. jadi kumasukin aja deh
      makasih udah baca dan komen ya, staytuned part terakhir FF ini ya🙂

  3. *ketinggalan part 4 nya* >,<

    Aku sedikit bingung sama Seul Ra itu -..-

    thor~ jangan lama-lama, aku penasaran..

    Jeongmin Oppa sudah keluar dari RS :`) tapi tetap GWS oppa!!

    • Seul Ra ? haha dia suka hyunseong tapi karena dia merasa bersalah sama Jeongmin, dia jadi gak mikirin perasaannya sama hyunseong, apalagi hyunseong kan udah punya istri hyemi. ^^
      makasih udah baca dan komen ya, staytuned part terakhir FF ini ya🙂

    • wah terimakasih sudah mengapresiasi karyaku😀
      makasih udah baca dan komen ya, staytuned part terakhir FF ini ya🙂

  4. yeeey…. saya tlt baca #eh???
    wuah akhir.a kluar jg yg saya tungguin, next chap jng lama” y, eon & dibkn happy ending kl bisa soal.a q gi galau brt (curcol bentar)

    • hehe, maaf ya sebelumnya suka lama publish karena aku juga sedang ada tugas akhir hehe.
      part selanjutnya dalam proses pengerjaan kok ^^
      makasih udah baca dan komen ya, staytuned part terakhir FF ini ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: