[FANFICT/FREELANCE] Love You Like You – Chapter 03

Title 
: Love You Like You – Chapter 03
Author   : Aryn Chan (@1998aryn)
Genre         : Romance
Rating          : G
Type   : Chaptered
Main Casts      
: ~ No Minwoo  ~ Jang Yoon Hee

  ~ Jo Youngmin

  ~ Kim Yuri

>>>>AUTHOR NOTE

Halo, pembaca ^^

Terima kasih sudah membaca FF-ku hingga saat ini. Terima kasih telah berkomentar pada part sebelumnya. Sebenarnya, FFku ini sudah selesai. Tapi, hingga 21 part. Mungkin jika aku post semua kalian akan merasa bosan, jadi aku akan menyeleksi ulang ceritanya dan aku akan mengambil inti ceritanya saja. #gak nanya -_-

Maaf, banyak sekali kekurangan di part sebelumnya. Dan jangan lupa seperti biasa, tinggalkan jejak kalian dikolom bawah sini ya🙂,,,,

************************************************************

LOVE YOU LIKE YOU

Bagian Tiga

 “Selamat pagi. Aku sudah membuatkan sarapan untukmu.”

Minwoo melihat ke sumber suara itu. Ia melihat kearah dapur, dan mendapati Yoon Hee yang sedang menyiapkan sarapan.

“Mengapa pagi sekali?” Tanya Minwoo berjalan menuju dapur.

“Aku tidak ingin terlambat kerja. Lagi pula, ini hari pertamaku.” Jawab Yoon Hee sambil melepaskan celemeknya dan menaruhnya dilemari dapur.

“Oh.” Gumam Minwoo sambil memperhatikan Yoon Hee yang menaiki tangga dengan cepat.

Minwoo baru saja akan mengambil nasi ketika gadis itu muncul lagi dari atas tangga. Minwoo mengangkat alis. “Apa?”

“Barang-barangku masih ada didalam mobilmu, bukan?” Tanya Yoon Hee.

Minwoo mengangguk.

“Baiklah. Nantiku ambil.” Kata Yoon Hee kembali menaiki tangga dengan cepat.

Minwoo memandang gadis itu sampai punggung gadis itu tidak terlihat lagi dan Minwoo baru saja aku mengambil nasi lagi ketika bel rumah berbunyi. Minwoo mendesah. “Siapa lagi yang datang pagi-pagi begini?” Gerutu Minwoo sambil berjalan kearah pintu.

“Selamat pagi.” Sapa laki-laki muda yang berdiri didepan pintu.

“Oh, kau rupanya Youngmin. Ayo masuk. Wahh, kau menjadi sangat tampan rupanya, aku jadi iri padamu.” Kata Minwoo sambil membukakan pintunya.

Youngmin adalah saudara sepupunya dan teman sepermainannya sejak kecil. Diantara keluarganya, Minwoo paling dekat dengan Youngmin. Menurutnya, Youngmin itu laki-laki yang sangat penyabar dan dewasa. Tapi, Youngmin harus pindah ke Seoul karena pekerjaan ayahnya.

Ibu Youngmin adalah orang Jepang tapi, ayahnya orang Korea. Setelah Youngmin lulus kuliah, Youngmin pergi ke Tokyo untuk mewujudkan impiannya sebagai photographer terkenal bersama ibunya. Dan hari ini, dia baru kembali.

“Kemarin malam, aku kan sudah meneleponmu.” Kata Youngmin sambil duduk dikursi ruang tamu sedangkan Minwoo duduk dihadapannya.

“Memangnya ada apa mencariku?” tanya Minwoo sambil tersenyum.

Youngmin menaruh tempat makan diatas meja.

Minwoo mengangkat alis, heran. Dia menerima tempat makan itu, lalu membukanya. “Kimchi?” Tanyanya. Tapi, Minwoo masih belum mengerti, mengapa tiba-tiba lelaki itu memberinya kimchi? Minwoo mengangkat kepalanya dan melihat Youngmin. “Tapi, mengapa tiba-tiba kau memberiku kimchi? Kau sedang ulang tahun—ah, tidak. Ulang tahunmu kan sudah lewat—lalu ada apa?”

“Ibuku merindukanmu dan dia membuatkan kimchi untukmu. Dia menghabiskan malamnya untuk membuatkanmu itu. Aku heran, sebenarnya anaknya itu aku atau kau. Mengapa selalu kau yang dirindukan ibu?” Kata Youngmin dengan memasang wajah melas.

Minwoo tertawa kecil. “Sampaikan ucapan terima kasihku kepada ibumu, ya. Aku juga sangat merindukannya.” Kata Minwoo.

“Iya.”

“Oh ya. Bagaimana di Tokyo? Pasti kau sudah mendapatkan wanita Jepang?” Gurau Minwoo.

“Wanita disana memang cantik. Tapi, sayangnya tidak termasuk kriteriaku.” Jawab Youngmin.

“Oh begitu. Lalu, bagaimana kriteriamu? Apakah aku termasuk?” Tanya Minwoo sedikit bergurau.

“Yang pasti bukan lelaki.” Sahut Youngmin sambil tertawa.

Minwoo ikut tertawa mendengar jawaban sahabatnya itu. Dan setelah tawanya mereda, Minwoo berkata, “Kemarin aku mengunjungi toko buku ayahmu.”

“Untuk apa?”

Baru saja Minwoo akan menjawab ketika terdengar seruan dari Jang Yoon Hee. “Minwoo, aku akan berangkat sekarang. Kau jangan lupa makan, aku akan sarapan diluar nanti.”

Youngmin menatap Minwoo dengan tatapan bertanya. “Ada yang tinggal disini lagi selain kau? Apa kakak perempuanmu sudah datang?”

Minwoo baru akan menjawab ketika ia sudah melihat Yoon Hee berdiri diruang tamu. Yoon Hee menatap Youngmin dengan terkejut begitu pun dengan Youngmin.

Minwoo segera bertindak dan berdiri dari tempat duduknya lalu, memperkenalkan mereka. “Yoon Hee ini Jo Youngmin, anak dari pemilik toko buku yang kita datangi kemarin. Youngmin ini Jang Yoon Hee.” Kata Minwoo memperhatikan Yoon Hee dan Youngmin bergantian. Ia merasa ada yang aneh dengan mereka berdua.

Minwoo melihat Youngmin mengulurkan tangannya kearah Yoon Hee. “Jo Youngmin. Senang bertemu denganmu lagi.”

Lagi? Bertemu denganmu lagi? Apa maksudnya ini?

Yoon Hee maju selangkah lalu, menerima uluran tangan Youngmin. “Jang Yoon Hee.” Katanya memperkenalkan diri, “Maafkan kejadian kemarin.”

“Ah, tidak perlu. Lihat, lukanya sudah tidak apa-apa.” Kata Youngmin sambil memperlihatkan tangannya yang terluka.

Yoon Hee tersenyum.

Ini benar-benar membuat Minwoo tidak mengerti. “Tunggu. Apa maksudnya ini?” Tanya Minwoo.

“Lain kali akan ku jelaskan. Aku harus berangkat sekarang, aku sudah terlambat.” Kata Yoon Hee kepada Minwoo. Yoon Hee melihat kearah Youngmin lalu, membungkukkan badannya. “Saya pergi dulu. Selamat pagi.”

Youngmin membalas membungkukkan badan. Lalu, tersenyum.

Minwoo memperhatikan Yoon Hee dari belakang sampai anak itu tidak terlihat oleh matanya lalu, kembali duduk diikuti Youngmin yang duduk dihadapannya.

Minwoo melihat kearah Youngmin. “Sebenarnya, apa maksudnya tadi?”

Youngmin melihat Minwoo, lalu, menjawab. “Oh? Kemarin, aku akan mengunjungi tempat ayahku. Lalu setahuku, ketika dia sedang membalikkan badan dengan kasar—mungkin dia tidak melihatku sedang berjalan dibelakangnya—dia menabrakku hingga aku terjatuh ketanah.” Kata Youngmin, lalu melanjutkan. “Kemarin tanganku sempat luka dan sakit sekali. Tapi, sekarang sudah tidak apa-apa.”

“Anak itu memang ceroboh.” Kata Minwoo kesal.

Youngmin tertawa kecil. Lalu, menatap Minwoo kembali. “Kau sendiri, mengapa dia bisa ada disini?”

Minwoo tidak balik menatap Youngmin, tapi, dia menjelaskan semuanya.

“Bagaimana bisa?” Tanya Youngmin setelah Minwoo selesai bercerita.

“Begitulah.” Sahut Minwoo singkat, tanpa melihat Youngmin.

Mereka terdiam sejenak, lalu Minwoo mengalihkan pembicaraan. “Bagaimana kalau kita makan Kimchi ini bersama? Aku yakin kau juga belum sarapan kan?” Tanya Minwoo sambil membawa Kimchi itu kedapur.

“Ya, kau benar.” Sahut Youngmin mengikuti Minwoo dari belakang.

***

Jang Yoon Hee mengambil buku-buku yang berserakan diatas meja, lalu menyimpannya di rak buku dan merapihkannya. Pekerjaan ini sungguh menyenangkan. Walaupun sedikit lelah, tapi setiap waktu ia bisa bertemu orang-orang yang belum dikenalnya.

Yoon Hee melihat kesamping dan mendapati wanita bertubuh tinggi sedang merapihkan buku-buku dirak. Mungkin, karena merasa ada yang memperhatikannya, wanita itu melihat kesampingnya dan saat itu mata mereka bertemu. Yoon Hee terlompat kaget. Wanita itu tersenyum kearahnya, karena merasa tidak enak, Yoon Hee membalas senyumannya dengan canggung lalu, mengalihkan perhatian kembali kepada buku-buku yang ia pegang.

Setelah lelah bekerja, Yoon Hee istirahat sebentar sambil melihat-lihat ke sekelilingnya, lalu, menarik na­­­­­­­­­­­fas. Yoon Hee menundukkan kepalanya. Lelah sekali. Jadi, begini rasanya mencari uang untuk mendapatkan sesuap nasi?

Tiba-tiba ia merasa ada yang duduk disebelahnya. Yoon Hee mendongak dan melihat kesebelahnya. Seorang wanita sedang memperhatikannya sambil tersenyum. Dengan canggung Yoon Hee membalas senyuman itu.

“Kau terlihat lelah.” Ucap wanita itu. “Kau karyawan baru, ya?”

“Iya.” Jawab Yoon Hee sambil tersenyum.

“Sudah berapa hari?” Tanya Wanita itu lagi.

“Baru hari ini.” Jawab Yoon Hee lagi.

“Oh, tapi wajahmu terlihat pucat.” Kata wanita itu . “Kau sudah sarapan?”

Yoon Hee mengingat-ingat, tadi pagi ia memang sempat memasak tetapi, belum sempat sarapan. Sebagai jawaban ia hanya menggeleng.

“Pantas saja.” Gumam wanita itu. Wanita itu mengulurkan tangannya dan berkata. “Aku Kim Ji Ra. Kau siapa?”

Yoon Hee sedikit berfikir sebelum menerima uluran tangannya tapi, hanya sedetik. Sedetik kemudian ia menerima uluran tangan wanita yang mengaku bernama Kim Ji Ra itu lalu tersenyum. “Aku Jang Yoon Hee.”

Wanita itu tersenyum juga lalu, melepaskan tangannya. “Kalau begitu, ayo kita makan. Lagi pula, ini sudah waktunya istirahat makan siang.”

Yoon Hee berfikir lagi dan akhirnya ia tersenyum dan menjawab. “Baiklah.”

***

Minwoo melihat keluar jendela, memandang jalanan yang ramai. Dia sedang berada disebuah restoran yang menjadi tempatnya bekerja. Dia baru saja ditelepon oleh rekan kerjanya yang mengabarkan bahwa hari ini akan ada rapat. Ternyata rapat tadi membahas tentang rencana pembangunan restoran ini.

Sebenarnya Minwoo setuju-setuju saja dengan pembangunan renovasi restoran ini. Lagi pula, ia tidak peduli restoran ini mau dibuat apa, mau dibagaimanakan? Terserah mereka. Ia sendiri bingung, mengapa orang pemalas sepertinya bisa dipilih menjadi seorang direktur. Ia selalu berfikir, bagaimana reaksi ayahnya jika tahu ia selalu bermalas-malasan. Sudah pasti akan mengamuk dan memarahinya.

Minwoo meneguk soju yang dipegangnya sambil melihat keluar jendela. Tapi, tiba-tiba lamunannya buyar ketika terdengar suara langkah kaki yang menghampirinya.

Minwoo memutarkan badannya. Dan ia mendapati sosok wanita yang sangat ia kenal. Minwoo tesenyum, senyuman itu datang dengan sendirinya dari lubuk hatinya. Wanita yang berdiri dibelakangnya adalah Kim Yuri.

Yuri tersenyum lebar dan langsung duduk dihadapannya.

“Ada apa datang mencariku?” tanya Minwoo sambil meneguk sojunya lagi.

“Siapa yang mencarimu? Aku mencari pelayan disini.” Jawab Yuri bergurau sambil menyapu seluruh ruangan ini seperti sedang mencari seseorang.

Minwoo tertawa kecil, “Aku tahu kau berbohong. Kau datang kesini untuk mencariku, bukan?”

Yuri melihatnya sambil tersenyum lebar, “Ya, aku datang mencarimu.”

“Ada apa?” tanya Minwoo mengulangi pertanyaannya.

“Kau sudah makan?” tanya Yuri balik.

Sebagai jawaban Minwoo menggeleng, “Belum,”

“Aku ingin mengajakmu makan siang. Aku sedang malas makan sendiri.” Katanya dan melanjutkan dengan semangat. “Aku dengar ada restoran yang sangat enak.”

“Baiklah, ayo kita kesana.” Kata Minwoo. Ia tidak mengerti kenapa saat gadis itu memintanya untuk melakukan sesuatu, ia tidak pernah bisa menolak. Ia merasa tidak ingin membuat Yuri sedih. Hanya itu yang selalu dipikirkannya.

***

Yoon Hee baru saja sampai disebuah restoran. Restoran ini cukup jauh dari tempatnya bekerja. Kata Ji Ra restoran ini menyediakan makanan paling enak dan katanya juga, Yoon Hee pasti akan ketagihan makan disini.

Tapi jika dilihat dari luar tampilan, restoran ini terlihat sederhana dan tidak terlihat restoran mewah yang menyediakan makanan mahal dan lezat. Walaupun begitu, Yoon Hee yakin restoran ini menyediakan makanan lezat karena bisa dilihat dari keadaannya. Walaupun apa adanya, restoran ini ramai oleh pengunjung. Yoon Hee dan Ji Ra sendiri hampir tidak kebagian tempat duduk.

Tiba-tiba Ji Ra menarik lengan Yoon Hee dan menerobos kedalam orang-orang yang sedang mengantri. Ji Ra menariknya kearah meja kosong didekat jendela paling ujung dan duduk menghadap belakang restoran yang dipenuhi tanaman-tanaman indah.

“Ini alasan aku mengajakmu ke restoran ini.” Gumam Ji Ra sambil memandangi bunga-bunga yang sedang berguguran.

Yoon Hee duduk didepan Ji Ra dan mengikuti arah pandangannya dan saat itu juga matanya melebar. “Wow, indah sekali.” Gumamnya terkagum-kagum. Dibelakang restoran itu, terdapat tanaman bunga yang indah, pohon-pohon besar yang rindang, kolam ikan yang dipenuhi ikan-ikan hias dan terdapat air mancur, dan masih banyak lagi keindahan lainnya.

Ji Ra mengalihkan pandangan kearah Yoon Hee dan berkata. “Sudah ku bilang, kau akan terkagum-kagum oleh pemandangannya.”

Harus Yoon Hee akui itu memang benar. Ji Ra telah membuatnya terkagum. Sebagai jawaban Yoon Hee mengalihkan pandangan sekilas kearah Ji Ra lalu tersenyum dan kembali memandang kebelakang halaman restoran.

Pelayan menghampiri mereka, menanyakan pesanan mereka. Setelah, Yoon Hee dan Ji Ra menyebutkan pesanan mereka, pelayan itu pergi.

“Apakah setelah selesai makan kita bisa pergi kesana?” Tanya Yoon Hee menatap Ji Ra penuh harap.

Ji Ra sedikit berfikir dan akhirnya menganggukkan kepala.

Senyum Yoon Hee melebar. Yoon Hee menyukai musim gugur, memandangi bintang, mendengarkan music, dan terakhir pemandangan indah. Apalagi, jika melihat pemandangan dipantai atau pegunungan pada pagi atau sore hari. Dulu, Yoon Hee sering melihat matahari terbit atau tenggelam dari pantai bersama Donghyun. Tapi, sekarang dunianya berbeda. Dunianya sudah berubah. Dan akan dia pastikan, dia tidak akan terjebak dalam dunia yang sangat menyedihkan lagi.

Lamunan Yoon Hee buyar ketika pelayan datang mengantarkan makanan. Setelah mengucapkan terima kasih kepada pelayan, pelayan itu pun pergi meninggalkan Yoon Hee dan Ji Ra.

“Bagaimana pekerjaanmu? Menyenangkan?” Tanya Ji Ra tiba-tiba.

Yoon Hee mengangkat kepala dan tersenyum. “Sangat menyenangkan. Walaupun sedikit lelah.”

“Memang begitulah rasanya bekerja.” Kata Ji Ra sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya. “Jika bekerja seperti ini, aku selalu teringat ayahku. Dan aku baru merasakan perjuangan seorang ayah.” Kata Ji Ra melanjutkan. “Bagaimana denganmu?”

Mata Yoon Hee terbelalak kaget menatap Ji Ra. “Bagaimana denganku?” Ulangnya.

Ji Ra mengangguk. “Iya. Sekarang dimana kalian tinggal?”

“Dimana kita tinggal?” Ulangnya. “Dimana orang tuaku tinggal?” Sekarang ia menjadi orang bodoh yang membalik-balikan pertanyaan orang.

Senyuman yang tersungging dibibir Ji Ra memudar dan berubah menjadi kebingungan. ‘“Dimana orang tuamu tinggal?’ mengapa bertanya padaku? Ada apa denganmu?”

Yoon Hee tidak menjawab.

“Apa maksudmu?” Tanya Ji Ra lagi terus mendesak Yoon Hee.

Yoon Hee menundukkan kepala sejenak dan kembali menatap Ji Ra. “Aku tidak tahu keberadaan mereka.”

“Apa?” Tanya Ji Ra tidak mengerti sekaligus tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.

Yoon Hee menarik nafas. “Aku dibesarkan dipanti asuhan. Aku tidak tahu mereka tinggal dimana.”

Sebelah tangan Ji Ra terangkat kedepan mulutnya. Dan wajahnya memerah karena merasa bersalah.

Seperti mengetahui apa yang sedang dipikiran Ji Ra, Yoon Hee tersenyum dan berkata. “Tidak apa-apa. Aku sudah biasa dihadapi pertanyaan seperti ini.”

“Maafkan aku.”

“Ayo, kita lanjutkan makan siang kita.” Yoon Hee menyuapkan makanannya dan berseru kecil, “Mm, makanannya enak sekali.”

Mereka menghabiskan makanan mereka dan setelah selesai makan, tiba-tiba seorang laki-laki tinggi, kurus, menghampirinya.

“Hey.” Kata laki-laki itu.

Dengan otomatis Ji Ra dan Yoon Hee menatap kearah suara itu. Yoon Hee terlihat kaget menatap lelaki dihadapannya itu. Lelaki itu… ia merasa pernah bertemu dengannya. Tentu saja. Yoon Hee masih ingat mereka pernah bertemu dimana, dan berapa kali mereka bertemu. Yoon Hee juga masih ingat wajah lelaki itu. Tapi, masalahnya sekarang ia lupa nama laki-laki yang membuat jantungnya berhenti itu.

“Hey.” Ulang laki-laki itu.

“Hey.” Sahut Yoon Hee cepat yang baru tersadar dari lamunannya.

“Masih ingat denganku, bukan?” Tanya laki-laki itu kepada Yoon Hee.

“Tentu saja, aku masih ingat.” Sahutnya. Ia sendiri bingung, apakah ini masih bisa disebut ingat atau tidak ingat?

“Kalau tidak salah kau anaknya presdir, bukan?” Tanya Ji Ra tiba-tiba. “Kalau tidak salah namamu Jo…Jo Young…Min. Ya, Jo Youngmin?”

Ah, benar. Nama laki-laki itu Jo Youngmin. Lelaki yang pernah ia tabrak dan sahabat Minwoo.

“Ya, benar.” Sahut Youngmin dengan senyum manisnya.

“Oh? Kenalkan namaku Kim Ji Ra.” Kata Ji Ra sambil mengulurkan tangannya. Youngmin menerima uluran tangan Ji Ra dan lagi-lagi senyuman mautnya kembali tersungging dibibirnya. “Ayo, silahkan bergabung dengan kami.” Kata Ji Ra melepaskan tangannya sambil menunjukkan kursi disampingnya yang kosong dan berbisik kearah Yoon Hee. “Kau tidak apa-apa?”

“Tentu saja tidak.” Sahut Yoon Hee cepat.

Youngmin duduk disamping Yoon Hee. Lalu, memanggil seorang pelayan dan menyebutkan makanan yang akan dipesannya. Lalu, kembali lagi melirik kearah Yoon Hee dan Ji Ra bergantian—yang sedang menatapnya. “Kalian tidak keberatan bukan?”

“Tentu saja, tidak.”

“Tidak.”

Yoon Hee melirik kearah Ji Ra, begitu sebaliknya. Lalu, mereka tersenyum.

Demi tuhan, mengapa dihadapan lelaki ini Yoon Hee menjadi orang bodoh seperti ini? Yoon Hee memberengut dalam hati.

“Bagaimana pekerjaan kalian?” Tanya Youngmin menghilangkan kecanggungan diantara mereka.

“Seperti biasa.” Jawab Ji Ra.

“Sangat menyenangkan.” Sahut Yoon Hee bangga.

Youngmin lagi-lagi tersenyum kearahnya. Oh tidak, sekarang Yoon Hee yakin jantungnya sudah jatuh kebawah. Bagaimana laki-laki ini bisa membuat jantungnya melemah seketika hanya dengan senyumannya?

Yoon Hee mengalihkan pandangan mengamati sekeliling restoran yang ramai itu dan matanya berhenti pada pintu masuk yang terbuka. Yoon Hee mengerjap kaget. Laki-laki itu? Minwoo? Mengapa dia ada disini? Dan bersama siapa dia? Oh, astaga. Apakah itu Yuri? Wanita yang disukai Minwoo?

Benar. Ternyata itu memang benar Yuri. Sudah terlihat jelas, Minwoo tersenyum kearahnya dan menatapnya. Tatapan Minwoo kepada Yuri itu seperti tatapan… ah, dia juga tidak tahu seperti tatapan apa. Tapi, yang jelas itu bukan tatapan biasa, bukan tatapan yang menandakan bahwa mereka hanya bersahabat. Jika, orang yang tidak tahu, pasti mereka meanggap itu tatapan yang diberikan kepada orang yang dicintainya.

Yoon Hee mengalihkan pandangan. Dan berusaha menyembunyikan diri agar Minwoo tidak melihatnya. Tapi, tidak disangkanya, Youngmin membalikkan badan dan mengangkat tangannya dan berseru.

“Hey, No Minwoo.”

Yoon Hee tersentak kaget dan menatap Youngmin—yang sedang membelakanginya. Lalu, mengalihkan pandangan kearah Minwoo dan detik itu juga mata mereka bertemu. Yoon Hee melihat sebersit kekagetan juga dari mata Minwoo setelah melihatnya. Yang harus ia lakukan sekarang adalah pergi. Pergi sekarang juga.

Baru saja ia akan membuka suara, pelayan datang membawa pesanan Youngmin. Yoon Hee tersenyum kepada pelayan itu.

Setelah pelayan itu pergi, Yoon Hee membuka suara kembali. “Sebaiknya aku dan Ji Ra pergi,” katanya dan melanjutkan, “masih banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan.”

“Tapi, kau bilang tadi… Aww” Kata Ji Ra.

Yoon Hee menginjak kaki Ji Ra dan tersenyum masam kearahnya.

“Tapi, sekarang ayahku sedang berada diluar kota. Jadi, mungkin kalian boleh sedikit terlambat.” Kata Youngmin mencoba menahan Yoon Hee untuk tetap disini.

“Oh?” Mata Yoon Hee melebar. Alasan apa lagi yang harus dia katakan?

Tepat saat itu Minwoo dan Yuri datang menghampiri mereka ber-3. “Hai.” Sapa Minwoo. Yoon Hee melihat Minwoo sekilas dan kembali melihat Youngmin.

“Tapi, aku karyawan baru. Jadi, mungkin itu tidak berlaku kepadaku.” Kata Yoon Hee kepada Youngmin.

“Baiklah kalau begitu. Tapi, apa perlu kuantar?” Tanya Youngmin menawarkan diri kepada Yoon Hee.

“Tidak usah. Kita bisa sendiri? Bukankah begitu Ji Ra?”

Ji Ra menatap Yoon Hee sejenak. Bingung. Lalu berkata, “Ya, Yoon Hee benar. Kita bisa menggunakan bis atau taxi.”

Yoon Hee tersenyum kearah Youngmin, Minwoo, dan Yuri yang rupanya sudah duduk disebelah Ji Ra.

“Oh, kalau begitu baiklah. Hati-hati dijalan.” Kata Youngmin.

Yoon Hee tersenyum dan baru akan bangkit dari kursinya ketika seseorang memanggil namanya. Dengan otomatis Yoon Hee membalikkan kepalanya dan mendapati Minwoo sedang memandangnya.

“Kau ingin aku menjemputmu nanti?”

***

Minwoo duduk didalam mobil sambil menunggu Yoon Hee keluar. Sudah 30 menit ia menunggu Yoon Hee, sekarang sudah pukul tujuh malam. Setelah mengantar Yuri pulang dan kembali ke kantornya sebentar—karena ada tugas yang belum ia selesaikan—lalu, ia kembali ke sebuah toko buku tempat Yoon Hee bekerja.

Tepat pada detik itu, pintu penumpang mobilnya terbuka dan Minwoo melihat seorang perempuan kurus, dengan rambut panjang yang terurai mencondongkan tubuhnya kedalam mobil.

“Bolehkah aku masuk?” Tanya gadis itu yang ternyata adalah Jang Yoon Hee.

“Masuklah.” Sahut Minwoo singkat.

Yoon Hee masuk kedalam mobil dan duduk disebelah Minwoo.

“Sekarang kita mau kemana?” Tanya Yoon Hee sambil memasang sabuk pengamannya.

“Pulang.” Sahut Minwoo.

Yoon Hee menatap Minwoo yang sedang memasang sabuk pengaman juga dengan alis terangkat.

“Kenapa?” Tanya Minwoo begitu menyadari Yoon Hee menatapnya dan balas menatapnya.

Yoon Hee menggeleng dan bergumam, “Tidak. Tidak ada apa-apa.”

Yoon Hee menunduk sambil memainkan jari-jari kukunya. Ia merasa ada yang aneh dengan Minwoo. Sikapnya? Cara berbicaranya? Sikapnya seperti… Yoon Hee tidak percaya dengan pikirannya ini. Apa mungkin? Cara Minwoo menatapnya tadi juga seperti… Seperti apa? Seperti siapa?

Yoon Hee menggerutu dalam hati sebelum mengabaikan pikirannya itu. Mungkin hanya kebetulan, dan ini hanya pikiranku saja. Tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja. Katanya dalam hati mencoba menenangkan pikirannya dan dirinya.

“Yasudah kita berangkat sekarang.” Kata Minwoo, menyadarkan Yoon Hee dari lamunannya.

Yoon Hee mengangkat kepala dan mengangguk. Minwoo menyalakan mesin dan melajukan mobilnya. Minwoo terus memperhatikan jalanan sedangkan Yoon Hee hanya memandang keluar jendela.

“Bagaimana pekerjaanmu?” Tanya Minwoo memecah keheningan.

Yoon Hee membalik kearah Minwoo dan menjawab, “Baik. Sangat menyenangkan.”

Minwoo tersenyum. “Aku senang mendengarnya.”

Melihat Minwoo tersenyum, Yoon Hee tidak bisa menahan diri dan akhirnya bibirnya membuat lengkungan kecil dan menjadi senyuman.

“Tapi, wajahmu pucat.” Kata Minwoo tiba-tiba. Dengan otomatis Yoon Hee memegang wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“Kau baik-baik saja?” Terdengar suara Minwoo lagi sambil menatap Yoon Hee sejenak.

Sebenarnya Yoon Hee memang merasa tidak enak badan. Tapi, mungkin ini hanya efek dari kerja kerasnya tadi. Jadi, sebagai jawaban Yoon Hee menatap Minwoo sambil tersenyum lalu mengangguk, “Aku baik-baik saja. Jangan khawatir.” katanya, “Perhatikan jalan, kalau kau tidak ingin menabrak trotoar.”

“Iya, aku juga sedang memperhatikan jalanannya.” Gerutu Minwoo.

Yoon Hee tersenyum.

“Oh ya, Minwoo.” Panggil Yoon Hee tiba-tiba.

“Mm,” Sahut Minwoo.

Yoon Hee terlihat berfikir, lalu menatap Minwoo. “Kau sudah berapa lama berteman dengan Youngmin?”

Minwoo merasa bingung dan aneh dengan pertanyaan Yoon Hee, tapi dia mencoba bersikap biasa, “Dari sejak kecil,” katanya, “sejak berada dalam kandungan.” Yoon Hee mendesah sedangkan Minwoo hanya tersenyum dan meralat, “Sejak aku tinggal di Busan.”

Wajah Yoon Hee berseri-seri sambil menatap Minwoo. Ada apa dengan gadis ini? pikir Minwoo dalam hati.

“Berarti kau kenal dekat dengannya?” Tanya Yoon Hee. Senyum lebarnya masih tersungging menghiasi bibir manisnya.

“Sebenarnya, kita bukan berteman saja,” kata Minwoo membuat Yoon Hee tidak mengerti, “Kita saudara sepupu.”

Mata Yoon Hee terbelalak kaget, tapi, dia juga senang, “Benarkah? Berarti kau sangat mengenalnya?”

“Tentu saja,” sahut Minwoo, “dia itu lelaki yang sangat penyabar.”

Mata Yoon Hee tidak bisa beralih dari wajah Minwoo, dia terus menatap Minwoo—yang masih menatap jalanan—menunggu kalimat yang akan dikeluarkan laki-laki ini lagi.

“Dia juga sangat bekerja keras,” terdengar suara dari Minwoo lagi, “bisa menyanyi dan bermain alat music. Dia juga photographer yang hebat.” Kata Minwoo melanjutkan.

“Benarkah?”

Minwoo mengangguk, “Kemarin dia ke Tokyo untuk mewujudkan impiannya sebagai photographer.” Kata Minwoo melihat kearah Yoon Hee sekilas dan kembali memandang jalan.

“Wow hebat. Sangat tipeku.” Kata Yoon Hee senang.

“Apa?” Minwoo tidak percaya dengan telinganya ini. Apa dia salah dengar?

“Ya. Youngmin sangat seperti tipeku.” Ulang Yoon Hee. “Dia mengingatkanku kepada Donghyun.”

Tiba-tiba saja wajah Yoon Hee kembali memudar. Minwoo mencoba menenangkan gadis ini. “Tenanglah, kau tidak usah mencemaskannya lagi. Saat ini seharusnya, kau mencemaskan dirimu sendiri.”

Yoon Hee menatap Minwoo dan mengangkat alis. Ada apa dengan gadis ini? Yoon Hee menatapnya dengan alis terangkat dan mata yang berkaca-kaca. Apa ucapannya salah? Pikir Minwoo. “Mengapa menatapku seperti itu? Apa aku salah mengucapkan sesuatu?”

Yoon Hee tersenyum sambil menatapnya, “Terima kasih.” Kata Yoon Hee.

Mendengar ekspresi wajah Yoon Hee yang terlihat konyol, Minwoo tidak bisa menahan diri untuk ikut tersenyum, lalu ia kembali mengalihkan pandangan pada jalanan. Suasana disana kembali sepi dan sunyi hanya terdengar suara mobil-mobil lain dari jalan sampai akhirnya, Minwoo membelokkan mobilnya didepan rumahnya.

“Sudah sampai turunlah.” Kata Minwoo tanpa melihat kearah Yoon Hee karena sedang membuka sabuk pengamannya. Karena tidak ada jawaban dari Yoon Hee, Minwoo mengalihkan pandangan melihat Yoon Hee. Gadis ini tertidur? Tidurnya pulas sekali. Minwoo jadi merasa tidak tega untuk membangunkannya. Pasti gadis ini sangat lelah.

Minwoo keluar dari mobilnya, dan membuka pintu penumpang sebelahnya. Lalu, membukakan sabuk pengaman Yoon Hee dan menggendongnya. Gadis ini sangat kecil, Minwoo tidak merasa menggendong orang berumur 22 tahun. Tapi, ia merasa seperti menggendong anak kecil berumur 10 tahun. Lain kali, Minwoo harus menyuruhnya makan 10 piring.

Minwoo menurunkan Yoon Hee diatas kasur kamarnya, lalu menyelimutinya. Minwoo menatap Yoon Hee dan duduk disebelahnya. Yoon Hee pasti sangat lelah karena bekerja sampai malam begini. Lain kali ia akan bilang pada Youngmin, untuk tidak membuat Yoon Hee bekerja seharian.

Minwoo mengangkat tangannya hendak menyentuh dahi Yoon Hee. Tapi, apakah ia perlu? Mengapa ia begitu mengkhawatirkan gadis ini? Padahal baru seminggu lebih ia mengenal gadis ini, mengapa ia begitu khawatir. Minwoo sedikit ragu dan akhirnya ia mengurungkan niatnya dan menarik tangannya kembali.

Minwoo berdiri dan berjalan menuju pintu kamar Yoon Hee, lalu, kembali menoleh untuk melihat wajah Yoon Hee sekali lagi sebelum akhirnya ia menutup pintu.

 

TO BE CONTINUED

*Ngerti kan maksud ceritanya? Hehe🙂

This entry was posted by boyfriendindo.

15 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Love You Like You – Chapter 03

    • hehe, ne🙂
      schedule FFnya selisihnya satu minggu sama part sebelumnya. Jadi, tunggu minggu depan ya🙂
      Trimakasih🙂

  1. kenapa… min woo gak ngerti juga ya….???

    terlalu kasiaaan sieh sama yuri… kan kasiaaan yoon hee harus nahan rasa sakitnya…😥

  2. Apa Yoon Hee mulai suka dengan Young Min?? :3

    kayaknya bakal ada cinta segitiga atau segiempat nih XD~

    NEXT thor!!
    Jangan lama-lama ok😉

    • hehe,🙂 aduh apa ya😀
      schedule FFnya selisihnya satu minggu sama part sebelumnya. Jadi, tunggu aja ya,🙂
      trima kasih😀

  3. waduh O.o byk bnr 21 part
    bakalan crita segi4 nich (kl yuri gk diabaikan) kkekekek~~
    seru, seru, seru, walaupun kmrn d mslh sama POV tp gini jg lbh bgs jd punya ciri khas
    next chap y, thor! 6^.^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: