[FANFICT/FREELANCE] Love You Like You – Chapter 04

Title 
: Love You Like You – Chapter 04
Author   : Aryn Chan (@1998aryn)
Genre         : Romance
Rating          : G
Type   : Chaptered
Main Casts      

: ~ No Minwoo

  ~ Jang Yoon Hee

  ~ Jo Youngmin

  ~ Kim Yuri

>>>>AUTHOR NOTE

Hallo Pembaca ^^

Terima kasih sudah menunggu chaptared yang satu ini. Walaupun ceritanya sedikit gaje menurutku, tapi terima kasih sudah bersedia membaca. J Sebenarnya FFnya sudah selesai tapi, aku belum tahu pasti FF ini dipost sampai chaptared berapa. Semoga kalian masih stay tune dan menunggu part selanjutnya sampai selesai. Terima kasih.

Selamat membaca… ^^

************************************************************************

LOVE YOU LIKE YOU

Bagian Empat

Baru saja Minwoo akan mengambil handuk, tiba-tiba saja ponselnya bordering. Minwoo berjalan kearah ponselnya yang tergeletak diatas kasur, lalu menekan tombol hijau, “Hallo,” Raut wajahnya berubah ketika mendengar suara diujung sana, “Yuri? Ada apa?….Ada masalah?….Sekarang? Tapi, aku ada rapat……..Tidak, tidak. Aku akan tetap kesana……..Sekarang sebutkan kau ada dimana?…..Oh, tidak apa-apa……Tunggu aku disana!”

Minwoo menutup ponselnya dan berlari menuju kamar mandi kecil yang ada didalam kamarnya. Setelah selesai mandi, Minwoo memakai baju kemeja beserta jasnya, lalu berjalan keluar dan memasuki mobilnya dan melajukannya.

Setiba ditaman, Minwoo berlari-lari kecil mencari Yuri. Apa dia telah membiarkan Yuri menunggu terlalu lama?

Minwoo melihat ke sekeliling taman dan matanya tertuju pada sosok gadis yang sedang duduk sendiri dibangku taman. Gadis itu adalah Yuri. Minwoo menghampiri Yuri. “Kau sudah menunggu lama?” Tanyanya ketika sudah tiba dihadapan Yuri.

Yuri mengangkat kepala dan melihat Minwoo yang sudah berdiri dihadapannya. “Kau datang? Kenapa datang? Aku kan sudah bilang, rapat itu lebih penting daripada aku.” Kata Yuri sambil menatap Minwoo.

Tanpa diperintahkan, Minwoo duduk disamping Yuri. “Habis ini aku bisa langsung kesana.” Kata Minwoo.

“Minwoo,” Panggil Yuri tanpa melihat kearah Minwoo. Minwoo menengok kearah Yuri, “Mengapa kau selalu baik padaku? Mengapa kau selalu membantuku?”

Minwoo tertegun mendengar pertanyaan Yuri. Mengapa tiba-tiba Yuri menanyakan hal ini padanya?

“Disaat aku ada masalah, kau selalu membantuku, kau mengorbankan apapun demi aku. Apa arti semua ini? Kau selalu ada saat aku sedih, bahagia, senang, kau selalu hadir untukku.” Terdengar suara Yuri lagi.

Minwoo tidak menjawab.

“Kau tahu? Aku sangat berterima kasih banyak padamu. Kau selalu menenangkan ku saat aku sedang kesal.” Yuri terdiam sejenak lalu, memandang lelaki disebelahnya ini, “Sekarang aku tahu, apa yang harus aku lakukan.”

Minwoo mengangkat kepala dan melihat kearah Yuri tapi tidak berkata apa-apa, ia hanya menunggu kata yang akan dikeluarkan gadis ini lagi.

“Aku harus menjadi wanita yang kuat, aku akan terus terang kepada Joengmin dan melupakannya.” Kata Yuri dengan semangat.

“Mengatakan apa?” Tanya Minwoo tidak mengerti.

“Aku akan mengatakan, bahwa aku menyukainya tapi, mulai sekarang aku akan melupakannya.” Jawab Yuri masih melihat kearah Minwoo, “Kau setuju, bukan?”

Minwoo menatap Yuri, lalu tersenyum dan mengangguk.

“Bagus.” Seru Yuri.

Sekarang Minwoo senang melihat Yuri seperti dulu lagi. Minwoo senang melihat Yuri senang. Minwoo akan melakukan apapun demi orang yang dia sukai.

“Minwoo sepertinya kau harus cepat pergi. Bukankah rapat akan segera dimulai.” Seru Yuri tiba-tiba.

Minwoo melirik kearah jam tangannya, “Kau benar. Sepertinya, aku harus pergi sekarang.” Kata Minwoo sambil bangkit dari kursinya, lalu pergi meninggalkan Yuri.

Sebelum Minwoo benar-benar meninggalkan Yuri, ia membalikkan badannya dan melihat Yuri yang sedang memandangnya lalu, tersenyum, “Terima kasih.”

Yuri mengangkat alis tidak mengerti. Tapi, Minwoo tidak berkata apa-apa, ia membalikkan badannya lagi dan berlari kecil meninggalkan Yuri sendiri.

Terima kasih karena telah bersedia melupakan lelaki itu. Sebenarnya, itu yang ingin Minwoo katakan pada gadis itu. Tapi, ia belum berani. Ia rasa ini belum saatnya untuk mengungkapkan perasaannya pada Yuri karena ia merasa sedikit ada yang mengganjal pada hatinya. Sesuatu yang tidak biasa.

***

“Terima kasih. Jangan lupa datang kembali, ya.” Kata Yoon Hee pada pelanggan yang baru saja membeli beberapa buku.

“Aku lihat tadi kau diantar oleh Youngmin, ya?” Tanya Ji Ra tiba-tiba yang sudah berdiri disampingnya.

Yoon Hee mengangguk tanpa melihat Ji Ra, “Ya, katanya untuk sementara dia yang menggantikan ayahnya yang sedang pergi keluar kota,” kata Yoon Hee.

Ji Ra tersenyum jahil, “Kau tau itu hanya alasannya saja.”

Yoon Hee tidak mengerti dengan ucapan Ji Ra, apa maksudnya? Baru saja Yoon Hee akan bertanya apa maksudnya, tiba-tiba saja ada yang memanggilnya dari belakang. Dengan cepat Ji Ra dan Yoon Hee membalikkan badan.

“Kau sudah makan siang?” Tanya seorang laki-laki yang ternyata adalah Jo Youngmin.

Yoon Hee menggeleng, “Belum,”

“Bagaimana jika makan siang bersama?” Tanya Youngmin menawarkan.

“Gratis?” Tanya Yoon Hee agak bergurau.

“Tentu saja. Lagi pula, aku yang mengajakmu makan siang, jadi, aku yang harus membayar. Bagaimana?” Jawab Youngmin.

Yoon Hee tertawa kecil, “Baiklah.”

“Yasudah, ayo kita berangkat.” Ajak Youngmin.

Yoon Hee melihat kearah Ji Ra. “Aku pergi dulu, ya. Atau kau mau ikut bersama kami?”

Ji Ra mengangkat kepala dan menggeleng, “Tidak…tidak… aku tidak mau mengganggu.”

“Yasudah kalau begitu, aku pergi dulu ya.” Kata Yoon Hee pada Ji Ra. Yoon Hee mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu keluar menyusul Youngmin.

“Kita akan makan dimana?” Tanya Yoon Hee kepada Youngmin ketika sudah berada didalam mobil.

“Lihat saja nanti.” Sahut Youngmin yang membuat Yoon Hee penasaran. Youngmin menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya. “Kau sudah pernah merasakan Sushi Jepang?”

“Aku sudah pernah makan Sushi, tapi, jika Sushi Jepang aku belum pernah.” Sahut Yoon Hee.

“Bagus. Berarti aku orang pertama yang akan mengajakmu makan Sushi Jepang.” Kata Youngmin.

Yoon Hee mengangkat alis tidak mengerti maksud Youngmin, tapi, dia hanya diam saja tidak ingin memperpanjangnya lagi.

Setelah tiba ditempatnya, Youngmin turun dan membukakan pintu untuk Yoon Hee. Yoon Hee agak terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu. Ia tidak menyangka Youngmin sangat perhatian. Tanpa disadarinya, tiba-tiba saja ujung bibir Yoon Hee membuat lengkungan kecil. “Terima kasih.”

Yoon Hee turun dari mobil Youngmin dan melihat restoran yang ada didepannya. Restoran ini sangat ramai sekali. Ia tidak yakin akan mendapatkan kursi untuk duduk. “Ramai sekali. Kita akan duduk dimana?”

Youngmin hanya tersenyum, “Ikuti aku,” katanya sambil menarik tangan Yoon Hee.

Yoon Hee terkejut melihat Youngmin yang tiba-tiba saja memegang tangannya dan menariknya. Tapi, Yoon Hee hanya diam saja dan mengikuti Youngmin.

Setelah perjuangan untuk mendapatkan Sushi berhasil, Youngmin dan Yoon Hee keluar dari restoran yang penuh sesak itu. Jika, diingat-ingat kejadian tadi sangat lucu sekali. Kami harus berdesak-desakan dengan orang-orang untuk mendapatkan Sushi itu.

Laki-laki ini berhasil membuat hatinya senang. Dia ternyata manis juga.

“Sekarang kita akan makan dimana?” Tanya Yoon Hee masih sambil tersenyum.

Youngmin sedikit berfikir, lalu berseru, “Kita makan disana saja.”

Yoon Hee mengikuti Youngmin yang berjalan kearah taman lalu duduk disalah satu bangku taman yang dekat dengan bawah pohon sambil melihat daun-daun yang berguguran. “Wahh, indah sekali.” Gumam Yoon Hee.

Youngmin hanya tersenyum dan membuka bungkus sushinya.

Yoon Hee menggosok-gosok kedua tangannya, hari ini dingin sekali. Sebenarnya Yoon Hee tau sebentar lagi musim gugur akan usai dan akan memasuki musim dingin. Rasanya sangat sayang sekali meninggalkan musim gugur yang indah ini.

Youngmin mengalihkan pandangan kearahnya, “Kau kedinginan?” Tanya Youngmin.

Yoon Hee melihat kearah Youngmin, “Tidak. Hanya ini…”

Tiba-tiba saja Youngmin mengambil tangannya dan memasukkannya kedalam saku jaketnya, “Sini masukkan tanganmu kedalam saku jaket ku.” Ia yakin saat itu juga wajahnya memerah. Yoon Hee menundukkan kepala melihat kebawah, takut bila Youngmin melihat wajahnya yang memerah. Bagaimana ini?

“Sekarang bagaimana? Sudah tidak kedinginan lagi?” Terdengar suara dari Youngmin lagi.

Yoon Hee mengangkat kepala, “Oh? Sudah agak hangat.” Jawab Yoon Hee sedikit salah tingkah sambil menarik tangannya dari genggaman Youngmin.

“Sudah tahu akan memasuki awal musim dingin, mengapa tidak menggunakan jaket?” Kata Youngmin.

“Kupikir cuacanya tidak akan sedingin ini.” Kata Yoon Hee membela diri.

Youngmin tersenyum dan berkata, “Ayo, cepat makan sushinya.”

Yoon Hee menuruti dan membuka bungkus sushi, “Bentuknya sama saja.” Gumamnya, lalu mengambil salah satu dari sushi itu dan memasukkan kedalam mulutnya. Sepertinya dia mulai menyukai sushi ini. Tunggu, benar-benar menyukai sushinya atau karena Youngmin yang mentraktirnya? Entahlah, yang penting dia mulai suka dengan Sushi Jepang ini. Rasanya sangat beda. Rasanya seperti…seperti…entahlah, yang penting rasanya sangat enak sekali.

“Tidak enak, ya?” Terdengar suara Youngmin yang memecah lamunannya.

Yoon Hee mengalihkan pandangan kearah Youngmin dengan cepat, “Bukan begitu, justru sebaliknya. Sushi ini sangat enak.” Katanya terus terang, lalu menggigitnya lagi.

“Bagus jika kau menyukainya.” Ucap Youngmin sambil melihat kedepan. Senyum manisnya masih tersungging dibibirnya.

Melihat Youngmin tersenyum seperti itu, Yoon Hee jadi tidak bisa menahan senyumnya dan akhirnya ia ikut tersenyum.

***

Kim Yuri duduk menegang dihadapan Lee Jeongmin yang memandangnya dengan alis terangkat. Yuri hanya memainkan jari-jari tangannya sambil menundukkan kepala. Sebenarnya sampai kapan ia membiarkan Jeongmin menunggu seperti ini?

Yuri bingung akan bicara apa. Sebenarnya banyak sekali yang ingin Yuri bicarakan pada laki-laki ini, saking banyaknya dia lupa apa saja yang akan ia bicarakan. Tapi, intinya ia menemui Jeongmin untuk mengakui perasaannya. Tujuannya hanya untuk melegakan perasaannya saja. Agar dia lebih tenang.

“Bukannya kau tidak suka udang? Sini biar aku saja yang memakannya.” Kata Yuri sambil mengambil beberapa udang yang ada dipiring Jeongmin lalu, memakannya.

Jeongmin melihat Yuri yang memindahkan udang dari piringnya. Ia terlihat sedikit heran. Tapi, dia diam saja dan tersenyum sambil memperhatikan Yuri. “Bagaimana kau tahu?”

“Aku selalu memperhatikanmu jika kita sedang makan bersama.” Jawab Yuri dengan mulut yang penuh dengan makanan.

Jeongmin tertawa. “Benarkah? Mengapa aku tidak menyadarinya?” gumamnya sambil tertawa kecil dan melanjutkan makannya.

Yuri ikut tertawa dan menyuapkan makanannya lagi kedalam mulutnya. Lalu, ia berhenti sejenak. Mengunyah makanan yang ada dimulutnya lalu, menelannya. Ia terlihat sedang berfikir dan berbicara dengan nada suara yang pelan. “Aku rasa…aku menyukaimu.”

Jeongmin tersedak. Ia mengambil minuman dipinggirnya lalu, menatap Yuri. “Apa?”

Yuri mendesah dan menggerutu kecil, “Ini sangat memalukan, mengapa kau memintaku untuk mengulanginya?”

Jeongmin terdiam dan kembali bertanya. “Apa yang barusan kau katakan?”

Yuri menarik nafas untuk yang kesekian kalinya, “Aku rasa…aku menyukaimu.”

Jeongmin baru saja akan membuka mulutnya, tapi Yuri memotong. “Jangan katakan apa-apa. Aku mohon.” Katanya, akhirnya Jeongmin mengurungkan niatnya. Dia terdiam.

 “Aku menyukaimu sejak dulu.” Lanjutnya. “Sejak kita pertama kali bertemu. Ya, cinta pandangan pertama. Awalnya, aku tidak percaya dengan cinta pandangan pertama. Tapi, aku mulai percaya saat bertemu denganmu. Aku pikir saat itu, kau orang yang baik dan memang benar kau memang baik. Kau banyak menolongku dan rasa cintaku semakin besar terhadapmu.”

Yuri menarik nafas, dia berusaha agar air mata tidak jatuh dan mempermalukannya. Karena saat ini ia sudah merasa sangat malu hingga ingin pingsan. “Setelah kau memperkenalkan kekasihmu kepadaku, hati ini sangat sakit. Sakit sekali. Aku mencoba menghibur diriku. Tapi tetap saja, hatiku masih sakit sekali.” Kata Yuri menarik nafas kembali lalu melanjutkan, “Mungkin kau berfikir aku berkata seperti ini hanya untuk mencari perhatian, tapi, jika kau berfikir seperti itu kau salah. Aku berkata seperti ini agar aku lebih tenang dengan perasaanku yang kacau. Mungkin jika aku berkata terus terang padamu aku bisa bernafas dengan lega kembali.”

“Maafkan aku,” Kata Joengmin, suaranya terdengar lemah.

“Aku harap,,,,kau bahagia. Terima kasih telah menganggapku sebagai seorang sahabat dan terima kasih atas waktunya. Aku pergi.” Kata Yuri sambil berdiri dari duduknya.

“Tunggu.” Seru Jeongmin mencegah Yuri pergi.

Yuri menghentikan langkahnya.

“Maafkan aku karena tidak menyadarinya.” Kata Jeongmin.

Yuri tidak membalikkan badan untuk melihat lelaki itu tapi, dia mengangguk pelan lalu pergi.

Yuri menutup pintu mobilnya dengan pelan. Ia menarik nafas. Ia sudah bisa bernafas dengan tenang saat ini. Jadi, seperti inikah rasanya bernafas tanpa beban? Apakah dia sudah bisa merasakannya? Ya, setidaknya ia merasa sedikit lega. Seluruh beban hatinya sudah keluar begitu saja. Saat ini ia benar-benar menikmati dunianya. Walaupun ia belum yakin, apakah ia mampu melupakan Jeongmin?

Yuri baru saja akan melajukan mobilnya ketika ia melihat sosok yang cukup dikenalnya berdiri didepan sebuah toko.

***

Yoon Hee berdiri didepan toko buku tempatnya bekerja. Ia menunggu bis datang. Tapi, sepertinya tidak ada bis yang melintas sore-sore seperti ini. Ia fikir, sebaiknya ia menunggu di halte saja. Baru saja ia hendak pergi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba saja sebuah mobil berwarna merah berhenti didepannya. Yoon Hee mengurungkan niatnya dan melihat kedalam mobil itu ketika kaca jendelanya terbuka.

“Hai,” Sapa seorang wanita dari dalam mobil itu.

“Hai, Yuri?” Kata Yoon Hee setelah mengetahui siapa yang ada didalam mobil itu.

“Kau mau kemana?” Tanya Yuri dari dalam.

“Aku mau pulang.”

“Masuklah, akan kuantar kau pulang.”

Yoon Hee sedikit bingung dan berkata, “Tidak usah, aku bisa naik kereta atau bus.”

“Tidak apa-apa, ayo cepat masuk.” Kata Yuri mencoba memaksa.

Yoon Hee bergumam tidak jelas dan akhirnya ia menyetujui dan masuk kedalam mobil Yuri.

“Kau darimana?” Tanya Yuri kepada Yoon Hee ketika sudah berada didalam mobilnya.

“Aku baru pulang bekerja,” Jawab Yoon Hee sambil memasang sabuk pengaman.

Yuri menyalakan mesin dan melajukan mobilnya sambil berkata, “Kau bekerja dimana?”

“Di Toko Buku itu,” Yoon Hee menunjuk sebuah toko yang cukup besar disampingnya.

“Bukankah itu toko buku milik ayah Youngmin?” Tanya Yuri.

“Benar,” Jawab Yoon Hee, lalu mengangkat alis, “Kau kenal dengan Youngmin?”

“Tentu saja, diakan saudara sepupu Minwoo. Bagaimana aku tidak tahu?” Kata Yuri dengan nada sedikit bergurau.

Yoon Hee tertawa kecil. “Benar juga,”

“Dia sangat baik dan tampan,” Lanjut Yuri. Yoon Hee melihat kearah Yuri. “Dia juga sangat bekerja keras.”

Yoon Hee tersenyum geli, “Aku tahu itu,”

Yuri tertawa kecil lalu, ia melihat kepinggir jalan sambil menyetir, seperti mencari sesuatu. “Kita mengobrol disana saja! Kau tidak memiliki acara hari ini, bukan?”

Yoon Hee sedikit berfikir sebelum akhirnya menjawab, “Sepertinya tidak.”

“Baiklah,” Kata Yuri dan memakirkan mobilnya didepan sebuah restoran.

Yoon Hee dan Yuri keluar dari mobilnya dan berjalan menuju pintu masuk restoran. “Kau mau memesan apa, biar aku yang traktir?” Tanya Yuri ketika sudah duduk dihadapan Yoon Hee.

“Tidak usah,” Sahut Yoon Hee sambil membenarkan posisi duduknya.

“Bagaimana jika Soju?” Tanya Yuri menawarkan.

“Maaf, aku tidak suka minuman beralkohol,” Tolak Yoon Hee halus.

“Oh begitu, bagaimana jika Insam cha?”

Yoon Hee tersenyum, “Baiklah kalau begitu.”

Tidak lama kemudian pelayan restoran datang dan menanyakan pesanan mereka. Setelah Yuri menyebutkan pesanannya pelayan itu pergi.

“Oh ya, bagaimana dengan Minwoo?” tanya Yuri berbasa-basi.

Yoon Hee berdehem, “Dia baik-baik saja.”

“Aku harap kau bisa sabar merawatnya,” ucap Yuri.

Yoon Hee melebarkan matanya, “Apa? Ah, iya.”

“Dia keras kepala dan jika tidak diingatkan, dia selalu lupa waktu makan.” Lanjut Yuri.

Benarkah? Tapi ia rasa selama ini Minwoo makan dengan baik dan sangat bertolak belakang dengan yang dikatakan oleh Yuri. “Kalian sepertinya sangat dekat?”

Yuri tersenyum, “Benar, kami sangat dekat. Kami belajar disekolah yang sama saat SMA. Dia selalu menganggapku sebagai sahabatnya. Bahkan dia selalu baik padaku. Aku tidak mengerti kenapa dia selalu bersikap seperti itu padaku, tapi aku rasa dia benar-benar lelaki yang baik.”

Entah kenapa, Yoon Hee merasa tidak suka mendengar kedekatan mereka. Dan tentu saja, ia tidak akan mengatakan bahwa dia tidak suka, bukan? “Ya, aku tahu. Aku sudah mendengarnya dari Minwoo.”

“Benarkah? Apakah dia sudah bercerita banyak padamu?” tanya Yuri.

“Ya, dia bercerita banyak. Bahkan dia sering bercerita tentangmu.” Kata Yoon Hee.

Mata Yuri melebar, “Benarkah?” tanya Yuri, tapi dia langsung melanjutkan, “Saat SMA dulu—bahkan hingga sekarang—dia sangat pemalas. Bahkan, aku sering mengerjakan pekerjaan rumahnya dan sering memberikan contekan saat ujian.”

“Benarkah?” kali ini mata Yoon Hee yang melebar. Ya, ia tahu Minwoo pemalas tapi, ia tidak menyangka Minwoo seburuk itu.

Tiba-tiba seorang pelayan datang membawa pesanan mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, pelayan itu pergi.

“Tapi, kau jangan katakan pada Minwoo ya.” Kata Yuri sambil tertawa.

Yoon Hee mengangguk sambil tertawa kecil. Lalu tiba-tiba ia berfikir, mungkinkah Yuri menyukai Minwoo?

“Oh ya kalau boleh tau, apa saja yang dikatakan Minwoo padamu?” tanya Yuri tiba-tiba.

Yoon Hee terlihat sedikit terkejut. Ia terdiam sejenak, “Aku tidak terlalu ingat. Tapi, dia mengatakan jika kau wanita yang ceria, pintar, dan menurutnya kau sangat menyenangkan.”

Senyuman pada wajah Yuri terlihat mengembang, “Benarkah dia mengatakan itu?”

Yoon Hee mengangguk, “Tapi, katanya akhir-akhir ini dia jarang melihatmu tersenyum lagi.” Senyum Yuri memudar dan wajahnya terlihat serius menatapnya, mungkin menunggu kalimat yang akan dikeluarkannya, “Sejak kau mendengar Jeongmin memiliki seorang kekasih.” Yuri masih menatapnya. Yoon Hee terlihat gugup. Ia menelan ludahnya secara diam-diam. “Minwoo,” katanya lalu, terdiam sejenak, “menyukaimu.”

***

Keesokan Harinya…

Yoon Hee dan Minwoo tiba didepan toko buku tempat Yoon Hee bekerja. Yoon Hee baru saja akan turun dari mobil Minwoo ketika Minwoo tiba-tiba berkata sesuatu yang tidak jelas. “Apa?” Tanya Yoon Hee tidak mengerti.

“Hari ini mungkin aku tidak bisa menjemputmu. Kau bisa pulang sendiri, bukan?” Ulang Minwoo.

Yoon Hee menekuk mukanya, “Memang aku anak kecil. Aku bisa pulang sendiri. Kau tidak usah menjadi sopirku.”

“Kau lebih manis jika sedang marah,” Celetuk Minwoo.

Tubuh Yoon Hee tiba-tiba saja membeku. Minwoo bilang dirinya manis? Apa hari ini dia sedang bermimpi? Minwoo mengantarkannya berangkat bekerja dan sekarang dia memujinya? Astaga, ini sangat sulit dipercaya.

“Cepat turun! Kau ingin terlambat?” Kata Minwoo menyadarkan Yoon Hee pada alam sadarnya.

“Ya, aku turun. Sampai jumpa dirumah.” Kata Yoon Hee sambil membungkukkan kepalanya dan turun dari dalam mobil Minwoo.

Yoon Hee masuk kedalam toko buku setelah melihat mobil Minwoo sudah pergi. Dan menyapa karyawan-karyawan disana yang sudah datang, lalu berjalan menuju ruang persiapan.

“Kau sudah datang?” Tanya seseorang dari sampingnya.

Yoon Hee membalik dan melihat Ji Ra yang sedang menyimpan tas kedalam loker yang berada disamping lokernya.

“Iya,”

“Tadi siapa yang mengantarkanmu? Sepertinya aku pernah melihat orangnya, oh iya, itu Min…Min…Woo, Minwoo, bukan? Yang dulu bertemu direstoran?” Tanya Ji Ra penuh semangat.

“Ya, benar.”

“Wow, dia sangat tampan. Tolong titipkan salamku padanya, ya. Aku mohon.” Kata Ji Ra penuh harap pada Yoon Hee.

“Baiklah,”

“Terima kasih.” Kata Ji Ra kelihatannya sangat gembira. Lalu, tiba-tiba saja wajahnya berubah, “Wanita yang dulu datang bersamanya, itu kekasihnya?”

Yoon Hee menggeleng cepat, “Bukan, dia sahabatnya. Tapi, Minwoo menyukainya.”

“Kau juga menyukai Minwoo?” Tembak Ji Ra langsung.

“Apa?” Kata Yoon Hee terkejut, “Aku menyukainya? Jangan katakan itu lagi. Aku tidak menyukainya. Dia itu pemalas, mana mungkin aku menyukai seorang yang pemalas sedangkan aku tidak memasukkan lelaki pemalas dalam tipe lelaki idamanku.”

Ji Ra tertawa, “Tapi, aku dengar kau tinggal dirumahnya?”

Yoon Hee tidak langsung menjawab, “Ya, begitulah.” Sahutnya, “Ayo cepat kerja. Aku dengar besok bos sudah pulang, ya?” Yoon Hee berjalan menuju pintu keluar ruangan dan disusul Ji Ra yang berjalan dibelakangnya.

“Iya, aku dengar juga begitu. Oh ya, hari ini penerimaan gaji. Karena besok sudah musim dingin. Wah, ini akan menjadi gaji pertamamu.”

***

Minwoo baru saja selesai makan siang dan mulai melanjutkan tugasnya yang belum selesai. Ia membaca lembar per lembar kertas yang harus ia tanda tangani sambil memikirkan sesuatu. Minwoo menopangkan dagu pada telapak tangannya. Besok mungkin sudah musim dingin, sepertinya besok akan menjadi awal yang membosankan. Sampai hari ini orang tuanya belum menghubunginya akan datang. Apa ia harus meneleponnya? Lebih baik begitu.

Minwoo menekan beberapa tombol melalui telepon kantornya dan menempelkannya ketelinga. “Hallo,” Katanya ketika sudah tidak terdengar suara nada sambung lagi. “Ibu, kapan kau datang ke Seoul? Besok sudah awal musim dingin…apa? ibu tidak bisa datang besok?…mengapa?…baiklah, baiklah…ya, sampai jumpa nanti.”

Minwoo mendesah dengan kesal, besok ayah dan ibu tidak bisa datang. Sepertinya besok akan benar-benar menjadi awal yang membosankan.

Minwoo melanjutkan membaca lembar per lembar kertas dan mengisinya. 2 jam sudah berlalu dan pekerjaannya sudah selesai. Minwoo melirik jam tangannya, baru pukul tiga siang. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Minwoo mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan menekan nomor Yoon Hee, “Hallo…kau sudah pulang?…belum?…jam berapa kau pulang?…baik, aku akan menjemputmu nanti…aku berubah pikiran…baiklah.”

Minwoo menutup flap ponselnya. Ia akan menjemput Yoon Hee pukul lima sore nanti. Ia sedang merasa kesepian dan bosan jadi, ia ingin Yoon Hee menemaninya keluar sebentar.

Oh ya, omong-omong Yuri kemana?

***

Jam 5 tepat. Semua karyawan termasuk Yoon Hee berjalan menuju ruang persiapan dan mulai membereskan barang-barangnya. Ia mengambil sebuah jaket tebal dari dalam loker dan mengenakannya.

Cuaca diluar sangat dingin, jadi, ia harus meggunakan jaket jika tidak ingin mati kedinginan disana. Setelah selesai membereskan barang-barangnya Yoon Hee bersama teman-teman yang bekerja disana berjalan keluar sambil bergosip.

“Hey, lihat!” Seru salah satu teman Yoon Hee sambil menunjuk kesebuah pohon. Dengan serentak semuanya menoleh kearah yang ditunjuk teman Yoon Hee, “Indah sekali. Daun-daun mulai berguguran.”

Semua teman-temannya hanya tersenyum.

“Kau akan ikut pulang bersama kami Yoon Hee?” Tanya Ji Ra mengabaikan teman-temannya yang sedang mengabadikan daun-daun yang berguguran dengan kamera ponsel mereka.

Yoon Hee melihat kearah Ji Ra yang berada disampingnya, “Maaf, sepertinya tidak bisa. Katanya hari ini Minwoo akan menjemputku.”

Ji Ra tersenyum geli, “Yasudah kalau begitu. Kami duluan, ya.”

Yoon Hee mengangguk dan memperhatikan teman-temannya yang berjalan menjauhinya. Dan setelah sosok teman-temannya sudah menghilang, Yoon Hee duduk disebuah bangku didepan toko.

“Kemana Minwoo, dia bilang jam lima dia akan menjemputku. Padahal, aku paling benci menunggu.” Gerutu Yoon Hee.

Tak lama kemudian, sebuah mobil berwarna silver menghampirinya tapi, yang jelas itu bukan mobil Minwoo. Ia tahu pasti mobil Minwoo seperti apa, jadi, sudah pasti itu bukan mobil Minwoo.

“Kau belum pulang?” Tanya seseorang dari dalam. Yoon Hee membungkukkan kepalanya dan melihat Youngmin dari balik kemudi.

“Oh, kak Youngmin?” Gumamnya.

“Mau kuantar pulang?” Tanya Youngmin menawarkan.

“Maaf kak, Minwoo bilang dia akan menjemputku.” Kata Yoon Hee dengan nada menyesal.

“Oh, tidak apa-apa. Yasudah, aku duluan, ya. Kau tidak apa-apa sendiri?”

“Tidak, tidak apa-apa. Lagi pula, sebentar lagi Minwoo pasti datang.” Kata Yoon Hee cepat.

“Oh, baiklah. Aku duluan.” Kata Youngmin.

Yoon Hee membungkukkan kepala dan melihat kedepan jalan sambil memperhatikan daun-daun yang sudah mulai berguguran.

5 menit kemudian sebuah mobil berwarna hitam berjalan menghampirinya. Dan dengan cepat sosok Minwoo muncul dari balik mobil itu.

“Maaf, aku terlambat.” Kata Minwoo sambil berjalan kearahnya dengan nafas terengah-engah. “Kau tidak marahkan?”

“Sedikit, hanya sedikit. Kira-kira 0.5%.” Sahut Yoon Hee.

“Maafkan aku telah membuatmu menunggu.” Kata Minwoo.

“Baiklah, tidak apa-apa.”

“Yasudah, ayo kita pulang. Ah, tidak aku ingin membawamu kesuatu tempat.” Kata Minwoo.

Yoon Hee mengangkat alis, “Kemana?”

Tapi, Minwoo tidak menjawab. Ia menarik Yoon Hee untuk masuk kedalam mobilnya. Tunggu dulu, bukankah ini namanya pemaksaan? Dia tidak bertanya terlebih dulu, apakah aku punya urusan lain atau tidak? Memang dia pikir aku tidak mempunyai urusan penting? Menyebalkan sekali, kata Yoon Hee menggerutu dalam hati.

Selama perjalanan mereka hanya terdiam seribu kata. Minwoo fokus pada perjalanan sedangkan Yoon Hee, ia sebenarnya masih bingung dengan Minwoo, tapi, ia memutuskan untuk diam.

Malam itu kesunyian menyelimuti mereka, hanya terdengar suara bising mobil dari luar. Perlahan-lahan, matahari menghilang dari bumi dan bulan muncul dengan cahaya indahnya. Angin malam menembus kaca mobil Minwoo dan saat itu Yoon Hee bisa merasakan hembusan angin lembut musim kemarau untuk terakhir kalinya.

“Besok sudah musim dingin, aku ingin merayakannya.” Terdengar suara Minwoo tiba-tiba.

Yoon Hee mengalihkan pandangan melihat Minwoo, “Apa?”

Tepat saat itu, mobil Minwoo berhenti ditempat parkir mobil. Minwoo keluar dari dalam mobilnya dan berjalan menuju pintu sebelahnya lalu ia membukakan pintu untuk Yoon Hee.

Yoon Hee sedikit terkejut dengan perlakuan Minwoo yang seperti ini, tapi ia tidak memperlihatkannya dan turun dari dalam mobil sambil menggumamkan terima kasih.

Yoon Hee mengikuti Minwoo yang berjalan menaiki anak tangga, “Minwoo sebenarnya ini diman…oh, astaga.” Ucapan Yoon Hee terpotong ketika ia sudah tiba diatas dan melihat Sungai Han yang sangat menakjubkan.

“Woww, ini indah sekali.” Kata Yoon Hee sambil berjalan beberapa langkah agar bisa melihat Sungai Han lebih jelas.

Sungai Han adalah sungai Seoul yang terbentuk akibat pertemuan dari Sungai Namhan dan Sungai Bukhan. Sungai Han memiliki pemandangan yang indah pada malam hari. Suasana romantis dipancarkan dari sorotan lampu warna-warni, semacam air terjun buatan dengan berbagai macam gerak air yang semakin membuat Sungai Han terlihat begitu mempesona.

 

Sungai Han yang membelah kota Seoul itu cocok digunakan untuk tempat jalan-jalan di malam hari, tempat untuk menyatakan cinta, ataupun hanya sekedar memandangi pemandangannya saja.

 

Tapi, sepertinya Yoon Hee dan Minwoo datang kesini tidak ada maksud lain melainkan hanya memandangi pemandangannya saja.

“Kau suka?” Tanya Minwoo yang sudah berada disampingnya.

Yoon Hee melihat Minwoo sekilas, “Sangat suka.” Katanya sambil menyunggingkan  senyum lebarnya dan kembali memandang Sungai Han.

“Bagus kalau begitu,” kata Minwoo, “Apakah ada sesuatu yang bisa dimakan?” gumam Minwoo pada diri sendiri, “Oh, itu dia.”

Yoon Hee melihat Minwoo yang pergi dari sampingnya, tapi, ia tidak menghiraukan-nya dan masih memandangi Sungai Han yang menakjubkan. Tak lama kemudian, Minwoo kembali dengan memegang 2 bungkus fish and chips.

“Kau mau?” Tanya Minwoo sambil menyodorkan 1 bungkus fish and chips pada Yoon Hee.

Yoon Hee menerimanya dan tersenyum, “Terima kasih,”

Minwoo menghadap kedepan sambil memandangi Sungai Han, “Kau belum pernah kesini sebelumnya?”

Yoon Hee berfikir sejenak, “Hanya sekali. Tapi, itu sudah lama sekitar 5 atau 6 tahun yang lalu. Itu juga dulu aku datang pada siang hari, jadi baru hari ini aku datang pada malam hari.” Kata Yoon Hee, “Ternyata sangat menakjubkan pada malam hari, ya.”

Minwoo tersenyum, “Ini salah satu tempat favoritku.”

“Benarkah?”

Minwoo mengangguk.

“Oh,” Gumam Yoon Hee. Tiba-tiba ia teringat sesuatu dan melihat kearah Minwoo, “Hari ini aku sudah menerima gaji pertamaku.”

Minwoo melihat kearah Yoon Hee juga, “Aku sudah tahu,”

“Kau sudah tahu? Darimana?” Tanya Yoon Hee sambil menatap Minwoo.

“Bukankah hari ini, hari terakhir musim kemarau?” Tanya Minwoo balik.

Yoon Hee sedikit berfikir lalu tersenyum, “Kau benar.”

Minwoo kembali melihat kedepan, “Kau akan menggunakannya untuk apa? Kau masih ingat punya hutang padaku? Kau berjanji akan mentraktirku jika kau sudah menerima gaji.”

“Kau tidak perlu mengingatkanku. Tentu saja aku ingat.” Kata Yoon Hee sambil mengalihkan pandangan kearah Minwoo, “Minwoo,” Panggil Yoon Hee.

Minwoo melihat kearah Yoon Hee tapi, Yoon Hee malah menundukkan kepala, “Aku,,, aku sudah memikirkan ini jauh-jauh hari.” Minwoo mengangkat alis tidak mengerti, “Aku sudah memutuskan, jika aku sudah menerima gaji, aku…aku akan pindah dari rumahmu.”

Yoon Hee tidak berani melihat wajah Minwoo saat ini. Ia sekarang tidak tahu ekspresi wajah lelaki itu, karena dia malu, “Aku akan mencari apartment baru. Aku bisa membayarnya. Lagi pula, gajiku ini cukup untuk membayar apartmentku dan lagipula aku masih ada sisa tabungan dibank. Kau tidak perlu khawatir.”

Kali ini Yoon Hee memberanikan diri melihat wajah Minwoo. Laki-laki itu menatapnya, Yoon Hee tersenyum, “Aku sangat berterima kasih padamu. Aku banyak berhutang padamu. Sekali lagi terima kasih banyak.”

***

“…Sekali lagi terima kasih banyak.”

Minwoo menatap Yoon Hee dengan sangat lekat. Dia tidak bisa mengalihkan pandangan dari gadis itu. Ia ingin tahu kata apa lagi yang akan dikeluarkan gadis ini. Tapi, sepertinya Yoon Hee tidak akan meneruskannya jadi, ia bisa memulai pertanyaan.

“Mengapa kau tiba-tiba ingin pindah?” Tanya Minwoo masih menatap lekat Yoon Hee.

“Aku tidak ingin pindah tiba-tiba!” Kata Yoon Hee menyanggah pertanyaan Minwoo. “Bukankah dulu aku pernah meminta izin padamu?” Tanya Yoon Hee balik. Oh benar juga, dulu Yoon Hee pernah berkata ia akan pindah jika sudah menerima gaji. “Dan alasannya masih sama, karena aku merasa tidak enak dan aku malu.”

“Mengapa harus malu?” Tanya Minwoo pelan.

Yoon Hee mengangkat alis tidak mengerti, “Apa?”

“Kapan kau akan mencari apartment baru?” Tanya Minwoo mengganti pertanyaannya.

“Mungkin besok,” Jawab Yoon Hee.

“Besok?” Kata Minwoo dengan nada suara terkejut dan tidak percaya.

“Ya. Memang kenapa?” Tanya Yoon Hee.

“Kau akan mencari apartment baru dengan siapa?” Tanya balik Minwoo tidak menghiraukan pertanyaan Yoon Hee.

“Entahlah. Mungkin bersama Ji Ra atau bersama kau, jika kau mau.” Jawab Yoon Hee.

Akhirnya kali ini Minwoo bisa mengalihkan pandangan dari Yoon Hee dan ia melihat kedepan menatap Air Terjun Sungai Han yang berwarna-warni. “Baiklah, aku mau.”

Yoon Hee tersenyum senang, “Terima kasih.”

***

 Next Week , LOVE YOU LIKE YOU Chaptared 5..

Please wait!🙂 Thank’s🙂

This entry was posted by boyfriendindo.

11 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Love You Like You – Chapter 04

  1. aku penasaran apa arti dari pandangan minwoo ke yoon hee, apakah minwoo merasa kehilangan mendengar yoon hee akan pindah dari apatermentnya. di tunggu kelanjutan nya min😀

  2. tbc.a ketinggalan dmn tu??
    ni crt.a udh pd move on y?
    kalo blh tw author lhr th brp?? jd q bisa panggil lbh enk

  3. Uuwahh…uwaahh…uwaahhh…
    Ff’nya makin bagus. Good job buat author😀😉
    Jgn lama” ya thor lanjutannya🙂 B-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: