[FANFICT/FREELANCE] Love Hate – Chapter 04

Title 
Love Hate – Chapter 04
Author @Han_SooYun
Genre Romance,Comedy,Friendship
Rating Teen
Type Chaptered
Main Casts 
~ Jo Kwangmin

~ Yoon Dae Hee [OC]

Support Casts 
~ Jo Youngmin

~ Shin Kyung Min [OC]

~ Lee Joon [MBLAQ] 

Disclaimer                        : FF ini yang bikin saya ! FF ini punya saya !😀 Plot dan Alur itu murni dari karangan saya..

Theme Song                    : F(X)- Love Hate

Author Note                   : Halooo..I’m Comeback again..hehehe..😀

FanFic ini terinspirasi dari lagu MBLAQ-I Think U Know. Tapi cerita beneran murni dari karangan saya. Setelah baca FF ini coment dan kasih pendapat serta saran kalian yah J .Oh iya, readers please kasih coment kalian dan saran+kritik yang membangun J ini masih dalam tahap Flashback antara Daehee-Kwangmin looh J tapi semakin berlanjut tokohnya semakin banyak…Tapi sekali lagi, Jeongmal Gomawo udah mau nyempetin baca FF-ku dan coment kalian sangat membangun untuk ku J Tinggalkan jejak yah setelah baca FF ini.. NO PLAGIAT !

Maaf banget yaah.. kalau kalian nunggu lamaa FF LH nya .. Minggu lalu aku sakit dan akhir-akhir ini aku harus daftar online untuk nyari sekolah. Jadi waktu aku buat nulis itu sedekit banget -__- jadi aku harap kalian maklumin yaah.. dan part selanjutnya aku juga akan melanjutkan dengan sedikit lama, karena sebentar lagi udah mau masuk sekolah. Jadi hanya sempet nulis hari sabtu doang.. Aku harap juga kalian nggak bosen-bosen baca FF ini😀

Oh ya buat Admin yang ada di wp ini aku ucapkan terimakasih karena udah mau mem posting FF ku ! Gomawo🙂 Yaudah lanjut ajaa deh silahkan dibaca🙂 dan jangan lupa coment !!

 *~*Happy Reading All*~*

It’s gonna set on fire, at this rate, gonna set on fire

You play with fire on my once normal heart

Then you put it out with water, what are you doing ?

You don’t know, you’ll never know

Your score rises and falls even now

Just like a drop tower, when you fall, it’s faster

Like a big wave, my heart drops (follow the heart that drops)

This unknown and dizzy fickleness – this is ridiculous

F(X)- Love Hate

 

****

Preview Chapter 3 :

“Sudah selesai. Coba nyalakan lagi,”

Cklek.. Lampu itu terang.

“Sudah tidak ada lagi kan ?”

“Ya, kau boleh keluar.”

“Cih, aku memang ingin keluar !” respon Kwangmin ketus. Setelah itu Kwangmin keluar dari apartement Daehee.

Huhh, hampir saja Daehee harus bermalaman dengan keadaan gelap gulita. Ia tidak tahu apa jadinya jika apartementnya tetap dalam keadaan seperti ini. Mungkin Daehee terlalu percaya dengan mitos-mitos yang sering diceritakan oleh orang banyak. Meskipun kamarnya terang, ia pasti akan mondar-mandir ketempat ini. Ia tersenyum senang.

Oh Iya ! Daehee hampir saja lupa akan sesuatu. Segera ia membuka pintunya.

“Ya, Kwangmin-ah..” panggil Daehee dari balik pintu.

Ck ! Apa lagi ini ? Tidak puaskah Daehee merepotkannya ?

Kwangmin berbalik enggan lalu menatapnya. ”Wae ?”

“Gomawo sudah membantuku.” Kata Daehee dengan penuh semangat dan mata berkilat-kilat. Dan ia tersenyum lebar kepada Kwangmin. Kemudian Daehee menutup pintunya tanpa memperhatikan Kwangmin yang terdiam disana.

                Kwangmin tertegun. Bagaimana bisa pria ini mematung ? Yah, Kwangmin sadar sekali itu adalah senyum pertama yang di lemparkan Daehee kepadanya. Tetapi tidak bisa dipungkiri oleh Kwangmin jika musuhnya itu mempunyai senyuman yang indah. Bahkan jantung Kwangmin melonjak dan berdebar lebih keras sampai-sampai Kwangmin takut Daehee bisa mendengarnya. Untuk yang pertama kalinya Kwangmin melihat senyuman gadis itu yang terlihat begitu tulus dan cerah.

                Ia merasa aneh. Pertama karena Yoon Daehee tersenyum. Gadis itu memang belum pernah tersenyum selama Kwangmin mengenalnya. Daehee memang sering tersenyum hambar dan sinis, tetapi itu tidak bisa di bilang dengan “senyuman”, bukan ? Kedua, karena Yoon Daehee mengucapkan kata “terima kasih” padanya. Selama Kwangmin mengenalnya, Daehee tidak pernah mengucapkan kata “terima kasih” sedikit pun. Bahkan selama ini, jika Kwangmin membantu gadis itu pun yang ia dengar hanya nada mencemooh dari dalam suaranya. Mereka selalu bertengkar dan saling mencemooh. Sejenak ia tersadar dan memotong jalan pikirannya sendiri.

                “Kenapa juga aku harus memikirkan gadis itu ?” gerutunya pelan. “Lagi pula, biarkan saja dia mau tersenyum atau tidak.” tambahnya dalam hati. Lalu Pria itu masuk ke dalam apartement miliknya dengan cepat.

 

****

Daehee’s Point Of View

“Daehee kau harus pindah ke paris.”

Aku menatapnya dengan pandangan bertanya. Memangnya aku berbuat kesalahan apa di Korea ? Sekejap pandangan ini berubah menjadi pandangan benci. Seseorang yang telah ku benci dengan berpuluh-puluh tahun lamanya. Entah mengapa aku yang dulu sangat menyayanginya kini berubah menjadi sangat membencinya. Kau tidak akan menyangka siapa orangnya.

Bagaimana perasaan kalian jika sedang dihadapkan oleh sesuatu ? sesuatu yang bernama kebencian. Sebenarnya aku tidak benci dengannya, tapi aku hanya benci dengan keadaan yang membuatku enggan untuk mengenalnya lebih jauh. Karena perbandinganan lah yang membuatku jauh dengannya. Karena penilaian orang lain lah yang membuatku membencinya. Dan karena sesuatu kejadian lah yang membuat ku tambah membencinya.

Tidak. Aku bukan membenci dirinya. Aku hanya membenci mengapa ia hadir di kehidupanku dan dengan enggannya aku terpaksa harus mengakui, ialah bagian terpenting dalam hidupku. Dan hal yang membuatku tambah membencinya adalah ketika dia selalu mengatur-ngatur hal yang tidak mau aku sukai. I’m not a doll.

Saat ini aku menatap orang yang dihadapanku dengan penuh kesengitan. Kau tidak akan menyangka. Dialah kakak ku sendiri. Lee Changsun. Memang, orang lain akan melihat aku dan Changsun adalah kakak beradik yang akur. Tapi siapa yang tahu jika aku sangat benci padanya ?

Bahkan saat pertama kali menginjakkan kakiku di kota ini, yang ku dengar pertama kali hanyalah puji-pujian yang dilontarkan oleh mereka. Kata-kata yang begitu membangga-banggakan sosok pria itu dibandingkan aku sendiri yang memang selalu membuat ricuh suasana. Tetapi aku juga manusia. Rasanya sangat miris dan membuat hatiku sakit. Aku tidak punya siapa-siapa untuk berbagi kisah. (Inget part2 gak, waktu Kwangmin ngeraguin Daehee adiknya Lee Joon, dan ngebangga2in dia ? sebenernya disitu Daehee nyadar kalo dia selalu merasa nggak lebih dari sosok Lee Joon. Tapi dia tutupin dengan sifat angkuhnya.)

Aku benci setiap orang selalu membanding-bandingkan aku dengan Changsun. Bahkan appa dan eomma orang yang menjadi bagian terpenting dalam hidupku bisa menjadi orang yang ku benci setelah Changsun disatu sisi. Aku tidak iri dengannya. Tetapi karena sesuatu kejadian lah yang membuat ku selalu memandangnya dengan pandangan negatif.

Mengapa ada laki-laki seperti itu ? dengan seenaknya dia berani mengatur hidupku. Padahal yang berhak mengatur hidupku adalah orangtuaku dan diriku sendiri. Ia memang di beri tanggung jawab untuk menjagaku selama aku tinggal di korea. Tapi aku membencinya. Bahkan dia hanya mengaturku tanpa tahu bagaimana aku.

“Kenapa kau selalu mengatur hidupku ?” tanyaku dengan nada sinis. Masih menatapnya dengan benci. Ia juga masih menatapku dengan pandangan kebingungan.

“Mwo ? maksud kau apa berkata seperti itu ? Karena aku saudaramu. Karena aku diberi tanggung jawab oleh eomma dan appa untuk menjagamu.” jelasnya panjang lebar membuatku mendeliknya tidak suka.

“Kau bukan saudara ku !” bentakku sinis dan pandangan benci ku tak pernah lepas dari matanya.

“Hei, Shut up your mouth !” teriaknya marah. Terlihat jelas emosi dari kedua bola matanya. Tapi aku tidak peduli.

Aku mendelik sinis. “Tutup mulutku ? Cih, Kau saja. Aku tidak mau.” aku semakin menantang perkataannya.

“Cih, Kau pulang saja sana ke Filiphina. Tidak usah kau berada di korea.” usir Changsun kepadaku.

Aku mengangguk. “Ya, kau benar. Dari dulu aku memang tidak pernah ingin tinggal di korea. Apalagi harus satu rumah denganmu. Kalaupun aku tinggal di Korea, aku akan lebih memilih untuk tidak tinggal bersamamu.”

Changsun mendelik kesal. “Sebenarnya siapa yang merasa paling benar ? Aku atau kau ? dengan cara bicara mu seperti itu saja, sudah membuktikan bahwa kau memang merasa paling benar. Kau itu masih dibawahku. Bahkan eomma dan appa selalu membangga-banggakan ku. Bukan kau !”

Deg ! detak jantungku seolah berhenti mendadak begitu mendengar nada menghina dari dalam suaranya. Napasku tercekat. Aku menghela napas lalu tersenyum lirih menatapnya. Aku tidak menyangka sosok kakak yang dulu pernah ku cintai berubah drastis seperti ini. Yah, Lee Changsun. Aku sadar diri itu. Walaupun itu sangat sakit bagiku ketika harus kembali mengingatnya. Kenyataan pahit yang sama sekali tidak ingin aku ingat.

Sesaat senyuman lirih ini berubah menjadi senyum pahit. “I’ve told you. You better shut up than judge me like this. You don’t know me well.” ucap ku berkata dengan suara parau.

“Why I don’t know you well ? I’m your brother !”

Aku mendelik sinis lalu membuang wajah. “But you don’t look like a brother, right ?”

“PLAAAK!”

Ia menampar pipiku dengan keras. Sakit. Hanya itulah yang aku rasakan saat ini. Aku memegang pipi kiri ku yang memerah lalu menatapnya tajam. Mendadak emosi ku kembali memuncak. Emosi yang mati-matian ku tahan kini muncul. Changsun hanya menatapku nanar.

“Da-Daehee.” panggilnya agak terbata. Lalu melanjutkan kalimatnya, “Aku tidak bermaksud untuk-”

“Seharusnya kau tidak harus ada di dunia ini ! seharusnya kau bukanlah kakakku ! Aku membenci mu ! Aku membenci keadaan mengapa kau yang harus menjadi kakak ku ! Perlu kau tahu, apa selama ini aku menganggap mu ada ? Tidak.”

Seluruh emosi yang ada pada diriku kini terungkap. Tidak bisa dijelaskan, yang pasti saat ini aku benar-benar kesal padanya. Aku muak melihat wajahnya yang masih berada di pandanganku. Lalu dengan cepatnya aku pergi meninggalkan Changsun tanpa memperdulikan laki-laki itu yang terus memanggilku.

 

Lee Joon’s Point Of View

 

Aku mendelik kesal. “Sebenarnya siapa yang merasa paling benar ? Aku atau kau ? dengan cara bicara mu seperti itu saja, sudah membuktikan bahwa kau memang merasa paling benar. Kau itu masih dibawahku. Bahkan Eomma dan Appa selalu membangga-bangga kan ku. Bukan kau.”

Aku pun tidak mengerti mengapa aku bisa berkata seperti itu. Kata-kata terakhir ku itu, pasti sangat menyakitinya. Tapi aku juga tidak tahu mengapa kata-kata itu bisa terucap diluar kendali ku. Karena aku kesal padanya, kenapa ia selalu membenciku ? aku jadi merasa bersalah padanya. Tetapi ia sendirilah yang mengundak emosi ku untuk muncul.

Kemudian ia memandangku. Tetapi pandangannya begitu lemah. “I’ve told you. You better shut up than judge me like this. You don’t know me well.”

“Why I don’t know you well ? I’m your brother !”

“But you don’t look like a brother, right ?”

“PLAAAK!”

Aku menamparnya dengan keras. Aku sangat kesal sekali dengan perkataannya itu. Apakah dia pikir selama ini aku main-main untuk menjaganya ? Aku melindunginya karena aku menyayanginya.

Tetapi setelah ia meringis kesakitan sambil memegang pipinya, ia menatapku dengan tajam. Aku melihat tanganku sendiri yang bekas menamparnya. Astaga, apa yang barusan aku lakukan ? Aku menampar adikku sendiri. Demi Tuhan, aku tidak bermaksud untuk melukainya. Aku hanya marah padanya. Itu saja. Tapi untuk bertindak sejauh ini, sama sekali tidak pernah terfikir di otakku. Itu semua terjadi begitu saja.

“Da-Daehee.” panggilku agak terbata. Lalu melanjutkan kalimat, “Aku tidak bermaksud untuk..”

“Seharusnya kau tidak harus ada di dunia ini ! seharusnya kau bukanlah saudaraku ! Aku membenci mu ! Aku membenci keadaan mengapa kau yang harus menjadi kakak ku ! Perlu kau tahu, apa selama ini aku menganggap mu ada ? Tidak.”

Perkataannya bagaikan pukulan terberat bagiku. Sungguh, aku bukanlah kakak yang baik sehingga membuatnya menjadi seperti itu. Kemudian ia pergi begitu saja setelah aku berlaku kasar padanya.

“Daehee ! Daehee !” panggil ku yang diacuhkan olehnya. Dia tidak menyahutiku. Aku hampir saja ingin menyusulinya jika saja ponsel ku ini tidak berdering. Tidak tepat waktu, pikirku.

“Yoboseo ? Oh, Hyung. Apa ? Bisa pulang sekitar malam tidak ? soalnya ada urusan yang harus ku selesaikan dirumah. Wae ? Pulang pagi ? Konsernya tidak bisa dibatalkan ya ? Oh yasudahlah aku akan segera kesana.”

Aku mematikan sambungan dari ponsel ku. Lalu tiba-tiba saja kata-kata Daehee kembali melintas di fikiranku. Jujur itu sangat melukai hatiku. Aku menatap kosong disekitarku.

“..Perlu kau tahu, apa selama ini aku menganggap mu ada ? Tidak.”

“..Perlu kau tahu, apa selama ini aku menganggap mu ada ? Tidak.”

“..Perlu kau tahu, apa selama ini aku menganggap mu ada ? Tidak.”

Seolah masih mengganjal di hati, kata-kata itu masih berngiang-ngiang di fikiranku. Tidak ku sadari setetes air mata jatuh dari kedua bola mataku. Yah, itu karena aku sangat sedih. Sedih dengan kenyataan mengapa dunia ini tidak berpaling saja kepada Daehee maka semuanya akan baik-baik saja. Benarkah selama ini ia tidak menganggap ku ada ? Jika benar begitu, aku lah kakak terburuk yang berada di dunia ini.

“Daehee, Mianhae.” Gumamku pelan.

Aku merasa bukan kakak yang baik untuknya. Aku tidak bisa menyembuhkan luka yang ada dihatinya.

 

Kwangmin’s Point Of View

 

“Telur… Sudah. Gula… Juga sudah. Mie instan… Ada. Nahh, Kopi mana ? Nahh, ini dia. Sud- Aaaw !”

Seseorang menabrakku dari arah berlawanan ketika sedang berjalan di koridor apartement. Sehingga membuat sebagian barang-barang yang aku bawa jatuh semua.

“Maaf, aku tidak sengaja.”

Ucap orang yang menabrakku tadi. Orang itu terus menundukkan wajahnya. Kemudian orang itu berjongkok dan membantu membereskan barang bawaan ku yang berserakan dimana-mana.

Namun seteleh aku melihat siapa orang itu,

“Daehee ?” panggil ku lalu menatapnya enggan. “Ck ! Kau lagi. Ya, Daehee. Kau kalau jalan lihat-lihat. Jangan seperti ini kenapasih ?” omel ku dengan nada yang terdengar pelan.

Kok dia diam saja ?

Ketika aku memusatkan pandanganku ke wajahnya, aku baru sadar ternyata ia sedang menangis. Aku buru-buru menahannya sebelum dia pergi sambil menarik lengannya

“D-daehee. Kau menangis ?” tanya ku memastikan.

Wae ?

“Mian, Kwangmin. Aku harus pergi.” sahut Daehee menepis tangan ku tanpa membalas pandanganku sedikitpun. Apa ia tidak berani menatapku ? kemudian ia pergi begitu saja.

Tadinya aku berniat ingin memarahinya. Tetapi aku mengurungkan niat itu begitu melihat Daehee yang menangis. Tidak mungkin aku sejahat itu bukan ? Aku tidak pernah melihat gadis itu menangis. Biasanya ia akan menangis hanya untuk berpura-pura saja. Tetapi ini sangat berbeda.

Ada apa dengan gadis itu ?

Sejujurnya aku sangat tidak suka jika melihat perempuan menangis. Haruskah aku mengikutinya ? Kata hatiku menyuruhku mengikutinya. Tapi dia kan.. Baiklah, aku akan menaruh barang bawaan ku lalu menghampirinya.

 

Author’s Point Of View

 

Daehee berjalan dengan cepat, terlalu cepat sehingga ia merasa sangat lelah. Lelah akan semua yang ia hadapi. Masalah yang ia hadapi selama ini terasa sangat mempeningkan. Ia merasa pusing, mengapa ia harus di pindahkan dari suatu tempat ke tempat lain. Ia tidak mengerti, mengapa ia harus menuruti ambisi seorang ayah dan ibunya sementara ia tidak menyukai itu. Apakah ia adalah orang yang asing bagi mereka ?

Baru tiga bulan Daehee menetap di Korea. Tapi kenapa ia harus merasa diasingkan ? Rasanya ini tidak adil untuk remaja seumurannya. Harusnya Daehee mendapat kasih sayang serta perhatian dari orangtuanya. Ia sangat iri melihat teman-temannya yang mendapat perhatian dari keluarganya dan menjalankan aktifitas seperti layaknya remaja biasa. Bukan seperti dia yang harus jauh jadi orangtua dan terpaksa menjalani hidup yang sangat kelam baginya.

“..Kau itu masih dibawahku. Bahkan Eomma dan Appa selalu membangga-banggakan ku. Bukan kau.”

Ia merasa lunglai, seakan seluruh darah di tubuhnya terserap keluar. Matanya menatap kosong. Daehee tersadar dari lamunan dan menyadari pipinya basah karena air mata. Ia menghapusnya dengan telapak tangan, namun air mata tidak mau berhenti mengalir.

“Ehem !”

Daehee tersentak. Tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkannya. Ternyata Kwangmin.

Gadis itu memandang Kwangmin yang sedang duduk tidak jauh dari pandangannya. Ia segera menghapus air matanya sebelum Kwangmin melihatnya. Tapi percuma saja, sejak tadi Kwangmin sudah menyadarinya bahkan sampai sekarang.

“Hai ?”

Sapa Kwangmin tersenyum ramah kepada Daehee sambil mengangkat tangannya menyapa. Pria ini, ia aneh. Tidak biasanya ia berlaku ramah seperti itu. Kenapa tiba-tiba Kwangmin bersikap lembut padanya ? Kemudian gadis itu membuang muka terhadap Kwangmin. Ia sedang tidak dalam mood baiknya kali ini.

“Hmm, tidak baik loh mengabaikan sapaan seseorang.”

Daehee melirik Kwangmin, tetapi tidak mau menolehkan wajahnya. Lalu ia menghela napas pasrah. “Nado annyeong.”

“Nah begitu dong,”  kata Kwangmin sambil tersenyum lebar. Kemudian Kwangmin memajukan wajahnya beberapa senti untuk melihat wajah gadis itu yang terus murung sejak tadi. Cantik. Kenapa wajah seperti itu harus dihiasi dengan tangisan di wajahnya ? Huhh, Kwangmin sangat menyayangkan perilaku gadis itu yang sangat galak dan berantakan. Kalau saja ia menglihangkan dua sifatnya itu, pasti ia akan mendekati manusia sempurna. But no bodys is perfect.

Kwangmin menggeleng cepat. ‘Aissh, apa yang kau fikirkan Kwangmin ? Kau bilang dia cantik ? Sepertinya otakmu sudah rusak,’ Sudahlah lupakan.

“Apa kau punya masalah ?” tanya Kwangmin hati-hati.

Daehee meliriknya lagi. Ia terdiam beberapa saat lalu menunduk kebawah. “Mm,” Daehee menjawabnya hanya dengan gumaman pelan. Sepertinya ia benar-benar tidak berselera untuk berbicara. Tetapi bukan Kwangmin jika ia tidak bisa membuat orang kembali ceria lagi.

“Kalau begitu tersenyumlah,” kata Kwangmin.

Apa ? apakah Daehee tidak salah dengar ? tapi sayang sekali, Daehee benar-benar tidak bisa untuk tersenyum. Kini Daehee menoleh ke arah Kwangmin. Lalu ia memalingkan wajahnya lagi. Ia hanya diam.

Sementara Kwangmin, ia merutuki dirinya sendiri. Ia sangat menyesalkan kenapa kata-kata itu bisa keluar begitu saja dari mulutnya tanpa kendali. Gadis itu menoleh menatap Kwangmin dan ia bisa melihat jelas mata merah Daehee yang habis menangis. Gadis itu kemudian memalingkan wajahnya lagi.

Kwangmin mengerucutkan bibirnya pelan. Tidak ada respon dari Daehee. Kwangmin kemudian mendekatkan duduknya dengan Daehee. “Daehee kau tahu tidak ?” tanya Kwangmin tanpa membuat Daehee berniat untuk menoleh bahkan meliriknya sekalipun.

“Kau itu kalau tersenyum cantik loh. Maka dari itu aku ingin melihatmu tersenyum. Sayang sekali kau itu gadis yang begitu galak.” disisi lain Kwangmin berusaha untuk mengejeknya. Mencoba memancing apakah ia akan bertengkar dengan Daehee atau tidak. Karena jika ia bertengkar dengan Daehee, otomatis Kwangmin bisa membantu melupakan masalah gadis itu.

Namun, sungguh diluar dugaannya. Lagi-lagi Daehee benar-benar tidak berminat untuk mendengarkan apa yang dikatakan Kwangmin.

Kwangmin mendesah berat. Kwangmin, harusnya kau tahu kalau gadis itu benar-benar tidak bersuasana baik saat ini. Kau tidak perlu sok mengurusi masalahnya. Hei, aku hanya membantu melupakan sejenak masalahnya, itu saja.

Kenapa Kwangmin menjadi bergelut dengan pikirannya sendiri ?

“Kenapa cara seperti ini tidak ampuh juga ?” umpat Kwangmin pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Daehee.

Kwangmin mendesah pelan sambil menatap sirat di wajahnya. “Baiklah, apapun masalah yang kau alami saat ini, tapi,”

Greep. Kwangmin menarik Daehee kedalam pelukannya tanpa berpikir panjang.

Astaga, kenapa Kwangmin memeluknya ? Kwangmin merutuki dirinya sendiri. Sepertinya memeluk gadis itu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang tidak boleh terjadi. Karena sejujurnya Kwangmin sendiri harus mati-matian menahan rasa gugup yang tidak pernah dialami olehnya selama ini. Apalagi dalam situasi seperti ini, saat Kwangmin memeluk Daehee.

Ini memang bukan pertama kalinya Kwangmin memeluk seorang gadis. Tapi, ia tidak tahu mengapa ia hanya bisa gugup saat memeluk Daehee. Apa karena Kwangmin baru pertama kali bersikap lembut kepada Daehee ? Makanya ia merasakan kecanggungan di dalam hatinya yang tiba-tiba saja mendadak harus ia rasakan.

Sementara itu, mata Daehee membola lebar. Ia tidak sadar, kini ia lupa dengan masalah yang berkalut di fikirannya barusan. Berganti dengan keadaan sekarang ini, ia tidak mengerti bagaimana caranya menghentikan detak jantungnya yang berdebar begitu keras dan melonjak begitu cepat.

“Biasanya hanya inilah yang membuat wanita tenang. Maka dari itu aku melakukan ini.” lanjut Kwangmin sambil memeluk Daehee begitu erat. Kwangmin sendiri tidak tahu mengapa ia bisa melakukan ini, tapi hatinya menyuruh Kwangmin untuk memeluk gadis itu.

“K-Kwangmin-ah..”

Kwangmin terkekeh pelan. “Hahaha, akhirnya kau mau berbicara juga kan ?” Kwangmin tertawa bangga. Melupakan rasa kecanggungan di dalam hatinya.

“Kwangmin, lepaskan aku !” pinta Daehee memberontak dalam pelukan Kwangmin yang malah semakin erat memeluknya. Ia mendorong bahu Kwangmin, namun sayang dekapan laki-laki itu terlalu erat.

“Aku akan melepaskanmu tapi jika kau mau berjanji untuk tersenyum.”

Daehee menggeleng cepat. “Shireo! Sudah cepat lepaskan aku !”

“Aku juga tidak mau kalau begitu.” Bukannya melepaskan pelukannya, ia justru mendekapnya lebih erat. Kwangmin tersenyum jahil dibalik pelukannya itu. Ternyata seru juga ya jika menjahili Daehee seperti ini. Hahahaha.

Kwangmin semakin mengeratkan pelukannya. Aroma violet di tubuh Daehee begitu menyeruak di indra penciumannya.

“Kwan-min-ah.. ssess-sak..” keluh Daehee.

“Berjanjilah dulu padaku.”

“Iya, Iya.”

Kwangmin tertawa jahil. “Lumayan juga ya bisa memelukmu.. hahaha.”

Mata Daehee membola lebar mendengar nada nakal dari suara Kwangmin. Perkataan macam apa itu ? Seketika Daehee langsung meronta meminta di lepaskan. “Ya byeontae ! yadong ! kau fikir aku ini apa hah ?! Dasar namja pabo !!” Daehee mendorong tubuh Kwangmin dengan kuat. Dan akhirnya ia berhasil lepas dari pelukan laki-laki itu.

“Dukk.. Aaaw !”

Gara-gara Daehee mendorong laki-laki itu terlalu kuat, kepala Kwangmin menjadi terbentur ke belakang kursi.

Daehee menutup mulutnya kaget sambil buru-buru menghampiri Kwangmin untuk membantunya. Ia menyentuh kepala Kwangmin dengan perasaan khawatir. “Kwangmin~ aku tidak sengaja. Mian. Kau tidak apa-apa ?”

Laki-laki itu memegang kepalanya sambil mengerang kesakitan. “Aduh sakit sekali Daehee~ Duh seperinya aku gagar otak. Aduuuh..” ujar Kwangmin polos. Membuka satu matanya melirik Daehee tanpa diketahui olehnya.

“GAGAR OTAK ?!” mulut Daehee menganga lebar. Daehee mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali. Kemudian raut wajahnya berubah menjadi sangat khawatir, “Kwangmin.. Kau ini bicara apa, jangan seperti itu dong. Aku takut nih. Bagaimana jika kau mati tiba-tiba ?”

“HEH !?”

“KAU INI MENYUMPAHIKU BIAR CEPAT MATI YA ?!”

“E-eh. Tidak seperti itu.” Jawab Daehee membungkam mulutnya dengan cepat.

Kwangmin mendongak menatap Daehee yang begitu takut dan khawatir. Wajah Kwangmin yang mengaduh kesakitan kini berubah menjadi tawa yang terkesan jahil.

“Aduuh Daehee.. aku mau pingsan niih.. sebentar lagi aku mau pingsan yaa..” keluhnya terkikik geli. *aduh si Kwangmin pingsan bilang-bilang yaak ? wkwk.. | Kwangmin : suka-suka gue dong thor ! | #abaikan😀

Setelah ragu sejenak, Daehee memandangnya dengan pandangan ‘death glare’ yang ia punya. “Kau berpura-pura yaa ??!!”

Kwangmin hanya terkikik geli dan mengangkat tangan berbentuk ‘V’ . ” Peacee.”

Daehee mendecak sebal lalu mendorongnya pelan.

“Hei, jangan marah seperti itu dong. Aku kan hanya bercanda.”

“Siapa yang marah coba ?”

“Baiklah kalau begitu,” Kwangmin menarik pundak Daehee untuk menghadapnya. Lalu kedua jempolnya menarik lekuk kedua sudut bibir Daehee untuk membentuk sebuah senyuman. Sementara Daehee, ia bingung dan menatapnya tidak mengerti. Untuk apa Kwangmin melakukan hal ini ?

“Naah. Tersenyumlah seperti ini.” Senyuman Kwangmin mengembang begitu manis sehingga Daehee enggan membuyarkan tatapannya dan terpaku disana.

Lalu Kwangmin melanjutkan perkataannya lagi, “Ayo pulang sekarang.”

Setelah itu Daehee tersadar dan kembali mengingat apa saja yang telah terjadi di apartementnya barusan. Ia tidak mau pulang ke apartement jika Changsun masih disana.

Kemudian Daehee melepaskan kedua tangan Kwangmin yang masih bertengger di wajahnya dan memposisikan duduknya seperti semula. “Tidak mau.” Jawab Daehee dengan datar.

“Kenapa ? Ini kan sudah malam.”

“Tidak. Aku hanya ingin disini saja lebih lama.”

“Hei, kau itu perempuan. Mana bisa aku meninggalkan perempuan malam-malam seperti ini. Kau tidak takut jika ada yang ingin menjahatimu ?”

“Tidak. Lagipula jika kau ingin pulang, kau pulang saja duluan.”

“Tapi kau tetap harus pulang !” ujar Kwangmin ber keras menyuruhnya pulang.

Daehee mendecak sebal dan menatapnya kesal. “Aku tidak akan mau pulang jika oppa masih disana !!”

Kwangmin menatapnya bingung. Siapa yang Daehee maksud dengan ‘Oppa’ ? Apa mungkin Lee Joon hyung ?

“Tunggu, tunggu. Hey, apa maksud dari katamu itu ? Tidak mau pulang jika oppa masih disana ? Hei, apa yang kau maksud Joon hyung ?”

“Bukan apa-apa.”

“Cih, bohong sekali kau.”

“Kau duluan saja. Aku masih ingin disini.” Ujar Daehee mengabaikan perkataan Kwangmin yang menuduh itu.

“Yasudah aku akan menunggumu sampai kau ingin pulang.”

Haah.. Daehee mendesah berat. Tunggu saja sana sampai bosan, pikir Daehee.

Beberapa jam kemudian, kedua insan itu masih duduk di bangku taman. Pria yang satunya memandang gadis itu dengan bosan. Ia berpikir dalam hati, ‘sampai kapan gadis ini mau mematung disini ?’ sementara gadis itu hanya sibuk dengan pikiran-pikiran yang sedang berkalut di dalam hatinya.

Tetapi tubuh gadis itu bergerak. Yang tadinya meringkuk disana dan membelakangi Kwangmin, kini ia menurunkan kakinya dan menatap sebuah pohon di hadapannya.

Kwangmin mengikuti arah gadis itu memandang. Pohon Apel ?

“Kenapa kau terus melihati pohon itu ?” tanya Kwangmin memecahkan suasana keheningan. “Kau ingin memakan apel ?”

Daehee mengangguk. “Benar sekali.” Kemudian ia menjentikkan jarinya. “Oh, aku tahu. Apa kau ingin mengambilkannya untukku ?” Daehee tersenyum riang menatap Kwangmin.

Kwangmin mendecak pelan. “Beli saja di pinggir jalan kenapa ? Kan repot harus memanjat-manjat.”

Daehee mencibir. “Yang dari pohon itu lebih enak ! Lagi pula jika tidak mau juga tidak apa-apa. Aku kan juga bisa memanjat.”

“Oh ya ?” tanya Kwangmin tidak percaya. Namun ia sama sekali tidak menyangka begitu melihat Daehee yang memanjatkan kaki-kakinya ke atas pohon dengan begitu lihai. Lalu Kwangmin berdiri dengan Khawatir.

“Astaga, kau bisa memanjat rupanya. Hei, nanti jatuh bagaimana ?!” teriak Kwangmin dari bawah pohon.

“Tenang saja, tidak akan.” Daehee mengambil satu buah apel yang sangat merah. Setelah itu ia memutuskan untuk turun dari pohon. “Waah, apelnya merah sekali. Pasti sangat manis.” Oceh Daehee dari atas pohon.

“Yasudah cepat turun sekarang !”

“Yaa, arraseo. Aku akan turun sekara- Aww!”

Ketika Daehee ingin turun dari pohon, tiba-tiba saja semut merah menggigit lengan kirinya. Reflek Daehee melepaskan tangannya dari pohon dan membuatnya menginjak batang pohon yang salah. Kakinya itu terkena goresan kasar dari pohon sehingga sedikit menanggalkan luka dikakinya. Dan akhirnya Daehee pun terjatuh ke bawah.

“Daeheee…” Kwangmin berteriak was-was dari bawah lalu dengan sigap ia merentangkan tangan untuk menangkapnya.

Disisi lain, tadinya Daehee akan berpikir tubuhnya akan remuk semua jika ia jatuh begitu saja dari pohon. Namun ia tidak merasakan apa-apa. Begitu ia membuka mata, Daehee begitu kaget ia sudah berada di pelukan Kwangmin.

Sesaat mereka saling berpandangan tanpa menyadari keadaan keduanya yang seperti ini.

Tatapan Kwangmin itu membuat jantung Daehee yang malang kembali melonjak dan berdebar begitu keras sampai-sampai Daehee takut Kwangmin bisa mendengarnya. Hanya sebuah tatapan bisa membuat Daehee berdebar-debar seperti itu ? Oh, celaka… Jantungnya berulah lagi. Ia harus segera menghentikannya.

“K-Kwangmin, turunkan aku.”

E-eh ?

Kwangmin baru sadar dari keterpakuannya pada gadis itu. Ia juga merasakan sesuatu yang bergejolak aneh di dalam hatinya. Sesuatu yang aneh yang tak pernah ia rasakan. Setelah itu ia baru sadar setelah Daehee meminta dirinya untuk diturunkan.

“I-iya. Aku akan menurunkan- Ah! ”

Pertahanannya runtuh dan tiba-tiba saja kaki Kwangmin terselengkat oleh sesuatu. Alhasil ia pun juga ikut terjatuh dan saat itu mereka terjatuh dengan posisi, Daehee menindih tubuh Kwangmin dengan posisi terduduk.

“Aduuuh..” Kwangmin mengaduh kesakitan. Dan selama beberapa detik mereka tidak lepas dari pandangan masing-masing. Tatapan dari keduanya kembali terulang hingga salah satunya tersadar.

“D-Daehee.. Bisakah kau menyingkir dari badanku?” tanya Kwangmin dengan gugup

“Ah.. iya, maaf.” Daehee tersadar dan berdiri dari posisinya tadi dengan canggung.

“Ini sudah jam 11 malam. Kau yakin masih ingin disini ?”

“Sebenarnya aku ingin pulang juga sih,”

“Lalu tunggu apa lagi?”

“Tapi..”

“Astaga kakimu terluka ?” tanya Kwangmin yang seakan menyadari apa yang Daehee sedang pikirkan. “Sudah ku bilang jika tidak bisa memanjat jangan memanjat ! Jadinya seperti ini kan.”

“Yasudah kau duluan saja.” Daehee mengerucutkan bibirnya. Sepertinya ia yang bersalah saat ini. Kwangmin jadi marah-marah begitu.

“Baiklah, naik.”

“Apa ?” tanya Daehee tidak mengerti begitu Kwangmin jongkok membelakanginya.

“Naiklah ke punggungku, aku akan menggendongmu.”

“Ta-tapii..” Daehee ragu sejenak lalu meneruskan, “Oh. Yasudahlah.”

Selama di perjalanan Kwangmin merasa mereka berdua seperti dua orang yang sudah bersahabat sejak kecil. Mereka berbicara dan menertawakan hal-hal kecil yang tidak berarti. Kapan Kwangmin pernah merasa sesantai ini saat mengobrol dengan Daehee. Ini baru pertama kalinya.

“Oh iya, kau mau tidak apelnya ?” tawar Daehee bertanya ke Kwangmin.

“Mana mungkin aku mau memakan apel bekasmu ? jangan-jangan tadi pagi kau belum sikat gigi lagi.” Ledeknya terkekeh pelan.

“Eh, enak saja menghina seperti itu. Yasudah kalau tidak mau.” Respon Daehee kembali melanjutkan makan apelnya.

Sementara itu, entah kenapa Kwangmin merasa senang hari ini tanpa gadis itu ketahui. Hari ini memang aneh. Perasaannya yang mendadak begitu berdebar. Dirinya yang berusaha menahan kecanggungan di depan gadis itu. Kejadian-kejadian kecil yang bisa membuatnya senam jantung. Dan termasuk kesenangan-kesenangan yang ia lalui bersama Daehee. Kwangmin tersenyum kecil. Ia senang gadis itu bisa kembali menjadi dirinya lagi.

 

To Be Continue..

 

****

 

LOVE HATE Chapter 5 (Next Episode ) :

 “Daehee maafkan perkataanku semalam. Sungguh aku tidak benar-benar mengatakannya. Saat itu aku hanya emosi saja.”

“Kau itu. Sebentar baik sebentar menyebalkan. Mau mu apasih ?!”

“Apa yang kau lakukan, Minwoo ?”

“Kenapa kau jatuhkan, Kwangmin ?!”

“Eopseo. Ottokhae ?”

“Ahjussi benar tidak ada ?”

“Sekarang bagaimana ?”

“Cih, kau ini. Basa-basi saja tidak bisa.”

“Mwo ?! kau tidak boleh melakukan itu !”

“Yah, kenapa kau jatuhkan Kwangmin ?! Sekarang bagaimana ? Hanphone ku rusak dan aku tidak bisa menghubungi siapa-siapa lagi. Aku itu hanya meminta bantuan. Kita tidak bisa melakukannya hanya berdua !”

“Tenang saja. Aku akan segera menemukannya. Tapi mian, tidak bisa sekarang. Eomma-ku sudah marah-marah, dia minta diantarkan ke salon. Jadi maaf ya, untuk sementara kalian harus bertahan dengan keadaan seperti itu dulu.”

“Bagaimana jika Changseon oppa pulang ? Bagaimana jika Youngmin pulang ? Ottokhae ??”

“Aku merasa jenuh jika seharian hanya dirumah. Bagaimana jika kita jalan-jalan saja ?”

“Waah.. Kalian ini sepasang kekasih yaa ? kalian begitu serasi.”

“Dasar pabo !! berbicara seseukamu !”

“Yak ! Kwangmin ! kenapa kau membuka baju mu seperti itu ?!”

“Daehee, siapa dua anak kecil yang ada di foto itu ?”

“Sebenarnya, aku dengannya bukanlah saudara kandung.”

“Kenapa kau melihati ku seperti itu ? awas kau ya macam-macam !”

“Nan micheosseo ! Nan micheosseo !”

****

Sebenarnya part ini cuma setengahnya dari L.H Chapter 4. Tapi kalau aku lanjutin  sampai abis, bakalan banyak banget. Mungkin bakalan sampe 40 halaman. Makanya aku mutusin untuk ngelanjutinnya di part 5. Yang part 5 ceritanya jadi ke part 6 dan seterusnyaa..

Kalian nyangka nggak ? kalau Daehee dan Lee Joon ternyata ada konflik ? Waah, maaf banget yaah kalau ceritanya nggak nyambung. Aku hanya ingin menambahkan konfliknya ajaa.. Dan next chapter atau next chapter berikutnya dan seterusnya, bakalan ketauan kok, kenapa selama ini tuh Daehee bertengkar sama Lee Joon😀 Kebetulan aku juga suka sama MBLAQ😀 dan biasku ini adalaah Lee Joon Oppa hehe

Mudah-mudahan kalian nggak bosen yaah buat baca FF ku inii..

Aku ngehargain kalian banget readers yang udah mau baca FF ini, apalagi yang mau coment🙂

Aku masih butuhin karakter pendukung.. Karena aku akan memilih karakter secara acak.. Tapi yang udah coment minta di ikutkan ke dalam Support Cast, nggak usah coment lagi.. (Buat yang belum coment ajaa dan yang tertarik untuk jadi support Cast) nanti akan ku pilih secara acak..

FF Love Hate aku ini hanya di post di boyfriend indonesia fanfiction. Tidak pernah di post diblog manapun kecuali di wordpress ini. Jadi jika ada yang menemukan kemiripan dengan FF ini, tolong beri tahu Author di twitter @Han_SooYun atau beritahu admin di wordpress ini yaa.. Trimakasih🙂

Gomawo readers, I lavyuu..😀 Jangan lupa tinggalkan comentt yaa🙂 kritik+saran juga kalo bisa.

 

NO PLAGIATORS !! Bangga sama karya sendiri.

NO SIDERS !! Hargai Authors maka Authors akan menghargai Readers.

NO BASH !! It’s just fiction, right.

This entry was posted by boyfriendindo.

8 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Love Hate – Chapter 04

  1. i’m back #dikacangin *gw nangis T.T*
    yahaha, akhir.a ff yg sy tunggu kluar jg ^.^ , Ok! u/ saat ini gk d yg perlu sy kritik krn menurut saya ini dh jauh lbh baik dr chap sblm.a *prok prok prok*
    Ok, sekian comment sy kali ini, mian kl kepanjangan & krn bentar lg mw puasa, yulis mw mnt maaf ne, kl d slh kata slama comment🙂
    See you soon in next chap #emg ketemu??

  2. author, mianhae krn baru comment di part ini. Pas bc ga bisa comment (krn lewat hp)

    Yup! Bagus, thor!
    Gak berantakan pula. Tapi.. kenapa Daehee pindahnya ke paris? Kenapa dia hrs pindah2?

    Udahlah, dr pada byk nanya, semangat y thor, buat next part! FIGHT! ^^9

  3. wahh, author pinter mancing readers nya, konfliknya satu2 dikeluarin dg sangat ampuh !
    #Lian rusuh sendiri -__-

    Mana ni, thor next chapternya?
    Fight! ^-^9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: