[FANFICT/FREELANCE] Love You Like You – Chapter 05

Title 
: Love You Like You – Chapter 05
Author   : Aryn Chan (@1998aryn)
Genre         : Romance
Rating          : G
Type   : Chaptered
Main Casts      
: ~ No Minwoo

  ~ Jang Yoon Hee

  ~ Jo Youngmin

  ~ Kim Yuri

>>>>AUTHOR NOTE

Hallo Pembaca ^^

Terima kasih masih bersedia membaca FFku. Aku sudah selesai meng-edit semua part FF ini. Dan semuanya ada 9 Chaptared. Apa terlalu banyak? Aku harap kalian masih bisa menunggu hingga part terakhir. Sebenarnya FF yang aku buat ini adalah novel dan aku memotong banyak adegan dari FF novelku ini.

Sekali lagi terima kasih telah membaca FFku. Tunggu sampai part akhir ya🙂. Oh ya, jangan lupa meninggalkan jejak pada kolom dibawah ini. Mau komentar titik (.) aja tidak masalah. Hehe🙂 Selamat membaca. ^^

******************************************************************************

LOVE YOU LIKE YOU

Bagian Empat

“Kau akan pindah dari rumah Minwoo?” Tanya Ji Ra dengan nada terkejut sambil mencondongkan kepalanya kearah Yoon Hee.

Yoon Hee mengangguk santai dan menyesap minumannya.

Mereka sedang berada disebuah rumah makan mie ramen yang berada didekat toko buku tempat mereka bekerja. Yoon Hee sedang menceritakan tentang apartment barunya yang sudah ia beli dengan Minwoo tadi.

Apartment baru Yoon Hee berada jauh dengan rumah Minwoo. Apartmentnya berada pada pinggiran kota Seoul. Dan apartmentnya tidak terlalu besar, tidak pada apartment pada umumnya. Apartment miliknya hanya memiliki 2 lantai dan bangunannya adalah bangunan tua. Walaupun begitu, Yoon Hee tidak khawatir karena bangunan itu masih terlihat sangat kokoh dan menarik. Justru seperti itulah apartment yang dia harapkan, apartment sederhana tapi, nyaman untuk dirinya.

“Kapan kau pindah?” Terdengar suara Ji Ra lagi.

“Mungkin besok,” Jawab Yoon Hee santai sambil memasukkan mie ramen kedalam mulutnya.

“Oh,” Ji Ra kembali memusatkan pada makanannya dan menyuapkan mie kedalam mulutnya juga. “Jam berapa?”

“07.00 mungkin,” sahut Yoon Hee, “kau ikut, bukan? Dan temani aku membeli perabot-perabot rumah tangga untuk apartmentku.”

“Baiklah,” kata Ji Ra. Mereka memang sedang tidak bekerja, direktur toko buku itu memberi kesempatan pada karyawan-karyawan pilihannya untuk berlibur selama satu minggu dan Yoon Hee termasuk dalam kategori karyawan pilihan direktur toko buku itu.

“Hai, kalian sedang membicarakan apa?” Tanya seseorang tiba-tiba sambil menarik kursi kosong disebelah Yoon Hee.

Dengan serentak Yoon Hee dan Ji Ra menoleh kearah suara itu. Mereka melihat seorang lelaki kurus, tinggi berambut pirang sedang tersenyum lebar kearah mereka. Ji Ra menarik nafas sedikit kesal tapi, untung saja lelaki ini tampan jadi ia masih bisa menahan emosinya.

“Maaf, apa aku membuat kalian terkejut?” Tanya pria itu yang ternyata adalah Youngmin.

“Sedikit,” Sahut Yoon Hee, “Sepertinya Ji Ra yang sangat terkejut,”

Youngmin melirik Ji Ra, “Kau terkejut?”

Ji Ra melihat kearah Youngmin masih sambil memegang dadanya seakan takut jantungnya akan terjatuh dari tempatnya, lalu tersenyum canggung, “Oh? Tidak, tidak terlalu.”

“Maaf .” Gumam Youngmin.

“Ya, tidak apa-apa. Lain kali, jangan seperti itu.” Kata Ji Ra lalu kembali menyuapkan mie ramen kedalam mulutnya.

“Baiklah,” sahut Youngmin, “Apa yang sedang kalian bicarakan?”

“Tentang apartment baru Yoon Hee,” Jawab Ji Ra dengan makanan penuh dimulutnya.

Youngmin mengalihkan pandangan kearah Yoon Hee, “Kau pindah dari rumah Minwoo?”

Yoon Hee mengangguk sambil menyuapkan mie ramennya tanpa melihat Youngmin.

“Kenapa?”

Yoon Hee mengunyah mie ramen yang didalam mulutnya sebelum menjawab, “Tidak apa-apa. Aku hanya merasa tidak enak saja.”

“Oh begitu,” Youngmin mengangguk-anggukan kepalanya dan diam-diam tersenyum.

“Kau tidak memesan makanan?” Tanya Ji Ra pada Youngmin.

Youngmin menggeleng dan tersenyum, “Tidak, aku masih kenyang.”

“Lalu, mengapa kesini?” Tanya Ji Ra lagi sambil mengangkat alis.

“Aku tadi tidak sengaja melihat kalian berdua disini.” Jawab Youngmin dan melanjutkan, “Jadi, aku memutuskan untuk menghampiri kalian.”

Yoon Hee tertawa dalam hati ketika melihat Ji Ra tercengang saat Youngmin tersenyum kearahnya. Sekarang bukan dirinya saja yang terhipnotis oleh senyuman Youngmin. Laki-laki itu harus tanggung jawab dengan senyumannya itu. Atau laki-laki itu akan membunuh semua wanita yang ada didunia ini.

“Oh ya, kapan kau pindah?” Tanya Youngmin kembali, tidak menyadari Ji Ra yang masih membeku memandangnya.

“Besok pagi,” Sahut Yoon Hee sambil menyuapkan mie ramennya lagi.

“Besok?” Ulang Youngmin.

Yoon Hee mengangguk membenarkan.

“Aku akan ikut membantumu besok,” Kata Youngmin.

“Ah, tidak perlu.” Sanggah Yoon Hee, “Ji Ra akan menemaniku besok. Benarkan Ji Ra?”

Yoon Hee dan Youngmin melihat kearah Ji Ra yang sedang terdiam mematung menatap Youngmin.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Yoon Hee sambil mencondongkan tubuhnya kearah Ji Ra. Sepertinya Ji Ra agak terkejut dan menjawab agak salah tingkah.

“Apa? Oh,, eh,, maaf, aku tidak dengar.” Jawab Ji Ra dengan bingung.

Yoon Hee menarik tubuhnya kembali dan melihat Ji Ra, “Kau akan menemaniku besok, bukan?”

“Menemani apa?” Tanya Ji Ra sedikit bingung, lalu segera berseru ketika sudah mengingatnya, “Oh, itu. Ya, tentu saja.”

“Baguslah,” Sahut Yoon Hee.

***

“Kau sudah pulang?” tanya Minwoo dan melihat Yoon Hee yang sedang menonton televisi diruang tamu sambil mengangguk lalu, berjalan menghampiri Yoon Hee dan duduk disampingnya. “Kau sedang menonton apa?”

“Aku sedang menonton drama.” Jawab Yoon Hee.

“Oh,” Gumamnya. Minwoo melihat gadis yang ada disampingnya yang sedang serius melihat drama televisi, sampai-sampai Yoon Hee tidak sadar jika Minwoo sedang memandangnya entah berapa lama.

“Ini romantis sekali.” Gumam Yoon Hee dengan tangan yang diletakkan didepan bibirnya.

“Hey, hey, kau menangis?” Tanya Minwoo sambil menatap Yoon Hee.

Yoon Hee membalas tatapan Minwoo, “Aku terharu! Bukan menangis!” tegasnya.

“Terharu sama menangis apa bedanya?” Gumam Minwoo sambil membenarkan posisi duduknya dan ikut melihat televisi.

Sunyi sejenak, lalu…

“Suatu hari nanti, aku ingin ada seseorang yang menjadi tokoh Lee Joon untukku.” Minwoo melihat Yoon Hee yang tiba-tiba bergumam dan tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi. “Pria yang selalu melindungi dimana pun aku berada, selalu membuatku ceria, dan rela menaruhkan nyawanya untukku.”

“Apakah pria seperti itu tipemu?” Tanya Minwoo masih memandang Yoon Hee.

Yoon Hee terdiam sejenak dan menundukkan kepala lalu, mengangkatnya kembali sambil tersenyum, “Tidak juga. Yang paling penting untukku, lelaki itu bisa melindungiku.”

“Begitukah?” Gumam Minwoo sambil mengalihkan pandangan ke layar televisi.

“Begitulah,” Sahut Yoon Hee sambil tersenyum melihat Minwoo.

“Besok…” kata Minwoo, “besok, sepertinya aku tidak bisa menemanimu.”

Yoon Hee melihat Minwoo, menunggu kelanjutan kata yang akan diucapkannya.

“Besok, café akan segera direnovasi dan aku wajib datang untuk memeriksanya. Jadi, maafkan aku,” Minwoo melihat Yoon Hee sekilas dan kembali melihat layar televisi, “Kau tidak marah, kan?”

Yoon Hee tersenyum dan melihat layar televisi juga, lalu menjawab, “Untuk apa marah? Itu sudah kewajibanmu. Lagi pula, Ji Ra akan menemaniku berbelanja, jadi kau tenang saja.”

“Besok aku akan pergi lebih awal,” lanjut Minwoo.

“Oh,”

“Jika aku ada kesempatan, aku akan mengunjungimu.”

“Ya,”

“Yoon Hee,” Panggil Minwoo tanpa melihat gadis itu, “Aku senang kau tinggal disini. Malah, aku tidak ingin kau pindah. Aku ingin kau tetap tinggal disini. Bila nanti kau pergi, jangan salahkan aku jika rumah ini menjadi seperti tempat pembuangan sampah. Kau tahu kan, aku ini pemalas. Apalagi, mungkin nanti aku akan disibukkan oleh pembedahan café dan mungkin saja aku tidak punya waktu untuk membersihkan rumah atau yang lainnya.”

Minwoo tersenyum lalu, melirik Yoon Hee dan dikagetkan oleh Yoon Hee yang tidak mendengarkan kata-katanya sejak tadi. Gadis itu sudah terlelap tidur. Astaga! Apa yang sedang dilakukannya? Apa yang barusan ia katakan? Apa ia sedang mengatakan perasaannya yang tidak ingin Yoon Hee pergi? Atau…

Oh! Ia bisa gila.

Tapi jujur saja, gadis ini terlihat cantik saat tidur. Gadis ini selalu membuatnya bingung, khawatir saat dia tidak didekatnya, dan…dan…entahlah. Tapi, gadis ini sangat manis.

Minwoo pergi mengambil sebuah selimut dikamar dan kembali keruang tamu. Gadis ini benar-benar sedang tertidur. Tidurnya pulas sekali. Dengan perlahan, Minwoo membenarkan posisi tidur Yoon Hee dan menyelimutinya.

Minwoo sendiri tidur disofá dekat Yoon Hee lalu, memejamkan matanya.

***

Yoon Hee terbangun dari tidurnya. Ia terkejut melihat dirinya tidur disofa. Ia tidak menyadari jika semalaman ia tidur disofa. Ia bangun dan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi.

Ia menapakkan kakinya dilantai dan berjalan menuju kamar Minwoo. Minwoo sudah tidak ada ketika Yoon Hee membuka pintu kamarnya. Laki-laki itu sudah pergi. Mungkin kemarin malam adalah hari terakhirnya bersama Minwoo dirumah ini. Sepertinya sangat berat meninggalkan rumah ini. Apalagi, ia sudah menganggap rumah ini sebagai rumahnya sendiri. Dengan berat hati, Yoon Hee kembali menutup pintu kamar Minwoo dan berjalan kedapur.

Ia mencari-cari sesuatu untuk bisa dimakan, karena tiba-tiba saja perutnya terasa lapar. Tanpa sengaja ia melihat sebuah panci diatas meja makan. Yoon Hee berjalan kearah meja makan tersebut dan dilihatnya sebuah tulisan didekat panci itu.

‘Makanlah yang banyak. Kurangi makan mie instan. Aku sengaja membuat ini untukmu agar kau cepat gemuk. Jangan seperti tengkorak berjalan.

Yoon Hee tersenyum membaca tulisan dari Minwoo. Walaupun tidak ada nama yang tercantum didalam tulisan itu, tapi, Yoon Hee yakin, Minwoo yang membuat semua ini.

Ia meraih panci yang berisi bibimbap dan mulai memakannya dengan lahap.

***

“Kau bereskan yang itu, ya! Aku bereskan dibagian sini.” Perintah Yoon Hee kepada Ji Ra sambil menunjukkan baju-bajunya yang berserakan dilantai.

Yoon Hee dan Ji Ra sedang menata apartment Yoon Hee yang baru. Setelah pergi berbelanja tadi pagi, mereka langsung pulang ke apartment dan langsung membersihkan apartmentnya. Yoon Hee tidak mengajak Ji Ra untuk membantunya, wanita itu sendiri yang memintanya. Akhirnya, Yoon Hee menerimanya. Daripada ia bekerja sendiri, lebih baik ia menerimanya, bukan?

Yoon Hee mengambil sebuah lap untuk mengepel lantai yang kotor. Mereka bekerja begitu serius. Mereka membagi pekerjaan mereka, Ji Ra mendapatkan bagian membereskan ruang tamu dan kamar mandi sedangkan Yoon Hee membereskan kamar tidur dan dapurnya.

“Akhirnya selesai juga! Ah, lelah sekali.” Kata Yoon Hee sambil merentangkan tangannya dan menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tamu sambil melihat ke sekelilingnya.

Apartmentnya kini terlihat rapih dan bersih berbeda dari sebelumnya. Ia merasa seperti baru menyihir apartment ini menjadi istana yang mewah. Tapi, istananya ini masih terlihat kosong, hanya terdapat 3 kursi sofá, meja, televisi dan hiasan dinding lainnya didalam ruang tamu. Sedangkan didalam kamarnya terdapat 1 kasur kecil, lemari, rak sepatu, dan meja kecil untuk menyimpan alat-alat make up-nya. Meja kecil itu, sebenarnya Yoon Hee tidak membelinya, karena Ji Ra mempunyai banyak meja diapartmentnya jadi, ia memberikannya pada Yoon Hee.

Didapurnya terdapat kompor gas, dan alat-alat memasak lainnya, lemari es, dan meja makan. Meja makan itu juga, Yoon Hee tidak membelinya. Ketika dia baru saja tiba, meja makan ini sudah ada disini. Ia pikir, mungkin pemiliknya sengaja meninggalkan meja makan ini.

“Terima kasih, ya.” Ucap Yoon Hee, mengalihkan pandangan kearah Ji Ra, “Kau sudah membantuku.”

Ji Ra mengerutkan  alis, “Kau pikir kau menganggap aku siapa?” Celetuk Ji Ra, “Kau tidak menganggap aku sebagai temanmu? Mengapa harus bilang begitu?”

Yoon Hee tertawa kecil, “Bukan begitu,” sahutnya sambil tersenyum, “kau sudah banyak membantuku.”

“Bukankah itu gunanya teman?” Tanya Ji Ra.

Yoon Hee tersenyum dan melihat kedepan, “Kau benar.”

Ji Ra melihat kedepan dan berkata, “Aku nyalakan televisinya, ya.”

“Silahkan saja.” Sahut Yoon Hee lalu, berdiri dan berjalan kearah dapur, “Kau mau kubuatkan apa?”

“Terserah kau saja,” Sahut Ji Ra.

Tak lama kemudian Yoon Hee kembali dengan membawa 2 gelas teh ginseng hangat.

“Wah, ini pasti hangat.” Kata Ji Ra sambil mengambil gelas yang baru saja Yoon Hee simpan diatas meja.

Yoon Hee tertawa kecil dan melihat kelayar televisi, “Mereka sudah melakukan comeback?”

“Ya.” Jawab Ji Ra sambil meminum teh-nya lagi, “Kau tidak tahu?”

Sebagai jawaban Yoon Hee menggeleng yang artinya tidak.

“Kau tidak pernah melihat televisi, ya?” Celetuk Ji Ra. Yoon Hee mengerutkan bibirnya. “Oh ya, malam natal nanti akan ada showcase balet di Seoul.”

“Benarkah?” kata Yoon Hee dengan nada tidak terkejut sama sekali, “Tapi, aku tidak tertarik oleh hal seperti itu. Aku tidak suka balet.”

Kali ini Ji Ra yang mengerutkan bibirnya, “Ah, kau ini. Kau harus datang. Kebetulan temanku menjadi panitia showcase itu, jadi, aku bisa meminta 2 ticket untukku dan 2 ticket untukmu.”

“2 ticket untukmu? 2 ticket untukku?” Yoon Hee mengangkat alis, “1 lagi untuk siapa?”

“Ah kau ini,” gerutu Ji Ra, “kau bisa mengajak temanmu.”

“Temanku hanya kau,”

“Atau pacarmu,”

“Aku tidak punya pacar,”

“Minwoo?”

Yoon Hee mengerutkan kening, “Apa kau bilang? Kita tidak pacaran, dia temanku.”

“Kau bilang temanmu hanya aku?”

“Itu kan…” Ah, Ji Ra memang licik. Sekarang dia tidak bisa menjawab apa-apa. Wanita ini malah menertawainya. Sekarang ia hanya memainkan nampan yang ia pegang saja. “Kau sendiri, 1 ticket lagi untuk siapa?” Tanya Yoon Hee, membalas Ji Ra.

“Ah itu,” seru Ji Ra, “itu untuk pacarku.”

“Kau punya pacar?” Tanya Yoon Hee dengan nada terkejut.

Ji Ra menyipitkan matanya, “Kau berfikir apa? Memang kau pikir aku tidak pantas punya pacar?”

Yoon Hee melebarkan matanya, “Ah kau ini, pikiranmu selalu yang jelek-jelek.” Gerutu Yoon Hee, “Maksudku, kau tidak pernah mengenalkannya padaku.”

“Untuk apa mengenalkannya padamu?” Sahut Ji Ra sambil melihat ke layar televisi. Yoon Hee mengangkat sebelah bibirnya kesal. “Pokoknya, kau harus datang.” Lanjut Ji Ra bersitegas.

***

Yuri duduk melamun sambil memandangi lampu-lampu yang menyala dari setiap rumah-rumah penduduk. Yuri kini menginap disebuah desa terpencil di Provinsi Gyeongsangnam. Ia hanya ingin menenangkan diri.

Tempat ini sangat cocok untuk menenangkan pikirannya. Tempat ini begitu sepi, sunyi, nyaman dan terlebih lagi, ia bisa dengan langsung berkomunikasi dengan biksu-biksu yang ada disini.

Selama kurang lebih satu Minggu tinggal disini, ia merasa dirinya lebih tenang. Pikirannya sudah mulai jernih dari sebelumnya. Mungkin saat hari natal ia akan kembali ke Seoul.

Kejadian waktu itu, benar-benar membuatnya shock. Ia harus menerima bahwa dirinya sedang patah hati. Patah hati karena seorang pria. Seorang pria yang sama sekali tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapnya. Ia harus menerima kenyataan bahwa Jeongmin lebih memilih wanita lain. Ia harus menenangkan diri ditempat seperti ini hanya karena patah hati. Bukan hanya itu, ia juga terlalu terkejut mendengar pernyataan yang diucapkan Jang Yoon Hee pada waktu itu. Minwoo menyukainya. No Minwoo menyukainya. Ia tidak percaya dengan apa yang diucapkan Yoon Hee.

Mengapa ia bisa tidak sadar dengan keberadaan seseorang yang menyukainya? Mengapa ia tidak bisa merasakannya? Padahal selama ini mereka sangat dekat. Berarti, mungkin selama ini ia telah menyakiti hati Minwoo? Ia selalu bercerita terang-terangan tentang Jeongmin kepada Minwoo. Apakah Minwoo merasa tersakiti?

Kalau boleh jujur, ia senang mendengar Minwoo menyukainya. Karena sebenarnya, ia juga menyukai Minwoo. Tapi, jangan berfikir bila ia menjadikan Minwoo sebagai pelarian cintanya. Itu sama sekali tidak benar.

Sebenarnya sejak SMA dulu, ia memang sudah menyukai Minwoo. Laki-laki itu sangat baik dan perhatian kepadanya. Minwoo selalu melindunginya, selalu berada disisinya sampai sekarang. Tapi, saat itu ia tidak menemukan tanda-tanda bahwa Minwoo menyukainya. Ia hanya menemukan perasaan bila Minwoo hanya menganggapnya tidak lebih dari seorang sahabat. Ia mencoba melupakan perasaannya terhadap Minwoo sampai akhirnya ia bertemu dengan Jeongmin.

Yuri baru saja akan masuk kedalam rumah—yang menjadi tempat ia untuk beristirahat—ketika Bibi Kim—yang mengizinkan ia tinggal disini—keluar dari rumahnya. Tempat Yuri menginap memang bersampingan dengan rumah Bibi Kim, jadi, mungkin Bibi Kim ingin memastikan dirinya sudah tidur atau belum.

“Oh? Bibi, selamat malam.” Sapa Yuri sambil membungkukkan badannya.

“Kau belum tidur? Cepat masuk diluar dingin sekali.” Perintah Bibi Kim sambil memperhatikannya.

“Baik,” Sahut Yuri dan masuk kedalam rumahnya.

***

Yoon Hee duduk dibangku pengunjung sambil membaca sebuah novel  romantic. Saat ini toko memang sedang sepi, karena sekarang adalah waktu istirahat. Tapi, sekarang waktu istirahatnya hanya digunakan untuk membaca Novel yang baru ia pinjam dari perpustakaan dekat toko bukunya.

Sebenarnya bila dibilang sedang membaca buku, sepertinya kurang cocok. Karena ia sendiri tidak sedang benar-benar membaca buku. Lebih tepatnya, ia sedang melamun sambil memandangi novel yang terbuka lebar dihadapannya. Saat ini otaknya hanya bisa memikirkan laki-laki itu.

Sudah dua minggu lebih ia tidak bertemu dengan No Minwoo. Entah mengapa, ia menjadi serba salah. Ia ingin menghubungi pria itu, tetapi, ia tidak tahu apa yang akan ditanyakan. Ia melihat ponselnya yang tergeletak diatas meja dengan ragu.

Apakah dia sendiri yang harus menelepon?

Yoon Hee meraih ponselnya dan menekan nama Minwoo, sebelum ia menekan tombol hijau, ia mengurungkan niatnya dan menyimpan ponselnya kembali diatas meja. Apa? Apa yang akan dilakukannya? Ia sudah gila!

Yoon Hee menarik nafas panjang dan kembali memfokuskan diri membaca novelnya. Tapi, tetap saja ia tidak bisa. Ia kembali meraih ponselnya dan menatapnya dengan kesal. Kenapa tidak menelepon? Apa kau terlalu sibuk untuk meneleponku? Kenapa dia tidak menelepon?

“Kenapa dia tidak menelepon?”

Yoon Hee tersentak karena mendengar suara Youngmin yang ternyata sudah duduk didepannya sambil memegang camera . “Apa?” Tanyanya pada Youngmin yang memandangnya bingung.

“Tadi kau bertanya, kenapa dia tidak menelepon. Siapa yang kau maksud? Kau ingin aku meneleponmu?” Tanya Youngmin sedikit bergurau.

Yoon Hee tertawa mendengar perkataan Youngmin yang terlalu percaya diri, “Untuk apa aku meneleponmu? Kau kan sudah disini?”

Kali ini Youngmin yang tertawa mengingat betapa bodohnya pertanyaan yang ia ucapkan tadi, “Kau benar juga,”

“Youngmin, aku dengar kau saudara sepupu dengan Minwoo?” Tanya Yoon Hee sambil menyimpan ponselnya—yang dari tadi ia pegang—keatas meja.

“Ya,” Sahut Youngmin, “Kita sangat dekat.”

“Benarkah?” Tanya Yoon Hee pura-pura tidak tahu. Sebenarnya, ia sudah mendengar dari Minwoo bahwa mereka sangat dekat. Jadi, ia sama sekali tidak terkejut. “Berarti kau tahu, bagaimana keadaannya sekarang?”

Youngmin terlihat bingung tapi, ia menjawab walaupun agak sedikit aneh. Memang benar pertanyaannya memang aneh, bahkan sangat aneh, “Kemarin saat aku mengantarkan Sup Kimchi makanan kesukaannya, rumahnya berantakan. Katanya dia tidak sempat membersihkan rumahnya. Dan sepertinya dia sangat sibuk,”

“Dia sangat sibuk?” tanyanya sedikit heran.

“Benar,” sahutnya, “sebelumnya, aku tidak pernah melihat dia sesibuk itu. Setahuku, dia selalu bermalas-malasan saat kerja, tapi, aku tidak menyangka dia bisa sesibuk itu. Ini sangat aneh, bukan?”

“Jadi, dia sedang sibuk?

“Ya.”

“Apa kau tau, mengapa dia menjadi seperti itu?” Tanya Yoon Hee sangat berharap jawaban dari Youngmin.

Youngmin sedikit berfikir, entah mengapa dirinya menjadi gugup, “Entahlah,” tubuh Yoon Hee melemas. Padahal, ia sangat berharap Youngmin mengetahuinya. “Memangnya kenapa?”

Yoon Hee tersentak. Iya ya, memangnya kenapa? Ahh, mengapa ia harus peduli seperti itu? Mengapa ia menjadi gugup? Mengapa ia sangat ingin Youngmin mengetahui tentang keadaan Minwoo? Kenapa? Kenapa? Kenapa? “Ahh, tidak ada apa-apa,” akhirnya Yoon Hee menjawab sambil tersenyum yang agak dipaksakan, “aku hanya asal bicara.”

“Oh,” gumam Youngmin, “Pulang kerja nanti, kau ada acara?”

Yoon Hee sedikit berfikir, “Sepertinya tidak, ada apa?”

“Aku ingin kau menemaniku untuk mencari inspirasi,”

***

Yoon Hee menutup kembali pintu apartmentnya. Lelah sekali. Ia baru saja pulang, setelah menemani Youngmin mencari inspirasi untuk pamerannya yang akan diadakan pada tahun baru nanti, Yoon Hee memutuskan untuk langsung pulang. Youngmin mengantarkannya sampai depan apartment. Ia sangat suka dengan sikap Youngmin yang baik dan penuh perhatian. Ia pikir, sifat seperti itu sangat sopan. Ia melirik jam dinding yang ada diruang tamu. Ah, sudah jam 10 malam.

Yoon Hee berjalan kearah dapur dan membuka kulkasnya. Yoon Hee menarik nafas melihat kulkasnya yang kosong. Hanya ada 1 mie instan yang tergeletak didalam kulkas, sepertinya besok pagi ia harus pergi belanja. Ia meraih mie instan itu dan mulai menyeduhnya.

Setelah selesai menyeduh mie instan Yoon Hee berjalan kearah ruang tamu dan menyalakan televisi. Pikirannya mulai melayang saat ia tinggal dirumah Minwoo. Laki-laki itu pasti akan mengomel bila melihatnya makan pada larut malam seperti ini. Ia senang melihat Minwoo mengomel, ia merindukan rumah itu.

Hey, pikiran apa itu? Ia merindukan rumahnya atau penghuninya? Menyebalkan. Yoon Hee menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menjernihkan pikirannya dan mulai menyuapkan mie kedalam mulutnya.

Besok setelah pergi belanja, ia akan pergi kerumah Minwoo untuk melihat keadaan laki-laki itu. Ia hanya ingin memastikan laki-laki itu masih hidup atau sudah tergeletak didalam rumah.

***

Keeseokan harinya…

Setelah tiba didepan rumah Minwoo. Yoon Hee menekan bel pintu dan menunggu beberapa saat. Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka dan saat itu juga Yoon Hee melihat kembali wajah Minwoo setelah beberapa hari tidak pernah melihatnya lagi. Laki-laki itu mengenakan kaos tipis berwarna putih dan celana panjang. Rambutnya acak-acakan dan penampilannya saat ini sangat kacau.

“Oh? Kau?” gumam Minwoo saat melihat Yoon Hee berdiri didepan rumahnya. Suaranya terdengar lemas.

“Hallo, apa kabar?” sapa Yoon Hee sambil membungkukkan badannya.

“Ayo, masuk,” katanya, lalu melihat barang-barang yang sedang dibawa Yoon Hee, “Itu apa? Mengapa repot-repot?”

“Oh? Itu…” Yoon Hee sedikit terkejut ketika Minwoo mengambil alih barang-barang yang sedang dipegangnya dengan tiba-tiba.

“Yasudah ayo masuk, diluar sangat dingin” kata Minwoo bergeser sedikit untuk mempersilahkan Yoon Hee masuk lalu, menutup kembali pintu. Yoon Hee menjadi heran dengan sikap Minwoo yang berbeda. “Aku akan menaruh ini didapur ya,” lanjut Minwoo sambil berjalan kedapur, Yoon Hee mengikuti Minwoo dari belakang.

“Sudah berapa lama ya aku tidak melihat rumah ini?” gumamnya pada diri sendiri sambil menopangkan dagu ke meja dan melihat ke sekeliling ruangan.

Minwoo tersenyum, bibirnya terlihat pucat, “Mengapa kau membawa begitu banyak daging dan sayuran?”

Yoon Hee melihat kearah Minwoo, “Aku masih punya hutang padamu untuk mentraktirmu makan. Jadi, daripada kita makan diluar lebih baik aku memasaknya sendiri untukmu,” jawab Yoon Hee, “Aku ingin membuatkanmu Kimchi,”

“Kau masih ingat?” tanya Minwoo, “Aku sendiri saja sudah lupa,”

Yoon Hee mendesah, “Mana mungkin aku bisa melupakannya?” Yoon Hee melihat Minwoo tersenyum dan ia berjalan mengamati barang-barang didalam ruang tamu, “Selama ini, kau tidak pernah bersih-bersih, ya?”

“Aku tidak punya waktu untuk bersih-bersih rumah,” Sahut Minwoo santai.

Yoon Hee mengerutkan bibirnya, “Kau bilang kau tidak punya waktu?”

“Aku sibuk sekali. Banyak tugas yang harus aku kerjakan,” Jawab Minwoo sambil menghampiri Yoon Hee.

Persis yang Youngmin katakan. Yoon Hee menatap Minwoo, ia baru menyadari wajah lelaki itu sangat pucat, “Kau baik-baik saja?”

“Ya,” sahut Minwoo santai.

“Wajahmu pucat. Kau benar baik-baik saja?” Yoon Hee masih menggunakan nada khawatir dalam kalimatnya.

Minwoo tidak menjawab, ia hanya menatap Yoon Hee dengan lekat. Yoon Hee mengangkat sebelah tangannya dan menempelkannya diatas kening Minwoo. “Apa seperti ini yang kau bilang baik-baik saja?” Yoon Hee mendorong pelan bahu Minwoo.

Minwoo hanya menatap Yoon Hee tanpa dosa.

“Kau demam, cepat naik keatas!” kata Yoon Hee.

“Tidak mau,” sahut Minwoo pelan tapi, tegas. Yoon Hee menarik nafas dan mengeluarkannya dengan keras, lalu meraih tangan Minwoo dan menariknya dengan paksa.

“Hey, lepaskan. Aku bilang aku tidak mau,” kata Minwoo dengan keras.

Akhirnya, Yoon Hee berhasil membawa Minwoo masuk kedalam kamar, “Mengapa kau sangat keras kepala? Cepat berbaring.” Kali ini Minwoo menurutinya. Yoon Hee tersenyum senang dan ia menarik selimut untuk menyelimuti Minwoo. “Kau tunggu disini, aku akan membawakanmu air hangat.”

Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa air hangat dan sapu tangan miliknya. Yoon Hee duduk disebelahnya dan memeras sapu tangan yang dibasahi terlebih dahulu oleh air hangat dan menempelkannya dikening Minwoo.

“Kau bekerja terlalu keras jadi, kau seperti ini,” celoteh Yoon Hee, “Mengapa kau melakukan itu? ”

Minwoo hanya tersenyum tapi, tidak berkata apa-apa. Laki-laki itu hanya melihatnya dengan wajah penuh arti. Sepertinya, ia mencoba mengatakan dirinya baik-baik saja dengan ekspresi wajahnya yang pucat itu.

“Sekarang kau harus banyak istirahat,” kata Yoon Hee melihat Minwoo dengan wajah cemas, “Kau sangat pucat sekali, sejak kapan kau merasa seperti ini?”

“Entahlah,” sahut Minwoo memalingkan wajah kedepan, lalu kembali melihat Yoon Hee lagi, “aku sendiri tidak merasakannya.”

“Aneh,” Yoon Hee menatap Minwoo yang terbaring dikasur lalu, menarik nafas, “Yasudah, lebih baik kau istirahat. Aku akan keluar,” kata Yoon Hee sambil bangkit dari kursinya dan berjalan keluar pintu.

Sebelum Yoon Hee sempat membuka pintu kamar, tiba-tiba ia mendengar Minwoo memanggilnya, “Yoon Hee,” panggilnya dan melanjutkan dengan nada yang lembut, “Terima kasih karena sudah datang,”

Yoon Hee membalikkan badan dan tersenyum lalu mengangguk.

Minwoo ikut tersenyum. Ia melihat Yoon Hee yang membalikkan badan dan menghilang dari balik pintu. Ia menarik nafas lalu, membenarkan posisi tidurnya dan mulai memejamkan matanya.

***

Yoon Hee menutup pintu Minwoo dengan pelan. Ia memegang dadanya—tanpa maksud apa-apa—lalu, menarik nafas. Ia menjadi heran dengan sifat Minwoo. Dia bilang, dia tidak merasakan jika dirinya sakit? Mana mungkin bisa begitu? Ini benar-benar aneh. Ia menggelengkan kepala dan turun dari tangga.

Nah, lalu sekarang, apa yang harus ia lakukan?

Ia berjalan menuju ruang keluarga dan menyalakan televisi. Ia memindah-mindahkan channel untuk mencari acara yang bagus. Entah berapa kali ia mengganti channel. Ia memindahkan channel 1 ke channel 2 lalu, ke channel 3 dan ke channel 4, ia memindahkan kembali ke channel 1 lalu, ke channel 6, dan begitu seterusnya. Acara yang payah, sangat membosankan. Yoon Hee mematikan televisi lalu, tanpa sengaja ia melihat meja kecil yang berada disebelah tempat duduknya.

Yoon Hee bergeser sedikit mendekati meja kecil itu. Ia begitu terkejut, ketika melihat debu yang sangat tebal diatas meja. Ah! Laki-laki itu, benar-benar!

Yoon Hee bangkit dari kursinya dan berjalan kebelakang untuk mengambil kain basah. Ia membersihkan meja-meja dan barang-barang yang terkena debu. Setelah selesai, ia pikir lantainya juga kotor, jadi ia juga menyapu dan mengepel lantai. Tidak hanya itu, karena ia merasa ruangan ini tidak istimewa, ia mencoba untuk mendekorasi ulang ruang tamu itu. Misalnya, ia memindahkan vas bunga ke meja ruang tamu, ia juga memindahkan photo keluarga Minwoo diatas televisi yang berada diruang keluarga.

Setelah selesai membersihkan rumah, ia berdiri melihat sekeliling. Rumah ini terlihat sangat bersih dan rapih. Ia merasa baru saja menyulap rumah ini. Ruangan ini terlihat begitu indah dan istimewa. Ia sangat puas dengan hasil ini. Sepertinya, ia punya keahlian untuk mendekorasi ruangan. Itulah yang sedang ia pikirkan sejak tadi.

Yoon Hee menarik nafas dan bergumam, “Minwoo harus membayarnya untuk ini.” Yoon Hee tersenyum senang, tapi, omong-omong dengan Minwoo sudah 1 jam lebih laki-laki itu tertidur. Apa dia belum bangun?

Tanpa pikir panjang Yoon Hee menaiki tangga, berjalan menuju kamar Minwoo dan melihat Minwoo yang masih terbaring pulas diatas ranjang dengan posisi membelakanginya. Dengan perlahan Yoon Hee mendekatinya. Yoon Hee meletakkan tangannya dikening Minwoo, “Sudah tidak panas,” gumamnya.

Ia membenarkan selimut yang Minwoo gunakan dan membasahi kembali sapu tangan miliknya lalu, diletakkan didahi Minwoo lagi. Yoon Hee memandang Minwoo sejenak, laki-laki ini sangat menyedihkan jika sedang sakit. Yoon Hee tersenyum tanpa disadarinya, lalu keluar dari kamar Minwoo. Ia menutup pintu dengan pelan seakan takut membangunkan Minwoo. Ia menguap dengan lebar, mengapa ia merasa sangat mengantuk?

Yoon Hee berjalan menuju ruang tamu dan berbaring disofa. Mungkin ia butuh istirahat sebentar. Ia hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk istirahat. Setelah itu, ia akan memasak makan malam untuk Minwoo. Yoon Hee membenarkan posisi tidurnya lalu, memejamkan mata.

***

 

TBC…

4 episode lagi ya, hehe🙂

Please wait!😀

This entry was posted by boyfriendindo.

6 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Love You Like You – Chapter 05

  1. haduh mkn romantis aja ni 2 org
    eh y thor, kl bisa ending.a yoon hee sm minwoo j y, *maksabener -.-*
    ok kl gitu, saya tunggu next chap j y….
    Bye…….. ^.^

  2. lanjutin dong thor…… aslian penasaran bangeet….. seru banget ceritanya aku selalu nunggu kelanjutannya…. hwaiting….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: