[FANFICT/FREELANCE] Only You – Chapter 06 [END]

Title 
: Only You – Chapter 06
Author : Kim Sung Rin (@megaoktavias)
Genre         : Romance
Rating          : PG 15
Type   : Chaptered
Main Casts      
: ~ Shim Hyunseong

  ~ Kang Hye Mi (OC)

Other Casts
: ~ Member Boyfriend Lainnya

  ~ Shim Mina (OC)

  ~ Byancha (OC)

Disclaimer: terinspirasi dari lagu Hyunseong yang Only You. Jalan cerita utuh milik saya, jika ada kesamaan itu gak sengaja. No silent reader! Plagiarism! Tinggalkan komentar setelah membaca, untuk kebaikan author di masa depan J

Note: Annyeonghaseyoo~~  hufftt akhirnya sampai di penghujung part. Terima kasih sama pembaca yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca FF abal-abal karanganku ini.  NO BASH! RCL WAJIB!! YANG PLAGIAT GAK BAKALAN SUKSES DUNIA AKHIRAT!

Happy reading bestfriendssssss *lempar cinta Hyunseong  (?)*

~~~

Previous part

“Ini bukan salahmu, kau tidak perlu merasa bersalah. Sudahlah sebaiknya kita berdoa saja untuk Jeongmin. Kau mengerti?” Hyemi tersenyum sambil menghela sisa-sisa air mata yang menggenang di wajah Seul Ra. Gadis itu tersenyum dan kembali memeluk Hyemi.

Hyunseong tersenyum memandang kedua wanita yang tengah berpelukan dihadapannya.  Tidak menyangka bahwa mereka akan menjadi akrab seperti sekarang ini.

~~~                                                                                                                                    

Kamar Jeongmin kini penuh dengan kerabat dekatnya yang tak lain Hyunseong, Kwangmin, Youngmin, Minwoo, dan Donghyun. Hyemi dan Seul Ra juga ada disana, namun tak banyak bicara seperti kelima orang lainnya.

“Astaga Hyung, kau tahu tidak? kau membuatku panik setengah mati. Aku langsung bolos mengajar begitu mendengar berita ini.” Minwoo berceloteh. Jeongmin tersenyum lemah mendengarnya.

“Wah, aku harus minta maaf kepada murid-muridmu karena Sonsaengimnya bolos mengajar gara-gara aku.” Canda Jeongmin lemah. Minwoo terkekeh pelan.

“Untung kau cepat dibawa kesini, kalau tidak … aku tidak tau apa yang akan terjadi setelahnya.” Ucap Kwangmin parau. Youngmin lalu menyenggol pelan rusuk Kwangmin, “Tidak usah memikirkan yang tidak terjadi. Lihat, Jeongmin hyung baik-baik saja sekarang.” Sahut Youngmin.

“Kwangmin benar, Youngmin. Jika dia tidak segera dibawa dan dioperasi akibatnya akan fatal sekali. Ngomong-ngomong, Hyunseong kau yang membawanya?”

Hyunseong menggeleng, “Bukan aku, tapi Seul Ra.” Hyunseong menatap Seul Ra yang sedang mengobrol dengan Hyemi.

Merasa namanya disebut-sebut, Seul Ra menoleh dan membungkuk untuk mengucapkan salam kepada mereka karena dia belum melakukannya sebelumnya. Donghyun, Minwoo dan Youngmin menatapnya dengan tatapan takjub. Tentu saja, Seul Ra mempunyai tubuh bak model kawakan, yang kapan saja bisa membuat mata lelaki terpaku padanya.

Jeongmin memperhatikan ketiga sahabatnya yang melihat Seul Ra secara berlebihan.

“Hey, jangan menatapnya seperti itu.” Jeongmin membuyarkan lamunan ketiga sahabatnya. Donghyun, Youngmin dan Minwoo tertawa tak jelas setelahnya.

“Jadi kau yang bernama Seul Ra? ngomong-ngomong terima kasih ya karena sudah menyempatkan diri membawa Jeongmin kerumah sakit.” Youngmin tersenyum simpul, berusaha menimbulkan sisi kharismanya. Seul Ra menunduk malu, “Tidak perlu seperti itu, memang sudah seharusnya orang sakit dibawa kerumah sakit.”

“Oh iya, Donghyun hyung, kau tadi bilang ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Apa itu?” Jeongmin berusaha mengalihkan pembicaraan karena dia menangkap sorot mata Seul Ra yang tidak nyaman berbicara kepada teman-temannya itu.

“Kau benar! Aku hampir lupa jika tidak diingatkan.” Donghyun mengeluarkan sebuah amplop dari tas tentengnya.

“Hyunseong, ini untukmu.” Donghyun langsung menyodorkan amplop tersebut ketangan Hyunseong. Lelaki itu mengernyit lalu membuka amplop itu dan terbelalak setelahnya.

“Dua tiket pesawat ke Maldives?” Tanya Hyunseong bingung.

Yep, itu kado pernikahan dari kami. Bukan apa-apa sih memang bagimu, tapi aku ingin kau mengajak Hyemi bulan madu. Kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, Seong.” Donghyun meninju pelan lengan Hyunseong.

Oppa, terima kasih ya.” Hyemi tersenyum senang, sementara Seul Ra yang duduk disampingnya juga tersenyum.

Ya! noona, kado ini dari kami berlima. Jadi kau harus berterima kasih kepadaku, juga kepada yang lain.” Sahut Minwoo cemberut. Mendengar itu, Youngmin menjitak kepala Minwoo kesal.

“Cerewet sekali kau ini! Noona juga tersenyum kepada kita, itu tandanya dia juga berterima kasih kepada kita. Kau semakin lama semakin seperti anak kecil!” Kesal Youngmin. Minwoo mengusap kepalanya yang berdenyut dan memandang Youngmin keki.

Hyunseong tersenyum dan merangkul teman-temannya, “Ini kado terbaik yang pernah aku terima. Terima kasih ya,” ucap Hyunseong bahagia. Youngmin, Kwangmin, Minwoo, Donghyun serta Jeongmin ikut tertawa bahagia.

“Eh, tapi dengan satu syarat,” Youngmin membisiki Hyunseong. Hyunseong menoleh tak sabar, “Apa?”

Youngmin tersenyum jahil kepada Kwangmin dan menyuruhnya untuk menyebutkan syaratnya.

“Kau harus member kami keponakan.” Kekeh Kwangmin.

Yak! Kalian berdua!” Hyunseong menjitak mereka, diiringi oleh kekehan pelan penghuni ruang inap itu.

~~~

“Kita mau kemana?” Hyemi bersuara karena Hyunseong berbelok kearah yang tidak seharusnya mereka lewati. Hyunseong hanya menjawabnya dengan senyuman sambil terus melajukan Maybach Landaulet putihnya.

Hyemi semakin bingung kala Hyunseong berhenti di sebuah butik dikawasan Gangnam. Dengan cat berwarna merah jambu dan cream, butik itu terlihat lebih cantik dan terlihat spesial.

Belum lagi Hyemi menanyakan alasan kenapa Hyunseong membawanya ke butik ini, lelaki itu telah menutup kedua mata Hyemi dengan sapu tangan hitam.

“Sebenarnya ada apa ini? Mengapa kau menutup mataku?” Tanya Hyemi mengusir rasa penasarannya.

“Kau akan tau jawabannya jika kau mengikutiku. Sebaiknya kau foKus dengan kakimu jika kau tidak mau tersandung.”

Hyunseong lalu menggandeng Hyemi memasuki butik itu. Hawa dingin dari Air conditioner menyergap tubuh Hyemi.

“Nah, sekarang buka matamu.”

Hyemi melepas sapu tangan yang menutupi matanya dan seketika mulutnya menganga. Bagaimana tidak, plang besar yang berada di tengah butik itu bertuliskan ‘Peachberry boutique’, nama yang selalu bergelayut di otak Hyemi jika dia mempunyai butik nanti. Baju-baju yang terpajang disana juga merupakan hasil coretan tangan Hyemi di buku sketsanya. Dia lalu menatap Hyunseong, meyakinkan apa yang dilihatnya, “Ini…ini butik –“

“Untukmu,” Hyunseong memotongnya, “Semua yang berada di butik ini adalah milikmu.” Hyunseong tersenyum puas.

Hyemi kembali membalikkan tubuhnya, menyusuri sebentar rak-rak pertama yang tersusun rapi di tembok.

“Tapi, bagaimana bisa? Maksudku, kau kan tidak pernah tahu kalau aku suka mendesain baju?” Tanya Hyemi heran.

“Aku yang memberitahunya,” gadis dengan rambut hitam tergerai menuruni tangga yang terletak di pojok ruangan, “dan eomma tentunya.” Gadis yang juga berlesung pipi itu tersenyum senang memandang Hyemi.

“Oh mina, bagaimana kau tau sayang?” Hyemi memeluknya singkat, dan juga memeluk Ibu mertuanya –ibu Hyunseong- dengan erat.

“Mula-mula eomma yang menemukan buku sketsamu saat aku dan Mina berkunjung kerumahmu waktu itu. Mina melihatnya juga dan dia menyukai semua sketsa baju yang kau buat. Mina jugalah yang menceritakan bakatmu ini ke Oppanya.” Eomma menerangkan dengan lembut. Hyemi terharu, sangat terharu. Ini memang sesuatu yang diimpi-impikan olehnya tapi dia tidak bisa benar-benar merealisasikannya setelah dia menikah. Hyemi berfikir, jika dia sudah menikah, hal yang harus dilakukannya adalah mengurus suami dan hal-hal rumah tangga lainnya.

“Kupikir kau akan bosan jika terlalu lama berada didalam rumah. Jadi, kubuatkan kau sebuah butik. Kau bisa sesekali kesini untuk mengecek dan mengontrol keadaan butikmu.” Terang Hyunseong. Hyemi tersenyum lebar lalu memeluk Hyunseong secepat yang dia bisa.

Gomawo,” gumam hyemi yang telah berada dalam pelukan hyunseong, “Aku sangat senang akan hal ini.” Lanjutnya lagi. Hyunseong menatap wajah istrinya dan mengusap penuh sayang puncak kepalanya.

~~~

“Aku masih punya sesuatu yang ingin kuberikan kepadamu.” Ucap Hyunseong setelah mereka pulang dari butik Hyemi.

“Apa itu?” Hyemi dibuat penasaran lagi. Hyunseong mengeluarkan kotak kecil dari balik saku jasnya.

“Ini, kubeli saat aku berada di Jepang. Memang bukan barang yang terlalu bagus, tapi ini cocok untukmu. Bukalah.” Hyunseong tersenyum.

Hyemi membuka kotak putih berpita biru itu perlahan, dan lagi-lagi dibuat terharu karenanya.

“Ini sangat bagus. Darimana kau tau aku suka warna pelangi?” Tanya Hyemi sambil memasang gelang itu ke pergelangan tangan kanannya. Hyunseong mengedikkan bahunya, “Hanya menebak-nebak. Karena warnanya bagus jadi aku menyukainya. Dan juga aku ingin  agar hidupmu lebih ceria dan berwarna, seperti warna yang ada di gelang itu.”

“Kurasa kau akan bosan jika aku bilang terima kasih terus. Tapi, aku harus mengucapkannya. Gomawo.” Hyemi tersenyum senang sampai-sampai wajahnya memerah. Hyunseong mengusap pipi istrinya itu dengan lembut, “Benar kan dugaanku, gelang itu cocok denganmu.” Mata Hyunseong menatap gelang yang sudah tersemat di tangan Hyemi.

“Dan satu hal lagi,” Hyunseong mulai merangkul Hyemi, “Kau bisa mulai memanggilku oppa lagi. Nampaknya kau lupa perjanjian awal kita.” Dia tersenyum jahil.

“Ah baiklah, itu perkara mudah. Ada hal lain yang ingin kau ucapkan?” Goda Hyemi. Hyunseong mencuil hidung mancung Hyemi.

Saranghae.” Bisik Hyunseong pelan di telinga Hyemi, yang membuat kedua pipi gadis itu kembali bersemu.

~~~

Hyunseong dan Hyemi menatap takjub Maldives yang berada dalam jangkauan indra penglihatannya. Pulau yang terletak di seberang Srilanka, tepatnya di Samudra Hindia itu begitu indah dan memanjakan mata. Dengan resort-resort yang terletak di atas air dan mengelilingi pulau itu. Pohon-pohon serta bunga-bunga yang tumbuh subur, melengkapi indahnya warna biru pulau tersebut.

Oppa, ini benar-benar hebat! kita bisa melihat matahari terbenam dari sini, dari balkon kamar kita.” Hyemi berseru dengan semangat. Saat itu memang matahari sudah turun karena mereka sampai tepat jam 05.20 PM. Hyunseong tersenyum dan menghampiri Hyemi lantas memeluknya dari belakang. Aroma chamomile yang berasal dari rambut Hyemi kini telah menjadi candu bagi Hyunseong.

“Kau senang?” Hyemi mengangguk, membuat rambutnya bergesek di permukaan wajah Hyunseong.

“Sangat senang, jauh dari apa yang semula ini aku pikirkan. Kita harus berterima kasih kepada sahabat-sahabatmu karena telah memilih tempat yang tepat.” Ucap Hyemi. Hyunseong terkekeh pelan dan semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh langsing Hyemi.

“Kau tahu? Mereka memberiku satu syarat sebelum aku pulang ke tanah air.” Gumam Hyunseong. Hyemi mengernyit, “Mwo? Syarat? Apa itu oppa?”

Hyunseong mendekatkan bibirnya ke telinga Hyemi, “Mereka ingin aku memberikan keponakan untuknya.” Bisik Hyunseong.

Ya! Oppa~” Hyemi bersungut sambil memukul lengan Hyunseong. Hyunseong terbahak karena melihat wajah Hyemi yang tak ada bedanya dengan kepiting rebus.

“Itu tidak lucu oppa!” Hyemi cemberut. Hyunseong kembali meraih tubuh Hyemi. Rasanya dia tidak bisa jauh-jauh dari istrinya itu.

Aniyo, mereka hanya bercanda kok. Tidak usah ditanggapi terlalu serius.”

“Mereka benar oppa, pasangan suami istri memang seharusnya melanjutkan keturunan mereka dengan melahirkan anak,” gumam Hyemi malu. Hyunseong lalu membalikkan tubuh Hyemi.

“Jadi, apa kau siap untuk euhmmm mengandung anakku, Chagiya?” Hyunseong menunggu jawaban Hyemi penuh harap. Hyemi tertunduk malu, sampai-sampai dagunya menyentuh dadanya. Anggukan kecil di kepala Hyemi membuat Hyunseong tersenyum senang dan meraih tubuh langsing itu untuk didekapnya lagi.

Saranghae, Hyemi~ya.

Nado saranghae oppa.” Bisik Hyemi sebelum permukaan bibir mereka bersatu.

~~~

5 Month later

Hyemi mondar-mandir didalam butik miliknya yang berada di daerah Gangnam. Pasalnya, pada hari itu butiknya sedang didatangi segerombolan anak SMA yang akan menyelenggarakan prom night. Mereka sibuk memilih-milih dress di butik Hyemi, dan juga menanyakan pendapat Hyemi tentang gaun apa yang pantas mereka pakai. Sebenarnya Hyemi sedikit kewalahan, tapi berkat Seul Ra dan Eun Ki, beban Hyemi berangsur ringan.

“Duh, untung saja ada kalian berdua. Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika aku benar-benar sendiri menghadapi anak SMA itu. Mereka cerewet sekali dan tidak mau mendengar nasihatku.” Cibir Hyemi begitu segerombolan anak SMa itu mendapatkan dress yang mereka suka dan cocok untuk tubuh mereka. Eun Ki terkekeh pelan sambil menghirup Ice Americano yang berada dihadapannya.

“Ini baru sebagian kecil, Hyemi. Pelangganku jauh lebih cerewet daripada mereka dan itu terjadi hampir setiap hari. Untungnya mereka tidak segerombolan seperti tadi ya.” Eun Ki terkekeh lagi. Seul Ra sebaliknya, dia merasa sangat senang telah melayani segerombolan anak SMA yang sedang mencari dress itu.

“Aku malah senang. Mereka mendengar perkataanku, dan membeli dress yang kupilih. Mungkin kebetulan seleraku sama dengan mereka.” Seul ra tersenyum simpul lalu menyesap mocha latte nya.

“Ngomong-ngomong kalian sudah makan?” Tanya Hyemi yang sejak kepergian segerombolan anak SMA itu tak lepas mengurut keningnya. Keduanya menggeleng, “Kau kelihatan pucat, apa kau sakit?” Tanya Eun Ki.

“Dan juga sejak tadi kau mengurut keningmu. Sepusing itukan menghadapi mereka?” lanjut Seul Ra. Hyemi tersenyum simpul, “Aniyo, sejak pagi tadi aku memang pusing, dan sekarang aku ingin makan sundubu chigae pedas yang ada di restoran Youngmin. Kalian belum pernah kesana kan? Sebaiknya kita kesana karena perutku lapar sekali.”

“Youngmin? Apakah mereka salah satu dari yang kembar itu?” Tanya Seul Ra. Eun Ki mengangguk mengiyakan, “Yep, dia kembar yang pertama. Kalau Kwangmin yang bekerja di rumah sakit, dokter bedah yang waktu itu menangani Jeongmin.” Jelas Eun Ki.

Seul Ra mengangguk sambil membulatkan mulutnya. Mendengar nama Jeongmin disebut-sebut membuat hatinya berdegup kencang. Pasalnya semenjak kejadian Jeongmin sakit tiba-tiba itu, hubungan mereka semakin dekat.

Yak! Kenapa diam saja? Ppali, aku lapar sekali.” Hyemi berkata dengan gusar. Eun Ki dan Seul Ra mengikuti Hyemi yang telah keluar dari butiknya.

~~~

Eun Ki, Seul Ra maupun Youngmin menatap Hyemi takub. Bukan tanpa alasan mereka menatap Hyemi seperti itu. Pasalnya kali ini Hyemi telah menghabiskan mangkuk ke lima sundubu chigae yang beberapa menit yang lalu dipesannya.

“Youngmin, aku tambah satu lagi ya!” teriak Hyemi begitu dia selesai minum air putih. Youngmin menghampiri meja mereka dan terbelalak, “K…kau memesan satu lagi?” Tanya Youngmin tak percaya. Hyemi mengangguk pasti, “Benar, aku memesan satu lagi. Sejak kemarin aku ingin sekali makan disini. Cepatlah bawa pesananku dan tidak usah banyak bertanya!” Hyemi menyuruh Youngmin pergi untuk membawakan pesanannya.

Ya! Hyemi ya, kau tidak kenyang makan lima mangkuk sundubu chigae? Makanan itu pedas, kau jangan terlalu banyak memakannya jika kau ingin lambungmu sehat.” Eun Ki memperingati. Seul ra pun mengangguk setuju, “Eun Ki eonni benar. lebih baik memesan yang lain saja eonni.” Usul Seul Ra. Hyemi menggeleng, “Tidak, aku sedang tidak mau makan yang lain selain sundubu chigae. Ah itu dia pesananku datang.” Hyemi berkata riang menyambut kedatangan Youngmin yang menenteng nampan berisi semangkuk sundubu chigae.

“Ini noona,” Youngmin menaruh perlahan mangkuk sundubu chigae kehadapan Hyemi. Gadis itu langsung menyantap pesanannya dengan lahap, sama seperti mangkuk-mangkuk sebelumnya.

Youngmin masih disitu, memperhatikan Hyemi dengan seksama. Seketika matanya membulat dan menahan tangan Hyemi yang hendak menyuap sendok terakhir sundubu chigae yang dinikmati gadis itu.

Wae? Kenapa kau menahan tanganku?” Hyemi jelas penasaran. Youngmin juga terkejut sampai melakukan hal yang sempat terlintas di pikirannya. Cepat-cepat dia melepas tangan Hyemi dan menarik Eun Ki kemudian membisiki gadis itu.

Mimik muka Eun Ki juga sama seperti Youngmin, terbelalak dan menganga. Eun Ki kemudian kembali bergabung bersama Hyemi dan Seul Ra.

“Kalian ini kenapasih? Ada yang salah?” Hyemi tampak kesal. Eun Ki dan Youngmin saling melempar pandang.

“Tidak ada sih. Tapi, aku hanya ingin bilang stop memesan sundubu chigae lagi noona.” Ucap Youngmin santai. Hyemi mengerutkan keningnya, “Lagipula aku tidak ingin memesan lagi kok. Berikan bill pesanan kami, aku yang akan membayar semuanya.” Ucap Hyemi enteng sambil mengeluarkan uangnya dari dompetnya.

~~~

Seul Ra menatap ragu pintu apartmen yang menjulang tinggi didepannya. Kali ini dia datang untuk memenuhi undangan makan malam di apartmen Jeongmin. Jujur saja jantungnya bergedup sekarang. Seingatnya ini undangan makan malam ke limanya selama kedekatan mereka ini.

Pintu apartmen terbuka. Nampaklah Jeongmin dengan blouse hitam dipadukan dengan celana jeans biru yang terlihat chic. Aroma maskulin juga menyeruak begitu Jeongmin menampakkan diri seutuhnya.

“Halo,” jeongmin melambai senang, “Kupikir kau sibuk hari ini. Ayo masuk, aku yakin kau sudah sangat lapar.” Ajaknya dengan bahagia. Seul Ra hanya mampu tersenyum sambil mengikuti langkah Jeongmin ke ruang makan. Untung saja saat di restoran Jeongmin tadi dia tidak banyak makan.

Seul Ra terpaku. Ini makan malam yang beda dari biasanya. Ini candle light dinner, dengan lampu ruang makan yang diremangkan agar cahaya lilin terlihat indah. Botol champagne juga berdiri tegak di tengah meja makan itu.

“Kau suka?” Jeongmin berbisik ditelinga Seul Ra. Gadis itu menoleh dan betapa terkejutnya dia karena jarak wajahnya dengan Jeongmin sangatlah dekat sampai-sampai dia dapat merasakaan hembusan hangat nafas Jeongmin.

“Su…suka kok. Lilinnya bagus.” Ucap Seul Ra asal. Gadis itu tersenyum kaku setelahnya. Lilinnya bagus? Kau bodoh sekali Seul Ra! batin gadis itu.

Jeongmin tersenyum lembut lalu menyuruh Seul Ra untuk duduk. Hidangan malam itu adalah beefsteak blackpaper. Boleh dibilang, itu salah satu favorit Seul Ra maupun Jeongmin.

“Seul Ra, aku ingin memperjelas hubungan kita,” Jeongmin memecah keheningan diantara mereka berdua. Jantung Seul Ra bergedup kencang, apalagi sekarang Jeongmin merogoh kantong celana jeansnya dan terlihatlah kotak merah beludru yang telah hadir dihadapan Saul Ra.

“Aku tau ini terlalu cepat, tapi aku yakin dengan hatiku saat ini. Will you marry me?” Tatap Jeongmin penuh harap.

Seul Ra tersenyum tertahan. Perutya menggelitik seperti dihinggapi ratusan kupu-kupu yang hinggap bersamaan. Dengan mata berkaca, gadis itu mengangguk, “I will.

Jeongmin tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Dia langsung beranjak untuk memeluk tubuh Seul Ra dan langusung menyematkan cincin yang telah disiapkannya.

“Saranghae Seul Ra ya.” Jeongmin mendesis pelan. Seul Ra semakin mengeratkan pelukannya.

Nado, Jeongmin ah.

~~~

Hyunseong mengamati Hyemi dengan seksama. Dua jam lalu, tepatnya saat Hyunseong baru pulang kerja, Hyemi menelpon dan ingin sekali makan Sundubu chigae dari restoran Youngmin.

Hyunseong yang tidak tau apa-apa kejadian dua hari yang lalu –saat Hyemi makan enam mangkuk sundubu chigae– langsung saja menuju restoran Youngmin. Kedatangan Hyunseong disambut dengan suka cita oleh Youngmin. Lelaki itu menelpon Hyunseong sejak dua hari yang lalu, tapi nomor ponselnya tidak aktif. Youngmin bermaksud menceritakan tentang Hyemi yang memesan enam mangkuk sundubu chigae tanpa henti dan menurutnya itu adalah hal yang tak wajar. Hyunseong yang telah mendengar cerita Youngmin juga sama terbelalaknya dengan lelaki yang dianggap seperti adiknya itu. Selama dia bersama dengan Hyemi, dia tidak pernah melihat Hyemi menyantap sundubu chigae sebanyak itu. Lagipula, Hyemi tidak begitu suka makanan pedas.

Dan, kali ini kejadian itu kembali terulang. Hyemi memesan 8 porsi sundubu chigae. Gadis itu melahap pesanannya dengan semangat. Hyemi berhasil menghabiskan mangkuk ke lima, namun saat dia ingin beranjak ke mangkuk ke enam, Hyunseong menahannya.

Waeyo?” Hyemi menatap Hyunseong dengan penuh Tanya.

“Kapan terakhir kali kau datang bulan?” Hyunseong bertanya dengan ragu. Hyemi menerawang. Seingatnya sudah dua bulan ini dia melewati masa menstruasinya.

“Dua bulan, memangnya kenapa?” Tanya Hyemi polos. Hyunseong terbelalak, gejolak penasaran begitu menghujani pikirannya saat ini.

“Benarkah? Kalau begitu kau harus periksa ke dokter!” Hyunseong berbicara dengan tak sabar.

“Kedokter? Tapi untuk apa? Aku memang biasa telat menstruasi kok. Mungkin beberapa hari lagi aku akan menstruasi.” Jawab Hyemi santai. Hyunseong yang sudah kelewat penasaran menggeleng dengan cepat, “Tidak, aku tidak bisa menunggu selama itu. Ganti bajumu dan kita kerumah sakit sekarang.”

~~~

“Selamat, usia kandunganmu memasuki minggu kelima.” Dokter muda bernama Choi Sulli tersenyum senang sambil memperlihatkan test pack yang menunjukkan tanda positif. Hyunseong dan Hyemi sama-sama tersenyum senang. Keduanya berpelukan singkat untuk merealisasikan rasa bahagia mereka. Dokter Choi Sulli juga ikut tersenyum senang.

“Sebaiknya dari sekarang kurangi makanan pedas, dan kurangi pekerjaan berat minimal sampai usia kandungan memasuki bulan ke empat. Hyemi ssi juga harus rutin memeriksakan kandaungannya. Sekali lagi selamat ya untuk kalian.” Sulli menjabat Hyunseong dan Hyemi bergantian.

“Sama-sama Dok, terima kasih. Sampai jumpa di pemeriksaan selanjutnya, Sulli ssi.” Hyemi membungkuk ramah, begitupun Hyunseong yang  dapat menyembunyikan rasa bahagianya.

Gomawo, chagiya.” Bisik Hyunseong pelan.

Hyemi tersenyum dan merangkul erat pinggang Hyunseong.

~~~

EPILOG

Hyemi pov

Aku memandangnya, memandang suamiku yang setiap hari kurindukan. Tatapan teduhnya kini menatap lurus bayi mungil yang berada dalam pelukannya. Shim Hanna, begitulah nama anak pertamaku, buah cinta aku dan Hyunseong. Dengan wajah lelah dan lingkar mata hitam dia tersenyum kearahku, senyum yang membuatku seratus kali lebih bahagia dan semangat untuk menjalani leka-liku hidup ini. Bersamanya dan selamanya.

Hyunseong, lelaki yang tak pernah kubayangkan dan tak pernah terfikirkan olehku untuk menjadi suamiku kini tengah menggenggam tanganku erat. air matakku tak terelakkan lagi. Dengan suara lemah aku mencoba untuk menyalurkan gejolah bahagia didalam hatiku karena telah memilikinya dan Hanna.

“Oppa, saranghae.”

~~~

Hyunseong pov

Suara lemahnya memasuki indra pendengaranku, yang membuatku bernafsu ingin mengeluarkan air mata bahagia. Hyemi memegang tanganku erat sambil menatap lembut bayi mungil didalam pelukanku, Shim Hanna.

“Dia mewarisi mata sipitmu oppa,” suara lemahnya kembali bergema. Rupanya sejak tadi dia memandangi putri kecil kami yang tertidur pulas dalam pelukanku. Aku tersenyum dan mengecup pipi Hanna sekilas.

“Dan dia mewarisi hidung mancungmu.” Balasku lagi. Hyemi tersenyum dan memegang tanganku erat.

“Ngomong-ngomong kau belum balas ucapan cintaku. Apa karena badanku tidak sebagus dulu makanya kau tidak mau membalasnya?” Hyemi cemberut. Aku terkikik geli lalu dengan gemas mengusap sayang puncak kepalanya.

“Tadinya kupikir aku tidak perlu mengucapkan hal yang sudah jelas kauketahui. Tapi karena kau memintanya, jadi aku akan bilang ‘Nado Saranghaeyo, chagiya.” Bisikku lembut. Hyemi tersenyum bahagia dan meraih tanganku untuk memelukku.

Batinku tersenyum, tak hentinya aku mengucap syukur kepada Tuhan karena telah memiliki Hyemi dan Hanna didalam hidupku.

Terima kasih tuhan karena telah mengirimiku dua malaikat yang akan menjagaku kelak. Batin Hyunseong.

-THE END-

 Taraaaammm akhirnya end juga. Udah to the max banget nih huhu, mohon maaf jika tidak memuaskan (?) aku sudah pusing dengan deadline tugas yang bertumpuk huhu T<T

Terima kasih sekali kepada bestfriend yang telah mengikuti FF gaje ini hingga akhir, nantikan FF aku yang lainnya ya hihi.

BTW dikit lagi udah mau puasa. Aku dan Hyunseong (?) ingin minta maaf jika ada salah-salah kata ya.

Okeh, sampai bertemu di FF selanjutnya~~ *melambai bareng Boyfriend*😄

This entry was posted by boyfriendindo.

15 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Only You – Chapter 06 [END]

    • waahh makasih ya, insya allah akan ada ff baru hihi.
      gomawo udah baca dan komen *deep bow bareng hyunseong* >,<

  1. happy ending ^^ i like it
    q jg mnt maaf y, eonni kl q d slh kata slama comment disini🙂
    Ok! q tunggu ff slanjut.a, eon

    • yeahaaa, aku kurang suka sad ending😀
      iya sama sama ya saeng😀
      gomawo udah baca dan komen *deep bow bareng hyunseong* >,<

    • loh kok envy, ff kamu jauh lebih keren kok, buktinya aku bikin ff fl versi ff dari kamu hihi
      gomawo udah baca dan komen *deep bow bareng hyunseong* >,<

  2. *telat banget masa -_- *

    Kyaa~ membayangkan aku sama Hyunseong kayak begitu XD~
    Omono~😀

    Keren eonnie~!! Daebak!!

    Ihh~ entar kalau bikin FF baru main castnya Hyunseong lagi yak eon ._. #plok *maunya -,-#

  3. annyeong.
    Mian eonni,, kalo udh jadi silent reader krn br comment di part terakhir.

    Cuma mau bilang; DAEBAK, eonni!
    Hohoho, walaupun bkn kwangmin atau ym, hyunseong jg bagus. PLak! FF nya yg bagus y, eonn..
    Tp daebak!

  4. Mianhae… Aku coment diakhir cerita. Seblumnya maksi.. Karena tidak ada part yg di protect. Setiap kali baca FF sll ada part yg diprotect. Huft. Jdi aku ngersa sedikit kecewa. Gtt. Tapi mau gmn lagii itu Hak Author yg buat. Dari seluruh jlan ceritanya aku suka. Apalagi ber-genre. Romance.🙂. Dan akhirnya happy Ending. Kkk~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: