[FANFICT/FREELANCE] Love You Like You – Chapter 06

Title 
: Love You Like You – Chapter 06
Author   : Aryn Chan (@1998aryn)
Genre         : Romance
Rating          : G
Type   : Chaptered
Main Casts      
: ~ No Minwoo

  ~ Jang Yoon Hee

  ~ Jo Youngmin

  ~ Kim Yuri

>>>>AUTHOR NOTE

Hallo Pembaca ^^

Terima kasih sampai saat ini masih bersedia menunggu lanjutan ceritaku. Tunggu sampai part akhir yaww🙂. Oh ya, jangan lupa meninggalkan jejak pada kolom dibawah ini. Terima kasih😉

******************************************************************************

LOVE YOU LIKE YOU

Bagian Enam

Minwoo membuka matanya dengan cepat. Ia tidak bisa melihat apa-apa, ruangan ini semuanya gelap. Apa yang terjadi? Apa hari sudah gelap? Minwoo mencoba meraih lampu didekat ranjangnya dan menyalakannya.  Ternyata memang sudah gelap. Berapa jam ia tertidur? Tadi, ia hanya merencanakan untuk tidur 2 jam. Jam berapa sekarang? Apa? Jam 9 malam? Jang Yoon Hee? Apa dia sudah pulang? Ah, sialan!

Dengan cepat Minwoo bangkit dari tidurnya. Ketika dia akan berlari keluar, sebuah sapu tangan jatuh dari dahinya. Minwoo mengambilnya, melihatnya sejenak dan menaruhnya kembali diatas meja. Ia berjalan cepat keluar. Yoon Hee tidak ada dikamar yang dulu dia pakai untuk tidur. Ia berjalan kebawah menuju dapur, tapi, disana pun tidak ada. Lalu, berjalan kekamar mandi, disana tidak ada siapa-siapa. Minwoo menarik nafas. Hanya ada satu tempat yang belum ia lihat. Minwoo berlari kebelakang rumahnya, disana hanya ada suara angin malam dan bunyi ombak laut. Mungkin pikirannya benar, Yoon Hee sudah pulang. Mana mungkin gadis itu masih disini, lagi pula sekarang sudah pukul 9. Memang sebaiknya dia pulang.

Minwoo berjalan kearah dapur, tiba-tiba saja perutnya menggeliat. Ia merasa lapar. Minwoo membuka tudung saji diatas meja. Lihatlah, gadis itu bahkan tidak membuatkan makanan sebelum ia pergi! Jahat sekali. Dengan kesal, ia berjalan keruang tamu, ia sangat terkejut dengan keadaan ruangan ini. Kapan ia meletakkan vas bunga ini disini? Mengapa photo ini bisa menjadi disini? Dan ia baru menyadari, rumah ini menjadi bersih dari sebelumnya. Apakah Yoon Hee yang mengerjakan semua ini sendirian?

Minwoo membalikkan badan dan melihat Yoon Hee sedang terbaring pulas disofa ruang tamu. Gadis itu? Minwoo menggaruk-garuk kepalanya walaupun ia tidak benar-benar merasa gatal. Ia berjalan mendekati Yoon Hee dengan pelan untuk memastikan gadis itu benar-benar Yoon Hee atau bukan.

Minwoo duduk dikursi sebelah Yoon Hee, lalu mendekatkan wajahnya kearah Yoon Hee dan menariknya kembali. Gadis ini memang Yoon Hee. Ternyata dia belum pulang. Minwoo mengalihkan pandangan dari wajah Yoon Hee dan melihatnya lagi. Dia tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya lagi kearah Yoon Hee. Minwoo terus memandangi gadis itu, entah berapa lama. Ia jadi melupakan rasa laparnya, sepertinya ia sudah sangat kenyang sekarang.

“Terima kasih,” gumamnya, “Terima kasih, karena kau masih disini. Terima kasih karena sudah datang. Terima kasih, telah merawatku. Terima kasih karena telah membersihkan rumah ini. Terima kasih untuk…semuanya. ”

Minwoo melihat Yoon Hee membuka matanya. Dan ia bisa melihat dengan jelas sebersit keterkejutan dari dalam mata gadis itu. Minwoo langsung menjauhkan wajahnya dari gadis itu dan Yoon Hee langsung terbangun dan duduk disana dengan salah tingkah. Keduanya saling berdiam diri.

“Kau sudah makan?”

“Apa kau sudah makan?”

Mereka terkejut. Sebelumnya, mereka tidak pernah secanggung ini. Bahkan sekarang, mereka mengucapkan pertanyaan secara bersamaan. Yoon Hee tersenyum kearahnya dengan sedikit malu. Dengan ragu, Minwoo membuka suara, “Belum.” jawabnya, walaupun ia sendiri masih merasa canggung.

Yoon Hee melihat kearahnya sedikit bingung.

“Aku belum makan,” kata Minwoo lagi dengan nada sedikit tegas.

“Oh?” gumam gadis itu, masih terlihat canggung sekali. “Aku juga. Mauku buatkan bubur?”

“Aku ingin makan kimchi.”

“Baiklah, akan kubuatkan kau sup kimchi.” kata Yoon Hee, “Tapi, kau juga harus makan bubur.”

“Ya. Aku tahu.” Jawab Minwoo.

Yoon Hee turun dari kursinya dan berjalan kearah dapur dengan cepat. Sedangkan Minwoo hanya berdiam diri, sebenarnya ia juga sangat malu. Bagaimana jika gadis itu berpikiran macam-macam? Minwoo mengacak-acak rambutnya dengan kesal.

***

Yoon Hee berlari kedapur dan menyandarkan tubuhnya kepintu kulkas. Astaga, apa yang baru saja mereka lakukan? Sebelumnya, mereka belum pernah secanggung itu. Apa karena akhir-akhir ini mereka jarang bertemu? Mengapa ia juga begitu bodoh?! Ia hanya merencanakan tidur setengah jam. Kenapa bisa sampai semalam ini?!

Oh ya, tadi ketika ia terbangun wajah Minwoo sangat dekat dengan wajahnya. Apa yang telah laki-laki itu lakukan padanya? Apa dia… Yoon Hee menyentuh bibirnya dan tersentak, “Jang Yoon Hee, jangan berfikiran macam-macam.” Gerutunya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan menepuk dahinya.

“Apa yang sedang kau lakukan disitu?”

Yoon Hee terlompat kaget dan berdiri menghadap Minwoo, “Tidak. Tidak apa-apa.” Yoon Hee melihat Minwoo yang sedang menuangkan air dingin kedalam gelas, lalu meneguknya.

“Kalau begitu, mengapa masih berdiri disitu? Kau tidak akan memasak?”

Yoon Hee mendengarkan Minwoo yang membuka suara lagi, lalu segera mengambil sayuran dari dalam plastik belanjaannya tadi.

***

Yoon Hee duduk berhadapan dengan Minwoo. Ia memandang Minwoo yang sedang makan dengan lahap. Tapi, apa memang benar tadi dia…? Jika memang benar, awas saja. Dia akan tau akibatnya.

“Mengapa memandangku seperti itu?”

Yoon Hee mendengar suara Minwoo, ia melihat Minwoo yang masih makan dengan lahap. “Tidak.” Jawabnya singkat.

Minwoo menatap Yoon Hee dengan lekat. Yoon Hee menjadi salah tingkah ditatap seperti itu. Yoon Hee memasukkan makanan kedalam mulutnya, alasannya agar Minwoo berhenti menatapnya seperti itu. Tapi, kenyataanya laki-laki itu masih terdiam dan menatapnya. Ia jadi merasa takut. “K…k…kenapa?”

“Jangan berfikir macam-macam. Tadi selama kau tidur, aku tidak menyentuhmu.” Yoon Hee mendengar Minwoo berbicara tanpa melihat wajahnya, “Bahkan sedikit pun aku tidak menyentuhmu. Jadi, hentikan pikiran busukmu itu.”

Yoon Hee menatap Minwoo, “Apa  maksudmu? Aku sama sekali tidak berfikir seperti itu!”

“Siapa yang tahu jika kau sedang berbohong?” Minwoo balik bertanya dengan nada menyindir.

“Apa?”

“Aku bisa melihat ekspresi wajahmu ketika kau berbohong. Kau tidak berbakat untuk berakting.” Minwoo melanjutkan tanpa melihat wajah Yoon Hee.

Yoon Hee menarik nafas dan berkata, “Baiklah, aku akan menghentikannya.”

***

Keesokan harinya…

Yoon Hee mendengar sebuah bel pintu berbunyi dan itu membuatnya terbangun. Ia merapihkan baju dan rambutnya terlebih dahulu sebelum keluar membukakan pintu. Ia melihat jam, waktu baru menunjukkan pukul 6 pagi. Siapa yang datang sepagi ini?

Yoon Hee berjalan kearah pintu dan membukakan pintunya. Ia sedikit bingung dan terkejut melihat seorang wanita setengah baya yang berdiri didepan pintu. Ia segera membungkukkan badan dan memberi salam.

“Selamat pagi,” sapanya.

Wanita itu sedikit terkejut dan bingung sama sepertinya, “Kau siapa?”

“Nama saya, Jang Yoon Hee.” Yoon Hee memberikan senyum terindahnya kepada wanita itu.

“Jang Yoon Hee?” wanita itu sedikit berfikir, “Oh? Kau yang pernah diceritakan anakku itu, ya? Kau yang tinggal bersamanya?”

Yoon Hee menjadi bingung. Apa katanya tadi, anakku? Anaknya? Apakah yang dia maksud anakku itu ‘No Minwoo’? jadi, apakah dia ibunya? Ah, bodoh. Yoon Hee melihat wanita itu dengan canggung dan memaksakan seulas senyuman manis, “Ya, benar.”

“Wah, kau cantik sekali.” Puji ibu Minwoo sambil memandangnya dari atas kebawah, “Badanmu sangat kurus dan kecil.”

Jika boleh jujur, Yoon Hee agak risih dipandang seperti itu. Tapi, dia harus tetap tersenyum dan dia harap senyumnya tidak terlihat konyol, “Terima kasih. Silahkan masuk.”

Yoon Hee mengambil tas yang dibawa oleh wanita itu, sedangkan wanita itu sudah masuk terlebih dahulu kedalam rumah. Sebenarnya, apa yang wanita ini bawa? Apa dia membawa bom? Berat sekali.

“Apa ini semua Minwoo yang mengerjakan? Bersih sekali. Dan sangat mengagumkan. Apa dia sudah menjadi anak yang baik?”

Yoon Hee mendengar wanita itu berseru sangat keras sekali. Memangnya semua ibu seperti itu, ya? Yoon Hee menyusul wanita itu masuk dan menutup pintunya. “Saya akan menyimpan ini dikamar.”

“Nona,” seru wanita itu, menahan Yoon Hee untuk pergi. Yoon Hee membalikkan badan kearah wanita itu, “Siapa namamu tadi?”

Yoon Hee tersenyum dan menjawab, “Jang Yoon Hee.”

Wanita itu mengangguk dan tersenyum, lalu, berjalan kebelakang rumah. Yoon Hee kembali membawa tas wanita itu ke kamar. Ia menarik nafas perlahan. Sungguh, ia merasa sangat gugup. Apakah wanita itu akan memarahinya? Tapi, jika dilihat dari sikapnya, sepertinya wanita yang baik. Yoon Hee keluar dari kamar dan berjalan kekamar Minwoo.

Yoon Hee membuka pintu dan melihat Minwoo yang masih tertidur pulas. Bisa-bisanya laki-laki itu tidur dengan tenang seperti itu. Kalau begini terus, ibunya pasti akan marah. Ia berjalan mendekati Minwoo dan membangunkannya dengan sedikit kencang.

“Minwoo,, Minwoo, ayo bangun,” Yoon Hee berusaha membangunkan Minwoo, tapi, laki-laki itu hanya menjawab, ‘masih mengantuk.’ Ia mencoba membangunkannya lagi. “Ayo, cepat bangun. Ibumu datang.”

Dengan satu sentakan Minwoo terbangun—begitu mendengar kalimat ibunya datang—lalu, menatap Yoon Hee, “Apa kau bilang? Ibuku datang?”

Yoon Hee mengangguk, “Yasudah, cepat sana mandi. Ibumu pasti akan marah melihat kau berantakan seperti ini.”

“Bagaimana kau bisa tahu ibuku akan marah?”

Yoon Hee sedikit berfikir, “Bukankah semua ibu seperti itu?” kali ini Minwoo yang berfikir. Karena tidak sabar menunggu Minwoo yang terlalu lama berfikir, Yoon Hee menarik tangannya untuk cepat pergi dari kasurnya, “Kau berat sekali. Cepat bangun.”

“Baiklah, antarkan aku sampai kamar mandi.” Katanya sambil tersenyum lebar.

“Kau gila! Cepat sana pergi.” Yoon Hee mendorong pelan tubuh Minwoo. Akhirnya, Minwoo menurut dan berjalan kekamar mandi yang berada didalam kamarnya. Sedangkan, Yoon Hee membereskan kamar Minwoo yang berantakan. Belum 1 menit lelaki itu masuk, pintu kamar mandi terbuka lagi, Yoon Hee menoleh dan melihat kepala Minwoo yang keluar dari pintu.

“Kau jangan bilang pada ibuku ya, kalau aku sakit.” Kata Minwoo.

Yoon Hee mengangguk dan melihat Minwoo masuk kembali kedalam. Setelah selesai membereskan kamar Minwoo, Yoon Hee keluar dari kamar untuk membuatkan teh hangat untuk ibu Minwoo. Kemudian, ia menemuinya diruang tamu. Yoon Hee menyimpan teh hangat itu diatas meja dan duduk berhadapan dengan ibunya. Ia gugup sekali.

“Jang Yoon Hee ssi, Berapa lama kau tinggal disini?” tanya ibu Minwoo dengan nada ramah.

Yoon Hee berfikir sebelum menjawab, “Kurang lebih, sekitar 1 bulan.”

“Ceritakan padaku tentang hubungan kalian!” ucap wanita itu. Apakah wanita ini sedang mengintrogasinya?

“Hubungan kami, hanya sebatas teman.” Jawab Yoon Hee sedikit aneh dengan pertanyaan ibu Minwoo.

“Kalian sungguh tidak memiliki hubungan lebih dari itu?” Tanya ibu Minwoo sambil menatapnya.

Yoon Hee terkejut mendengar pertanyaan ibu Minwoo. Mengapa wanita ini bisa berfikir seperti itu? “Tidak.” Sahut Yoon Hee dengan tegas, “Kami sungguh tidak memiliki hubungan apa-apa.”

Yoon Hee bisa melihat wajah wanita itu sedikit kecewa, “Padahal aku sangat berharap kalian berpacaran. Umurnya sudah 22 tahun, tapi, dia belum juga memiliki kekasih.” Wanita itu mendesah dan melihat Yoon Hee kembali. “Berapa umurmu?”

Yoon Hee melihat wanita dihadapannya dan menjawab, “20 tahun.”

“Kalian hanya berbeda 2 tahun.” Gumam ibu Minwoo. “Padahal kalian cocok sekali.”

Yoon Hee melihat wanita dihadapannya sedang bergumam sendiri. Apakah dia sedang berniat menjodohkannya?

“Ibu? Sedang apa ibu disini?”

Yoon Hee mendengar suara Minwoo dan menoleh kearah tangga. Ia melihat Minwoo sedang menuruni tangga dengan cepat dan 10 detik kemudian, Minwoo sudah berdiri diruang tamu dan duduk disampingnya. Ia sangat bersyukur Minwoo datang. Ia merasa sedang diinterogasi oleh ibunya.

“Lihatlah! Kau tidak senang ibu disini? Ibu fikir, kau sedang menangis dan akan bunuh diri karena ibu tidak datang mengunjungimu, ” ucap wanita setengah baya itu.

“Ah, ibu keterlaluan sekali.” Sahut Minwoo, “Aku bukan anak kecil lagi.”

“Baguslah, jika kau tahu kau bukan anak kecil lagi.” Ucap ibu Minwoo. “Ibu hanya menginap 2 hari disini.”

“Ibu tidak bersama ayah?” tanya  Minwoo.

“Tentu saja bersamanya.” Sahut wanita itu, “Ayahmu sedang mengunjungi ayah Youngmin. Kau tahu kan mereka sudah lama tidak bertemu?”

Minwoo mengangguk, “Tentu saja, aku tahu.”

Sekarang ibu Minwoo melirik Yoon Hee. Yoon Hee sedikit gugup dan memaksakan seulas senyum.

“Oh ya, tolong kau jaga pola makannya. Dan kalau bisa, suruh dia makan 5 kali sehari agar tubuhnya besar. Lihatlah, mana ada anak pria sekurus dia.” Kata ibu Minwoo.

“Ibu,” seru Minwoo.

Yoon Hee tidak bisa menahan senyumnya. Jika bisa, ia ingin tertawa sekeras mungkin. Ibunya saja mengatakan seperti itu. Ini lucu sekali menurutnya, “Baiklah.” Sahutnya sambil menahan tawa.

“Lagipula, dia sudah pindah keapartment lain.” Kata Minwoo tiba-tiba. Yoon Hee menghentikan senyumnya dan melihat Minwoo. Apa maksudnya mengatakan seperti itu?

“Benarkah?” Tanya wanita itu kepada Yoon Hee.

Ia sedikit bingung dan mengangguk, “Ya.”

“Mengapa?” tanya wanita itu. Yoon Hee tidak tahu harus menjawab apa. Tapi, untungnya ia tidak harus menjawab karena wanita itu bergumam tidak jelas.

Yoon Hee melirik Minwoo yang berada disampingnya dan mengangkat alis. Laki-laki itu hanya bergumam tidak jelas.

“Bisakah kau menginap disini?” tanya wanita itu.

Yoon Hee tersenyum menyesal, “Maaf, saya harus pulang. Kemarin malam saya sudah menginap.”

Wanita itu tersenyum, “Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Tapi, izinkan aku membuatkan makan malam untuk kalian.”

Yoon Hee tersenyum senang, “Tentu.”

***

Yoon Hee mengambil beberapa daging dari kulkas. Ia sedang membantu ibu Minwoo memasak. Sepertinya, sekarang ia sudah tidak gugup lagi. Wanita ini sangat baik kepadanya. Ia mengajarkan beberapa resep makanan. Seperti, cara memasak mie ramen yang enak, samgyetang dan beberapa masakan lainnya. Ternyata, ibu Minwoo tidak seburuk yang ia kira. Wanita ini cantik, baik, ramah, dan pintar memasak pula. Sepertinya Minwoo beruntung memiliki ibu sepertinya. Ah, ia jadi merindukan kedua orang tuanya.

***

Minwoo memperhatikan Yoon Hee dan ibunya yang sedang memasak didapur. Mereka berdua sangat akrab. Walaupun, belum sehari penuh mereka bertemu, tapi, mereka sudah seperti seorang ibu dan anak. Mungkin karena ibu merasa kesepian. Kakak sudah beberapa tahun pergi ke Amerika dan mungkin dia sangat merindukan kakak.

Mereka tertawa bersama. Mereka terlihat sangat senang. Sepertinya ibu merasa senang dengan Yoon Hee. Gadis itu sangat hebat. Dia bisa secepat itu membuat ibunya luluh. Hanya ada 2 gadis yang membuat ibu senang, selain kakak dan Yuri sekarang ada Yoon Hee. Yoon Hee juga sepertinya sangat senang sekali. Dia pasti merindukan orang tuanya. Gadis yang menyedihkan. Ia harap, Yoon Hee bisa bertemu dengan orang tuanya dan hidup bahagia. Minwoo berbalik lalu, pergi dari tempat itu.

***

“Minwoo, antarkan Yoon Hee pulang, ya.”

Setelah selesai makan malam dan mengobrol sebentar. Yoon Hee meminta izin untuk pulang. Ibu Minwoo memaksa Minwoo untuk mengantarkannya padahal ia sudah bersikeras menolaknya, tapi, wanita itu tetap memaksanya.

Yoon Hee melirik Minwoo yang sedang duduk disofa ruang tamu, “Baiklah,” jawab laki-laki itu sambil berdiri dan mengambil kunci mobilnya yang tergeletak diatas meja.

Ibu Minwoo mengantarkan Yoon Hee sampai didepan rumahnya. Yoon Hee tersenyum dan membungkukkan badan untuk memberi salam, lalu masuk kedalam mobil. Wanita itu tersenyum dan Yoon Hee membalasnya dengan senyum yang sangat manis.

“Padahal, aku sungguh bisa pulang sendiri,” kata Yoon Hee setelah ia tidak melihat ibu Minwoo dari kaca spionnya lagi. “Aku merepotkanmu, ya?”

Minwoo mendesah, “Jangan pernah berfikir seperti itu lagi!”

“Baiklah,” sahut Yoon Hee dan melihat kesamping jalan sekilas lalu kembali melihat Minwoo, “Ucapkan terima kasihku kepada ibumu. Masakannya sangat enak sekali.”

“Baik,” sahutnya tanpa mengalihkan pandangan dari jalan, “Aku lihat, sepertinya kalian sangat akrab sekali.”

Yoon Hee menoleh kearah Minwoo, “Ibumu sangat menyenangkan.” Jawab Yoon Hee, “Sebelumnya, aku kira ibumu orang yang menyebalkan. Tapi, aku salah sekali.”

Yoon Hee bisa melihat Minwoo tersenyum. Lalu, lelaki itu berkata. “Kau boleh mengambilnya kapanpun kau mau.”

Mendengar jawaban Minwoo, Yoon Hee juga tidak bisa menahan diri untuk tersenyum lalu, bertanya, “Minwoo, bagaimana rasanya memiliki seorang ibu?”

Minwoo sedikit terkejut mendengar pertanyaan Yoon Hee yang tiba-tiba itu, “Kenapa?”

Yoon Hee memaksakan seulas senyum, “Tidak apa-apa, aku hanya merindukan orang tuaku. Aku ingin tahu, bagaimana keadaan mereka. Itu saja sudah cukup,” sahut Yoon Hee dengan suara sedikit serak.

“Kau menangis?” tanya Minwoo sambil melihat kearah Yoon Hee sebentar.

“Tidak. Aku hanya sedih bahagia. Terima kasih untuk semuanya.” Kata Yoon Hee sambil melihat kearah Minwoo.

“Kau tahu, kau boleh memanggilku ibu jika kau mau?” kata Minwoo, “Kau boleh memanggilku apapun sesuka hatimu.”

Yoon Hee tertawa kecil, “Baiklah, ibu.”

Mendengar ucapan Yoon Hee, Minwoo tidak bisa menahan diri untuk tersenyum, “Kau juga boleh memanggilku nenek, kalau kau mau.”

“Sepertinya tidak perlu. Itu terlalu berlebihan.” Sahutnya sambil tertawa. Saat ini, ia sudah melupakan perasaan rindunya kepada orang tuanya. Semua ini karena Minwoo. Dia laki-laki paling menyebalkan sedunia. Karena itu, ia sangat menyayanginya.

“Kau terlihat seperti manusia jika tertawa,” kata Minwoo. Yoon Hee menatap Minwoo yang sedang mengemudi. “Maka dari itu, jangan pernah menangis lagi.”

Yoon Hee memandang Minwoo dengan tatapan menerawang, “Aku berjanji, tidak akan menangis dihadapanmu. Aku akan selalu tersenyum…untukmu.”

***

Yoon Hee memasukkan ponselnya kedalam tas. Ia akan pergi untuk bekerja. Ia harus berangkat pagi jika tidak ingin terlambat. Ia rasa hari ini tidak istimewa. Entahlah, ia harap hari ini adalah hari baik untuknya. Ia tidak berharap jika hari ini hari istimewa untuknya, tapi, ia menginginkan semoga ia beruntung pada hari ini.

Yoon Hee memeriksa kembali tasnya, ponsel, buku, dompet, lipgloss, setelah ia merasa tidak ada yang tertinggal, Yoon Hee berjalan kearah pintu. Betapa ia sangat terkejut ketika melihat seorang pria sudah berdiri didepan pintu apartmentnya sambil tersenyum.

“Selamat pagi,” ucap pria itu menyapa ramah Yoon Hee.

Yoon Hee tertawa malu, “Minwoo. Kau mengagetkanku.” Yoon Hee melihat Minwoo tersenyum lebar. “Sedang apa kau disini?”

“Aku sudah bilang padamu, besok aku akan kembali lagi.” Jawabnya.

Yoon Hee tersenyum bahagia. Ia tidak menyangka Minwoo akan benar-benar datang. Ia kira itu hanya ucapan belaka.

“Aku tidak pernah mengingkari janji.” Lanjutnya sambil tersenyum, “Kau sudah siap? Ayo berangkat.”

Minwoo mengulurkan tangannya kearah Yoon Hee. Tanpa berfikir panjang, Yoon Hee menerima tangan Minwoo dan dia menggandengnya sampai didepan mobil. Bahkan, laki-laki itu membukakan pintu untuknya. Ia tidak menyangka, Minwoo memperlakukannya seperti ini.

“Terima kasih,” ucapnya sambil tersenyum lalu masuk kedalam mobil.

Minwoo menyalakan mesin lalu, melajukan mobilnya dengan santai.

“Kau tidur baik hari ini?” tanya Minwoo.

Yoon Hee menoleh kearah Minwoo dan mengangguk, “Ya.” Sahutnya, “Bagaimana denganmu? Kau sudah sarapan?”

“Tentu saja, sudah.”

“Baguslah,” gumam Yoon Hee sambil melihat kesamping jendela mobilnya.

Ia melihat beberapa rumah dan toko dipinggir jalan. Mereka sudah menghias sebagian dari toko mereka untuk menyambut hari natal. Natal tinggal beberapa hari lagi. Ia harap salju akan turun pada hari natal nanti. Ia bingung akan memberi apa kepada teman-temannya nanti.

“Mengapa?” tanya Minwoo. Tanpa Yoon Hee sadari ternyata laki-laki itu dari tadi memperhatikannya.

“Tidak,” jawabnya. “Oh ya pulang kerja nanti, kau ada acara?”

Minwoo sedikit berfikir, “Sepertinya tidak,” jawabnya lalu melanjutkan, “Ada apa?”

“Kita membeli persiapan untuk hari natal nanti,” ucap Yoon Hee. “Aku ingin membeli pohon natal.”

“Untuk apa membeli. Aku punya pohon natal.” Celetuk Minwoo, “Kita pakai punyaku saja.”

Yoon Hee mendesah, “Kau ini. Yasudah, terserah kau saja,” kata Yoon Hee cetus lalu bergumam, “Natal hanya tinggal 4 hari lagi. Ah, aku tidak sabar.”

Tak lama kemudian, mereka tiba didepan toko buku tempat Yoon Hee bekerja. Yoon Hee menundukkan kepala dan keluar dari mobil Minwoo. Ia melambaikan tangan kearah mobil Minwoo dan memperhatikan mobil itu hingga ekornya tidak terlihat lagi lalu, masuk kedalam toko.

“Hey, Jang Yoon Hee.” Seru seorang wanita dari belakang ketika sudah berada diruang  persiapan.

Yoon Hee menoleh dan melihat Ji Ra yang berdiri diambang pintu lalu, berjalan menghampirinya. Ia menunjukkan empat lembar ticket ketika sudah berada dihadapannya.

“Apa itu?” Tanya Yoon Hee.

“Ticket showcase balet,”

“Aku bilang aku tidak suka balet,”

“Kau mau menerimanya atau tidak?”

Yoon Hee sedikit berfikir, lalu menjawab, “Baiklah, berikan padaku.”

Yoon Hee meliha Ji Ra tersenyum senang, “Aku tunggu kau disana pukul 07.00,”

“Baiklah,” jawab Yoon Hee ketus.

Ji Ra tertawa kecil, “Oh ya, aku lihat tadi Minwoo mengantarkanmu, ya?”

“Memang kenapa?”

“Kalian berpacaran, kan?”

“Tidak,”

“Bohong. Aku tahu, kalian memang berpacaran.”

“Berhenti bicara omong kosong,”

“Minwoo dan Yoon Hee cocok sekali,”

***

Yoon Hee bersiap-siap untuk pergi kerumah Minwoo malam ini. Ia sudah membereskan apartmentnya sejak tadi pagi. Dan sekarang, ia harus pergi kerumah Minwoo untuk menghias pohon natal. Natal hanya tinggal 2 hari lagi. Semua orang didunia ini pasti sedang bersiap-siap untuk merayakannya. Begitupun dengannya, ia tidak ingin terlambat merayakannya juga.

Setelah merasa tidak ada yang tertinggal, Yoon Hee keluar dari kamarnya dan mengunci pintunya terlebih dahulu. Malam ini sangat dingin sekali, jadi ia menggunakan mantel panjang yang tebal berwarna coklat, syal berwarna capucinno, dan topi hangat berwarna cokelat.

Selesai mengunci pintu apartment, Yoon Hee keluar dan melihat sebuah mobil berwarna hitam sedang terparkir didepan gedung apartmentnya. Yoon Hee merasa kenal dengan mobil itu. Ia menghampirinya dan melihat kepintu jendela mobil itu.

“Permisi,” sapa Yoon Hee kepada seorang pria yang sedang bersandar pada kursi pengemudi. Tentu saja Yoon Hee tau siapa laki-laki itu.

Minwoo membalikkan badan dan melihat Yoon Hee yang sedang tersenyum berseri-seri, “Oh? Kau sudah siap? Ayo masuk,”

Yoon Hee membuka pintu mobil dan masuk kedalamnya. Minwoo menjalankan mobilnya dengan pelan seperti biasa. Sepertinya, Minwoo tipe orang yang tidak suka mengendarai apapun dengan kecepatan tinggi. Walaupun, ia bukan anak yang baik tapi ia yakin Minwoo tidak ceroboh.

“Oh ya, ibuku memberikan hadiah untukmu.” Ucap Minwoo.

Yoon Hee menoleh kearah Minwoo dan mengangkat alis, “Ibumu sudah pulang?”

“Tadi siang aku mengantarkannya kebandara. Katanya ia akan pergi ke Amerika untuk menemui kakak,” Jelasnya.

“Mengapa cepat sekali? Kenapa tidak merayakan natal disini?” Tanya Yoon Hee dengan nada terkejut.

“Tahun lalu, mereka sudah merayakan disini. Sekarang, mereka ingin merayakan natal disana. Katanya, agara anak-anaknya tidak iri.”

Yoon Hee berfikir sejenak dan berkata, “Aku pikir ibumu cukup adil.” Kata Yoon Hee sambil tersenyum.

“Ya, memang.” Sahut Minwoo. “Dia memberikanmu hadiah. Bahkan untukku pun dia tidak menyiapkannya.”

Yoon Hee tertawa kecil mendengar celotehan Minwoo, “Jangan berfikir seperti itu. Mungkin ibumu akan menghadiahkanmu sesuatu yang lebih indah daripada sebelumnya.”

Melihat Yoon Hee tertawa, Minwoo jadi ingin tersenyum, “Mungkin kau benar,”

Tak lama kemudian, Minwoo memarkirkan mobilnya dihalaman rumahnya. Mereka sudah tiba didepan rumah Minwoo. Yoon Hee membuka sabuk pengaman dan turun dari dalam mobil.

“Ayo masuk, diluar sangat dingin.” Kata Minwoo sambil menggandeng tangan Yoon Hee. Yoon Hee melihat tangan Minwoo yang menggandeng lengannya. Jujur saja, ia merasa sedikit terkejut. Tapi, ia tidak bisa berkutik. Ia hanya terdiam dan membiarkan dirinya ditarik oleh lelaki itu.

Setiba didalam rumah, Minwoo menyalakan penghangat ruangan dan berjalan menuju ruang keluarga untuk memulai menghias pohon. Diikuti Yoon Hee yang berjalan dibelakangnya.

Yoon Hee mengambil beberapa lampu kecil berwarna-warni dan menempelkannya kepohon. Begitupun Minwoo, dia menempelkan beberapa boneka kecil dibawah bola lampu. Sambil menghias pohon sesekali mereka bercanda dan tertawa, Yoon Hee merasa hari ini ia sangat bahagia.

Minwoo menempelkan nama MW ❤ YH dipohon natal itu. Yoon Hee sangat terkejut melihat tulisan itu. Tapi, ia hanya tersenyum kearah Minwoo dan membalas dengan tulisan, Stupid Boy.

Minwoo sedikit bingung dan mengangkat sebelah alisnya. Tapi, Yoon Hee tidak ingin menjelaskan dan ia hanya tertawa kecil. Begitupun Minwoo, ia tidak ingin menanyakan lebih lanjut lagi dan ikut tertawa bersamanya.

Setelah selesai menghias pohon, mereka memutuskan untuk istirahat sebentar. Yoon Hee duduk dibawah pohon sambil meluruskan kakinya begitupun dengan Minwoo.

“Oh ya, ada titipan untukmu,” kata Minwoo tiba-tiba teringat titipan dari ibunya untuk Yoon Hee dan langsung berjalan kearah sebuah meja.

“Apa ini?” Tanya Yoon Hee setelah Minwoo kembali ketempatnya dan memberikannya sebuah kado.

“Entahlah,” sahutnya, “buka saja.”

Yoon Hee mulai membuka kado itu dan ia melihat sebuah mantel jas berwarna hijau tua dengan bulu-bulu hangat dibagian leher dan lengan tangannya. Disana juga terdapat sebuah topi hangat musim dingin dan syal dengan bulu-bulu yang lembut. Yoon Hee melihat kearah Minwoo dengan memasang wajah bingung, “Semua ini untukku?”

“Jika bukan untukmu, untuk apa dia membungkusnya dan memberikannya padamu?” celetuk Minwoo sedangkan Yoon Hee hanya mendesah, “Tapi, dia memberikan ini untukmu?” gumam Minwoo tidak jelas.

“Apa?” tanya Yoon Hee sambil mengangkat alis.

“Itu mantel kesukaan ibuku,” sahut Minwoo, “Tapi, dia memberikannya padamu? Apakah hubungan kalian begitu akrab?”

Yoon Hee mengangkat bahunya, ia juga tidak tahu, “Entahlah, tapi, kami baru saja bertemu sehari.”

“Apa ibuku menyukaimu? Maksudku, dia tidak mungkin memberikan barang kesayangannya untuk orang sembarangan. Kurasa dia merasa cocok denganmu.” Kata Minwoo sambil memandang jas mantel yang dipegang Yoon Hee.

“Maksudmu?”

“Katakan padaku, saat kalian mengobrol berdua apa yang kalian bicarakan?”

“Apa?”

“Apakah dia bertanya macam-macam?”

Yoon Hee sedikit berfikir, “Ya.” Minwoo mengangkat alis meminta Yoon Hee untuk menjelaskan, “Ya, dia menanyakan hubungan kita.”

Minwoo mendesah sambil melihat kedepan, “Sudah kuduga.”

“Memang kenapa?” Tanya Yoon Hee sambil memandang Minwoo.

Minwoo melihat kearah Yoon Hee, “Dia ingin aku segera menikah. Dia selalu mendesakku dengan pikiran jika aku tidak menikah pada umurku sekarang dia akan menerima dosa yang besar,”

Yoon Hee tertawa, “Apakah dia benar-benar berfikir seperti itu?” tanyanya sambil tertawa.

“Mungkin,”

Dengan perlahan, Yoon Hee menghentikan tawanya dan baru teringat sesuatu. Ia meraih tasnya dan mengambil sesuatu didalam tas itu. Setelah menemukan apa yang dicarinya, Yoon Hee mengangkat 2 buah lembar tiket showcase balet kearah Minwoo. Minwoo memandang kedua tiket itu dengan pandangan aneh. Seakan tahu maksudnya, Yoon Hee menjelaskan, “Temanku—Ji Ra—dia memberikanku 2 lembar tiket showcase balet yang akan diadakan di Seoul malam natal nanti. Aku sendiri juga bingung akan menggunakannya untuk apa. Aku pribadi, jujur aku tidak suka balet. Jadi, aku berencana untuk menyimpannya saja. Tapi, aku langsung teringat padamu. Jadi aku harap, malam natal nanti kau tidak ada acara.”

“Kau bilang, kau teringat padaku?”

Yoon Hee mendesah, “Kau jangan terlalu percaya diri. Aku juga baru teringat barusan.”

Minwoo tersenyum jail. “Baiklah, jadi kau mengharapkan aku datang?”

“Jika kau mau,”

“Tapi, kau harus bersedia menjadi pacarku,”

Yoon Hee terkejut mendengar ucapan Minwoo. Minwoo suka bercanda dan berbicara asal. Ia sudah terbiasa dengan ucapan Minwoo yang selalu asal bicara. “Kalau tidak mau datang yasudah. Aku akan mengajak Youngmin.”

Minwoo menarik kembali ticket yang direbut oleh Yoon Hee dari tangannya dan menatap gadis itu, “Aku akan datang,” katanya tegas, “Besok aku akan menjemputmu!”

Yoon Hee mengangguk, “Bagus,”

Mereka saling terdiam sejenak sebelum Minwoo bertanya, “Kau sudah menyiapkan hadiah natal untukku?”

“Apa?” Tanya Yoon Hee sambil melihat kearah Minwoo, “Kau berharap hadiah dariku?”

“Kau terlalu percaya diri,” sahut Minwoo, “Yasudah, tidak perlu memberiku hadiah. Berarti, kau juga tidak akan mendapatkan hadiah dariku.”

Yoon Hee tersenyum jail, “Kau marah, ya?” Tanyanya sambil tertawa dan melanjutkan, “Tadi apa kau bilang? Kau sudah menyiapkan hadiah untukku?”

“Tidak jadi,”

Yoon Hee tidak menghiraukan jawaban Minwoo yang ketus. Dia hanya melihat-lihat kesekeliling ruangan, “Dimana kau menyimpannya? Aku boleh lihat?”

Minwoo menghadap kearahnya, “Dasar bodoh! Jika kau melihatnya namanya bukan kejutan.”

Yoon Hee menggerutu tidak jelas sambil menatap Minwoo lalu, berkata, “Baiklah, besok aku akan menyiapkan hadiah untukmu.”

“Itu wajib,” kata Minwoo sambil tersenyum masam kearah Yoon Hee.

Mereka terdiam sejenak. Yoon Hee gelisah, apakah ia harus menanyakan ini atau tidak. Tapi, ia pikir menanyakannya juga tidak masalah. Daripada mereka saling berdiam diri seperti ini. Yoon Hee berdehem, “Minwoo,”

“Ya?” Minwoo melihat kearahnya.

Yoon Hee memalingkan pandangan, “Bagaimana keadaan kak Yuri sekarang?”

“Entahlah,” jawab Minwoo dengan nada sedikit bergumam sambil melihat kedepan lalu, kembali lagi melihat kearah Yoon Hee sambil tersenyum. “Sudah dua minggu terakhir ini, aku tidak melihatnya.”

Yoon Hee menundukkan kepala. Kak Yuri pergi? Yoon Hee jadi teringat saat ia mengatakan bahwa Minwoo menyukainya kepada Yuri. Tapi, apa Yuri terlalu terkejut? Ia pikir, Yuri sudah bisa merasakannya. Yoon Hee melihat Minwoo dengan cemas.

“Kau tenang saja. Aku sudah mengunjungi rumahnya. Ibunya bilang, Yuri memang sedang pergi, tapi, dia tidak kabur,” jelas Minwoo.

Sepertinya, Minwoo salah mengartikan tatapannya. Yoon Hee memandangnya dengan cemas bukan karena ia khawatir tentang kabar kak Yuri pergi. Tapi, ia gelisah. Apakah dia harus memberitahu Minwoo jika ia sudah memberitahu kak Yuri tentang perasaan Minwoo?

“Mungkin dia sedang menenangkan diri,” lanjut Minwoo, “Tapi jujur saja, aku merasa kasihan padanya. Dia terlalu dalam mencintai seseorang.”

Yoon Hee melihat Minwoo dan mengangguk. Ia tidak bisa berkomentar apa-apa jadi ia hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. Minwoo membalasnya dengan senyuman. Jadi, ia rasa itu sudah cukup.

“Baiklah,” seru Minwoo, “Besok aku akan menjemputmu jam tujuh,”

“Ya,” katanya, “Aku tidak sabar untuk itu,”

“Kau mau pulang sekarang?” tanya Minwoo sambil menatapnya dengan alis terangkat.

“Kurasa, aku memang seharusnya pulang.” Kata Yoon Hee sambil tersenyum. Ia rasa senyumannya sedikit terlihat canggung.

“Aku akan mengantarkanmu,”

***

TBC…

3 episode lagi yaww,,😀

Maaf kalau ceritanya sedikit ngawur.. “)

MARHABAN YA RAMADHAN, sebentar lagi kan bulan puasa, author minta maaf ya kalau author punya salah atau ada kata-kata yang kurang berkenan dihati para readers. Hehe🙂

Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca FFku ini,,🙂

This entry was posted by boyfriendindo.

7 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Love You Like You – Chapter 06

  1. waaah… minwoo oppa… udh minta yoon hee jdi pacarnya… semoga dikelanjutan adaa fill sdih dri minwoo yg cemburu ke youngmin oppa sama yoon hee, dan semog ortu yoo hee ketemu ya.. aku penasaran sia ya.. ortunya ..????

    hehee… ditunggu part selanjutnya…🙂

  2. Lanjuttttt dong…… keren nihhhhh……
    Ehhhh tapi YoungMin oppa sama sapa…..???
    kelihatanya Yoon Hee bakal ma Minwoo……
    huaaa Youngmin ma aku aja thor…..
    #plaxxx ngarep bgt
    Biar adil,, nanti Youngpa dipasangin ma namkorku ” Park Hyo Ra ”
    *degebukin Royalties*
    Daebaxxx thor ceritanya….
    gax sabar tunggu part selanjutnya….
    buat author’a FIGHTING……..!!!!

  3. Aaaaauuuttthhhoooooorrrr!!!!! Daebak FF nya bagus banget. Oya lanjutnya jangan lama2 ya, gak sabar nih *piss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: