[FANFICT/FREELANCE] Love You Like You – Chapter 07

Title 
: Love You Like You – Chapter 07
Author   : Aryn Chan (@1998aryn)
Genre         : Romance
Rating          : G
Type   : Chaptered
Main Casts      
: ~ No Minwoo  ~ Jang Yoon Hee

  ~ Jo Youngmin

  ~ Kim Yuri

>>>>AUTHOR NOTE

Hallo Pembaca ^^

Sekali lagi terima kasih banyak sudah membaca FFku ini. Terimakasih sudah menyukainya. Dan terima kasih sudah memberi komentar pada part sebelumnya😉

Aku harap kalian merasa terhibur dan merasakan apa yang dirasakan tokoh-tokoh didalam FF ini. Selamat membaca. Jangan lupa kritik dan sarannya yaww :D   ^^

LOVE YOU LIKE YOU

Bagian Tujuh

Setelah selesai merias diri, Yoon Hee berdiri didepan cermin dan menatap dirinya sendiri. Ia mengenakan baju pemberian ibu Minwoo. Apakah dia sudah terlihat cantik dengan pakaian ini? Ia harap begitu. Ia tidak ingin mempermalukan diri sendiri.

Yoon Hee melihat ponselnya yang berdering diatas meja dan mengambilnya. Ia tersenyum setelah membaca nama yang bergerak dilayar ponselnya. Ternyata  dari Minwoo. Ia segera membaca pesan yang baru saja masuk.

“Aku sudah ada didepan gedung apartment. Cepat keluar.”

Yoon Hee langsung bergegas. Ia menyerobot tasnya yang berada diatas meja dan tidak lupa, ia membawa sebuah kado yang akan diberikan kepada Minwoo dan sebuah parcel berisi kue kering buatannya. Tadi siang ia menyempatkan diri membuat kue untuk teman-temannya termasuk Ji Ra, Youngmin dan laki-laki itu.

Yoon Hee berjalan cepat menuruni tangga dan tak lama kemudian ia tiba ditempat parkir. Ia melihat kesekeliling. Tapi, tidak ada mobil Minwoo. Ia mencari sekali lagi dengan teliti. Banyak sekali mobil yang mirip dengan mobil milik Minwoo. Baru saja ia akan mendekati sebuah mobil yang sama tiba-tiba saja, ia merasa lengannya ditarik oleh seseorang. Tentu saja ia terkejut dan tanpa sadarnya ia menjerit sangat kencang. Seseorang itu membekam mulutnya.

“Jangan berteriak!” Kata laki-laki itu setengah berbisik.

Yoon Hee merasa ia mengenali suara itu. Akhirnya, ia memberanikan diri untuk membuka matanya pelan dan melirik kebelakang. Ia melihat dengan jelas wajah seseorang itu yang ternyata adalah No Minwoo.

Jantung Yoon Hee masih berdebar dengan cepat. Dengan tangan Minwoo yang masih membekam mulutnya, Yoon Hee melihat kesekeliling dan melihat orang-orang disekitarnya sedang memperhatikan mereka berdua.

Minwoo tersenyum dan menundukkan kepala, “Maafkan saya. Ini hanya salah paham,” katanya kepada orang-orang disekitar sambil melepaskan tangannya dari mulut Yoon Hee.

Yoon Hee langsung membenarkan pakaiannya ketika Minwoo melepaskan tangannya dari mulutnya. Dan ia mendengar beberapa rentetan kata dari orang-orang disekitarnya.

“Oh, aku kira ada apa,”

“Ternyata hanya salah paham,”

“Mereka membuatku terkejut,”

“Aku kira ada penguntit pada malam natal seperti ini,”

“Mereka sangat menggelikan,”

“Ada-ada saja anak muda sekarang ini,”

Yoon Hee hanya tersenyum geli mendengar setiap ucapan orang-orang kepada mereka sambil menggumamkan permintaan maaf dan membungkukkan badannya dalam-dalam. Setelah orang-orang tidak memperhatikannya lagi, Yoon Hee melihat kearah Minwoo kesal. “Mengapa mengagetkanku?”

Minwoo menghadapnya dan menatapnya lalu menjawab dengan santai, “Aku tidak mengagetkanmu. Dari tadi aku memang dibelakangmu,”

“Kenapa mengikutiku secara diam-diam?”

Minwoo tersenyum lebar, “Maafkan aku. Hari ini aku tidak ingin marah-marah,” ucap Minwoo sambil tersenyum padanya dan melanjutkan, “Sekarang ayo berangkat.”

Minwoo menarik lengannya dengan pelan. Sebenarnya Yoon Hee masih merasa kesal. Tapi, saat ini dia memang tidak ingin marah-marah. Ia ingin membuat malam ini indah. Karena ini adalah malam spesial.

“Oh ya, ini untukmu.” Kata Yoon Hee sambil menyodorkan sebuah kotak kearah Minwoo setelah lelaki itu menjalankan mobilnya.

“Apa ini?” tanya Minwoo sambil melihat sekilas kearah benda yang disodorkan kearahnya.

“Kau tidak lihat ini kado?” gerutu Yoon Hee pelan dan melanjutkan sambil tersenyum, “Ini hadiah untukmu,”

“Untukku?”

“Tentu. Memang untuk siapa lagi?” kata Yoon Hee sedikit kesal mendengar pertanyaan Minwoo yang berpura-pura bodoh.

Minwoo tersenyum senang, “Kau benar-benar memberikan hadiah untukku?” tanyanya kepada Yoon Hee dan itu membuat Yoon Hee semakin kesal. “Tapi, terima kasih,”

Minwoo menerima hadiah dari Yoon Hee sambil tersenyum, begitupun Yoon Hee ia tersenyum karena Minwoo senang menerima hadiah darinya walaupun tadi ia sempat merasa kesal dengan sikap Minwoo yang selalu berpura-pura.

“Kau tenang saja, hadiahmu ada dibagasi mobil ini.”

Yoon Hee melihat kearah Minwoo lalu, mengangguk sambil tersenyum. Ia mengambil sebuah kantong plastik yang ada dibawah kursinya dan memperlihatkannya kepada Minwoo.

“Apa lagi itu?”

“Kue kering,”

“Kue kering?”

Yoon Hee tersenyum dan mengangguk, “Ini untukmu,” katanya sambil menyimpan plastik berisi kue kering itu ke kursi belakang penumpang, “Selamat Hari Natal,”

Minwoo juga ikut tersenyum, “Selamat Hari Natal,” kata Minwoo kepada Yoon Hee. Setelah melihat gadis itu membalas senyumnya, Minwoo kembali memperhatikan jalanan. “Oh ya, bagaimana dengan temanmu yang memberikan tiket itu?”

“Astaga,” seru Yoon Hee sangat terkejut dan bingung. Ia mencari ponsel didalam tasnya. “Aku belum menghubunginya seharian ini,” katanya sambil mencari no ponsel Ji Ra didalam kontak ponselnya.

“Bagaimana bisa?”

Sebelum Yoon Hee sempat menjawab pertanyaan Minwoo, nada sambung berhenti dan terdengar suara diujung sana.

“Hallo,”

“Hallo. Kau sudah disana?”

“Kau ada dimana?”

“Aku sedang dijalan.”

“Bersama siapa?”

Yoon Hee tidak langsung menjawab. Ia menoleh sebentar kearah Minwoo dan berbicara dengan pelan, “Bersama Minwoo,”

“Sepertinya Minwoo bisa menemanimu,”

Yoon Hee terkejut mendengar ucapan Ji Ra, “Apa maksudmu?”

“Biar aku jelaskan. Maaf sekali, malam ini aku tidak bisa menemanimu. Aku benar-benar tidak bisa. Tadi siang ibuku menelepon jika aku harus kembali ke Deugu. Jadi aku harap kau tidak marah, ya.”

“Kau…”

“Aku tutup dulu, ya? Nanti aku hubungi lagi. Sekali lagi, maafkan aku. Selamat Hari Natal.”

Sebelum Yoon Hee sempat membalas perkataan Ji Ra, dia sudah memutuskan hubungan dengannya, “Halo, halo…” teriaknya lalu melihat ke layar ponselnya. Yoon Hee mendesah, “Dasar, mengapa mematikan ponselnya sebelum aku selesai berbicara?”

“Kenapa?”

Yoon Hee mendengar Minwoo bertanya padanya. Ia mengalihkan pandangan kearah Minwoo, “Katanya dia tidak jadi datang.”

“Apa?”

“Menyebalkan sekali,” gerutunya kesal.

“Tidak apa-apa kan kalau berdua saja?”

Yoon Hee menoleh kearah Minwoo lagi sambil mengerutkan kening.

“Berdua lebih menyenangkan,” katanya, “Kau mau merusak malam natal yang indah ini hanya gara-gara temanmu tidak jadi ikut?”

Yoon Hee menggeleng sebagai jawaban tidak. Ia melihat Minwoo tersenyum dan kembali memperhatikan jalanan. “Setidaknya dia harus menghubungiku dulu jika tidak jadi,” gerutu Yoon Hee pelan.

***

Yoon Hee dan Minwoo sudah tiba didepan gedung teater yang menjadi tempat dimana showcase balet akan dimulai. Mereka masuk kedalam gedung yang sudah dihiasi pernak-pernik hari natal seperti biasa. Yoon Hee memberikan tiket kepada penjaganya lalu masuk kedalam ruangan yang sudah dipenuhi oleh banyak orang.

Mereka mengambil tempat duduk ditengah. Ternyata banyak orang yang berminat menonton showcase ini. Ia melihat semua kursi penuh oleh pengunjung yang kebanyakan adalah pelajar. Ia tidak yakin ia akan menyukai acara ini, dari awal ia memang tidak suka dengan balet.

Setelah semua kursi penuh, lampu ruangan dimatikan kecuali, lampu yang menyorot kearah para penari. Para penari muncul dari belakang panggung dan mulai mengayunkan tangannya. Mereka tidak hanya sekedar menari tetapi, juga bercerita.

Entah mengapa, Yoon Hee terharu dengan tarian dan cerita yang mereka bawakan. Dia memang tidak mengerti dengan seni, tapi, entah kali ini dia mengerti apa yang mereka bawakan. Mungkin karena mereka membawakannya dengan penuh penghayatan dan kerja keras. Mereka sangat mengagumkan.

Sudah 2 jam lebih acara ini berlangsung, para penari berkumpul menjadi satu diatas panggung dan menundukkan kepalanya secara bersamaan sebagai tanda hormat dan terima kasih. Lampu ruangan sudah kembali dinyalakan. Seluruh orang didalam ruangan berdiri dan memberikan tepuk tangan dengan penuh kekaguman. Termasuk dirinya sendiri. Ia begitu bersemangat. Jujur saja, ia baru pertama kali menonton showcase seperti ini. Dan jika boleh jujur, memang showcase ini sangat luar biasa menakjubkan.

Yoon Hee dan Minwoo keluar dari dalam gedung dan berjalan menuju tempat parkir.

“Kau menikamati acaranya?” tanya Minwoo kepada Yoon Hee sambil berjalan keluar ruangan.

“Tentu,” ucapnya, “Memang, awalnya aku kira acaranya akan membosankan. Tapi, sekarang aku sangat menyukainya.”

“Benarkah?” tanya Minwoo tidak percaya.

“Ya,” jawab Yoon Hee tegas sambil tersenyum memandangi Minwoo.

“Salju turun!” Seru Minwoo tiba-tiba dan menyentakkannya dari lamunannya.

Yoon Hee mendongak keatas dan melihat salju-salju yang melayang mengenai pipinya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata dan tersenyum. Salju turun pada hari natal, pikirnya senang. Orang-orang yang berjalan disekitarnya juga terdiam sejenak dan menengadah menyaksikan salju yang turun.

Minwoo juga ikut menyaksikan salju turun sebelum berkata, “Kau sudah mengajakku ketempat seperti ini. Dan aku sangat terhibur,” kata Minwoo yang membuat Yoon Hee tidak mengerti dan mengangkat alis, “Kali ini aku yang akan mengajakmu kesuatu tempat.”

“Kemana?” tanya Yoon Hee agak penasaran dengan Minwoo yang penuh teka-teki.

“Ikut aku,” Minwoo menarik tangan Yoon Hee cepat.

“Sebenarnya kita mau kemana?” Tanya Yoon Hee ketika mereka sudah berada didalam mobil Minwoo.

Minwoo memasang sabuk pengamannya terlebih dahulu sebelum menjawab, “Kau tahu Ice Skating Rink Grand Hyatt Hotel?”

“Bukankah itu tempat bermain ice skating dihotel berbintang lima Seoul? ” seru Yoon Hee dengan nada terkejut.

“Benar,” jawabnya sambil melajukan mobilnya, “kita akan kesana sekarang.”

“Apa?” Tanya Yoon Hee masih menggunakan nada terkejut.

“Nada bicaramu itu, bisakah menggunakan nada biasa saja?”

Yoon Hee menatap Minwoo lalu, ia menarik nafas dan bertanya dengan sedikit halus, “Apakah kita akan benar-benar kesana, No Minwoo ssi?”

“Kenapa?”

“Kau tahu aku sama sekali tidak bisa bermain ice skating?”

“Aku bisa mengajarimu,”

“Tapi, tetap saja…”

“Sudah jangan banyak bicara!” Kata Minwoo memotong ucapan Yoon Hee, “Kau akan menyukainya. Atau mungkin kau akan jatuh cinta kepadaku.”

Yoon Hee memandang Minwoo yang penuh keyakinan, lalu tertawa kecil, “Kau ini, terlalu percaya diri,” celetuknya.

Minwoo mengangkat bahu acuh tak acuh sambil menatap Yoon Hee. Selama diperjalanan, mereka lebih banyak diam. Yoon Hee sendiri hanya melihat keluar jendela. Ia sangat berharap, nanti ia tidak akan membuat malu dirinya sendiri dan juga Minwoo.

Tapi tadi, apa maksud lelaki itu. Ia tahu Minwoo memang selalu asal bicara. Dia selalu mengucapkan kata-kata tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Dan dia juga selalu membuat orang lain bingung dengan ucapannya.

***

Setengah jam lebih kemudian mereka tiba disebuah hotel berbintang di Seoul. Seperti dugaannya, tempat bermain ice skating dihotel ini cukup ramai. Ia benar-benar merasa gugup.

“Minwoo, aku benar-benar akan mempermalukanmu. Aku tidak bisa bermain ice skating.” Kata Yoon Hee dengan maksud merubah pikiran lelaki itu.

“Kau pikir aku bisa,” ucap Minwoo acuh tak acuh.

“Minwoo aku serius. Aku memang menguasai semua permainan. Tapi, kali ini aku sungguh tidak bisa melakukannya.” Yoon Hee mengulang sekali lagi dengan tegas dan nada kekhawatirannya terdengar kental sekali dalam ucapannya.

Minwoo menarik nafas sejenak dan memegang bahunya sambil tersenyum, “Jangan khawatir. Aku ada disini….bersamamu.” Ucapnya sambil menatap mata Yoon Hee, seakan meyakinkannya, selama dia ada disampingnya semuanya akan baik-baik saja.

Yoon Hee terdiam. Jantungnya kembali tidak karuan. Ia mencoba mengatur nafasnya. Setelah ia rasa ia bisa kembali bernafas dengan normal, ia tersenyum dan menuruti kata Minwoo.

Mereka masuk kedalam tempat permainan. Setelah mengenakan pakaian lengkap, Minwoo langsung mengajak Yoon Hee terjun ketempat permainan. Sungguh, entah berapa kali jantungnya berdetak selama 1 detik. Ia sangat gugup. Sebenarnya, ia senang mencoba hal baru. Tapi, entah kali ini ia gugup sekali. Apakah karena bersama Minwoo ia menjadi merasa gugup? Apakah Minwoo yang membuatnya gugup?

Yoon Hee menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menjernihkan pikirannya. Ia menoleh kearah Minwoo dan laki-laki itu tersenyum dan meraih tangannya.

“Kau siap?”

Minwoo menarik tangannya dan menuntunnya pelan. Yoon Hee berpegangan erat dengan tangan Minwoo seakan ia takut terjatuh dan mempermalukan dirinya sendiri. Minwoo mulai mengajarinya cara bermain ice skating. Laki-laki itu juga memegang tangan Yoon Hee dengan lembut seakan ia takut melukai gadis itu.

Minwoo mengayunkan tangan Yoon Hee dan menariknya memutari arena permainan. Setelah beberapa saat, Minwoo sudah berani melepaskan tangannya. Ia ingin melihat sejauh apa gadis itu menangkap apa yang barusan dijelaskannya. Ternyata dalam waktu kurang dari satu jam, Yoon Hee bisa memberikan hasil yang baik. Gadis itu, sudah bisa bermain ice skating walaupun masih sedikit terjatuh-jatuh.

“Minwoo ayo cepat tangkap aku. Sekarang aku sudah bisa bermain ice skating.” Seru Yoon Hee menyombongkan diri.

Minwoo memandang gadis itu yang berseluncur mengelilingi arena permainan, lalu menggerutu sambil mengejarnya, “Sombong sekali kau.”

Mereka bercanda bersama diatas arena es yang dingin. Yoon Hee dan Minwoo tertawa bersama. Mereka sangat menikmati malam ini.

***

Setelah merasa lelah bermain ice skating, mereka keluar dari arena permainan itu. Yoon Hee sangat senang sekali malam ini. Coba saja jika tadi dia tidak menuruti kata Minwoo. Pasti dia akan sangat menyesal. Untung saja, laki-laki itu tadi memaksanya untuk ikut. Ah, dia merasa malam ini sangat indah. Ini benar-benar malam natal paling hebat.

Eh, apa tadi? Apakah dia senang karena bersama Minwoo? Apakah karena bersama Minwoo ia jadi menyukainya? Dan ada apa dengan hatinya? Dia selalu merasa gugup saat Minwoo menatapnya. Bukan hanya Minwoo tapi, semua laki-laki. Ia akan gugup jika ada laki-laki yang menatapnya. Tapi, Minwoo berbeda. Walaupun Minwoo tidak menatapnya, ia tetap saja merasa gugup.

“…Atau mungkin kau akan jatuh cinta kepadaku.”

Tiba-tiba ia teringat ucapan Minwoo saat mereka akan menuju tempat ini. Benarkah? Apakah dia mulai tertarik dengan laki-laki itu? Sejak kapan? Atau apakah mungkin ia sudah jatuh cinta pada Minwoo sebelum dia mengatakannya? Ah, tidak…

“Kita pulang sekarang?” terdengar suara Minwoo yang memotong jalan pikirannya yang mulai mengawur. Yoon Hee melihat laki-laki itu sedang menatapnya dengan alis terangkat.

“Eh, iya.” Jawab Yoon Hee sedikit salah tingkah.

Yoon Hee membuka pintu mobil dan masuk kedalam. Dalam perjalanan, Yoon Hee hanya memandang keluar jendela begitupun Minwoo dia terlalu fokus terhadap jalanan. Walaupun begitu, sesekali mereka mengobrol, tapi, mereka lebih banyak diam daripada mengobrol.

Hingga akhirnya, ketika mereka sudah mencapai setengah dari perjalanan mereka, mobil Minwoo mendadak berhenti. Dan itu membuat mereka terkejut.

“Ada apa?” Tanya Yoon Hee sedikit bingung.

“Entahlah, sepertinya kita kehabisan bahan bakar.” Jawab Minwoo.

“Apa? Bagaimana bisa?” kata Yoon Hee panik, “Lalu, apa yang harus kita lakukan?”

“Dorong mobilnya,”

“Apa?”

“Kita berada ditengah jalan. Cepat dorong mobilnya,”

“Tapi, aku bagaimana…” Yoon Hee mendesah dan langsung turun dari dalam mobil. Ia melihat beberapa mobil yang mengantri dibelakang mobil Minwoo. Yoon Hee menundukkan badannya dalam-dalam sebagai permintaan maaf dan menyuruh beberapa mobil untuk mendahuluinya. Setelah itu, ia mendorong mobil Minwoo dengan sekuat tenaganya. Ia terus mendorongnya hingga tepi dibahu jalan.

Dengan nafas terengah-engah, Yoon Hee menghampiri Minwoo. “Lalu, kita harus bagaimana?”

“Entahlah. Pom bensin sepertinya jauh,” Minwoo keluar dari dalam mobilnya sambil mengenakan sarung tangannya.

“Ah, bagaimana ini?” Yoon Hee berjalan kesana kemari dengan wajah panik, cemas, dan khawatir. “Bagaimana jika kita menelepon seseorang untuk menjemput kita?”

“Jangan!” kata Minwoo cepat malah sangat cepat sampai-sampai membuat Yoon Hee terlompat kebelakang, “Maksudku, sekarang lihatlah sudah jam berapa. Sudah tengah malam. Mereka pasti sudah tidur untuk istirahat. Kau mau mengganggu mereka?” katanya dengan nada sedikit santai dan tenang.

“Benar juga,” gumam Yoon Hee sedikit berfikir. “Lalu kita harus bagaimana?”

“Mau tidak mau kita harus menginap disini!” Minwoo menyandarkan tubuhnya kemobil.

“Apa?”

“Kita harus tidur didalam mobil ini.” Minwoo menjelaskan dengan tegas.

“Berdua?”

“Ya,” jawabnya masih menggunakan nada yang sama. Minwoo melirik gadis itu yang terlihat cemas, “Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan menyentuhmu sedikit pun. Aku akan tidur didepan mobil. Kau tidur dibelakang—dikursi penumpang—itu yang kau cemaskan, bukan?”

Yoon Hee mengangkat kepalanya dan melihat Minwoo yang memandangnya dengan alis terangkat. Tapi, ia tidak mengatakan apa-apa dan langsung membuka pintu belakang mobil lalu, masuk. Minwoo pun sama, setelah melihat Yoon Hee sudah masuk kedalam mobil ia langsung mengikutinya.

“Jangan lupa kunci pintunya,” kata Minwoo mengingatkan sambil mencuri pandangan kearah kursi penumpang.

“Iya,”

Malam ini terasa sangat dingin. Angin bertiup agak kencang malam ini. Hembusan angin yang terdengar dari dalam mobil, membuat Yoon Hee bertambah kedinginan. Ia khawatir akan terjadi badai pada malam natal seperti ini. Angin terus bertiup kencang menambah dinginnya malam. Salju yang berwarna putih suci tak lagi indah. Malah, mereka terlihat seperti monster menakutkan yang akan memakan semua orang yang tidak bersalah dikota ini.

Yoon Hee memejamkan mata dan memeluk tubuhnya dengan erat. Tangannya dingin walaupun dia sudah memakai sarung tangan. Badannya gemetar. Ia mengigil kedinginan.

“Pakai ini!”

Tiba-tiba Yoon Hee mendengar Minwoo berbicara. Ia membuka matanya dan melihat Minwoo yang menyodorkan jaket kearahnya. Ia mengangkat alis tidak mengerti.

“Pakai ini!” ulanganya, “Kau kedinginan. Malam ini sangat dingin. Jadi, pakai ini!”

Yoon Hee terdiam sejenak sebelum ia mengambil jaket yang disodorkan kearahnya, “Kau?”

Minwoo tersenyum, “Aku tidak kedinginan.”

“Kau bilang malam ini sangat dingin, berarti kau merasakannya,” celetuk Yoon Hee.

Minwoo tersenyum dan menjawab, “Menurutku angin seperti ini tidak terlalu dingin, tapi, menurut wanita sepertimu angin seperti ini terasa sangat dingin,”

Yoon Hee membesarkan bola matanya dan menatap Minwoo dengan tajam. Laki-laki itu tertawa melihat ekspresinya, “Aku hanya bercanda. Kulit laki-laki lebih tebal dari kulit perempuan. Jadi, pakai saja itu.”

“Kulitku juga tebal,” kata Yoon Hee membantah ucapan Minwoo.

Minwoo melihat Yoon Hee dengan wajah terkejut tapi, ia tidak menanggapinya dan berkata, “Jangan banyak bicara. Pakai itu dan tidur!”

Minwoo melemparkan jaketnya kearah Yoon Hee lalu, membalikkan badan dan menyandarkan tubuhnya kekursi sebelum Yoon Hee berkata dengan tegas. “Tidak mau!”

Minwoo terlompat kaget dan melihat kebelakang kearah kursi penumpang. Ia melihat Yoon Hee sedang menatapnya.

“Aku tidak mau memakainya,” katanya menggunakan nada bicara rendah, “Aku sudah memakai jaket, itu sudah cukup untukku. Aku tahu, kau juga merasa dingin. Hewan juga bisa merasakan dingin bagaimana dengan kita? Kita pun sama. Jadi, jangan banyak alasan, pakai ini.”

Minwoo sedikit terkejut ketika Yoon Hee mencondongkan badannya dan memasangkan jaket ketubuhnya, ia menatap Yoon Hee dan gadis itu balas menatapnya, “Aku tidak apa-apa,” katanya dan menggerutu pelan, “Aku hanya tidak ingin kau sebut lemah,”

Minwoo tertawa kecil mendengar gerutuan Yoon Hee walaupun hanya terdengar pelan. Ia memandang Yoon Hee dan berkata, “Tidurlah.”

Yoon Hee mengangguk dan berbaring dikursi penumpang. Sebelum tidur, ia berdoa agar malam ini tidak ada badai datang dan merusak malam terindahnya.

***

Minwoo membuka matanya dengan perlahan. Pertama kali yang terlintas dikepalanya setelah membuka matanya kembali adalah Jang Yoon Hee. Ia segera membalikkan kepala untuk memastikan Yoon Hee masih berada ditempat atau sudah hilang. Dan ia merasa lega karena Yoon Hee masih terlelap tidur. Setelah memastikan Yoon Hee masih ada disini dan baik-baik saja, Minwoo keluar dari mobilnya. Ia melihat kaca depan mobilnya yang ditutupi oleh butiran salju kemarin malam.

Salju telah menutupi beberapa jalan disini. Jadi, mobil-mobil yang melintas harus terpaksa menggunakan kecepatan rendah. Ia melihat kesekeliling lagi, selain jalan, salju juga telah menutupi warna hijau pepohonan. Warna hijaunya daun sudah tidak terlihat lagi saat ini. Malah, daun-daun pepohonan berubah warna menjadi warna putih karena salju.

Ia berjalan mendekati kaca mobil dan membersihkannya menggunakan tangannya. Ia juga membersihkan atap mobil yang tertupi salju. Setelah selesai membersihkan mobilnya dari butiran-butiran salju, Minwoo melihat kearah kursi belakang sekali lagi. Gadis itu masih terlelap tidur. Karena gadis itu masih tidur dengan pulas, Minwoo berencana mencari bahan bakar untuk mobilnya selagi Yoon Hee belum bangun. Ia memberhentikan taxi yang melewat dijalan dan hilang dari tempat ia berdiri.

1 setengah jam kemudian, Minwoo turun dari taxi sambil menjinjing 2 plastik yang berisi 2 bungkus gimbab untuk sarapan dirinya dan Yoon Hee serta air minum sedangkan 1 plastik lagi berisi botol air mineral yang diisi bensin.

Setelah selesai mengisi bensin. Minwoo membuka pintu mobil penumpang dan melihat Yoon Hee sudah terbangun dan menatapnya.

“Apa?” tanya Minwoo kepada Yoon Hee yang menatapnya aneh. Ia melihat Yoon Hee menggeleng. “Ayo cepat turun. Aku sudah membeli sarapan.”

***

Mereka tiba didepan sebuah kamar bernomor 105. Minwoo melihat Yoon Hee sambil tersenyum dan berkata, “Sekarang, cepat masuklah. Diluar dingin sekali.” Perintah Minwoo datar.

Yoon Hee mengangguk.

“Nyalakan mesin penghangat ruangannya.”

Yoon Hee mengangguk lagi.

Lalu, mereka terdiam sejenak, sebelum Minwoo mengeluarkan suaranya lagi, “Aku pergi,”

Yoon Hee mengamati Minwoo hingga hilang dibelokan ujung koridor. Lalu, ia masuk kedalam apartment dan menyalakan penghangat ruangan menuruti saran Minwoo tadi. Ia melemparkan badannya kesofa ruangan. Lelah sekali.

Yoon Hee memegang kado dari Minwoo untuknya. Ia menjadi penasaran apa isi didalam kado besar itu? Tanpa pikir panjang, Yoon Hee membuka kertas kado itu. Ia melihat selimut tebal bergambar boneka beruang dan bertuliskan MW ❤ YH.

Ini nama yang mereka tempel dipohon natal kemarin. Jadi, Minwoo sudah mempersiapkannya. Yoon Hee mengambil kartu ucapan yang tertempel diselimut itu lalu membacanya.

“Gunakan selimut jika tidur. Diluar sangat dingin sekali. Kau harus menggunakan jaket tebal jika keluar. Aku tidak ingin kau menularkan virus flu-mu itu. Oh ya, kau juga harus memperhatikan pola makanmu. Aku melihat kau sedikit kurus dari terakhir kita bertemu. Ingat, kau harus menggunakannya! Aku sudah susah payah menyiapkan ini. SELAMAT HARI NATAL.”

                                                                                                ❤MW❤

“Siapa yang seharusnya mengingat waktu makan? Dia berkata tanpa berfikir!” gerutu Yoon Hee tapi, tanpa sadar ia membuat lengkungan kecil diujung bibirnya.

***

Minwoo keluar dari kamar mandi sambil mengusap-usap rambutnya yang basah. Ia berjalan menuju lemari baju. Tapi, sebelum sempat mencari baju yang akan dikenakannya hari ini, Minwoo bercermin terlebih dahulu.

Ia mengamati dirinya didepan cermin. Yoon Hee bilang dia kurus, mana mungkin. Ia akan terkejut melihat bentuk badannya sekarang. Dia bilang seperti itu karena dia belum pernah melihatnya. Lihat saja nanti. Walaupun, dari luar dia memiliki wajah yang imut dan manis, tapi orang-orang tidak akan menyangka jika ia memiliki badan yang sexy.

Ia memandangi wajahnya sambil tersenyum sendiri didepan cermin. Tanpa sengaja, Minwoo melihat dari cermin kado dari Yoon Hee yang diberikan ‘khusus’ untuknya tergeletak diatas kasur.

Minwoo membalikkan badan dan melihat kado itu dengan matanya. Ia melangkah selangkah demi selangkah dan duduk disana. Ia memegang kado berukuran kecil itu sambil memandanginya. Dan tanpa pikir panjang, ia langsung membuka bungkus kado itu dan melihat jam tangan berwarna hitam. Minwoo tersenyum lebar. Ia menemukan kartu ucapan berwarna kuning sama seperti warna bungkus kado tersebut. Ia membuka dan membacanya.

“SELAMAT HARI NATAL. Maaf aku hanya bisa memberikanmu itu. Aku harap kau menyukainya. Tidak. Pokoknya kau harus menyukainya. Suka tidak suka kau harus memakainya. Kau tahu betapa bingungnya aku untuk memberikanmu hadiah. Aku kebingungan setengah mati. Alasanku memberikanmu jam tangan, karena aku harap kau bisa melihat waktu kemana pun kau berada. Kau sangat bodoh. Kau lupa waktu makan, waktu istirahat. Jadi, aku harap kau bisa makan tepat waktu. Mengerti?

                                                                                                            Jang Yoon Hee

Minwoo tersenyum lebar. Wajahnya berseri-seri membaca tulisan tangan Yoon Hee. Gadis itu mengomelinya dan menyuruhnya makan tepat waktu. Ia suka melihat Yoon Hee mengomel. Gadis itu…menarik.

Tiba-tiba, terdengar bel pintu berbunyi. Minwoo terlompat kaget karena terlalu serius memandangi jam tangan yang diberikan Yoon Hee untuknya. Minwoo langsung berdiri dan mengenakan pakaian asal lalu, membenarkan tatanan rambutnya sebelum akhirnya keluar dan membukakan pintu.

Minwoo melihat seorang wanita—yang sangat ia kenali—berdiri didepan pintu dengan wajah ceria. Wajah Minwoo langsung berubah  senang melihat wanita itu. Ya, tentu saja. Bagaimana ia tidak senang bertemu dengan wanita yang selama ini sudah menghilang beberapa hari?

Yuri tersenyum melihatnya. Dan Minwoo membalas senyumannya sebelum ia mempersilahkannya masuk dan duduk.

“Kau tunggu disini sebentar, aku akan mengambil minum.” Ucap Minwoo sambil berjalan kedapur.

“Tidak.” Cegah Yuri cepat, “Tidak usah repot-repot. Hey, sekarang ini kau menganggapku siapa? Kau tidak menganggapku sebagai sahabat lagi? Mengapa bersikap seperti itu? Kau bersikap seperti orang lain saja.”

“Bukan begitu,” Minwoo menyangkal, “Kau sendiri yang mengajariku. Tamu adalah raja. Kita harus melayani tamu dengan penuh sopan santun. Kita harus bersikap baik pada tamu. Itu yang kau katakan padaku.”

“Benarkah? Aku sendiri sudah lupa.” gumam Yuri pada diri sendiri. Lalu mengalihkan pandangan menatap Minwoo, “Tapi, lupakanlah itu tidak penting. Sekarang duduklah!” perintah Yuri menunjukkan kursi didepannya yang kosong menggunakan kedua matanya.

Minwoo menurut dan duduk berhadapan dengan Yuri. Ia menatap Yuri senang seakan sudah sangat lama sekali ia tidak melihat gadis itu. Dan itu benar. Yuri menghilang selama beberapa hari tanpa kabar dan itu membuatnya cemas. Lalu sekarang, ia bisa melihat wajah gadis itu lagi. Dan baru ia sadari, betapa ia merindukannya.

“Hey, mengapa memandangku seperti itu?”

Minwoo terbangun dari lamunannya dan tersenyum, “Selama ini, kau pergi kemana?”

Yuri berfikir sejenak sebelum menjawab, “Aku pergi kesuatu tempat. Dimana jarang ada orang yang mengunjunginya. Aku ingin menenangkan perasaan dan pikiranku terlebih dahulu.”

Minwoo mengangkat alis tidak mengerti, “Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Hanya mencari ketenangan.” Jawab Yuri. Lalu, ia mencoba mengalihkan pembicaraan. “Oh ya, aku dengar restoran kita baru saja mendapatkan pengharagaan sebagai restoran terbaik tahun ini?”

Minwoo tersenyum malu, “Kau dengar dari siapa?”

“Sebenarnya beritanya sudah menyebar di internet.” Jawab Yuri sambil tersenyum senang. “Maafkan aku tidak  bisa membantumu.” Katanya, lalu kembali melihat Minwoo curiga, “Apa kau benar-benar yang melakukan ini?”

Minwoo tertawa kecil, “Aku tidak tahu. Tapi, aku sudah berusaha keras.”

“Sepertinya kau sudah berubah,” katanya sambil tersenyum. “Oh yaa, aku bawa ini.” Yuri mengambil sebuah kotak makan dari dalam kantong plastik. “Ini Kimchi. Selamat Hari Natal. Maaf aku terlambat.”

Minwoo tersenyum dan mengambil kotak makan yang Yuri sodorkan diatas meja lalu membukanya. “Aku sangat suka kimchi buatanmu.”

Yuri tertawa kecil, “Makanlah.”

***

“Yoon Hee kemana? Aku tidak melihatnya.” Tanya Yuri sambil membereskan kotak makan yang sudah kosong ketika mereka sudah selesai sarapan.

Minwoo tidak langsung menjawab. Ia berfikir sejenak dan berkata, “Ia sudah pindah.”

Yuri melebarkan matanya, “Sejak kapan?”

“Sejak kau menghilang,”

Yuri menundukkan kepala lalu mengangkatnya kembali, “Lalu, sekarang dia tinggal dimana?”

“Dia tinggal diapartment kecil. Sedikit jauh dari sini.”

Yuri berdehem dan melanjutkan membereskan kotak makan yang berserakan diatas meja. Dan tanpa sadar ia merasa lega dan senang.

“Mau jalan-jalan?” Tanya Minwoo.

“Kemana ?”

***

Minwoo dan Yuri berjalan mengikuti jalan taman di Gyeryong-san. Gyeryong-san adalah tempat wisata berkualitas untuk para wisatawan yang ingin menikmati liburan musim semi. Banyak air terjun yang indah, monumen kuno dan kelenteng berasal dari era Paekche. Namun sayangnya sekarang sedang musim dingin. Mungkin nanti saat musim semi tiba, Minwoo akan mengajak seseorang yang spesial datang kesini bersamanya.

“Kita datang pada waktu yang payah.” Ucap Yuri tiba-tiba. Minwoo menoleh kearahnya dan mengangkat alis. “Itu yang kau pikirkan, bukan?”

Minwoo tidak menjawab tapi, ia tersenyum lalu, mereka duduk dibangku taman sambil menikmati derasnya air terjun.

“Hari ini aku sangat bahagia,” gumam Yuri. Minwoo menoleh, memandang Yuri yang terlihat begitu segar dan ceria. Dan ia tidak pernah melihat Yuri seceria ini akhir-akhir ini.

“Aku bahagia karena bisa melihatmu lagi setelah beberapa lama tidak melihatmu.” Katanya sambil tersenyum melihat Minwoo. “Oh ya, ini. Aku memberikan hadiah natal untukmu.”

Yuri mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Minwoo melihat mengikuti gerakan tangan Yuri dan akhirnya Yuri menyodorkan benda itu kearah Minwoo. Ia menerimanya dengan bingung. “Apa ini?”

“Itu sepatu. Kau bisa memakainya bila sedang bekerja.”

Minwoo tersenyum, “Terima kasih.” Katanya. Lalu, Minwoo menarik nafas sejenak sebelum berkata, “Senangnya bisa jalan-jalan denganmu…lagi.”

“Malam natal kemarin, kau pergi dengan siapa?” tanya Yuri tiba-tiba.

Minwoo tidak langsung menjawab. Ia sedang berfikir. Yuri terus menatapnya meminta jawaban. Karena tidak tahan melihat tatapan Yuri seperti itu, akhirnya Minwoo menjawab, “Yoon Hee.” Jawabnya. “Kemarin malam aku pergi dengan Yoon Hee.”

Yuri tidak percaya ia akan mendapat jawaban seperti itu dari Minwoo. Ia merasa jawaban Minwoo seperti petir yang sedang menyambarnya. Siapa tadi? Yoon Hee? Apakah ia cemburu mendengar nama Yoon Hee? Apakah ia tidak suka mendengar apalagi melihat Minwoo dengan Yoon Hee?

Jawabannya, Ya.

Iya memang cemburu dengan Yoon Hee. Dari awal, ia tidak suka melihat Minwoo dengan Yoon Hee. Apalagi tinggal satu rumah. Tapi, ia merasa lega karena Yoon Hee sudah pergi dari rumah Minwoo. Jadi, ia tidak perlu cemas lagi. Tapi, tetap saja. Yuri tidak suka Yoon Hee berada dalam kehidupan Minwoo. Sangat tidak suka.

“Kemarin kami kehabisan bahan bakar. Jadi, kami terpaksa tidur didalam mobil.” Lanjut Minwoo.

Yuri memalingkan pandangan kearah Minwoo cepat bahkan sangat cepat, “Berdua?”

Minwoo melihat Yuri dan menjawab dengan salah tingkah, “Ya, eh, tidak, ya, tidak, ya,”

“Aku mohon, jawab yang benar Minwoo.” Perintah Yuri.

Minwoo berfikir sejenak sebelum menjawab. Ia tidak ingin mengambil resiko terlalu tinggi jika tidak mengambil keputusan dengan benar. “Ya, kami tidur berdua didalam. Tunggu dulu jangan menyela! Kami memang tidur didalam mobil berdua. Tapi, sungguh, kami tidak melakukan hal yang macam-macam. Sungguh!” Minwoo menatap Yuri, berharap sahabatnya ini bisa mengerti.

Yuri memalingkan wajahnya dari arah Minwoo lalu, kembali lagi melihatnya, “Bodoh! Mengapa serius begitu? Kau tidak perlu membuatku percaya padamu. Aku tidak berhak mengurusi urusanmu.”

Minwoo menatap Yuri dengan rasa kasihan. Ia tidak mengerti dengan perasaannya ini.

“Mengapa menatapku begitu? Kau pasti merasa kasihan padaku, karena aku dicampakkan oleh seorang pria. Aku juga merasa seperti itu.”

“Aku sama sekali tidak berfikir seperti itu.” Minwoo menyangkal cepat.

Ia mendengar Yuri tertawa terbahak. “Sepertinya pikiranmu sedang kacau. Lebih baik kita pulang.”

Minwoo menuruti Yuri. Ia merasa pikirannya memang sedang kacau. Ia bingung dengan perasaannya ini. Ini benar-benar membingungkan.

***

Yoon Hee mencari sesuatu didalam lemari. Ia sedang mencari kardus yang dulu diambilnya dari panti asuhan bersama Minwoo. Ia melacak semua lemarinya. Tidak ada. Ia membongkar semua tempat-tempat yang ada dikamar, ruang tamu, tetap saja tidak ada. Dimana benda itu? Dimana dia menyimpannya?

Oh! Ya, dia ingat! Bodoh! Ia tidak membawanya kesini. Barang-barang yang dia ambil dari panti asuhan masih tertinggal ditempat Minwoo. Ia memang sengaja tidak membawanya karena ia takut. Karena ia berusaha melupakan Donghyun saat itu. Bagaimana ia bisa melupakannya?!

Mungkin besok ia harus datang mengunjungi Minwoo untuk mengambil barang-barangnya yang tertinggal disana.

Tiba-tiba terdengar bunyi dari dalam saku celananya. Ia cepat-cepat mengeluarkan ponselnya dan menempelkannya pada telinga. “Halo.” Katanya asal-asalan. “Oh? Youngmin?” Tiba-tiba nada suaranya berubah, “Kau sudah menerimanya?…Terimakasih sudah menyukainya…Baik.”

Tadi siang ia datang ke rumah Youngmin untuk memberikan kue kering sebagai ucapan Natal. Tapi, kata bibi yang sepertinya pembantu dirumah Youngmin bilang jika Youngmin dan orang tuanya sedang pergi. Jadi, ia hanya menitipkannya dan ia sama sekali tidak menyangka Youngmin akan menerimanya secepat itu.

***

This entry was posted by boyfriendindo.

7 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Love You Like You – Chapter 07

  1. saeeng… kurang ada konfliknya nieeeh… tapi aku msh nunggu part selanjutnya…

    jangan lama-lama… penasaraaan nieeeh… sama yuri…😦

  2. huaaa…. knp lama skali cingu?? tp gpp yg penting skr dh kluar ^.^
    itu knp yuri nongol lg? merusak suasana j ~.~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: