[FANFICT/FREELANCE] Love You Like You – Chapter 08

Title 
: Love You Like You – Chapter 08
Author   : Aryn Chan (@1998aryn)
Genre         : Romance
Rating          : G
Type   : Chaptered
Main Casts      
: ~ No Minwoo

  ~ Jang Yoon Hee

  ~ Jo Youngmin

  ~ Kim Yuri

>>>>AUTHOR NOTE

Hallo Pembaca ^^

Sekali lagi terima kasih banyak sudah membaca FFku ini. Terimakasih sudah menyukainya. Dan terima kasih sudah memberi komentar pada part sebelumnya😉

Oh ya, untuk masalah konflik itu. Aku memang sengaja tidak membuat terlalu banyak konflik. Jadi, konflik yang ada di cerita ini adalah konflik batin/perasaan. Jadi, aku lebih memfokuskan pada perasaan tokoh-tokoh yang ada didalam cerita ini. ^^

Aku harap kalian merasa terhibur dan merasakan apa yang dirasakan tokoh-tokoh didalam FF ini. Selamat membaca. Jangan lupa kritik dan sarannya yaww😀

“Apakah kau tidak merasa kesepian tinggal disini sendiri?” tanya Yuri sambil menatap lukisan yang terpasang pada dinding.

“Memang kenapa? Kau mau menemaniku?” tanya Minwoo bergurau. Yuri berbalik dan melihat Minwoo sekilas dengan kesal. “Aku hanya bercanda.” Kata laki-laki itu melanjutkan sambil tertawa.

Yuri kembali berbalik membelakangi Minwoo dan menatap lukisan itu lagi.

Minwoo menatap Yuri yang sedang memperhatikan lukisan itu tanpa berkedip. Ketika sedang memikirkan sesuatu atau ada masalah, Yuri pasti datang kerumahnya dan menatap lukisan itu dengan waktu yang cukup lama. Dan saat ini, ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Dan ia ingin tahu apa yang sedang dipikirkannya. “Apa ada sesuatu yang sedang kau pikirkan?” tanya Minwoo akhirnya.

“Lukisannya bagus.” Gumam Yuri setelah beberapa saat.

“Apa?”

“Aku suka lukisannya.” Jelas Yuri.

Minwoo terdiam sejenak, lalu berkata, “Kau sudah sering mengucapkannya.”

“Benarkah?” tanya Yuri sedikit berfikir. Lalu, ia berbalik kearah Minwoo dan menatapnya.

“Ada apa?” tanya Minwoo setelah ia menyadari Yuri sedang menatapnya.

“Apa selama ini kau selalu memperhatikanku?” tanya Yuri mencondongkan badannya sedikit sambil menatap Minwoo penuh selidik.

“Apa?” Minwoo sedikit terkejut. Ia balas menatap Yuri. “Kau terlalu percaya diri.”

Yuri mendengus pelan. Lalu, ia kembali berdiri tegak sambil mendesah. “Benarkah? Ya, aku rasa aku memang terlalu percaya diri.”

Minwoo mengangguk dan meminum teh yang ada didepannya.

Yuri mengangguk-angguk pelan. Ia terlihat sedikit merenung. Ia hanya berharap, ia belum terlambat menyadarinya. “Minwoo.”

“Ya?”

Yuri berdehem sedikit ragu. “Kau tidak mau tahu kenapa aku memutuskan untuk melupakan Jeongmin?”

Minwoo terdiam sejenak, tidak langsung menjawab. “Aku hanya menunggu sampai kau siap untuk menceritakannya.”

Yuri menarik nafas sambil tersenyum tipis kearah Minwoo, “Itu karena aku menyadari sesuatu. Dan aku harap aku belum terlambat menyadarinya.” Yuri terdiam sejenak dan melanjutkan. “Selama ini aku selalu merasa jika Jeongmin-lah orang yang selalu membuatku bahagia.” Yuri memulai pelan, “tapi aku salah.”

Minwoo hanya terdiam memperhatikan gadis itu. Menunggu kata yang akan dia lontarkan selanjutnya. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Kecuali, diam dan mendengarkan kata-kata gadis itu.

“Yang membuatku bahagia bukanlah Lee Jeongmin.” Yuri melanjutkan dan menatapnya lurus. “Tapi, No Minwoo.”

Minwoo sama sekali tidak menduga akan mendengar Yuri berkata seperti itu dari mulutnya. Sudah lama sekali ia mengharapkan Yuri berbicara seperti itu kepadanya. Dan sekarang ia sudah mendengarnya langsung dari bibir gadis itu. Minwoo merasa sangat terkejut. Tubuhnya seakan kaku untuk mengucapkan sesuatu. Ia hanya bisa diam, tercengang, dan menatap mata gadis itu lurus-lurus seakan dia takut Yuri akan tertawa terbahak-bahak dan mengatakan jika ia hanya bercanda.

“Aku telah memikirkannya baik-baik.” Terdengar suara Yuri lagi. “Sebenarnya, selama ini aku selalu memikirkannya. Dan aku baru menyadari, bahwa aku benar-benar… membutuhkanmu.”

Minwoo masih bergeming. Ia belum bisa mendapatkan suaranya kembali. Ia masih begitu terkejut untuk mencerna ucapan Yuri. Wanita yang selama ini menjadi bagian terpenting dari hidupnya mengatakan jika dia membutuhkannya. Yuri sendiri yang mengatakannya.

Yuri membasahi bibirnya dan melihat Minwoo yang masih terdiam. “Minwoo, katakan sesuatu. Apakah aku sudah terlambat menyadarinya?”

 

***

Yoon Hee memang tidak membunyikan bel, tapi dia sudah mengetuk beberapa kali. Sungguh, ia tidak bermaksud mengintip atau pun menguping. Karena Minwoo tidak menyahut, Yoon Hee pun membuka pintunya sedikit dan mendengar suara seorang wanita.

“Yang membuatku bahagia bukanlah Lee Jeongmin. Tapi, No Minwoo.” Jeda sesaat. “Aku telah memikirkannya baik-baik. Sebenarnya, selama ini aku selalu memikirkannya. Dan aku baru menyadari, bahwa aku benar-benar… membutuhkanmu.”

Mendengar kalimat itu, Yoon Hee tidak meneruskan untuk masuk kedalam. Dari celah pintu yang terbuka, Yoon Hee melihat Minwoo dan Yuri sedang bertatapan. Ia mengangkat wajahnya dan menatap mereka berdua bergantian tanpa berkedip.

Suara Yuri terdengar lagi, “Minwoo, katakan sesuatu. Apakah aku sudah terlambat menyadarinya?”

Yoo Hee tidak bisa bergerak. Matanya beralih pada Minwoo yang sedang duduk menatap Yuri. Lalu, tiba-tiba saja ia melihat Minwoo berdiri tegak dihadapannya. Dan waktu terasa melambat. Ia melihat Minwoo yang berjalan mendekati Yuri. Ia meraih tangan Yuri dan menariknya kedalam pelukan.

Napas Yoon Hee tertahan ditenggorokan. Matanya terpukau pada Minwoo yang yang memeluk Yuri dengan erat sambil membelai rambutnya. Itu bukan pelukan sambil lalu. Bukan juga pelukan bersahabat. Itu pelukan dalam arti sebenarnya. Pelukan yang diberikan kepada orang yang dicintai. Saat itu juga, Yoon Hee merasa tubuhnya lemas, seakan seluruh tenaganya terserap habis keluar. Yang tersisa hanya rasa nyeri didalam hatinya.

Tiba-tiba, Yoon Hee mendengar Minwoo bersuara. “Kau adalah wanita yang baik. Maaf, aku telah membuat kesalahan besar dalam hidupku hingga membuatmu merasa seperti ini.” Jeda sesaat.

Apakah Yoon Hee sanggup untuk mendengar lanjutannya?

“Aku menyukaimu…”

Yoon Hee merasa hatinya diremas-remas dan digores oleh berjuta-juta samurai. Ia tidak sanggup untuk berlama-lama disini. Sepertinya, ia sudah tahu apa yang akan terjadi. Ia tidak perlu tahu lagi. Ia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Minwoo selanjutnya. Dan tidak seharusnya ia menghabiskan tenaganya disini. Ini sama sekali bukan tempatnya. Sebaiknya, ia tidak mengganggu mereka.

Yoon Hee berjalan dengan cepat dan keluar dari halaman rumah Minwoo. Ia memberhentikan taxi yang melintas dan langsung masuk kedalam.

***

Minwoo mendekap erat tubuh Yuri, “Aku menyukaimu tapi…maafkan aku,” kata Minwoo dan melanjutkan, “aku mencintai Yoon Hee.” Minwoo memeluk tubuh Yuri lebih erat seakan ia takut Yuri akan terjatuh dan terluka. “Maaf, aku tidak bermaksud untuk membuatmu sakit atau terluka. Aku hanya ingin mengatakan perasaanku dengan jujur. Aku tidak tahu kenapa aku bisa mencintainya, padahal saat itu aku sangat mencintaimu dan perasaanku berubah dengan cepat saat bersamanya.”

Minwoo menarik nafas sejenak. Ia melonggarkan pelukannya lalu, melepaskannya dengan pelan. Ia menatap wajah Yuri yang merah karena habis menangis.

“Maaf aku telah melukaimu. Aku tidak ingin membuat lukamu tambah dalam.” Minwoo tersenyum kecil sambil memegang bahu Yuri, “Aku mohon…jangan terluka, jangan sakit.” Minwoo menghela nafas sesaat lalu, ia meraih kepala Yuri dengan cepat dan memeluknya lagi.

Ia merasa sudah sedikit lega mengungkapkan perasaannya pada Yuri yang sejak dulu ia pendam. Tapi, perasaan orang berubah-ubah hingga mereka menemukan cinta sejatinya. Ia sendiri tidak mengerti dengan cinta sejati. Apa itu cinta sejati? Apakah ia sudah merasa menemukan cinta sejatinya? Ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia akan membuat Yoon Hee menjadi cinta sejatinya, walaupun ia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepan.

***

Youngmin mencari telepon genggamnya. Ia sedang berada disebuah restoran. Ia ragu, apakah harus meneleponnya atau…? Tapi, ia tidak bisa berlama-lama seperti ini. Cepat atau lambat dia harus tahu mengenai perasaannya. Sudah sangat lama sekali ia menyembunyikannya. Sepertinya, inilah saat yang tepat.

“Hallo, bisa kita bertemu?”

***

Yoon Hee masuk kedalam sebuah restoran yang disebutkan Youngmin. Restoran ini terlihat sepi, memang sekarang bukan waktu makan siang. Jadi, dengan mudah ia mencari lelaki itu didalam restoran ini.

Yoon Hee langsung duduk begitu tiba dihadapan Youngmin.

“Kau cepat sekali datang. Tadi, aku datang ketempat kerjamu, tapi katanya kau pulang lebih cepat.” Kata Youngmin.

Yoon Hee hanya tersenyum samar dan menjawab sangat singkat, “Memang,”

Youngmin terlihat gugup didepan Yoon Hee. Ia juga merasa seperti itu. Ia merasa Yoon Hee bersikap dingin atau dia sedang ada masalah?

“Kau mau pesan apa?” tanya Youngmin ketika baru saja memutuskan untuk membiarkan gadis itu merasa lebih baik.

Yoon Hee tidak langsung menjawab. Ia berfikir sejenak sebelum akhirnya ia menyebutkan pesanannya. “Aku ingin minum bir.”

Youngmin sedikit kaget. Tidak biasanya gadis itu minum-minuman beralkohol. Sejak saat mereka pertama kali makan bersama, ia tidak pernah melihat Yoon Hee memesan bir atau semacamnya. Gadis itu juga pernah mengatakan jika ia benci alkohol. Sepertinya dugaannya benar. Yoon Hee sedang ada masalah.

Setelah ia menyebutkan pesanannya kepada pelayan, perasaannya tertuju kembali kepada Yoon Hee. Haruskah ia mengatakannya sekarang? Suasana hati Yoon Hee sedang tidak baik. Ia tidak mungkin mengatakannya sekarang.

Ketika mereka saling terdiam, pelayan datang membawa pesanan mereka. Begitu pesanan sudah diatas meja, Yoon Hee menuangkan bir itu kedalam gelas kecilnya. Ia tidak langsung meminum bir itu, ia hanya menatapnya sesaat sebelum akhirnya ia meneguk habis gelas berisi bir itu.

“Kenapa rasa bir seperti ini?” Tanya Yoon Hee sambil menggerutu.

“Memang menurutmu rasa bir seperti apa?” Youngmin balas bertanya.

Yoon Hee tidak berkata apa-apa. Ia meneguk birnya lagi sedangkan Youngmin menatap gadis didepannya sambil tersenyum. Ia juga menghabiskan bir yang ada didalam gelasnya dan berkata pada Yoon Hee, “Baru dua gelas saja kau sudah mabuk.”

Yoon Hee mengelak, “Hey, apa maksudmu? Kalau hanya seperti ini aku sanggup menghabiskannya.” Katanya sambil meminum birnya lagi.

Youngmin menatap Yoon Hee yang tanpa henti meminum bir nya. Kali ini gelas ke 10 yang Yoon Hee minum. Ia menjadi khawatir dengan keadaan Yoon Hee yang seperti ini. Dengan terpaksa ia menghentikan gadis itu ketika akan meneguk gelas kesebelasnya. “Apa yang terjadi padamu?” tanya Youngmin sambil merebut gelas kecil yang ada ditangan Yoon Hee.

Yoon Hee menatap Youngmin dengan marah. Seakan dia telah merebut mainan dari anak kecil yang sedang asyik bermain. “Kembalikan gelasnya!” kata Yoon Hee dengan keras.

“Tidak. Sebelum kau ceritakan padaku apa yang terjadi denganmu!” kata Youngmin.

Yoon Hee menatap Youngmin begitupun Youngmin. Mereka saling bertatapan sesaat. Sepertinya musim dingin hari ini tidak terasa dingin baginya. Ia bahkan merasakan sesuatu yang panas menyelimuti hatinya. Hati yang awalnya bermekaran dengan cepatnya gugur ketika ia melihat gadis ini bersikap beda.

Ia melihat mata gadis itu mulai memerah lalu berkaca-kaca dan gadis itu mulai menangis. Youngmin terdiam, membiarkan gadis itu menangis sesuka hatinya setelah itu dia boleh bercerita apa yang ingin dia ceritakan.

***

Mereka sudah tiba didepan gedung apartment Yoon Hee. Gadis itu sudah terlelap tidur. Ia terlalu banyak minum hingga tidak sadarkan diri. Sekarang dia tahu semua tentang perasaan Yoon Hee. Semuanya, semuanya ia tahu. Gadis itu banyak sekali bicara, mungkin karena ia sedang mabuk. Tapi, setidaknya ia sudah lega, ia sudah mengetahui semuanya.

Youngmin keluar dari dalam mobil dan membuka pintu disebelahnya. Ia meraih tangan Yoon Hee dan merangkulkannya pada lehernya kemudian keluar dari dalam mobilnya sambil menggendong gadis itu. Ia menutup kembali pintu mobil dengan kakinya dan berjalan kedalam gedung apartment Yoon Hee.

Apartment Yoon Hee memang tidak ada lift, jadi ia hanya menggunakan tangga untuk menuju kamar Yoon Hee. Memang, walaupun gadis ini tidak terlalu berat baginya, tapi ia tetap saja harus hati-hati. Karena ini menyangkut nyawa seorang gadis yang ia cintai.

Merasakan gadis itu terlelap dengan bersandar pada punggungnya, entah mengapa ia merasa cukup senang. Ia melupakan kenyataan. Ia lupa bahwa Yoon Hee mencintai saudara sepupunya. Walaupun hanya sesaat, ia ingin gadis ini tetap seperti ini. Bersandar dipunggungnya seperti ini. Ia jadi merasa, jika ia tidak ingin kehilangannya. Ia ingin selalu berada disampingnya. Seperti ini.

Youngmin sudah tiba dilantai dua tempat kamar Yoon Hee berada. Ketika ia akan berjalan menuju kamar apartment Yoon Hee. Tiba-tiba saja matanya bertemu dengan mata seseorang yang membuatnya terkejut. Sepertinya lelaki itu sama terkejutnya saat melihatnya bersama Yoon Hee. Sesaat mereka hanya berpandangan, tapi tiba-tiba saja ia mendengar suara Yoon Hee yang membuatnya terkejut.

“Minwoo.” Gumamnya, lalu dia tertidur kembali.

***

Setelah membaringkan Yoon Hee diatas kasurnya dan menyelimutinya, Youngmin keluar dari kamar Yoon Hee. Ia menutup pintu kamar dan berjalan menghampiri Minwoo yang duduk terdiam disofa. Youngmin duduk berhadapan dengan lelaki itu dan memandangnya.

Mereka terdiam, entah apa yang mereka pikirkan. Tiba-tiba Minwoo mencairkan suasana, “Aku datang untuk mengembalikan ini.” Minwoo menyodorkan sebuah kotak besar kearah Youngmin, “kemarin dia meneleponku, katanya, dia akan datang untuk mengambil barang-barangnya yang tertinggal. Tapi, dia tidak datang, aku khawatir dengannya karena itu aku datang kesini.”

Youngmin terdiam.

Minwoo menarik nafas secara diam-diam dan berdiri, “Hanya itu,” katanya, “Urusanku sudah selesai. Sebaiknya aku pulang. Selamat malam.”

Youngmin melihat Minwoo yang membalikkan badannya dan berjalan kearah pintu. Apakah dia akan membiarkan Minwoo pergi begitu saja? Tentu saja tidak.

“Apa hubunganmu dengan Yuri?” tanya Youngmin, ia menyadari suaranya terdengar keras ditelinganya sendiri jadi, ia melunakkan sedikit volume suaranya, “Apa kau dan Yuri memiliki hubungan? Ada apa dengan kalian?”

Minwoo membalikkan badannya. “Apa?”

“Apa kalian pacaran?” tanya Youngmin.

Minwoo terlihat bingung, “Apa maksudmu?”

“Kau hanya perlu menjawab, apa kau dan Yuri pacaran?” Ulang Youngmin.

Minwoo berfikir sejenak sambil menatap Youngmin, “Ya, kami memang memiliki hubungan.” Jawab Minwoo pelan. “Tapi, kami tidak pacaran.”

“Kalau begitu, apa kau menyukai Yoon Hee?” tanya Youngmin lagi.

“Apa?”

“Kenapa aku harus mengulangnya dua kali?” tanya Youngmin kesal.

Minwoo terdiam sejenak. Lalu, ia balik bertanya sambil melihat Youngmin, “Kau ingin aku berbicara jujur?”

Youngmin berfikir jika lelaki ini sedang mempermainkannya. Tapi, ia tidak peduli dan menjawab dengan tegas, “Ya. Katakan dengan jujur.”

Minwoo menarik nafasnya dan menatap lelaki itu, “Ya, aku menyukainya—tidak—lebih tepatnya, aku mencintainya. Sangat mencintainya. Kau ingin tahu seberapa besar cintaku padanya? Saking besarnya, aku juga tidak tahu seberapa besar cintaku padanya. Tapi, aku merasa cintaku sangat dalam dan tulus.” Kata Minwoo dengan memasang wajah yang sangat dingin. “Kau ingin tahu yang lain?”

“Kau tahu arti cinta dalam kata sebenarnya?” Tanya Youngmin setelah terdiam beberapa saat. Minwoo mengerutkan keningnya. “Jika kau benar mencintainya, kau tidak akan membiarkannya menderita.”

“Apa maksudmu?” tanya Minwoo tidak mengerti dengan arah pembicaraan Youngmin.

“Kau tahu betapa menderitanya dia karena mencintaimu? Kau telah melukai hatinya. Apa kau tidak menyadarinya? Kau tidak bisa melindunginya. Kau bahkan tidak tahu cara melindungi seseorang yang kau cintai.” Youngmin tersenyum kecil. Senyuman yang terlihat mengejek. “Apa itu yang kau namakan cinta?”

Minwoo menatap curiga Youngmin, “Apa kau menyukainya?”

Youngmin menatap dalam mata Minwoo. Lalu, menjawab dengan yakin, “Ya.”

Sebenarnya itu hanya dua huruf. Tapi, huruf-huruf itu berhasil membuatnya terkejut. Namun, Minwoo tidak memperlihatkan rasa keterkejutan itu. Ia malah tersenyum kecil dengan sikap yang dingin. Setelah itu, ia menatap lelaki itu lagi. “Lalu, apa yang kau inginkan?”

“Kau tanya apa yang aku inginkan?” tanya Youngmin. “Menjauhlah dari Yoon Hee.”

***

Minwoo masuk kedalam mobilnya sambil menutup pintu dengan kesal. Kalimat Youngmin masih terngiang-ngiang ditelinganya.

“Kau tahu arti cinta dalam kata sebenarnya? Jika kau benar mencintainya, kau tidak akan membiarkannya menderita.”

“Kau tahu betapa menderitanya dia karena mencintaimu? Kau tidak bisa melindunginya. Kau bahkan tidak tahu cara melindungi seseorang yang kau cintai.”

Apa kau menyukainya?”

“Ya.”

“Lalu, apa yang kau inginkan?”

“Menjauhlah dari Yoon Hee.

Minwoo merasa kesal sendiri dengan ucapan Youngmin tadi. Ia memukul keras stir mobil hingga membuat tangannya terasa sakit. Tapi, ia mengabaikan rasa sakitnya itu. Ia terlalu kesal hingga membuatnya mati rasa. Ia bahkan tidak merasakan cuaca yang dingin seperti ini.

Apa ia perlu memikirkan itu sekarang? Apa dia mau memikirkannya?

Sungguh perasaannya malam ini sangat tidak karuan. Ia merasa sedih karena Yoon Hee tidak jadi datang kerumahnya dan saat ia datang menemuinya, gadis itu sedang bersama saudara sepupunya dalam keadaan mabuk. Apa ia salah menilai Yoon Hee selama in—

Tidak, ini tidak benar. Jangan berfikir seperti itu!

Minwoo memotong jalan pikirannya yang buruk itu dan memarahi dirinya sendiri. Ia yakin—sangat yakin jika Yoon Hee adalah gadis yang baik. Ia hanya kecewa, gadis itu tidak jadi datang kerumah dan pergi dengan lelaki itu. Padahal, ia sudah menanti kedatangan Yoon Hee sejak tadi.

***

Yoon Hee membuka matanya perlahan. Saat ia kembali menatap bumi, ia merasa pusing dan seakan benda-benda disekelilingnya ikut berputar mengikuti perputaran bumi. Ia mencoba untuk duduk. Mengapa ia merasa pusing? Apa yang telah terjadi? Apakah terjadi gempa?

Yoon Hee membuka selimutnya dan mencoba menjejakkan kaki kembali ke Bumi. Ia hampir saja terjatuh kelantai. Akhirnya, ia membiarkan dirinya terdiam sejenak. Setelah ia merasa lebih baik, ia mulai berjalan lagi kearah pintu kamarnya.

Yoon Hee menutup pintu kamarnya kembali. Ia merasa ada seseorang didapur, ia berjalan kearah dapur untuk melihat orang itu. Yoon Hee tiba diambang pintu dapur. Ia memperhatikan seorang lelaki membawa sebuah panci kecil dan meletakkannya keatas meja makan. Ketika lelaki itu berbalik, dia baru menyadari keberadaan Yoon Hee.

“Kau sudah bangun? Kenapa tidak tidur lebih lama?” Tanya Youngmin sambil berjalan menuju kompor yang masih menyala. “Kemarilah, aku sudah membuat sarapan.” Lanjutnya.

Yoon Hee masuk kedalam dapurnya yang kecil dan duduk dimeja makan. “Sejak kapan kau disini?” tanya Yoon Hee.

“Sejak semalam. Aku menginap disini semalam.” Jawabnya tanpa melihat Yoon Hee.

“Menginap?” tanya Yoon Hee tidak percaya.

“Ya.” Jawabnya, “Aku tidur diruang tamu. Jadi, kau tenang saja.” Lanjut Youngmin menenangkan masih tanpa melihat Yoon Hee. “Kemarin kau mabuk, jadi, aku yang mengantarmu kesini.”

“Oh? Maaf.” Yoon Hee teringat. Kemarin ia sengaja membuat dirinya seperti ini. Karena ia terlalu sakit.

“Dan…” kata Youngmin, tapi ia tidak melanjutkannya.

“Dan apa? Apakah aku melakukan hal yang aneh?” tanya Yoon Hee penasaran.

Youngmin menyadari ucapannya. Lalu, ia menjawab dengan cepat. “Tidak. Bukan apa-apa.” Katanya sambil tersenyum sekilas kearah Yoon Hee.

Dan kau mengatakan semua tentang perasaanmu.

Youngmin membalikkan badan sambil membawa panci yang berisi sup dan menyimpannya diatas meja makan. “Aku sudah membuatkan sarapan. Aku harap rasanya tidak aneh.” Gurau Youngmin.

Yoon Hee tersenyum. Ia mengambil sendok dan mencicipinya sedikit. Ia terdiam sambil merasakan sup buatan Youngmin.

Youngmin menatap Yoon Hee. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah Yoon Hee menyukai masakannya? Ia merasa jika ia sedang ada dalam acara pencarian koki dan Yoon Hee menjadi jurinya. “Bagaimana?” tanya Youngmin.

“Sepertinya kau memasukkan MSGnya terlalu banyak…” kata Yoon Hee, “Kau harus mengetahui bahaya MSG jika digunakan berlebihan.”

“Oh, begitu ya.” Kata Youngmin terdengar kecewa. “Apa perlu aku ganti?”

“Tidak perlu. Kita makan ini saja.” Kata Yoon Hee sambil tersenyum kecil.

“Baiklah,” Youngmin mengambil piring dan mengambil nasi serta sup. Lalu, mereka mulai makan.

“Oh ya, apa kemarin Minwoo datang kesini?” tanya Yoon Hee sambil memasukkan nasi kedalam mulutnya.

Youngmin sedikit terkejut dengan pertanyaan Yoon Hee. Ia terdiam sejenak. Ia bingung harus menjawab apa. Apa dia harus menjawab dengan jujur? “Ya,”

Yoon Hee melebarkan matanya, “Benarkah? Ada apa dia kemari?”

“Ya, aku bertemu dengannya didepan. Dia membawa barang-barangmu.” Jawab Youngmin acuh tak acuh sambil meneruskan sarapannya.

Yoon Hee mendesah, “Dia tidak mengatakan apa-apa lagi?”

“Tidak. Hanya itu.” Sahut Youngmin tanpa melihat Yoon Hee.

Yoon Hee mendesah lagi. Ia mengucapkan sesuatu yang tidak bisa dipahami Youngmin. Akhirnya, Youngmin melihat kearah Yoon Hee dan bertanya, “Apa?”

Yoon Hee melihat Youngmin balik. Lalu, ia menggelengkan kepalanya. “Tidak, bukan apa-apa.” Katanya dan melanjutkan kembali sarapannya.

“Bagaimana kau bisa tahu Minwoo datang kesini?” tanya Youngmin.

“Aku juga tidak tahu. Tapi, kemarin aku merasa melihatnya dan mendengar suaranya.” Jawab Yoon Hee. Lalu, ia tersenyum kecil dan hanya sekilas. “Mungkin hanya mimpi yang kebetulan.”

Youngmin menatap Yoon Hee sejenak. Memikirkan sesuatu yang tidak dipahaminya. Lalu, kembali fokus pada makanannya.

“Sepertinya aku merasa lebih baik setelah makan masakanmu.” Kata Yoon Hee memuji setelah ia menghabiskan makanannya.

Youngmin tertawa dan sedikit bergurau, “Kau memang pandai menggoda orang, ya?”

Yoon Hee tersenyum, “Sepertinya kau benar, aku memang pandai menggoda dan aku senang menggoda. Apa kau mau aku goda?”

Youngmin melihat Yoon Hee, “Tidak perlu.”

“Kenapa? Kau takut jatuh cinta kepadaku?” goda Yoon Hee sambil tertawa.

Youngmin tidak menjawab. Ia malah menatap Yoon Hee, lalu, “Aku sudah jatuh cinta padamu.”

Wajah Yoon Hee tiba-tiba saja memerah. Ia merasa seluruh tubuhnya panas karena malu. Ini musim dingin, tapi kenapa tiba-tiba saja tubuhnya mulai bermandi keringat. Ia menjadi salah tingkah dan tidak tahu harus bagaimana.

“E…a…e…e, sebaiknya aku mandi sekarang. Aku akan pergi kerja hari ini.” Katanya mengalihkan pembicaraan. Ia bangkit dari meja makannya dan berjalan menuju kamar mandi sambil mendesah kecil, “kenapa tiba-tiba cuaca menjadi sangat panas, ya?”

Youngmin tersenyum kecil saat Yoon Hee sudah masuk kedalam kamar mandinya. Ia lega, walaupun ia tidak mengungkapkannya secara resmi, tapi setidaknya ia sudah mengatakannya. Ia melihat dengan jelas, wajah gadis itu memerah karena malu. Tapi…. ia menyukainya.

***

Yoon Hee masuk kedalam ruang ganti. Ia menyimpan tasnya kedalam lokernya dan baru saja akan mengganti pakaiannya ketika ia mendengar ada orang yang baru saja masuk kedalam ruangan. Yoon Hee membiarkannya dan mengambil baju kerjanya dari dalam loker.

“Kemarin kau kemana?” tanya orang itu.

Yoon Hee menoleh. Ji Ra yang baru saja masuk langsung berjalan menuju lokernya dan melakukan hal yang sama dengannya. Yoon Hee mengalihkan pandangannya lagi dan menjawab, “Aku pergi. Kenapa?”

“Kemana?” tanya Ji Ra lagi tanpa melihat kearah Yoon Hee.

Yoon Hee pun begitu. Ia menjawab tanpa menatap Ji Ra. Mereka sibuk mengganti pakaian mereka. “Aku pergi minum.”

“Minum?” kali ini Ji Ra menatap Yoon Hee dengan bingung. “Dengan siapa? Kenapa?”

Yoon Hee berbalik menatap Ji Ra, “Ceritanya panjang.”

Karena Yoon Hee belum mau menjelaskannya, akhirnya Ji Ra menyerah. Lalu, ia berkata, “Mungkin nanti kita harus bicara.”

Yoon Hee terdiam dan menarik nafas. Sebenarnya ia malas, tapi ia tidak punya alasan yang tepat. Jadi, ia hanya bisa menyetujuinya.

***

Minwoo berjalan dengan sedikit cepat kelantai bawah. Ayahnya menelepon jika ia ingin bertemu. Entah apa yang ingin dibicarakannya, tapi ia rasa ini penting. Setiba dilantai bawah, ia melihat ayahnya sedang duduk didekat jendela sambil meminum coffee. Minwoo merapihkan jasnya lalu, berjalan menghampiri ayahnya.

“Selamat siang,” sapanya setelah tiba dihadapan ayahnya.

“Oh? Kau sudah datang? Duduklah,” kata ayahnya sambil menaruh coffeenya kembali keatas meja.

Minwoo menurut. Ia duduk dihadapan ayahnya. “Apa yang ingin anda bicarakan?”

“Oh, kau tidak ingin berbasa-basi rupanya. Apakah kau sedang sibuk?” tanya ayahnya.

Min Woo tidak menyahut. Ia hanya menundukkan kepala dan melihat ayahnya lagi.

“Baiklah, aku akan langsung mengatakannya.” Katanya. “Ayah akan menyetujuimu untuk kuliah keluar negeri.”

Minwoo terkejut dengan ucapan ayahnya. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar, “Apa?”

“Ya. Bukankah dulu kau ingin kuliah di Amerika?” tanya ayahnya balik. “Atau kau sudah berubah pikiran?”

Minwoo hanya terdiam, tidak menyahut.

“Dan setelah ayah pikirkan, ayah rasa kau sudah cukup dewasa untuk tinggal diluar. Dan kau sudah melakukan banyak untuk café ini. Terima kasih.” Kata ayahnya dan terdiam sejenak lalu, melanjutkan. “Apa kau masih tertarik untuk melanjutkan kuliah disana?” Tanya ayahnya.

Minwoo tidak langsung menyahut. Ia berfikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Aku akan memikirkannya.” Jawab Minwoo.

“Ya, lebih baik kau memikirkannya lagi.” Kata ayahnya membenarkan. “Oh ya, ketika kau disana, kau bisa menempati apartment milik ayah dulu. Apartment itu sudah lama tidak ditempati, jadi kau bisa menempatinya.”

Minwoo hanya terdiam. Ia memang sangat ingin kuliah disana. Kuliah di Amerika memang sangat ia impikan sejak dulu. Tapi, dulu ayahnya tidak mengizinkannya. Jadi, ia hanya mendaftar disebuah universitas yang ada di Seoul. Setelah lulus, ia meneruskan usaha ayahnya.

Dan sekarang, impiannya sudah ada didepan mata. Ia bahkan ditawari untuk kuliah di Amerika. Tapi, kenapa rasanya berbeda? Perasaan dulu dan sekarang sangat berbeda. Ia merasa berat meninggalkannya. Entah apa yang sedang menghalanginya, tapi sepertinya ada seseorang yang menghalanginya untuk pergi. Apakah ia rela mengorbankan impiannya demi seseorang itu?

***

Min Woo berjalan tanpa tujuan. Ia membiarkan langkah kakinya ini membawanya pergi. Ia tidak menyuruh kakinya untuk berjalan, tapi kakinya lah yang membuatnya untuk bergerak. Setelah selesai kerja, ia sengaja meluangkan waktunya untuk jalan-jalan menghirup udara musim dingin pada sore hari. Dan baru disadarinya, ia sudah berdiri tepat didepan sebuah toko buku yang sangat terkenal. Ia merasa senang karena kakinya telah membawanya kemari. Apa karena ia sangat merindukan gadis yang bekerja di toko ini?

Minwoo baru saja akan berjalan mendekati toko itu ketika seorang gadis bersama seorang lelaki keluar dari dalam toko sambil tertawa. Yoon Hee bersama Youngmin? Minwoo memperhatikan mereka dari kejauhan. Youngmin membukakan pintu untuk Yoon Hee sambil mengucapkan sesuatu yang membuat gadis itu tertawa. Lalu, gadis itu mengucapkan sesuatu—Minwoo pikir dia mengatakan terima kasih—sambil tersenyum kepada Youngmin dan masuk kedalam mobil.

Apakah Youngmin menjemputnya setiap hari? Apa mereka pacaran? Apakah ia berhak untuk cemburu?

***

“Oh ya, tahun baru nanti, aku akan mengadakan pameran. Aku harap kau bisa hadir.”

Lamunan Yoon Hee buyar ketika Youngmin tiba-tiba saja mengucapkan sesuatu. Ia berdehem, sedikit berfikir. Lalu, menatap Youngmin sambil tersenyum. “Aku akan mengusahakannya.”

“Aku akan menunggumu. Jika kau tidak datang, aku akan membatalkan pameranku. Dan aku akan mempermalukan diriku sendiri.” Kata Youngmin mengancam.

“Kenapa seperti itu? Kau tidak boleh melakukannya.” Kata Yoon Hee sambil mendorong bahu Youngmin pelan.

“Kalau kau tidak ingin aku berbuat nekad seperti itu, mau tidak mau, kau harus datang.” Katanya. Dia memang benar-benar sedang mengancam.

Yoon Hee mendesah. “Kau ini. Sikapmu terlalu kekanak-kanakan.” Katanya. Ia menatap kedepan dan berbicara, “Baiklah, kita lihat saja nanti. Apa kau benar-benar akan melakukannya.”

“Hey, kau pikir aku sedang bercanda? Apa wajahku terlihat sedang bercanda?” Tanya Youngmin sambil menatap Yoon Hee sekilas.

Yoon Hee mengamati wajah Youngmin. Ia berdehem dan berbicara dengan nada sedikit bergumam, “Wajahmu sangat tidak meyakinkan. Aku tidak percaya.”

Youngmin melebarkan matanya kearah Yoon Hee sambil mendesah, “Ah, kau ini benar-benar…” katanya lalu, kembali melihat kedepan dengan kesal.

Yoon Hee yang melihatnya tertawa. Lelaki ini menyenangkan. Ia menyukainya.

Oopppsss… Apa yang baru saja ia katakan? Ia menyukainya? Ya, ia menyukai sikapnya yang selalu bisa menghibur orang. Ia menyukai itu. Dan baru ia sadari, Youngmin juga ikut tertawa kecil. Tawa lelaki itu berhasil membuat perasaan selalu membaik. Ia nyaman bersama lelaki ini. Lalu, bagaimana dengan Minwoo?

***

Minwoo menutup pintu mobilnya dengan lemas. Ia berjalan menuju pintu rumahnya. Lalu, ia melemparkan jasnya keatas sofa dan berjalan menuju dapur dengan niat untuk mencari minuman.

Ia mengambil sebotol anggur dari atas meja, lalu menuangkannya keatas gelas kecil dan meneguknya habis.  Minwoo menarik nafas berlebihan dan sedikit memikirkan sesuatu yang tidak penting. Ia menaruh gelas kecilnya kembali dan berjalan mengambil jasnya kemudian ia menaiki tangga menuju kamarnya.

Setelah selesai mandi dan mengganti pakaiannya, Minwoo bercermin pada kaca. Ia memandangi dirinya didalam cermin. Ia terlihat kacau, matanya terlihat bengkak karena kekurangan tidur dan wajahnya pun terlihat pucat.

Minwoo berbalik dan berbaring diatas ranjangnya. Ia memikirkan tawaran ayahnya dua hari yang lalu. Apakah ia akan menerimanya? Sebenarnya ia ingin menolaknya saat itu juga karena ia tidak mau meninggalkan gadis itu. Tapi, saat melihat gadis itu telah bersama lelaki lain, Minwoo rasa dia sudah berubah pikiran.

Saat melihat Yoon Hee dan Youngmin dua hari lalu, hatinya sungguh hancur. Cara Yoon Hee tersenyum padanya saat Youngmin membuatnya tersenyum dan tertawa, ia sungguh merasakan kehancuran. Kehancuran harapan dan mimpi. Yoon Hee adalah salah satu kekuatannya. Dia adalah salah satu alasan kenapa ia ingin tetap hidup didunia yang pedih ini.

Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Minwoo meraih ponselnya dan menjawabnya dengan malas, “Hallo,” Sapanya tanpa semangat. Tiba-tiba saja, ia sedikit kaget mendengar suara lelaki diujung sana, “Apa?…Dimana?…Baiklah.”

Minwoo menutup ponselnya lalu, menarik nafas dan mengeluarkannya dengan kasar.

***

Youngmin duduk disebuah warung kaki lima yang berada disebuah gang kecil sambil menuggu Minwoo. Warung ini sangat terpencil, hanya beberapa orang saja yang mengetahui tempat ini. Termasuk dirinya dan Minwoo.

Youngmin melihat tirai yang terbuka dan ia mendapati Minwoo yang masuk lalu, berjalan mendekatinya dan saat ini dia sudah duduk dihadapannya.

“Ada apa?” tanya Minwoo langsung.

Youngmin meneguk sojunya sesaat sebelum balik bertanya, “Kau tidak ingin memesan sesuatu dulu?”

Minwoo menggelengkan kepalanya, “Tidak perlu,” sahutnya dan melanjutkan, “Lebih baik kau cepat katakan, ada apa memanggilku kemari?”

Youngmin menarik nafas dan mengambil sebuah kertas undangan dari dalam mantelnya, lalu memberikannya kearah Minwoo.

“Apa ini?” tanya Minwoo.

“Tahun baru nanti, aku akan mengadakan pameran.” Jawab Youngmin.

Minwoo membuka undangan itu, lalu membacanya. Setelah selesai membaca, ia menutup kembali kertas itu dan melemparkannya keatas meja. “Apakah aku harus datang?”

Youngmin menatap Minwoo. “Itu terserah kau. Tapi, aku hanya memberitahumu,” kata Youngmin lalu, melanjutkan, “Yoon Hee akan datang ke pameranku.”

Minwoo terdiam sambil menatap Youngmin. Lelaki itu seperti sedang berpikir, entah apa yang dipikirkannya. Tapi, ia merasa sikap Minwoo terasa sangat dingin terhadapnya.

“Aku tidak tahu akan datang atau tidak. Tapi, kau jangan terlalu mengharapkan aku datang.” Kata Minwoo lalu, berdiri untuk meninggalkan Youngmin.

Tapi tidak semudah itu. Youngmin harus menahan lelaki itu, apapun caranya. “Jika kau tidak datang,” kata Youngmin dengan nada agak keras. Ia melihat Minwoo menghentikan langkahnya, lalu ia melanjutkan, “kau akan tahu akibatnya.”

Youngmin melihat Minwoo yang berlalu meninggalkannya. Lelaki itu sangat keras kepala, mungkin dia sedang kesal dengan kejadian waktu itu. Jadi, dia bisa memahaminya. J

***

 

TBC ^^

 

Gimana readers ceritanya? Hehe :) kalau ada kesalahan atau kekurangan dalam karakter atau alur ceritaku, mohon maaf ya. Aku disini masih belajar, apalagi ini FF pertamaku😉.

Oh ya, Lebaran sudah tiba😀 Mohon Maaf Lahir Batin ya😉 Semoga puasa kita di terima oleh Allah SWT. Aamiin :) Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H😀 *untuk yang merayakannya*😉

Oh ya, kan ini partnya udah lumayan jauh nih. Jadi, gak lengkap dong kalau kita gak kenal siapa author-nya dan siapa readers nya😀 #Bilang aja mau promote
Jadi, jangan lupa follow twitter aku ya @1998aryn (mention for follback :D) atau like FP aku www.facebook.com/pages/Andarini-Prihapsari/171373489596297?ref=ts&fref=ts J Makasih😉

Tinggal 1 part lagi nih, semoga masih tetep stay😀

Annyeong ~😉

This entry was posted by boyfriendindo.

11 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Love You Like You – Chapter 08

  1. Mohon maaf lahir & batin jugaa ya thor🙂

    Konfliknya lumayan thor…/A: apaan lumayan?/R: yaa gitu deh thor. #GaJe -_- /A: asah golok –”

    Kl aku bkal tetep stay sama setiap ff’mu kok thor*kedipkedipinmata* *authormelting* #plak
    So, harus segera dilanjutkan. Soalnya bikin penasaran. I’ll wait for Your FF😉 ^_^

  2. mohon maaf lahir batin jg, thor kl ngritik terlalu pds *msh ingat kritikan soal POV?*
    jng khawatir q kn slalu stay tune ^^

    • Haha, iya gak apa-apa. Kritik dari kalian adalah batu loncatan untukku. Malah, aku sangat berterima kasih atas kritikannya hehe~
      Makasih ya, semoga endingnya gak mengecewakan😉

  3. daebak…..aku suka ama konfliknya….aku akan tetap nunggu part terakhirnya thor….jangan lama lama ya… annyeong…😉

  4. Mohon maaf lahir dan batin juga thor😉

    Wow.. Panjang banget *.* Sempurnaa *plok

    ada rasa kasian juga sama Minwoo kalo YoonHee sama Youngmin.
    Tapi aku kasian juga sama Youngmin kalo YoonHee sama Minwoo -,_- #plak

    aku akan menunggu part selanjutnya ko😀
    ya, walo pun itu sedikit telat -,_-
    tapi, ditunggu loh thor! ^^

    • Ke panjangan ya? maaf~🙂
      Wah, terus Yoon Hee sama siapa dong biar adil? Sama authornya aja kali ya, *waduhh 😀
      Mkasih ya udah mau nunggu🙂 Aku udh ngirim part endingnya nih, tinggal tunggu di post sama admin bfi nya aja ,, hehe🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: