[FANFICT] One Day

vlcsnap-2013-06-15-14h14m42s138

Title  : One Day
Author : Diah~
Genre         : Romance
Rating          : T
Type   : One Shoot
Main Casts      
: ~ Lee Seya  ~ No Minwoo
Other Cast
: ~ Lee Jeongmin

Enjoying this fanfiction while listening to One Day by Boyfriend ^^

~Happy reading~

Seya terus-menerus memeriksa telpon genggamnya. Menunggu bukanlah pekerjaan yang menyenangkan untuknya kali ini.

“Haruskah kita membocorkan ban pesawat terlebih dahulu sehingga keberangkatan hari ini ditunda?” Lee Jeongmin, saudara kandung Lee Seya mulai mengganggunya dengan pertanyaan yang membuat suasana hati gadis berambut panjang ini menjadi semakin buruk.

“Oppa! Apakah pernah sebelumnya oppa melihat aku seburuk ini? maksudku mood ku.” Seya berdiri lalu mengambil mini bag nya.

“Biar aku pikir dulu. Mmmm~” Seya memutarkan kedua bola matanya dan menarik napas panjang. “Aku pernah melihat mood mu lebih buruk dari hari ini setiap bulannya. Ya biasalah wanita.” Jeongmin membuat tanda kutip dengan kedua tangannya ketika mengucapkan “wanita”.

“Bagus kalau oppa mengerti bagaimana “wanita” itu.” Kali ini Seya mengikuti gaya oppa nya berbicara. Dia menarik langkahnya menuju toilet terdekat.

“Kemana adik mu pergi?” Mr. Lee yang baru saja selesai check in untuk keberangkatan mereka ke Taiwan pagi ini bertanya ke Jeongmin sambil melihat putrinya berjalan jauh dengan gerakan langkah yang lumayan cepat.

“Mencari tempat persembunyian untuk menangis. Sehingga dia tidak perlu menjadi pusat perhatian oleh banyak orang.” Jawab Jeongmin datar sambil membaca bukunya. “OUCH!!! Omma~~” Jeongmin mengelus lengan kanannya yang telah dicubit kecil oleh omma nya.

“Dia sedikit bersedih karena menunggu Minwoo yang tidak datang pagi ini ke bandara. Padahal hari ini adalah terakhir kalinya mereka bertemu.” Jelas Mrs. Lee ke suami nya.

“Anak-anak kita sudah remaja dan merasakan sedihnya cinta ternyata.” Mr. Lee tersenyum kecil.

Sedikit berlebihan kah jika seorang gadis remaja seperti Lee Seya bersedih dan menangisi kekasihnya yang tidak datang? Seya merasakan kekecewaan tepatnya. Meskipun dua hari lalu Seya dan Minwoo baru saja bertemu di sekolah dan meskipun tadi malam Seya baru saja mendengarkan Minwoo bernyanyi melalui telpon, tapi itu belum cukup. Seya ingin bertemu dengan Minwoo untuk terakhir kali nya di Korea hari ini, pagi ini, di bandara.

Tiga Minggu Yang Lalu..

“Apakah ada tempat yang ingin sekali kamu kunjungi minggu ini ?” Seya sedang menuliskan sebuah bucket list. Minwoo yang sedari tadi sedang merapikan catatan sekolahnya berhenti.

Dance Gangnam Festival.” Jawab Minwoo sambil senyum lebar. Seya langsung menuliskan jawaban Minwoo. “Itu apa?” Minwoo tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh Seya.

“Ini bucket list.” Seya masih tetap menulis sambil sesekali tersenyum. “Tadaaaa~” Diangkatnya selembar kertas dan diperlihatkannya ke Minwoo.

Permen asin, cincin penutup kaleng, bandana kelinci, …… ” Minwoo membaca satu persatu point-point yang ditulis oleh Seya  dan membuatnya semakin bingung. “Dance Gangnam Festival, Berpelukan di bawah hujan!?” Suara Minwoo mengecil membaca point terakhir lalu menatap Seya yang bersemangat.

“Ini …… semua adalah kegiatan atau hal yang sangat ingin aku lakukan denganmu dalam dua minggu ini.” Seya mengambil kembali kertas tersebut dan lalu disimpannya di dalam tas.

Hujan sudah mulai reda. Hanya mereka berdua yang masih tertinggal di dalam kelas. Selang ketika Seya membersihkan kelas karena jadwal piket yang didapatnya, hujan tida-tiba turun dengan sangat lebat. Jadi diputuskan untuk menuggu reda terlebih dahulu, meskipun sekolah mereka menyediakan payung yang bisa dipinjamkan.

“Seya. Kenapa harus dalam dua minggu ini ?” Minwoo bertanya. Seya yang berjalan di depan Minwoo pun berhenti dan berbalik badan. Pulang bersama berjalan kaki setiap hari sekolah adalah yang selalu mereka lakukan.

“Kira-kira dimana kita bisa menemukan permen asin? Aku ingin membelinya sebanyak mungkin sekarang juga?” sebuah pertanyaan lain terlontar di jalanan yang sedang sepi. Tidak ada jawaban dari Minwoo. Apakah dia sedang berpikir tempat membeli permen asin atau memikirkan yang lain !?

Ada yang aneh dengan Seya. Dia seperti menyembunyikan sesuatu. Tidak bagus kalau menanyakan tentang itu sekarang. Pikir Minwoo.

“Ayo.” Minwoo menarik tangan Seya perlahan. Mencari permen asin adalah tema jalan-jalan sepulang sekolah hari ini. Sebisa mungkin Minwoo menahan diri untuk tidak menanyakan banyak hal yang membuat dia penasaran. Dari bucket list hingga “dua minggu” yang dimaksudkan oleh Seya. Seya bertingkah seolah-olah mereka tidak akan pernah bertemu lagi.

“Enak…… dan gurih.” Layaknya bocah TK. Begitulah Seya ketika dia sudah mendapatkan hal yang sangat diinginkannya. Dia menikmati permen asin dengan polosnya. Sesekali menggerakkan kakinya dengan riang lalu tersenyum-senyum. Seya yang selalu unik dalam melakukan apa pun. Kali ini bungkusan permen asin yang ketiga dibuka. “Ahjussi. Hari ini aku akan membeli 6 bungkus saja. Besok aku akan kembali lagi.” Begitulah yang dia katakan tadi kepada penjual permen asin di ujung jalan dekat mini market.

“Andaikan aku bisa memakan ini sambil menggunakan bandana kelinci yang lucu. hahahaha” lanjut Seya.

“Bukannya kamu sangat membenci kelinci Seya. Atau aku salah.” Minwoo ingat sekali akan hal itu. Hanya karena seekor hewan ini, pernah Seya tidak berbicara kepada Minwoo selama tiga hari.

Waktu itu seminggu sebelum ulang tahun Seya. Minwoo sangat bingung apa yang harus dia berikan. Dia juga belum terlalu tahu apa yang disukai oleh Seya karena mereka pun belum genap dua bulan berpacaran. Jeongmin yang kebetulan saudara kandung Seya sekaligus sunbae-nim Minwoo di sekolah dengan berbaik hati menyarankan untuk memberikan kelinci. Minwoo tidak tahu kalau Seya begitu bencinya dengan kelinci karena takut melihat gigi hewan tesebut.

Seekor kelinci putih bersih yang telah dikandangkan pun siap diberikan untuk Seya nanti sepulang sekolah. Segalanya sudah tersusun dengan rapi. Rencana pulang sekolah bersama, berjalan sambil mengobrol seperti biasa, lalu membawa Seya berhenti sebentar di sebuah taman dimana tempat kelinci itu disembunyikan kemudian “kejutan!!” Minwoo mengangkat sebuah kandang kelinci di depan Seya.

“Yah!!! Jauhkan itu.” Dengan sangat terkejut Minwoo mendengar suara tinggi Seya.

Minwoo tidak mengerti maksud dari Seya.

“Jauhkan itu sekarang juga, Minwoo.” Seya memundurkan langkahnya perlahan.

“Hei. Ini hadiah ulang tahun untukmu.” Sahut Minwoo.

“Oh ya. Hadiah terburuk yang pernah aku terima.” Seya lalu berlari pulang.

Dan sebenarnya apa yang terjadi dengan Seya. Kali ini dia ingin menggunakan bandana kelinci, hewan yang sangat dibencinya.

“Ternyata kamu tidak lupa akan hal itu Minwoo. Tidak ada salahnya kan kalau aku ingin sekali bandana kelinci. hehehe” Seya tersenyum lebar.

“Bagaimana bisa aku lupa dimana selama tiga hari kamu mengabaikanku hanya karena seekor kelinci. Kamu tahu? Ternyata aku begitu polosnya percaya dengan oppa mu yang usil itu, Lee Jeongmin. Hahaha” Kata Minwoo.

“Polos? Kamu bukan polos. Hanya sedikit bodoh. Hahaha.” Seya tertawa.

Sebagian bucket list milik Seya sudah terpenuhi dalam beberapa hari ini, termasuk salah satunya cincin penutup kaleng. Minwoo sedikit ragu-ragu menggunakan alat yang dipinta oleh Seya agar digunakannya di sekolah seharian. Hari sabtu, hari ekskul jadi tidak jam pelajaran melainkan seharian di ruang klub ekskul untuk beberapa kegiatan. Seya dari awal masuk sekolah memilih ekskul film dimana dia gemar sekali merekam moment-moment berharga setiap gerak-gerik orang di sekitarnya. Sedangkan Minwoo mengambil ekskul dance music sama seperti Jeongmin.

“Cincin penutup kaleng oh cincin penutup kaleng oh …. ” terdengar Jeongmin menyanyikan lirik lagu yang aneh sambil memainkan tut tut piano sembarang. Minwoo tahu sekali kalau Jeongmin sedang menggodanya. Karena ke-cuek-an Minwoo, Jeongmin pun mengeraskan volume nyanyi nya. Dia sangat senang menggoda Minwoo.

“Hyung !!! Please !!!!” Minwoo pun berteriak dari jauh.

“Wae?!” Balas teriakan dari Jeongmin lalu ia melanjutkan nyanyian tidak jelasnya itu. Satu hari ini Minwoo dibuat malu oleh Jeongmin.

Minwoo menceritakan tingkah Jeongmin ke Seya.

“Jadi kamu malu menggunakan cincin itu? sudah kuduga.” Seya lalu menghembuskan napas panjang yang berarti kecewa. Melihat itu, Minwoo jadi merasa bersalah.

“Bukan. Hanya saja, aku tidak terbiasa akan ini.” Jelas Minwoo.

Seya menyeruput dan sesekali mengaduk-aduk segelas besar Lemon Ice Cream Tea.

“Setelah aku pergi, maka kamu akan merindukan cincin itu.” sambung Seya yang lalu mengambil handycam nya dari tas untuk meng-shoot beberapa scene di tempat mereka sedang menghabiskan sore.

Kala itu Seya berharap Minwoo tidak mendengar ucapan terakhirnya. Tapi salah. Minwoo dengan jelas dapat mendengar pernyataan tersebut sehingga terbalas oleh sebuah pertanyaan. “Kamu mau kemana ?”

Tidak ada jawaban dari Seya. Dia berpura-pura sibuk dengan handycam nya dan tidak mendengarkan pertanyaan Minwoo.

“Kamu mau kemana Lee Seya?” Minwoo bertanya lagi sambil mengambil alat yang menyibukkan diri Seya dengan pelan.

“Taiwan.” Jawab Seya singkat. “Kami semua akan pindah ke Taiwan awal bulan depan.” Sambungnya.

“Kita sudah di semester akhir untuk kenaikan kelas dan bukankah itu sangat tanggung jika kamu pindah ?”

“Aku dan Oppa juga berpikir begitu tapi sayangnya orang tua kami malah sebaliknya.”

“Karena itu kamu membuat bucket list !?” Kini Minwoo tahu maksud dari “dua minggu menyelesaikan bucket list“. Seya akan pindah ke Taiwan. Tidak akan ada lagi Seya dari awal bulan depan nanti. Tidak akan ada lagi Seya yang memberikan tepuk tangannya ketika Minwoo sendirian di ruang latihan dance di sekolahnya.

“Ya begitulah hehe~” Seya masih bisa memberikan tawa polosnya. “Coba kita lihat apa lagi yang belum kita lakukan.” Seya mengeluarkan kertas bucket list.

“Berikan pada ku.” Minwoo mengambil kertas itu dengan semangat lalu menuliskan sesuatu.

“ONE DAY !?” baca Seya. Tertulis ONE DAY dengan tulisan cetak dan tebal. “Apa ini ?”

“Minggu depan, biarkan aku yang mengatur semua rencana kencan kita seharian.” Ujar Minwoo.

“Kencan terakhir kita.” Seya memperbaiki kalimat Minwoo. Selanjutnya keheninganlah yang mengelilingi pasangan ini dalam 10 menit. Di antara mereka berdua seperti tidak ada yang ingin diperbincangkan. “Kamu masih ingat dimana hari aku menyatakan perasaanku?” Seya memulai obrolan.

“Tentu saja. Saat itu aku merasa seperti pria bodoh dan pengecut.”

*BRAK* Suara pintu ruang club dance music terbanting. Seorang yeoja berambut lurus panjang yang dikuncir seperti ekor kuda masuk sambil memegang handycam untuk meng-shoot.

“No Minwoo !!” Teriaknya dengan handycam yang fokus diarahkan ke namja yang tengah berlatih dance di sudut ruangan. Tidak memperdulikan tatapan siswa-siswa lain di sekelilingnya, dia pun mendekati Minwoo yang kali ini sedang melihat yeoja itu dengan bingung, takut sekaligus gugup. Minwoo mengenal yeoja itu tapi dia tidak pernah berani untuk mengobrol dengannya.

“Aku menyukaimu dan jadilah namja chingu ku!” ucap yeoja yang bernama Lee Seya dengan mantap masih tetap meng-shoot menggunakan handycam. Dia tidak mau meninggalkan moment dimana No Minwoo menjawab pernyataannya.

Seya berkata apa? Minwoo sejenak seperti tidak mendengar apa pun. Dia terkejut. Lee Seya, seorang yeoja yang akhir-akhir ini mengisi mimpinya tiba-tiba muncul di hadapannya dengan cara yang WOW !! Tidak dipungkiri. No Minwoo sudah lama menyukai yeoja ini, tapi dia tidak berani mendekatinya.

Ruang club sudah sangat ramai. Siswa-siswa sekolah mulai berdatangan menyasikkan adegan “berani” dan konyol seorang yeoja.

“Kamu sudah lama kan menyukai adikku, No Minwoo-ssi?” Jeongmin muncul di belakang Seya sambil tertawa kecil.

“Oppa?” “Hyung?” ucap Seya dan Minwoo bersamaan. Seya menurunkan handycam nya. Minwoo kaku mendengar ungkapan sunbae-nim nya itu.

“Ha~ Ayo lah !! No Minwoo, katakan kalau kamu menyukai adik ku sekarang atau kamu menyesal nantinya.” kata Jeongmin yang disambut sorakan para siswa.

“Oppa!! Jangan berkata yang tidak-tidak.”

“Aku tidak mengada-ngada. Minwoo adalah cowok pemalu. Karena itu dia tidak pernah mendekatimu atau sekedar mengajakmu ngobrol.” Jeongmin benar. Minwoo selalu gugup jika dekat dengan Seya.

“Jangan buang kesempatan ini, No Minwoo” sambung Jeongmin.

“Katakan!! Katakan!! Katakan!!” Sorak sorai para siswa memenuhi ruangan. Minwoo berjalan perlahan ke arah Seya. Setiap langkah Minwoo menambah detak jantung Seya menjadi lebih cepat dan sorak para siswa pun semakin keras ketika Minwoo mulai dance di depan yeoja yang menginspirasinya itu.

“Aku pun dance tidak jelas dengan pikiran kosong dan lalu menyatakan perasaanku. Kalau saja saat itu kamu tidak melakukan hal nekat dengan masuk ke ruang club ku, mungkin sekarang kita tidak seperti ini. Hahaha” Minwoo dan Seya mengingat hari konyol, aneh dan tak terlupakan untuk mereka berdua.

“Dan kamu harus berterima kasih dengan Oppa ku tentu saja. Cih, padahal sebenarnya dia merusak rencana ku. Seharusnya dia tidak masuk ke ruangan itu. Tapi yasudahlah.”

“Minwoo! Katakan sesuatu.” Seya menghidupkan handycam nya lagi dan mengarahkan ke Minwoo.

Minwoo berpikir sejenak dan lalu “Lee Seya! Saranghae.” ujarnya mantap dan jelas. Minwoo bukanlah pria yang sering mengucapkan kata seperti itu, meskipun dengan gadis yang sudah menjadi kekasihnya.

Kedua pipi Seya menjadi merah padam. Setelah menurutnya cukup untuk direkam. Dia pun dengan cepat dan salah tingkah memasukkan barang-barangnya kembali ke dalam tas.

“Kenapa kamu terburu-buru ?” Minwoo tahu kalau Seya sedang salah tingkah saat ini. Godaan Minwoo membuat Seya menjadi lebih aneh.

“Tidak. Sepertinya kita harus pulang sekarang. Aku takut tidak ada lagi bus.” Mana mungkin tidak ada lagi bus. Waktu masih sore dan mereka saat ini di tengah kota. Tentu saja banyak bus yang akan dan masih datang. Seya imut sekali ketika malu seperti ini. Pikir Minwoo.

Daerah Gangnam dari minggu pagi ini sudah ramai dikunjungi oleh penduduk atau tepatnya remaja sekitar. Dance Gangnam Festival. Kalian berpikir ini festival flashmob Gangnam Style milik Psy. Bukan. Festival ini berlangsung untuk para penduduk korea yang senang akan menari. Musik secara random akan diputar dengan volume max dan lalu siapa pun bebas menari sesuka hatinya. Selain itu, banyak outlet-outlet yang berhubungan dengan dance stuff seperti baju, sepatu dan tentu saja outlet makanan yang tidak ketinggalan.

Minwoo banyak bertemu dengan temannya disini. Dari teman sekolah hingga teman-teman yang pernah dance bersama dengannya di beberapa event. Seya sangat gugup kalau berada dikeramain yang mostly adalah teman-teman Minwoo.

“Kenalkan ini Lee Seya. Yeoja chingu ku.” Begitulah cara Minwoo memperkenalkan Seya. Dan Seya hanya mengangguk sedikit dengan muka kemerah-merahannya. Meskipun aku seorang namja pemalu tapi aku tidak malu memperkenalkan gadis di sampingku. Begitulah pikir Minwoo.

Minwoo sedang dance battle dan Seya sedang merekam detail setiap gerakan Minwoo. Dia selalu terlihat berbeda ketika menari. Seperti cahaya hanya mengelilinginya dan panggung hanyalah miliknya seorang. Pikir Seya. Minwoo seorang namja yang selalu meng-ekspresikan perasaan yang dia miliki dengan tarian.

Tiba-tiba Minwoo mengambil handycam yang dipegang oleh Seya. “Ayolah sekarang giliran mu menari. Tunjukkan kemampuanmu Lee Seya. Hehehe”

“Hei. Aku tidak ahli akan itu.” Balas Seya yang mencoba merebut handycam nya.

“Eits. Biarkan kali ini aku yang menjadi cameraman nya. Lee Seya Lee Seya Lee Seya.” Teriak Minwoo yang lalu diikuti oleh beberapa temannya. Lagu Love Style oleh Boyfriend terputar di antero Gangnam.

Ottokaji~ Pikir Seya. Dia pun dengan asal menggerakkan tangan dan kakinya menari mengikuti irama. Gelak tawa demi tawa pun keluar melihat ke-kaku-an yeoja ini. Minwoo juga kemudian menggerakkan seluruh badannya untuk menari bersama Seya. Oh andaikan ada orang yang berbaik hati merekam moment mereka berdua.

“Jadi, bagaimana dengan ONE DAY itu ?” Tiga hari lagi menuju hari minggu terakhir di kencan terakhir mereka. Minwoo masih belum membuat perencanaan dengan matang.

“Segalanya akan baik-baik saja dan sempurna. Hehe” Jawab Minwoo sambil mengayuh sepeda. Bersepeda ketika pulang sekolah, salah satu bucket list milik Seya terpenuhi. Dia ingin seperti di drama-drama dimana seorang namja memboncengi yeoja chingu nya.

“Bukankah ini sangat manis, Minwoo?” Tanya Seya di belakang. Dan dibalas dengan “Um?” oleh Minwoo.

“Seorang yeoja diboncengi oleh namja chingu nya. Haaaaa~ Semoga aku tidak begitu berat sehingga membuatmu lelah mengayuh sepeda ini.” keluh Seya sedikit.

“PEGANGAN YANG ERAT KARENA AKU AKAN MENGGUNAKAN SUPER POWERKU. HAHAHAHAHA” Teriakan girang Minwoo memecah jalanan yang sepi. Seya dengan cepat memeluk pinggang Minwoo. Hembusan angin, gelak tawa serta suara kayuhan sepeda menemani sore yang sepi. Mereka memutuskan untuk berkeliling sejenak di daerah perumahan Seya sebelum pulang. Ingin rasanya tiada malam dan akhir di hari ini.

“Seya, kamu tidak merasakan tetesan hujan?” Minwoo mengangkat sebelah tangannya seperti ingin menampung hujan. Dia pun melihat ke langit yang mulai gelap karena mendung.

“Iyakah?” Seya mengikuti gerakan Minwoo. Tidak lama kemudian hujan turun dengan sangat deras. Payung atau bahkan jas hujan tidak ada bersama mereka saat itu. Minwoo mencari tempat berteduh terdekat.

“Hahahaha” Tawa Seya membuat Minwoo bingung.

“Apa yang kamu tertawakan gadis aneh?” Minwoo menjitak pelan Seya.

“Sudah lama sekali aku tidak mandi hujan seperti ini.” Seya menyeka lengannya yang basah menggunakan tissue yang selalu dibawanya.

“Kalau gitu, ayo!!” Minwoo menarik pelan tangan Seya, mengajaknya bermain hujan.

“hah?” Tanpa perlu menunggu lama jawaban Seya, Minwoo pun menarik Seya ke bawah derasnya hujan. Mereka berdua menikmati hujan seperti anak kecil. Bermain genangan air sembarang di pinggir jalan. Sesekali tertawa lepas. Minwoo tidak tahu kalau ternyata Seya menangis di tengah gelak tawanya. Air mata Seya tertutupi oleh air hujan yang membasahi wajahnya. Dia menangisi hari-hari yang dia lewati dengan Minwoo belakangan ini. Lebih indah daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

Mereka pun pulang dalam keadaan basah dan hujan masih mengguyur. “Cepatlah masuk. Nanti kamu akan sakit jika berlama-lama di luar.” ujar Minwoo sejenak sebelum Seya masuk ke dalam rumahnya.

“Kita akan kemana di kencan terakhir kita?” Seya berkata sambil senyum.

“Bisakah kamu tidak mengatakan itu sebagai kencan terakhir? Kita ketemu di pancake house dekat taman bermain jam 1 siang.” Minwoo sedikit kesal mendengar pertanyaan Seya.

“Wae!? Tidak ada yang salah kan !? Itu adalah kencan terakhir. Atau kamu mau menyusulku ke Taiwan?” Seya menjawab dengan menambahkan nada penekanan untuk meyakinkan Minwoo. Minwoo menarik Seya dengan kuat ke pelukannya. Hanya ada suara hujan dan suara detak jantung mereka berdua dengan cepat.

“Kenapa kamu begitu bodoh? Tidak akan ada yang namanya kencan terakhir. Kita masih bisa bertemu di sekolah beberapa hari setelah hari minggu nanti.” Minwoo semakin menguatkan pelukannya.

Seya hanya menjawab dengan tangisan yang memecah. Tidak ada lagi senyuman palsu yang belakangan ini ia tunjukkan ke Minwoo. “Bucket list ku terpenuhi lagi satu. Tapi kenapa aku harus menangis. HAAAAAAA” Tangis Seya semakin keras.

Keesokan harinya Minwoo tidak menemukan Seya duduk belajar bersama dengan siswa yang lain di kelas. Jeongmin bilang, Seya demam dan harus istirahat satu harian penuh. Tidak seharusnya aku mengajak ia bermain hujan kemarin. Pabo Minwoo. Minwoo pun memukul kepalanya sendiri.

“Hanya karena Seya tidak datang ke sekolah satu hari dan demam, kamu menjadi gila seperti ini memukul kepala sendiri?” Jeongmin bertanya sambil memberikan tatapan aneh kepada hobae nya satu ini.

“Ah ani.” Minwoo cepat-cepat mengelak. Dia memutuskan menuju kantin membeli beberapa snack dan mungkin saja bisa duduk bersama beberapa temannya disana. Minwoo khawatir dengan keadaan Seya sekarang. Kalau dia sakit, apa nantinya dia bisa pergi di hari minggu ini. Atau apakah dia bisa berangkat ke Taiwan dalam keadaan badan sudah pulih. Hanya demam. Pikir Minwoo positif.

Kurang lebih hampir sejam Minwoo duduk di pancake house menunggu kedatangan Seya. Hari Minggu terakhir yang Minwoo dan Seya tunggu-tunggu sudah tiba. Maka kurang lebih ada sekitar 6 hari lagi keberangkatan Seya ke Taiwan. Minwoo tidak henti memperhatikan gerak jarum jam yang terkesan bergerak sangat cepat belakangan ini.

“Hah-hah-hah- Apa aku membuatmu menunggu sangat lama?” Seya mencoba mengatur napasnya setelah berlari. Hari ini penampilan Seya sangat berbeda. Dengan menggunakan dress putih selutut dan dibalut dengan cardigan jeans. Rambut agak ikal tergerai. Minwoo terpana dan menatap Seya sangat lama.

“Ada yang salah dengan gaya ku hari ini?” Seya merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari-jari lentiknya.

“Ani. Kamu cantik sekali.” Keduanya menjadi salah tingkah.

Tidak rugi Seya menghabiskan waktu hampir tiga jam di depan lemari mengobrak-abrik setiap helai pakaian yang dia punya. Lalu setengah jam berada di depan cermin touch up senatural mungkin.

“Oh hari ini kita piknik?” Mata Seya terbelak sedikit terkejut melihat keranjang piknik yang tergeletak manis di samping kaki Minwoo.

“Ya. Bisa kita pergi sekarang ?”

“Bisa kita makan sepiring pancake sebentar ?” Seya memanyunkan bibirnya sedikit. Ah Imut sekali. Pikir Minwoo. Sambil menunggu Seya datang tadi, Minwoo sudah makan pancake dan minum segelas lemon tea. Jadi saat ini dia hanya memperhatikan Seya makan dengan lahapnya.

“Ha sejuk sekali hari ini. Tidak terlalu panas. Hehehe.” Minwoo menggandeng tangan Seya lembut sepanjang jalan menuju taman untuk mereka piknik.

“Sebentar! Sepertinya aku lupa membeli air mineral.” Minwoo menghentikan langkahnya dan diikuti oleh Seya.

“Mmm~ pergilah beli. Biar aku yang mencari tempat untuk kita duduk.” Seya mengambil keranjang yang dipegang Minwoo. Seya berkeliling mencari tempat yang pas. “Di tengah-tengah taman yang luas ini sepertinya seru. Lagian juga tidak ada orang sekarang.” Ujar Seya sendiri. Dia membuka alas duduk dan kemudian duduk rapi menunggu Minwoo datang. Memandangi langit yang berbentuk unik dan tidak deskripsikan terkadang menjadi sangat menyenangkan untuk Seya.

vlcsnap-2013-06-15-14h13m10s235

“Kenapa kamu tidak mengeluarkan makanan yang ada di keranjang ?” kata Minwoo sesegera dia sampai.

“Hum?! Oh … Aku masih kenyang dengan pancake yang tadi. Coba lihat itu.” Seya menunjuk ke arah langit yang menurutnya bentuk langit itu sangat lucu. Minwoo pun duduk di samping Seya dan melihat ke arah yang Seya tunjuk.

“Mirip dengan Jeongmin Oppa. Hahaha.” sambungnya yang lalu dengan tawa.

“Kamu sangat pintar memilih taman, Minwoo.” Puji Seya.

“Dan kamu sangat pintar memilih tempat untuk kita duduk di tengah-tengah seperti ini, Seya.” Minwoo melihat sekeliling.

“Hahahaha. Tidak orang lain. Dan kalau ada pun, bukannya sangat seru untuk menarik perhatian orang lain.” Ungkap Seya dengan evil smirk nya itu.

“Dasar aneh.” Jitak Minwoo pelan.

Mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol segala hal. Seya tentang Jeongmin oppa nya yang selalu menggodanya di rumah dan Minwoo tentang event-event dance yang menunggunya kelak.

Seya dengan pelan lalu meletakkan kepalanya di bahu Minwoo. “Biarkan aku tertidur sejenak.” Seya mulai menutup mata. Minwoo pun tersenyum melihat gadisnya itu mulai tidur.

vlcsnap-2013-06-15-14h13m24s123Tidak akan ada hari ini seperti ini setelah itu. Haruskah aku juga pindah ke Taiwan bersama mu, Lee Seya. Pikir Minwoo singkat. Tapi tidak mungkin. Minwoo hanyalah seorang siswa angkatan dua di sekolah menengah atas, belum berpenghasilan, segalanya masih hidup bergantung kepada orang tua dan bodoh pastinya jika tiba-tiba minta pindah ke Taiwan. Minwoo belum siap mendengar omelan Ommanya yang dahsyat setelah mendengar permintaan konyolnya pindah sekolah ke tempat Seya kelak di Taiwan.

Bucket list ku selesai sudah. Ungkap Seya di hatinya.

Aku juga belum siap melihat mu terakhir di bandara nanti. Ungkap Minwoo di pikirannya.

“Hari minggu beberapa hari yang lalu, itu adalah kencan yang mengesankan untukku.” Ujar Seya di seberang.

“Kamu sedang memberikan pujian?” Minwoo bertanya dengan handphone berada di telinganya. Habiskan malam mendengarkan suaramu. Begitulah kata Seya setelah Minwoo mengangkat telpon darinya.

“Tentu saja. Melihat langit berbentuk wajah Jeongmin oppa, merasakan sejuknya hari, duduk di tengah-tengah taman dan dilirik oleh orang banyak yang mulai ramai bermain di taman. Hahaha.”

“Sebenarnya aku ingin mempersiapkan yang lebih mengesankan.”

“Beberapa hari ini menghabiskan bucket list ku bersama mu dan mendapatkan ONE DAY mu itu sudah lebih dari cukup untukku.” Sesaat kemudian setelah keheningan terjadi terdengar suara tangis dari Seya di seberang.

Minwoo tidak tahu harus berkata apa untuk menenangkan Seya. Jadi hanya mendengarlah yang bisa ia lakukan saat ini. Dia berpikir kalau dia adalah napeun namja . Tapi menurut Seya, mendengarkan tangisan orang lain lebih baik daripada menenangkan dengan mengatakan hal-hal yang terkadang sangat nonsense.

“Jam berapa pesawat akan take off besok ?” Tanya Minwoo begitu dia tidak mendengar lagi Seya menangis dan menurutnya sudah cukup tenang.

“Jam 10 pagi. Kami akan berangkat dari rumah jam setengah 8.” Jawab Seya. “Kamu akan mengantarkan ku di bandara nanti kan?” Seya bertanya balik.

Minwoo berpikir sejenak. “Tentu saja.”

Hari H !!!

Seya mengunci diri di toilet. Duduk di kloset. Dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Minwoo dari tadi tidak menghubunginya atau sekedar mengirimkan pesan.

“Cih! Aku mulai membencimu No Minwoo-ssi!!” Seya menendang tong sampah kecil yang terletak tidak jauh di depan dia duduk. Suara tendangan itu terdengar ke luar.

Seya masih tidak tahu kalau sebenarnya Minwoo sedari tadi sudah berada di Bandara. Dia hanya saja tidak mau menemui Seya secara langsung. Seya menghabiskan waktu hampir 15 menit di dalam toilet tanpa melakukan apa pun selain mencoba menghubungi Minwoo.

Minwoo merasakan telpon genggamnya bergetar di kantong kemeja yang ia kenakan.

Lee Seya. Tertulis nama itu di layar handphone nya. Baiklah kali ini akan ku jawab. Ungkap Minwoo.

“Yobusseo, Seya.”

“YAH!!! Kenapa kamu tidak kemari??” Pekikan serta omelan Seya yang sangat jarang terdengar oleh Minwoo kali ini menggema di telinganya.

“a…a….aku…masih di sekolah. Guru memberikan sedikit tugas untukku.” Alasan singkat dan dadakan muncul begitu saja di mulutnya. Minwoo takut bertemu dengan yeojachingu nya. Bukan takut akan omelannya, melainkan takut dia akan menangis di depan Seya seperti orang bodoh dan tidak rela melihat dia pergi.

Seya tidak memberikan tanggapan akan alasan yang dilontarkan Minwoo.

“Maafkan aku.” Ujar Minwoo lagi. Minwoo memegang erat sebuah surat yang sudah ditulisnya semalaman. Surat ini seharusnya berada di tangan Seya saat ini. Tapi Minwoo bodoh tidak memberikannya.

“Ya sudahlah. Tugas di sekolah memang lebih penting. Hehe” Inikah tawa Seya yang sebenarnya? Aku mendengar ada rasa sakit di setiap kata yang dia keluarkan.

Seya keluar dari toilet dan berjalan menuju tempat orang tua dan oppa nya berada. Minwoo masih melihat Seya dari kejauhan.

“Hati-hatilah di jalan.”

“Hem…Aku akan memberi kabar secepat mungkin setelah sampai disana.” Mereka berdua masih mengobrol melalui telpon.

“Ku tunggu. Juga jangan terlalu paksakan dirimu untuk menghubungiku jika dalam keadaan sibuk.” Ujar Minwoo yang dibalas dengan sentakan kaget dari Seya di seberang.

“Apa maksudmu? Sebisa mungkin aku akan tetap menghubungimu. Bercerita dan tertawa seperti biasanya kan!?”

Tapi menurutku tidak, Lee Seya. Minwoo menjawab di hatinya.

“Ayo.” Omma Seya memegang pundak Seya dari belakang mengajaknya untuk berangkat segera. Minwoo pun mendengar kata ajakan dari Omma Seya melalui telpon.

“Ya sudah. Hati-hatilah. Pesawat sudah mau berangkat sebentar lagi hehe. Saranghae.” Minwoo langsung menutup telponnya.

Seya memeluk Omma nya. Tangisan yang keluar. Minwoo merasa sakit membuat Seya menangis seperti itu. Tapi ini jauh lebih baik. Aku jahat dan pengecut. Seya lebih baik melupakanku.

In the rain, I miss you more than ever today
I suddenly think of you and smile
You, who was more special than anyone else, where are you?

One Day – Boyfriend

Tidak ada hari akhir dalam sebuah hubungan selama kenangan-kenangan manis masih bermekaran di pikiran kita berdua.

Seya percaya Minwoo akan hadir di hadapannya layaknya seorang kekasih sejati.

Minwoo yakin kalau akan ada keberanian kelak menyelimutinya untuk bertemu dengan Seya, my first love.

~~~

Note Author :

FF ini seharusnya terbit di tanggal 31 Juli tepat ulang tahun Minwoo.

Yeoja yang di FF ini bernama Lee Seya yang sebenarnya di foto adalah yeoja lain. Jadi anggap saja dia sebagai Lee Seya. Hihihi

Thanks for reading and enjoy my other fanfictions here.

Please give your much love to BFIfanfiction ^o^

*open critics and comments of course*

This entry was posted by boyfriendindo.

12 thoughts on “[FANFICT] One Day

  1. Bagus thor ceritanya!
    Feelnya dapat, cuman maaf ya sedikit typo. Tapi tak pa-pa tetap semangat bikin ff lagi ok?🙂 oh, ya saya juga suka banget sama lagu boyfriend-one day ini. Pilihan yg tepat banget buat jadiin ff. hehe..

  2. feel.a dpt bgt trs ending.a bikin q nangis T.T
    sequel.a donk, dibikin happy ending gitu🙂 (kalo mw bikin.a)
    eh y, blh tw nama lengkap cingu g?? soal.a q lost contac sm tmn q & nama dpn.a sm ky cingu, tp kl privasi jg gpp koq
    keep writing ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: