[FANFICT/FREELANCE] Love You Like You – Chapter 09 (END)

Title 
: Love You Like You – Chapter 09 (END)
Author   : Aryn Chan (@1998aryn)
Genre         : Romance
Rating          : G
Type   : Chaptered
Main Casts      
: ~ No Minwoo  ~ Jang Yoon Hee

  ~ Jo Youngmin

  ~ Kim Yuri

>>>>AUTHOR NOTE

Hallo Pembaca ^^

Bagian ending sudah siap. Hehe J Semoga ending nya gak mengecewakan ya. Dan semoga kalian menyukai hasil akhirnya. Aku harap kalian merasa terhibur dan bisa merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh-tokoh ini. Sekali lagi terima kasih banyak~

Kritik dan saran terbuka lebar. Jangan lupa komentarnya ya~ Gamsahamnida😉

***

LOVE YOU LIKE YOU

Bagian Sembilan (ENDING)

Yoon Hee bersolek didepan cermin. Ia memandangi dirinya didalam kaca, mengenakan mantel berwarna kuning dengan bulu-bulu lembut dibagian pergelangan tangan dan leher. Ia memperhatikan bagian kaki, stocking panjang agak tebal dan sepatu panjang high heels setinggi 5 cm. Ditambah ia menggunakan penutup telinga karena udara saat ini sangat dingin.

“Apa ini tidak terlihat aneh?” gumam Yoon Hee pada diri sendiri sambil menatap dirinya didepan cermin. Hari ini ia akan mendatangi pameran milik Youngmin. Lelaki itu sudah susah payah menyiapkan pameran pertamanya ini. Jadi, ia pikir lebih baik ia datang.

Yoon Hee melihat ponselnya—yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri—menyala. Ia meraihnya dan membuka pesan yang baru masuk.

“Selamat Tahun Baru J . Semoga kau tidak melupakan acara kita. Aku sudah menunggumu didepan. Cepatlah keluar.”

 

Astaga! Ia melupakan sesuatu. Sebelum datang ke pameran, ia sudah janji untuk menemani lelaki itu keluar sebentar. Ah, bagaimana dia bisa melupakannya? Untung saja ia sudah bersiap-siap.

Yoon Hee menutup flap ponselnya, lalu meraih tasnya dan keluar dari gedung apartmentnya.

***

Youngmin menatap kaca spion dari dalam mobil. Belum datang, pikirnya. Lalu, ia melihat sebuah kotak kecil didepan kemudi mobil. Ia tersenyum dan kembali melihat kaca spionnya. Kali ini, ia mendapati Yoon Hee sedang berlari-lari menuju arah mobilnya.

“Maaf, aku terlambat.” Katanya, masih dengan nafas yang terengah-engah.

Youngmin tersenyum, “Ya, masuklah.”

Yoon Hee membuka pintu mobilnya dan duduk disebelahnya.

“Kau melupakannya, ya?” tanya Youngmin menebak.

Yoon Hee terdiam menyesal, “Maafkan aku.” Katanya.

Youngmin mendesah berlebihan, “Padahal, semalaman aku tidak bisa tidur karena aku tidak sabar untuk hari ini.” Youngmin terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Tapi, kau melupakannya.”

“Maaf,” ulang Yoon Hee menyesal.

Youngmin menghela nafas. “Baiklah, tidak apa-apa. Bisa kita berangkat sekarang Jang Yoon Hee, ssi…?”

“Ya.”

***

Minwoo melihat jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Jika seperti ini terus, ia tidak bisa berkonsentrasi pada rapat hari ini. Jadi, ia izin untuk keluar lebih dahulu. Lagi pula ia sudah tidak diwajibkan untuk menghadiri rapat seperti ini, karena tugasnya sebagai Direktur akan berakhir untuk sementara.

Minwoo melihat kembali surat undangan yang diberikan Youngmin saat itu. Ia belum bisa menentukan akan hadir atau tidak.

“Yoon Hee akan datang ke pameranku.”

Tiba-tiba, suara Youngmin terdengar kembali ditelinganya. Yoon Hee akan hadir sedangakan dia sama sekali belum menentukan. Selama ini ia merasa Yoon Hee menjauhinya. Ia sudah berkali-kali menelepon gadis itu untuk bertemu tapi, tidak ada satu telepon pun yang ia angkat. Ia mencoba menemuinya ditempat Yoon Hee bekerja, tapi gadis itu selalu menolak. Bukankah itu berarti Yoon Hee sedang mencoba menjauhinya?

Ya, ia rasa memang begitu. Dan ini adalah satu kesempatan bagus untuk menemui gadis itu. Ia akan menemuinya di pameran nanti.

***

Minwoo mengelilingi jalanan Apgujeong. Ia melihat-lihat beberapa toko disepanjang jalan. Dan akhirnya, matanya tertuju pada sebuah toko yang menjual barang-barang souvenir. Setelah berfikir beberapa saat, akhirnya ia memutuskan untuk masuk kedalam toko itu.

Banyak sekali barang-barang yang dijual ditoko ini. Semuanya terlihat manis dan indah. Tiba-tiba saja ia teringat Yoon Hee. Sebelum ia pergi, ia ingin memberikan gadis itu sesuatu. Apa saja. Yang penting terlihat manis untuknya.

Matanya tertuju pada sebuah syal yang tergantung pada sebuah manekin. Syal itu berwarna pink, terdapat boneka kecil diujung syal itu. Ia bisa membayangkan, Yoon Hee akan terlihat manis menggunakan syal ini. Akhirnya, ia memutuskan untuk membeli syal ini.

Setelah membayar dan keluar dari toko itu. Minwoo berjalan menuju mobilnya untuk segera pulang lalu menghadiri pameran Youngmin. Tapi, tanpa sengaja, ia melihat seorang wanita setengah baya sedang membereskan barang-barangnya sendiri. Karena merasa kasihan, Minwoo mendekatinya untuk menolong.

Minwoo ikut berjongkok dan memunguti barang-barang wanita itu yang berjatuhan. Ia menemukan sebuah photo anak kecil bersama seorang wanita dan lelaki. Matanya langsung tertuju pada sepatu yang dikenakannya. Sepatu ini…

Tiba-tiba, wanita itu berdiri sambil mengucapkan terima kasih. Minwoo juga langsung ikut berdiri dan memberikan photo itu kepada wanita didepannya.

“Terima kasih, kau telah membantu bibi.” Ucap wanita itu.

Minwoo hanya tersenyum. Sepertinya ia mengenali wanita ini. Dimana? Ohya, ia ingat. Ia pernah melihat wanita ini dikoran. “Apakah anda, Nyonya Choi? Isteri dari presiden kosmetik Queen?”

“Oh? Kau mengenalku?” tanya wanita itu terkejut.

Minwoo membungkukkan badannya dalam-dalam, “Senang bertemu dengan anda disini.”

Saking senangnya bisa bertemu wanita ini. Minwoo jadi melupakan soal sepatu itu. Sebenarnya tadi ia teringat, sepatu itu terlihat persis dengan sepatu milik Yoon Hee. Sebenarnya ia membuka kotak milik Yoon Hee sebelum ia mengembalikannya. Dan ia melihat sepatu itu. Sepatu itu benar-benar persis.

***

Yoon Hee mengamati ke sekeliling ruangan. Tempat ini cukup ramai. Ternyata banyak orang yang tertarik dengan hasil karya Youngmin. Ia bahkan melihat beberapa orang wartawan sedang berbincang-bincang. Sejak ia dan Youngmin tiba ditempat ini, ia belum lagi melihat lelaki itu. Mungkin Youngmin sedang sibuk saat ini. Jadi, ia memutuskan untuk melihat-lihat sendiri.

Yoon Hee mengelilingi ruangan ini sambil melihat foto-foto yang tergantung di dinding. Kalau dipikir-pikir, Youngmin terlihat begitu hebat. Bagaimana bisa ia mengubah sesuatu yang begitu biasa terlihat begitu luar biasa? Misalnya, foto beberapa pohon yang semua bagiannya berwarna putih karena tertutup salju. Dan disamping pohon-pohon itu terdapat sebuah sungai yang sepertinya terasa sangat dingin. Tidak ada matahari, hanya ada kabut yang menyelinap diatas sungai itu.

Yoon Hee terus bergerak dari satu foto ke foto lain, terus berhenti di setiap foto untuk memandanginya dan terus terkagum-kagum. Ia memang tidak mengerti fotografi, tetapi ia tahu foto yang bagus. Dan Youngmin memang sangat berbakat dibidang ini.

Tiba-tiba langkahnya terhenti didepan sebuah foto yang membuatnya terkejut. Foto seorang gadis. Dia tidak melihat kearah kamera dan fotonya terlihat blur, jadi sulit mengenali gadis itu jika memang belum mengenalnya. Tapi, ia bisa mengenali dirinya sendiri. Ia yakin sekali didalam foto itu adalah dirinya. Mana mungkin ia tidak mengenali dirinya sendiri?

Gadis itu sedang menatap kedepan—lebih tepatnya menatap lautan yang begitu megah dan dingin. Sedikit senyuman yang tersungging pada sudut bibir gadis itu. Yoon Hee terkejut, bagaimana bisa ia tidak menyadari itu?

Yoon Hee melanjutkan langkahnya lagi dan berhenti disetiap foto. Tapi, sepertinya foto sebuah pohon menarik perhatiannya. Pohon Maple sedang berguguran. Ia yakin sekali, Youngmin mengambil gambar ini saat musim gugur. Banyak sekali daun yang dijatuhkan oleh pohon itu. Daun-daun itu ada yang jatuh ke bawah kemudian tergeletak ditanah, ada juga yang beterbangan ke udara.

Entah mengapa, ia sangat tertarik dengan foto itu. Dan ia juga sangat yakin, Youngmin mengambil foto ini bukan di Seoul atau di Korea. Ya, walaupun di Korea banyak sekali pohon maple, tapi ia yakin, Youngmin tidak mengambil gambar ini di Korea. Ia tidak tahu pasti dimana—tapi, ia pikir, mungkin di Jepang.

Setelah lelah melihat-lihat, Yoon Hee berdiri didepan kerumanan orang. Ia melihat Ji Ra yang juga datang keacara pameran Youngmin. Gadis itu sepertinya sedang asyik berbincang-bincang dengan lelaki yang baru ia kenali. Yoon Hee melihat kesekeliling lagi, ia melihat Yuri yang juga sedang berbicara dengan seorang gadis yang sebaya dengannya.

Yoon Hee memutar matanya melihat kebelakang. Tanpa sengaja, matanya tertuju kearah seorang lelaki yang sedang berdiri sambil berbicara dengan beberapa orang. Lelaki itu terlihat sedang bosan. Bahkan, ia melihat lelaki itu hanya menjawab seperlunya, Ya, Tidak, Baiklah. Hanya kata itu yang ia lihat dari ujung bibirnya.

“Yoon Hee.”

Sebuah suara pelan menyentakkan Yoon Hee dan ia langsung berputar, “Youngmin,” Matanya melebar dan sebuah senyuman kecil tersungging dari bibir manisnya.

***

Sebenarnya sejak tadi Youngmin memperhatikan Yoon Hee yang sedang mengamati beberapa photonya. Karena sedang berbicara dengan orang-orang penting, ia jadi tidak bisa menemani gadis itu berkeliling. Dan sekarang, ia melihat Yoon Hee sedang berdiri didekat Ji Ra sambil mengamati sekelilingnya. Begitu ia bisa menyelinap dari pembicaraan, ia langsung menemui Yoon Hee.

“Yoon Hee,” Sapa Youngmin.

Gadis itu menoleh, “Youngmin,” katanya sambil menyunggingkan senyuman ringan kepadanya.

“Kau sudah melihat-lihat?” tanya Youngmin.

Yoon Hee tidak menjawab, tapi dia menganggukan kepalanya.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Youngmin lagi.

“Kau…keren—tidak, kau hebat atau lebih tepatnya kau sangat luar biasa.” Puji Yoon Hee sambil tertawa kecil.

Melihat gadis itu senang, Youngmin tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya juga. Dan akhirnya ia ikut tertawa kecil, “Kau berlebihan.” Katanya lalu bertanya, “Photo mana yang paling kau sukai?”

Yoon Hee sedikit berfikir, “Semuanya bagus,” gumamnya, lalu ia teringat photo itu, “Pohon maple.” Serunya.

Youngmin mengangkat alis.

“Aku menyukai gambar pohon maple itu. Daun-daunnya yang jatuh dan yang beterbangan. Sepertinya terdengar biasa, tapi kau mengambil gambarnya sangat baik sehingga photo itu menjadi luar biasa.” Kata Yoon Hee panjang lebar.

Youngmin hanya tersenyum senang mendengar pujian dari Yoon Hee.

“Oh ya,” katanya tiba-tiba saat mengingat sesuatu, “Bagaimana bisa photoku ada disini?”

Youngmin mengangkat alis, sedikit berfikir. Photo yang… Oh, dia ingat. “Itu…” katanya dengan susah payah menjelaskan, “Kau bisa mengenali dirimu?”

Yoon Hee mendesah, “Tentu saja. Dan bagaimana bisa kau mengambil gambar tanpa sepengetahuanku?”

“Jadi kau tidak menyadarinya?” tanya Youngmin. Yoon Hee hanya menggeleng. “Itulah tujuanku.”

Yoon Hee semakin tidak mengerti. Ia mengangkat alis dan bertanya, “Apa maksudmu?”

Tiba-tiba sebuah seruan kecil menyentakkan mereka berdua. Youngmin dan Yoon Hee dengan serentak menoleh kearah sumber suara itu. Lelaki itu melihat kearah Youngmin dan memanggil namanya dan disusul oleh ribuan tepuk tangan oleh pengunjung disini.

“Sepertinya aku harus pergi. Jangan kemana-mana.” Katanya pada Yoon Hee.

Youngmin melihat gadis itu mengangguk pelan, lalu ia meninggalkannya dengan perasaan lega.

***

Yoon Hee menatap Youngmin yang berdiri didepan sambil memegang mikrofon dan mengucapkan sepatah kata sambutan kepada para pengunjung. Dan setelah acara sambutan adalah sesi wawancara. Banyak sekali yang mengajukan macam-macam pertanyaan dari para wartawan dan tidak sedikit dari mereka yang memuji hasil karyanya.

Ji Ra menyiku pelan lengan Yoon Hee, “Lihatlah, Youngmin terlihat keren, bukan?”

Yoon Hee tersenyum. Harus ia akui, Youngmin memang hebat.

Tiba-tiba saja, Yoon Hee langsung berbalik kebelakang begitu mengingat sesuatu. Minwoo. Ia mencari Minwoo. Kemana lelaki itu? Padahal dia sudah lama sekali tidak melihat lelaki itu. Ia masih merindukannya. Kenapa cepat sekali pergi?

Dengan perasaan mau tidak mau, Yoon Hee kembali melihat kedepan. Tapi, betapa terkejutnya ia saat melihat Minwoo sudah berada disampingnya. Yoon Hee sampai harus memegang dadanya karena ia begitu terkejut dan takut jantungnya akan jatuh saat itu juga. Dia, terlihat pucat. Astaga, sudah berapa lama ia tidak melihat lelaki ini?

“Ada yang ingin aku bicarakan padamu,”

Tiba-tiba ia mendengar Minwoo membuka suaranya. Ia cepat-cepat bersikap biasa dan kembali melihat lelaki itu. “Ada apa?”

Minwoo tidak menjawab. Dia berjalan keluar dari kerumunan banyak orang. Karena Minwoo belum menjawab, jadi ia hanya bisa mengikuti lelaki itu pergi.

***

Mereka berdua duduk disebuah bangku taman didekat tempat pameran Youngmin. Minwoo juga tidak tahu harus memulai darimana. Begitu banyak yang ingin ia katakan pada gadis ini, sampai-sampai ia melupakan semua susunannya.

Setelah berfikir sesaat dan berdiam diri beberapa lama, akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka suara, “Kalian sangat cocok,”

“Apa?” tanya Yoon Hee, nadanya terdengar agak kaget.

“Kau dan Youngmin,” ucapnya berhenti sejenak, seakan ini adalah kata yang paling tabu yang ia ucapkan, “kalian cocok.”

“Oh,”

“Kau menyukainya?” tanya Minwoo tanpa melihat gadis itu. Ia sama sekali tidak sanggup menatap gadis itu.

“…”

“Dia lelaki yang baik, semua wanita menyukainya.”

“…”

“Kau sudah menemukan lelaki yang baik. Yang bisa melindungimu dan menjagamu.” Katanya berkali-kali mencoba untuk tenang, “Jadi, aku tidak perlu mengkhawatirkanmu lagi.”

“Apa maksudmu?” tanya Yoon Hee tidak mengerti.

Minwoo tidak langsung menjawab, ia terdiam sejenak. “Aku akan pergi.” Katanya dan melanjutkan, “Ke Amerika, New York.”

***

Detak jantung Yoon Hee berhenti saat itu juga. Dunianya berhenti. Ia bahkan menahan nafasnya. Ia tidak mau mendengar kelanjutannya. Air matanya sudah menumpuk dikelopak matanya. Ia takut akan menjatuhkan sebutir air mata lagi.

Ada apa?

“Aku akan melanjutkan study-ku disana.” Yoon Hee mendengar Minwoo mengucapkan kalimat lagi, seakan lelaki itu menjawab pertanyaan hatinya. “Tadinya aku tidak ingin pergi, karena aku…khawatir…padamu.”

Yoon Hee merasa seluruh darah didalam tubuhnya berhenti mengalir, sehingga ia merasakan dingin dan pucat.

“Tapi sepertinya sekarang aku tidak memiliki alasan untuk cemas. Karena ternyata, sudah ada yang menggantikanku. Dan sepertinya kau terlihat bahagia.”

Tidak. Tidak ada yang bisa menggantikanmu. Yoon Hee mencoba menahan isak tangisnya.

Berapa lama?

“Mungkin 2-3 tahun, aku disana. Dan sudah pasti aku akan jauh dari Korea, ya… dan termasuk jauh darimu.”

Selama itu kah? Kapan kau akan berangkat?

“Besok aku akan berangkat. Jam 07.00 pagi, di Incheon Airport.” Minwoo terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Tapi, jika kau memintaku untuk tetap disini…aku mohon datanglah ke bandara. Tapi, jika tidak…aku akan pergi.”

Tidak. Mana mungkin aku menahanmu? Mana mungkin aku menahan impianmu? Kau pernah mengatakan, jika kuliah di luar negeri adalah salah satu cita-citamu. Bagaimana mungkin aku jadi penghalang impianmu? Lebih baik kau pergi. Kau pergi saja. Kemana pun kau pergi, aku tidak akan menghalangimu. Kau pergi saja. Pergi.

Tanpa sadarnya, Yoon Hee menjatuhkan setetes air mata dipipinya dan Yoon Hee buru-buru menghapusnya. Ia tidak ingin Minwoo melihatnya menangis. Tidak. Tidak boleh.

“Tapi,” Minwoo mengucapkan kata lagi. Kali ini ia memberanikan diri menatap Yoon Hee, “Jika besok kau tidak datang,” katanya, “bisakah kau memberikan senyuman untukku? Untuk yang terakhir kalinya…sebelum aku pergi?”

Yoon Hee terkejut—sangat terkejut saat Minwoo memegang bahunya dan mengangkat wajahnya, memaksa agar ia juga menatapnya. Akhirnya, Yoon Hee hanya menatap Minwoo dengan tatapan pasrah dan lemah.

“Aku mohon, sekali saja.” Kata Minwoo.

Yoon Hee memaksakan diri untuk mengeluarkan senyumannya. Tapi, ia tidak bisa. Saat ini ia membutuhkan banyak tenaga untuk mengeluarkan seulas senyuman ringan. Ia sama sekali tidak bisa tersenyum seperti biasa. Jadi, ia tidak tahu, apakah yang ia berikan pada Minwoo saat ini adalah sebuah senyuman?

Tapi, lelaki itu tersenyum sambil menatapnya, “Terima kasih,” katanya, “sepertinya, sekarang aku bisa pergi dengan tenang. Sekali lagi, terima kasih.”

Minwoo melepaskan tangannya dari bahunya. Ia tidak tahu, apakah perasaan sedih, kecewa, takut, atau apa saat lelaki itu menarik tangannya. Tapi, ia rasa, semua perasaan itu tercampur aduk saat ini dalam hatinya.

Hatinya terasa hancur berkeping ketika lelaki itu mulai berdiri membelakanginya. Ia tidak bisa lagi menahan tangis dan ia membiarkan air matanya mengalir setetes demi setetes.

“Jaga dirimu baik-baik,” ucap lelaki itu untuk yang terakhir kalinya.

Ketika jarak lelaki itu semakin menjauhinya, ia bisa menangis sepuasnya. Menangis sesuka hatinya. Ia mengeluarkan amarahnya melalui tangisannya. Ia membiarkan dirinya menangis seperti ini. Ia harap dengan menangis seperti ini dapat memperbaiki perasaannya. Dapat membuat hatinya menjadi lebih tenang. Dan semuanya bisa  kembali seperti dulu.

***

Yoon Hee berbaring disofa ruang tamunya sambil sekali-kali melihat ponselnya dengan gelisah. Ia melihat jam dinding. Sudah pukul 11 siang. Belum ada kabar, Minwoo sudah berangkat atau belum. Jadi ia hanya memainkan ponselnya sambil memeluk selimut yang Minwoo hadiahkan untuknya saat natal kemarin.

Yoon Hee tanpa henti-hentinya meneteskan air mata. Ia berfikir, haruskah ia datang menemui lelaki itu ke Bandara? Memintanya untuk tetap disini. Tidak, mana boleh ia melakukan hal bodoh seperti itu.

Walaupun tidak melihat, Yoon Hee menyadari Ji Ra keluar dari dapur dan masuk kedalam ruang tamu mendekatinya. Dan kali ini, ia melihat Ji Ra menaruh gelas keatas meja disampingnya. Ji Ra memang ada disini sejak tadi pagi, memasak dan membersihkan apartmentnya. Sedangkan dirinya? Ia hanya bermalas-malasan seperti ini. Berbaring disofa tanpa kerjaan, memegang ponsel tapi tidak menelepon, dan menangis seperti ini. Sangat menyedihkan, bukan?

“Sampai kapan kau akan seperti ini?” tanya Ji Ra yang sudah duduk dihadapannya.

Yoon Hee masih berbaring tanpa menjawab.

Ji Ra mendesah, “Kalau kau merasa tidak ingin dia pergi, lalu kenapa kau tetap disini?” Tanya Ji Ra lagi.

Belum terdengar suara dari bibir Yoon Hee.

Ji Ra mendesah lagi, lalu terdengar ponsel berdering. Yoon Hee pikir itu bunyi dari ponsel miliknya, ternyata bukan.

Ia melihat Ji Ra membaca pesan masuk, lalu menatapnya.

“Kenapa?” Tanya Yoon Hee, nadanya terdengar sumbang karena habis menangis.

Ji Ra tidak menjawab, dia malah mengetik sesuatu pada layar ponselnya. Lalu, kembali melihat Yoon Hee. “Kau ingin sesuatu?” tanya Ji Ra.

Yoon Hee menggeleng dan menjawab pelan—sangat pelan. “Tidak,”

Ji Ra terdiam. Lalu, sepertinya dia mengingat sesuatu. Yoon Hee melihat Ji Ra mencari ‘sesuatu’ dari dalam tasnya. Kemudian, ia tersenyum setelah menemukan ‘sesuatu’ itu.

Yoon Hee merasa bingung ketika Ji Ra menyodorkan ‘sesuatu’ itu kearahnya. “Apa itu?” tanya Yoon Hee dan perlahan-lahan ia terbangun. Mengubah posisinya menjadi duduk.

Ji Ra tetap monyodorkan benda itu—yang terlihat seperti kado—kearahnya. Sedangkan Yoon Hee menerimanya sambil mengangkat alis.

“Itu dari Minwoo,” ucap Ji Ra. Yoon Hee langsung terbelalak menatapnya. “Aku juga tidak mengerti, kenapa ia tidak memberikannya langsung padamu. Dia hanya menitip pesan padaku, jaga Yoon Hee baik-baik.” Katanya menjelaskan lalu, melanjutkan. “Saat itu aku tidak mengerti apa maksudnya. Setelah aku pikir-pikir lagi, aku baru menyadari jika dia mungkin akan pergi. Maka dari itu, aku langsung datang kesini setelah tahu dia akan berangkat pagi ini.”

Air mata Yoon Hee mengalir lebih deras dari sebelumnya. Ia langsung cepat-cepat membuka bungkus kado itu dan tanpa sengaja menjatuhkan sesuatu. Ia memungutnya dan melihat benda ditangannya yang ternyata adalah sebuah surat. Perlahan Yoon Hee membuka surat itu dan membacanya.

Selalu langit persis sama dan selalu pada hari yang sama
Satu-satunya yang berbeda adalah bahwa
kau tidak di sini
Aku pikir aku telah membiarkanmu pergi
T
api ternyata, aku masih belum bisa melepaskanmu

Aku tetap hidup dan mencoba melupakan untuk sekian lama
Sejenak, semua terlihat baik-baik saja
Tapi seiring
berjalannya waktu, aku mulai menyadari
Bahwa tanpamu, aku tak bisa hidup

Ini sangat sulit bagiku tanpamu, semuanya terasa sulit
Dalam setiap saat aku bernapas, memikirkanmu menyiksaku
Aku mencoba dan aku mencoba tetapi
,
Jejak mu hidup kembali
dan aku takut

Sepertinya aku tak dapat menghapus, membuang, dan melupakanmu
Karena dirimu yang terus menerus melangkah di mataku
Aku merindukan masa itu, hingga tanpa sadar aku memikirkan kehidupan saat itu

                                                                                                      No Minwoo

Air mata Yoon  Hee tumpah saat itu juga setelah ia selesai membaca surat dari Minwoo. Dan ketika ia sedang menatap sebuah syal ditangannya, terdengar dering pesan masuk dari ponselnya. Yoon Hee membaca pesan singkat dari Youngmin.

“Minwoo, dia sudah pergi.”

Dan saat itu juga tangisannya menjadi-jadi. Air matanya mengalir sangat deras dan tidak bisa dihentikan. Ia memegang erat syal dari Minwoo sambil menyebut-nyebut namanya. Minwoo… Minwoo… jangan pergi…

***

Yuri memberikan passportnya kepada petugas Bandara sebelum masuk menuju pesawat. Setelah petugas itu memberikan passportnya kembali, Yuri berjalan sambil menarik kopernya menuju pesawatnya. Untuk yang sekian kalinya, Yuri melihat kebelakang. Ingin melihat Seoul untuk yang terakhir kalinya sebelum ia pergi.

Dia memang memutuskan untuk pergi keluar negeri. Ia lelah disini. Dia ingin menenangkan pikirannya dan hatinya. Ia berniat untuk pergi ke Paris. Ia tidak tahu kapan ia akan kembali ke Korea. Mungkin 2 bulan disana atau 3 bulan, 4 bulan, 1 tahun, 2 tahun, atau mungkin tidak akan kembali lagi. Entahlah, ia tidak ingin memikirkan kapan ia akan kembali. Yang ia butuhkan saat ini adalah ketenangan jiwa dan hatinya. Hanya itu.

Yuri berjalan menuju pesawatnya. Pesawatnya sudah didepan mata. Sebenarnya ia sudah mendengar Minwoo akan pergi ke Amerika. Dan ia sengaja memilih jadwal terbang 2 hari setelah kepergian Minwoo. Entahlah, ia tidak tahu kenapa memilih berangkat setelah Minwoo. Mungkin, ia ingin melihat lelaki itu pergi lebih dulu agar dirinya tenang.

Sebelum Yuri benar-benar memasuki pesawat, ia berbalik lagi. Melihat Seoul untuk benar-benar yang terakhir kalinya. Semoga semuanya bisa berubah saat ia kembali nanti. Ia akan menunggu hingga waktu itu tiba. Yuri tersenyum dan mulai menginjakkan kaki kedalam pesawat.

***

3 Tahun kemudian…

Yoon Hee keluar dari sebuah toko roti sambil menggendong seorang anak kecil. Ia berjalan menuju sebuah mobil yang terparkir didepan toko itu, lalu memasukkan anak itu kedalam mobil terlebih dahulu.

Yoon Hee membenarkan syalnya dan baru saja akan berputar untuk mengambil stir kemudi, tapi langkahnya terhenti. Ia menatap seorang pria disebarang jalan. Lelaki itu sedang berbicara sesuatu kepada seorang pedagang disana. Lalu lelaki itu menoleh keseberang jalan—tepat kearahnya—dan detik itu juga mata mereka bertemu dan dunianya seolah berhenti. Semuanya terjadi pada gerakan diperlambat. Orang-orang yang tadi berlalu-lalang dan semuanya yang ada disekitarnya terlihat blur, tidak jelas. Jadi, yang terlihat hanya dirinya dan lelaki diseberang sana yang ada didunia saat ini.

Yoon Hee melihat lelaki itu tersenyum. Senyuman yang sangat ia rindukan. No Minwoo yang diseberang jalan itu, dia tersenyum padanya. Tanpa bisa menahan diri, Yoon Hee membalas senyuman lelaki itu.

***

Minwoo duduk dihadapannya saat ini. Mereka sedang berada disebuah restoran disebelah toko roti yang baru ia beli tadi. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selain menggendong anak ini dan menatap Minwoo. Lelaki itu terlihat sedikit berbeda dari penampilannya, dia terlihat lebih tampan dan—oh, dia harus benar-benar mengakuinya—dan terlihat lebih dewasa. Mungkin potongan rambutnya dan cara berpakaiannya yang membuatnya terlihat sedikit lebih dewasa. Tapi, ia menyukainya.

“Apa kabar?”

Yoon Hee mendengar Minwoo bertanya, ia sedikit terkejut karena terlalu lama memandangi lelaki itu. “Baik.” Jawabnya terburu-buru, lalu balik bertanya, “Bagaimana denganmu?”

Yoon Hee melihat Minwoo tersenyum, senyuman yang ia rindukan. Lalu, dia menjawab, “Cukup baik.”

Apa yang dimaksudnya dengan kata ‘Cukup baik’? Apa selama ini dia sedang sakit? Atau sedang terjadi sesuatu kepadanya? Yoon Hee baru akan membuka mulut untuk bertanya apa maksudnya, tapi Minwoo menyelanya lebih dulu.

“Oh ya, apakah banyak yang berubah selama 3 tahun ini?” tanya Minwoo.

Yoon Hee sedikit terkejut Minwoo mendahuluinya. Tapi, ia hanya terdiam dan menjawab, “Ya…mungkin.”

“Apa saja?” tanya Minwoo lagi.

Yoon Hee berdehem memikirkan sesuatu lalu, baru saja akan membuka suara dan lagi-lagi Minwoo mendahuluinya.

“Apakah dia anakmu? Kau sudah menikah?” tanya Minwoo sambil melihat anak kecil yang digendong Yoon Hee.

“Apa?” tanya Yoon Hee terkejut. Lalu, ia baru menyadari saat Minwoo melihat anak kecil yang digendongnya sambil tersenyum. “Oh, itu. Bukan, dia bukan anakku.” Jawabnya, “Ji Ra sudah menikah. Dan ini anaknya.”

“Oh,” gumam Minwoo, “Siapa namanya?” Minwoo mencoba meraih pipi anak itu.

“Kim Sang Ae,” sahut Yoon Hee.

“Cantik,” kata Minwoo. Lalu, ia menarik kembali tangannya dari pipi Sang Ae dan kembali melihat Yoon Hee. “Ada lagi yang tidak ku ketahui?”

Yoon Hee berdehem lagi, lalu ia menatap Minwoo dengan mata yang berbinar-binar, “Aku dan orang tuaku,” jawabnya, lalu tersenyum, “kami sudah bertemu.”

“Benarkah?” Minwoo terlihat terkejut dan kesenangan dari dalam matanya tidak dapat ditutupi.

Yoon Hee mengangguk, “Ya, ayahku ternyata Choi Seung Woo.”

“Choi Seung Woo?” Minwoo terlihat sedikit berfikir mendengar nama itu. Mengingat-ingat sesuatu, lalu ia membelalakan matanya ketika ia sudah menemukan ingatannya, “Choi Seung Woo bukankah dia presiden Perusahaan Kosmetik?”

Yoon Hee terkejut, “Bagaimana kau bisa mengetahuinya? Tapi, ya, kau benar.”

Kali ini Minwoo yang membenarkan posisi duduknya, “Ternyata kau anak orang kaya. Aku jadi tidak berani mendekatimu, Choi Yoon Hee.”

Yoon Hee mendesah, “Kau ini.” katanya berpura-pura kesal. Tapi, ia tidak bisa kesal pada lelaki ini bahkan berpura-pura pun tidak. Ia malah menyunggingkan senyuman untuk lelaki itu. Mana mungkin orang sedang kesal bisa tersenyum? “Memang selama 3 tahun ini kau tidak pernah mengunjungi Korea?”

Minwoo berdehem sambil mengingat-ingat, “Tidak juga,” katanya, “ketika sedang liburan semester aku selalu mengunjungi orang tuaku disini.”

Yoon Hee melihat Minwoo kesal, “Lalu, kenapa kau tidak datang mencariku?”

Minwoo terlihat terkejut mendengar Yoon Hee berkata seperti itu. Untung saja ia tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab, “Tidak, karena aku takut. Aku takut jika aku datang mencarimu dan bertemu denganmu, aku tidak akan mau lagi kembali kesana.”

Yoon Hee tersipu. Ia menggaruk-garuk lehernya yang sama sekali tidak terasa gatal dengan salah tingkah. Lalu, ia kembali melihat Minwoo dengan malu.

“Oh? Syalmu itu…manis.” Kata Minwoo tiba-tiba.

Yoon Hee melihat syalnya, “Oh ini?” katanya terkejut. Yoon Hee baru menyadari, ia menggunakan syal yang Minwoo berikan waktu itu. Waktu dia akan pergi ke Amerika. Ketika Yoon Hee merasa merindukan lelaki itu, dia pasti memakai syal ini, disaat musim panas sekali pun. “Terima kasih, atas syalnya. Kau benar, syal ini terlihat manis.”

“Bukan,” sahut Minwoo cepat, “Syal ini tidak manis. Tapi, yang memakai-nyalah yang membuat syal ini terlihat begitu manis,” Yoon Hee terlihat kaget sedangkan Minwoo hanya tersenyum jahil dan bertanya. “Oh? Apakah besok kau ada acara? Bisa kita pergi keluar sebentar?”

***

“Ada apa membawaku ketempat ini?” tanya Yoon Hee kepada Minwoo keesokan harinya.

Mereka sedang berada di taman Gyeryong-san. Banyak air terjun yang indah, monumen kuno dan kelenteng berasal dari era Paekche di taman ini. Tempat ini sangat cocok dikunjungi saat musim semi tiba. Dan mereka datang pada waktu yang tepat.

“Kenapa? Kau tidak suka?” tanya Minwoo tanpa melihat Yoon Hee. Mereka terus berjalan menyusuri jalanan di taman ini.

“Bukan, bukan begitu maksudku. Hanya saja, ini terlalu indah.” Jawab Yoon Hee.

Minwoo melihat Yoon Hee yang terlihat senang minikmati air terjun dan beberapa bunga yang sedang bermekaran. Akhirnya, mereka memutuskan untuk duduk dibawah pohon maple sambil menikmati air terjun yang begitu indah.

“Kau suka?” tanya Minwoo masih tanpa melihat Yoon Hee.

Yoon Hee tersenyum senang, “Ya, aku sangat menyukainya.” Katanya.

“Tempat ini memang sangat indah. Banyak orang yang menyukainya.” Ucap Minwoo.

“Tentu saja. Tempat ini begitu indah dan banyak sekali air terjun disekitar tempat ini. Ditambah, sekarang kita duduk dibawah pohon maple sambil menikmati derasnya air terjun. Ini sangat luar biasa.” Kata Yoon Hee.

Kali ini Minwoo melihat Yoon Hee. Gadis itu terlihat sangat senang. Lalu, ia kembali memusatkan matanya kedepan dan berkata, “Aku sering mengajak seseorang yang ku anggap spesial datang ketempat ini. Tapi, aku membawa mereka dalam waktu yang payah. Dan saat ini, aku membawa seorang gadis lagi datang kemari. Kali ini berbeda, untuk pertama kalinya aku datang bersama gadis itu pada musim semi, dibawah pohon maple sambil memandangi air terjun.” Minwoo menoleh kearah Yoon Hee dan balas menatapnya.

Yoon Hee terdiam memalingkan wajah menatap air terjun didepan matanya dan berkata, “Terima kasih. Aku menyukainya.”

Minwoo ikut memandangi indahnya air terjun dihadapannya saat ini, sebelum ia membuka suara lagi, “Bagaimana dengan Youngmin? Apakah dia baik-baik saja? Aku kehilangan komunikasi dengannya. Dan sampai saat ini, aku belum bertemu dengannya lagi.”

Yoon Hee tidak langsung menjawab, ia berfikir sejenak sebelum berkata. “Entahlah, sepertinya dia baik-baik saja. Sejak saat itu, dia memang tidak tinggal di Korea lagi. Dia pergi ke Jepang.”

“Jepang?” Tanya Minwoo sedikit terkejut.

“Ya. Setelah mengadakan pameran itu, sepertinya dia menjadi sangat sibuk.” Jawab Yoon Hee apa adanya.

“Oh. Dia terlihat keren. Bukankah begitu?” tanya Minwoo sedikit bergurau.

Yoon Hee tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kecil.

Minwoo berdehem. Ia ragu, apakah ia harus menanyakan hal ini? Tapi, ia benar-benar ingin tahu. “Oh ya,” Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya. “Bagaimana hubunganmu dengannya?”

“Apa?” tanya Yoon Hee terkejut.

“Apakah hubunganmu dengannya baik-baik saja?” Tanya Minwoo lagi.

“Siapa? Aku dan Youngmin? Ya, hubungan kita baik-baik saja.” Jawab Yoon Hee sambil tersenyum ragu. Ia merasa aneh dengan pertanyaan Minwoo.

“Oh, baguslah.” Hanya kata itu yang terlintas dipikirannya saat ini.

***

Yoon Hee menatap aneh Minwoo. Lelaki itu menjadi pendiam. Entahlah berapa lama mereka duduk tanpa suara seperti ini. Tepatnya sejak lelaki itu bertanya tentang hubungannya dengan Youngmin. Ia merasa aneh dengan sikap Minwoo yang sepert…Oh apakah jangan-jangan…

“Minwoo.” Panggil Yoon Hee lembut. “Bagaimana hubunganmu dengan Yuri?”

Terlihat siratan terkejut dari dalam mata lelaki itu. “Baik. Kenapa?” sahut Minwoo singkat.

“Aku dengar dia pergi ke Paris.” Kata Yoon Hee nada suaranya terdengar sedikit—sangat sedikit—ketus.

“Ya, benar. Kenapa?” tanya Minwoo lagi.

“Berarti kau belum bertemu denganny—atau…apakah kalian bertemu secara diam-diam?” Demi Tuhan, ia menyasali pertanyaannya ini. Kenapa ia menyuarakan pikirannya? Astaga, ini benar-benar memalukan.

“Aku memang sama sekali belum bertemu dengannya,” sahut Minwoo. Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada bergumam, “sejak saat itu.”

“Apa maksudmu ‘sejak saat itu’?” tanya Yoon Hee tanpa sadar.

“Ah, tidak. Bukan apa-apa.” Jawab Minwoo begitu menyadari ia hampir saja mengatakannya.

“Oh,” gumam Yoon Hee. Ia memandang air terjun didepannya sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya dengan santai dan berkata, “Tapi sepertinya hubunganmu dengan Yuri sangat baik selama 3 tahun ini.”

“Apa?”

“Kalian memang pasangan yang serasi.” Kata Yoon Hee. Saat itu juga ia mengutuk jika itu adalah kalimat paling menyakitkan yang pernah ia keluarkan.

Minwoo mengerutkan keningnya. Terlihat bingung. Ia memang bingung dengan arah pembicaraan gadis ini. Apa yang dimaksudnya dengan ‘pasangan’?

“Tunggu. Tolong jelaskan dengan pelan. Apa maksudmu dengan mengatakan aku dan Yuri adalah pasangan?” tanya Minwoo bingung.

Yoon Hee menghela nafas. Ia belum berani menatap lelaki itu. “Kenapa? Bukankah kau dan Yuri saling mencintai?”

Kerutan didahi Minwoo semakin menjadi-jadi. “Tolong jelaskan dengan pelan.” Pinta Minwoo.

Untuk yang kedua kalinya Yoon Hee menghela nafas, “Waktu itu, saat aku mengatakan jika aku akan pergi kerumahmu untuk mengambil barang-barangku yang tertinggal, aku memang datang saat itu. Hanya saja—sungguh aku tidak bermaksud menguping ataupun mengintip—tapi, aku benar-benar melihat kalian sedang… eh, sibuk.”

Minwoo menatap Yoon Hee mencoba menyerap apa yang baru saja dikatakannya. Dan sekarang ia mengerti apa yang dimaksud gadis itu. “Jadi, kau melihatnya?” Tanya Minwoo pelan.

“Ya, aku melihat kalian berdua.” Jawab Yoon Hee menambahkan.

Minwoo mengalihkan pandangannya dan merenung sebentar sebelum berkata, “Karena itukah kau menjauhiku?” tanyanya sedikit bergumam. Lalu, kembali menatap Yoon Hee dengan semangat. “Jadi, apakah kau merasa cemburu?”

Yoon Hee terkejut mendengar Minwoo yang tiba-tiba bertanya seperti itu. “Apa?” tanyanya kaget. Ia yakin wajahnya mulai memerah tak karuan dan debaran jantungnya kian cepat.

“Aku tahu kau cemburu.” Kata Minwoo sambil tersenyum penuh kepercayaan diri. “Tapi, terima kasih telah cemburu.”

Wajah Yoon Hee seketika memanas. Musim panas belum saatnya tiba, ini masih musim semi. Tapi kenapa seluruh tubuhnya terasa panas. Dan kilatan mata Minwoo yang menatapnya membuat jantungnya berhenti berdetak. Tanpa sengaja ia menahan nafasnya entah berapa lama. Jadi, apakah dia benar-benar merasa cemburu? Tentu saja iya. Ia memang cemburu. Lalu, apa yang ia lakukan selama ini pada lelaki itu tanpa alasan cemburu?

Minwoo tersenyum melihat ekspresi Yoon Hee yang terlihat gugup. Ia mengambil beberapa photo dari dalam jaketnya dan menunjukkannya kepada Yoon Hee. “Kau bisa mengerti kalimat ini?” tanya Minwoo.

Ia melihat Yoon Hee menatap photo itu dan menggeleng, “Tidak.”

Photo itu menunjukkan seorang wanita sedang membawa kertas dengan tulisan menggunakan bahasa Perancis. Lalu, Minwoo mengganti photo selanjutnya. Photo kedua, sama seperti photo pertama, tapi pria setengah baya itu menulisnya menggunakan bahasa Arab. Yoon Hee tetap menggeleng. Minwoo mengganti photo selanjutnya, photo itu sama seperti photo sebelumnya, tapi pria itu memegang kertas dengan tulisan menggunakan bahasa Jepang. Yoon Hee tetap menggeleng. Photo selanjutnya menggunakan bahasa China dan selanjutnya bahasa Inggris. Sepertinya, Yoon Hee mulai mengerti saat seorang wanita itu mengangkat sebuah kertas dengan tulisan menggunakan bahasa Inggris. Lalu, Minwoo cepat-cepat memindahkan photo selanjutnya. Photo terakhir, memperlihatkan dirinya sedang berdiri didepan sebuah gedung sambil tersenyum kearah kamera dan memegang sebuah kertas dengan menggunakan bahasa Korea.

Kali ini, ia melihat Yoon Hee sangat terkejut dan meneteskan air mata. Dan dia mulai menangis tersedu-sedu. Sepertinya rencananya kali ini mulai berhasil. Minwoo meraih kepala Yoon Hee dan mulai mendekapnya kedalam pelukannya. Yoon Hee meneteskan air mata didalam pelukannya. Ya, tidak apa-apa. Ini adalah air mata bahagia. Ia rela menjadi tumpuan gadis itu kapan pun Yoon Hee membutuhkannya. Karena ia mencintainya.

“Aku tidak menyangka kau akan melamarku dengan cara seperti ini.”

Minwoo mendengar Yoon Hee bersuara. Suaranya terdengar sumbang. Ia melepaskan pelukannya dan melihat gadis itu. “Bodoh. Kenapa menangis?” tanya Minwoo.

Yoon Hee terdiam, dia masih menatap Minwoo sambil meneteskan air mata.

“Kau belum menjawab,” kata Minwoo lagi dan melanjutkan, “maukah kau menjadi pendamping hidupku?”

Yoon Hee terlihat sedikit terkejut. “Bagaimana dengan Yuri? Bukankah kau menyukainya dan dia juga menyukaimu?”

Minwoo mendesah, “Kenapa kau masih memikirkannya? Aku sama sekali tidak punya hubungan apapun dengannya. Kau benar, aku menyukainya dan dia menyukaiku. Tapi tiba-tiba saja, tanpa seizinku kau datang kedalam hatiku dan menggantikan posisinya. Kenapa kau melakukan itu?”

Yoon Hee mengerutkan keningnya. Dan mendorong bahu Minwoo pelan. “Bodoh.” Gerutunya.

Minwoo hanya tertawa kecil. “Kau harus tanggung jawab karena telah datang dan mengganggu hidupku selama ini.” Kata Minwoo dan melanjutkan masih sambil menatap gadis itu. “Karena kau telah hidup di kehidupanku selama ini dan telah membuat hidupku lebih nyaman, jadi aku mohon, tetaplah seperti itu. Selalu hidup di duniaku.”

Yoon Hee tidak langsung menjawab. Dia terdiam sejenak sambil menatap mata lelaki itu lurus-lurus. Sebelum akhirnya, ia menganggukan kepala tanda menyetujuinya.

Minwoo tersenyum senang. Lalu, perlahan Minwoo mendekatkan tubuhnya pada gadis itu untuk menciumnya.

 

Hari ini adalah hari yang sangat penting
Ini hari ketika aku memberikan pengakuan kepada seorang gadis
Aku akan menemukannya lagi
Membuang kebanggaanku untuk memintamu datang kembali
Aku akan menjadi tali bahumu dan kau dapat menjadi ranselku
Aku merasa baik hari ini untuk beberapa alasan

♫BTOB 2nd Confession J

***

Choi Yoon Hee’s POV

Hari itu aku sangat senang. Aku tidak pernah menyangka Minwoo akan melamarku dengan cara seperti itu. Aku bahkan tidak berani membayangkan jika aku dan Minwoo akan menikah. Waktu berlalu begitu cepat. Begitu banyak yang aku alami bersama Minwoo. Dan tidak mudah untuk di bayangkan, jika sekarang kami sudah menikah.

Aku masih mengingat Minwoo pernah menyebutku tengkorak berjalan. Karena ‘mungkin’ menurutnya aku terlalu kurus. Padahal, tubuh sepertiku hampir sama dengan wanita lain. Kenapa hanya aku saja yang dijuluki tengkorak berjalan? -_-

Malam natal itu, saat menonton showcase balet dan bermain ice skating, itu adalah kenangan yang terindah didalam hidupku bersamanya. Dan kejadian saat Minwoo kehabisan bahan bakar, itu adalah moment yang sulit ku lupakan. Itu terlalu mahal dan terlalu indah untuk bisa dihapus. Waktu yang ku habiskan bersamanya, tidak bisa dibandingkan dengan masa-masa indah lainnya.

Saat mendengar dia akan pergi. Jujur saja, itu adalah hal yang paling sakit yang pernah aku rasakan. Minwoo akan pergi ke Amerika. Amerika bukan negara yang dekat, bukan tempat yang bisa dijangkau menggunakan taxi atau bis dari Korea. Aku benar-benar terluka saat itu. Aku pikir, aku sudah kehilangan lelaki yang aku cintai untuk kedua kalinya. Tapi ternyata pikiranku salah.

Aku bertemu dengannya lagi setelah 3 tahun tidak bertemu. Aku bahkan tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaanku saat itu. Aku terlalu senang bisa bertemu dengannya. Waktu 3 tahun bukanlah waktu yang singkat. Aku mencoba untuk tetap bertahan menanti lelaki itu datang lagi. Walaupun aku tidak tahu hasilnya nanti akan bagaimana. Yang aku pikirkan saat itu adalah melihat Minwoo lagi. Itulah alasanku untuk tetap bertahan hidup.

Aku memiliki banyak kenangan dengan lelaki itu. Kenapa semuanya berlalu begitu cepat? Tapi, aku menyukai bagian akhirnya. Akhir yang membuatku untuk tidak berhenti tersenyum. Aku harap, semua orang juga bisa merasakan kebahagiaanku.

Selamanya bisa bersamanya, itu sudah cukup membuatku bahagia. Aku hanya berharap, Minwoo akan tetap disisiku seperti ini, selamanya. ^^

***

No Minwoo’s POV

Aku melakukannya. Aku mengatakan pengakuan ku padanya untuk yang pertama kalinya. Sebenarnya, aku sangat gugup. Kami baru bertemu lagi setelah 3 tahun berpisah. Dan saat itu, aku langsung mengatakannya. Aku senang dia bisa menerimaku. Aku pikir aku telah melepaskannya. Tapi, ternyata aku belum bisa melepaskannya begitu saja.

Aku rasa waktu tiga tahun terlalu lama baginya. Memang 3 tahun bukanlah waktu yang singkat. Aku yakin begitu banyak yang dia alami setelah tiga tahun ini. Aku tahu pasti ada kalanya gadis itu merasa bosan dan lelah. Tapi aku tidak menyangka, ternyata dia tetap  bertahan dan perasaannya masih sama padaku. Aku tidak tahu, ternyata dia juga masih menungguku untuk datang.

Sesuatu tentangnya adalah begitu cerah. Sesuatu tentangnya adalah begitu jelas. Aku telah melihat banyak orang. Tapi, tidak ada orang sepertinya, dia begitu berbeda. Orang sepertinya tidak dapat dinyatakan sebagai dua orang. Aku tidak bisa memberikan penjelasan apapun.

Aku tidak tahu apakah dia seorang manusia atau mungkin seorang malaikat. Setiap hari aku kagum padanya. Aku takut untuk diriku jatuh begitu dalam padanya. Kenapa? Aku biasanya pandai dalam hal ini. Kenapa aku menjadi bodoh saat aku bersamanya? Tapi aku suka.

Yang aku harapkan saat ini adalah aku ingin  dia bisa bahagia bersamaku. Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang membuat hari-harinya begitu cerah dan menyenangkan. Aku ingin menjadi orang yang membuatnya selalu tersenyum dan tertawa. Karena, melihat dia tersenyum adalah salah satu kebahagiaanku. Karena dialah yang membuatku bisa ikut tertawa. Dia adalah kebahagiaanku. Dia adalah kunci segalanya untukku. Tanpanya, aku tidak tahu apakah aku masih bisa melakukan kegiatanku seperti biasa? Aku rasa tidak. Karena dia adalah sumber tenagaku.

Yoon Hee~saranghae… ^♥^

END~

Huaaaa~ Selesai juga akhirnya ini FF. Eottokhe? Eottokhe? Haha~

Sebelumnya author mau ngucapin makasih buat admin di BFIFanfiction ini dan buat para readers yang udah nyempetin baca FFku dari Part 1 sampai Part terakhir ini. Jeongmal Gamsahamnida J

Tunggu FFku selanjutnya ya~ Annyeong😀

Follow >>> @1998aryn😀

E-mail >>> 1998aryn@gmail.com

😉

This entry was posted by boyfriendindo.

10 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Love You Like You – Chapter 09 (END)

  1. Hhuwahh…akhirnya keluar jugaa ^_^
    Bagusss banget deh thor ffnya. Happy ending pula😀 Aku kasih semua jempol buat author yg ketjeh ini😀 (y) (y)

    Ditunggu FF selanjutnya yaa thor🙂😉

  2. Yeeaaayy, HAPPY ENDING! Untung Yoon Hee gendong anaknya Ji Ra, kalau gendong anaknya Youngmin sama dia, bisa – bisa kubunuh si Youngmin #digorok Youngmin duluan

    Ditunggu FF selanjutnya, yang pasti main castnya Minwoo… Fighting!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: