[FANFICT/FREELANCE] Coffee Latte

Title 
: Coffee Latte
Author : @SetyayuA (한소유)
Genre : Sad Romance
Rating : T
Type : One Shoot
Main Casts 
: ~ Lee Ji Eun (IU)

~ No Minwoo

~ Lee Taemin

Disclaimer : Author terINSPIRASI sama VCnya Om K.Will yang judulnya Can’t Open Up my Lips. Tapi kalau di VC itu akhirnya ngegantung di FF aku ada akhirnya dong😛 kalo penasaran baca aja^^
Ini imajinasi author sendiri, gak nyontek-___-kalo ada kesamaan jangan salahin author.Author itu orang baru di dunia maya yang fana ini dan baru nyoba juga bikin FF jadi maaf kalo misalnya agak cacat hehehe..FF ini murni buatan aku sendiri!! Why? Karena udah aku posting duluan di-blog pribadi aku. Kalo gak percaya bisa dicek kok. Aku gak hafal sama nama alamat blognya tapi. Tapi kalo penasaran*penbgt-_-* cek aja ditwtter aku okeJlangsung aja kecerita. AWAS!! TYPO BERTEBARAN. (padahal gak ada-_-#kayaknya)
Don’t Be Bushing and Keep Reading, jangan lupa RCL nya, kalo ada yang baca itu juga-__-thanx before ^^ udah lah kebanyakan ngobrol, ayo baca aja ^^


Pernahkah kamu merasakan sebuah perasaan yang terpendam?Aku memang tak pernah mengerti hal itu.Namun aku pernah merasakannya.Rasa yang dipendam seseorang hanya untukku. Awalnya aku tak mengerti apa yang diinginkanya. Namun saat ia mengungkapkannya. Aku menyesal karena aku mengetahui saat ia akan segera pergi dan tak akan pernah kembali lagi kesini. Dan memesan secangkir coffe latte di café ini untuk yang terakhir kalinya.Harus ku akui sejujurnya aku juga menyukainya.

 

*****

Kali ini ia kembali lagi kesana. Ke café itu. Hanya ditemani dengan secangkir coffe latte seharga sepuluh ribu yang selalu ia beli setiap harinya. sebenarnya ia tak mengerti apa yang dilakukannya akhir-akhir ini. Kakinya selalu melangkah ketempat itu.Café sederhana yang sepi itu.  Dan yang ia lakukan hanya membeli secangkir coffe latte lalu duduk di bangku sana. Nomor 31 yang terletak dipojok hingga sangat lama.
Alasan? Ya..kalau boleh jujur, awalnya ia tak begitu memiliki alasan yang penting mengapa ia selalu mendatangi café itu hampir selama dua bulan ini. Namun. Saat pertama kali orang itu melihat mata seorang gadis yang memancarkan aura ketulusan  saat pertama kali mereka bertemu dua bulan yang lalu. Pada akhirnya ia menyadari kalau gadis yang dilihatnya pertama kali adalah alasannya mendatangi café sederhana itu setiap hari hampir dua bulan ini. Atau bisa dikatakan lebih spesifik lagi.Laki-laki itu menyukainya.

 

*****

“Coffe latte,”  Ujar Mia, gadis yang selalu ia tunggu hampir setiap dua bulan ini. Laki-laki itu menyukai suaranya yang lembut dan pelayanan lembutnya saat Mia menyajikan coffe latte yang dipesannya.Sebenarnya ia tersadar dengan jelas dan sangat mengerti kalau sesungguhnya pelayan café yang ia sukai sudah sangat jengkel saat melayaninya terus-terusan. Namun apa yang dapat dilakukannya? Hanya diam dan pura-pura ia tak mengerti itu.

Sebenarnya mudah saja bagi seorang laki-laki untuk memulai semuanya. Kalau seandainya ia mau dan memiliki keberanian untuk melakukan hal itu. Namun, apa yang dapat dilakukan kalau hatinya mau tetapi bibirnya tak mampu terbuka sedikitpun bahkan ia tak dapat berkutik saat ada dihadapan Mia. Mulutnya selalu tertutup rapat bagaikan diolesi perekat yang sangat kuat. Dan tak mampu membukanya meskipun sebenarnya ia sangat ingin.
“Apa mau ditambah roti? Kebetulan, café kami sedang mempromosikan sebuah roti home made yang sangat sehat dan murah.” Tanya Mia padanya dan memecahkan kesunyian.Laki-laki itu tak pernah berbicara hal yang lebih dari pada ini. Hanya sebatas mendengar suaranya dan meliriknya sekilas dadanya sudah berdegup sangat cepat, sebenarnya ia sudah sangat lelah selalu seperti ini. Ingin rasanya ia memulai percakapan  yang lebih dari ini lalu mulai mengobrol seperti pria dan wanita kebanyakan, menanyakan umurnya, dimana alamat rumahnya dan bertukaran nomor ponsel. Dengan begitu semuanya akan terasa lebih mudah dari pada ini.

“..Ya.Boleh.”Jawabnya singkat sambil menundukkan kepala. Ini adalah hari pertama ia membeli roti di café ini setelah hampir dua bulan ia membeli kopi disini secara rutin setiap pagi dan sore.  “Baiklah, secangkir kopi dan sebuah roti. Ada yang lain?” Mia mengulang pertanyaannya kepada laki-laki yang duduk dihadapannya sekarang dan mulai menarik kedua ujung bibirnya sedikit hingga terlihat sebuah senyuman yang tak sengaja dilihat oleh laki-laki itu.senyum yang semakin membuat dadanya berdebar kencang. Lebih kencang daripada yang biasanya.
Anhi,” Jawabnya semakin singkat dan menunduk.Ia dapat mendengar langkah kaki Mia yang berjalan menjauh serta diiringi bayangannya yang menjauh dari meja tempat ia memesan Coffe Latte dan dirinya yang duduk sendiri dibangku paling pojok itu.

*****

Mia tak pernah mengerti atas apa yang selalu dilakukan laki-laki yang selalu datang ke café itu setiap harinya. Ia bersyukur karena café sederhana tempatnya bekerja memiliki pelanggan tetap. Tetapi ia tak mengerti kenapa ia selalu memesan Coffe Latte saja setiap harinya dan dijam yang sama,tempat duduk yang sama,dan pesanan yang sama,pakaian yang sama juga tentunya. Apakah laki-laki disana memiliki banyak pasang baju serupa seperti itu?kira-kira itulah yang selalu Mia pikirkan selama ini. Dan hal yang semakin membuatnya bingung.Dan agak jengkel tentunya. Setiap kali ia menanyakan pesanan, laki-laki itu pasti akan selalu menjawab hal sudah dapat Mia tebak selama satu minggu belakangan ini. Yaitu ‘Ya’ atau ‘Tidak’  mengingat seringnya laki-laki itu mendatangi café ini.
“Ini pesanan anda. Selamat menikmati,”  Ujar Mia pada laki-laki itu, sambil menahan wajah jengkelnya Mia mencoba menunjukkan seulas senyum yang ia coba buat untuk setulus mungkin dihadapan laki-laki itu. Lagipula Mia berpikir laki-laki yang selalu ia layani pesanannya itu dan sepasang mata Mia menangkap hal yang sedikit berbeda dari laki-laki itu hari ini.

‘Kemeja ini?Aku tak pernah melihatnya menggunakan kemeja putih,’ Pikir Mia dalam hati, dan kedua matanya terus memperhatikan kemeja yang laki-laki itu gunakan hari ini dengan tatapan mata menerawang.Mencoba mengingat apakah laki-laki itu pernah menggunakan kemeja berwarna putih selain hitam dan abu-abu.Tetapi otak Mia menepis semua pikirannya barusan.Laki-laki itu tak pernah menggunakan kemeja putih sekalipun.Dan itu baru hari ini saja.

Kamsahaeyo,” Lamunan Mia dibuyarkan oleh sebuah ucapan yang baru saja dan pertama kalinya terlontar dari laki-laki itu.kata Terima Kasih. Sebuah ucapan yang baru pertama kali ia dengarkan dari orang itu selama ia menyajikan Coffe latte pada laki-laki itu selama 1200 kali atau Dua bulan ini.
Eo? Ne, Cheonmanieyo.” Jawabnya singkat sambil beranjak kebelakang karena ia telah kehabisan kata-kata dan pikirannya sudah buntu karena ucapan yang mengejutkan dari laki-laki tadi.

“Aku tak mengerti,” Gumamnya kebingungan saat ia sudah menjauh dari meja laki-laki itu. Kepalanya tak dapat berhenti untuk memikirkan laki-laki itu sejak ia mendengar kata terima kasih yang terasa seperti menghangatkan hatinya dan membuat dadanya terasa berdesir, hingga ia tak mengerti apa yang dirasakannya saat ini. Antara bahagia dan bingung, Mia tak dapat memilih satupun.Sejujurnya Mia harus mengakui kalau laki-laki dimeja 31 itu sudah menyita perhatiannya selama sebulan belakangan ini.Saat laki-laki itu sering mendatangi café sederhana tempatnya bekerja. Tanpa teman,dan hanya sendiri datang kesini. Itu menambah rasa penasarannya terhadap laki-laki pendiam itu.

*****

Seminggu sudah Mia tak melihat laki-laki itu datang ke café sederhana tempatnya bekerja, dan seminggu juga sepasang mata Mia tak dapat beralih dari meja nomor 31.Meja terpojok yang selalu laki-laki itu tempati.Laki-laki itu benar-benar sudah menyita perhatian Mia hampir sepenuhnya. Karena setelah ia mengucapkan Terima Kasih. Laki-laki yang Mia tak ketahui namanya itu tak datang lagi ke café itu.Dan Mia merasa seperti ada sesuatu yang ganjil saat laki-laki itu tak datang ke café dan tidak memesan Coffe Latte seperti biasanya.
Tiba-tiba saja Mia mendengar suara bel gantung yang berasal dari pintu masuk café terbuka, ia lantas langsung berdiri dan berharap orang yang ditunggunya datang dari balik pintu café. Namun rasanya harapannya tak terwujud karena yang datang bukan laki-laki misterius itu.
“Hhh..Itu bukan dia.” Gumam Mia sedih dan langsung menundukkan kepalanya murung saat mengetahui yang datang barusan bukanlah laki-laki yang ia tunggu selama seminggu ini.

“Mia” panggil seseorang dari balik pintu yang terbuka selanjutnya, Mia sudah tidak berbalik karena ia tahu pasti bukan laki-laki berkemeja membosankan itu yang akan datang.
Namun rasanya ia sekarang kembali terkejut saat menoleh, melihat siapa yang memanggilnya tadi.

“Taemin Oppa?” serunya saat melihat orang yang dipanggilnya dengan sebutan Oppa itu berjalan mendekatinya dari balik daun pintu yang terbuka perlahan.Mereka berdua hanya mampu menatap satu sama lain dan tak bergerak dari tempat mereka berdiri sekarang, kepala Mia yang tadinya tertunduk sekarang mulai terangkat untuk menatap Taemin yang sudah berdiri dihadapannya sambil tersenyum manis.
Dengan begitu Mia juga membalas senyumannya.

Oppa kapan datang?Dan tahu dari mana kalau aku bekerja disini?”tanya Mia berurutan tanpa jeda pada Taemin yang masih tersenyum menatapnya, hingga akhirnya Mia merasakan telapak tangan Taemin mengusap puncak kepalanya.
“Kau ini kenapa cerewet sekali?Apa tidak boleh seorang kakak mengujungi adiknya yang tinggal di Seoul sendirian?”tanya Taemin pada Mia yang sekarang sudah mengerucutkan bibirnya tanda protes, dan menatap sengit Oppanya dengan tatapan sebal dan rindu sekaligus.
Ya..! kenapa menatapku seperti itu? apa tidak boleh aku mengunjungimu? Kau tahukan?Kau anak bungsu dan tinggal di Seoul sendiri, sedangkan aku, ibu dan ayah tinggal di Daegu.Mia~ya.kau itu benar-benar anak nakal. Kenapa tidak pernah pulang kerumah.Apa kau tidak tahu kalau ibu dan ayah sangat rindu padamu. Bahkan Mochi anjing milikku saja suka menggonggong tiap malam tanda dia merindukanmu….”Lanjut Taemin panjang lebar sambil menatap adiknya yang masih menatapnya dengan tatapan sengit.Lalu perlahan tatapan itu terhapuskan oleh seulas senyum usil dari Mia.

Anhi~yo Oppa, bukan begitu..” sergah Mia pada Taemin, ia mulai menunduk menutupi wajah malunya tanda kalau wajahnya sudah mulai memerah.
“Apa kau merindukan aku?”tanya Taemin tiba-tiba memotong perkataan Mia yang masih menunduk menutupi wajahnya yang ia rasa telah memerah. Mia tak menjawab dan malah langsung memeluk Oppanya.“Ternyata kau memang benar-benar merindukan aku yah?”Beo Taemin selanjutnya saat Mia langsung memeluknya dan hanya bisa mengangguk dan semakin menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Taemin.

Ne~ aku sangat merindukan Oppa..” jawab Mia selanjutnya dengan nada suara senang, hingga ia mendengar suara Bel gantung berbunyi lagi dan ia segera melepas pelukannya dari Taemin dengan antusias. Berharap kalau…

‘Kya..pelanggan itu..’ jerit Mia dalam hati, tanpa sadar mulutnya terbuka lebar dan membentuk sebuah senyuman bahagia, tanpa disadarinya Mia terus memperhatikan laki-laki itu dengan saksama dan tentunya dengan senyum yang masih terbuka lebar dimulutnya. Ia pun mulai meninggalkan Taemin dan berjalan mendekati orang itu untuk menanyakan pesanannya seperti biasanya.

Pasti ia akan memesan Coffe Latte seperti biasanya.

“Annyeonghaseyo.Uri Mannaseoyo~” Mia mencoba menyapanya dengan lembut dan ramah namun laki-laki ituterus terdiam.Mia tahu kalau orang itu tak mungkin membalas semua perkataannya selain pertanyaannya tentang pesanannya karena memang mereka tidak saling kenal.Tapi setidaknya Mia hanya ingin kalau orang itu tahu kalau ia merindukannya.
“Cappuchino..” pekik laki-laki itu singkat dengan nada datar membuat Mia terdiam seribu bahasa mencoba mencerna apa yang laki-laki itu katakan tadi.
“Aku pesan Cappuchino..” pekik orang itu lagi pada Mia dan membuatnya menjadi tercengang, karena ini untuk yang pertama kalinya selama hampir tiga bulan ini laki-laki itu memesan ‘Cappuchino’ dan bukannya ‘Coffe Latte’.

Eo..ne. jankkhamman kidariseyo..”Jawab Mia lalu segera pergi kemeja kasir untuk mengambilkan pesanan laki-laki itu.sampai saat ini ia masih tak mengerti dengan apa yang dikatakan orang tadi itu. Cappuchino atau Coffe Latte.Ternyata tebakannya salah.apa Coffe Latte buatan café nya sudah tak seenak dulu jadi orang itu mengganti pesanannya?
“…Ini pesananmu,Cappuchino.”Ujar Mia seraya meletakkan gelas kopi yang berisi Cappuchino itu kepada pelanggan tetapnya lalu ia berbalik dan mulai beranjak pergi namun belum selangkahpun ia berjalan. Laki-laki itu memanggilnya.

“Mia~sshi..kamsahaeyo, aku harap lain kali kita bisa bertemu lagi,” pekik orang itu pada Mia tanpa menatapnya Mia pun segera berbalik dengan spontan ia melihat orang itu tak berbalik namun ia dapat melihat dengan samar kalau laki-laki itu tersenyum. Apa yang ditertawakannya? Mia sama sekali tak mengerti.

Dan untuk yang pertama kalinya, ia baru menyadari kalau orang yang pendiam dan dingin itu bisa tersenyum.
Bahkan orang itu memiliki senyum yang indah, yang tak pernah Mia bayangkan sebelumnya.

Mia hanya mampu terdiam, seakan terhipnotis oleh senyuman samar yag ditunjukkan orang itu, ia tak mengerti apa maksud orang itu mengatakan hal ini. Ia benar-benar tak mengerti.
“Eo?”

“Mia~sshi terima kasih karena berkatmu aku sudah diizinkan untuk bisa merasakan indahnya jatuh cinta meskipun hanya dalam waktu singkat, aku bahagia.Lain kali..” pekik orang itu untuk yang kesekian kalinya, mendadak membuat Mia merasa tertusuk benda tajam tepat di jantungnya. Apa maksud laki-laki ini. Apa sekarang ia sedang membuat pengakuan pada Mia?
Dan untuk yang kedua kalinya, Mia dapat melihat senyuman samar laki-laki itu.
“Bukan..karena aku tak akan bisa melakukan ini padamu dan tak akan bisa bertemu denganmu lagi, aku harus mengatakan ini semua padamu sekarang juga, oh iya.. selamat yah..” lanjutnya sambil terus tersenyum ia mengatakan semuanya. Tak meyadari tatapan Mia padanya ia mulai beranjak dari tempatnya duduk lalu pergi dari café itu setelah meletakkan selembar uang dua puluh ribu won diatas meja pelanggan yang selalu ia duduki.

Nomor 31.

Dan meninggalkan Mia yang masih terus terdiam di hadapan mejanya, terdiam dengan tubuh yang membatu dan dada yang terasa berhenti berdetak.Suara Bel gantung pun sekarang sudah mulai tak terdengar ditelinganya.Suara detak jantungnya sendiri bahkan sudah tak terdengar lagi.Sebenarnya apa yang terjadi padanya. Matanya pun terasa berat dan memburam.Apakah ia menangis?

 

Mia hanya mampu terduduk di atas kursi yang berada di hadapan meja nomor 31 sekarang, meja yang diduduki orang yang sampai mengucapkan salam perpisahan tak diketahui namanya. Taemin sudah pamit padanya sejak sepuluh menit yang lalu.Café pun sudah mulai sepi mengingat sekarang sudah mulai senja.Warna jingga matahari memenuhi ruangan yang memang sengaja tak dinyalakan lampunya kalau siang hari.Dan Mia hanya mampu terduduk diatas kursi itu sambil memikirkan kata-kata orang tadi itu. Apa maksudnya tadi..

“..Mia~sshi terima kasih karena berkatmu aku sudah diizinkan untuk bisa merasakan indahnya jatuh cinta meskipun hanya dalam waktu singkat, aku bahagia.Lain kali..”

“..Bukan..karena aku tak akan bisa melakukan ini padamu dan tak akan bisa bertemu dengan mu lagi, aku harus mengatakan ini semua padamu sekarang juga, oh iya.. selamat yah..”

Mia terus memikirkan kata-kata orang itu apa maksud laki-laki itu barusan, apa ia sedang membuat pengakuan atau semacamnya. Apa ia menyukainya? Kalau memang orang itu menyukainya  lalu untuk apa ia mengucapkan selamat. Mia tak pernah merasa sedang memenangkan sebuah pertandingan yang mendapatkan hadiah besar.

“Apa maksudnya saat ia berkata tak akan bisa bertemu denganmu lagi,” gumam Mia kebingungan sendiri sekarang.Apa orang itu akan pindah keluar negeri dan tak kembali kesini lagi?
Mia semakin terdiam saat memikirkannya, matanya pun tak lepas dari cangkir Cappuchino yang belum dibersihkannya dari tadi, sejak orang itu pergi ia hanya mampu menatap cangkir Cappuchino yang sudah mulai dingin.

“Kopinya bahkan belum diminum sedikitpun, dan sekarang sudah dingin..” gumam Mia sedih, ia terus terduduk di kursi itu dan perlahan meraih gelas yang berisi Cappuchino itu mendekap gelas itu dengan kedua telapak tangannya ia dapat merasakan kalau gelas yang awalnya terasa panas itu sekarang sudah terasa dingin.
Bahkan sangat dingin.

Harus Mia akui, kalau ia merasa sepi tanpa orang itu.
Mia merindukan orang itu,
dan Mia selalu ingin orang itu untuk selalu berada disisinya.

Mungkin ini yang dimaksudkan orang-orang dengan Jatuh Cinta, Mia sudah jatuh cinta pada orang itu.Dan Mia belum mengungkapkan perasaannya pada orang itu.sedangkan orang itu sudah mengatakan kalau ia sudah tak bisa bertemu dengan Mia lagi.

Rasanya Mia menyesal karena tak menyadari hal itu sejak awal.
Dan sekarang ia hanya bisa terduduk di kursi itu dengan raut wajah sedih dan mata yang berkaca-kaca.

 

*****

 

Sedangkan ditempat lain, seorang laki-laki sedang menatap dunia luar lewat kaca rumah sakit yang menghalanginya. Sudah dua minggu ia terkurung disini. Rasanya ia ingin sekali kabur dari sini lalu berlari menuju tempat yang selalu didatanginya selama tiga bulan terakhir ini. Memesan secangkir Coffe Latte dari seorang pelayan wanita berwajah manis yang selalu mampu membuat dadanya berdegup kencang. Perasaan yang selalu disukainya saat dadanya berdebar.Namun sekarang ia tak bisa melakukan hal yang selalu disukainya, dokter tak mengizinkannya keluar kalau ia masih ingin hidup lebih lama lagi. Kalau ia berjalan keluar dan mengirup polusi lagi. Mungkin penyakitnya akan bertambah parah.

“Kanker paru-paru ini menyiksaku.Kenapa harus aku yang terkena penyakit ini?Apa salahku dimasa lalu hingga aku harus merasakan hal seperti ini. Aku ingin merasakan apa itu jatuh cinta dan dicintai..dan bukannya malah terkurung dalam ruangan ICU seperti ini,” maki laki-laki itu pada dirinya sendiri mengutuk penyakit yang di wariskan ayahnya sendiri. Menangis sepanjang malam dalam hatinya, dan takada yang pernah tahu. Rasanya ingin sekali saat ini ia keluar dari kamar ini lalu berlari menuju tempat yang selalu disukainya untuk menemui gadis itu.

Ya.. Mia.

**

Sehari menjadi seminggu dan seminggu menjadi sebulan, ya..sudah sebulan lamanya Mia tak melihat pelanggan yang selalu ditunggunya setiap hari pelanggan yang sudah mengaku padanya kalau ia menyukai Mia. Harus Mia akui Mia merindukan suara orang itu yang memesan Coffe Latte, dan sekarang Mia hanya mampu menatap meja nomor 31 yang kosong dan akan selalu kosong setiap harinya.
Tak lama Mia menatapi meja kosong itu bel gantung café berbunyi, Mia reflek segera menoleh kearah pintu masuk berharap orang yang ditunggu-tunggu selama ini datang menemuinya namun yang dilihatnya saat ini. Itu bukan dia, dan dia tak akan pernah datang lagi.

Hingga Mia berpendapat kalau ia memang benar-benar sudah pindah keluar negeri.
‘Ia benar-benar sudah pindah keluar negeri..’ gumam Mia dalam hati, ia menundukkan kepalanya lalu mulai berjalan menuju jendela menatap jendela yang berembun karena air hujan. Mia menghapus embun dikaca itu dengan tangannya lalu menatap luar dengan tatapan sedih.Seharusnya.Tak harus sesedih ini kalau aku tak menyukai orang itumungkin itu yang dipikirkan Mia sekarang, bahkan tanpa sadar jari-jari tangannya sudah menyentuh permukaan kaca yang berembun itu hingga teman kerjanya Ae Lyn menghampirinya dan memberikan selembar surat yang dibungkus amplop putih dengan nama pengirimnya No Min Woo.

Mia membuka matanya lebar dan mencerna nama pengirimnya, untuk mengingat apa ia memiliki teman yang bernama No Min Woo selama bersekolah hingga berkuliah, namun nihil. Ia tak mengenal siapa No Min Woo itu.
“No Min Woo nugu? Aku tak mengenalnya, mungkin aku harus membuka suratnya agar mengingat siapa Min Woo itu,” gumam Mia bingung, dan perlahan Mia membuka surat itu dan..membacanya.

 

Annyeong Mia~sshi..

 

Sudah lama ya.kita tidak bertemu. Apa kau masih mengingat aku? Aku rindu padamu.
Oh iya aku lupa mengenalkan diri. apa kau ingat dengan laki-laki yang suka memesan Coffe Latte selama tiga bulan ini dan memesan Cappuchino namun tak terminum? Itu lah aku, dan namaku No Min Woo.
Sekarang apa sudah ingat?

Belum?Baiklah akan aku jelaskan lagi. Laki-laki yang suka memakai kemeja hitam dan abu-abu yang selalu duduk dibangku nomor 31.Itu lah aku.Dan semoga kau mengigat aku.
Maaf yah.Kalau selama ini aku selalu membuatmu jengkel karena selalu memesan minuman yang sama setiap harinya. Tapi aku punya alasan untuk itu semua.Itu semua karena aku menyukaimu.
Sangat menyukaimu..hingga aku rasa.. aku bisa gila karena aku terlalu menyukaimu.
Mengenai perkataanku waktu itu.aku rasa kau pasti bingung dengan apa maksudnya, maksudku..

Karena aku sakit..aku terkena kanker paru-paru yang membuatku tak mampu mengungkapkan semua perasaanku padamu.
Dan aku pun tahu kau sudah memiliki kekasih, aku sudah melihatnya saat kalian berpelukan di café waktu itu.

Dia tampan..lebih tampan dari pada aku. Lagipula aku tahu kau tak mungkin membalas perasaanku dan juga menyukaiku seperti aku menyukaimu, jadi aku tak berani mengharapkannya.

Mm..aku rasa.. hanya ini yang ingin aku sampaikan, aku ingin melihatmu untuk terakhir kalinya sebelum aku pergi untuk selamanya. Dapatkah kau menemuiku di rumah sakit?Sebentar saja..aku akan menunggumu. Hanya ini keinginan ku, yang pertama dan terakhir.Aku mohon kau menemuiku.Aku sangat merindukanmu..

 

No Min Woo

 

Mia tak dapat menahan air matanya lebih lama lagi, air mata mengalir begitu saja dari pelupuk matanya.Ia menangis sebisanya saat membaca surat yang ditulis oleh laki-laki bernama Min Woo yang disukainya tersebut ia tak pernah menyangka orang yang disukainya dan ternyata juga menyukainya terkena penyakit separah ini. Mia segera berlari keluar dari café menerjang hujan yang turun deras membasahi tubuhnya.Saat air mata, keringat dan air hujan menyatu.Rasanya Mia sudah tak perduli apapun.Yang di perdulikan olehnya hanyalah Min Woo yang sekarang sedang menunggu kehadirannya.
“Min Woo~sshi..” panggil Mia pada Min Woo. Hatinya sekarang sudah benar-benar sakit.Ia tak perduli lagi dengan tubuhnya yang basah kuyup saat memasuki koridor rumah sakit, ia sudah tak perduli saat semua orang menatapnya dengan tatapan aneh. Ia tak perduli. Karena yang di perdulikannya saat ini hanyalah Min Woo.

Perlahan kaki Mia memasuki ruangan tempat Min Woo dirawat ia tak dapat menahan air matanya lagi, air matanya sudah tumpah sejak pertama kali ia membaca surat dari Min Woo. Dan sekarang dihadapannya orang yang disukainya sudah terlihat sangat menyedihkan dengan semua alat medis yang tertempel hampir diseluruh bagian tubuhnya.Dan Min Woo hanya dapat terbaring lemah diatas ranjangnya saat menyaksikan Mia muncul dari balik daun pintu dengan tubuh basah kuyup.

“Mia~sshi..kau datang?” tanya Min Woo lirih dari atas ranjangnya dan tak dapat melakukan apapun ia berusaha untuk bangun dari tidurnya namun Mia menahannya dan hanya mampu menatap kedua mata sipitnya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Mia~sshi..kau menangis? Kau basah kuyup.Nanti kau sa…”
omongan Min Woo pun terpotong saat tiba-tiba Mia memeluknya lalu menangis kencang dipelukannya.

Wae..kenapa kau masih memperdulikan aku. Kau yang sakit.Kenapa kau jahat?!Kau datang lalu pergi seenaknya saat aku sudah sangat menyukaimu.Apa kau tahu aku merindukanmu. Aku selalu menunggumu muncul dari balik pintu café, memesan Coffe Latte lalu diam-diam menatapku.Kau tahu aku merindukanmu….”Kata Mia sambil menangis sejadi-jadinya sedangkan Min Woo hanya mampu terdiam dengan mulut tertutup seutuhnya ia tak tahu apa yang dirasakannya saat ini senang saat Mia juga menyukainya atau sedih karena sesungguhnya Mia sudah memiliki kekasih.
“Kenapa kau tak bilang dari awal kalau kau menyukaiku?Aku..aku juga menyukaimu.. sangat menyukaimu..” lanjut Mia semakin menangis dengan kencang, tanpa sadar Min Woo mulai mengangkat tangannya lalu mengelus rambut panjang gadis itu yang basah dan lepek karena terkena air hujan. Mencoba menenangkan Mia yang sudah mulai terisak dipelukannya.

“Mia~sshi.. Mianhae, tapi bukankah kau sudah punya kekasih?”tanya Min Woo bingung, dengan suara lirih karena menahan tangis yang sudah terlebih dahulu ia tumpahkan sebelum ia tahu kalau Mia menyukainya. Mendengar itu Mia pun segera melepas pelukannya dan menatap Min Woo dengan wajah sembap.

Pabo!Dia itu kakakku..” umpat Mia dihadapan Min Woo lalu melepas pelukannya dan mulai menatap Min Woo lebih dalam. Perlahan ia mendekati Min Woo lalu mengecup kening laki-laki itu dengan lembut lalu memejamkan matanya.
Saranghae~” bisik Mia tepat ditelinga Min Woo.Dan tiba-tiba saja Min Woo memeluk Mia dengan erat.Membuat Mia merasa berdegub kencang.

Nado..sarang….”Balasan Min Woo terhenti begitu saja, pelukan orang itu terlepas dari punggung Mia dan orang itu terpejam.Mia tak mengerti apa yang terjadi. Dengan begitu ia mulai panik ia melepas pelukan Min Woo lalu menatapnya. Ia melihat Min Woo terpejam Mia mencoba membangunkan orang itu namun Min Woo tak kunjung membuka matanya, alat pendeteksi jantungnya pun tak bergerak dan hanya menunjukkan garis lurus. Mia pun menjadi panik ia segera memanggil dokter dan…..

 

“Ia sudah meninggal…”

BLAM!!!
Lutut Mia terasa lemas, ia pun terjatuh dengan tatapan kosong dadanya terus berdetak kencang lebih dari normal. Air matanya terus mengalir tanpa diperintahkannya wajahnya pucat dan ia mulai menangis sekencang mungkin di lantai dan ia melihat sendiri dokter menutupi wajah Min Woo dengan selimut putih. Ia kembali menangis di lorong rumah sakit yang gelap sambil memeluk kedua lututnya hingga terisak.

 

***

 

Mia Point of View’s

 

Ia sudah meninggal. Kata-kata yang selalu membuatku hampir gila setiap kali aku mengingatnya.Itu tidak mungkin! Lututku selalu terasa lemas setiap kali aku mengingat hal itu.bahkan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat dokter menutup wajah tampannya yang pucat itu dengan selimut putih. Aku selalu tak percaya kalau laki-laki yang kusukai bernama No Min Woo itu sekarang sudah tiada dan ia meninggal di pelukan ku.

Sedangkan..aku masih sangat merindukannya..

Air mata ini tak dapat kubendung lebih lama lagi, mereka sudah mengalir keluar dari kelopak mataku tanpa harus kuperintahkan dan aku hanya mampu menangis terduduk di lorong gelap depan kamar Min Woo yang sudah kosong sambil memeluk kedua lututku.
Dan aku selalu berharap kalau semua itu hanya mimpi.

Tapi itu tidak…

Sekarang aku tengah berada di acara pemakamannya, dan semua orang sudah pergi meninggalkannya termasuk keluarganya.Abu kremasinya telah ditimbun dengan tanah dan sekarang telah menyatu dengan ulat.Hanya aku sendiri ditemani dengan Taemin Oppa yang selalu mencoba menghiburku.Aku tak pernah menyangka kalau akan sesingkat itu pertemuan kita dan sekarang dia sudah pergi dengan kenangan terakhir yang menyakitkan, menghembuskan napasnya yang terakhir dipelukan ku. Menginggalkan hati yang bersedih ini sendiri, tak akan bisa melihatnya lagi dan tak akan bisa menyajikan ‘Coffe Latte’ lagi padanya sekarang dan selamanya.

Dan sekarang..aku sangat berterima kasih. Berkatnya aku bisa di izinkan untuk mencintai seseorang dengan tulus meskipun harus sepahit ini pada akhirnya.

Dan yang harus kau tahu No Min Woo..
aku mencintaimu… meskipun sekarang kau telah menjadi abu.

 

_ THE END _

 

##Gmna?? Gmna?? Gaje kah? Maaf kalo gaje. Tapi sebelumnya yang udah selesai baca, *kayak dibaca aja-_-*minta commentnya yahhh??Tinggalkan jejak disini jebal~ khekhekhekhe >^< Kyaaaaaaaaaaaaaa>^<
Akhirnya ceritanya selesai juga!! Maaf yah kalau endingnya gaje.Tapi aku harap kalian suka. Kumawoyoh~ ppyong~~!! Salam ppyong~ ppyong~

Author @setyayuA #promosi dikit :p

This entry was posted by boyfriendindo.

7 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Coffee Latte

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: