[FANFICT/FREELANCE] After Today…! – Chapter 01

Title 
: After Today …! – Chaptered 01
Author : V.Noviy a.k.a D’chemos Bee)
Genre : Friendship, Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ Jo Youngmin 

  ~ Hwang In Young

-ooo-

Tak ada rotan akar pun jadi. Begitulah keadaan In Young saat ini. Karena kesibukannya di dunia sekolah, ia harus rela mengorbankan lomba dancenya untuk mengikuti Olimpiade Sains yang akan terselenggara tepat dua hari lagi. Sebenarnya ia tak mau ambil pusing, karena lomba dance itu hanyalah lomba antar provinsi. Lebih-lebih, ia menginginkan jika perlombaan itu adalah tingkat nasional, pasti ia akan mengikutinya.

“In Young-a, aku dengar Youngmin akan menjadi sainganmu, ya ?” tanya Yoon Su sambil melahap kimchi-nya.

MWO ? Jinjjayo ?” kejut In Young. Kedua matanya membola ketika mengetahui ada nama Youngmin di balik tanya Yoon Su. In Young segera menutup buku kimianya. Ia benar-benar tak tahu jika orang yang ia suka itu juga ikut serta dalam olimpiade.

Yoon Su terkekeh melihat respon dari In Young. Gadis perawakan 16 tahun itu langsung memukul kening In Young seenaknya. Membuat In Young meringis kesakitan. “Kau senang ?” cibir In Young. Dan itu membuat Yoon Su tergelak terbahak-bahak.

“Kau ini tidak lucu,” ujar Yoon Su. Mendengar itu, In Young hanya geleng-geleng kepala. “Darimana kau tahu jika dia juga ikut olimpiade ?” lanjut In Young.

“Beginilah jika asisten guru merangkap seorang mata-mata, hahaha,” gelak Yoon Su merasa bangga. Ia memamerkan logo segitiga yang terdapat pada lengan baju seragamnya sebelah kanan. Logo itu menandakan jika ia adalah asisten guru yang membantu dalam pelajaran praktikum. “Kau menyukai Jo Youngmin, yaa,” godanya pada In Young.

“A- aku ? Ya ! Mana mungkin aku menyukainya. Kau ini sok tahu sekali,” ucapnya gelagapan. In Young berniat meninggalkan Yoon Su lebih dulu karena harus menemui Boun Songsaenim di Kantor Konseling.

Eodiga ?” tanya Yoon Su setelah melihat In Young membereskan buku-bukunya.

“Aku harus menemui Boun ssaem. Kau duluan saja ke kelas ya. Annyeong,”

“Ish… Kabur dari kenyataan, hahah,”

-ooo-

In Young’s POV

Yaaaaaaaaaaaaaa. Mimpi apa aku semalam, eoh ? Benarkah Youngmin juga ikut olimpiade ? Ah ! Bagus. Ini kesempatan langka yang jarang aku dapatkan. Ah, bukan jarang lagi tapi belum pernah sama sekali. Ini artinya, aku akan belajar bersama Youngmin dan berada di ruangan yang sama. Kyaaa ! Benar sekali. Benar.

Hoooh, rupanya Tuhan memang benar-benar menjodohkanku dengannya. Ya ! Jo Youngmin, aku menyukaimu.

“Hwang In Young !”

Bukankah bagus jika bertemu setiap hari. Masih ada waktu sehari untuk bisa berdua dengannya. Yah, walau hanya sehari bagiku adalah waktu 100 hari. Perbandingannya sangat besar bukan ? Uhm, apa yang akan aku katakan ya saat bertemu dengan dia ?

“Haruskah aku menegurnya duluan ?” eum…sebagai wanita, kenapa harus aku duluan. Bukankah lebih gentleman jika laki-laki terlebih dulu. Ya, matta !

“Hwang In Young !!!! Keluar sekarang !”

“Eh ?” Pabo ! Karena laki-laki itu… Arrghh ! “Nde, ssaem,”

Mati sudah riwayatku.

In Young’s POV end

 

In Young terpaksa menuruti perintah guru Ve. Karena mengkhayal yang berlebihan, akhirnya ia mendapatkan hadiah dan hasilnya. Guru Ve adalah guru yang paling sangat sangat dibenci di sekolah itu. Bahkan karakternya sudah nampak jelas meski pertama kali bertemu.

In Young berjalan malas menuju pintu kelas. Namun, saat matanya menangkap seseorang yang tengah berjalan di depan kelasnya, ia segera berlari dengan semangat. Semua teman-temannya dan Guru Ve hanya memperhatikan tingkah aneh gadis itu.

“Baiklah, kita lanjutkan,” ucap Guru Ve.

-ooo-

“Aish… Youngmin cepat sekali berjalannya,” In Young menggerutu sepanjang koridor saat ia tahu Youngmin sudah hilang dari pandangan matanya. Ia terus berjalan cepat tak tentu tujuan sambil memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri hanya untuk menemukan lelaki tampan itu. Baginya.

In Young terus berjalan hingga ia sadar saat ini ia sudah berada di bagian sekolah paling belakang dan jarang didatangi siswa. Ini adalah dua ruangan yang tidak berpenghuni dan terlihat usang serta sepi sekali. Kedua ruangan ini dulunya adalah bangunan pertama yang didirikan sekolah. Sekarang sudah nampak tua dan tidak terurus.

In Young mencoba melihat ke dalam ruangan bermerek 1 COMP di dekatnya melalui jendela yang nampak kotor itu. Ia mengintip dan mulai menelusuri setiap sudut ruangan. Ketika matanya beralih melihat deretan bangku yang tersusun berantakan itu, matanya membola dan benaknya bergidik takut. Tubuhnya gemetar dan ia merasa jantungnya berhenti saat itu juga. Ia ingin sekali berteriak, tapi entah kenapa kerongkongannya begitu tertahan.

Walau ketakutan kini terus menerus menjalar di benaknya, namun In Young masih berada pada posisinya semula. Beberapa kali ia memejamkan matanya, berharap ia sudah berhalusinasi siang ini. “Aku tak mau melihatnya lagi,” gumamnya lirih sambil memejamkan matanya. Ketika ia membuka matanya kembali, ia terkejut. Sosok yang dilihatnya tak ada di sana. Ia hilang. In Young mengerjap-ngerjapkan matanya. Tapi tetap saja, sosok itu tidak ada lagi.

“Sedang apa kau di sini ?” In Young terlonjak kaget mendengar pertanyaan itu. Ia segera menoleh dan mendapati Youngmin sudah berada di hadapannya. Sendirian.

“Sedang…,” In Young terlihat bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin ia mengatakan jika ia mencari lelaki itu. Jika Youngmin tahu, habislah harga dirinya. “Apa pedulimu,” ucapnya ketus.

“Kau kira aku peduli denganmu. Kenapa kau masih di sini, pergilah,”

MWO ? Berani sekali kau mengusirku,”

“Ck ! Lalu kenapa kau tidak juga pergi, hah ? Kau mengangguku,”

Youngmin berdecak kesal melihat In Young. Karena terasa lama menunggu jawaban gadis itu, ia langsung meninggalkan In Young di sana. “Ya ! Kau mau kemana ?” teriak In Young. Dan itu membuat Youngmin menghentikan langkahnya. Sekarang Youngmin tahu sedang apa sebenarnya gadis itu.

Youngmin membalikkan badannya menghadap In Young yang berdiri tak jauh darinya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. Meninggalkan sikap keren bagi In Young, karena ia suka saat Youngmin seperti itu.

“Kau mencariku ‘kan ?” tanya Youngmin percaya diri. Ia tersenyum mengejek ke arah In Young, saat ia sadar gadis itu terlihat membatu oleh pertanyaannya. “Tak perlu berbohong. Sekarang kau tahu aku dimana ‘kan ? Lebih baik kau pergi,” ucapnya dingin.

“EOH ???!!!” tanggap In Young. Ia sedikit merasa direndahkan. Ia menatap Youngmin dengan sebal. Kedua tangannya kini memegang pinggangnya. Ia berkacak pinggang dengan sombongnya. “Aku mencarimu ? Hahahah. Ah~ YA ! Kau pikir kau siapa, hah ? Tidak usah berlagak tampan seperti itu. Menyebalkan,”

“Tampan ? Aku tak pernah merasa seperti itu. Tapi, terimakasih atas pujianmu,”

“Aku memujimu ? Ck ! Siapa yang bilang kau tampan,”

“Buktinya kau mengatakannya. Sedari awal aku berbicara dengan gadis aneh sepertimu, tak ada kata tampan keluar dari mulutku.Bilang saja kau menyukaiku, ‘kan ?”

“Aish… Bodoh,” In Young baru sadar jika ia salah bicara tadi.

“Apa katamu ?” tanya Youngmin pelan. Ditatapnya manik mata In Young dalam-dalam.

“Kenapa dia menatapku seperti itu, eoh ?” gumamnya. “Tenang In Young. Kau tidak boleh tergoda dengan tatapannya,” lanjutnya lagi.

“Gadis aneh,” Youngmin langsung meninggalkan In Young memasuki ruangan yang dilihat In Young tadi. In Young terkejut saat melihat Youngmin duduk di kursi yang diduduki sosok yang ia lihat tadi.

“Ap-apa tadi itu dia ?” In Young kembali mengintip melalui jendela. Persis. Itulah yang ia tangkap sekarang. “Ternyata tadi itu Youngmin ? Kenapa dia di sini ?” pertanyaan itu berkeliaran di otaknya. Ia lihat lagi Youngmin di dalam sana. Lelaki itu sedang tertidur.

-ooo-

In Young berlari kecil melewati koridor utama yang menghubungkan ruangan-ruangan para guru dan laboratorium serta ruang rapat sekolah. Di tangannya ada buku-buku tebal bermerek Ilmu Kimia dan Matematika. Tak lupa ia membawa buku tulisnya yang tebal dan kotak peralatan tulisnya.

In Young menuju ruang rapat organisasi sekolah yang berada di dekat lapangan bola sekolahnya. Ternyata suasana sepi di koridor dikarena para siswa berhamburan menuju lapangan bola untuk menyaksikan pertandingan antar kelas yang sudah dimulai setengah jam sebelum jam istirahat berlangsung.

Karena merasa penasaran juga, In Young berniat memperlambat kedatangannya ke ruang rapat yang ingin ia tuju. Ia berbelok ke arah lapangan bola dan duduk di kursi panjang yang ada di bawah pohon mapple di pinggir lapangan. Kemudian, ia mulai fokus menyaksikan pertandingan yang sudah memiliki skor 2-3 itu.

“Hei, gadis aneh !” teriak seseorang yang terdengar dari arah belakang In Young. Gadis itupun menoleh dan sedikit terkejut saat mendapati Youngmin sudah bersandar pada pohon mapple di sana. Lelaki itu memejamkan kedua matanya dengan sikap yang selalu ia tunjukkan seperti biasa.

In Young terlihat senang ketika melihat Youngmin seperti itu. Tapi, ada rasa yang lain kini tumbuh di benaknya. Setelah melihat Youngmin di ruangan tua beberapa jam lalu, ada perasaan tak enak padanya. In Young pun tak membalas perkataan Youngmin, ia malah kembali menyaksikan pertandingan.

Youngmin membuka matanya perlahan. Dari tempatnya berdiri, yang ia lihat hanyalah punggung gadis aneh yang ia sebut barusan. Rambut hitam panjang yang terurai itu, dengan seragam yang selalu rapi dan sepatu putih bersih. Itulah yang selalu ia lihat jika ia bertemu In Young. Sudah dua tahun tak terasa, ia memperhatikan gadis itu.

Youngmin mengeluarkan sesuatu dari dalam saku baju seragamnya. Hari ini ia tidak memakai almamater seperti teman-temannya yang lain. Ia lupa membawanya. Itulah mengapa dua jam yang lalu ia berada di ruangan tua di belakang sekolah. Karena ia dihukum akibat tidak memakai almamater.

“Ya ! Kim Jong Hyun, tendang baik-baik ! Payah !” teriak In Young ketika melihat temannya tak benar dalam bermain. Ia bahkan seperti depresi sendiri.

Ada perasaan gugup ada pula perasaan takut. Tapi, yang lebih mendominasi adalah rasa gugupnya. Youngmin hendak memberikan sesuatu yang baru saja ia ambil dari saku bajunya kepada In Young, tapi ia merasa gugup untuk melakukannya. “Aku membenci hal-hal seperti ini,” gumamnya merutuki dirinya.

Karena tak mau membuat In Young meremehkannya dan tak mau menurunkan harga dirinya di depan gadis itu, ia hanya meletakkan benda itu di atas ponsel In Young yang diletakkan di kursi, tanpa sepengetahuan gadis itu. Untungnya In Young tidak sadar dengan kehadiran Youngmin sebelum lelaki itu pergi meninggalkan tempatnya.

You’re my destiny~ ponsel In Young berbunyi menandakan adanya pesan yang masuk. Segera mungkin ia mengambil ponselnya. Namun, sesuatu beda membuatnya tersadar. Ia terkejut ketika melihat kalung miliknya yang hilang beberapa hari lalu ada padanya saat ini. Seakan tahu ada yang mengembalikannya, dengan cepat ia berdiri dan mencari sosok orang yang mungkin saja sudah berbaik hati menemukan kalung miliknya.

“Ayolah, siapa yang sudah menemukan kalungku ?” In Young masih mencari. Matanya berhenti mencari saat ia lihat pohon mapple di belakangnya itu tanpa Youngmin di sana. “Kemana dia ?” tanyanya sendiri. “Oh ! Apa mungkin dia yang mengembalikannya ?”

Seperti mengingat sesuatu, In Young berpikir keras. Ada yang ia lupakan ternyata. “AIGOO ! Aku lupa !” In Young langsung berlari meninggalkan lapangan bola menuju ruang rapat organisasi yang tidak terlalu jauh.

-ooo-

“Kemana saja kau, In Young ?” tanya Guru Boun dengan rasa marah yang meluap. Sudah hampir satu jam In Young meninggalkan jam belajarnya. Dan itu membuat Guru Boun merasa terganggu karena harus mengajarkan siswa siswi lain untuk belajar.

In Young hanya tertunduk tanpa berani untuk berbicara. Ia sadar kesalahannya sudah membuat teman-temannya harus menunggu terlalu lama.

“Apa kau pikir olimpiade ini main-main ?” tanya Guru Boun membuat In Young merasa tak enak hati. Bahkan lebih. Semua pandangan siswa siswi lain tertuju pada In Young dan Guru cantik itu. Nampak Youngmin juga memperhatikan kedua wanita itu, walau kadang mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

“Aku mempercayaimu karena aku yakin kau bisa dan kau adalah siswi yang pintar. Tapi aku lihat, belakangan ini kau mulai tidak disiplin Hwang In Young. Apa kau terlibat masalah?” tanya Guru itu lagi. Dilihatnya wajah takut In Young tergambar jelas.

In Young berusaha untuk membuka mulutnya. Tapi, rasa gugup menyergapnya juga. “Ma-maafkan aku, ssaem,” ucapnya.

“Baiklah. Jika kau memang tak berniat untuk ikut olimpiade ini, silahkan pulang,” In Young terbelalak hebat. Ditatapnya Guru Boun yang terlihat kecewa padanya. Guru Boun beralih meninggalkan In Young yang masih statis pada tempatnya. Ia mulai menuliskan rumus yang sempat terhenti karena kedatangan In Young tadi.

“Baiklah, ssaem. Aku mengundurkan diri. Jeosonghamnida,” In Young berjalan keluar dengan lesu. Ia meninggalkan teman-temannya yang nampak terkejut dengan keputusannya, termasuk Youngmin. Guru Boun hanya menerima pasrah keputusan muridnya itu.

“Sekarang kerjakan soal nomor 3 dengan rumus ini,” perintah Guru Boun pada siswa siswi yang masih berada di ruangan itu. In Young yang mendengarnya merasa pilu dan tak berguna. Ia pun segera meninggalkan tempat itu menuju kelasnya.

-ooo-

Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejam yang lalu. Tapi, In Young belum juga pulang meninggalkan kelasnya. Ia masih terduduk di bangkunya seorang diri. Ia enggan ditemani oleh Yoon Su saat ditawarkan setelah bel berbunyi sejam yang lalu.

“Apa yang harus aku katakan pada Ibu nanti ?” tanyanya pada diri sendiri. Ada tetesan air matanya menyeruak dari muaranya. In Young berkali-kali menyekanya, tapi sayangnya air mata itu semakin deras membanjiri wajah letihnya.

Mianhae, Ibu,” ia kembali terisak dan terus terisak. Ia membenamkan kepalanya pada kedua tangannya di atas meja. Ia kembali merutuki kesalahannya.

Tak begitu lama, ia teringat kalungnya yang tadi ia dapatkan kembali. Ia raih kalung itu yang ia letakkan di dalam saku almamaternya. Ditatapnya kalung perak berliontin kupu-kupu di dalam genggaman tangannya. “Siapa yang sudah menemukan ini ?” gumamnya. Kenudian, kembali ia membenamkan kepalanya seperti tadi hingga ia tak sadar jika ia tertidur.

“Yeah !” terdengar suara gembira dari mulut seseorang yang baru saja melewati bermerek 2-3. Tapi, sesaat kemudian ia memundurkan langkahnya lagi dan melihat keadaan dalam kelas itu melalui jendela. Ia terkejut saat melihat ada seorang gadis tengah tertidur di mejanya. Ia tahu siapa gadis itu. Dia Hwang In Young.

Youngmin memasuki kelas In Young dan segera menghampiri meja milik Cinderella yang tengah tertidur pulas itu. Ia melirik ke arah jam dinding yang terpajang di atas papan tulis. “Jam tujuh lewat,” ucapnya dalam hati.

“Kenapa ia masih di sini ? Gadis ini memang benar-benar aneh. Berani sekali dia,” umpatnya agak keras. Youngmin berniat membangunkan In Young. Namun, sesuatu membuatnya membatalkan niat itu. Ia melihat bekas air mata yang maih ada di wajah In Young. Ia jadi tak tega untuk membangunkannya. “Ternyata kau bisa menangis juga, eoh ?” Youngmin menyeka air mata itu dengan lembut sambil menatap wajah In Young yang terlihat lelah. Saat itu juga ia merasa adda sesuatu yang bereaksi di hatinya. “Kau cantik, In Young,” gumamnya tak sadar.

“Ya ! Kau menyusahkanku, Ratu Aneh !” ucapnya kesal. Ia jadi merasa aneh sendiri setelah sadar dari perkataannya barusan.

Youngmin mengambil buku-buku In Young yang masih ada di atas meja lalu memasukkannya ke dalam tas gadis itu. Karena merasa enggan untuk menggendong In Young, mau tak mau ia tetap harus membangunkan gadis itu.

Youngmin berdiri dengan sikap sok kerennya. Seperti biasa. Tangan kanannya mulai menyentuh pundak In Young dan mulai membangunkannya. “Kau, bangunlah !” Youngmin menepuk-nepuk pundak In Young.

Tak ada reaksi apa-apa.

“Hwang In Young, bangunlah ! Kau harus pulang,” hening. Tak ada respon apa-apa. “Baiklah, ini yang terakhir. Jika ia tidak bangun juga, terpaksa,”

“Ya ! In Young ! Ireona !”

Sama. Tak ada tanggapan apa-apa. Youngmin menghela nafas lelahnya. Lalu kembali menepuk pundak In Young berkali-kali, “In Young, bangunlah,”

In Young mulai menggeliat dan kelihatan mulai membuka matanya perlahan. “Akhirnya..,” Youngmin merasa lega. Tapi ia kembali bersikap sok keren.

In Young terduduk sambil mengucek kedua matanya. Dirasa sudah bisa melihat dengan jelas, ia melihat siapa yang sudah membangunkannya. “Youngmin !” ucapnya cepat. Ia sedikit terkejut.

“Pulanglah. Aku bisa ditangkap satpam jika ia salah paham,” ucap Youngmin sambil menatap manik mata In Young. Kemudian beralih menatap kalung yang ada di dalam genggaman gadis itu. Sedangkan gadis itu hanya mendengus kesal.

“Kenapa kau di sini ? Pulanglah lebih dulu !” perintah In Young. Sebenarnya ada rasa senang di hatinya karena Youngmin sudah membangunkannya. “Gomawo,” ucapnya dalam hati.

Keurae. Aku hanya tidak mau melihat seorang anak gadis tertinggal sebatang kara,” Youngmin langsung meninggalkan In Young yang tercengang atas perkataannya.

“Ish ! Kenapa aku bisa menyukainya. Bodoh !” umpatnya. “Apa katamu ?” tanya Youngmin tiba-tiba. Ternyata laki-laki itu belum keluar dari kelasnya. Membuat In Young terkejut dan bingung harus menjawab apa. “Apa urusanmu !” teriaknya asal. Ia kembali terkejut mendapati buku-bukunya sudah tak terlihat di atas meja. “Dia memasukkan bukuku ?”

In Young segera memakai tas ranselnya dan berlari secepat mungkin keluar kelas.  Saat telah berada di luar, ia tidak melihat sosok Youngmin lagi. “Jo Youngmin !” teriaknya, namun tak ada sahutan apa-apa. In Young berjalan lamban melewati koridor menuju gerbang sekolah. Ia merasa lega setelah melihat satpam berjaga di sana. “Ia seperti hantu yang cepat sekali menghilang,” umpatnya agak keras, kemudian diikuti helaan napas beratnya.

“Kau mengataiku hantu ?”

JLEB ! Hati In Young berdesir seketika. Dilihatnya seorang Jo Youngmin yang ia panggil tadi, sudah berada di sampinya dan ikut berjalan dengannya. “Aniyo. Bukan kau,” jawab In Young merasa bodoh sendiri. Lagipula ia kan juga tidak tahu jika ternyata Youngmin belum pulang.

“Kenapa kau mengundurkan diri ?”

“Eoh ?” In Young melihat Youngmin lagi. Youngmin tiba-tiba berhenti dan melihat gadis itu, membuat In Young juga ikut berhenti. Tiba-tiba Youngmin mendekatkan wajahnya pada In Young. In Young sedikit menjauh dari lelaki itu. “Aku bertanya, kenapa kau mengundurkan diri dari olimpiade ?” kemudian Youngmin menjauhkan diri dari In Young. Lelaki itu berhasil membuat In Young berhenti bernapas karena tatapannya tadi.

In Young mencoba mengatur tingkat kegugupannya. “Aku tidak mau membuat masalah lagi,” jawabnya.

Kening Youngmin mengerut, “Membuat masalah ?” jeda Youngmin agak lama. Namun, In Young malah terdiam. “Baguslah jika kau sadar, Nona Hwang,” cibirnya, lalu melanjutkan jalannya.

“Maksudmu ?!” teriak In Young sambil berjalan kembali. Ia menyamakan langkahnya dengan Youngmin.

“Dimana rumahmu ?” bukannya menjawab, ia malah bertanya hal lain. “Wae ?” tanya In Young.

“Aku akan mengantarmu pulang,” In Young tertegun. Sekejap ia menatap mata Youngmin. Ia tersenyum dalam diam.

“Kenapa kalian baru pulang ?” tanya sang satpam sesaat melihat In Young dan Youngmin keluar dari koridor menuju gerbang.

“Maaf. Tadi kami harus menyelesaikan hukuman,” jawab Youngmin berbohong. “Keuraeyo. Lebih baik kalian pulang dengan cepat,” perintah sang satpam.

Ndeeee,” jawab keduanya serempak.

-ooo-

Gomawo, sudah mengantarkanku pulang, Youngmin,” ucap In Young disertai senyum manisnya. Youngmin sedikit tersipu melihat senyum itu, tapi ia berusaha menutupinya dengan sifat dinginnya.

“Kenapa wajahmu merah seperti itu ?” tanya In Young tak mengerti. Dan itu membuat Youngmin ingin segera beranjak dari sana.

“Aku lelah,” jawabnya singkat.

In Young jadi tak enak hati pada Youngmin. Karena hal itu, In Young menyuruh Youngmin untuk tetap di sana beberapa menit. Ia lalu memasuki rumahnya. Selang kira-kira tiga menit dari ditinggalkannya Youngmin tadi, In Young keluar membawa sebuah benda. Itu adalah kotak makan.

“Ambillah,” In Young memberikannya kepada Youngmin. Tapi, Youngmin malah menolaknya, “Tidak perlu. Aku masih punya uang,” ucapnya.

“Bawalah. Setidaknya ini adalah ucapan terimakasihku dan permintaan maafku karena sudah membuatmu lelah mengantarkanku. Hm,” In Young mengangguk. Youngmin jadi ragu sendiri untuk menerimanya atau tidak.

“Ibuku sudah memasakkannya untukku. Anggap saja ini makananmu jika saja kau mau mampir sebentar,”

“Tidak usah,”

“Jika tidak mau mampir, ambillah,”

Akhirnya Youngmin mengambil kotak makan itu. Tanpa sadar, ia menatap In Young. “Aku pulang,” ucapnya lalu berjalan menjauh dari rumah In Young.

“Hati-hati !” teriak In Young disertai senyumnya. Ia benar-benar senang malam ini karena sudah diantarkan Youngmin pulang. Ia sungguh senang. Tak disangka jika Tuhan memberinya waktu bersama Youngmin.

“Terimalah kejutanku Youngmin. Setelah hari ini, bagaimana besok ya ? Hahahaha,” gelaknya sembari memasuki rumah.

-ooo-

Youngmin berjalan sendiri menyusuri trotoar jalan. Keadaannya masih terlihat ramai karena jam masih menunjukkan pukul sembilan kurang. Youngmin memperhatikan kotak makan berwarna merah yang diberikan In Young beberapa waktu lalu. Saat ia sadar dengan kebaikan In Young, akhirnya senyum itu mengembang di bibirnya.

“Apa dia ingin aku berkunjung ke rumahnya ? Bodoh !” umpatnya bergumam.

“Jo Youngmin !” teriak seseorang. Terdengar suara wanita di telinga Youngmin. Ia pun menoleh ke arah depan dan melihat Yoon Su berdiri menghadapnya. Gadis itupun menghampiri Youngmin.

“Sedang apa kau ?” tanya Youngmin heran.

Yoon Su memperlihatkan bag sepatu dengan merek terkenal tertulis di bag itu. Youngmin hanya memutar bola matanya malas. “Berhentilah berbelanja dan menghabiskan uang Appa,”

Yoon Su malah mengerucutkan bibirnya. “Aku bosan di rumah. Kau tahu ? TV di rumah sedang diperbaiki dan aku gagal menyaksikan penampilan Teen Top tadi sore,” gerutunya.

“Lalu kenapa tidak pergi ke rumah Minwoo saja ?” tanya Youngmin sedikit menyindir perasaan Yoon Su. Ia tahu jika saudara tirinya itu sedang jatuh cinta pada Minwoo. Teman sekelasnya.

“Ya ! Kenapa kau berbicara Minwoo. Aish !” Yoon Su nampak kesal. “O, kau darimana ? Bukankah rumah kita ke arah sekolah ? Apa kau mulai amnesia sekarang ?”

Youngmin nampak berpikir. Ia gusar. “Aku hanya berjalan-jalan saja,”

“Benarkah? Tap—,” Yoon Su menghentikan ucapannya. Sesuatu hal membuatnya menggantungkan ucapannya. Dilihatnya kotak makan berwarna merah di tangan kiri Youngmin. Youngmin yang bingung, memperhatikan apa yang diperhatikan Yoon Su. Saat sadar, ia langsung mengalihkan tangan kirinya itu ke belakang tubuhnya.

Yoon Su jadi penasaran. Ia melirik Youngmin dengan senyum yang menyeringai. “Katakan padaku itu apa ?” Yoon Su mencoba mengambil kotak itu, tapi dihalang-halangi oleh Youngmin.

“Ya ! Lebih baik kita pulang,” sela Youngmin.

“Aiiii !” gagal. Yoon Su malah sudah mendapatkan kotak itu. Gadis itu baru saja mencubit pinggang Youngmin. “Ya ! Kembalikan kotak itu !” Youngmin berusaha mengambilnya, namun secepat mungkin Yoon Su membuka kotak itu.

“Waww ! Ddeobbokki !” Yoon Su langsung memakannya dengan lahap. Membuat Youngmin tercengang. “Ya ! Itu punyaku !” teriak Youngmin frustasi.

“Eh ? Youngmin, ada surat,” Youngmin langsung mengambil surat itu dan membacanya dalam hati. Yoon Su pun ikut membacanya secara lisan.

Jika kau ingin mengembalikan kotak ini, hubungi ponselku saja. 0xxxxxxx. Terimakasih sudah baik padaku🙂

“Uwaaaaaaaaaa. Jo Youngmin sudah luluh, hahahaha,” teriak Yoon Su sambil loncat-locat kecil. Membuat Youngmin malu karena para pejalan kaki memperhatikan tingkah aneh saudara tirinya itu.

“Yoon Su ! Hentikan !” namun sayang Yoon Su tak mendengarkannya. Ia malah melanjutkan aksinya sambil memakan makanan pemberian In Young, yang sebenarnya ia tak tahu siapa yang memberinya pada Youngmin.

Youngmin jadi senyum sendiri karena surat itu. Melihat kegaduhan Yoon Su, ia memiliki ide. “Ya ! Lihat ! No Minwoo berkencan dengan Hee Ju,” Youngmin menunjuk ke arah sepasang kekasih yang jelas-jelas bukan Minwoo dan Hee Ju.

Seketika itu juga Yoon Su berhenti dari aktivitasnya dan mencari objek yang ditunjuk Youngmin. Ia mencari-cari keberadaan Minwoo dan Hee Ju, sedangkan Youngmin berjalan maju meninggalkan Yoon Su yang masih sibuk.

“Youngmin, mana mereka ?” tanya Yoon Su tanpa mengalihkan pandangannya mencari  objeknya. Saat ia melihat ke belakang, ia sadar Youngmin tak ada. Saat itu juga ia tahu Youngmin telah mengerjainya. Ia pun melihat ke arah depan, dilihatnya Youngmin sedang tertawa sambil memegangi perutnya. “Ya ! Youngmin ! Kau ! Aish ! Kemari kau !” ia pun berlari ke arah Youngmin dan mulai berlari mengejar Youngmin yang sudah berlari lebih dulu.

-ooo-

TBC

This entry was posted by boyfriendindo.

4 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] After Today…! – Chapter 01

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: