[FANFICT/FREELANCE] Like a Fool – Chapter 01

Title 
: Like a Fool – Chapter 01
Author : Aryn Chan (@1998aryn)
Genre : Romance
Rating : G
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ Jo Youngmin

  ~ Kim Yura

  ~ Kim Donghyun

  ~ Shim He Rim

Hallo Pembaca ^^

Ketemu lagi di FF ke dua aku ini. Maaf ya, udah lama gak post FF lagi. Soalnya lagi sibuk. Biasalah baru masuk SMA #CieeSMA Semoga FF ke dua nya gak mengecewakan dan semoga kalian menikmatinya. Oh ya, sebelumnya FF pertama aku udah pernah di post di blog ini. Yeeyy… Judulnya Love You Like You. Yang blm baca, read yeah !  Ok deh, selamat membaca… ^^

LIKE A FOOL

Ia hampir berfikir jika tidak ada satu hal pun yang tidak ia ketahui tentang gadis itu. Mulai dari jam dia bangun di hari biasa dan hari libur, makan siang, dan jam berapa dia tidur kembali. Ia merasa ia mengetahui semuanya. Tapi hanya satu yang ia tidak ketahui, perasaannya. Ia tidak tahu, apakah gadis itu juga memperhatikannya selama ini atau tidak?

Malam ini Seoul terasa sangat dingin. Angin musim dingin masih menyelimuti kota Seoul, padahal sekarang sudah saatnya musim semi. Akhir-akhir ini  cuaca di Seoul memang sedang tidak baik. Orang-orang harus bersiap-siap jika sewaktu-waktu terjadi angin kencang atau hujan deras.

Youngmin keluar dari sebuah super market dan berjalan menuju tempat parkir. Ia baru akan masuk kedalam mobilnya ketika ia melihat Kim Yura berada disini juga. Ia tersenyum, tapi tiba-tiba saja senyumnya memudar ketika ia melihat Donghyun bersamanya. Ia jadi bertanya-tanya dalam hati, apa yang mereka lakukan?

Ia melihat Donghyun memeluk gadis itu. Itu bukan pelukan sambil lalu atau pelukan bersahabat. Ia tahu arti pelukan itu. Youngmin merasa seluruh tubuhnya terasa panas dan tanpa disadarinya ia sudah berjalan mendekati mereka berdua.

Yura yang melihatnya dengan terkejut langsung melepaskan pelukan itu.

“Youngmin?” gumamnya.

Youngmin langsung berjalan mendekati Yura dan menariknya menjauh dari Donghyun. “Apa yang kau lakukan?” Tanya Youngmin.

Yura terdiam sejenak sebelum menjawab, “Kau salah paham. Ini bukan seperti yang kau pikirkan.”

“Lalu apa?” Tanya Youngmin.

“Dia sedang ada masalah, jadi aku hanya menghiburnya.” Sahutnya.

“Jadi seperti itu caramu menghibur lelaki?” Tanya Youngmin lagi.

“Bukan seperti itu,” Yura mengelak, tapi ia berfikir sejenak untuk mengucapkan kata yang pas, “dia yang memintaku untuk memeluknya.” Jawabnya.

“Dan kau memberikannya?” Tanya Youngmin lagi. “Lalu, jika dia memintamu untuk menciumnya kau mau? Atau bahkan jika dia mengajakmu tidur, kau mau?”

Yura terkejut dengan ucapan Youngmin yang seperti itu. “Kau ini bicara apa? Donghyun bukan lelaki yang seperti itu.”

Youngmin tersenyum sinis, “Terserah kau. Lagi pula, aku tidak marah. Dan kau tidak perlu susah payah untuk menjelaskannya padaku. Aku bukan siapa-siapa mu. Dan kau bukan urusanku. Jadi, terserah kau.” Katanya lalu berbalik dan berjalan menjauhi Yura. Tapi, tiba-tiba langkahnya terhenti dan ia kembali berbalik sambil menatap Yura, “Oh iya, sepertinya sekarang aku tahu.” Katanya terdengar sinis, “Sebenarnya kau bukannya polos, tapi kau bodoh.”

Yura kembali menatap Youngmin dengan tatapan terkejut. Apa yang barusan dia katakan?

Youngmin kembali tersenyum sinis dan ia berbalik. Kali ini dia benar-benar pergi meninggalkan Yura bersama Donghyun. Yura memandang Youngmin yang masuk kedalam mobilnya sambil membanting pintu mobilnya dan pergi begitu saja.

Yura menundukkan kepalanya. Ia merasa sedih sekaligus kesal. Apakah lelaki itu tidak memiliki perasaan? Kenapa tega sekali dia berkata seperti itu padanya? Ia benar-benar kesal.

Yura menarik nafas dan mengeluarkannya dengan keras. Ia melihat Donghyun yang berdiri sambil menatapnya.

***

Mobil Donghyun terhenti didepan gedung apartment Yura. Mereka sudah tiba di sebuah gedung yang menjadi tempat tinggalnya selama ini. Gedung ini adalah pemberian dari perusahaannya. Perusahaannya memberikan tempat tinggal kepada 5 orang pegawainya yang berhasil masuk lima besar dalam lomba merancang busana yang diadakan di New York tahun lalu. Dan dirinya masuk kedalam lima orang itu. Ia berhasil menduduki peringkat ke-1.

Direktur perusahaan itu sangat bangga kepadanya. Dan ia menyukainya. Tapi sayang, saat ini dia sedang marah padanya. Dia salah paham dengan apa yang dilihatnya. Itu membuat hatinya sangat sakit dan kecewa.

“Apa kau marah?” tanya Donghyun yang memotong jalan pikirannya.

Yura terkejut. Ia melihat Donghyun yang duduk disebelahnya. “Ah, tidak. Aku tidak marah.”

“Kau tahu, aku sangat minta maaf padamu.” Lanjut Donghyun dengan rasa menyesal. “Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu padamu.”

Yura menggelengkan kepalanya, “Kau tidak perlu minta maaf. Itu bukan kesalahanmu.” Ia masih melihat wajah Donghyun yang belum percaya, akhirnya Yura melanjutkan. “Donghyun ssi, itu sama sekali bukan salahmu.”

“Kau sama sekali tidak marah?” tanya Donghyun.

Yura menggelengkan kepalanya lagi, “Tidak. Kenapa?”

“Tidak apa-apa.” Jawabnya. “Tapi, aku harus tetap minta maaf. Maafkan aku.” Donghyun menundukkan kepalanya lagi.

“Jika kau terus mengatakan hal seperti itu, aku akan benar-benar marah padamu.” Kata Yura, mengancam.

Donghyun terkejut. Ia menatap Yura dan akhirnya berkata, “Baiklah, aku tidak akan mengatakannya lagi.”

Yura tersenyum samar, “Kalau begitu, selamat malam.” Ucapnya dan keluar dari dalam mobil Donghyun. Ia membungkukkan badannya, memberikan salam pada lelaki itu. Setelah mobil itu pergi, Yura berbalik dan masuk kedalam gedung yang sangat besar itu.

***

Yura duduk di sofa ruang tamunya. Ia begitu lelah seakan ia tidak sanggup lagi untuk bangun. Bahkan ia sangat sulit berdiri untuk mengambil minuman. Ia haus, tapi ia tidak bisa berdiri. Dan ia hanya membiarkan dirinya berbaring disofa sambil memejamkan matanya.

Tiba-tiba saja, terpikir ulang oleh otaknya apa yang diucapkan Youngmin tadi. Youngmin benar, dia bukan siapa-siapanya dan dia bukan urusannya. Dan Youngmin juga benar, ia bukannya polos, tapi sebenarnya ia bodoh. Ia bahkan tidak merasa jika dirinya polos.

Lalu, apa masalahnya? Kenapa ia terus memikirkan ucapannya? Ini hanya membuatnya sakit dan kecewa. Dan lebih baik jika ia tidak terus memikirkannya.

Yura bangkit dan berdiri dengan cepat. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil minum. Setelah itu ia masuk kedalam kamarnya dan tidur.

***

Kim Yura masuk kedalam sebuah gedung perusahaan yang menjadi tempat ia bekerja selama ini. Sepertinya ia datang terlalu siang karena pegawai di kantor ini sudah banyak yang datang. Padahal ia selalu menjadi pegawai yang datang paling awal di perusahaan ini.

Yura berjalan menuju ruangannya. Di tengah jalan, tanpa disengaja, ia berpapasan dengan Youngmin. Laki-laki itu baru keluar dari dalam ruangannya. Dan sepertinya dia akan pergi, mungkin akan menghadiri rapat, pikirnya.

Yura berfikir ia akan berpura-pura marah pada lelaki itu. Ia akan berjalan melewati lelaki itu tanpa meliriknya. Dan lelaki itu akan berfikir jika dia benar-benar marah padanya lalu, dia akan meminta maaf padanya. Yura tertawa geli dalam hati. Tapi tanpa disangkanya, Youngmin lewat begitu saja tanpa menghiraukannya. Ia bahkan tidak meliriknya sama sekali. Yura berbalik dan menatap punggung Youngmin. Lelaki itu, benar-benar…

Ada apa dengannya? Apa dia marah dengan kejadian kemarin? Tapi, kemarin dia mengatakan jika dia tidak marah. Lalu, kenapa dia seperti itu. Bukankah ini terlalu berlebihan? Dengan kesal, Yura berbalik dan berjalan menuju ruangannya.

***

Youngmin menjejalkan tangannya kedalam saku celananya dan langsung masuk kedalam lift begitu pintu lift terbuka. Ia berdiri didalam lift sambil menunggu hingga tiba dilantai bawah. Youngmin memikirkan kejadian kemarin. Gadis itu membuatnya sangat marah. Ia benar-benar kesal hingga memperlakukannya dengan kasar. Ia melihat tatapan gadis itu saat ia mengatakan bodoh padanya. Gadis itu ingin marah tapi, dia menahannya. Ia berharap, tindakannya ini tidak membuat Yura terluka.

Pintu lift terbuka dilantai satu, dengan cepat Youngmin melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam lift. Ia berjalan sangat cepat menuju pintu keluar dan pergi begitu saja bersama mobilnya.

***

Yura menitipkan lampiran-lampiran untuk bahan rapat besok kepada sekretaris Youngmin. Katanya, Youngmin tidak ada dikantor, jadi ia menitipkannya. Setelah mengucapkan terima kasih, dia kembali keruangannya.

Lelaki itu belum datang? Padahal sejak tadi pagi Youngmin pergi. Sebenarnya dia pergi kemana? Apa yang terjadi? Kenapa dia tidak memberitahunya?

Lalu, apa urusannya dengan dirinya hingga Youngmin harus memberitahunya?

Bodoh. Yura duduk dikursi ruangannya. Ia mengambil secarik kertas dan mulai menggambar sesuatu. Ia akan selalu menggambar jika ia merasa kesal. Entah menggambar pakaian atau apapun. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ia melihat nama berjalan pada layar kaca ponselnya.

Kim Donghyun.

Ia meraih ponselnya dan menempelkannya pada telinganya.

“Hallo…Ya? … Aku? Aku ada dikantor…Ini memang sudah waktu istirahat makan siang…Ya? … Oh, baiklah…Baik…”

Yura menyimpan pensilnya dan bangkit dari duduknya. Lalu, ia meraih tasnya dan pergi begitu saja.

***

Donghyun duduk didalam sebuah restoran sambil menunggu Yura. Dia meneguk sojunya lalu, ia melihat pintu restoran terbuka. Pandangannya beralih pada gadis yang baru masuk kedalam restoran dan menghampirinya begitu melihatnya.

“Maaf, aku terlambat.” Katanya.

“Tidak apa-apa,” jawab Donghyun sambil tersenyum, “Kau sudah makan siang? Mau makan apa?”

Yura berdehem. “Aku ingin makan *Samgyetang.” Jawabnya.

(*sup yang terbuat dari daging ayam utuh yang diisi ginseng, hedysarum, nasi manis, jojoba, bawang putih dan kacang berangan.)

“Baiklah,” Donghyun memanggil pelayan dan menyebutkan nama pesanan mereka. Setelah pelayan pergi, dia melihat Yura yang meneguk soju. Gadis itu mengernyit merasakan minuman itu dan itu membuat Donghyun tersenyum kecil. “Kau baru pertama kali meminum soju?”

“Tidak juga.” Katanya sambil berfikir-fikir, “Sebelumnya aku pernah meminumnya saat aku kecil dengan ayahku. Bahkan ayahku mengajariku cara memegang gelas dan meminumnya.”

“Benarkah? Tapi, cara kau minum tadi masih salah.” Kata Donghyun meledek sambil tertawa.

Yura menyunggingkan bibir atasnya, “Itu karna aku tidak pernah meminum minuman seperti ini.” Elaknya.

“Baiklah, baiklah, aku mengerti.” Katanya masih sambil tertawa.

Tak lama kemudian, pelayan datang membawakan pesanan mereka. Setelah mengucapkan terima kasih kepada pelayan itu, Yura langsung menyesap air  sup itu.

“Hati-hati, supnya masih panas.” Kata Donghyun. Tapi, Yura tidak menghiraukannya. Akhirnya Donghyun bertanya, “Bagaimana rasanya? Enak?”

Yura mengangguk sambil mengangkat kepalanya, “Ya, aku merasa sedikit lebih hangat dari sebelumnya.”

Donghyun tersenyum, “Kalau begitu, habiskan.”

Yura menghabiskan dua mangkuk sup Samgyetang. Sekarang ia merasa tubuhnya sedikit hangat. Cuaca musim semi sekarang memang sangat dingin. Ia bahkan sampai mengenakan jaket musim dinginnya.

“Kau puas?” Tanya Donghyun.

“Ya, aku kenyang sekali.” Sahutnya sambil menyandarkan badannya kebelakang kursi.

“Kalau begitu, kau yang bayar.” Kata Donghyun.

Yura terbangun dengan cepat dan menatap Donghyun. “Apa?”

“Bukankah kau sudah menghabiskan dua mangkuk sup? Jadi, kau harus membayarnya.” Kata Donghyun.

“Apa? Bukankah kau yang mentraktirku makan?” Yura balik bertanya.

“Kapan aku mengatakan jika aku mentraktirmu?” Kata Donghyun.

“Apa? Jadi, aku yang harus membayarnya?” Tanya Yura lagi.

“Tentu saja.” Jawabnya santai sambil menyandarkan punggungnya kebelakang kursi—sama seperti yang dilakukan Yura tadi.

Yura menggerutu. Lelaki ini sedang mempermainkannya. Yura tertawa kecil sambil menatap lelaki itu yang hanya duduk-duduk sambil memandangi bunga-bunga yang bermekaran. Lihat saja nanti, mati kau. Kata Yura dalam hati. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi. Ia melihat nama yang tertera dalam layar ponselnya dan melebarkan matanya.

***

Yura berlari cepat memasuki gedung perusahaan itu. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang sedang memperhatikannya dengan alis terangkat. Yang sedang ia pikirkan sekarang adalah tiba didalam ruang direktur itu detik ini juga walaupun ia tahu itu sangat mustahil terjadi.

Yura berdiri didepan lift dengan gelisah. Ia sudah menekan tombol lift beberapa kali, tapi pintu itu masih belum terbuka. Dan saat pintu lift terbuka, dengan satu sentakan Yura langsung masuk kedalam lalu, menekan beberapa tombol dengan tergesa-gesa.

Yura berdiri didalam lift. Lift hampir sampai di lantai 20. Ia menghitung dalam hati dan terus memperhatikan angka-angka yang terus berjalan pada layar lift. Dan akhirnya, lift berhenti pada lantai 20 dan pintu terbuka. Yura langsung berlari menuju ruangan direktur dan setelah didepan pintu, Yura berhenti mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah. Setelah ia rasa nafasnya sudah kembali normal, Yura mengetuk pintu dan membuka pintu itu dengan pelan.

“Selamat siang,” sapa Yura.

Youngmin mengangkat kepala dan kali ini mata mereka bertemu. Lelaki itu menyimpan kertas-kertas yang ia pegang keatas meja. Lalu, melihatnya. “Kau darimana?” tanya Youngmin padanya.

“Baru selesai makan siang,” sahut Yura.

“Oh,” gumam Youngmin lalu, melanjutkan, “Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan. Tapi, aku merasa gambaranmu ini sangat jelek.”

Yura mengangkat kepala dan menatap Youngmin kesal, “Apa?”

“Aku ingin kau menggambar ulang. Dan yang bagian ini, kancing baju ini seharusnya diatas bukan disini.” Youngmin menunjukkan beberapa bagian yang salah. Yura tidak mendengarkannya. Ia malah menatap Youngmin tajam. “Kau mengerti?”

Yura tidak menjawab.

“Aku ingin kau mengulanginya sampai benar,” kata Youngmin sambil melihat Yura dan tersenyum licik.

Yura terdiam sejenak, mencoba menenangkan kembali perasaannya. Setelah rasa kesalnya mulai menurun, Yura mengambil map dari tangan Youngmin dengan kasar. Lalu, keluar dari ruangan menjijikkan seperti ini.

Tetapi, baru saja ia akan membuka pintu, ia mendengar Youngmin memanggilnya. Yura menoleh dengan kesal dan bertanya. “Apa?”

“Kau tidak boleh keluar tanpa seizin dariku.” Ucap lelaki itu sambil tersenyum seolah dibuat-buat.

Yura mengangkat alisnya sangat bingung, “Apa maksudmu? Kenapa aku harus mendapatkan izin darimu?”

“Tidak perlu banyak bertanya. Cepat kerjakan tugasmu.” Kata Youngmin mempersilahkan Yura keluar. Yura menggertakkan kakinya dan keluar dari ruangan monster ini.

Yura menutup pintu ruangannya kembali dengan kasar ketika dia sudah tiba didalam kantornya. Ia mengutuk dalam hati sekarang juga jika Youngmin adalah monster yang paling ganas saat ini. Apa maksudnya menyuruhnya menggambar ulang? Dan apa yang dia katakan tadi? Dia—Kim Yura—harus meminta izin kepada bos direktur jika akan pergi keluar?

Ia tertawa dalam hati dan menggerutu, “Lucu sekali. Memang dia pikir, dia siapa?” Yura berjalan menuju mejanya lalu, melemparkan dirinya pada kursi kerjanya. “Menyebalkan.”

***

Youngmin mengunci mobilnya dengan menekan remote control mobilnya. Dia baru akan berjalan memasuki gedung apartment ketika melihat Kim Yura sedang tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada sebuah mobil yang sudah melaju. Gadis itu tidak menyadari keberadaan dirinya, dia langsung beranjak meninggalkan tempat parkiran setelah mobil yang barusan ia tumpangi pergi.

Youngmin terbatuk saat gadis itu sudah menjauh, lalu ia membenarkan dasinya sesaat sebelum akhirnya dia mengikuti Yura masuk kedalam gedung pencakar langit itu. Youngmin berhasil menahan pintu lift yang baru saja akan tertutup. Ia mendongak dan melihat seorang gadis didalam lift itu sedang memperhatikannya dengan alis terangkat. Youngmin berdiri tegak dan membenarkan kemejanya sebelum ia melangkah masuk kedalam lift itu.

Didalam mereka hanya terdiam. Tidak ada satu orang pun diantara mereka berdua yang berani membuka suara. Youngmin yakin, mungkin Yura masih kesal dengan sikapnya kemarin. Tapi, Youngmin membiarkannya, ia memang sengaja melakukannya—membuat Yura kesal.

Ketika pintu lift terbuka dilantai 20, Youngmin langsung bergegas keluar dan berjalan cepat menuju ruangannya, meninggalkan Yura. Ia bisa mendengar Yura mendengus kesal. Tapi, dia tidak mengacuhkannya dan terus berjalan sambil tersenyum geli.

***

Yura sedang mendesain sebuah pakaian musim dingin ketika telepon kantornya berbunyi. Yura mengangkat gagang telepon dan menempelkannya ketelinga. “Hallo, saya Kim Yura, ada yang bisa saya bantu?” sapanya ramah. “Oh? Apa? Sekarang?…Baiklah, terima kasih.”

Yura menutup telepon. Salah satu server di kantor ini baru saja meneleponnya. Dia bilang, direktur ingin bertemu dengannya. Yura menghembuskan nafasnya sejenak sebelum beranjak pergi dari dalam kantornya.

Yura menatap pintu yang terpampang lebar didepannya. Ia merasa tidak ingin memasuki ruangan ini. Ia merasa dirinya akan dikutuk saat itu juga jika ia melangkah masuk kedalam ruangan ini. Tapi, apa boleh buat? Lebih baik ia dikutuk daripada melihat orang itu murka.

Perlahan Yura membuka pintu besar itu dan tanpa sadar ia menggenggam erat map merah ditangannya, lalu melangkah masuk. Yura berdiri didalam ruangan itu. Tidak ada orang, pikirnya pertama kali ketika ia menginjakkan kaki kedalam ruangan besar dan nyaman itu.

Yura berjalan dan duduk disebuah sofa lebar. Ia mengamati sekeliling. “Ruangan ini lebih nyaman dari milikku”, katanya pelan. Ia melihat sebuah photo diatas meja kerja Youngmin—Ya, ruangan ini milik Youngmin. Yura mencoba agar tidak penasaran dengan photo itu. Tapi, percuma saja, rasa penasarannya tentang photo itu tidak bisa ia tahan. Akhirnya, ia memutuskan untuk beranjak pada selembar photo yang tergeletak diatas meja kerja Youngmin.

Ia pikir, hal yang terakhir dilakukan laki-laki itu sebelum dia meninggalkan ruangan ini adalah memandangi photo ini. Photo seorang gadis. Gadis itu sedang membelakangi kamera dan berdiri ditengah-tengah kerumunan orang. Tapi, si photographer membuat orang-orang yang berada disekitar gadis itu gelap—blur—seakan hanya ada gadis itu dimata sang photographer. Apakah selama ini Youngmin memiliki kekasih? Kenapa dia tidak pernah menceritakannya padanya? Siapa gadis yang beruntung itu? Cantikkah? Maniskah? Baikkah?

Ia tidak tahu pasti, tapi menurutnya Youngmin sudah memilih gadis—yang mungkin—lebih baik untuknya. Kenapa? Apakah ia tidak senang? Ada apa dengan perasaannya?

Sebelum ia sempat menjawab pertanyaan hatinya sendiri, tiba-tiba ia mendengar pintu ruangan terbuka dengan cepat. Dengan satu sentakan Yura membalikkan badan, menghadap kearah pintu itu—lebih tepatnya, menghadap kearah orang yang tadi membuka pintu dengan kasar.

Jo Youngmin.

Yura langsung menyembunyikan photo itu kebelakang punggungnya dan tersenyum dengan salah tingkah.

“Ada apa?” tanya Youngmin terlihat sedikit bingung.

“Ah, tidak. Tidak ada apa-apa.” Sahutnya sedikit kaku.

Youngmin mengerutkan keningnya sedikit curiga padanya dan itu membuatnya bertambah gugup. Keringat dingin mulai menetes dari keningnya. Jantungnya berdetak cepat. Ia menatap Youngmin dengan serba salah. Tapi, untung saja perlahan kerutan dikening lelaki itu menghilang. Yura merasa lega. Lalu, ia melihat Youngmin yang berjalan dengan cepat kearahnya—ah tidak, lebih tepatnya kearah meja kerjanya.

Sama, Yura langsung membalikkan badan dengan cepat begitu Youngmin duduk dikursi kerjanya. Dan perlahan ia memasukkan photo itu kedalam saku jasnya. Yura merasa aneh dengan sikapnya yang seperti ini. Ia tidak bermaksud apa-apa. Ia hanya merasa takut.

“Baiklah, kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu?” tanya Youngmin sambil memandang Yura.

Yura mengangkat kepala dan mengangguk cepat. “Ya, sudah ku selesaikan. Ini.” Yura menyodorkan sebuah map yang sedari tadi ia genggam kearah Youngmin. Dan baru ia sadari, map merah tua itu sedikit kusam karena dari tadi ia menggenggamnya dengan kuat. Yura melihat tatapan aneh pada mata Youngmin saat dia melihat map yang disodorkan kearahnya. Ia juga sedikit bingung. Ia menarik mapnya kembali dan membungkukkan badannya dalam-dalam. “Maaf, aku akan menggantinya lagi.”

Yura baru saja akan berbalik untuk pergi sebelum Youngmin memanggilnya. Yura menoleh dan melihat Youngmin. “Ya?”

“Ada apa denganmu?” tanya lelaki itu.

Yura tersenyum kikuk, “Oh? Tidak ada apa-apa.” Katanya, lalu cepat-cepat melanjutkan, “Aku pergi.” Yura berjalan dengan cepat menuju pintu sebelum Youngmin sempat menahannya lagi. Jujur, ia merasa bersalah dengan sikapnya yang seperti ini.

Yura membuka pintu dengan cepat dan… “Brukkkk!! Awww…”

***

Youngmin menatap punggung gadis itu saat dia berjalan menuju pintu dengan tergesa-gesa. Diam-diam Youngmin tersenyum melihat sikap Yura. Ia sudah mengenal Yura cukup lama. Entah sejak kapan ia mulai memperhatikan gadis itu. Cara berbicaranya, cara berjalannya, cara makannya, cara tersenyumnya, ia selalu memperhatikan semua itu.

Ia merasa, ia sudah mengenal Yura sangat dalam. Bahkan, ia hampir berfikir jika tidak ada satu hal pun yang tidak ia ketahui tentang Yura. Mulai dari jam dia bangun di hari biasa dan hari libur, makan siang, dan jam berapa dia tidur kembali. Ia merasa ia mengetahui semuanya. Tapi hanya satu yang ia tidak ketahui, perasaannya. Ia tidak tahu, apakah Yura juga memperhatikannya selama ini atau tidak?

Ia mendengar suara pintu tertutup dengan cepat. Baru saja ia akan mengalihkan pandangannya, tiba-tiba terdengar bunyi keras dari balik pintunya.

“Brukkkk!! Awww…”

Youngmin tersentak. Ia langsung berdiri untuk melihat apa yang sedang terjadi diluar. Tapi, ia menghentikan langkahnya ketika mendengar suara lagi.

“Kau tidak apa-apa, nona? Mau saya bantu?”

Youngmin membeku mendengar suara itu. Ia merasa suara itu tidak asing. Ia memang pernah mendengar suara itu. Dan yang jelas bukan suara Yura atau staff karyawan lainnya. Youngmin masih berdiri dibalik meja kerjanya sambil memasang telinga lagi.

“Saya tidak apa-apa. Maaf.”

“Baiklah, kalau begitu saya bantu membereskannya.”

Suara seorang gadis. Sepertinya ia mulai ingat sekarang. Ia ingat suara siapa itu. Youngmin menatap pintu besar didepannya. Tidak lama kemudian, pintu itu terbuka dengan perlahan dan menampakkan seorang wanita tinggi sedang tersenyum kearahnya.

Shin He Rim.

“Oppa, apa kabar?” sapa gadis itu ramah. Senyuman manisnya masih tersungging dibibir tipisnya.

“Apa itu benar-benar kau?” tanya Youngmin masih tidak percaya.

Gadis itu mengerutkan bibirnya berpura-pura kesal dengan sikap Youngmin yang tidak mengenalinya. “Apa oppa telah melupakanku?”

“Tidak, bukan begitu.” Sela Youngmin cepat. “Jangan berdiri dibalik pintu seperti itu, ayo duduk!”

He Rim tersenyum dan duduk disebuah sofa besar yang ada didalam ruangan Youngmin.

“Ternyata kantor oppa sangat besar dan nyaman.” Gumam gadis itu.

Youngmin tersenyum malu dan ikut duduk dihadapan He Rim, “Bagaimana kabarmu? Kenapa tidak menghubungiku dulu jika mau kesini?”

“Aku ingin memberi oppa kejutan.” Ucap He Rim sambil tersenyum lebar.

“Baiklah, apa yang membuatmu datang kesini?” tanya Youngmin sambil tersenyum manis.

“Tidak ada. Aku hanya merindukan oppa.” Jawab He Rim masih menyunggingkan senyum manisnya.

“Sepertinya kau terlihat sedang senang.” Goda Youngmin sambil tertawa kecil.

“Tentu saja. Bagaimana tidak? Hari ini, hari aku kembali ke Seoul dan melihat oppa lagi.” Jawab He Rim merasa yakin.

“Benarkah? Aku juga merindukanmu.” Sahut Youngmin.

“Sudah sepantasnya oppa merindukan aku. Sudah 5 tahun aku pergi dari Seoul. Di New York tanpa oppa benar-benar membuat nafasku berhenti.” Kata He Rim mengerang.

Youngmin tertawa kecil, “Lalu jika nafasmu berhenti, bagaimana caranya kau bertahan hidup hingga saat ini?”

“Yang aku lakukan selama ini adalah memikirkan oppa dan berharap waktu cepat berlalu agar aku bisa kembali bertemu dengan oppa.” Kata He Rim, menatap Youngmin sambil tertawa jahil.

Youngmin mulai bingung dengan wanita didepannya ini. “Hey, bicaramu mulai mengawur.”

“Tidak, yang aku katakan ini memang benar. Jika dulu aku tidak pergi ke New York, pasti sekarang aku sudah menikah dengan oppa. Atau bahkan mungkin kita sudah punya anak.” Lanjut He Rim.

“Hey, Shin He Rim.”

He Rim hanya tertawa jail. Baru saja He Rim akan menimpali ucapan Youngmin, tiba-tiba pintu lebar didepannya terbuka. Dengan serentak kedua pasang mata didalam ruangan itu menoleh kearah pintu. Yura masuk kedalam ruangan dengan canggung, lalu dia membungkukkan badannya.

“Maaf telah menunggu lama. Ini.” Yura menyodorkan sebuah map kearah Youngmin. Lalu ia mengangkat kepala dan saat itu mata mereka bertemu. Gadis itu… Baru saja Yura akan membuka suara tiba-tiba Youngmin menyelanya.

“Oh iya, kenalkan He Rim ini Kim Yura. Dan Yura ini Shin He Rim.” Kata Youngmin sambil menyimpan map yang disodorkan Yura kearahnya tadi keatas meja.

“Oh, jadi kau bernama Yura?” tanya He Rim langsung.

Youngmin menoleh kearah He Rim sambil mengerutkan keningnya.

He Rim melihat Youngmin sambil mengangkat bahu, “Tadi kita tidak sengaja bertabrakan didepan pintu ruanganmu.”

“Maaf, aku yang terlebih dulu menabraknya tadi.” Kata Yura menambahkan.

Youngmin berpaling kearah Yura sambil menatapnya. “Sudah berapa kali aku katakan, jangan ceroboh!”

Yura mengangkat sebelah bibirnya kesal.

“Apakah kalian berhubungan dekat?” tanya He Rim yang mulai merasa jika kedua orang ini lebih dari seorang teman.

“Ya.”

“Tidak terlalu.”

Youngmin dan Yura saling bertatapan. Bingung dengan jawaban mereka masing-masing. Youngmin yang menjawab ‘Ya’ sedangkan Yura ‘Tidak terlalu’. Yura sendiri tidak mengerti dengan apa yang ia ucapkan barusan. Bukan ini yang ingin ia katakan.

He Rim mengangkat alis memperhatikan mereka berdua. Lalu, ia menarik nafas sejenak, “Baiklah, aku pikir hubungan kalian sedang tidak baik hari ini. Jadi, apakah kalian pacaran?”

Diam. Tidak ada yang berani menjawab.

Youngmin menoleh kearah Yura. Gadis itu hanya terdiam sambil menundukkan kepala. Akhirnya, ia-lah yang harus menjawab pertanyaan konyol ini. “Tidak kami tidak pacaran.” Sahutnya akhirnya. “Dia sudah memiliki kekasih.”

Mendengar kalimat Youngmin yang terakhir itu membuat Yura harus mengangkat kepala dan menatap lelaki itu dengan kening berkerut.

“Oh? Kau sudah punya kekasih?” tanya He Rim pada Yura.

Yura hanya terdiam menatap Youngmin yang masih bergeming. Lalu, ia mendengar He Rim melanjutkan. Dan kalimat itu membuat hatinya sakit melebihi apapun. “Kapan kalian akan menikah? Sepertinya kami juga akan segera menikah.”

Yura menoleh kaget. Ia menatap He Rim dan Youngmin bergantian, “Apa?”

TBC~

Sekalian mau promote nihh,, yang pengen baca tulisan-tulisan aku, kalian boleh visit blog aku arinapri.wordpress.com . Lagi belajar buat blog jadi minta kritik dan sarannya. Kalian juga boleh folltwitter aku @1998aryn . Hhe , kebanyakan promote😀

Berhubung cerita ini hanya ada 2 part, jadi tunggu part terakhirnya ya😀 mksih😀

This entry was posted by boyfriendindo.

5 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Like a Fool – Chapter 01

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: