[FANFICT/FREELANCE] Like a Fool – Chapter 02 (END)

Title 
: Like a Fool – Chapter 02 (END)
Author : Aryn Chan (@1998aryn)
Genre : Romance
Rating : G
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ Jo Youngmin

  ~ Kim Yura

  ~ Kim Donghyun

  ~ Shim He Rim

>>>>AUTHOR NOTE

Hallo Pembaca ^^

Bagian ending sudah siap. Hehe J Semoga ending nya gak mengecewakan ya. Dan semoga kalian menyukai hasil akhirnya. Aku harap kalian merasa terhibur dan bisa merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh-tokoh ini. Sekali lagi terima kasih banyak untuk para readers dan admin BFI yang udh mau ngepost FF ini. Makaassiiihhh~  :*

Kritik dan saran terbuka lebar. Jangan lupa komentarnya ya~ Gamsahamnida😉

LIKE A FOOL

(ENDING)

Yura hanya terdiam menatap Youngmin yang masih bergeming. Lalu, ia mendengar He Rim melanjutkan. Dan kalimat itu membuat hatinya sakit melebihi apapun. “Kapan kalian akan menikah? Sepertinya kami juga akan segera menikah.”

“Ap—apa?” tanya Yura tanpa sadar. Suaranya terdengar serak.

“Benar, aku dan Youngmin oppa akan segera menikah. Orang tua kami sudah menyetujuinya. Semoga kau tidak mendahului kami.” Kata He Rim sambil tertawa kecil. Gadis itu sama sekali tidak mengerti bagaimana perasaannya.

Dia bilang Youngmin akan menikah? Dengan siapa? Dengannya? Dengan gadis yang bernama—siapa tadi, mm He Rim. Ya He Rim—? Mana mungkin? Tapi, jika dilihat dari ekspresi Youngmin yang sama sekali tidak menyangkal, ia rasa ucapan gadis itu benar. Lalu, bagaimana dengan perasaannya? Bagaimana dengan dirinya?

Dengan sekuat tenaganya ia menahan air matanya. Ia tidak boleh menjatuhkan setetes air mata sedikit pun diruangan ini. Ini benar-benar tempat neraka baginya. Ia tidak akan sanggup berlama-lama berdiri disini. Sebaiknya, ia cepat pergi sebelum ia mempermalukan dirinya sendiri.

“Selamat. Sebaiknya, aku keluar sekarang.” Kata Yura sambil memaksakan seulas senyum. Ia berdoa dalam hati semoga senyumannya tidak terlihat konyol didepan mereka berdua. “Maaf telah mengganggu.”

***

Dia sudah menutup pintu. Gadis itu sudah keluar dari ruangannya. Tapi, apa yang dia ucapkan barusan? ‘Selamat, maaf sudah mengganggu?’ Apakah dia benar-benar gila? Apa dia benar-benar memiliki hubungan dengan Donghyun? Bahkan dia sama sekali tidak menyangkal saat ia mengucapkan bahwa dia sudah punya kekasih. Jadi, apakah itu berarti ia sudah terlambat?

Lamunannya buyar saat ia mendengar namanya dipanggil-panggil. “Apa?” tanya Youngmin pada He Rim dengan perasaan bersalah. “Maaf, aku tidak mendengarkanmu. Kau tadi bilang apa?”

Meski sedikit kesal tapi He Rim tetap mengulangi dengan nada rendah, “Gadis itu siapa? Dan apa hubungan kalian?”

“Kenapa?” Tanya Youngmin sedikit terkejut mendengar He Rim yang bertanya seperti itu padanya.

He Rim berdehem, “Aku tadi melihat gadis itu sangat terkejut ketika aku mengatakan jika kita akan menikah. Ada apa dengan kalian?”

Youngmin menundukkan kepalanya lalu, mengangkatnya kembali, “Hubungan kita memang sedang tidak baik akhir-akhir ini.”

“Kenapa?”

“Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan perasaanku.”

“Aku rasa kau hanya menyukainya.”

Youngmin terdiam.

“Aku juga merasa dia menyukaimu.”

“Berhentilah menjadi peramal!”

“Mengapa kalian tidak meneruskan hubungan kalian?”

Youngmin menatap He Rim sambil mengangkat alis, “Apa maksudmu?”

“Bukankah kau ingin serius dalam hubungan ini. Kau menyukainya, bukan?” tanya He Rim lagi dan balas mengangkat alis.

“Kau bercanda.” Kata Youngmin sambil mengibaskan sebelah tangannya kedepan wajahnya. “Sudahlah, tidak usah dipikirkan.”

“Terserah kau saja.” Kata He Rim menyerah. Youngmin memang sedikit keras kepala. Dia selalu berfikir jika keputusannya selalu menjadi yang terbaik. Bahkan dia belum tahu apa yang akan terjadi kedepan. “Aku hanya memberi saran, bertindaklah cepat. Sebelum kau menyesal.”

***

Yura menunduk sambil bertopang dagu keatas meja dengan kedua tangannya. Ia menatap kosong kearah meja dibawahnya. Sakit. Ya, itu yang ia rasakan saat ini. Sakit sekali. Saking sakitnya, ia hampir tidak bisa merasakan apa-apa. Ia merasa sedang terbang dan saat itu juga, ia terlempar kebawah dengan sangat kasar.

Yura mencoba menahan isakan tangisnya. Tapi, apa hasilnya? Malah setetes air mata terjatuh dan membasahi meja kerjanya. Yura kesal karena air matanya ini tidak mau mendengarkannya. Ia terlalu kesal hingga menjatuhkan setetes air mata lagi, lalu setetes lagi dan bertetes-tetes air mata ikut membasahi meja kerjanya. Ia ingin marah, tapi sepertinya ia tidak mempunyai banyak tenaga untuk melakukannya.

Jadi, ia membiarkan dirinya menangis untuk saat ini. Setidaknya, biarkan ia seperti ini untuk saat ini. Ia pikir dengan menangis seperti ini hatinya akan menjadi lebih baik. Dan ia bisa menerima kenyataan jika Youngmin akan segera…menikah.

***

Keesokan harinya….

Yura masuk kedalam ruangan kantornya dengan mata sembab. Jadi, hari ini ia datang menggunakan kacamata hitamnya. Ia tidak ingin orang-orang melihatnya dalam keadaan seperti ini. Ini benar-benar bodoh.

Yura mengempaskan tubuhnya pada sofa di dalam ruangannya. Perlahan ia membuka kacamata hitamnya dan meletakkannya diatas meja. Sungguh, ia benar-benar tidak bersemangat untuk melakukan apapun hari ini. Satu-satunya yang ingin ia lakukan saat ini adalah berbaring diranjang dan menangis. Mungkin itu yang sangat ingin ia lakukan.

Tiba-tiba saja, ia merasa ponselnya berbunyi. Yura cepat-cepat mengambil ponsel dari dalam tasnya dan melihat pesan yang baru saja masuk.

“Kau dimana? Jangan katakan kau melupakan jika pagi ini ada meeting!”

Astaga! Ia benar-benar lupa. Pagi ini ia harus menghadiri meeting untuk pembuatan merek pakaian baru. Bagaimana dengan keadaannya sekarang? Apakah ia harus menghadiri rapat dengan keadaan seperti ini? Apa yang akan ia katakan jika semua orang bertanya, ada apa dengan dirinya? Arghh, habislah kau Yura.

Yura memejamkan matanya. Seakan ingin melupakan semuanya. Melupakan kenyataan. Kenyataan jika harapannya sudah pupus. Harus ia akui jika ternyata ia cemburu. Cemburu kepada lelaki yang selama ini selalu bersamanya itu. Ia tidak tahu kapan tepatnya ia menjadi seperti ini. Ia tidak tahu sejak kapan ia mulai menyukai lelaki itu…atau sebenarnya sudah menyukainya?

Yura baru saja akan menghempaskan khayalannya pada langit-langit biru ketika ia mendengar suara pintu diketuk.

***

Youngmin menatap pintu ruangan yang bergeming. Belum ada tanda orang akan masuk. Kemana gadis itu? Youngmin mengalihkan perhatiannya pada orang-orang dihadapannya yang sedang menunggunya. Orang-orang itu menatapnya dengan pandangan bertanya.

“Bisakah kita mulai acara rapatnya?” tanya seseorang yang duduk disebelahnya.

Ini adalah rapat untuk peluncuran merek pakaian baru dari perusahaannya. Setelah 1 tahun dengan pakaian merek yang ada, kali ini perusahaannya baru akan meluncurkan merek terbarunya. Apalagi ini adalah peluncuran perdana karena di design langsung oleh designer dunia. Kim Yura. Ya, gadis itu yang membuat pakaian ini. Karena itulah sejak tadi ia menunggunya.

Tak lama kemudian—setidaknya, sebelum membuat orang-orang ini membabi buta—gemercik suara terdengar dari arah pintu ruangan ini. Dan tepat pada saat itu pintu terbuka dan sosok yang sejak tadi ditunggunya menampakkan wajahnya dengan menggumamkan permintaan maaf. Setidaknya dia tidak melupakan bagaimana caranya meminta maaf dengan benar.

Yura duduk disebelahnya dan membisikkan sesuatu kepadanya. “Silahkan dimulai.”

Youngmin melirik Yura sekilas dan membuka acara rapat itu. Sampai pertengahan acara, acara masih tampak baik-baik saja. Semuanya berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Saat ini Yura sedang menjelaskan tentang rancangannya. Dia terlihat sangat menikmatinya. Sudah berapa lama ia tidak melihat Yura seyakin ini? Dan kenapa baru ia sadari? Apakah ia tidak salah lihat? Ia merasa wajah gadis itu sedikit pucat.

***

Youngmin berjalan menuju ruang kerja Yura. Biasanya ia tidak pernah menghampiri gadis itu secara langsung. Ia selalu menelepon pada receptionist dan meminta Yura untuk datang ke ruangannya. Tapi, kali ini ia akan membuat kejutan besar. Ia terlalu tertarik oleh presentasi Yura tadi. Jadi, ia ingin mengucapkan selamat secara tulus.

Youngmin membuka pintu ruangan. Ia menyapu kedalam ruangan. Tidak ada siapa-siapa. Yura tidak ada. Kemana gadis itu? Youngmin mengambil ponselnya, mencari nama Yura dan meletakkannya ketelinga kanannya. Awalnya tidak ada jawaban. Saat ia mencoba meneleponnya untuk yang ke 5 kali, barulah nada sambung terputus dan terdengar sapaan kecil diujung sana.

“Kenapa baru menjawab teleponku?” tanya Youngmin merasa kesal.

“Ada apa? Katakanlah!”

“Kau dimana?”

Tidak ada jawaban. Lalu, terdengar suara kembali. “Ada apa?”

“Kau hanya perlu mengatakan, kau ada dimana?”

Seseorang diujung sana terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Di Café Hongdo. Memang ada ap—“

Belum sempat Yura menyelesaikan kalimatnya, Youngmin sudah memutuskan hubungan dan melesat pergi. Tak lama kemudian, ia sudah tiba didepan tempat yang Yura sebutkan tadi. Ia melihat café ini terlihat sedikit sepi. Hanya ada beberapa orang yang keluar masuk café ini. Setelah berdiam diri beberapa saat, Youngmin memutuskan untuk masuk kedalam café itu.

Youngmin menyapu ruangan. Hanya ada beberapa orang yang ada didalam café ini, jadi dengan mudah ia menemukan gadis itu. Gadis itu sedang sendiri. Sedang meminum cappucinonya dan duduk menyandar pada kaca jendela besar. Ia duduk membelakanginya jadi, dia tidak menyadari kehadarinnya.

Dengan perlahan, Youngmin berjalan menghampiri Yura. Ia berdiri disamping gadis itu sambil memasukkan kedua tangannya pada saku celananya. Gadis itu masih bergeming. Belum menyadari kedatangannya. Ia jadi ingin tahu, apa yang sedang dipikirkannya hingga ia tidak menyadari dirinya sudah berdiri disampingnya.

Youngmin terbatuk dengan sengaja. Ia melihat Yura begitu terkejut ketika menyadari kehadirannya.

“Sejak kapan kau disini?” tanya Yura terperanjat.

“Menurutmu?” Youngmin balas bertanya dan langsung duduk dihadapan Yura tanpa perintahnya.

Yura terdiam dan mengalihkan pandangan. Terlihat seperti mengacuhkannya. “Ada apa?” tanyanya datar.

Youngmin berdehem, “Aku hanya ingin mengucapkan selamat padamu.” Sahut Youngmin masih menatap Yura.

Kali ini Yura mengalihkan pandangan kearahnya sambil mengangkat alis, “Untuk?”

“Selamat atas  keberhasilanmu. Kau sudah memiliki merek sendiri.” Kata Youngmin.

Yura menatapnya datar. “Terima kasih.”

Youngmin membungkukkan badannya sedikit kearah Yura. Ia melipat kedua tangannya keatas meja sambil menatap gadis itu kuat. Ia tahu gadis itu merasa tidak nyaman ia tatap seperti itu. Tapi, itulah tujuannya. Ia merasa sikap Yura berubah padanya.

“Kenapa?” tanya Yura ragu.

“Kenapa?” Youngmin balik bertanya.

Yura mengangkat alis, sama sekali tidak mengerti apa maksud Youngmin. Karena melihat Yura yang kebingungan, Youngmin meneruskan pertanyaannya, “Kenapa kau terlihat seperti menjauhiku?”

Terlihat sebersit keterkejutan dari dalam mata Yura. Dia menatapnya dengan bingung. Seperti hendak mengucapkan sesuatu tetapi tidak tahu ingin mengucapkan apa. Akhirnya, gadis itu hanya menjawab seadanya, “Tidak apa-apa.”

“Tidak mungkin kau menjauhiku tanpa alasan.” Tambah Youngmin.

“Siapa yang menjauhimu? Aku hanya—“

“Apakah semua ini karena waktu itu?” sela Youngmin cepat.

Yura terkejut Youngmin tiba-tiba menyela ucapannya. Sekaligus ia terkejut, Youngmin bertanya seperti itu padanya.

“Apa semua ini karena He Rim?” Tanya Youngmin lagi.

Yura tidak tahu harus menjawab apa. Tapi, ia tidak akan mungkin berdiam diri seperti ini terus, bukan? Jika ia hanya diam saja, itu akan membuat lelaki itu bertambah yakin dengan pikirannya itu. Dan Youngmin akan terus mendesaknya. “Apa maksudmu ini semua karena He Rim? Kau pikir aku sedang cemburu padamu? Apa urusannya denganku? Aku hanya tidak ingin bertemu denganmu saja.”

Youngmin mengangkat alis. Bagus, kali ini lelaki itu tidak akan bisa menjawab apa-apa.

Ia melihat Youngmin memiringkan kepalanya sedikit sambil menatapnya, “Siapa yang mengatakan jika kau cemburu? Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya bertanya, apa semua ini karena He Rim?” Celetuknya. “Tapi, jika mendengar dari jawabanmu, sepertinya memang benar. Kau cemburu padaku.”

Yura melebarkan matanya terkejut. Itu bukan pertanyaan. Lelaki itu malah tambah merasa yakin dengan pikirannya. Sekarang apa yang bisa ia lakukan? Apakah ia harus mengaku saja? Tidak! Tidak semudah itu.

“Apa yang membuatmu merasa begitu yakin?” Tanya Yura dengan nada mengancam.

Youngmin menyandarkan tubuhnya pada kursi belakang. Dan tersenyum manis. “Karena…aku begitu memahamimu.” Sahutnya, “Aku mencintaimu. Menikahlah denganku.”

Sungguh. Kalimat terakhir yang keluar dari bibirnya seperti sebuah angin yang berhembus kencang dan membawanya terbang menuju surga. Ia sedang tidak bermimpi, bukan? Ia tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaannya saat itu. Yang ia tahu pipinya terasa panas. Dan ternyata, tanpa ia sadari, ia sedang menahan nafas.

“Apa kau sedang mempermainkan aku?” Yura menyadari ia membuka suara. Kalimat itu dengan mudah meluncur dari bibirnya tanpa bisa ia cegah. Seharusnya ia tidak mengatakan itu. Bodoh.

Ia melihat Youngmin melebarkan matanya. “Apa?”

“Kau bilang kau akan menikah dengan He Rim. Lalu, kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu padaku? Bukankah kau sedang mencoba menipuku?” Kata Yura dengan lancar. Yura mendesah sinis, “Dengar, kau tidak akan bisa menipuku.”

Youngmin terdiam sejenak. Terlihat seperti sedang berfikir. “Kau berfikir jika aku akan benar-benar menikah dengan He Rim?”

Kali ini Yura yang terlihat berfikir sekaligus kebingungan. Apa maksud laki-laki itu? Tentu saja ia berfikir jika mereka akan menikah. Bukankah He Rim yang mengatakannya sendiri?

“Astaga! Gadis itu benar-benar.” Tiba-tiba saja Youngmin menggerutu. Lalu, laki-laki itu mengalihkan pandangan kearahnya dan menatapnya, “Dengar, dengarkan aku. Dengarkan baik-baik. Aku sama sekali tidak akan menikah. Aku tidak akan menikah jika bukan dengan gadis pilihanku.”

Yura terkejut mendengar ucapan Youngmin. Tadi lelaki itu baru saja membuatnya cemburu dengan ucapan awalnya, tapi sekarang dia malah mengelak semua itu. “Lalu, bagaimana dengan gadis itu?”

“Kau benar-benar menganggap kita akan menikah? Dengarkan aku. Aku sudah mengatakan jika aku tidak akan menikah selain dengan gadis pilihanku. Dulu kita memang sempat di jodohkan oleh orang tua kita. Tapi, aku dan He Rim sama sekali tidak saling mencintai. Karena itu, He Rim pergi ke New York untuk alasan ingin kuliah disana.” Jelas Youngmin panjang lebar.

“Tapi, bukankah sekarang dia sudah kembali? Dan kalian akan melanjutkan proses perjodohan itu kan?” Kata Yura sambil memandang Youngmin.

“Itu hal yang mudah. Aku akan mengatakan pada orang tua ku jika aku sudah menemukan gadis pilihanku.” Jawab Youngmin santai.

“Lalu bagaimana denganku?” Tanya Yura tanpa sadar.

“Apanya?”

“Kenapa kau tidak menyangkalnya sejak awal?” Yura mengganti pertanyaannya begitu menyadari pertanyaannya barusan.

Youngmin mengangkat bahunya acuh tak acuh, “Karena aku rasa, aku tidak perlu menjelaskannya padamu.”

Yura menatap Youngmin sambil melotot, “Kenapa sekarang kau malah susah payah menjelaskannya?”

Youngmin tersenyum dan menjawab, “Karena…ya, karena aku tidak sanggup melihatmu terluka lebih dalam.”

Yura terkejut mendengar jawaban dari Youngmin. Akhirnya, ia hanya bisa mendesah. “Aish, benar-benar…”

“Kim Yura…Saranghaeyo.” Kata Youngmin sambil menatapnya dalam.

Yura menjadi salah tingkah. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia jadi merasa serba salah. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan mengeluarkan selembar photo seorang gadis yang ia ambil dari meja kerja Youngmin waktu itu. “Oh ya,” ucapnya dan memperlihatkan photo yang ia pegang pada lelaki itu, “siapa gadis ini?”

Youngmin menyipitkan matanya.

“Aku mengambilnya dari meja kerjamu.” Lanjut Yura sambil terkekeh sedikit. “Aku pikir dia gadis yang kau sukai. Siapa dia?”

“Kau berani sekali mengambil barang milikku tanpa seizinku.” Kata Youngmin tiba-tiba.

“Oh?” Yura terlihat terkejut. Ia menatap Youngmin dan mencoba memberi penjelasan, “A…ak…aku tidak bermaksud mengambilnya. Saat itu aku hanya ingin melihatnya saja, tapi kau—”

“Kau benar-benar ingin tahu siapa gadis itu?” Potong Youngmin tiba-tiba.

Yura melebarkan matanya dan mengangguk pelan.

“Aku memberimu 2 kesempatan bertanya untuk menebak siapa gadis ini.” kata Youngmin penuh teka-teki.

Yura menggerutu kecil. Tapi karena penasaran, ia tidak bisa mengelak. “Katakan siapa gadis itu! Orang yang kau suka kah?”

“Benar.” Ucap Youngmin.

Yura berdehem sedikit berfikir, “Orang yang kau suka ya?” gumamnya, lalu tiba-tiba ia melotot kesal, “Apa benar kau menyukaiku? Kau saja masih berharap dengan gadis ini.”

Youngmin hanya mengangkat bahu acuh tak acuh dan itu membuat Yura semakin kesal.

“Sudahlah, sebaiknya cepat katakan siapa gadis itu?!” Tuntut Yura sedikit kesal.

Youngmin hanya tersenyum melihat sikap Yura yang jelas-jelas sedang cemburu. Karena tidak tahan, akhirnya Youngmin melipat kedua tangannya diatas meja dan menatap Yura. “Kau.” Ucapnya. “Gadis yang didalam photo itu adalah kau. Kim Yura.”

Betapa terkejutnya ia. Dia? Dirinya didalam photo itu? “Aku? Bagaimana bisa? Aku sama sekali tidak mengenali diriku. Kau?”

Youngmin kembali bersandar pada kursi dibelakangnya dan menjawab santai, “Bagaimana kau mau menyadarinya, jika saat itu kau sedang terburu-buru untuk melihat toko makanan yang baru saja dibuka.”

“Apa?” Tanya Yura terkejut dan sedikit sedang berfikir. Ah, ia ingat. “Ya, saat itu toko makanan yang menjual sushi baru saja dibuka. Dan saat itu aku sangat kelaparan bukan karena aku penggila makanan.” Yura melihat Youngmin, “Tapi, bagaimana bisa kau mengambil gambarku?”

Youngmin tersenyum, “Rahasia.”

Yura mendesah, tapi lama-lama akhirnya ia tersenyum senang. “Tapi, terima kasih telah menyukaiku.” Kata Yura dan melanjutkan, “Nado Saranghae….. :)”

END~

This entry was posted by boyfriendindo.

4 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Like a Fool – Chapter 02 (END)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: