[FANFICT/FREELANCE] Only You

Title 
: Only You
Author : V.Noviy a.k.a D’chemos Bee)
Genre : Sad Romance
Rating : T
Type : One Shoot
Main Casts 
: ~ No Minwoo

  ~ Hyumi

-ooo-

Musim semi datang… untuk sepasang sejoli yang saat ini sedang berada di hamparan rumput hijau nan lumayan luas itu, musim semi tak berarti apa-apa bagi mereka. Karena tak akan ada senyum bahagia untuk menyambut kedatangan musim ini. Sudah terlalu lama mereka menyepelekan setiap musim yang silih berganti. Toh, pergantian musim setiap tahunnya tak mampu memberikan warta berita yang baik, bahkan sangat baik. Semuanya serasa habis di makan waktu. Menanti dan menanti. Kesembuhan…

Minwoo dan Hyumi — sepasang sejoli itu — sedang menikmati udara sorenya. Jam masih menunjukkan pukul 16.42 KST. Sore yang lumayan cerah dan berhawa sejuk untuk dirasakan saat ini. Kedua tangan Minwoo tengah mendorong dengan pelan sebuah kursi roda. Dikursi berjalan itu, duduk manis seorang gadis cantik tanpa senyumnya tengah menyapu alam sekitar yang dilihatnya. Tak ada ukiran apapun yang terbentuk di bibirnya. Ia terdiam lemah. Meratapi nasibnya yang tak kunjung berubah.

Sesekali terdengar alunan suara burung-burung yang berlalu lalang di udara. Hyumi seakan merasa hanya akan selalu tinggal bersama para burung itu. Di sarangnya sendiri. Tanpa tawa orang-orang yang beberapa tahun ini tak pernah ia dengar lagi. Selama ini, gadis itu hanya mendengar pintu tertutup dan terbuka serta salam dari dokter ataupun suster rumah sakit. Ya. Gadis itu menghabiskan waktunya di rumah sakit setiap hari. Karena penyakit tentunya. Penyakit yang tak juga lenyap dari tubuhnya.

Minwoo masih terus mendorong dengan lembut dan lamban – kursi roda itu –. Setiap hari ia harus melakukan hal itu. Mengajak kekasihnya berjalan-jalan keluar. Ia sangat setia pada kekasihnya itu – Hyumi –.

Setelah beberapa menit berjalan, Minwoo memberhentikan kursi roda dengan sang putri di hadapan sebuah bukit sakura. Susunan pagar yang berjejer rapi di hadapan mereka, menghalangi keinginan untuk bisa berada di bawah pohon berbunga pink blossom itu. Namun, dengan seperti inipun rasanya sudah cukup. Bagi Minwoo.

“Minwoo~ya….” Hyumi menengadahkan kepalanya. Melihat Minwoo yang tak bergeming sedari tadi. Dari awal mereka keluar dari kamar gadis itu. Minwoo hanya menanggapinya dengan tersenyum. Dan gadis itupun menyahutinya lagi.

“Apa setiap hari aku akan seperti ini terus ?” Ucapan itu terdengar dengan sangat lembut di telinga Minwoo. Sekejap, Hyumi langsung merunduk lagi. Memandang dedaunan kering yang tersapu angin.

Minwoo kelu. Sudah berulang kali bahkan beribu kali kekasihnya itu menanyakan pertanyaan yang sama ketika sudah disuguhi pemandangan sakura seperti saat ini. Entah apa yang merasuki otaknya, setiap kali melihat ribuan bunga pink blossom itu. Mungkin Hyumi berpikir, ketika bunga itu sudah letih ia akan gugur dengan sendirinya. Entah itu karena tertiup angin ataupun tidak. Menurutnya, hidupnya mungkin akan sama dengan bunga elok itu. Tapi, nyatanya sampai saat ini ia masih bertahan. Padahal, musim gugur sudah ia temui beberapa kali.

“Kenapa tidak menjawab ?” Hyumi meronta tanpa paksa. Sebenarnya ia tahu, Minwoo pasti bosan mendengar itu setiap kali ia berada di tempat ini.

“Kau pasti tahu bahwa jawabannya itu akan selalu sama. Sama saja saat pertama kali kau bertanya padaku” kali ini Minwoo angkat bicara. Jika ia tidak menjawab, bisa-bisa Hyumi tidak mau berbicara lagi. Minwoo menatap sendu geraian rambut hitam kelam Hyumi. Miris. Rambut itu sudah kelihatan menipis di kepala Hyumi. Ketakutannya selama ini berkutat lagi di otaknya.

“Aku lelah Minwoo~ya. Tak bisakah Tuhan mengambil penyakitku ini ?” Minwoo terhenyak. Baru kali ini dari beberapa tahun belakangan, Hyumi mengucapkan itu. Biasanya ia tak pernah mengeluh atas penderitaannya itu. Cukup tahu ia bagaimana rasanya. Sakit !. mungkin gadis itu tak mau membuat Minwoo mengurusnya terlalu lama. Sudah 4 tahun pria itu merawatnya di rumah sakit. Walaupun tak setiap waktu. Karena ada saatnya ia harus kembali bekerja. Namun, bagaimanapun juga Minwoo tak pernah mengeluh letih menunggu kesembuhannya.

Hyumi berlinang air mata. Memikul sebuah penyakit parah memang tak pernah membawa keberuntungan. Jika tidak siap dirawat, maka hanya kematianlah yang akan dihadapi. Selama 4 tahun sudah ia menjalani pengobatan yang tak pernah manjur. Ia rasa. Menghabiskan lembaran uang hanya untuk berusaha membuatnya sembuh. Ia sangat tahu, obat kimia belum tentu mampu membunuh penyakitnya itu. Tapi, yang membuatnya bertahan dalam sakitnya hanyalah Ibu dan kekasihnya, Minwoo. Rasanya tak akan sanggup untuk meninggalkan dua insan itu. Ia ingin hidup lebih lama bersama mereka. Namun, dilain sisi Hyumipun ingin berjumpa dengan sang ayah yang telah mendahuluinya. Kecelakaan tragis 5 tahun silam telah berhasil mengangkat roh ayahnya kembali pada tempat awal-Nya. Hyumi masih beruntung, karena Tuhan masih memberinya nyawa walau harus hidup dengan kedua kaki yang lumpuh permanen. Tak ada harapan untuk kedua kakinya sembuh kembali. Sang Ibu yang masih sehatlah yang membuatnya mampu tersenyum kembali di dunia ini. Termasuk Minwoo.

Namun, setahun setelah penderitaan itu. Penyakit liar itu menggerogoti tubuhnya. Mengetahui hal itu, Hyumi hanya bisa pasrah. Berharap Tuhan mau menolongnya. Tapi, hingga kini ? 4 tahun ia mengidap penyakit mematikan itu, ia masih terbaring di rumah sakit. Cukup sudah ia tak mampu berjalan, ia juga harus menerima kesakitan itu. Dengan tubuh yang semakin kurus dan rambut yang semakin menipis. Hyumi sudah tak bisa membuat Minwoo tersenyum lagi. Sekalipun juga kepada Ibunya.

“Bersabarlah. Tuhan selalu adil pada semua orang. Aku selalu meminta lebih pada-Nya. Kau hanya perlu bertahan, Chagiya”

Minwoo menahan tangisnya. Sebenarnya sesak itu kini menekan tenggorokannya. Namun, ia mencoba menahan agar cairan bening itu tak tumpah ke wajahnya. Ia hanya ingin menunjukkan, bahwa ia kuat dan sabar pada takdir yang diberikan pada kekasihnya itu. Ia tak mau Hyumi merasa dirinya selalu sedih dan tak tahan lagi untuk terus merawatnya. Melihat tubuh gadis yang ia sayang terbaring lemah di ranjangnya dan terduduk letih di bangku rodanya.

“Jika kau ingin menangis, silahkan Minwoo~ya. Memang sepantasnya kau melakukan itu” ucap Hyumi dengan suara serak yang masih terisak. Dengan pelan. Rintihan tangisnya hanya mampu didengar oleh gendang telinga Minwoo. Minwoo tak mampu melihat Hyumi seperti itu. Ia alihkan kedua kornea matanya ke arah lain. Mencoba menggapai masa untuk menghentikan air matanya yang sudah menetes sekali di wajahnya. Ia usap bekas air mata itu dengan telapak tangannya.

“Aku tidak menangis”

“Lalu ? Kenapa kau hanya diam saja ?” Hyumi sedikit berteriak. Matanya masih saja meneteskan air mata itu. Tangannya mengepal geram sambil ia memukul-mukul badan kursi roda yang didudukinya. Minwoo yang sadar akan hal itu, lalu berjongkok di hadapan tubuh lemah itu. Sesaat ia menunduk. Tak mau melihat yeojanya tersuguhkan bersama tangisannya. Namun, seketika Minwoo mengangkat pandangannya. Dilihatnya manik mata Hyumi yang berair sempurna.

“Kau tau….” Minwoo menggantungkan ucapannya. Sesak itu kembali bersarang lagi di tenggorokannya. Ia menghela nafas beratnya dengan lamban sebelum melanjutkan ucapannya.

Hyumi memperhatikan tatapan Minwoo dan arah ucapannya. Ia simak baik-baik kalimat yang akan terlontar dari pita suara Minwoo.

“Mungkin, aku tak bisa menyembunyikan bagaimana sedihnya perasaanku mendengar kau mengucapkan kalimat keluhan itu. Tapi, aku tak akan pernah memberitahumu sesuatu yang harus kau jalani seorang diri” Minwoo kembali menundukkan kepalanya. Selang beberapa detik, ia lanjutkan kalimat yang ditunggu-tunggu Hyumi.

“Katakan itu apa ?” ucap Hyumi seraya menghapus bekas air matanya. Ia genggam tangan Minwoo yang menggantung di atas lipatan lututnya.

“Selama setahun ini, aku dan Ibumu sudah berpikir. Dibantu oleh dokter Joon. Dan kami mendapatkan satu keputusan”

Minwoo menatap lekat Hyumi. Semakin seperti itu, membuat Minwoo semakin tak tega untuk mengatakannya. Terlebih lagi itu semua harus dirasakan sendiri oleh Hyumi tanpa dirinya. Melihatnya sakit dan terbaring lemah saja sudah membuat pekerjaannya kacau balau. Bagaimana jika tanpa gadis itu didekatnya ? Mungkin tak akan pernah selesai satupun pekerjaannya karena selalu dihantui keadaan Hyumi nantinya.

“Keputusan apa, Minwoo~ya ? Katakan padaku !” Hyumi bersikukuh meminta penjelasan selanjutnya dari Minwoo. Akhirnya, Minwoo kembali berbicara.

“Kau akan dioperasi di Amerika” ucap Minwoo sekenanya. Hyumi membelalak hebat. Mulutnya menganga dengan tatapan bingung ke arah Minwoo. Minwoo membuang tatapannya dari Hyumi. Tak tau apa yang akan disanggah oleh gadis itu. Bagaimana tanggapannya ? Ia sama sekali tak tau harus menjawab apa.

“Dan—Aku tak bisa menemanimu di sana. Mianhae” kali ini Minwoo tidak kembali menundukkan kepalanya. Ia harus tahu reaksi apa yang diberikan Hyumi padanya. Ia tahan sisa air mata yang masih tersimpan di muaranya agar tidak keluar. Ia pandangi Hyumi yang hendak kembali menitihkan air matanya.

“Am—Am—Amerika?” Hyumi terbata-bata. Genggaman tangannya mengendur dari tangan Minwoo. Minwoo hanya diam menyaksikan lepasnya genggaman tangan Hyumi darinya.

Sejauh itukah ia akan meninggalkan tempat ini dan membawa penyakitnya? Ia sama sekali tak habis pikir. Bagaimana mungkin, Minwoo memutuskan hal itu tanpa menanyakannya pada dirinya. Dan ! Namja itu tak menemaninya di sana. Apa itu yang ia maksud ‘harus menjalaninya seorang diri’ itu ?. apakah setega itu lelaki itu membiarkannya pergi.

“Hhh, kenapa kau tidak menanyakan ini semua padaku dulu !!!!!!!” teriak Hyumi pada Minwoo. Minwoo hanya tersenyum getir menapik teriakan itu. Hatinya sakit sekali.

“Jika aku bertanya ini padamu, kau tidak akan pernah mau, Chagiya”

Hyumi menangis sejadi-jadinya. Deru tangis itu memecah suasana sore yang sebentar lagi berubah menjadi senja. Awan keorange-an yang tergambar luas menjadi saksi di antara kedua insan itu. Tak kuasa dengan kekesalannya, Hyumi malah memukul-mukul pundak Minwoo. Pria yang masih berjongkok sambil menahan keletihannya itu hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Kesakitan yang ia rasakan kini tak sebanding dengan sakit yang dialami Hyumi selama bertahun-tahun. Jadi, biarlah sepuas hatinya melampiaskan kesalnya pada tubuh Minwoo.

“Kau jahat !! Kau Jahat !! Minwoo ! Kau ja……hattt..hhhh..hhh” Hyumi makin kuat memukul Minwoo. Ia lampiaskan sisa tenaganya pada tubuh yang sedang pasrah itu. Kian kuat, semakin melemah dan melemah. Kedua tangan yang mengepal itu sudah tak beraksi lagi. Kedua tangan itu tengah menutupi wajah si empunya paras cantiknya. Tubuhnya melemah seketika dan bersandar pada kursinya.

Merasa bersalah, Minwoo langsung mendekap tubuh mungil yang kurus di hadapannya. Mendengar tangisan yang semakin menderu oleh Hyumin. Sesak yang dirasakannya tumpah bersama tangisan itu. Minwoopun tak bisa untuk lebih menahan air matanya. Kedua insan itu berpadu dalam satu tangisan. Membiarkan baju mereka nampak basah akibat deraian air bening itu.

“Kau membiarkan aku sendiri di sanakan ? Melewati masa-masa kritis itu sendiri. Melihat peralatan menakutkan itu sendiri. Merasakan sakit itu sendiri. Menjalani operasi tanpa dukunganmu. Apakah aku selalu akan sendiri, hah !!! Aku tidak bisa…..Minwoo~ya….aku tidak..bisa….hhhhh” Minwoo mengelus punggung yeoja itu. Mencoba menenangkannya. Hyumi tak henti-hentinya menangis. Menghabiskan air matanya. Mungkin tinggal menunggu air mata itu menjadi cairan darah yang mengalir di pipinya. Ia sungguh sakit. Sakit menerima ini semua. Iapun takut. Takut jika saat operasi itu gagal, ia tak bisa melihat Minwoo untuk yang terakhir kalinya. Takut. Sangat takut.

“Ibumu akan ikut denganmu, Hyumi~ya. Mianhae.. disini aku harus bekerja. Mencari uang hanya untukmu. Operasi itu tidaklah murah. Sedikit lagi, uang itu akan cukup. Aku tak akan meninggalkanmu di ruangan itu terlalu lama. Aku janji. Aku akan menemanimu. Secepat mungkin akan menyusulmu ke sana”

Minwoo mengusap air matanya. Ia tak mau menangis lagi. Ia harus memberi kekuatan dan keberanian untuk kekasihnya.

“Tapi… a—ku.. ta—ta—kut…” ucap Hyumi sesenggukan. Ia mulai menghentikan tangisnya setelah mendengar ucapan Minwoo tadi. Ia merasa ada sesuatu aneh yang hinggap di hatinya. Minwoo melepaskan dekapannya. Ia berusaha tersenyum pada Hyumi, walau itu bukanlah senyum bahagia. Semu.

“Takut kenapa ?” tanya Minwoo dengan suara seraknya.

“Aku takut operasi itu gagal. Dan, tak bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya”

“HEY ! Kau tak boleh berbicara seperti itu. Yakinlah, Tuhan pasti mengabulkan do’a kita” Minwoo mengacak pelan rambut Hyumi. Hyumi tahu, Minwoo selalu berdoa untuknya. Untuk kesembuhannya. Lalu ? Mungkin saat ini, ia harus percaya pada Minwoo. Karena, dari awal mustahil baginya untuk mempercayai kekasihnya itu, mengingat penyakit yang dideritanya kian parah.

Hyumi tersenyum.

“Nah, tersenyumlah seperti itu. Kau terlihat lebih cantik saat tersenyum. Aku tidak suka melihatmu menangis, Arra ?” Minwoo kembali tersenyum. Senyum yang menyembunyikan kesakitan dan kesedihannya. Ia tahu, operasi itu belum tentu akan mengembalikan kesehatan total pada Hyumi. Ia harus tegar, jika saja malaikat pencabut nyawa memberinya surat keterangan kematian Hyumin.

“Arrasseo, chagiya. Terimakasih sudah membuatku tersenyum”

“Tentu. Memang harus seperti itu. Berjuanglah !”

Minwoo berjalan menjauh dari Hyumi. Hyumi yang menyadari itu hanya mengerutkan dahinya tak mengerti. Apa yang dilakukan Minwoo ? tanyanya pada dirinya sendiri. Ia melihat Minwoo tiba-tiba berjongkok di tepi pagar pembatas bukit. Tak begitu lama, Minwoo sudah berjalan lagi ke arah Hyumi.

“Apa yang kau lakukan ?” tanya Hyumi saat Minwoo sudah berada di depannya dengan kedua tangan yang berada di belakang tubuhnya.

“Untukmu, Hyumi~ya” Hyumi tersenyum. Merasa senang.

Sakura. Satu bunga sakura pink blossom yang tertiup angin hingga rontok dari dahannya berhasil di dapat Minwoo. Walaupun bukan yang baru, tapi bunga itu mampu membuat Hyumi tersenyum.

“Kau suka ?”

“Ne. Gomawo. Sudah lama aku tidak menyentuh bunga ini” jawab Hyumi sambil memegangi kelopak bunga sakura yang baru saja diambilnya dari tangan Minwoo.

“Sudah mulai gelap. Kajja kita kembali. Kau harus istirahat” Minwoo telah bersiap siaga untuk kembali mendorong kursi roda Hyumi. Namun, saat hendak berbelok, Hyumi menahan tangan Minwoo.

“Waekurae, Chagi ?” tanya Minwoo bingung. Ia hanya melihat Hyumi yang mendongakkan kepala ke arahnya.

“Apakah besok aku akan berangkat ke Amerika ?” tanya Hyumi dengan wajah yang memperlihatkan sebuah harapan untuk tidak diberangkatkan besok.

Minwoo tersenyum lembut. “Secepatnya lebih baik, bukan?”

Hyumi menghela nafas panjangnya. Lalu mengangguk tanda mengerti.

“Gomawo Minwoo~ya, karena selama ini kau telah setia menerima kekuranganku. Kukira kau malu memiliki kekasih lumpuh dan penyakitan ini” ucap Hyumi dengan leganya. Ia bahagia pilihan hatinya sangatlah tepat. ‘Terimakasih Tuhan’ lontarnya dalam hati. Ia mengalihkan pandangannya pada sakura yang ia pegang.

“Saranghaeyo~” ucap Minwoo tiba-tiba. Hyumi sedikit terkejut mendegarnya. Ia menengadahkan kepalanya lagi pada Minwoo. Minwoo malah tersenyum.

“MWO ??”

“Karena aku mencintaimu. Ya ! aku mencintai kekuranganmu. ‘HANYA KAU’. Saranghaeyo, Hyumi~ya”

Senyum manis terukir di bibir Hyumi. Dengan rasa senang..ia berkata…

“Nado saranghae, Minwoo~ya”

Minwoo lalu mendorong kursi roda itu. Membawa Hyumi ke kamar inapnya.

Minwoo’s POV

Kau tahu, aku tak pernah berhenti menyayanginya. Biarpun ia lumpuh, ia memiliki penyakit. Tapi, buktinya hanya dialah yang aku cintai. Untuk kisah selanjutnya, hanya aku dan dia yang tahu. Minwoo ~ Hyumi. Ppay.

“Tuhan, sembuhkan Hyumi-ku”

Minwoo’s POV end

THE END

-ooo-

Gomawo yang udah baca, yah. Mohon RCLnya. Dan maaf kalau gak kena feelnya. Karena, ini aja buatnya uring-uringan. Thank untuk Minwoo dan Hyumi.

Semoga gak bosen ama FF author VMH🙂

Sampai jumpa di FF ‘Music and Love’. #bowumHyu

This entry was posted by boyfriendindo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: