[FANFICT/FREELANCE] Rain on Tuesday

Picture1

Title 
: Rain on Tuesday
Author : Hyeri Charenrique
Genre : Romance dan Friendship
Rating : T
Type : One Shoot
Main Casts 
: ~ Im Yoon Ah

  ~ No Minwoo

Warning: Typo(s), Bahasa & cerita yang berantakan

 

Hujan itu mengingatkanku pada dirimu

Hujan itu juga mengingatkanku pada kejadian waktu itu

Kejadian yang memisahkan kita berdua

Yang kukira akan memisahkan kita untuk selamanya

Ternyata, hujan itu membuat kita berbahagia selama-lamanya

===========================================================================

Kringggg….

Bel di SMU paling terkenal di Korea Selatan itu berbunyi, tandanya semua murid-murid di SMU itu harus pulang jika tidak ada kegiatan ektrakulikuler. Yeoja cantik ini masih diam di kelasnya, membereskan kelas. Sendirian.

Teman-teman sekelasnya tak peduli padanya. Teman-teman sekelasnya tak pernah peduli dengan kelas mereka yang kotor. Sedangkan seongsaenim-seongsaenim di SMU tersebut sudah sering menegur teman-teman sekelasnya untuk membantu yeoja ini membereskan kelas, tetapi tetap saja tidak menggubrisnya.

Setiap pulang sekolah, ia harus membereskan kelas yang sangat kotor ini sendirian. Sampai-sampai, ia selalu pulang terlambat ke rumahnya. Yeoja ini tidak pernah mengeluh tentang hal ini. Bahkan, jika ditanya oleh orang tuanya, mengapa ia pulang terlambat, ia selalu berbohong.

“Akhirnya selesai juga.” Ucapnya setelah menyimpan sapu yang ia pakai untuk menyapu kelasnya. Ia pun keluar dari kelasnya sambil tersenyum.

“Hei, Yoona! Kau selalu mencari perhatian seongsaaenim-seongsaenim disini dengan cara membereskan kelas!”

“Ne! Kau yang membuat kami selalu ditegur oleh seongsaenim-seongsaenim, karena tidak pernah membantumu!”

“Kau hanya haksaeng miskin yang mendapat beasiswa dari sekolahmu dulu!”

“Derajat kami lebih tinggi dibandingkan dirimu!”

Gadis cantik tersebut, Im Yoon Ah, dicegat oleh genk popular di SMU tersebut. Genk tersebut bernama Sistar, yang beranggotakan 4 orang yeoja-yeoja cantik. Mereka terus mencaci maki Yoona tanpa berhenti. Yoona hanya menunduk saat ia dicaci maki oleh genk yang diketuai oleh Bora tersebut.

“Ada apa ini?! Apa kalian mencaci maki Yoona lagi?!”

Tiba-tiba, seorang seongsaenim datang dan melihat kejadian itu.

“Ti.. tidak..” jawab salah satu anggota Sistar gugup, Hyorin.

“Seongsaenim melihat semuanya. Seharusnya kalian malu. Ya, mungkin kalian lebih kaya dari Yoona, tapi hati kalian seperti sampah yang tidak ada harganya sama sekali.” Seongsaenim tersebut pun pergi dengan dinginnya.

“Yoona! Lihat saja nanti! Kami tidak akan segan untuk melakukan ini lagi. Bahkan kami berani untuk membunuhmu!”

Setelah Bora mengatakan itu, mereka berempat pun pergi. Air mata Yoona hampir jatuh, tapi ia sudah bertekad untuk tetap kuat dan tabah.

“Yoona kuat! Yoona kuat!” gumam Yoona menyemangati dirinya sendiri. Yoona pun pergi menuju halte bus. Tempat yang biasa ia menunggu bis untuk pulang ke rumahnya.

-Yoona POV-

Aku menaiki bus yang ada di hadapanku. Aku mencari tempat yang kosong. Dan akhirnya aku menemukannya. Aku pun segera duduk di samping jendela, supaya bisa melihat pemandangan untuk menenangkan hatiku.

Dresssssssss..

Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Membuatku segera menutup jendela yang ada di sebelahku.

“Hujan.” Batinku.

“Hujan ini mengingatkanku padamu.” Batinku lagi, seraya tersenyum.

“Hari apa ini? Hari Selasa. Hari yang sama dimana kejadian itu terjadi.”

# Flashback On #

Dressssss..

Hujan turun semakin deras. Membuatku harus berteduh di toko bunga yang hari ini tutup. Aku kedinginan. Aku tak membawa jas hujan maupun payung, bahkan jaket pun tak kubawa, karena kukira hari ini takkan turun hujan sederas ini.

Aku menghela nafas, banyak uap yang keluar dari bibirku. Mungkin karena aku kedinginan. Aku mulai menggosokkan kedua telapak tanganku.

Kulihat sekeliling dengan masih menggosokkan kedua telapak tanganku. Banyak orang yang berlalu lalang menggunakan payung dan jas hujan masing-masing. Hingga aku pun mengingat seseorang yang aku sukai sejak lama. Dia mengenalku, begitu pun sebaliknya. Bahkan orang tua kami sangat dekat. Aku sangat ingin bertemu dengannya.

Lamunanku buyar ketika aku mendengar langkah kaki yang mendekat ke arahku, seperti orang berlari. Saat ia sampai di sebelahku, kulihat wajahnya, ternyata ia adalah…

“Minwoo~ya. Apakah benar kau No Minwoo? Kau makin tampan saja. Sudah lama aku tak melihat dirimu. Apa kabarmu? Aku selalu menunggumu.” Ucapku padanya dalam hati, seraya menundukan kepala, karena aku tak ingin ia mengenaliku. Tapi perkiraanku salah. Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang hangat di punggungku, ternyata ia memakaikan jaketnya padaku.

“Yoona! Kau ini! Selalu saja tak membawa jaket atau payung atau jas hujan! Menyusahkan saja.” Ucapnya sedikit membentak.

“Mianhae, Minwoo~ya. Gomawoyo.”

“Baiklah, akan kumaafkan dirimu. Gomawo? Untuk apa?”

“Jaket ini.” Ucapku seraya menunjuk jaket Minwoo yang kupakai. “Dan perhatianmu.”

“Cheonmanayo, Yoona~ssi.” dia menjawabku seraya mengacak-acak rambutku.

“Sifatmu tak berubah dari dulu.” Gumamku.

“Kau bicara apa? Kau merindukanku?”

“Aku tidak bilang apa-apa.”

“Jangan berbohong.”

“Aku bilang aku tak bicara apa-apa!”

Suasana pun hening. Aku menatap jalanan. Dan kurasa ia menatap wajahku yang kesal padanya.

“Yoona~ssi. Sudah lama kita tidak bertemu. Kau makin cantik saja. Aku sangat merindukanmu. Apakah kau sudah memiliki namjachingu?”

“Mi.. Minwoo~ya. Ternyata kau merasakan apa yang kurasakan.” Jawabku seraya menatapnya dan kembali menatap jalanan. “Namjachingu? Aku masih menunggu seseorang.”

“Apakah itu Kwangmin?”

“Hey! Apa yang kau bicarakan! Aku sudah tak menyukainya lagi!”

“Lalu siapa namja itu?”

“Namja itu baik, menyenangkan, tidak pelit, walaupun baik, kadang ia menyebalkan. Ia juga lumayan dekat denganku. Bahkan orang tua kami sangat dekat. Tapi, kami berpisah saat lulus SMP. Namja tersebut bernama…”

Aku menggantung perkataanku. Ingin membuat Minwoo penasaran.

“Bernama No Minwoo.”

Minwoo terlihat kaget saat aku bicara itu padanya. Aku pun menatap matanya yang ternyata menatap mataku juga. Senyumku masih terpajang di wajahku. Setelah beberapa detik menatapnya, aku pun menunduk.

“Ja.. Jadi selama ini, kau menungguku?” tanyanya. “Mianhae, Yoona~ya. Aku tak mengetahui semua itu. Jika aku tau, aku takkan berpacaran dengan Park Sung Mi. Mianhae, Im Yoon Ah.”

“Tak apa-apa, Minwoo. Aku akan menunggumu sampai kapanpun. Tapi jangan pernah memutuskan hub…..”

Ucapanku terputus ketika sesuatu yang hangat dan lembab menyentuh bibirku. Kudapatkan bibirku bersentuhan dengan bibir Minwoo. Apakah ini ciuman? Pikirku. Sepertinya, iya. Aku memejamkan mata, seolah ingin menikmati ciuman hangat ini. Semakin lama, Minwoo semakin melumatnya, tapi dengan penuh kasih sayang. Aku pun bisa merasakan apa yang ia rasakan padaku. Ia juga menyukaiku, seperti aku menyukai dirinya.

“Minwoo~ya. Apa yang kau lakukan dengan yeoja itu?”

Minwoo pun langsung melepas bibirnya yang bersentuhan dengan bibirku. Dan ia melihat orang yang menegurnya, ternyata ia yeojachingu-nya, Park Sung Mi. Minwoo dan aku mulai gugup. Kami tak tahu harus menjelaskan apa yang ia lihat. Ini bukan salah paham. Ini bukan salah Minwoo. Ini semua salahku.

“Sung Mi, aku bisa menjelaskan semuanya.” Ucap Minwoo.

“Sudahlah, Minwoo. Aku melihat apa yang kau lakukan dengannya. Lebih baik kita akhiri hubungan kita saja.”

“Baiklah, jika itu untuk kebaikan kita, aku rela. Dan jujur, aku lebih mencintai Im Yoon Ah, dibandingkan Park Sung Mi.” ucap Minwoo tegas seraya merangkulku yang menunduk bersalah.

“Aku menyesal, Minwoo! Aku sangat menyesal!” setelah mengucapkan kata-kata itu, Park Sung Mi pergi dari tempat ia melihat kami dengan menatapku tajam. Dan hujan masih lumayan deras, tapi aku bertekad untuk pulang. Aku merasa bersalah pada mereka berdua.

“Minwoo~ya, ini jaketmu. Aku akan pulang sekarang.” Ucapku seraya memberikan jaket yang Minwoo kenakan padaku.

“Tapi, hujannya masih lumayan deras, Yoona.”

“Hujannya tidak sederas tadi. Aku takut orang tuaku mencariku. Kau tahu kan, bagaimana sikap orang tuaku padaku?” aku segera beranjak pergi dari tempatku berdiri tadi, tapi aku merasakan sentuhan hangat di pergelangan tanganku. Ternyata itu genggaman tangan Minwoo. Aku merasakan tanganku ditarik olehnya, dan aku merasakan kehangatan di tubuhku. Ia memelukku. Kurasakan kehangatan yang sudah lama tak kurasakan darinya.

“Aku merindukan kehangatan pelukanmu, Minwoo~ya.” Ucapku seraya membalas pelukan Minwoo.

“Aku juga, Yoona~ya. Saranghaeyo, Im Yoon Ah.”

“Ss.. Saranghaeyo, No Minwoo.”

-Minwoo POV-

“Aku merindukan kehangatan pelukanmu, Minwoo~ya.” Ucapnya seraya membalas pelukanku.

“Aku juga, Yoona~ya. Saranghaeyo, Im Yoon Ah~ssi.”

“Ss.. Saranghaeyo, No Minwoo~ya.”

Aku merindukan suaranya yang lembut. Aku merindukan semua tentangnya.

Terus kupeluk dirinya semakin erat, seakan aku tak ingin kehilangannya. Apakah dengan kata-kata ‘Saranghaeyo’ kami sudah berpacaran?

“Jadi kita sudah berpacaran?” tanyaku spontan. Aku merasakan anggukan darinya di dadaku. Aku sangat senang. Rasanya aku ingin mencium bibir mungilnya sekali lagi, sekali lagi, dan terus tak berhenti.

Aku melepas pelukan yang kami lakukan cukup lama. Aku memegang leher belakang dan kepala belakangnya. Sedangkan dia memegang pinggang dan lengan bajuku, seakan ia tahu apa yang akan kulakukan padanya.

“Mulai hari ini, aku akan mengatar-jemputmu ke SMU tempatmu bersekolah. Dan setiap bertemu dan setiap berpisah akan kuucapkan ‘Saranghaeyo Yoona~ya’ dan akan melakukan hal yang spontan tanpa kau ketahui. Kau tak boleh bosan.” Ucapku panjang lebar. Ia hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

Setelah ia selesai menggangguk, aku mendekatkan bibirku ke bibirnya. Seakan tau apa yang akan kulakukan, ia memejamkan matanya. Aku pun ikut memejamkan mata. Aku semakin melumatnya, tentunya dengan perasaan. Dan semakin aku melumatnya, kurasakan ia semakin erat menggenggam lengan bajuku.

Aku tahu kami masih anak SMU. Dan banyak orang yang berlalu lalang menyaksikan hal ini, tapi aku bersikap santai. Im Yoon Ah adalah anugerah yang besar bagiku, selain keluargaku. Perlahan, kami mulai melepaskan ciuman ini.

-Yoona POV-

Dua kali ia melakukan ini padaku. Tapi aku tak berani memberontak. Orang yang melakukan hal ini padaku adalah orang yang kusukai dari dulu. Sepertinya banyak orang berlalu lalang yang memperhatikan kami. Dan sepertinya aku tak merasa malu. No Minwoo adalah anugerah yang besar bagiku, selain keluargaku. Perlahan, kami mulai melepas ciuman ini.

Setelah lepas, aku dan Minwoo bertatapan. Posisi tangan masih seperti tadi. Perlahan-lahan, aku melepas genggamanku dari lengan baju dan pinggangnya, karena ia juga melepas tangannya dari leher belakang dan kepala belakangku. Setelah itu, ia mengenakan jaketnya kepadaku lagi.

Aku menatapnya lagi, dan melihat jalan di seberangku. Tanpa kusangka, ternyata ada mobil Appaku di seberang sana. Appa melambaikan tangannya padaku.

“Minwoo~ya. Apa kau mau pulang bersamaku? Appaku ternyata mencariku, dan akhirnya menemukanku disini.”

“Tak usah, Yoona~ssi. Aku akan menelpon supirku untuk menjemputku disini.”

“Baiklah. Aku pulang terlebih dahulu.” Pamitku seraya mulai berjalan perlahan.

“Tunggu.” Tahannya. Ia mengecup keningku selama beberapa detik. Lalu melepasnya dan melambaikan tangan padaku yang berjalan mundur menuju jalan seraya melambaikan tangan padanya juga. Aku terus berjalan mundur, hingga aku merasakan tubuhku melayang. Kurasakan pelukan hangat dari Minwoo. Kulihat dihadapanku ternyata Minwoo memang memelukku, tetapi sekujur tubuhnya dipenuhi oleh darah. Kulihat sekelilingku, banyak orang mengerumuni kami berdua. Ada apa ini? Aku tak ingat apapun. Aku melihat Minwoo sekali lagi, kemudian semuanya gelap.

===========================================================================

Kubuka mataku perlahan. Samar-samar aku bisa melihat ruangan putih ini. Terhirup aroma obat-obatan dari seluruh ruangan.

“Ah.. Ini dimana? Apa yang terjadi? Minwoo dimana?” tanyaku bertubi-tubi seraya mencoba untuk bangun dari tidurku.

“Yoona, kau sudah sadar. Kau tidak boleh duduk dulu. Kau harus istirahat.” Ucapnya, Eommaku, seraya mendorongku perlahan untuk tidur kembali.

“Eomma, Ini dimana? Apa yang terjadi? Minwoo dimana?”

“Kau berada di rumah sakit. Kau mengalami kecelakaan saat akan menyeberang ke tempat Appamu parkir mobilnya. Dan saat kau menyebrang seraya melambaikan tangan pada Minwoo, kau hampir tertabrak oleh mobil tersebut, Minwoo menolongmu. Dan sekarang, Minwoo……”

“Minwoo kenapa? Apa jangan-jangan, Minwoo…” ucapanku terputus, air mataku mulai berkumpul di pelupuk mataku.

“Kau harus tabah. Eomma tahu semuanya. Minwoo yang merelakan nyawanya demi dirimu. Minwoo mencintaimu, Yoona~ya. Dia selalu bercerita pada Eommanya, dan Eommanya selalu bercerita pada Eomma. Dan Eomma juga tahu, kau juga mencintainya. Tapi ini semua takdir.”

Mendengar kata-kata Eomma, aku mulai meneteskan air mataku.

“Minwoo tewas seketika saat kecelakaan itu. Dia melindungimu dengan tubuhnya. Jadi tubuhnya lah yang terkena bagian depan yang hampir menabrakmu tempo hari. Tulangnya banyak yang patah. Dan kepalanya bocor akibat benturan yang hebat karena kau dan Minwoo terpental sejauh 1 meter. Ia melindungi kepalamu dengan telapak tangannya yang cukup untuk menutupi kepala belakangmu. Dia memelukmu sangat erat. Bahkan, saat ambulance datang untuk membawamu dan Minwoo ke rumah sakit, kalian tak bisa dipisahkan. Seolah ada lem yang menempelkan kalian berdua.” Eomma menjelaskan panjang lebar. Sementara aku, semakin menangis dan tak sanggup mendengar penjelasan eomma lagi.

“Selang beberapa jam setelah ia selesai di otopsi oleh pihak rumah sakit ini, keluarganya segera membawanya pulang, dan memakamkannya keesokkan harinya.”

Aku terus meneteskan air mata. Perasaanku bercampur aduk. Marah, pada diri sendiri. Sedih, karena orang yang kucintai mati karena aku. Kecewa, tentunya pada diriku sendiri juga. Rasanya, aku ingin menyusulnya kesana. Minwoo~ya, mengapa kau pergi begitu cepat?

“Eomma, aku ingin pergi ke makam Minwoo.”

“Baiklah. Tapi nanti setelah kau boleh diizinkan pulang oleh dokter.”

“Ani! Aku ingin kesana besok pagi!”

“Jika itu maumu, akan eomma turuti. Tapi, eomma harus minta izin pada dokter dulu. Eomma akan ke ruang dokter sekarang. Kau istirahat, dan jangan terlalu dipikirkan.”

Aku tak bisa berkata-kata. Aku hanya menjawab dengan anggukan. Eomma-ku pun keluar dari ruanganku menuju ke ruang dokter. Aku mencoba memejamkan mata untuk tidur, tapi aku tak bisa tidur. Karena tak bisa tidur, aku mencari handphone-ku. Ternyata handphone-ku ada di meja sebelah tempat tidurku berbaring. Aku membuka games favoritku, Pou.

“Oh, Pou, kukira kau mati karena aku tak memberimu makan, minum, bermain denganmu, memberimu potion untuk energy dan kesehatanmu, tapi ternyata ada yang masih memperhatikanmu, Pou. Sepertinya, eomma. Atau mungkin, appa.”

Lama-kelamaan, aku mulai merasa mengantuk. Tapi, eomma-ku belum kunjung kembali lagi. Aku pun terlelap. Dan terlelap.

===========================================================================

“Minwoo? Apakah itu kau?”

Tak  ada jawaban.

“Minwoo~ya! Apakah kau benar-benar Minwoo?”

Namja yang kupanggil akhirnya berbalik. Ternyata dia memang No Minwoo.

“Minwoo~ya, kau belum mati? Kata eomma, kau sudah mati.” Ucapku spontan.

“Yoona, dengarkan aku. Sekarang, aku dan kau sudah berbeda dunia.” Jawabnya dengan senyuman ‘paksa’. “Aku mohon jangan menangisi aku. Jika kau menangis, hatiku akan ikut menangis. Dan semoga kau mendapat penggantiku yang lebih baik dariku. Aku sangat mencintaimu, Yoona~ssi. Neomu neomu neomu saranghaeyo.”

Air mataku sudah terbendung di pelupuk mataku. “Jika kau berkata begitu, aku akan semakin susah untuk tak menangis.” Aku merasakan sesuatu cairan yang hangat menetes di pipiku. Air mataku.

“Kau jangan menangis. Kumohon.” Ucap Minwoo seraya menghapus air mataku dengan ibu jarinya. Bukannya berhenti menangis, tapi semakin ia mengusap air mataku, semakin banyak air mata jatuh dari mataku.

“Aku tak bis……..”

Ucapanku terhenti, sepertinya kejadian ini pernah terjadi. Ini seperti de javu. Sesuatu yang hangat dan lembab menyentuh bibirku, dan benar dugaanku. Ia mencium bibirku seperti yang ia lakukan saat hujan pada tempo hari. Aku memejamkan mataku, seperti Minwoo yang memejamkan matanya terlebih dahulu. Ia terus melumatnya dengan kasih sayang. Aku semakin erat menggenggam lengan jaket yang dipakai Minwoo. Setelah beberapa detik kemudian, ia melepaskannya perlahan. Ia menatapku, begitupun aku, aku menatapnya juga.

“Yoona, kau harus ingat perkataanku tadi. Janji?”

Aku mengangguk.

“Baiklah, kau sudah berjanji. Kau tak boleh mengingkarinya. Jika kau mengingkarinya, aku tak segan-segan untuk datang ke mimpimu setiap kau tidur.” Ujarnya lalu pergi menjauh dariku. Aku mencoba mengejarnya, tapi ia semakin jauh dan jauh. Sampai aku tak sanggup lagi mengejarnya, ia telah hilang dengan cahaya yang mengiringi kepergiannya.

===========================================================================

“Minwoo~ya, kau masih mengingatkanku kan? Dan aku kesini untuk menengokmu. Aku juga ditemani eomma-ku.” Ucapku.

“Ne, Minwoo. Im-Eomma disini menemani yeojachingu-mu yang keras kepala ini. Hehe.”

“Minwoo~ya, seharusnya kau tak menolongku saat aku hampir tertabrak waktu itu. Kau memang bodoh! Seharusnya, kau biarkan aku tertabrak waktu itu. Aku jadi merasa bersalah padamu, Minwoo~ya. Rasanya aku ingin menyusulmu kesana. Jika suatu saat aku menyusulmu kesana, aku ingin makamku berada di samping makammu.” Ucapku pada Minwoo yang jelas-jelas sudah berada di alam sana. “Aku percaya, Minwoo. kau pasti mendengar perkataanku ini. Aku jadi ingat mimpiku semalam. Tadi malam, kau datang ke mimpiku, kan? Kau bilang, aku tak boleh menangis, aku harus mencari namja yang lebih baik darimu, dan bla bla bla. Lalu kau juga berkata, jika aku mengingkari janji-janji itu, kau tak segan-segan untuk mampir ke mimpiku. Haha, kau lucu sekali, Minwoo.” air mataku mulai menetes. Aku langsung menghapus air mata yang sudah menetes sampai dagu, saat aku sadar bahwa aku menangis. “Gomawo, Minwoo~ya. Gomawoyo, kau telah menolongku saat kecelakaan waktu itu. Mianhaeyo, karena aku yang ceroboh, kau jadi begini. Saranghaeyo, Minwoo~ya.”

Aku mendengar eomma yang sesegukan, sepertinya eomma ikut menangis saat aku bicara itu pada Minwoo, namjachingu-ku. Saat aku menengok pada eomma, eomma langsung menghapus air matanya yang menetes. Jaim.

“Minwoo~ya. Eomma dan aku pulang sekarang, okay? Jangan menangis disana. Semoga kau bahagia dan tenang disana. Baiklah, aku pulang dulu. Neomu saranghaeyo.”

# Flashback Off #

Tanpa kusadari, air mataku menetes saat mengingat kejadian itu. Aku menghapus air mataku saat sadar, ada seorang yeoja yang duduk di sampingku. Dan aku melihat keluar jendela bis, ternyata hujannya masih deras.

“Aku akan pergi ke tempat itu lagi. Ya, mungkin aku akan kesana sekarang. Aku akan menelepon eomma terlebih dahulu.” Batinku.

Kucari telepon genggamku di tas sekolahku. Setelah handphone-ku ketemu, aku segera menghubungi nomor telepon eomma. Tak lama kemudian, terdengar suara eomma dari seberang sana.

“…”

“Eomma, ini aku, Yoona. Aku ingin ke tempat itu sebentar ya, eomma.”

“…”

“Kumohon, eomma. Aku hanya ingin mengenang saja.”

“…”

“Eomma kan tahu, aku tak pernah bisa melupakannya.”

“…”

“Ah, benarkah? Gomawo eomma. Aku tak akan lama disana.”

“…”

“Ne, saranghaeyo, eomma.”

Aku segera menyimpan handphone-ku di tas, setelah selesai menelepon eomma-ku. Aku mencoba melirik ke yeoja di sebelahku, sepertinya saat aku berteleponan dengan eomma-ku, ia memperhatikan apa yang aku bicarakan dengan eomma. Ah, aku tak menghiraukannya. Lagipula, yang aku bicarakan dengan eomma tak penting.

Kuperhatikan jalanan, kurasa ini sudah dekat dengan tempat itu. Aku akan berhenti di halte terdekat. Aku terus memperhatikan jalanan, sampai aku sadar bahwa ini sudah sampai di halte terdekat dengan tempat itu. Aku segera turun, bersama orang-orang yang turun di halte ini juga.

“Ah, aku merindukan tempat ini. Minwoo~ya, apa kau merindukan tempat ini juga? Tempat kita bertemu setelah beberapa tahun tak bertemu, dan tempat yang menjadi saksi kepergianmu dari dunia ini.” Gumamku setelah sampai di tempat itu, toko bunga yang tutup setiap hari Selasa. Aku kesini untuk mengenang kejadian itu dan untuk berteduh. “Aku sangat merindukanmu. Apakah kau juga merindukanku?” gumamku lagi. Kebetulan, orang yang berteduh di toko ini tak pernah banyak. Biasanya, hanya ada satu sampai dua orang saja.

Setelah beberapa mengenang kejadian yang menyenangkan dan menyakitkan tersebut, hujan pun perlahan-lahan berhenti. Aku berpikir untuk pulang, dan aku harus menyeberang untuk pulang.

Aku melihat ke kanan-kiri sebelum menyeberang. Saat sudah aman, aku pun menyeberang. Tapi, tiba-tiba semuanya terjadi. Ini semua diluar dugaanku. Yang terakhir kulihat adalah orang-orang yang mengerumuniku dengan wajah panik.

“Ada apa ini? Kejadian ini…”

Semuanya pun mulai buyar, dan lama-kelamaan menghilang. Sampai akhirnya, ada suatu cahaya yang menghampiriku. Semakin dekat. Semakin dekat. Dan sampai di hadapanku. Kuperhatikan wajahnya dengan teliti. Dia mirip Minwoo.

“Yoona~ssi, kau masih mengingatku tidak? Sepertinya kau masih sangat mengingatku ya.”

“Minwoo~ya?” tanyaku dengan wajah yang polos.

“Kau masih sama seperti dulu. Bahkan, aku telah menyuruhmu untuk mencari penggantiku, tapi kau tak menurutinya.”

“Aku tak bisa. Di SMU, tak ada orang yang menyukaiku. Semuanya membenciku. Katanya, aku hanya masuk ke SMU elite karena beasiswa dari SMP-ku. Sementara, siswa yang lain membayar mahal untuk masuk SMU itu.”

“Sudahlah. Tapi aku tahu semuanya. Aku selalu memantaumu. Dan sekarang, kita akan berbahagia selamanya, di surga.”

“Jadi, aku benar-benar mati?”

Minwoo pun mengangguk. Sepertinya sengan berat hati.

“Bagaimana dengan eomma? Appa? Aku ingin melihat mereka.”

“Aku sudah melihat mereka. Mereka sangat sedih. Tapi, mereka bilang, mereka akan menutupi kesedihan mereka dibalik senyuman mereka. Dan mereka juga akan memakamkanmu di sebelah makamku. Kita akan bahagia selamanya. Tak akan ada yang mengganggu kebahagiaan kita. Ayo, kita ke tempat tinggal barumu. Ke surga.”

Ia menarik tanganku. Kami berdua terbang. Semakin tinggi dan terus semakin tinggi. Dan sampailah kami di tempat aku dan Minwoo akan berbahagia. Surga.

“Hujan itu mengingatkanku pada dirimu. Hujan itu juga mengingatkanku pada kejadian waktu itu. Hujan yang memisahkan kita berdua. Dan kukira akan memisahkan kita untuk selamanya. Ternyata, hujan itu juga membuat kita berbahagia selama-lamanya.” Ucapku dalam hati tentunya.

# The End #

Disclaimer   : Aaaaaaa!! Cerita yang aneh!! *nangisnangissambilmelukminwoo* *digebukinillu* Mian kalau sedikit menggelitik hati dan pikiran. Mian kalau bahasanya aneh. Hyeri beru pertama kali coba bikin cerita T^T Dikasih komen yaa. Kalau ada typo(s) juga mian. Mian juga kalau jalan ceritanya ngga masuk akal. Mian juga udah banyak banget bilang mian:’( Sekali lagi mian untuk kesalahan-kesalahannya dan gomawo udah baca+komen+like:’) Aku sangat berterimakasih jika ada yang mengomen cerita ini:”) Oh, iya, FF ini pernah di publish di blog pribadi hyeri:D Pokoknya NO PLAGIARISM!! Kalau ada cerita yang sama/mirip kayak gini, tolong laporkan pada pihak berwajib/? Kalau jalan cerita yang Hyeri bikin mirip/sama dengan karya seseorang, Hyeri NGGAK PLAGIAT ya! Ini ide MURNI dari otak Hyeri sendiri!!!! *hyerinapsu* *digebukinreaders* *hyeridiobatinminwoo* *didemoillu* *hyerikabur*

Gomawoyo!!<3<3<3

Saranghae readers!!!!!<3<3<3

This entry was posted by boyfriendindo.

2 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] Rain on Tuesday

  1. Kereeeeennnn!!😄 authornya mana sihh.. sini sini aku peluukkk😀 ceritanya bagusss bangeeeettttt!! sumpaahh beneran, nyentuh bangeett😉 Authornya hebatt niihh ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: