[FANFICT] Go Back (Sequel One Day)

Title  : Go Back (Sequel One Day)
Author : Diah~
Genre         : Friendship, Romance
Rating          : G
Type   : One Shoot, Sequel
Main Casts      
: ~ Lee Seya

  ~ No Minwoo

Other Cast
: ~ Jo Kwangmin

~ Jo Youngmin

~ Shim Jahye

Enjoying this fanfiction while listening to Go Back by Boyfriend ^^

~Happy reading~

Author’s POV

Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan

“Omma! Ne. Baru saja landing beberapa menit yang lalu. Ini lagi menunggu barang-barang. Mmmm…” Senyum tidak berhenti terukir di wajah cantik seorang gadis. Tanah kelahiran yang dirindukan.

“Seoul, here I am” Seya berkata sendiri. Hampir 6 tahun berpisah dari negara tercinta nya ini membuat dia merasa bersalah. Kenapa dulu aku tidak bersikeras saja untuk tidak ikut ke Taiwan ? Pikir nya. Lalu dia pun menjawab dengan gelengan.

“Apa lah anak umur 18 tahun dahulu.” Dia menertawai dirinya sendiri.

Kuliah yang sudah diselesaikannya dalam 4 tahun dan sekarang bergelar sarjana. Bekerja dan menghidupi kebutuhan sendiri, itulah pilihan Seya. Meskipun berkali-kali ayahnya menawarkan pekerjaan, dia selalu menolak dengan lembut. Lulusan Per-filman tidak cocok bekerja di sebuah perusahaan saham.

Yobuseo…” Seya menelpon seseorang. Dia berjanji akan menelponnya ketika sampai di Seoul.

“Reuni ? Aku bahkan tidak mengenal beberapa teman-teman di kelas tiga mu dulu.” Ujar Seya dengan temannya di seberang.

Mayoritas dari teman kita di kelas sebelum kamu pindah, juga teman ku di kelas tiga. Jadi ayolah!” kata Jahye.

“Begitukah ? Baiklah tapi aku letakkan barang-barang ku dulu di rumah.” Seya sangat ingin bertemu dengan Jahye. Meskipun dia sedikit ragu karena juga diajak untuk mengikuti acara reuni.

Seya pindah sebelum mengikuti ujian kenaikan kelas tiga nya di sekolah dulu. Jadi dia merasa khawatir akan menjadi canggung kalau bertemu dengan anak-anak SMA nya yang tidak dia kenal.

=======================================

Sebuah pertemuan yang terlihat menyenangkan akan tergelar di Equator Café. Beberapa kursi dan meja panjang yang dipenuhi oleh makanan disiapkan oleh pemiliknya.

“Youngmin!” Minwoo mengagetkan Youngmin yang sedang sibuk dengan hidangannya.

“Euy kau ! Kemana saja selama sebulan tanpa kabar ha!!” Youngmin memukul kepala Minwoo.

“Hahaha Mian. Yang lain belum datang ?” Tanya Minwoo.

“Ah. Itu mereka. Huwaaa~ Kalian beramai-ramai kemari.” Youngmin menyambut teman-temannya.

“Tadi tidak sengaja bertemu di depan. Wow cafému semakin bagus saja Youngmin-na” Jahye memukul pelan lengan Youngmin dengan maksud memuji.

“Sang Dancer sudah tiba ternyata.” Lanjut menjahili Minwoo.

Seperti yang sudah diperkirakan, tentu saja pertemuan reuni ini akan menyenangkan. Youngmin sengaja menutup café nya hanya untuk acara penting ini. Walaupun semuanya tidak bisa hadir tapi mereka sangat menikmati segala jamuan dari Youngmin.

“Nah …. Ini dia.” Youngmin membawa sebuah talam besar yang dipenuhi dengan gelas-gelas bir. Yang lain menyambut dengan sorak-sorai.

“Sudah ku katakan. Tanpa bir, pertemuan ini akan hampa.” Kata Toni yang lalu disambut dengan tawa oleh lainnya.

Clingclingcling

Sebuah bel yang menandakan pintu masuk terbuka, menarik perhatian para orang yang sedang menikmati pesta. Youngmin dengan gesit menghampiri seseorang yang baru saja masuk.

“Maaf agashi. Malam ini kami sedang tutup.” Kata Youngmin dengan sopan.

“Oh?!”

“Seya !! Akhirnya kamu datang.” Jahye mendekati Youngmin dan Seya. Dan lalu menarik Seya ke hadapan para orang.

Melihat ekspresi para temannya yang bingung, lalu Jahye mulai bertanya “Kalian lupa dengan Seya ?”

“Lee Seya! Yang dulu di kelas 2B. Sebelum ujian kenaikan kelas, dia pindah ke Taiwan.” Jahye menjelaskan kepada yang lain.

Minwoo sangat kenal dengan sosok Seya. Dia hanya bisa duduk terdiam karena terlalu terkejut. Yang selama ini dia tunggu, hadir.

“Ahhh!!! Yang dulu suka sekali membawa kamera.” Toni yang dahulunya juga teman sekelas Seya menimpali. Seya mendengar dengan malu perkataan Toni. Dia masih belum sadar kalau Minwoo ada di antara kerumunan teman-temannya saat ini.

“Ini kursimu Seya-shi. Maaf tadi aku kira kamu pengunjung.” Youngmin datang membawa sebuah kursi dan segelas minuman.

“Tidak apa-apa. Maaf sudah mengganggu acara kalian.” Seya menunduk pelan.

“Kamu kelas 2B ? Berarti sekelas juga dengannya. No Minwoo kenapa kamu tidak menyambut Seya ?” Youngmin berkata kepada Minwoo yang sedang meneguk isi dari gelas bir nya.

Seya melihat ke seorang namja yang dimaksud oleh Youngmin. Selama 6 tahun akhir nya mereka saling menatap lagi.

=======================================

“Maafkan aku.” Jahye berkali-kali meminta maaf kepada Seya.

Gwenchana. Seharusnya kamu bilang dari awal kalau Minwoo juga akan hadir.” Seya berkata dengan Jahye.

No Minwoo, orang yang paling tidak ingin dia jumpai. Dia tidak mengira kalau mereka akan bertemu lagi secepat ini, padahal Seya baru saja sampai di Seoul.

Seya sudah lelah dengan Minwoo. Dia merasa sangat bodoh karena sudah menunggunya memberi kabar selama bertahun-tahun. Hubungan mereka berakhir begitu saja.

“Apa kamu masih menyukainya ?” Jahye bertanya pelan, takut menyakiti Seya lagi.

“Itu cerita lalu. Hahaha Ayo kita pulang.” Jawab Seya dengan tawa yang terlihat sangat dibuat-buat.

Tidak ada yang tahu apakah Seya masih menyukai Minwoo atau tidak. Termasuk diri Seya sendiri. Dia hanya terlalu sakit dan letih untuk rasa yang dulu selalu menghantui nya.

No Minwoo hanya memberi sebuah senyuman ketika Youngmin bertanya mengenai Seya. Hampir semua orang yang menghadiri reuni tadi ingat kalau Seya dan Minwoo pernah menjalani hubungan. Menurut mereka itu hanyalah cinta anak SMA belaka. Tapi menurut Seya dan Minwoo, itu adalah cerita cinta pertama.

=======================================

“Ada yang kau pikirkan? Aku lihat kau tidak fokus di atas panggung.” Hyeonu menghampiri Minwoo yang sedang membereskan perlengkapannya.

DQ Dancer kali ini lagi-lagi ada di atas panggung sebuah program musik untuk Sistar. Minwoo sudah bergabung di DQ Dancer dua tahun setelah dia lulus dari sekolah. Sambil berkuliah, Minwoo memantapkan bakatnya.

“Pasti memikirkan seorang yeoja. iyakan ?” Sunmi tiba-tiba muncul dari belakang Hyeonu.

Ani, noona, hyung.” Minwoo menjawab datar.

Keunde, Wae ?” Sunmi bertanya lagi sambil memegang kedua pundak Minwoo.

“Kelelahan, noona.

Dia pun lalu pergi setelah berbasa-basi. Tidak akan habis bahan percakapan kalau sudah berada di dekat Sunmi noona. Walaupun cerewet, dia sangat peduli dan perhatian. Minwoo sudah menganggap para dancer yang lain seperti keluarganya.

“Kamu bagaimana sih. Baru hari pertama bekerja tapi sudah membuat kekacauan begitu.”

Minwoo mendengar seseorang dimarahi di sebuah ruangan. Pintu ruang tersebut tidak sengaja terbuka jadi bukan salahnya kalau dia sedikit mengintip dan menguping.

Seya. Dia dimarahi oleh seorang staf.

“Maafkan saya.” Seya menunduk dan menyadari kesalahannya.

“Padahal aku percaya kalau kamu tidak akan membuat kesalahan begini. Untuk besok kamu tidak akan ada di acara Live lagi.” Staf itu pun memarahi Seya lagi dan lalu pergi. Minwoo menjauh dari ruangan begitu menyadari staf itu akan keluar.

Tidak lama kemudian dia melihat Seya juga keluar. Minwoo mengikuti Seya dari belakang dan menjaga jarak mereka. Seya berjalan menuju sebuah pintu yang bertuliskan “Tangga Darurat”. Membuka pintu nya dan lalu menutup. Minwoo membuka pelan pintu tersebut dan mengintip. Seya sedang duduk di sebuah tangga.

“Hari pertama yang buruk.” Seya mengeluh dan menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal. “Pabo! Pabo! Kenapa aku tidak lihat kalau si penyanyi itu aku ke arah ku. Issssh”

Minwoo mengintip tanpa tahu apa yang sedang Seya katakan. “Dia kenapa ?” Minwoo bertanya kepada diri dia sendiri.

“Lee Seya !” Terdengar seseorang sedang mencari Seya. “Lee Seya. Lee Seya.”

Seya yang mendengar itu segera mungkin bangun dari duduknya.

“Aish! Pasti aku dimarahi lagi.” Umpat Seya lalu berlari membuka pintu dan keluar dari ruang tangga darurat.

Minwoo yang berdiri di balik pintu dengan cepat melangkah mundur.

“Disini kamu rupanya. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan sekarang.” Begitu melihat Seya, orang yang mencarinya tadi langsung menghampiri dan menyuruhnya cepat.

“Ah Ne!” Seya menjawab sopan.

Tentu saja dia melihat Minwoo juga sekarang. Minwoo terpaku dan tidak bergerak. Seya memberikan tatapan tajam lalu bergerak pergi.

Jamkaman.” Minwoo memanggil Seya. Seya berhenti. “Lee Seya ….” Minwoo ingin mengatakan sesuatu.

“Seya. Ppali !” Orang yang tadi menyuruh Seya untuk cepat.

=======================================

Equator Café seperti biasa ramai akan pengunjung. Dengan lagu yang diputarkan oleh sang pemilik café, membuat suasana sore menjadi semakin santai. 몰라몰라 by Nine Muses.

“Ah. Dasar yeoja!” Kwangmin masuk dengan sambil memegang kepalanya sakit.

“Kenapa dengan kepala mu ?” Saudara kembar nya menghampiri Kwangmin sambil membawa segelas air putih.

“Gara-gara seorang amatiran.” Jawab Kwangmin dengan lalu dibalas tawa oleh Youngmin.

“Gimana dengan pesta nya kemarin malam ? Aku ada fansign jadinya tidak bisa ditinggal.”

Youngmin dan Kwangmin, sama tapi beda. Meskipun sama paras, Youngmin dan Kwangmin tertarik dengan hal yang sangat bertolak belakang. Kwangmin sekarang memilih menjadi seorang penyanyi dan bergabung dengan sebuah boyband.

“Kami tahu artis!” Minwoo datang sambil lalu melemparkan tas nya ke arah Kwangmin.

“Yaaa!!” Kwangmin berteriak ke arah Minwoo.

“Kwangmin-na. Kecilkan suara mu. Kau kira orang-orang tidak memperhatikan tingkah mu disini.” Youngmin memperingati Kwangmin. Begitulah seorang artis. Kemana pun mereka berada, pasti akan menjadi pusat perhatian.

“Kalau bukan karena reputasi ku, sudah kubunuh kau No Minwoo.” Kwangmin melotot.

“Hei. Kenapa jadi berlebihan begitu.” Minwoo membalas dengan candaan.

“Kau melempar tas ke kepalanya yang sakit No Minwoo. Hahaha Aku ambilkan makanan untuk kalian. Sebentar.” Kata Youngmin dan lalu pergi ke arah dapur.

“Berat ternyata menjadi orang yang dikenal banyak orang lain.” Minwoo kembali menggoda Kwangmin.

“Kau menggoda ku.!?” Kwangmin memberikan balik tas Minwoo.

“Kenapa kepala mu ?” Tanya Minwoo yang lalu meminum air yang baru saja diberikan oleh pelayan café.

“Terkena kamera karena seorang amatiran. Apa dia tidak lihat aku melangkah. Seharusnya dia juga memperhatikan gerakan penyanyi yang lain jika dia sedang menyorot. Buatku frustasi.” Panjang lebar Kwangmin mengeluarkan kekesalannya.

“Kenapa kau harus frustasi. Dia mungkin tidak sengaja.” Youngmin meletakkan dua piring pasta.

“Frustasi kalau minggu depan harus bertemu dengannya lagi.” Jawab Kwangmin kesal.

“Youngmin-na. Ini resep baru ?” Minwoo menyuap pasta nya dengan lahap.

“Eum..” Angguk Youngmin dan lalu meminta pendapat tentang masakan baru nya.

“No Minwoo-shi. Kau tidak tertarik dengan cerita ku ?” Kwangmin memukulkan garpu miliknya ke piring Minwoo pelan.

“Menurutku kau cuma berlebihan saja Kwangmin-na. Sudahlah! Minggu depan mungkin dia tidak akan mengulanginya lagi.” Seperti biasa. Minwoo hanya memberi pendapat seperlunya saja.

=======================================

Drdrdrdr

Dengan malas, Jahye terbangun dari tidurnya. Pukul 02.13 AM KST. Orang yang tidak memiliki etika. Pikir Jahye setelah dia melihat sebuah jam di atas nakas samping tempat tidurnya.

Yobuseo.” Jahye menjawab telpon dengan suara ngantuk.

Jahye.. Kau sudah tidur ?” No Minwoo di seberang terdengar seperti orang yang tidak mengantuk.

“Tentu saja Pabo!” Jahye menaikkan suaranya diakhir kata yang dia ucap.

Mian hehehe Jahye ….”

Wae ? ada apa ? aku harus bangun cepat nanti pagi.”

Kau punya nomornya Lee Seya kan? Boleh aku minta ?” Minwoo memohon.

“Ha~ Kenapa kau tidak meminta sendiri dengannya. Dia tidak ingin bertemu denganmu lagi.” Jahye berkata secara terus terang dan langsung mematikan telpon dari Minwoo.

Yobuseo. Jahye.

Seharusnya aku tidak mengganggu tidur orang lain. Pikir Minwoo.

Minwoo tidak terkejut lagi dengan perkataan Jahye sebelumnya. Sudah pasti Seya tidak ingin bertemu dengannya lagi. Terlihat dari tatapan Seya beberapa hari lalu di tempat mereka terakhir kali bertemu.

=======================================

Karena kesalahan di hari pertama Seya, dia pun dipindahkan ke sebuah tim baru. Tim Mamma Mia. Sebuah Variety Show tidak Live. Sudah beberapa hari ternyata tidak buruk juga bekerja disini. Acara record seperti ini lebih santai jadi tidak ada yang terburu-buru dan harus selesai tepat waktu. Bagus untuk pemula seperti Seya. Kali ini Mamma Mia akan kedatangan MC baru.

“Annyeonghaseyo.” Seorang pria muncul di ruang shooting dengan tanpa henti menunduk sopan kepada para staf lain.

Dia pun sampai ke hadapan Seya.

“Kau!” Kwangmin menekan perkataannya dengan kesal.

“Annyeonghaseyo.” Seya menunduk dengan mengeluarkan ekspresi bersalah karena kejadian lalu.

“Selamat datang Jo Kwangmin-shi.” Seorang sunbae nim datang menghampiri Kwangmin.

“Oh Sunbae-nim. Terimakasih. Mohon bantuannya.” Kwangmin membalas salam dari seorang MC , rekan Kwangmin.

Seya sangat bersyukur sekali kalau hari ini berjalan begitu lancar. Dia bisa mengendalikan rasa gugup nya ketika memegang kamera jadi dia yakin tidak akan ada gambar yang tidak fokus. Bekerja memang terasa sangat berbeda ketika belajar dahulu.

“Jo Kwangmin.” Seya mengulang nama itu pelan. Dia ingin meminta maaf secara langsung dengan pria tersebut. Kelihatan sekali dia sangat kesal kepada ku. Pikir Seya. Dia pun mulai mencari ruang ganti yang bertuliskan nama pria tadi. Memang tidak sopan seorang staf menghampiri artis untuk keperluan pribadi, tapi ……. Seya menghapus pikirannya dan mulai mencari lagi ruang dengan pintu bertuliskan Jo Kwangmin.

Toktoktok

Kwangmin mendengar seseorang mengetuk pintu nya dari luar. Seorang yeoja masuk dan lalu menutup pintu cepat.

Chogi ….” Seya memulai dengan pelan. Kwangmin pun lalu melihat asal suara.

“Apa yang kau lakukan disini ?” tanya Kwangmin kemudian membuang pandangannya.

“Saya ingin meminta maaf.” Sambung Seya.

“Maaf ?” Kwangmin berpura-pura lupa.

“Itu. Kepala Anda.” Lanjut Seya sambil menunjuk kepala Kwangmin.

“Oh kamu si amatiran itu.” Kwangmin lalu bangun dari duduknya.

Seya terlihat memasang wajah kesal ketika disebut seperti itu.

“Saya minta maaf.” Dia lalu meminta maaf lagi. Disini aku lah yang bersalah jadi tidak boleh kesal. Pikir Seya.

Mendadak timbul ide jahil dari Kwangmin. Kwangmin mulai berpikir dengan tidak normalnya.

“Belikan aku makanan kalau kamu merasa bersalah.” Kata Kwangmin.

Ne ?!” Seya sepertinya salah dengar.

“Kau tidak dengar ? Belikan aku makanan. Atau kita makan di luar saja ?” Kwangmin mulai lagi dengan gurauannya. Kwangmin yakin yeoja ini pasti lebih memilih membelikannya makanan dari pada makan berdua di luar. Karena mana mungkin dia mau terlihat jalan dengan seorang artis. Pasti akan menjadi bahan pembicaraan.

Seya terdiam sejenak. Dia mencium sesuatu yang mencurigakan. Orang ini mempermainkan ku? Kau kira aku bodoh ?

“Menurut saya lebih enak makan di luar saja.” Seya berkata dengan percaya diri.

Kwangmin terkejut. Apa yang yeoja ini pikirkan.

“Baiklah.” Balas Kwangmin sedikit khawatir.

“Kau tidak pesan ?” Kwangmin bertanya kepada Seya yang sedang duduk di depannya.

“Samakan saja dengan dia.” Seya lalu berkata dengan seorang pelayan.

Mereka sedang makan malam di Equator Café. Cuma tempat ini yang aman untuk dikunjungi menurut Kwangmin.

“Youngmin hyung odi ?” Tanya Kwangmin kepada pelayan tersebut sebelum dia pergi.

“Beliau sedang ada tamu di lantai atas.” Jawab sang pelayan.

Tempat ini yang dulu pertama kali nya Seya bertemu lagi dengan No Minwoo. Dan …. Seya seperti familiar dengan wajah Kwangmin.

“Apa sebelumnya kita pernah bertemu ?” Seya bertanya.

Kwangmin mendengar pertanyaan dengan bingung. Tentu saja mereka pernah bertemu. Ketika Seya menabrakkan kamera nya ke arah Kwangmin.

“Kau pelupa ? Kita pernah bertemu di atas panggung.” Jawab Kwangmin malas.

“Maksudnya bukan begitu. Sebelumnya lagi.” Seya menegaskan.

“Eum … Kau sedang menggoda ku?” Tanya Kwangmin dengan percaya diri yang sangat tinggi.

“Eh?!”

“Itu taktik yang sudah ketinggalan jaman. Seorang yeoja awal mula nya akan bilang mereka seperti pernah bertemu sebelumnya. Lalu mereka saling dekat. Ternyata yeoja tersebut suka dengan namja itu.” Kwangmin menjelaskan lagi. Dia tidak tahu kalau Seya sangat kesal mendengar perkataannya.

Kau! Seya hanya mengumpat dalam hati.

Pelayan lalu datang mengantarkan makanan untuk mereka.

“Siapa nama mu ?” Kwangmin bertanya disela mereka sibuk dengan makanan masing-masing.

“Anda tidak perlu tahu.” Dengan ketus Seya menjawab.

“Baiklah Anda tidak perlu tahu.” Seya memberikan tatapan tajam mendengar panggilan Kwangmin.

“Lain kali berhati-hati lah dalam bekerja. Apa kamu baru pertama kali memegang kamera sampai-sampai harus menabrakku. Seperti nya kamu dipindahkan ke variety show yang tadi karena kecerobohanmu!?” Kwangmin berpura-pura tidak melihat tatapan tajam Seya.

“Sa …”

“Seharusnya mereka tidak memperkerjakan orang yang amatiran untuk acara Live.”

Bruk

Kwangmin menghentikan ucapannya begitu mendengar sesuatu. Sekarang Seya sudah berdiri dan bersiap-siap untuk pergi.

“Kamu mau kemana ?”

Tanpa menjawab, Seya langsung melangkahkan kakinya.

“Sebentar.” Kwangmin menarik tangan Seya. “Apa kamu tidak membayar ini semua ?” Kwangmin menunjuk ke arah makanan yang sudah mereka pesan.

Seya mengeluarkan dompetnya. “Igo!” Dan lalu meletakkan beberapa lembar uang ke atas meja mereka dengan kasar.

“Jo Kwangmin-shi.” Kwangmin melepaskan pegangan tangannya. “Saya memang amatiran jadi saya minta maaf atas kejadian lalu. Apabila kita bertemu lagi di tempat kita bekerja, anggap saja kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Saya permisi.” Tanpa menunduk. Seya pun pergi begitu saja.

Mulutnya… Mulut pria itu… sama saja seperti para ahjumma yang senangnya hanya bergosip. Apa dia kira dia artis yang sangat bagus.

Seya mengumpat dalam hati sambil berjalan keluar dari Equator Café. Minwoo yang sedang berjalan melihat Seya dari kejauhan.

“Lee Seya!” Minwoo berlari menyusul Seya dan menghentikan langkah Seya.

=======================================

“Bisa katakan dengan cepat ? Disini sangat dingin.” Seya berkata dengan ketus kepada Minwoo.

“Bagaimana kalau kita masuk ke dalam saja.” Minwoo menawarkan tempat yang lebih hangat di Equator Café. Kalau bukan karena ada si Jo Kwangmin itu mungkin mereka memang lebih baik berbicara di dalam.

“Cepatlah katakan disini No Minwoo.”

“Aku minta maaf.” Minwoo mengambil tangan Seya yang kedinginan.

“Hanya itu ?”

“Kenapa kamu tidak mau bertemu dengan ku lagi ?” Tanya Minwoo pelan. Seya menghempaskan tangan Minwoo.

“Seharusnya kamu tidak perlu bertanya lagi kan. Karena kamu tahu jawabannya.” Seya tidak habis pikir dengan Minwoo. Kenapa dia harus menanyakan pertanyaan yang dia sendiri tahu jawabannya.

“Apa hanya karena aku tidak mengantarkanmu ke bandara ?” Minwoo mengeluarkan perkataan yang salah.

“No Minwoo-shi!” Seya menatap tajam Minwoo. “Kamu bilang ‘hanya’?! Apa kamu tidak memikirkan kesalahan yang lain ?”

Minwoo mengambil tangan Seya lagi. “Aku tahu jadi ….”

“Jadi…! Kita sudah berakhir sejak lama. Jadi aku tidak mengenalmu lagi.” Seya lalu pergi.

Minwoo mengejar Seya. Menarik kedua pundak Seya lalu memeluknya erat.

“Aku betul-betul minta maaf. Maafkan aku.” Minwoo menguatkan pelukannya.

Berkali-kali Seya berusaha untuk melepaskan pelukan Minwoo, berkali-kali juga Minwoo semakin mengeratkan pelukannya.

“OUH!” Minwoo kesakitan. Seya menghentakkan kaki nya keras di atas kaki Minwoo.

“Anda tidak berhak memeluk saya.” Seya mengatakan dengan sangat sopan dan menyindir.

“Seya. Aku dulu tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Di satu sisi aku tidak mau kehilanganmu di sisi lainnya aku ingin kamu pergi tanpa mengingatku lagi.” Minwoo membela diri.

Mworagu? Oke. Sekarang aku sudah melupakan mu. Kamu puaskan.” Tambah Seya.

“Tapi aku tidak melupakanmu.”

Seya tidak percaya. Minwoo masih mengharapkannya. Mata Seya menjadi basah. Dia berusaha keras untuk tidak mengeluarkan air mata.

“Dengarkan aku. Aku sudah lelah dengan selama lebih dari setahun hanya karena mu. Kamu tidak pernah memberikan kabar. Kamu tidak membalas email atau bahkan mengangkat telpon dari ku. Jadi …. ” Seya tidak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata. Dia pun lalu berjongkok dan menangis.

“Minwoo?” Seseorang datang. Tidak tapi tiga orang.

“Lee Seya!” Jahye yang melihat Seya berjongkok, langsung menghampiri dan membantunya berdiri.

“Kalian ngapain disini?” Minwoo bertanya kepada Jo Youngmin dan Jo Kwangmin.

“Itu mobil ku.” Kwangmin berkata sambil menunjuk mobilnya.

“Minwoo-ya. Apa yang kamu lakukan dengan Seya ?” Jahye bertanya kasar kepada Minwoo.

“Aku pulang saja.” Seya berbalik badan.

“Seya sebentar. Biar Kwangmin yang mengantarkanmu pulang.” Kata Jahye. Mendengar itu, dengan cepat Seya langsung menolaknya.

“Kalian kenal dengan dia ?” Kwangmin menunjuk Seya.

“Kwangmin-na. Ayo cepat hidupkan mobilmu.” Kata Jahye.

“Tidak perlu, Jahye. Aku bisa pulang sendiri. Permisi.” Seya pun melangkahkan kaki nya pulang dengan penuh tanda tanya dan rasa bingung.

“Aku perlu bicara dengan mu No Minwoo.” Jahye melotot kepada Minwoo.

=======================================

“Bukannya sudah aku katakan kalau dia tidak ingin bertemu denganmu lagi.” Jahye memulai pembicaraan yang panas di antara mereka.

“No Minwoo. Aku tidak menyangka kalau kau bisa juga menjadi seorang napeun namja.” Kwangmin yang sudah mengetahui permasalahan akhirnya memberi pendapat.

“Kau!” Youngmin menegur Kwangmin dengan memberi tendangan di kaki Kwangmin.

Hyung?!

“Cih jarang sekali aku mendengar kata itu.” Youngmin menimpali.

“Bisa tidak kalian diam ?” Jahye sudah terbiasa dengan kelakuan si kembar ini. Tingkah mereka tidak melihat situasi.

“Berikan aku nomor teleponnya!” Minwoo meminta kepada Jahye.

“Lebih baik untuk sementara kau jangan bertemu dengannya dulu.” Kwangmin memberi pendapat yang masuk akal. Seya memang seharusnya diberikan waktu yang tenang.

“Kwangmin-na! Kau mengenal Lee Seya ?” tanya Youngmin.

“Dibilang kenal juga tidak. Tapi kami tadi makan bersama.” Kwangmin menjawab seadanya.

“Jawab dengan benar Kwangmin-na!!!!!”

Wae!? Dia tidak memberitahukan namanya jadi ya menurut ku aku tidak mengenalnya. Aku baru bertemu dengannya dua kali di KBS. Dia bekerja disana.” Jawab Kwangmin.

“Aku pulang. Terima kasih atas minumannya Youngmin.” Minwoo pun meninggalkan tempat mereka berkumpul.

Malam yang terasa panjang menurut Seya. Setelah kejadian tadi malam, Seya hanya membenamkan kepalanya ke tumpukan bantal. Dia menangis. Dia sangat menyesal kenapa harus menangis di depan Minwoo.

Dan apa itu ? Dia bilang dia tidak melupakanku ? Setelah apa yang dia perbuat ? Apa aku terlalu berlebihan. Itu hanya cinta di masa SMA tidak seharusnya aku seperti ini. Seya berpikir dan terus berpikir ketika beristirahat dari pekerjaannya.

Tapi Seya juga bingung kenapa ini selalu terasa sakit. Seperti dulu ketika Minwoo tidak mengantarkannya untuk pergi ke Taiwan. Seperti dulu setiap malam Seya menantikan kabar dari Minwoo.

Apa aku masih menyukainya ?

=======================================

“Mata mu bengkak sekali.” Kwangmin mengagetkan Seya yang sedang duduk sendirian di tangga darurat.

Seya bangun dari duduknya. “Apa yang kau lakukan disini ?”

“Seharusnya aku yang bertanya begitu. Apa kau menangisi kisah cintamu lagi, Lee Seya-shi !?” Kwangmin sepertinya sangat senang menggoda yeoja di depannya ini.

“Apa urusanmu!” Seya lalu pergi.

“Kenapa dia suka sekali pergi begitu saja.” Kwangmin berkata sendiri melihat Seya yang menjauh.

Drdrdrdr

“Yobuseo.” Seya mengangkat telponnya.

Kamu dimana ?” Jahye bertanya di seberang.

“Aku sedang di tempat kerja. Beberapa menit lagi pulang.” Seya menjawab.

Bagaimana kalau malam ini kita makan bersama ? Sudah lama kita tidak bercerita.” Jahye ingin menghibur Seya sebisanya.

“Baiklah. Tunggu aku di dekat tempat ku bekerja ya.”

KBS ? Oke.

Seya bergegas menuju ruangan dia bekerja. Pekerjaannya sebenarnya hari ini sudah selesai tapi mereka dilarang pulang sebelum waktunya. Jadi Seya melihat-lihat sekitar untuk menghabiskan waktu.

Jahye mengirimkan pesan ke Seya untuk bertemu di Equator café saja. Tapi Seya menolak karena dia tidak mau kalau nanti harus bertemu dengan Minwoo secara tanpa sengaja.

“Kamu menunggu lama ?” Seya lalu duduk setelah menghampiri Jahye.

“Tidak. Bagaimana pekerjaanmu ?”

“Menyenangkan walau terkadang sedikit ya ……” Seya menjawab begitu saja.

“Euy! Kamu lebih bagus dari pada aku yang pengangguran.” Jahye membalas.

“Kamu tidak mencari pekerjaan ?” Seya bertanya setelah memanggil pelayan untuk memesan.

“Awalnya begitu tapi sepertinya aku ingin kuliah lagi saja. Mencari beasiswa. Hehehe” Jawab Jahye.

Pelayan lalu datang sambil membawa dua gelas air mineral. Mereka memesan makanan masing-masing. Sudah lama sekali mereka berdua tidak mengobrol santai secara langusung begini. Jahye dan Seya hanya saling berkontak melalui email dan telpon selama Seya di Taiwan.

“Apa sesakit itu Seya ?” Pertanyaan Jahye menghentikan tawa Seya. Mereka sedang bercerita lucu. Tapi Jahye melihat mata Seya yang bengkak.

“Kamu semalaman menangis ?” Jahye bertanya lagi.

“Tidak tahu. Mungkin aku tertidur sambil menangis.” Seya menjawab dengan gurauan.

“Ceritalah dengan ku.” Jahye menarik tangan Seya.

“Dia bilang kalau dia tidak melupakanku.” Seya berbicara mengenai Minwoo.

Jahye menguatkan pegangannya.

“Tapi aku tidak tahu kenapa sesakit ini Jahye-ya.” Seya berhenti untuk menahan tangisnya. “Ini hanya cerita SMA kan?! Ini hanya cerita konyol anak yang berumur 18 tahun. Tapi aku tidak tahu kenapa aku merasa sakit sekali setiap melihat Minwoo.”

“Seya. Ini bukan cerita konyol. Kamu sangat mencintai nya.” Jahye mengelus tangan Seya.

“Tidak mungkin. Aku sudah melupakannya. Tidak mungkin itu terjadi lagi.” Seya sangat yakin kalau dia benar-benar sudah melupakan No Minwoo.

“Kamu masih ingat ketika dulu kamu bilang kalau kamu ingin bertemu dengannya !? Karena itu aku mengajakmu ke acara reuni itu.”

“Tapi itu dulu Jahye. 4 tahun yang lalu. Sebelum aku memutuskan untuk tidak mengingat dan mengharapkannya lagi.”

 =======================================

Seya melamun di kamarnya. Dia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Sangat jauh dari kenyataan, Seya senang bisa bertemu dengan Minwoo pertama kali nya di Equator café di acara reuni tersebut. Tapi saat itu juga ingatan tentang Minwoo yang meninggalkannya muncul. Kebencian mncul lagi di hati Seya.

Drdrdrdrdr

Yobuseo!” Seya mengangkat telpon dari nomor yang tidak dia kenal.

Bisa kamu keluar sebentar ? Aku di depan rumah mu saat ini.” Di seberang telpon Minwoo memberanikan diri untuk menelpon. Jahye akhirnya memberikan nomor telpon Seya setelah berkali-kali Minwoo memohon.

“Rumahku ?” Seya mengintip dari jendelanya. Minwoo ada disana.

“Bicara saja melalui telpon. Sudah sangat larut untuk keluar.” Seya tidak mau bertemu langsung dengan Minwoo.

Aku menyukaimu. Tidak. Aku mencintaimu. Lee Seya” Minwoo berkata dengan lantang di seberang.

“No Minwoo ….”

Lee Seya aku mohon. Aku tidak akan mengulangi nya lagi.

Seya berjalan menuju pintu depan rumahnya.

Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya ?

Seya bingung.

Aku betul-betul tidak bisa melupakanmu.

Seya tidak menjawab setiap perkataan Minwoo. Dia tidak tahu apakah harus bertemu dengan Minwoo atau tidak ……

Seya.

Panggilan itu. Panggilan yang selalu ingin Seya dengar.

“Apa aku sangat bodoh ?” Seya sudah berada di belakang Minwoo sekarang. Seya keluar dari rumahnya.

“Apa aku begitu bodoh selalu menunggu mu ? Apa aku begitu bodoh tidak pernah tahu kalau kamu juga menunggu ku ?” Dengan telpon yang masih tersambung, Seya berkata langsung di depan Minwoo.

“Tidak. Aku yang bodoh membiarkanmu.” Kata Minwoo.

“Aku mencintaimu. Lee Seya.” Minwoo lalu memajukan langkahnya memeluk Seya.

 =======================================

I’m not able to be considerate on others’ feelings because I’m so young.
I cannot release you because I’m such a fool.

Aku tidak mampu menimbang perasaan-perasaan ini karena aku masih terlalu muda.

Aku juga tidak bisa melepaskan mu karena aku sangat lah bodoh.

== Go Back – Boyfriend ==

 

Thanks for reading and enjoy my other fanfictions here.

Please give your much love to BFIfanfiction ^o^

*open critics and comments of course*

This entry was posted by boyfriendindo.

One thought on “[FANFICT] Go Back (Sequel One Day)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: