[FANFICT/FREELANCE] I Love You – Chapter 02

Picture1

Title 
: I Love You – Chapter 2
Author : ariesthha_1602
Genre : friendship & Romance
Rating : PG
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ Jo Youngmin

  ~ Jo Kwangmin

  ~ Yua

Support Casts
: Semua member Boyfriend

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Sebelumnya di chapter 1

“Pantas saja kau depresi. Satu hari dia menciummu, tapi esoknya dia punya pacar”, ucap Mia dengan dagu berpangku pada tangannya. Yua hanya bisa meletakkan kepalanya di atas meja kelas. Berusaha untuk mencari tau apa yang seharusnya dia lakukan. Menyerah atau tidak menyerah atas cintanya yang sudah terlalu lama bertepuk sebelah tangan. “Tapiii,, sebenarnya aku agak iri dengan kalian”.

Yua spontan menengadahkan kepalanya dan melihat Mia dengan kening berkerut. “Karena… tak peduli berapapun pacarnya. Tetap kaulah yang paling diutamakan. Tidakkah menurutmu ini adalah caranya mencintaimu??”, Mia mencubit hidung Yua dengan lembut. Setidaknya berusaha mengingatkan kenangan-kenangan yang terjadi diantara dirinya dan Kwangmin.

“Iya sih,, tapi kan itu bukan jaminan kalau dia juga menyukaiku??”.

Mia melihat lapangan sekolah dari jendela disampingnya, sebelum kembali melihat Yua yang masih memasang wajah bloon. “Aku kasih tau ya, meski dia bilang serius. Pasti tak lama lagi mereka akan putus. Kita lihat saja…!!!”.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Pembicaraan rahasia??”.

“Woahh…”, teriak Yua dan Mia berbarengan saat mereka mendengar suara pria yang tiba-tiba ada disampingnya. “Astaga Kwangmin-ah, bisa tidak jangan ngagetin kita seperti itu”, ucap Yua dengan terus berusaha mengatus nafasnya kembali seperti semula. Sebenarnya bukan hanya itu, tapi Yua juga berharap kalau Kwangmin tak mendengar pembicaraannya dengan Mia.

“Aku sudah manggil kok. Tapi tak direspon”, ucap Kwangmin sambil bersender pada meja yang ada dibelakangnya. “Memangnya kalian sedang membahas apa sih??”, dan mencondongkan badannya ke arah Yua dengan senyum nakal terpampang di sudut bibirnya.

Yua spontan berdiri dan mendorongnya menjauh. “Aiihhh, kami hanya membahas ingin masak apa. Soalnya malam ini mama pulang”, Yua berbicara dengan gugup karena dia juga berusaha agar Kwangmin tak semakin penasaran dengan pembicaraannya dengan Mia.

Kwangmin menahan pundak Yua dengan kedua tangannya dan memaksa Yua untuk menatapnya. “Malam ini aku ke rumahmu ya. Oke….??”. Yua menghembuskan nafasnya dengan berat. “Iya…”, gumamnya pelan sambil berusaha melepaskan tangan Kwangmin dari pundaknya. Entah kenapa Yua selalu kalah kalau berhadapan dengan Kwangmin. Disaat Yua sejengkel atau sedang marah besar dengannya. Kwangmin selalu dapat membuat Yua memaafkannya dengan gampang. Mungkin pepatah, kalau cinta itu buta..!!, memang benar.

Suara dering telepon dari saku blazer Kwangmin membuat Yua tertegun. “Jangan bilang……”, batinnya berharap kalau itu bukan…. Tapi, sepertinya kenyataan tak pernah sejalan dengan harapannya, saat dia mendengar Kwangmin mengucapkan satu hal yang membuatnya kehilangan harapan.

“Pacarku telepon. Kalian jangan ribut, oke..??”, ucap Kwangmin saat meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya. Kenangan beberapa tahun yang lalu kembali bermain di kepala Yua. Saat itu Kwangmin juga memiliki pacar, namun ada  yang berbeda. Karena saat itu….

“Maaf, aku tak bisa. Aku sama Yua sekarang…”.

Yua melihatnya dengan kening berkerut saat menikmati jajan yang ada ditangannya. “Kenapa kau tak menemuinya??. Kau pacarnya kan?”, tanya Yua setelah Kwangmin menekan tombol off dan memasukkannya ke dalam saku celana.

“Tak apa-apa. Karena….”, Kwangmin melihat Yua dengan tersenyum riang. “Lebih asik kalau bersamamu”, jawabnya dan merangkul pundak Yua dengan erat dan menyeretnya keluar gerbang sekolah. Saat itu, Yua tak mengerti kenapa wajahnya bisa memerah seperti kepiting rebus setiap kali Kwangmin melakukan hal yang membuatnya merasa istimewa dengan hati yang berdetak tak karuan. Saat itu, Yua berpikir, mungkin seorang sahabat memang sudah seharusnya seperti itu. Tapi sekarang….. Setelah mereka tumbuh semakin dewasa. “Apa aku masih bisa berharap dia lebih memilihku….??”, batin Yua sambil melihat jari-jari tangannya seperti sesuatu yang sangat berharga.

“Apa..?. Malam ini??”, Kwangmin melihat Yua sekilas sebelum kembali berbicara dengan seseorang yang ada diteleponnya. “Maaf, aku tak bisa. Malam ini aku sudah ada janji dengan Yua. Maaf…”.

Lamunan Yua buyar saat Mia yang duduk didepannya menyenggol tangannya pelan dan menggumamkan satu kalimat yang tak jelas. Butuh beberapa saat, tapi tak terlalu lama sampai akhirnya Yua memberanikan diri. “Kwangmin-ah, kau ingin menemaniku ke supermarket?. Aku ingin mempersiapkan pesta selamat datang tapi sayangnya Mia tak bisa menemaniku. Jadi….”, dengan sedikit mengerucutkan bibirnya, Yua berusaha mengantisipasi jawaban dari Kwangmin yang baru saja selesai berbicara dengan seseorang diujung sana. Lagian Yua juga merasa perlu mempersiapkan hatinya, kalau-kalau Kwangmin menolaknya.

“Oke. Apa yang kita tunggu, ayo…”, Kwangmin menyeret Yua keluar kelas dengan menggandeng erat  tangannya.

“YA! Tasku ketinggalan. Aissshhhh…..”, desis Yua dan berusaha membalikkan badannya. Dan tanpa perlu di aba-aba sedikitpun, tiba-tiba saja Mia sudah melemparkan tas ke dalam pelukan Yua, sambil mengepalkan tinjunya ke depan dada sebagai penyemangat untuk Yua. “Makasihhhh…”, gumam Yua pelan dan tersenyum malu ke arah Mia, sebelum akhirnya dia berbalik dan berjalan ke arah Kwangmin yang sudah menunggunya didepan pintu kelas.

“Aku berharap hubungan ini tak berlangsung selamanya”, batin Yua dan membalas genggaman tangannya. Yua terus tersenyum riang saat mereka melewati lorong kelas, sampai akhirnya dia melihat Youngmin yang sedang berjalan ke arahnya. “Kwangmin-ah, aku ingin izin dengan Youngmin sebentar. Tunggu aku diluar, oke??”, kata Yua saat melepaskan tangan Kwangmin.

“Oooo,, oke. Jangan terlalu lama”. “Ohhh Hyung,,…”, sapa Kwangmin saat dia melihat Youngmin yang hanya beberapa langkah dari tempatnya dan Yua berdiri.

Youngmin hanya membalas dengan senyuman kecil dan melihat Kwangmin yang mulai berjalan menjauhinya dengan bingung. Tak biasanya Kwangmin tersenyum cerah seperti itu…!!. “Aaaa Yua, ada hal yang ingin kusampaikan denganmu. Hari ini apa kau bisa datang latihan??. Karen…”.

Tiba-tiba Yua langsung menundukkan kepala dengan kedua tangan terkatup rapat didepannya. Tanpa sedikitpun memberikan kesempatan bagi Youngmin untuk mengutarakan apa yang ada dipikirannya. “Maaf Youngmin. Soal latihan…. aku ingin minta izin untuk tak datang hari ini??. Aku ada acara makan malam. Jadi…..”, cerocos Yua sambil mengintip ekspresi wajah Youngmin dari balik rambutnya. Jujur, seandainya disuruh memilih. memberi makan singa atau berhadapan dengan Youngmin. Yua jelas lebih memilih memberi makan singa daripada berhadapan dengan monster yang sekarang berdiri didepannya.

“Makan malam…???”, Youngmin melihat Yua sambil menaikan sebelah alisnya tak percaya.

“Itu bukan seperti yang kau pikirkan. Aku hanya ingin mempersiapkan makan malam. Karena mamaku pulang dari luar kota malam ini”. Yua menggoyang-goyangkan tangannya didepan Youngmin, berusaha meyakinkannya bahwa makan malam itu bukan kencan buta seperti yang dipikirkannya. Tapi kalaupun disuruh memikirkannya sih Yua tak masalah, karena dia juga memang ingin lebih banyak menghabiskan waktu dengan Kwangmin.

Youngmin menghela nafas panjang beberapa kali. “Ya sudah”,  dan berjalan pelan meninggalkan Yua yang masih tak percaya dengan jawaban yang baru saja didengarnya. “Aku percaya padamu. Jadi berjuanglah untuk membuat makan malam yang indah untuknya”, ucap Youngmin sebelum menghilang dibelokan koridor ke arah lantai dua.

Mendengar pernyataan Youngmin, membuat semangat Yua yang sempat turun kembali membara. Walaupun ini bukan kencan, tapi Yua merasa tak ada salahnya kalau mereka juga dapat menciptakan kenangan indah malam ini.

“Woah,, lihatlah semua makanan ini”, ucap Kwangmin dengan menepuk tangannya kencang. Seakan-akan bangga dengan makanan yang dibuatnya. “Eh,, sekarang bukankah seharusnya tante sudah pulang??”, Kwangmin melihat jam dinding yang ada dibelakangnya.

Yua yang juga baru keluar dari dapur dengan piring ditangannya ikut-ikutan melirik jam dinding. “Mungkin sebentar lagi”, sahutnya dan kembali merapikan tampilan meja makan. Untuk beberapa saat suasana menjadi hening dan aneh. Sebelum akhirnya HP Kwangmin yang ada diatas meja bergetar hebat.

“Hallo…??”, Kwangmin memutarkan badannya ke arah jendela rumah. Tanpa sadar Yua menghela nafas berat, sepertinya, tanpa dikasih taupun Yua sudah bisa menebak siapa yang menelponnya. “Apa?. Sekarang?. Hei, tunggu sebentar. Iya, aku pacarmu. Tapi…”. Yua terus menatap punggung Kwangmin disaat dia masih berdebat tentang sesuatu hal yang tak diketahui Yua.

“Kenapa kau menciumku saat itu Kwangmin-ah. Ini menyakitkan”, batin Yua saat menutup kedua mata dengan tangannya yang berpangku pada meja makan. “Mama..??. Kau dimana??”, tanya Yua setelah menempelkan HPnya yang memang sudah berbunyi cukup lama disaku sweater.

“Yua…??”.

“Sepertinya perjalanan bisnis mama diperpanjang”, jawab Yua pelan setelah menekan tombol off di HPnya. Yua tak ingin terlihat menyedihkan, jadi dia tersenyum lebar saat Kwangmin menatapnya dengan bingung. “Apa kita bisa makan ini semua??”, dan berusaha bergurai seadanya.

“Jihoo ada masalah. Dia memintaku untuk segera datang”.

Yua mencengkram erat HP yang ada ditangannya. Bibirnya mulai bergetar, dengan mata yang berkaca-kaca. Dia hanya ingin Kwangmin disampingnya, tapi dia juga tak ingin bersikap egois. Karena Kwangmin bukan siapa-siapanya, melainkan hanya sebatas teman dekat. “Kalau gitu, kenapa kau tak pergi???”, tanya Yua saat menundukkan kepalanya lebih dalam.

Sebenarnya Yua hanya ingin tau satu hal. Kalau memang ciuman itu berarti untuk Kwangmin, dia pasti lebih memilih untuk disisi Yua seperti biasanya. Tapi sepertinya Yua menerima jawaban yang sudah jelas, saat pintu depan tertutup.

Yua terlonjak kaget. “Kwangmin..???”. “Kwangminnnnn…!!!”, teriaknya tak karuan sambil berlari ke arah pintu depat. Tapi semuanya sudah terlambat, Kwangmin sudah tak ada didepannya. Saat itulah Yua berpikir semuanya yang dibilang Kwangmin seperti gurauan. Saat Kwangmin bilang kalau dirinya lebih penting, dan Kwangmin akan selalu melindunginya. Tapi sekarang, siapa yang akan melindunginya dari seseorang yang sudah mematahkan hatinya menjadi ribuan puzzle…??

“Pemb…. Pembohongggg….!!!”, isak Yua dengan air mata yang mulai tak bisa dikontrolnya saat jatuh terduduk dilorong rumah. Hatinya sudah hancur, dan siapa yang akan menariknya keluar dari lobang yang sudah dimasukinya terlalu dalam. Yua butuh seseorang…!!

Hari ini Yua benar-benar tak terlihat semangat saat berjalan memasuki gerbang sekolah. Ditambah kenyataan kalau disekolah dia bisa bertemu Kwangmin, membuatnya semakin tak sehat. Setelah kemarin malam Yua mengerti satu hal. Kalau dirinya, bukanlah lagi orang yang terpenting buat Kwangmin.

“Yua….!!. Kau sudah berani ya…??”.

Yua terlonjak kaget saat seseorang berteriak kencang ditelinganya. “Youngminnn,, kau mengagetkan”, Yua memegang erat dadanya dan berusaha kembali mengatur detak jantungnya yang masih tak karuan. “Lagian pagi-pagi sudah bengong tak jelas. Jadi… gimana makan malam kemarin???. Berhasil??”, tanya Youngmin dengan memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku.

“Hmmm… Yahh bisa dibil…”, Yua merasa berat untuk bercerita tentang kemarin. Karena itu sama saja seperti kembali membuka luka dihatinya, padahal dirinya sudah berusaha untuk menutupnya rapat-rapat.

“Yua….!!”. Tiba-tiba dan entah datang darimana, karena yang selanjutnya yang Yua tau Kwangmin sudah memeluknya erat. “Aku merasa bersalah meninggalkanmu kemarin malam. Apa kau memakan semua yang sudah kita masak?. Maaf….”, gumam Kwangmin sambil terus memeluknya.

“Iya….”. Akhirnya, dan bahkan hari ini  tak ada yang berubah, mereka masih sama seperti biasanya. “Lagian pacarmu kan lebih penting. Jadi tak apa”, gumam Yua dengan memberikan senyum tipis diwajahnya. Padahal dilain tempat, tangannya terkepal erat disisi badannya. Jujur, dia masih belum bisa menerimanya, tapi harus bagaimana lagi. Kalau Kwangmin bahagia dengan pacar barunya, itu pertanda bahwa dia harus menyerah.

“Iya maaf ya…..”.

Untuk beberapa saat mereka melupakan keberadaan Youngmin, sampai akhirnya. “Kalau bisa, hari ini datanglah”, kata Youngmin saat mengelus-ngelus puncak kepala Yua dan berlalu meninggalkan mereka dibelakang.

“Ahhhh.. oke”.

Kwangmin masih melihat punggung Youngmin sambil memiringkan kepalanya dengan raut wajah bingung. Tak biasanya… “Kok hari ini dia baik ya???”, tanyanya dengan masih terheran-heran. “Ahhh sudahlah. Ayo ke kelas, pelajaran sudah akan dimulai”, Kwangmin menggenggam erat jemari Yua dan sama-sama berjalan ke arah kelas.

“Hmmm…”, Yua tersenyum tipis. Padahal didalam hatinya dia terus menangis. “Sesungguhnya ini cukup menyesakkan Kwangmin. Karena bukan aku yang kau pilih”, batin Yua sambil melihat jari mereka yang terkait cukup erat diantara mereka.

Setelah jam sekolah usai, Mia menepuk pundak Yua pelan. “Ada apa?. Kau terlihat sangat aneh hari ini”, tanyanya dengan bersender pada jendela disampingnya. “Aku…??”, tanya Yua dan menunjuk dirinya sendiri saat balas melihat Mia yang duduk dibelakangnya. “Tak ada apa-apa denganku kok”.

“Yua…!!. Hari ini tante benar-benar pulang kan??”, teriak Kwangmin sambil berjalan pelan ke arahnya. Yua menghela nafas panjang, berat buatnya untuk melihat Kwangmin dan menganggap semuanya seperti tak pernah terjadi. Tapi.. dia harus melakukannya. “Mama pulang besok. Jadi hari ini aku ingin latihan”, Yua berbicara dengan datar, tanpa sekalipun melihat Mia yang sedari tadi menatap mereka dengan bingung.

“Oh begitu. Semangatlah, oke…..”.

Yua hanya membalas dengan senyum tipis dan berlalu keluar kelas meninggalkan dua sahabatnya dibelakang. Menurut Yua hanya satu hal yang berubah setelah ciuman itu. Yaitu kenyataan bahwa keadaan tetap sama seperti biasanya, menjadi sangat menyakitkan.

Tiba-tiba seseorang menahan tangannya, saat Yua sudah berada dikoridor sekolah dan jauh dari kelasnya. “Yua, apakah terjadi sesuatu antara kau dan Kwangmin??”. Yua memutarkan kepala ke arah suara, dia sungguh malas menceritakan tentang kejadian kemarin malam. “Kau ini, kan sudah kubilang kalau tak ada apa-apa”, sahut Yua ketus. Dia hanya ingin ditinggal sendiri untuk hari ini, kenapa sih tak ada orang yang mengerti perasaannya.

“Hei kan sudah kubilang kalau Kwangmin pasti akan selalu memilihmu. Jadi jangan kuatir”, Mia membalikkan badan Yua sehingga langsung bisa menatap matanya. Jujur Mia juga tak menginginkan sahabatnya selalu dalam situasi seperti ini. “Dia tak memilihku Mia…!!!”, teriak Yua tepat didepannya. Yua membelalakkan matanya, seperti baru tersadar dengan apa yang baru saja dia lakukan setelah melihat Mia menunjukkan wajah kaget didepannya. “Maafkan aku Mia, aku tak bermaksud membentakmu. Aku pergi dulu…”, gumam Yua tak jelas, karena dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan berlari meninggalkan Mia yang kebingungan.

“Yua…”, Mia hanya bisa menatap punggung sahabatnya yang sudah jauh didepannya. Mia hanya berharap Yua dapat segera menemukan kebahagiannya.

Sebenarnya mood Yua untuk latihan juga tak ada sekarang ini. Tapi, daripada dia sendirian dirumah dan tak melakukan apa-apa, dia lebih memilih latihan. “Kami keluar….!!!”, teriak seseorang dari dalam ruang ganti klub dengan membanting raket sampai berbunyi dentuman keras.

“Orang-orang lemah seperti kami, memang tak pernah kau anggap sebanding denganmu. Menyebalkan..!!!”, umpat mereka setelah keluar ruangan dengan mengocehkan hal-hal yang tak dimengerti Yua. “Apa yang terjadi disini??”, pikir Yua dan melihat mereka yang berjumlah 5 orang dengan mengerutkan keningnya kebingungan.

“Apa yang mereka bicarakan??. Mereka keluar??”, tanya Yua sambil berjalan pelan ke dalam ruangan. Youngmin meliriknya sekilas, sebelum kembali memalingkan kepalanya ke arah lain. “Kau juga boleh kok, kalau mau”.

Yua melihat suasana didalam ruangan, sampai akhirnya dia melihat tangan Youngmin yang sedikit bergetar saat mengambil raket yang rusak disekitarnya. Walaupun dia terlihat tegar diluar, tapi Yua mengerti keinginan Youngmin. “Aku takkan keluar..”, sahut Yua lembut dengan menggengam tangan Youngmin saat terduduk disampingnya. “Kenapa kau selalu berpura-pura kuat??. Kenapa kau tak katakan semua perasaanmu yang sebenarnya, sehingga orang lain mengerti apa yang kau rasakan??”. Yua sangat mengerti perasaan itu, karena dia juga pernah merasakannya. Sekarang, Youngmin jelas membutuhkan seseorang yang mengerti keadaannya dan orang itu adalah dirinya.

“Aku tak pernah menyangka kalau kau sebaik ini”.

Yua spontan mengalihkan pandangannya pada cowok yang ada disampingnya, setelah mereka menenangkan diri untuk beberapa saat. “Aku sama sekali tak pernah dekat denganmu dan yang hanya kutau, kau teman dekat Kwangmin. Walaupun aku dan Kwangmin kembar. Tapi, kau jelas tau kami tak pernah sama dalam segala hal”, Youngmin menghela nafas panjang saat bersender pada loker dibelakangnya. “Kwangmin sangat beruntung memiliki sahabat sepertimu”, ucapnya sambil menatap wajah Yua dengan senyum diwajahnya.

Yua hanya bisa mematung setelah melihat senyum diwajah Youngmin dengan degup jantung yang tak bisa dikontrolnya. Untuk pertama kalinya, semenjak Yua menjadi teman Kwangmin, baru kali ini dia melihat Youngmin tersenyum. Tapi Yua juga sedikit aneh dengan suasana dihatinya saat ini. “Kau juga tak seseram kelihatannya kok”.

“Hah…???”, Youngmin melihat Yua dengan sedikit menaikkan alisnya.

“Itu….”, gumam Yua tak jelas dengan meringkukkan kepalanya di antara lutut. Yua menyesal dengan dirinya sendiri, yang tak bisa mengontrol perkataannya. Dan sekarang, dia kebingungan harus memberikan alasan seperti apa. “Ayo kita pulang…”, sahut Youngmin pelan.

Yua hanya bisa melihat Youngmin dengan kening yang berkerut, sembari berusaha mencerna ucapan Youngmin beberapa saat yang lalu. “Kita tak mungkin berlatih dengan kondisi seperti ini. Ayo kuantar pulang”, ucap Youngmin saat berusaha kembali menjelaskan maksudnya pada Yua. “Oke…”, teriak Yua antusias dengan menyampirkan tas dibahunya dan berjalan di belakang Youngmin.

This entry was posted by boyfriendindo.

3 thoughts on “[FANFICT/FREELANCE] I Love You – Chapter 02

  1. komenanku tetep sama yang kayak si chap 1 kak..
    tapi disini lebih ke diksinya.. hehe
    dan btw, Yua itu suka sama Kwangmin?? terus Kwangminnya itu sebenernya suka sama Yua nggak sih? kok gitu amat.. dan Youngmin… kayaknya Youngmin emang udah suka deh sama Yua.. iya nggak kak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: