[FANFICT/FREELANCE] Hate You, Love You – Chapter 3

Title 
: Hate You, Love You – Chapter 3
Author : widifitriana
Genre : Romance
Rating : T
Type : Chaptered
Main Casts 
: ~ Donghyun 

  ~ Jeongmin

  ~ Mari

Support Casts
: Member Boyfriend Lain

 CHAPTER 3

Dua hari ini aku kesal pada diriku sendiri. Hatiku tidak mau mengikuti apa yang kuperintahkan. Aku memintanya tidak berdebar-debar setiap kali melihat Donghyun, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Akhirnya, satu-satunya jalan, aku menghindari Donghyun lebih dari yang kulakukan sebelumnya. Apalagi sejak pengakuannya malam itu.

Banyak hal yang ingin kutanyakan. Sayangnya aku tidak ingin bertanya lebih dulu. Kalau Donghyun memang berniat menjelaskannya, maka akan kudengarkan. Jika tidak… sudahlah.

Saat sedang diam sendirian, aku kembali teringat masa sekolah yang mati-matian ingin kulupakan. Aku masih bisa mengingat dengan jelas, saat pertama kali jantungku berdebar-debar ketika menatap Donghyun.

~FLASHBACK~

Hari pertama masuk sekolah setelah libur musim panas.

Rasanya terlalu malas untuk duduk di dalam kelas, mendengarkan pelajaran. Aku masih ingin berbaring di kamar. Aku ikut bekerja paruh waktu bersama teman-teman liburan tahun ini. Karena itulah aku tidak bisa sering bermalas-malasan.

Aku yang malas masuk kelas pertama, memilih ke perpustakaan untuk bersembunyi. Kupilih meja paling belakang yang tidak terlihat dari depan. Sehingga aku bisa leluasa tidur. Aku pun duduk, dan menyandarkan kepalaku di atas meja. Kugunakan dua buku yang kuambil sembarangan dari rak untuk menyangga kepalaku.

Belum genap satu menit, sudah ada pengganggu yang datang menghampiriku.

“Kalau kau tidak berniat membacanya, lebih baik kembalikan lagi ke raknya.” Lelaki yang bicara padaku mengambil paksa dua buku yang kugunakan sebagai bantal.

“Aaaw!” seruku kesakitan. “Kau sudah gila?”

Aku mengenalnya. Lelaki yang sedang mengangguku sekarang. Tentu saja semua orang di sekolah mengenalnya. Dia kakak kelasku. Namanya Donghyun. Kami bukan teman. Hanya pernah bicara dengannya beberapa kali.

“Membolos lagi?” tanyanya.

“Lagi? Aku baru kali ini membolos,” kataku sambil menyisir rambutku dengan jari.

“Tukang bohong.” Donghyun memukul pelan kepalaku dengan buku.

“Hentikan! Berpura-puralah tidak melihatku dan jangan mengajakku bicara!” Aku melotot padanya.

Kulihat Donghyun berniat meninggalkanku sendirian.

“Akan kukembalikan bukunya. Dan… aku tidak berjanji bahwa aku tidak akan melaporkanmu.”

“Ya!! Kenapa kau menyebalkan sekali?” Kurasa dia tidak berhak bersikap menyebalkan pada orang yang bahkan bukan temannya.

“Ssssst… ini perpustakaan!” kata Donghyun sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir.

“Lupakan. Aku akan kembali ke kelas.”

Donghyun tidak berkomentar. Sengaja kuhentakkan kakiku keras-keras ketika berjalan melewatinya. Baru beberapa langkah, aku menengok lagi ke belakang.

“Jangan pernah bicara lagi padaku! Ingat baik-baik, kita ini bukan teman!”

Dan Donghyun hanya tersenyum menanggapi omelanku.

***

 Aku sedang membeli ddukbokkie di pinggir jalan, dalam perjalanan pulang. Saat akan membayar, aku tersadar bahwa dompetku tidak berada di tas. Seketika aku panik, tidak tahu harus bagaimana. Lalu, aku melihat Donghyun berjalan melewati kedai ddukbokkie tempatku berada. Aku pun memanggilnya.

“Oppa! Tolong kemari sebentar!” seruku. Dia berhenti. Hanya diam dan melihatku. “Oppa! Ini aku. Cepat kemari!”

Mungkin gara-gara melihatku yang memanggilnya dengan putus asa, Donghyun akhirnya menghampiriku.

“Kenapa kau diam saja? Aku membutuhkan bantuanmu.”

“Seingatku tadi pagi, kau sendiri yang mengatakan untuk tidak mengajakmu bicara karena kita bukan teman.”

“Aaaah… apa kau harus menyebalkan sekarang? Situasiku sekarang sedang gawat. Aku… tolong pinjami aku uang.” Sebenarnya aku malu harus mengatakan hal ini pada Donghyun.

“Hei, kita bukan teman. Aku tidak bisa begitu saja meminjamkan uang padamu.”

“Lupakan tadi pagi! Ini darurat, Oppa. Aku kehilangan dompetku.”

Kupikir Donghyun akan terkejut. Tetapi dia malah tertawa. Kenapa dari sekian banyak orang yang kukenal, harus dia yang lewat di depanku saat ini? Seandainya aku tidak membutuhkan bantuannya, aku pasti sudah menendangnya.

“Kenapa aku harus melakukannya?”

“Baiklah, baiklah. Akan kuganti tiga kali lipat besok.”

“Akan kupikirkan nanti, bagaimana kau harus menggantinya.” Donghyun pun meminjamkan uang padaku.

“Terima kasih.”

“Apa aku perlu mengantarmu pulang juga?”

“Tidak perlu repot-repot!”

“Aku memiliki cukup waktu luang. Jangan khawatir.”

“Oppa, apa kau sedang mencoba merayuku? Maaf saja Oppa, aku tidak akan tergoda olehmu.”

“Aku tidak sedang menggodamu.”

“Aku akan gila kalau terlalu sering berdebat denganmu. Sudahlah. Besok akan kuganti uangmu.” Aku sudah akan berjalan, tetapi Donghyun menghentikanku.

“Aku tidak membutuhkan uang tiga kali lipat yang kau janjikan itu. Sampai jumpa besok!” Tanpa berkata apa-apa lagi, dia pergi begitu saja.

Apa maksudnya dengan sampai jumpa besok?

Paginya di sekolah, saat bertemu dengan Donghyun, dia langsung membawaku ke ruang penyimpanan alat-alat olahraga. Donghyun memintaku membantunya membereskan ruangan itu.

“Jadi ini, yang kau maksud dengan sampai jumpa besok? Bahwa aku tidak perlu mengganti uangmu?”

“Ya. Maaf merepotkanmu.” Donghyun menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.

“Oh, astaga. Aku benar-benar membencimu.”

Ruang olah raga sangat jauh dari rapi. Bola-bola berada di lantai, matras yang belum ditumpuk, belum lagi debu yang menempel pada semua barang-barang itu. Donghyun benar-benar mengerjaiku.

Dia dihukum membereskan ruangan itu gara-gara tidak mengerjakan tugas. Karena harus sering berlatih dance dan menyanyi, dia terkadang lupa dengan tugas sekolahnya. Lebih tepatnya, dia lebih sering sengaja melupakannya.

“Kenapa ingin menjadi penyanyi?”

“Kenapa kau ingin tahu?”

“Aku hanya sedang mencoba mengobrol denganmu, tapi kau selalu menanggapinya dengan sangat menyebalkan.”

“Jangan terlalu sering kesal padaku. Bisa-bisa itu menjadi kebiasaan. Kau bilang, kau tidak akan menyukaiku.”

“Kau percaya diri sekali, Oppa. Apa kau pikir—“

“Awas!” Donghyun menarikku cepat, sehingga tumpukan matras yang tiba-tiba terjatuh tidak mengenaiku.

Aku terlalu terkejut hingga tidak sadar berada terlalu dekat dengan Donghyun. Jadi aku cepat-cepat menjauh.

“Karena itu jangan banyak bicara saat sedang bekerja!”

“Kenapa kau memarahiku? Ah sudah, aku tidak mau melakukannya!” Kulempar bola-bola yang sedang kupegang.

Donghyun menghela napas panjang. “Baiklah. Tunggu saja di luar. Akan kuselesaikan sendiri.” Nada suara Donghyun terdengar biasa. Tidak nampak marah atau kesal padaku.

Aku pun dengan senang hati menunggunya di luar.

Ketika hanya duduk dan melihatnya seperti ini, entah mengapa aku merasa ingin terus tersenyum. Donghyun terlihat berusaha menyelesaikan hukumannya dengan cepat.

Donghyun akan gemas ketika bola-bola yang dibawanya terjatuh. Dia akan menendang matras saat melihat masih banyak yang harus dia kerjakan. Dia juga akan menggigit bibir bawahnya, ketika sedang berpikir bagaimana sebaiknya membereskan ruangan itu. Dan, sesekali dia akan menoleh padaku sambil menghela napas. Seolah mengeluh karena pekerjaannya begitu melelahkan.

“Oppa!” Aku mengacungkan botol air mineral yang baru saja kubeli. Donghyun mencuci tangannya, kemudian menghampiriku.

“Terima kasih. Setidaknya kau berguna di sini.”

“Caramu berterima kasih unik sekali.”

Kami diam menikmati minum dan roti yang kubeli.

“Karena aku suka berada di atas panggung.”

“Apa?”

“Jawaban pertanyaanmu tadi.”

“Oh.” Aku tidak tahu harus berkomentar apa. Ternyata dia mengingat pertanyaanku tadi.

Setiap kali bertemu selalu berdebat dengan Donghyun. Duduk diam berdua seperti ini rasanya sedikit aneh. Sekaligus menyenangkan. Aku ingin menengok ke kanan untuk melihatnya, tetapi kepalaku rasanya susah digerakkan.

Kemudian, tiba-tiba Donghyun menyandarkan kepalanya di pundakku.

“Apa yang—“

“Sebentar saja. Diamlah. Jangan mengajakku bicara. Oke?”

Lima detik pertama aku masih bingung. Detik berikutnya, aku merasakan jantungku berdebar-debar. Padahal sebelumnya hal itu tidak pernah terjadi meski aku dan Donghyun saling menatap.

Aneh ya, bagaimana proses jatuh cinta itu terjadi.

~end flashback~

Setelah lima tahun, perasaan itu terulang lagi. Aku tidak bisa mengerti, kenapa hatiku mengkhianatiku? Aku sangat yakin aku sudah melupakan perasaanku dulu pada Donghyun. Apa sejak awal menjadi asisten Jeongmin adalah kesalahan?

Sampai menemukan jawabannya, kurasa aku akan menghindari segala hal yang berhubungan dengan Donghyun.

Ya, aku harus melakukannya.

This entry was posted by boyfriendindo.

One thought on “[FANFICT/FREELANCE] Hate You, Love You – Chapter 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: